Setiap kita adalah Guru…

Setiap kita adalah guru…
Oleh. Armansyah

Selamat Hari Guru Nasional, 25 November 2016 kepada para guru, dosen dan ulama/ustadz.

Pada hakekatnya setiap orang dari kita adalah guru. Orang yang memberikan keteladanan, orang yang mengajarkan ilmu.

Hanya saja ada guru formal yang bekerja pada sebuah instansi tertentu ada juga guru non formal. Ada guru dengan status keprofesian khusus serta ada juga guru dalam bentuk multi profesinya.

Saat kita membuang sampah sembarangan, ada anak kecil yang melihat lalu meniru perbuatan kita itu, maka saat itu kita sudah menjadi guru dari sang anak.

Saat kita marah dan menghardik orang tua… dilihat sama anak-anak dan nanti pada waktunya mereka akan melakukan hal yang sama juga, maka saat itu kita adalah guru bagi anak-anak tersebut,

Jadi… benarlah sabda Rasulullah bahwa setiap kita adalah pemimpin dan setiap kita akan diminta pertanggungan jawab atas kepemimpinan kita.

Minimal kita adalah pemimpin untuk diri kita sendiri… kita adalah guru bagi diri kita. Disadari atau tidak…. diakui ataupun tidak…

Olehnya, ulama — menurut Rasulullah– ada juga ulama yang baik dan ulama yang buruk. Dalam pengertian kebahasaan, ulama itu adalah kumpulan orang-orang yang berilmu pengetahuan tinggi dan orang yang mengajarkan ilmunya.

Sehingga ada orang yang berilmu dan mengajarkan ilmu batil (ilmu yang salah/ilmu sesat/keteladanan buruk) pada orang lain, begitupula ada orang yang sebaliknya.

Jadi, sekali lagi… selamat hari guru bagi semuanya.
Teruslah belajar untuk menjadi sosok guru, sosok dosen dan sosok pendidik yang baik… yang memberikan uswatun hasanah pada orang lain. Yang memberikan ilmu bermanfaat. Karena sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.

Hindari perbuatan-perbuatan tidak terpuji apalagi sampai bermulut sampah sebagaimana si ahok sang penista agama…. manalah benar seorang pejabat punya kelakuan dan ucapan penuh kekejian, sumpah serapah yang kalimat-kalimatnya dipenuhi oleh nama-nama kebun binatang dan kotoran.

Entah bagaimana ceritanya dia bisa lolos verifikasi mental dulunya… sedangkan untuk melamar sebagai karyawan saja kita mesti melampirkan SKCK …. hadeeh. Ya sudahlah, mari kita jadikan dia sebagai contoh buruk yang tidak layak dipilih dan diteladani.

Sebuah hadist saya lampirkan pada kesempatan kali ini…

Sunan Darimi 223: Ibnu Mas’ud pernah berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepadaku: Hendaklah kalian belajar ilmu, dan ajarkanlah kepada manusia, pelajarilah ilmu fara`idl dan ajarkanlah kepada manusia, pelajarilah Al Qur`an dan ajarkanlah kepada manusia, karena aku seorang yang akan dipanggil (wafat), dan ilmu senantiasa akan berkurang sedangkan kekacauan akan muncul hingga ada dua orang yang akan berselisih pendapat tentang (wajib atau tidaknya) suatu kewajiban, dan keduanya tidak mendapatkan orang yang dapat memutuskan antara keduanya”.

Salamun ‘ala manittaba al-Huda.

Armansyah, S.Kom, M.Pd,
Guru, Dosen sekaligus Murid

Tulisan asli : https://web.facebook.com/armansyah/posts/10154648424678444

Hukum Demo menurut Islam

Banyak umat Islam masih belum memahami hukum aksi (demonstrasi) dalam pandangan Islam. Apakah aksi (demonstrasi) diperbolehkan atau dilarang? 

Nah, bicara masalah demonstrasi haruslah dalam tinjauan ta`shili (mendasar), dibahas berdasarkan qawa’id ushul dan fiqh yg ada.

Kalau dituduh demonstrasi tak pernah ada dalam sejarah Islam maka orang itu perlu piknik lagi ke buku-buku sejarah.

Demonstrasi besar pernah dilakukan para fukaha Hanbaliyyah dan Syafi’iyyah yg dipimpin oleh Abu Ishaq Asy-Syirazi di Bagdad menuntut ditutupnya tempat maksiat.

Di tahun yg sama juga terjadi demo besar menuntut ditangkapnya penghina sahabat yg dibekingi seorang kepala polisi di Bagdad. Itu di abad keempat hijriyyah yg direkam oleh Ibnu Al-Jauzi dalam kitab Al Muntazham fii Tarikh Al Muluk wa Al Umam vol. 16 hal. 139

Juga demo besar yg dipimpin oleh Ibnu Taimiyah untuk menangkap penghina Nabi yg karena itulah dia menulis buku pertamanya, Ash-Sahrim Al Maslul.

Itu kalau bicara sejarah, belum lagi bicara fikihnya. Kalaupun dia mengakibatkan dampak negatif, maka harus dilakukan pemeriksaan illat dan tahqiq al manath, bagaimana kalau illatnya hilang.

Kalau begitu keadaannya berarti dia pada dasarnya mubah dan bisa berubah hukum sesuai perubahan dampak.
=====================================

Juga ada hadits yg diriwayatkan oleh An-Nasa`iy dalam al kubra, Al Baihaqi juga dalam al kubra serta Ath-Thabari dalam Tahdzib Al-Atsar:

أخبرنا قتيبة بن سعيد قال نا سفيان عن الزهري عن عبد الله بن عبد الله بن عمر عن إياس بن عبد الله بن أبي ذباب قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : لا تضربوا إماء الله فجاءه عمر فقال قد ذئر النساء على أزواجهن فأذن لهم فضربوهن فطاف بآل رسول الله صلى الله عليه و سلم نساء كثير فقال النبي صلى الله عليه و سلم لقد طاف بآل محمد صلى الله عليه و سلم الليلة سبعون امرأة كلهم يشتكين أزواجهن ولا تجد أولئكم خياركم

Dari Iyas bin Abdullah bin Abi Dzubab yg berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Jangan kalian memukul para hamba wanita Allah.

MAka datanglah Umar mengadukan kelancangan para istri kepada suami sehingga Rasulullah mengizinkan untuk memukul. Lalu datanglah para wanita beramai-ramai di rumah Nabi hingga akhirnya beliau berasbda, “Malam ini telah berkerumun 70 orang wanita di rumah keluarga Muhammad mengadukan tindakan suami mereka. Sesungguhnya para suami itu bukanlah orang terbaik diantara kalian.”

Ada orang berusaha melemahkan istidlal dgn hadits tujuh puluh sahabiyyah yg mengadukan suami mereka kepada Nabi dgn alasan haditsnya mursal karena Iyaz bin Dzubab tabi’i tapi dia dikuatkan oleh Ummu Kaltsum binti Abi Bakar yg juga mursal, sehingga kedua mursal ini saling menguatkan.

Jawabnya, hadits ini ternyata tidak mursal karena terbukti bahwa Iyas bin Abdullah bin Abi Dzubab adalah shahabi sebagaimana yg dikatakan oleh Abu Hatim dan Abu Zur’ah. Bahkan dikuatkan lagi leh riwayat Ummu Kultsum yg mursal sehingga hadits ini menjadi shahih.

Kedua, dia katakan bahwa ini qiyas tidak tepat karena yg terjadi kala itu adalah demo tanpa koordinasi, sedangkan yg sekarang ada koordinasi.

Lah, kalau yg tanpa koordinasi atau spontan saja boleh maka yg terkoordinasi, ada korlapnya, ada pemberitahuan ke aparat dan sebagainya tentu lebih boleh lagi. Justru ini adalah mafhum muwafaqahnya. Maka orang itu perlu belajar lagi menggunakan qiyas.

Kalau kemudian muncul argumen bahwa pendalilan dgn kisah shohabiyat tersebut sangat tidak cocok dgn makna demontrasi mengingat mereka datang bukan untuk aksi protes. tapi sebatas mengadukan suaminya pada Rasulullah, maka  itulah dia yg dinamakan demo, memprotes dan mengadukan kezaliman suami mereka kepada penguasa, persis dgn yg mau dilakukan ummat terhadap Ahok mengadukan tindakan Ahok kepada pihak berwenang agar dia ditangkap persis dgn apa yg dilakukan Abu Ishaq Asy-Syriazi dan Ibnu Taimiyah

Sekali lagi, datangnya para wanita tersebut berdemo mengadukan tindakan suami mereka kepada Rasulullah masuk ke dalam salah satu bentuk demonstrasi mengadukan nasib kepada pemimpn agar mendapat keadilan. Itu termasuk salah satu bentuk demonstrasi menurut istilah.

ابن تيمية يشترك في المظاهرة؟؟
قال ابن كثير في (( البداية والنهاية )) ج 17 ص 665-666 ط هجر :

[وَاقِعَةُ عَسَّافٍ النَّصْرَانِيِّ]

كَانَ هَذَا الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ السُّوَيْدَاءِ قَدْ شَهِدَ عَلَيْهِ جَمَاعَةٌ أَنَّهُ سَبَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَدِ اسْتَجَارَ عَسَّافٌ هَذَا بِابْنِ

أَحْمَدَ بْنِ حَجِّيٍّ أَمِيرِ آلِ عَلِيٍّ، فَاجْتَمَعَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ ابْنُ تَيْمِيَةَ، وَالشَّيْخُ زَيْنُ الدِّينِ الْفَارِقِيُّ شَيْخُ دَارِ الْحَدِيثِ، فَدَخَلَا عَلَى

الْأَمِيرِ عِزِّ الدِّينِ أَيْبَكَ الْحَمَوِيِّ نَائِبِ السَّلْطَنَةِ، فَكَلَّمَاهُ فِي أَمْرِهِ، فَأَجَابَهُمَا إِلَى ذَلِكَ، وَأَرْسَلَ لِيُحْضِرَهُ، فَخَرَجَا مِنْ عِنْدِهِ وَمَعَهُمَا

خَلْقٌ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَرَأَى النَّاسُ عَسَّافًا حِينَ قَدِمَ وَمَعَهُ رَجُلٌ مِنَ الْعَرَبِ، فَسَبُّوهُ وَشَتَمُوهُ، فَقَالَ ذَلِكَ الرَّجُلُ الْبَدَوِيُّ: هُوَ خَيْرٌ

مِنْكُمْ. يَعْنِي النَّصْرَانِيَّ، فَرَجَمَهُمَا النَّاسُ بِالْحِجَارَةِ، وَأَصَابَتْ عَسَّافًا، وَوَقَعَتْ خَبْطَةٌ قَوِيَّةٌ، فَأَرْسَلَ النَّائِبُ، فَطَلَبَ الشَّيْخَيْنِ ابْنَ

تَيْمِيَةَ وَالْفَارِقِيَّ، فَضَرَبَهُمَا بَيْنَ يَدَيْهِ، وَرَسَمَ عَلَيْهِمَا فِي الْعَذْرَاوِيَّةِ، وَقَدِمَ النَّصْرَانِيُّ، فَأَسْلَمَ وَعُقِدَ مَجْلِسٌ بِسَبَبِهِ، وَأَثْبَتَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ

الشُّهُودِ عَدَاوَةً، فَحَقَنَ دَمَهُ، ثُمَّ اسْتَدْعَى بِالشَّيْخَيْنِ فَأَرْضَاهُمَا وَأَطْلَقَهُمَا، وَلِحَقِّ النَّصْرَانِيُّ بَعْدَ ذَلِكَ بِبِلَادِ الْحِجَازِ، فَاتَّفَقَ قَتْلُهُ

قَرِيبًا مِنْ مَدِينَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَتَلَهُ ابْنُ أَخِيهِ هُنَالِكَ، وَصَنَّفَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ ابْنُ تَيْمِيَةَ فِي هَذِهِ الْوَاقِعَةِ

كِتَابَهُ ” الصَّارِمَ الْمَسْلُولَ عَلَى سَابِّ الرَّسُولِ “.

Apakah Ibnu Taimiyah tidak tahu atau tak kuasa ketika dia diikuti massa?

Di sini kita nukilkan dari kitab Al-Muqtafa ‘ala Kitab Ar-Raudhatain, atau Tarikh Al-Birzali jilid 2 hal. 363.
Pada yg saya beri garis merah jelas saat Ibnu Taimiyah dan Al-Fariqi melaporkan masalah Nashrani yg menghina Rasulullah itu mereka diikuti oleh jumlah massa yg besar. Kalau mau dikatakan mereka tak punya kuasa setidaknya mereka bisa melarang massa untuk mengikuti mereka, atau menyampaikan hujjah bahwa apa yg mereka lakukan itu tidak betul karena termasuk muzhaharah, beramai-ramai mendatangi penguasa.


Tapi pada faktanya, mereka membiarkan jumlah massa yg besar itu mengikuti mereka menuju istana Najmuddin Aibak Al-Hamawi.


Kemudian pulangnya terjadilah provokasi oleh si arab badui yg menyebabkan si Assaf yg menjadi pelindung Nashrani penghina Rasulullah itu dipukul.

Tapi tak sedikitpun Ibnu Taimiyah menyalahkan massa yg terbakar emosi kala itu.


Kemudian di akhir paragraf bahasan ini Al-Birzali juga menyebutkan bahwa massa menyalahkan sikap Najmuddin Aibak yg terkesan menyalahkan massa dan kedua syekh ini. Lalu Adz-Dzahabi dalam kitab Tarikh Al Islam mencoba menganalisa perbuatan Aybak itu disebabkan karena ta’assub kesukukan karena sesama orang Turki. Entah benar atau tidak analisa Adz-Dzahabi tersebut yg jelas NAjmuddin Aybak telah berlebihan yg seharusnya menghukum penista Nabi malah menghukum yg memukul pelindungnya.

Memang fi’il ulama itu bukan dalil hanya menunjukkan bahwa hal itu biasa terjadi tanpa pengingkaran dan itu menunjukkan mereka membolehkah. Dengan kata lain tulisan ini sifatnya hanya membantah orang yg mengatakan bahwa demonstrasi itu tidak pernah terjadi di masa-masa awal Islam. Dalam hal ini kalau mau main usul fikih, maka dalilnya adalah istish-hab haal, maka yg dipertanyakan mana dalil yg melarang perkara itu padahal itu adalah ‘aadah, bukan ta’abbudiyyah.

Jadi hukum demo tidak bisa melihat perkasus, tapi dibahas dulu berdasarkan kaidah usul fikih yg ada terutama kaidah Al-Istish-haab. Untuk masalah ibadah dicari dalil yg mensyariatkan. Untuk masalah dunia dicari dalil yang melarang. Kalau tak ada yg melarang maka boleh pada asalnya. Namun yg boleh bisa berubah jadi haram tergantung efeknya, dan efek bisa berbeda antara kasus satu dgn yg lain.

Masalah baik dan buruk efek yang timbul dari sebuah demo akhirnya itu menjadi relatif dan belum bisa mengubah hukum asal demonstrasi yg merupakan adat dan setiap adat itu mubah sampai ada landasan kuat melarangnya. Atau yg dalam bahasa usul fikih sekali lagi disebut tahqiq manath.

Di sinilah perlunya kita menentukan dulu illat dari masalah ini apa? kemudian alaqah yg dipakai dalam qiyas itu dianggap mutastsir atau tidak tergantung pada illat apa yg kita bahas. Nah larangan dalam demo ini sendiri illatnya apa?

Kalau yg dijadikan illat adalah adanya kumpul-kumpul menyuarakan aspirasi maka yg dilakukan semua sahabiyyah itu adalah berkumpul menyuarakan satu aspirasi yg sama, itu malah bukan qiyas lagi tapi madlul. Maka, adanya kesepakatan atau koordinasi di awal ataupun tidak tidak berpengaruh (mu`atstsir) pada berbedanya hukum yg akan dihasilkan.

Demo/unjuk rasa utk mendorong pemerintah/ulil amri utk menuntut dan menghukum pelaku penistaan agama sdh sesuai dgn konstitusi dan diatur dlm UU, dikawal oleh aparat, apalagi didukung oleh ulil amri (para ulama jg ulil amri). Mari kita juga harus dapat menghormati para ulama di MUI, ormas2 islam besar, mereka tentu punya keilmuan dan kapasitas, tidak akan mungkin mereka berani melakukan sebuah amaliyah jika tidak yakin dapat dibenarkan secara syari’at. Disamping itu mereka jg punya hubungan dekat dgn jajaran aparat dan pemerintah.

Apapun yg terjadi dalam akhir sebuah kasus aksi demo maka itulah namanya haditatsatul ‘ain, dan tak mengubah hukum asal demo yg MUBAH itu !!! Misalnya aksi damai demo 411, diujungnya seakan dikesankan menjadi ricuh sehingga terjadi tembakan gas air mata dan peluru karet dari aparat kearah peserta aksi damai. Maka kejadian ini tidak lantas merubah hukum asal demo yang mubah.

Toh dmo yg dilakukan penduduk Bagdad menangkap penghina sahabat dan Abu Ishaq Asy-Syirazi tak berlangsung ricuh. Demo di masa Ibnu Taimiyah ricuh tapi Ibnu Taimiyah tak menyalahkan pendemo. Demo menuntut berlakunya UU perkawinan tahun 1974 memakan banyak korban tapi alhamdulillah dgn itu UU tersebu berlaku hingga kita bisa nikah secara Islam. Demo menentang pelarangan jilbab era 80-an banyak memakan korban tapi setelah itu alhamdulillah bebas kita pakai jilbab di sekolah negeri sampai hari ini.

Disarikan dari diskusi dan status maya Ustadz Anshari Taslim, Lc.

Catatan Aksi Damai Bela Islam 04 Nov 2016 Bag. 5

Catatan Aksi Damai Bela Islam 04 Nov 2016
Oleh. Armansyah

Bagian 5
Fitnah Cipulir

Malam itu bagi yang ada dilokasi kejadian depan istana, sudah bak dalam film-film perang saja layaknya. Suara tembakan membahana memecah kesenyapan angkasa. Entah apakah semua tembakan itu adalah gas airmata atau didalamnya diselipkan juga peluru karet seperti disampaikan oleh beberapa orang sebelumnya. Wallahua’lam. Tapi situasinya serba kacau… asap busuk dan menyakitkan mata dan dada bertebaran kemana-mana. Sirine Ambulance meraung-raung ikut menambah suasana bertambah mencekam.

Di depan gedung RRI, banyak para Habaib menyingkir. Kondisi merekapun setali tiga uang dengan kondisi kami berdua. Baju kotor, bau… mata merah, sesekali mual serasa mau muntah, kulit wajah seperti melepuh dan …. mereka pun butuh air didera rasa kehausan yang bersangatan akibat tembakan gas airmata yang entah apakah izin penggunaan jenis satu itu sudah benar ataukah tidak!

Dari lokasi tempat kami mundur itu, masih jelas terdengar suara Habib Rizieq yang berupaya meminta pihak kepolisian agar berhenti menembakkan senjata mereka kearah ulama dan peserta aksi damai.

MasyaAllah…. ini pertama kali saya menjadi saksi mata langsung heroisme seorang Habib Rizieq terhadap umatnya. Disaat serangan gas airmata membabi buta menyerangnya… disaat umat perlahan mulai terpukul mundur tak kuasa menahan serangan yang menyakitkan dari pasukan berseragam yang berubah jadi kesetanan itu…. Habib Rizieq tetap tak bergeming memberikan komandonya. Dia tidak mundur. Dia masih setia ada diposisinya didepan. Saya tidak tahu siapa saja yang masih setia ada bersamanya saat itu, namun dari rekam kejadian dan kesaksian kawan-kawan lainnya yang sempat melihat… setidaknya disana juga ada Ustadz Arifin Ilham, Aa’ Gym, Bachtiar Nasir dan Syaikh Ali Jabir.

Mereka tidak cuma pandai memberi orasi, memberi ceramah atau komando namun mereka adalah orang-orang yang juga menjalankan apa yang telah menjadi komitmen awal mereka sebagai pejuang dakwah. Wajar bila Habib Rizieq dibenci oleh kaum munafikun dan kafirun. MasyaAllah.

Ditengah situasi semacam itu, kami mendapat kabar bila Habib Rizieq memerintahkan peserta aksi damai agar kembali ke Istiqlal dan melakukan konsolidasi disana.

Baru kami melangkah menuju Istiqlal… beberapa jemaah secara berombongan mengatakan bahwa Habib katanya memerintahkan menduduki gedung DPR/MPR.

Kami bingung… mana informasi yang dapat kami jadikan pegangan? Sementara hp semua gak ada sinyal untuk dapat menjalin komunikasi dengan teman-teman aktivis lain dilapangan.

Ada lagi rombongan lain melintas katanya bubar kembali kerumah masing-masing…. Jleb. Tambah bingung… akhirnya ditengah rancunya informasi ini, kami memutuskan untuk belok kearah Budi Kemuliaan. Dijalan ini secara berganti-ganti saja mobil ambulance lewat dan ternyata membawa jemaah yang menjadi korban gas airmata untuk dievakuasi kesana.

Diperjalanan itu kami bertemu banyak akhwat dengan mobil-mobil mereka bagi-bagi nasi, air dan juga permen. Alhamdulillah, kondisi yang memang sedang sangat membutuhkan asupan semacam itu. Kami berdua langsung duduk dipinggir jalan sebelum Budi Kemuliaan… cuci muka, minum sebanyak mungkin untuk melegakan tenggorokan akibat gas airmata tadi lalu makan nasi sekitar tiga empat suap.

Setelah itu saya dan adik ipar berunding… kami harus kemana? Istiqlal? DPR? Pulang?…. tapi pulang kemana? sejak awal kami berniat menetap di depan istana bersama para ulama, jadi sama sekali tak ada rencana untuk singgah atau menetap dirumah siapapun.

Sampai didepan Millennium… saya ingat keluarga yang dari Cipulir bertemu tadi siang…lihat hp ternyata sinyal mulai muncul meski masih naik turun, akhirnya kita berdua rembukan dulu lalu diputuskan untuk kerumah keluarga di Cipulir itu.

Karena saudara ipar saya ini mantan pemain sepak bola nasional dan tahu jalan di Jakarta, dia bilang Cipulir lumayan jauh di Jakarta Selatan. Akhirnya kami menghadang bajaj…

Singkatnya kamipun naik bajaj menuju daerah cipulir… entah dikawasan apa saya tidak jelas namun itu persimpangan lampu merah… ada anak-anak kecil jalanan melongokkan kepalanya kedalam bajaj dan masyaAllah bertanya… “Habis demo ahok ya Om… udah Om, bunuh saja ahoknya… hukum saja dia”

Wallahi ini benar dan bukan rekayasa… demi Allah itulah yang saya dengar dari anak-anak jalanan yang usianya masih kecil-kecil itu malam tersebut. Sopir Bajaj dan adik ipar saya menjadi saksi kebenaran kata-kata saya ini…. luar biasa, anak sekecil mereka loh bisa bilang begitu. Allahu Akbar.

Semakin jauh dari lokasi aksi damai, sinyal hp semakin bagus dan jreng normal 4G.

Dan… malam itu kami ditampung oleh keluarga didaerah cipulir sembari memantau berita. Disanalah kemudian saya mendapat info bila di jakarta utara terjadi juga keributan. Innalillah. Saya saksi bahwa itu bukan bagian dari aksi damai Ulama. Jadi please jangan sangkut pautkan dengan kami.

Paginya… setelah sekian jam dari malam harinya berkomunikasi dengan sejumlah kawan-kawan yang masih dilapangan (beberapa ada di Istiqlal dan lainnya ada di gedung DPR) akhirnya mengikuti arahan para ulama agar aksi damai dihentikan dulu dan silahkan kembali ketempat masing-masing secara tertib dan aman.

Saya dan adik ipar langsung memutuskan untuk pulang ke Palembang hari itu juga. Tapi masalahnya, kami belum punya tiket kepulangan sebab dari awal kami memang menunggu dulu apa yang akan terjadi setelah hari Jum’at. Apakah akan tetap lanjut dihari Sabtu dan Minggu atau bagiamana…. Saya coba periksa di armitravel.com semua penerbangan ke palembang full untuk pagi hingga sore… ada penerbangan malam jam 10.

Keluarga yang di cipulir kemudian mengatakan bila didekat pasar ada sebuah travel juga, mungkin bisa kesana untuk coba-coba cek tiket. Saya ingat…. itu merupakan bagian dari kemitraan armitravel.

Ternyata betul… nah Alhamdulillah ternyata pas kita ngobrol dan coba-coba cek dari sana, ada beberapa bookingan orang yang menuju ke palembang sudah expired dan belum di issued. Cepat kami ambil untuk penerbangan jam 15.

Ternyata keberadaan saya di Cipulir ini oleh salah seorang pengagum dan pembela ahok di fitnah sebagai bagian acara jalan-jalan usai demo… MasyaAllah. Itulah jika sudah terbiasa berprasangka buruk dan memfitnah orang akan jadi habit.

Pukul 16 kami berdua sudah menginjakkan kaki lagi di bumi Sriwijaya dengan Citilink dari Halim Perdanakusuma secara aman dan sehat. Alhamdulillah.

Demikian beberapa garis besar Aksi Damai Bela Islam 04 Nov 2016 dari pengalaman lansung saya dilapangan. Jika ada penyebutan brand tertentu yang dianggap iklan, bisa saja diartikan demikian namun semua memang tak lepas dari fakta kejadian sesungguhnya.

Sebagai akhir tulisan ini…. untuk diketahui saja bila adik ipar saya, Haris Shahab yang ikut berangkat aksi damai 04 November ke Jakarta meninggalkan istrinya dalam kondisi hamil anak ke-2. Saya sendiri masih punya anak bayi berusia 8 bulan dari 4 anak saya. Jadi bagi anda-anda yang suka maen fitnah bila aksi ini bayaran… buka mata kalian… kami datang ikut aksi ini atas panggilan iman, panggilan Allah bukan panggilan tokoh manapun, bahkan tidak juga atas provokasi seorang Habib Rizieq. Kami datang untuk #belaIslam #belaQuran atas penistaan simulut sampah, ahok. Kami tak ada urusan dengan politik jakarta. Urusan kami adalah kitab suci kami telah dinistakan olehnya dan itu yang akan kami lawan!

Armansyah, 07 Nopember 2016
21:56 WIB

dihalim1

%d bloggers like this: