Khusuk

Khusuk itu letaknya ada pada hati kita Mbak Whe-En. Khusuk adalah sikap diri dan jiwa yang tenang dalam menghadap Allah. Ketenangan berkorelasi erat dengan kelembutan dan pengetahuan. Sesuatu yang dilakukan secara terburu-buru, ribut, heavy metal, teriak-teriak, bentak-bentak dan berbagai istilah serupa lainnya tidak akan dapat mengantarkan seseorang pada suatu sikap yang tenang.

Memang bagi orang-orang yang sudah dalam tingkat “pakem” atau “maqom” tertentu, berisiknya nada mayor disekitar dirinya tidak akan menganggu ketenangannya dalam berbuat apa yang ia lakukan namun fakta bahwa kita semua umumnya hanya hamba-hamba Allah yang awam, kita masih masuk dalam klasifikasi anak sd yang sedang belajar dimana dalam prosesnyapun kita masih ada jeda beristirahat atau keluar main 2 sampai 3 kali. Kebanyakan kita belum menjadi professor yang belajarnya sudah dapat lewat teleconfrence dan dari detik kedetik ada dilaboratoriumnya sampai lupa waktu, lupa makan dan lupa segalanya.

Islam adalah agama yang memperhatikan aspek-aspek keawaman penganutnya, Islam adalah tuntunan yang bisa dipahami dan diamalkan secara insaniah oleh setiap diri sesuai fitrah yang ada pada mereka. Karenanya ada tuntunan-tuntunan agar kita bisa mengaplikasikan Islam dalam setiap langkah kehidupan ini tanpa kita merasa berat dan terganggu menjalankannya. Disitulah letaknya tuntutan Islam terhadap pengetahuan. Islam ingin umatnya memiliki ilmu, sehingga orang-orang yang berilmu disebut oleh Tuhan dalam al-Qur’an dengan istilah ulama. Tentang ulama ini, Allah lebih jauh menjanjikan “maqom” yang lebih baik daripada mereka yang malas ataupun suka dengan gaya jalan gerbong kereta api. (Tut-tut-tut …)

Apapun yang kemudian menjadi noise ditengah nada minor kebenaran, hadapilah dengan jiwa yang besar. Banggalah jika kita adalah pelaku kebenaran, berbuat benar, bertindak benar, berpikir benar, bersikap benar dan benar dalam benar. Lambat laun, situasi minor atau mayor disekitar kita akan disikapi secara otomatis oleh jiwa kita, oleh otak kita sehingga tidak akan membawa dampak apapun bagi perbuatan yang kita lakukan.

Trust me.
Easy Come-Easy Go and Back To basic.
Tanpa beban dan kembalikan kepada Allah.

Tulisan yang ditanggapi :

———- Forwarded message ———-
From: Whe~en (gmail) (Email : whe.en9999@gmail.com)
Date: 2008/9/12
Subject: [Milis_Iqra] Lebih Keras Gang Sebelah
To: Milis_Iqra@googlegroups.com

Lebih Keras Gang Sebelah

By : Whe~en (http://wheen.blogsome.com/)

Ramadhan milik semua orang beriman. Teraweh, tadarus, berdo’a banyak dilakukan orang.

Malam kemaren saya pikir teraweh bakal tidak jadi dilaksanakan oleh warga blok perumahan saya. Kami masih teraweh beratapkan langit dan di jalan gang. Alhamdulillah gerimis jam 4 sore agaknya tidak jadi berlanjut. Musholla kami belum jadi, dan bahkan imamnyapun berganti – ganti.

Malam ini suara imam tidak cukup keras terdengar walaupun saya ada di shaf ketiga. Betapa susahnya berkonsentrasi kepada bacaan imam agar saya khusyuk. Mungkin juga karena level iman saya membuat pikiran kadang – kadang melayang.

Ternyata tidak cukup sampai disitu. Ketika teraweh kami belum selesai, suara speaker blok sebelah yang sedang melaksanakan teraweh dan lantunan doa ternyata jauh lebih keras dari suara imam kami. Saya bahkan tidak bisa mendengar surat Al-fatihah sudah selesai apa belum diucapkan imam sampai jamaah menyahut amin.

Diskusi tentang artikel mas Arman di MI ”Tuhan Tidak Budeg” belum juga kelar dan mungkin tidak akan pernah kelar. Apakah ketika saya punya keinginan agar penggunaan speaker lebih bertoleransi dan sesuai kebutuhan menjadikan saya dicap menentang syiar?

Pernahkah terlintas bahwa saya ingin khusyuk teraweh, saya ingin khusyuk tadarus, saya ingin khusyuk berdo’a kepada Allah di bulan yang ketika kita puasa do’a kita tidak tertolak sampai berbuka?

Saya cuma ingin biarkan saya khusyuk beribadah seperti yang lain.

QS Al A’raaf (7) : 205

Dan sebutlah Tuhannmu dalam hatiumu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

Whe~en
http://wheen.blogsome.com/

“Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS 20 : 25-28)
“Ya Allah jadikan Aku hamba yang selalu bersyukur dan penyabar”

-=-=–=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa’ : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://myiqra.co.cc
Situs 2 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=–=-=-=-=-=-=-=-

Advertisements

Makna Tuhan tidak beranak

Makna Tuhan tidak beranak
Oleh : Armansyah

Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan menurut ajaran Islam adalah dalam pengertian maupun sifat seperti apapun. Islam tidak menyetujui konsep Inkarnasi dimana Tuhan bisa menjelma menjadi makhluk. Dalam ajaran Islam, Tuhan tidak pernah terlahir ataupun hadir dalam bentuk daging seperti yang didoktrinkan oleh ajaran Kristen terhadap Yesus Kristus.

Menyangkut penggunaan isitilah Wallad dalam bahasa al-Qur’an yang diterjemahkan sebagai anak biologis Tuhan, sebenarnya tidak menyimpang dari kenyataan yang berlaku didunia Kristen itu sendiri sehubungan dengan status Yesus.

Bahwa ayat-ayat Perjanjian Baru sendiri memberikan kesaksian tentang doktrin kedagingan Yesus sebagai bagian dari ilahiahnya adalah sebuah fakta yang membenarkan penggunaan istilah Wallad oleh al-Qur’an :

Mari kita baca Kisah Para Rasul 2:31 : “Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan”.

Ketika kemudian ada pihak Kristen menyangkal bahwa penunjukan Allah dalam al-Qur’an terhadap adanya makna anak biologis terhadap Yesus oleh kaum Kristiani adalah sesuatu yang salah, maka secara otomatis orang-orang seperti ini telah mengingkari akan konsepsi ketuhanan dalam wujud daging yang diperanakkan oleh manusia (artinya daging diperanakkan oleh daging) yang lalu dagingnya itu sendiri kekal (tidak menjadi binasa).


Al-Qur’an sama sekali tidak bercerita mengenai adanya hubungan seksual antara Tuhan dengan Maria, bahkan dalam kasus awal dari kehamilan perawan suci itu sendiripun al-Qur’an memberikan kesaksian pula bahwa semua itu sama sekali tidak melibatkan Allah secara langsung, artinya al-Qur’an sebagaimana juga dengan ayat-ayat Perjanjian Baru, menceritakan bahwa hamilnya Maryam didahului oleh datangnya malaikat Jibril untuk menyampaikan apa yang sudah dikehendaki Allah kepadanya, yaitu mengandung tanpa adanya percampuran dengan laki-laki ( Parthenogenesis ), dengan demikian tuduhan bahwa al-Qur’an menganggap Maryam sebagai permaisuri Tuhan dan Yesus adalah anak biologis hasil persetubuhan Tuhan dengan Maryam sama sekali diluar konteks pembicaraan al-Qur’an yang benar.

Konsep “Kun Faya kun” didalam teologi Islam memiliki relasi jelas dengan hukum-hukum kausalitas yang berlaku sehingga segala sesuatunya terjadi dengan proses-proses yang alamiah sehingga dengan semua tahapan-tahapan panjang tersebut kehendak Allah tetap terjadi.

Baik Islam atau Kristen, keduanya tidak menolak doktrin kemahakuasaan Tuhan diatas segala-galanya, namun keduanya juga sepakat bahwa keberadaan Isa al-Masih atau Yesus diatas dunia ini melalui tahapan-tahapan persalinan dan kehamilan yang wajar oleh seorang wanita sebagaimana halnya wanita-wanita lain diatas dunia ini, begitupula misalnya dengan terjadinya alam semesta, kedua agama sepakat bahwa alam semesta tidak dijadikan Allah dengan sekali jadi tanpa adanya tahapan yang panjang.; Kedua contoh ini hanya segelintir dari fakta-fakta bahwa Tuhanpun dibalik doktrinal serba Maha-Nya tetap bermain diatas hukum-hukum alam yang Dia buat sendiri.

Maha Segala-galanya apakah bisa berarti bebas bertindak suka-suka tanpa ada keteraturan, tanpa ada keseimbangan dan tanpa ada tujuan serta hikmah pembelajaran dibaliknya ?

Kalau memang sesuatu itu sudah menjadi rencana Allah, maka pasti akan terjadi dengan sendirinya tanpa ada satupun yang bisa menghalanginya tanpa Dia sendiri harus bertindak suka-suka dengan doktrin kemaha kuasaan-Nya.

1 Korintus 14:33 Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan …

Ini, adalah sesuatu yang make sense buat siapapun, dengan demikian maka semuanya menimbulkan satu pembelajaran kepada manusia terhadap nilai-nilai kebenaran, sebab kebenaran itu sendiri tidak mungkin sesuatu yang bersifat kacau dan tidak teratur.

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. 2 Timotius 3:16

Isa al-Masih dalam Islam disebut sebagai Kalimat Allah yang diberikan kepada Maryam.
Ini tidak berarti bahwa Isa Al-Masih adalah sabda alias firman yang menjelma menjadi manusia dalam pengertian Tuhan mewujud kebentuk manusia melalui perawan maria.

Isa = Kalimat Allah adalah berarti kehadiran dan kelahiran beliau as sebagai ketetapan Allah terhadap Maryam ( surah 3 Ali Imron 45 )

Lebih jauh, dalam hal pembahasan istilah ” Kalimat ” didalam al-Qur’an, terdapat beberapa kategori :
1. “Kalimat” bisa berartikan “Ujian” ; Dasarnya adalah al-Qur’an Surah al-Baqarah (2) ayat ke-124 :

“Dan tatkala Ibrahim DIUJI oleh Tuhannya dengan beberapa UJIAN, maka dilaksanakannya dengan sempurna.”

Konteks ayat diatas dalam bahasa al-Qur’an-nya adalah :
“Wa ‘idzibtala Ibrahim marobbuhu bi KALIMATI faatammahunna …”

2. “Kalimat” bisa berartikan “Ketetapan” ; Dasarnya adalah al-Qur’an Surah az-Zumar (39) ayat ke-71 :

“Tetapi berlakulah ketetapan siksa atas orang-orang kafir”

Konteks ayat diatas dalam bahasa al-Qur’an-nya adalah :
“Qolu bala walakin haqqot KALIMAT alazabi ‘alal kafirin”

Lebih jauh lagi, al-Qur’an secara langsung mengadakan pembantahan mengenai status keTuhanan ‘Isa putra Maryam ini melalui ayat :

“Hai Ahli Kitab ! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu berkata atas Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, ‘Isa putera Maryam itu, tidak lain melainkan utusan Allah dan Kalimah-Nya yang Dia berikan kepada Maryam dengan tiupan ruh daripadaNya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu berkata: “Tritunggal”, Hentikanlah ! Baik bagimu. Allah itu adalah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Dia dari mempunyai anak, kepunyaanNya-lah semua yang dilangit dan semua yang dibumi; Cukuplah Allah sebagai Pelindung.” (QS. 4:171)

Sehingga nyatalah keterangan al-Qur’an dalam hal ini bahwa Kalimatullah itu tidak berarti Allah itu sendiri sebagaimana yang tertulis dalam Yohanes 1:1-3 dan 1:14 dan al-Qur’an sama sekali tidak mendukung doktrin keTuhanan ‘Isa al-Masih.

Adapun juga kalimat “peniupan ruh daripadaNya” sebagaimana yang telah terjadi pada Maryam itu pada konteks ayat diatas adalah sama kejadiannya dengan tiupan ruh dari-Nya yang diberikan kepada Nabi Adam as.

“Tatkala Tuhanmu berkata kepada malaikat: ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan menusia dari tanah !, maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruhKu; maka hendaklah kamu tunduk bersujud kepadanya !” -Qs. 38: 71-72

Kemudian, Isa Rasul Allah atau Isa utusan Allah, ya memang demikian adanya, sama seperti Muhammad pun utusan Allah, Musapun utusan Allah, Ibrahimpun utusan Allah dan itu sama sekali tidak merubah status mereka masing-masing sebagai utusan Tuhan.

%d bloggers like this: