Lafazh “Sholabu-hu” Re: Terjemah An Nisa:157 (1)

 

Wa’alaykumsalam Wr. Wb.,

 

Alhamdulillah, berbicara tentang kamus al-Munawwir (Arab-Indonesia), maka saya katakan pula bahwa kamus tersebutpun ikut menjadi salah satu acuan saya dalam memahami dan menganalisa ayat-ayat al-Qur’an dan literatur ke-Islaman lainnya, disamping kamus al-Mawrid 1979 (English-Arab) terbitan Beirut atau kamus al-Qur’annya Nazwar Syamsu terbitan Ghalia Indonesia serta sejumlah kamus Arab digital.

 

Intinya begini mengenai makna kata sholabu-hu dalam konteks 4/157, bahwa penolakan al-Qur’an tentang penyaliban atas diri Isa al-Masih didahului dan diakhiri oleh penolakan al-Qur’an tentang pembunuhannya sebagaimana dakwaan kaum Bani Israel.

 

Jika kemudian al-Qur’an menyinggung tentang ketidak tersaliban Isa, maka disini saya lebih melihat al-Qur’an menafikan makna hukuman salib itu sendiri yang dijatuhkan kepada diri Isa al-Masih. Seperti yang kita tahu, terminologi al-Qur’an tentang makna penyaliban adalah sebagai bentuk hukuman bagi orang yang melawan Allah dan Rasul serta membuat kerusakan dibumi, terminologi al-Qur’an ini tidak berbeda jauh dengan makna penyaliban dalam terminologi Yahudi, bahwa orang yang digantung dikayu palang adalah orang yang terkutuk (lepas dia mati atau hidup, dipaku atau tidak).; Karena Isa adalah Rasul Allah, orang yang justru berada dipihak kebenaran dan berjalan diatas manhaj-Nya Allah, maka praktis sekalipun dia terpaksa harus berada diposisi tergantung seperti itu maka makna penyaliban secara terminologi itulah yang dibantah oleh al-Qur’an, keberadaan Isa disana bukan sebagai orang yang salah, bukan sebagai terdakwa seperti hujatan-hujatan umat Yahudi, karena itu diayat selanjutnya al-Qur’an berkata bahwa Allah mengangkat Isa kepada-Nya, yang artinya Allah justru meninggikan derajatnya melebihi celaan, ejekan maupun pendapat musuh-musuhnya. Karena itu memang batallah makna penyaliban yang dikenakan pada diri Isa al-Masih.

 

Sama kasusnya dengan misalnya kasus hijrahnya Muhammad atau Ibrahim atau Musa dari tempat asalnya menuju ketempat lain karena mereka dimusuhi oleh musuh-musuhnya, tidak bisa disebut sebagai orang yang melawan Tuhan atau membuat kerusakan dalam tatanan masyarakat (dunianya), karena memang mereka adalah orang-orang yang berada disisi Tuhan.

 

Demikian secara singkat.

 

 

 

 

 

 

 

 

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.,

 

 

 

ARMANSYAH

 

—– Original Message —–

From: <abu.abd.halim@gmail.com>

To: “Milis_Iqra” <Milis_Iqra@googlegroups.com>

Sent: Sunday, September 02, 2007 11:55 AM

Subject: [Milis_Iqra] Re: Lafazh “Sholabu-hu” Re: Terjemah An Nisa:157


>
> Ralat dan tambahan.
>
>
http://quranhadis.wordpress.com/2007/08/31/lafazh-sholabu-hu/
>
> Ayat [4:157]:
>
> dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih,
> Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan
> tidak (pula) menyalibnya (sholabu-hu), tetapi (yang mereka bunuh
> ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya
> orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-
> benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak
> mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti
> persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh
> itu adalah Isa.
>
> Dalam Kamus Bahasa Arab Al Munawwir, kata kerja “sholaba” memiliki
> beberapa arti:
>
> [1] Menyalib.
>
> [2] Memanggang.
>
> [3] Membakar, menghanguskan.
>
> [4] Terus menerus serta hebat (serius).
>
> [5] Menopang.
>
> [6] Mengeluarkan lemaknya (sumsumnya).
>
> Untuk ayat di atas, jelas bahwa TPDA menggunakan makna yang pertama.
> Dan penyaliban adalah hukuman dengan cara mengikat atau memaku korban
> ke sebuah salib. Dengan menggunakan pengertian ini, maka yang dimaksud
> dengan penafian penyaliban Isa dalam lafazh “wa ma- sholabu-hu” adalah
> penafian Isa telah diikat atau dipaku ke sebuah salib. Pemisahan dalam
> ayat di atas, antara perbuatan “membunuh” dan “menyalib” mengesankan
> bahwa keduanya memiliki perbedaan. Membunuh tidak mesti dengan
> menyalib. Dan menyalib tidak mesti sampai membunuh.
>
> Kutip:
>
> Jadi seseorang yang hanya mengalami pemakuan di tiang kayu namun tidak
> mengalami pematahan tulang dan sumsum dan mati maka tidak bisa
> dikatakan telah di hukum salib tetapi dia disebut menyerupai
> penyaliban saja.
>
> Kritik:
>
> Dari ucapan di atas disimpulkan bahwa menyalib itu satu perbuatan yang
> terdiri atas dua perbuatan: memaku ke tiang salib dan meremukkan
> tulang. Tanpa peremukkan tulang, maka penyaliban tidak dapat disebut
> penyaliban melainkan hanya sekedar menyerupai penyaliban. Dengan
> demikian, kata kerja “sholaba” dalam ayat di atas tidak hanya
> menggunakan makna pertama, tapi juga diharuskan mengandung makna
> keenam. Disebut “diharuskan” karena tanpa makna keenam -menurut ucapan
> terkutip- kata kerja “sholaba” itu tidak dapat diartikan dengan
> “menyalib”. Pemaknaan ini dapat dikritik dari beberapa sudut:
>
> Pertama, ia mengharuskan sesuatu yang bukan merupakan sebuah keharusan
> dalam Bahasa. Makna pertama “menyalib” dapat berfungsi untuk lafazh
> “sholaba” walaupun tidak disertai dengan perbuatan “mengeluarkan lemak/
> sumsum”. Sebagaimana makna keenam “mengeluarkan lemak/sumsum” dapat
> berfungsi untuk lafazh “sholaba” walaupun tidak disertai dengan
> penyaliban. Kemandirian masing-masing makna dalam menjelaskan lafazh
> “sholaba” itu adalah fakta yang tak terpungkiri dalam realitas
> berbahasa. Terbukti dengan kenyataan bahwa seseorang yang sudah mati
> sekalipun, kalau ia dipakukan ke sebuah salib -tanpa diremukkan tulang
> kakinya- maka ia akan disebut “disalib”.
>
> Kedua, kalaupun makna pertama harus juga disertakan dengan makna
> keenam untuk menjelaskan lafazh “sholaba”, maka orang yang disalib
> hanya dapat dikatakan telah disalib kalau tulangnya tidak hanya
> sekedar diremukkan atau dipatahkan, melainkan juga dikeluarkan sumsum/
> lemaknya. Hal ini tentu bertentangan dengan fakta penyaliban itu
> sendiri yang tidak mengharuskan pengeluaran sumsum tulang orang yang
> disalib. Kalau peremukkan atau pematahan tulang dianggap juga sebagai
> pengeluaran sumsum tulang maka anggapan ini jelas keliru. Sebab sumsum
> tulang yang patah tidak akan keluar begitu saja kecuali kalau memang
> sengaja dikeluarkan. Adapun tujuan peremukkan tulang orang yang
> disalib adalah untuk mempercepat kematiannya. Sedangkan pengeluaran
> sumsum tulang orang yang disalib tidak memiliki tujuan apapun selain
> menambah kesadisan eksekusi.
>
> Ketiga, berhubung eksekusi penyaliban itu sendiri digunakan dalam
> Syari’at Islam, maka perlulah ditegaskan bahwa penyaliban dalam Islam
> bahkan tidak mesti disertai dengan peremukkan atau pematahan tulang,
> apalagi pengeluaran sumsum/lemak tulang orang yang disalib. Meskipun
> begitu, eksekusi penyaliban itu tetap dikatakan sebagai eksekusi
> penyaliban dan bukan eksekusi yang menyerupai penyaliban.
>
> Walla-hul muwaffiq.
>
>
> –~–~———~–~—-~————~——-~–~—-~
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa’ : 63
>
> Gabung :
Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
>  Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
>    Situs :  http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
>     Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=-
> -~———-~—-~—-~—-~——~—-~——~–~—
>

Advertisements

Lillahita’ala

Wa’alaykumsalam Wr. Wb.,

 

Allah menjadikan kita pada hakekatnya berfungsi sebagai khalifah-Nya diatas dunia ini, tugas kekhalifahan inilah yang apabila dijalankan dengan semestinya dilandasi oleh petunjuk-petunjuk yang Dia sampaikan dalam bentuk wahyu tekstual maupun pemahaman kita terhadap ayat-ayat universal-Nya maka akan menjadi ibadah buat kita.

 

Sistematika kehidupan kita ini dimulai dari setetes mani yang bercampur untuk kemudian seiring dengan sunnatullah atau hukum alamnya terus mengalami perkembangan tahap demi tahap sehingga menjadi sosok manusia sempurna, dan itupun baru pada tahapan bayi kecil tak berdaya, kembali kita tunduk pada kaidah sunnatullah yang berproses sampai menjadi dewasa dan tua, demikian seterusnya.

 

Ini hendaknya menjadi bagian dari pembelajaran atas kedewasaan pola pikir dan pola pemahaman kita terhadap segala sesuatunya, jika awalnya kita bertindak hanya karena ikut-ikutan, maka mulailah kita belajar kenapa kita melakukan sesuatu atau kenapa kita harus mempercayai sesuatu itu sebagai sebuah kebenaran, demikian pula misalnya dalam hal ibadah, jika sebelumnya kita beribadah hanya karena mengharap surga atau takut karena neraka, maka belajarlah untuk mulai menyikapi fenomena surga dan neraka sebagai motivator kita kepada tingkat ibadah yang lebih tinggi lagi yaitu tingkat ibadah yang hanya berharap ridho-Nya Allah.

 

Dengan demikian maka tingkat keikhlasan kita beribadahpun secara berangsur-angsur tumbuh dengan sendirinya, karena yang ada dipikiran kita, ibadah itu untuk menyenangkan Allah (ini istilah saya) dan bukan untuk menyenangkan diri kita (egoistik sebab mengharap kenikmatan surgawi).

 

Lalu bagaimana bila kita masih mengharap pahala dalam beribadah ? salahkah ?

Salah atau tidak akhirnya kembali kepada seberapa jauh good-will kita melakukannya, tidak ada yang perlu dipermasalahkan dengan surga dan nerakanya, tapi mulailah kita belajar untuk mencapai maqam lebih tinggi dari sekedar itu.

 

Anggaplah ibadah karena mengharap pahala tertentu itu adalah ibadahnya anak kecil, dan karena kita sudah tidak lagi kecil, maka kitapun harus meng-update sasaran ibadah kita, sebab demikianlah yang seharusnya seperti yang tercantum dalam surah 6 ayat 162.

 

Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Robb semesta alam -Qs. al-An’am 6:162

 

 

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.,

 

 

 

ARMANSYAH

 

 

—– Original Message —–

From: ria meina

To: Milis_Iqra@googlegroups.com

Sent: Saturday, September 01, 2007 10:10 PM

Subject: [Milis_Iqra] makna lillahi ta’ala?

 

Assalamualaikum….

Mau tanya:
– Sebenarnya “lillahi ta’ala” itu yg seperti apa?
– Mengharapkan ridho ALLAH apakah bisa disamakan dengan mengharapkan pahala?
– Apakah “hanya karena ALLAH” itu diartikan tanpa pamrih dapat pahala…???
– Bagaimana seandainya ibadah & amal shaleh yg dilakukan adalah karena harapan dapat pahala?? Apakah ini berarti belum “lillahi ta’ala”?

–~–~———~–~—-~————~——-~–~—-~
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa’ : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs :  http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=-
-~———-~—-~—-~—-~——~—-~——~–~—

Kemuliaan akal

Salamun ‘ala manittaba al Huda

 

Mas Dani Permana yang InsyaAllah dirahmati Allah.,

 

Saya sudah membaca apa yang anda postingkan dan sekaligus melihat rujukan alamat dimana anda mengambil rujukan tersebut, sekarang semuanya bagi saya telah jelas bagaimana “medan diskusi” yang saya hadapi.

 

Penolakan mas Dani tentang pemahaman akal = makhluk, semata-mata karena seperti yang anda katakan bahwa hal tersebut tidak disebutkan dalam al-Qur’an dan al-Hadis, kalaupun misalnya ada sejumlah hadis yang menyebutkan akal sebagai sesuatu yang diciptakan (dan karenanya praktis akal disini menjadi bagian dari kemakhlukan seperti yang saya sampaikan) maka hadis itu mas Dani tolak karena dianggap lemah dan palsu. Sementara pernyataan-pernyataan al-Qur’an yang berbicara tentang akal dan fungsinya dalam diri manusia menurut mas Dani Permana, tetap tidak bisa disimpulkan bahwa akal = makhluk.

 

Logika yang sempat mas Dani tawarkan sebelumnya, jika akal = makhluk, maka berarti didalam diri manusia ini ada 2 makhluk, setelah saya jawab bahwa didiri manusia sebenarnya tidak hanya ada 2 makhluk tetapi jutaan makhluk sesuai kajian ilmu-ilmu kedokteran modern, akhirnya logika tersebut tidak lagi dijawab sama mas Dani dan menyelesaikan diskas kita itu dengan pernyataan : akal # makhluk, karena Allah dan Rasul-Nya tidak berkata demikian, dan mas Dani juga meminta saya untuk tidak memaksa anda menjawab tentang hal tersebut.

 

Inilah sebenarnya mas Dani yang sempat saya singgung dibeberapa posting bahwa masih banyak orang yang sebenarnya memiliki kemampuan untuk memahami kaidah keagamaan secara lebih baik dengan ilmunya tetapi cenderung dogmatis karena akalnya tidak sepenuhnya difungsikan untuk itu, maaf jika dirasa menyinggung dihati.

 

Seperti yang bisa dibaca dalam alamat situs yang mas Dani rujuk itu, yang bisa saya simpulkan secara singkat bahwa dalam kaitan memahami al-Qur’an, khususnya disini saya tekankan adalah pemahaman hadis (yang dianggap) shahih (oleh satu kelompok didalam Islam), maka akal praktis tidak bisa dikedepankan. ( tanda didalam kurung adalah tambahan kritik dari saya untuk memperlihatkan pemahaman saya dari kesimpulan tersebut).

 

Contoh yang terang-terangan dilansir ditulisan tersebut adalah mengenai riwayat penonjokan mata malaikat maut oleh Nabi Musa, semua pemahaman atau penafsiran yang coba diajukan secara aqly atas nash tersebut tidak bisa dibenarkan alias terima saja tanpa perlu dibahas, yang penting iman, masalah masuk akal atau tidaknya tidak perlu dipermasalahkan.

 

Sikap seperti ini yang mungkin sangat-sangat tidak saya anut dalam beragama, saya sepakat bahwa akal hanya tunduk oleh wahyu, dan konteks wahyu disini adalah wahyu tekstual (wahyu berita) berupa al-Qur’anul karim yang terjaga originalitasnya dari sentuhan intervensi manusia dari semua sisi-sisinya.

 

Akal halnya dengan al-Hadis, maka saya selalu berpandangan bahwa lapangan untuk pembahasan serta pengkritikannya masih bisa dibuka selebar-lebarnya secara aqly, tidak ada yang tabu atau dosa atasnya karena memang untuk al-hadis, sama sekali tidak ada jaminan otoritas penjagaan dari sisi Allah sebagaimana halnya al-Qur’an, bahkan untuk al-hadis sendiri oleh para ulama dikembangkan sekian banyak ilmu-ilmu dalam rangka uji konsistensi dan validasinya sebelum diterima atau ditetapkan sebagai shahih dan tidak shahih, dhaif dan maudhu’, hasan dan mutawatir serta sebagainya.

 

Disatu sisi, penulisan al-Hadis sempat menjadi bahan diskusi menarik bagi tokoh-tokoh perdana Islam yang tidak lain dari para sahabat Rasulullah karena memang Rasul sendiri melarang melakukannya, bahkan Abu Bakar diriwayatkan sempat berpikir untuk melakukannya tetapi setelah sekian waktu memikirkannya akhirnya rencana itu dibatalkan dan semua koleksi hadisnya dimusnahkan, demikian juga dengan Umar bin Khattab, khalifah kedua Islam, disatu riwayat juga beliau dikabarkan pernah mencambuk Abu Hurairah karena dianggap terlalu sering dan mudah membacakan hadis Rasul ketengah masyarakat Islam sambil disertai ancaman pengasingan atasnya, belum lagi kritik dari ‘Aisyah sang istri Rasul terhadap Abu Hurairah dalam hal yang sama.

 

Faktapun memperlihatkan kepada kita bahwa perang antar hadis pernah terjadi dimasa awal tumbuh tegaknya Islam antara kubu Bani Umayyah yang disponsori oleh Muawiyah melawan kubu Bani Hasyim yang disponsori oleh orang-orang pencinta ahli Bait Rasulullah.

 

Belum lagi masuknya sejumlah pemikiran yang di-indikasikan berasal dari orang-orang eks penganut ajaran Taurat dan Injil kedalam Islam yang diatasnamakan kepada hadis yang bersumber kepada Rasulullah SAW.

 

Kenyataan-kenyataan seperti inilah yang membuat saya tidak bisa membenarkan sepenuhnya penyandaran akal kepada seluruh nash-nash hadis yang sampai ketangan kita hari ini meskipun sudah dianggap shahih sekalipun oleh imam-imam tertinggi dibidangnya seperti Bukhari dan Muslim.

 

Dalam pandangan Islam yang saya pahami, iman adalah pembenaran yang pasti yang sesuai dengan kenyataannya disertai dengan dalil-dalil atau argumen yang pasti
kebenarannya. Jadi suatu pembenaran yang tidak pasti, tidak bisa disebut iman. Pembenaran yang pasti tersebut tidak mungkin tercapai kalau masih dilandasi argumen yang masih meragukan; baik alasannya disandarkan pada pemikiran (dalil aqli) maupun pemberitaan (dalil naqli).

 

Apalagi al-Qur’an berkata bahwa yang kesimpulannya, kebenaran yang kita peroleh dari berita (dalil naqli) harus terlebih dahulu dibuktikan secara akal. Artinya, sumber yang memberitakannya harus kita yakini kebenarannya secara akal. Perkara-perkara yang dibenarkan secara pasti, dalam Islam, pokok-pokoknya adalah apa yang tertera dalam Rukun Iman (arkanul-iman). Artinya, segala hal yang kita yakini kebenarannya, tidak otomatis sebagai keimanan dalam Islam. Dari enam pokok-pokok keimanan inilah berkembang cabang-cabang keimanan lainnya, seperti iman kepada Sifat-Sifat Allah, percaya tanpa keraguan bahwa tidak ada kematian tanpa datangnya ajal, atau bahwa ajal itu hanya Allah yang menentukan. Begitu juga mengimani bahwa yang memberi rezeki hanyalah Allah, beriman kepada Yaumul Hisab, beriman kepada kenikmatan surga dan dahsyatnya azab neraka, beriman bahwa Allah itu tidak memiliki sekutu dan semua yang diluar Allah adalah ciptaan ataupun sesuatu yang berasal dari ilmu-Nya dan praktis berkedudukan selaku makhluk atas al-Khaliq. 

 

Dalam perkara keimanan, Islam melarang seorang muslim bertaklid atau hanya ikut-ikutan. Pembenaran yang pasti dari seorang muslim tidak mungkin dicapai hanya dengan ikut-ikutan, tanpa memahami permasalahan yang sebenarnya. Kaum muslimin dilarang mengikuti keyakinan-keyakinan pendahulu mereka yang bertentangan dengan Islam, lebih-lebih al-Qur’an dan pemikiran.

 

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, `Ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah’, mereka menjawab: `(Tidak), tetapi kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami’. Apakah mereka akan mengikuti juga walaupun nenek  moyang mereka tidak mengikuti suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?” (Q.S. Al-Baqarah:170).

 

Iman adalah masalah pokok dan paling dasar dalam agama Islam. Bagi peradaban Islam, keimanan ibarat tiang-tiang pondasi bangunan. Karena itu, hal yang fundamen ini tidak boleh diputuskan tanpa proses berpikir  yang jernih. Kita mesti mempertimbangkan mana yang layak diimani dan mana yang mesti ditolak. Dengan kata lain, apakah suatu hal itu secara akal benar atau tidak – dalam perkara-perkara yang bisa dan mungkin dijangkau oleh akal seperti  yang pernah saya kemukakan pada kesempatan sebelum ini.


Sebab jika salah dalam menentukan keputusan tentang hal ini, berarti hal lain yang terlahir dari keyakinan tersebut juga salah. Oleh sebab itu, keimanan dalam Islam harus dicapai dengan pemikiran yang jernih (fikrul-mustanir), dengan memperhatikan segala aspek yang bisa kita saksikan (baik alam semesta, manusia maupun kehidupan) secara menyeluruh dan mendalam. Sehingga keputusannyapun merupakan keputusan yang jernih. Disamping itu, jika masalah keimanan, yang asasi ini, diraih tanpa pemikiran yang jernih, keyakinan yang diperoleh pun merupakan keyakinan yang goyah dan lemah, sehingga mudah terombang-ambing serta tidak akan berbekas dan memotivasi kita untuk berbuat dalam kehidupan. 

 

Islam telah menetapkan, untuk memeluk agama ini amat bergantung pada pengakuan terhadap keimanan yang benar-benar muncul dari proses berpikir yang jernih. Inilah karakter khas dari keimanan dalam Islam. Siapa pun yang memiliki akal akan mampu membuktikan–hanya melalui keberadaan benda-benda yang dapat di inderanya–bahwa dibalik benda-benda tadi pasti terdapat Sang Pencipta (al-Khaliq) yang telah menciptakan seluruh benda-benda tadi beserta aturan-aturan yang menakjubkan tidak terkecuali akal itu sendiri.


Ayat-ayat tekstual didalam al-Qur’an pada hakekatnya merupakan ajakan untuk melihat dan memperhatikan benda-benda yang ada disekeliling manusia. Ajakan ini hendaknya dijadikan petunjuk akan adanya Al-Khaliq, sehingga keimanan kita didasarkan pada bukti dan dalil; iman yang mantap yang tidak akan tergoyahkan oleh siapa pun dan oleh sebab apa pun.

 

Dalam Islam, dalil (argumen) keimanan terbagi dua macam, yaitu dalil aqli dan dalil naqli. Dalil aqli adalah bukti yang diperoleh melalui akal (proses berpikir) sehingga seseorang akan membenarkan secara pasti rukun-rukun dalam akidah. Dalil naqli (samiy) adalah berita (khabar) yang pasti (qathiy) yang memberitahu kita mengenai rukun-rukun akidah

 

Adapun tema-tema akidah (rukun Iman) yang dapat dijangkau melalui dalil aqli hanya tiga macam, yaitu mengimani wujud Allah, mengimani bahwa Al-Quranul-Karim berasal dari sisi Allah, dan mengimani bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Selain tema-tema itu, rukun iman lainnya hanya dicapai melalui dalil naqli. Meskipun demikian, secara tidak langsung, keimanan seorang muslim tetap saja didasarkan pada bukti (akal), karena dalil naqli yang kita imani itu, telah dibuktikan melalui proses berpikir (akal).


Bukti keimanan akan adanya Allah, adanya sang Pencipta, dapat diperoleh dengan mengamati ciptaan-Nya. Menurut akal, tidak mungkin ada yang diciptakan tanpa ada yang menciptakannya. Jadi kalau ada yang diciptakan, pasti ada yang menciptakan.

 

Adanya alam semesta, kehidupan, dan  manusia merupakan bukti adanya Pencipta.

Sesungguhnya alam semesta (langit, bumi serta apa saja yang ada diantara keduanya), manusia (lengkap dengan semua struktur biologis penyusun dirinya termasuk struktur non fisik seperti akal dan perasaan didalamnya), serta kehidupan ini, hakikatnya diciptakan (berfungsi makhluk). Sebagai buktinya, ketiga unsur ini sangat terbatas dan saling membutuhkan. Sesuatu yang terbatas pasti membutuhkan sesuatu yang tidak terbatas. Artinya ketiga unsur ini pasti ada yang membatasinya, yang menciptakannya. Dialah Allah sang al-Khaliq.

 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya, malam dan siang  terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang yang berakal. -Qs. 3 Ali Imran:190

 

Di antara tanda-tanda kekuasaannya adalah diciptakannya langit dan bumi serta  berlain-lainannya bahasa dan warna kulitmu. -Qs 30 Ar-Rum:22

 

Bagaimana bisa lalu timbul satu pemahaman bahwa akal bukan makhluk ? sementara akal sendiri adalah bagian dari diri manusia ? sesungguhnya pemahaman yang demikian hanya akan membuat akal sejajar dengan Allah selaku al-Khaliq. ; Akal merupakan hasil proses dari otak yang merupakan “benda” ciptaan ilahiah, sama seperti sinar yang merupakan hasil proses dari bintang atau matahari, tidak disebutkannya akal adalah makhluk bukan berarti kita harus menafikan kenyataan akal adalah sesuatu yang diciptakan oleh Allah melalui ilmu-Nya sama seperti sinar atau cahayapun tidak disebutkan sebagai makhluk dengan eksplisit, kita diajarkan didalam Islam untuk selalu mentauhidkan Dia, bahwa Dia memiliki sifat-sifat tidak terbatas, Dia Qiyamuhu Binafsihi dan lain sebagainya, cernalah semua keagungan-Nya itu dengan benar-benar membersihkan duri-duri kemusryikan sekecil apapun.

 

Akal tidak sempurna, akal baru berfungsi setelah menjalani proses-proses dalam tahapan kehidupan anak manusia (lihat surah 4 ayat 5) dan ini artinya akal bergantung kepada sesuatu yang lain diluar dirinya sendiri, apakah akal artinya bukan makhluk ? apakah akal tidak sama dengan manusia itu sendiri yang menjalani berbagai proses dalam tahapan perkembangannya sampai menjadi manusia sempurna (dewasa dan bisa berkarya?) Jika manusia adalah ciptaan Allah, jika manusia adalah makhluk, maka semua yang ada didiri manusia juga adalah bagian dari kemakhlukan dan bagian dari penciptaan. ; Diciptakannya pendengaran dan penglihatan (surah al-Insaan ayat 2) disebutkan sebagai sarana bagi manusia dalam memahami ilmu-Nya Allah (perintah maupun larangan), kedua panca indera itu tidak bisa difungsikan bila akal tidak berjalan, karena orang gila yang punya panca indera lengkap terbukti tidak mampu berpikir atau memahami kehidupan dengan baik, akhirnya manusia adalah ciptaan sebaik-baiknya dari Allah yang itupun tidak sekompleks penciptaan langit dan bumi.

 

Saya sekali lagi bukan pendewa akal, tapi saya juga bukan type orang yang menerima apapun tanpa saya perlu berpikir atau harus dogmatis, adanya ayat-ayat Muhkamat dan Mutasyabihat didalam al-Qur’an, juga adalah bukti bahwa al-Qur’anpun menghendaki kita berpikir jernih dalam mencerna ayat-ayatNya, tidak harus segalanya tercantum dengan jelas dalam al-Qur’an atau bahkan dalam sunnah Rasul-Nya sebab telah sampai kepada kita akan adanya satu riwayat mashur tentang pengutusan salah satu sahabat kesebuah negeri dimana Rasul pernah bertanya yang kurang lebih : bila engkau tidak mendapati satu masalah didalam kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya, maka dengan apa engkau memutuskan ? maka disebutkan bahwa aku akan berijtihad. Dan pernyataan tersebut disepakati oleh Rasul SAW.; Ijtihad yang tentunya kitapun harus sepakat, tetap berlandaskan kitabullah sebagai acuan utama.

 

O.ya. saya ingat anda menyinggung juga tentang pengusapan (khuff) sepatu sebagai pengganti mencuci kaki saat wudhu yang dianggap tidak masuk akal, buat saya malah masuk akal sekali.

 

Bukankah maknanya sudah jelas untuk membersihkan kotoran dari sepatu ? sama seperti berwudhu … ya kita kembalikanlah kepada hakekat atau tujuan dasar sebuah perintah itu terjadi dan kearah sanapula hendaknya kita mengembangkan logika pemikiran kita.

 

Kenapa yang diusap adalah bagian atasnya dan bukan bawahnya ? karena jika bagian bawah bukan mengusap tetapi mencuci … sebab tidak mungkin menghilangkan kotoran yang melekat ditelapak sepatu hanya dengan mengusap saja, kotorannya pasti tidak akan hilang dengan sempurna. Yang kedua, saat kita sholat, duduk tahyat awal dan tahyat akhir, bagian yang mengena kepada diri kita adalah bagian atas sepatu dan bukan bagian bawah sepatu. Karena itu, bila kita sholat bersepatu, maka sapulah kotoran dibagian atas sepatu itu.

 

Demikian dari saya untuk masalah tersebut.

 

Mas Dani sah-sah saja mengelompokkan saya kepada satu kaum atau sekelompok orang tertentu didalam jemaah Islam, buat saya tidak masalah selama mereka memiliki pemandangan yang sama dengan saya dalam hal dimana saya dikelompokkan, saya tidak ambil pusing dengan penggolongan-penggolongan tersebut, dari dulu saya sudah akrab dihujat orang sebagai bagian dari muktazilah, bagian dari syi’ah … hal-hal demikian tidak membebani pikiran saya dalam beragama, yang jelas bahwa saya sendiri tidak memahami bahwa Islam harus bergolongan (titik).

 

 

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.,

 

 

 

ARMANSYAH

http://armansyah.swaramuslim.net

https://arsiparmansyah.wordpress.com

http://rekonstruksisejarahisaalmasih.wordpress.com

 

—– Original Message —– From: “Dani Permana” <adanipermana@gmail.com>

To: <Milis_Iqra@googlegroups.com>

Sent: Monday, September 03, 2007 10:04 PM

Subject: [Milis_Iqra] Re: Kemuliaan akal menurut Islam

Lafazh “Sholabu-hu” Re: Terjemah An Nisa:157

Salamun ‘ala manittaba al Huda

 

 

 

 

—– Original Message —–

From: <abu.abd.halim@gmail.com>

To: “Milis_Iqra” <Milis_Iqra@googlegroups.com>

Sent: Monday, September 03, 2007 10:20 PM

Subject: [Milis_Iqra] Re: Lafazh “Sholabu-hu” Re: Terjemah An Nisa:157

 

>
> Lanjutan posting yang lalu.
>
>
http://quranhadis.wordpress.com/2007/08/31/lafazh-sholabu-hu/
>
> Ketiga kritik di atas tidak lain adalah tinjauan dari sudut pandang
> Bahasa, ‘Urfun (kebiasaan yang berlaku) dan Syari’at. Dari sudut
> pandang Bahasa, kata “menyalib” dipahami dengan pengertian -seperti
> yang telah dijelaskan sebelumnya- mengikat atau memaku seseorang ke
> sebuah palang. Penjelasan tambahan di luar pengertian ini sekalipun
> masih memiliki hubungan maknawi dengan lafazh “sholaba”, tidaklah
> membatalkan sifat independen makna “mengikat atau memaku seseorang ke
> sebuah palang” dalam menjelaskan lafazh “sholaba”. Sehingga keharusan
> memahami penyaliban sebagai sebuah bentuk eksekusi dengan detail
> sedemikian rupa -lebih dari sekedar makna Bahasawi “menyalib” itu
> sendiri- bukanlah berasal dari wilayah Bahasa. Perluasan makna jelas
> hanya terjadi di luar wilayah Bahasa. Bisa di dalam wilayah Adat
> ataupun di dalam wilayah Syari’at. Sehingga detail apapun yang
> diharuskan ada dalam pengertian penyaliban, termasuk detail
> “peremukkan tulang” atau “pemakuan tangan” atau “sampai mati” dan
> sebagainya, tidaklah perlu dicarikan dukungannya dalam wilayah Bahasa.
> Kemudian dari sudut pandang Adat, eksekusi penyaliban biasanya memang
> disertai dengan bentuk-bentuk penyiksaan yang lain. Namun detail
> bentuk penyiksaan tersebut terbukti tidak sampai berpengaruh pada
> perluasan makna penyaliban itu sendiri. Klaim bahwa penyaliban itu
> hanya dapat disebut sebagai penyaliban kalau yang disalib sampai
> menemui ajalnya, tidak memiliki dasar dalam wilayah Adat. Seorang
> Rolando Ocampo dari Filipina dan beberapa rekan senegaranya disebut
> telah menjalani penyaliban meskipun tidak sampai mati. Penyaliban
> dalam Adat mereka bahkan dapat diberlakukan tidak hanya sebagai sebuah
> eksekusi melainkan juga sebagai sebuah ritual. Ini membuktikan bahwa
> tidak ada otoritas apapun dalam wilayah Adat yang menyebabkan lafazh
> “sholaba” harus dipahami dengan detail-detail tertentu (melebihi
> pengertian bahasawinya). Bahkan kalau detail “sampai mati” itu tetap
> harus diterapkan, maka implikasinya dalam syari’at Islam yang juga
> memberlakukan penyaliban sebagai haddu l hiro-bah adalah, menjadikan
> batasan “sampai mati” tersebut sebagai sebuah rukun seperti rukun
> membaca al fatihah dalam sholat. Kalau rukun itu tidak dikerjakan,
> maka sholat atau penyaliban itu pun menjadi batal. Hal ini tentu tidak
> memiliki dasar sama sekali dalam wilayah Syari’at. Tidak ada dalil
> naqliy yang menerangkan bahwa penyaliban itu tidak disebut penyaliban
> melainkan hanya menerupai penyaliban kalau ia tidak sampai menyebabkan
> kematian, atau kalau ia tidak melengkapi detail-detail penyiksaan
> tertentu selain penggantungan di tiang salib.
>

 

 


 

ARMAN :

 

Ketika al-Qur’an berbicara mengenai kasus penyaliban yang terjadi pada kasus Isa al-Masih, kita harusnya mau menoleh kepada maksud, cara dan bentuk dari penyaliban yang terjadi dan diakui pada masa kehidupan Isa al-Masih itu sendiri.; Apa yang dimaksud dengan penyaliban dalam kehidupan bangsa Israel ?

 

Dan dengan penelusuran lebih seksama, maka dalam budaya mereka, orang yang baru tergantung diatas kayu palang (tanpa adanya kematian) baru sebatas didefinisikan sebagai orang yang tergantung (taw-law) sebagaimana salah satunya bisa dilihat dalam kitab Yosua pasal 10 ayat 26, berbeda dalam kasus Isa yang oleh anggapan mereka telah berhasil disalib sekaligus membuktikan argumentasi mereka bahwa Isa benar sebagai Nabi palsu yang membuat-buat kedustaan atas nama Allah yang kematiannya harus dilakukan dengan cara terkutuk dimata Tuhan (kel-aw-law’) seperti yang bisa dilihat dalam kitab Ulangan pasal 21 ayat 23.

 

Karena itu, maka mari kita lihat ulang frase ayat dalam al-Qur’an saat membicarakan peristiwa itu, runut satu secara perlahan :

 

وَقَوْلِهِمْ = dan ucapan mereka, ( yaitu bangsa Israel dan sekutunya dari kaum Romawi )

إِنَّا  = Sesungguhnya kami, (kami merujuk pada kata “mereka” pada kalimat diatas)

قَتَلْنَا = telah membunuh, (dakwaan utama mereka adalah berhasil melakukan pembunuhan)

الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللّهِ = Al Masih ‘Isa  ibnu Maryam utusan Allah, (istilah Rasul Allah hanya sebuah ejekan karena mereka tidak mempercayainya)

وَمَا قَتَلُوهُ = tidaklah  mereka membunuhnya,  (disini dakwaan pembunuhan dibatalkan oleh al-Qur’an)

وَمَا صَلَبُوهُ =  dan menyalibnya, (disini dakwaan penyaliban juga ikut dibatalkan tanpa penjelasan lebih jauh)

وَلَـكِن = akan tetapi, (disini mulai penegasian secara tegas)

 شُبِّهَ لَهُمْ =  diserupakan untuk mereka, (jadi pembunuhan dan penyaliban itu hanya diserupakan atau disamarkan kejadiannya kepada orang-orang tersebut)

وَإِنَّ الَّذِينَ  = dan sesungguhnya orang-orang yang, ( disini lebih utama masih mengacu pada konteks dimana kejadian itu berlangsung )

اخْتَلَفُواْ فِيه = berselisih tentangnya, ( idem )

لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ = sungguh-sungguh dalam keraguan tentangnya, ( dinyatakan mereka sendiri ragu … kenapa ragu ? )

 مَا لَهُم = tiadalah  bagi  mereka, ( disebutkan adanya penegasian al-Qur’an atas diri mereka )

بِهِ مِنْ عِلْمٍ = dengannya  pengetahuan, ( jadi semua kejadian itu yaitu pembunuhan dan penyaliban tidak dilakukan atas dasar ilmu yakin )

 إِلاَّ = kecuali, اتِّبَاعَ  = mengikuti, الظَّنِّ = persangkaan/dugaan, ( dari kalimat ini kita bisa mengetahui bahwa peristiwa yang dikenakan pada kasus Isa hanya sebuah dugaan atau prasangka belaka tanpa mereka bisa membuktikan bahwa kejadian itu telah benar-benar terbukti berhasil dilakukan )

 وَمَا = dan tidak ,  قَتَلُوه = mereka telah membunuhnya,  يَقِيناً = dengan yaqin. = Pada kalimah ini dinyatakan ulang bahwa letak keraguan itu menurut al-Qur’an ada pada keterbunuhannya ( jadi keraguan itu bukan terletak pada penyaliban bila itu didefenisikan oleh anda sebagai ketergantungan Isa diatas kayu palang ).

Ini semua sekali lagi bisa kita telusuri dan kita analisa dari sumber-sumber yang oleh Rasul sendiri jangan didustakan semua dan jangan dibenarkan semua isinya yaitu al-Kitab (The Bible) yang menjadi keyakinan orang-orang Nasrani.

 

Satu hal yang jelas disisi lain, bahwa dalam kejadian ini tidak disebutkan adanya pelaku lain yang harus dirujuk sebagai penyerupaan atas diri Isa al-Masih sehingga kita bisa mengarahkan “penafsiran subbihalahum” kepada orang lainnya.

 


 


> Kutip:
>
> Jika kemudian al-Qur’an menyinggung tentang ketidak tersaliban Isa,
> maka disini saya lebih melihat al-Qur’an menafikan makna hukuman salib
> itu sendiri yang dijatuhkan kepada diri Isa al-Masih. Seperti yang
> kita tahu, terminologi al-Qur’an tentang makna penyaliban adalah
> sebagai bentuk hukuman bagi orang yang melawan Allah dan Rasul serta
> membuat kerusakan dibumi, terminologi al-Qur’an ini tidak berbeda jauh
> dengan makna penyaliban dalam terminologi Yahudi, bahwa orang yang
> digantung dikayu palang adalah orang yang terkutuk (lepas dia mati
> atau hidup, dipaku atau tidak).
>
> Kritik:
>
> Kalau yang dimaksud dengan terminologi Al Quran adalah penggunaan
> makna suatu kata di dalam Al Quran, yang berbeda dari makna bahasawi
> kata tersebut, maka apa yang disebut sebagai terminologi Al Quran
> tentang makna penyaliban itu sebenarnya tidak ada. Sebab makna lafazh
> “sholaba” di dalam Al Quran masih tetap sama dengan makna bahasawi
> lafazh tersebut. Ini berarti, untuk lafazh “sholaba” Allah juga
> menggunakan makna yang telah dikenal oleh Orang Arab ketika itu tanpa
> menambahkan ataupun mengurangi. Adapun pengundang-undangan penyaliban
> sebagai sebuah bentuk hadd (eksekusi, hukuman), tidaklah dapat
> dijadikan sebagai dasar pandangan bahwa lafazh “sholaba” telah
> mengalami peralihan makna dari makna bahasawi ke makna terminologis
> Quraniy. Sebab -lagi-lagi- tak ada perubahan makna yang terjadi. Kalau
> terdapat bukti bahwa sebelum Al Quran diturunkan Orang Arab memahami
> lafazh “sholaba” dengan makna “a”, kemudian setelah Al Quran
> diturunkan lafazh tersebut mengalami perubahan makna menjadi “a+”,
> maka barulah dapat dikatakan bahwa lafazh “sholaba” memiliki makna
> terminologis Quraniy. Contohnya adalah kata “ash shola-tu” yang
> awalnya berarti “doa”, namun kemudian berubah maknanya menjadi
> perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam
> sebagaimana yang tercantum dalam kitab-kitab Fiqh.

 


 

ARMAN : Acuan-acuan kitab fiqih, lebih banyak didasarkan kepada penafsiran-penafsiran ataupun literatur mayoritas (mainstream) yang beredar pada kalangan ahli fiqih saat itu yang bila kita kembali telusuri lebih jauh kebelakang maka penafsiran ini bermula pada adanya riwayat-riwayat diluar al-Qur’an tentang kenaikan Isa kelangit dan akan turun lagi dalam wadag yang sama diakhir jaman.

 

Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada apa yang sudah menjadi keyakinan mayoritas itu maka saya menolaknya dengan argumentasi yang logis dengan sejumlah penelaahan kepada hal-hal yang melewati batasan-batasan tafsir subyektif tersebut.

 

Meskipun kita tahu ada ayat al-Qur’an yang menyatakan mengenai hukuman penyaliban, namun kita belum pernah mendengar adanya orang yang disalib pada bangsa Arab dijaman Rasul atau periode sebelumnya sehingga terminologi salib harus disaklekkan sebagai ketergantungan orang diatas kayu palang seperti yang anda pahami.

 

Yang jelas al-Qur’an berkata bahwa hukuman salib adalah salah satu bentuk hukuman bagi orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya serta berbuat kerusakan dibumi …. ini dulu yang harus kita pahami, dengan demikian bila ada orang yang disebut-sebut telah disalib maka dengan mengikuti kaidah al-Qur’an tersebut haruslah diterjemahkan sebagai orang yang memang berlaku demikian.

 

Sama bila misalnya dalam ayat yang sama (5/33), hukuman lainnya berupa pengasingan atau pembuangan dari kampung halaman mereka, jadi bila ada orang yang diusir, dikeluarkan dari negerinya maka haruslah diartikan sebagai orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya atau berbuat kerusakan.

 

Namun apakah selamanya harus diartikan seperti itu secara subyektif ? Ternyata tidak, karena seperti yang saya singgung terus dibagian yang lalu, Ibrahim, Musa, Muhammad adalah justru Rasul-rasul Tuhan yang terpaksa terusir dari negeri mereka sendiri dan itu tidak membuktikan mereka berada pada posisi berlawanan dengan kebenaran. Seperti itulah juga kasus penyaliban Isa dan inilah makna yang saya maksudkan.

 



>
> Kutip:
>
> Karena Isa adalah Rasul Allah, orang yang justru berada dipihak
> kebenaran dan berjalan diatas manhaj-Nya Allah, maka praktis sekalipun
> dia terpaksa harus berada diposisi tergantung seperti itu maka makna
> penyaliban secara terminologi itulah yang dibantah oleh al-Qur’an,
> keberadaan Isa disana bukan sebagai orang yang salah, bukan sebagai
> terdakwa seperti hujatan-hujatan umat Yahudi,
>
> Kritik:
>
> Justru tergantungnya Isa ‘alayhissalam di tiang salib itulah yang
> dinafikan di dalam Al Quran. Penafian tersebut tentu haruslah diimani
> oleh siapapun yang mengaku sebagai muslim. Setelah terbukti bahwa
> makna terminologis quraniy untuk lafazh “sholaba” itu sebenarnya tidak
> ada, maka pemahaman atas lafazh tersebut dikembalikan kepada makna
> bahasawinya, yaitu “menyalib”.
>
> Kalau informasi Al Quran tentang penafian penyaliban Isa ‘alayhissalam
> ditilik dengan baik, maka nampak jelas dengan kacamata Bahasa bahwa
> hubungan antara “terbunuh” dengan “tersalib” bukanlah hubungan antara
> suatu terma umum dengan terma khusus. Melainkan antara sesuatu yang
> “lebih tinggi” dengan yang “lebih rendah”. Maksud keumuman terma
> “terbunuh” adalah bahwa ia mencakup kondisi-kondisi khusus
> keterbunuhan yang meliputi: mati-tersalib, mati-tertikam, mati-
> tercekik dan sebagainya. Dalam konteks ayat ini, penafian keterbunuhan
> Isa ‘alayhissalam sama dengan penafian kematian beliau dalam keadaan
> tersalib. Penafian pertama ini tentu masih menyisakan kemungkinan
> bahwa beliau tersalib namun tidak sampai mati. Kemungkinan yang
> disisakan oleh penafian pertama inilah yang dinafikan dalam penafian
> kedua. Setelah membaca keterangan ayat tersebut dengan pemahaman
> sedemikian, kesimpulan yang muncul adalah: “Disalib saja tidak,
> apalagi sampai terbunuh di tiang salib!”. Dengan demikian, penafian
> penyaliban di sini berfungsi untuk lebih menguatkan penafian
> pembunuhan sebelumnya.
>

 


 

 

ARMAN : Anda benar, tersalib saja tidak maka bagaimana bisa Isa disebut terbunuh ? itu semua dugaan mereka saja yang belum dibuktikan pada saat kejadian sehingga justru menimbulkan keraguan pada diri mereka sendiri apakah benar Isa sudah berhasil dibunuh dalam kejadian tersebut, atau hanya sekedar penyerupaan saja atau sebuah penampakan saja sehingga mereka seolah menganggap telah berhasil melakukannya.

 

Bagaimanapun, kasus-kasus terlukanya seorang Rasul atau bahkan sampai terbunuhnya mereka atas musuh-musuhnya sesuatu yang sangat bisa terjadi menurut al-Qur’an, ini salah satu bentuk ujian ketabahan atas keimanan sang Rasul yang dimaksud serta orang-orang yang mengikutinya.

 

 

 

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.,

 

 

ARMANSYAH

http://armansyah.swaramuslim.net

https://arsiparmansyah.wordpress.com

http://rekonstruksisejarahisaalmasih.wordpress.com

 

Acuan beragama

Salamun ‘ala manittaba al Huda

 

Didalam Islam, saya membagi pola acuan pembelajaran kaidah keagamaan pada dua type manusia.

Yaitu polanya Ali bin Abu Thalib serta orang-orang yang sekelompok dengan beliau a.s

Dan yang kedua adalah pola Umar bin Khattab serta orang-orang yang sekelompok dengannya.

 

Pola pertama adalah ikut tanpa membantah, pola kedua ikut dengan kritis.

Memang pola pertama jauh lebih pantas untuk di-ikuti caranya, tapi bisakah tetap dilakukan dalam konteks jaman sekarang ini ?

 

Saya sangat bisa memahami jika Ali bin Abu Thalib orang dengan steorotype pertama, karena beliau adalah orang yang secara garis keturunan memang sangat dekat dan telah mengenal pribadi Rasulullah al-Amin sejak masih kecil bahkan dalam satu riwayat, beliau mengatakan bahwa harumnya wahyu turunpun pernah dirasakannya bersama Rasul sehingga sudah sewajarnya apabila beliau tidak perlu banyak mengkritik atau menanyakan analisa a atau b kepada Rasulullah SAW.

 

Sementara Umar bin Khattab adalah seorang mantan jahiliyah yang “baru mengenal” Rasul setelah berselang sekian waktu dari kenabian itu dan wajar pula bila mempunyai sikap demikian (banyak tanya, banyak menyanggah dan lebih mengedepankan ra’yunya dalam memahami kaidah suatu teks keagamaan), atas pribadi Umar seperti ini Rasul tidak mencela, bahkan sejumlah riwayat malah memperlihatkan keutamaan singa padang pasir ini dari penilaian Rasulullah SAW, dan pada masanya, kedua orang dengan tipikal berbeda diatas (Ali dan Umar) mampu bersinergi dalam membangun peradaban Islam sehingga mencapai jaman-jaman keemasan.

 

Keteladanan Imam Ali atas wahyu dan Rasul sekali lagi memang yang terbaik, namun kita sekarang ini sangat rentan untuk tetap bersikap sama karena kita tidak lagi bersama Rasul dan tidak berhadapan langsung dengan beliau SAW sehingga bisa belajar atau bertanya kepadanya untuk hal-hal yang tidak kita mengerti. Riwayat-riwayat yang sampai kepada kita hari ini (diluar al-Qur’an) adalah riwayat-riwayat yang masih sarat dengan kontaminasi ataupun intervensi serta rekayasa yang bisa jadi diada-adakan atau diatasnamakan terhadap Beliau SAW sekalipun ditutup oleh cover shahih, mutawatir dan sejenisnya.

 

Untuk bisa beramal, kita tentunya harus meneliti dulu apakah yang akan kita amalkan benar atau tidak, sebab seperti banyak riwayat justru mengatakan amal yang tidak ada tuntunannya justru tertolakkan. Dijaman kita sekarang, banyak ustadz-ustadz, kyai-kyai, syekh anu atau habib anu, ulama anu justru mengamalkan suatu perbuatan atau amalan yang aneh-aneh dan sama sekali tidak bisa dibenarkan secara naqly.

 

Jadi … akal tetap harus menjadi panduan kita dalam beramal sehingga amal yang dilakukan InsyaAllah benar-benar tidak sia-sia.

 

Demikian secara singkat …

 

 

 

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.,

 

 

 

ARMANSYAH

http://armansyah.swaramuslim.net

https://arsiparmansyah.wordpress.com

http://rekonstruksisejarahisaalmasih.wordpress.com

 

 

 

 

—– Original Message —–

From: “ardi!” <ardi_arifin@hotmail.com>

To: “Milis_Iqra” <Milis_Iqra@googlegroups.com>

Sent: Monday, September 03, 2007 9:48 AM

Subject: [Milis_Iqra] Re: Kemuliaan akal menurut Islam


>
> Ada teman berkata; jangan terpedaya dan tertipu oleh ‘kepintaran akal’
> sendiri, karena jadilah kelemahan umat sekarang yang katanya sangat
> berintelektual(baca: cendikiawan/pemikir islam?) dibanding umat
> terdahulu adalah: umat sekarang terhadap perintah Allah lebih sibuk
> memikirkannya (baca: mengkaji, menelaah, mewacanakan, dst) drpada
> sibuk melaksanakannya, sedangan umat terdahulu ketika perintah Allah
> turun sibuk melaksanakannya drpada sibuk memikirkannya !!! hehehe…
>
> jangan diambil artinya secara harafiah ya temans, its a joke but has a
> deep meaning hehehe… Insya Allah bisa jadi bahan pemikiran.. (loo
> mikir lagi, kapan actionnya buat menegakkan dien? hehehe)
>
> barangkali mungkin lebih baik kita menjadi seperti Bilal kali ya…
> sahabat yang ‘tidak berintelektual’, yang tidak banyak berfikir dalam
> menegakkan diennya tapi bunyi terompahnya di surga sudah didengar oleh
> Rasulullah SAW…  duh pengennya…
>
>
>
>
> On 29 Agu, 15:45, “ARMAN \(GMAIL\)” <
armansyah.s…@gmail.com> wrote:
>> Kemuliaan akal menurut Islam
>> Oleh Mohd Radhi Ibrahim
>> Sumber :http://rampaiseri.wordpress.com/2007/08/18/kemuliaan-akal-menurut-islam/
>> Akal fikiran merupakan anugerah Allah s.w.t yang paling utama kepada manusia, kriteria terpenting yang membezakan mereka daripada makhluk selainnya.
>>
>> Akal adalah neraca dalam menentukan kebaikan dan keburukan. Keistimewaan inilah yang menyebabkan manusia dipertanggungjawabkan untuk memikul amanah Allah s.w.t yang tidak mampu dipikul oleh langit, bumi dan gunung-ganang. Dengan panduan wahyu daripada Allah s.w.t, manusia telah diamanahkan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini.
>>
>> Kebahagiaan dan kesengsaraan abadi manusia di hari akhirat turut ditentukan oleh penilaian dan kebijaksanaan akalnya. Pengakuan yang dikemukakan oleh penghuni neraka begitu jelas menggambarkan realiti ini. (Mereka berkata; Jika kami mendengar dan berfikir nescaya kami tidak akan tergolong bersama ahli neraka, surah al-Mulk, ayat 10.
>>
>> Demikian juga konsep taklif (tanggungjawab) dalam Islam yang menitikberatkan tentang akal apabila hanya golongan yang berakal sahaja yang dipertanggungjawabkan untuk melakukan sesuatu ibadah kepada Allah s.w.t, sedangkan mereka yang tidak berakal dikecualikan.
>>
>> Menerusi akal, manusia berpeluang meningkatkan pencapaian dirinya sama ada untuk kehidupan dunia ataupun bekalan di hari akhirat.
>>
>> Merujuk kepada perantara langsung di antara Allah s.w.t dan hamba-Nya iaitu al-Quran, kita dapati akal merupakan asas kepada penghujahan Allah s.w.t ke atas makhluk-Nya. Jika diteliti terdapat begitu banyak ayat al-Quran yang memperkatakan tentang penggunaan akal seperti ta’qilun, tafakkarun dan tadabbarun.
>>
>> Pujian diberikan kepada mereka yang menggunakan akal yang membawa kepada keimanan dan ketakwaan terhadap Allah s.w.t, manakala celaan pula ditujukan kepada mereka yang mengabaikan proses penggunaan akal tersebut menuju kebenaran dan keimanan.
>>
>> Al-Quran memberikan kedudukan yang istimewa kepada akal. Islam menjadikan berfikir sebagai satu kemestian ke atas semua manusia. Berfikir dianggap sebagai bentuk ibadah yang tertinggi. Perkara ini dapat dilihat melalui firman Allah s.w.t yang bermaksud: Mereka yang mengingati Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan tidur serta berfikir pada kejadian langit dan bumi (lalu berkata) Tuhan kami sesungguhnya Engkau tidak jadikan semua ini sebagai satu kebatilan, maha suci Engkau. Maka lindungilah kami daripada azab neraka, surah al-Imran, ayat 190.
>>
>> Demikian juga kita dapat melihat pandangan Islam yang begitu tinggi terhadap penggunaan akal fikiran yang membawa kepada perkembangan sains dan teknologi. Pemikiran ini seterusnya membawa kepada keyakinan tentang kewujudan dan keagungan Allah s.w.t.
>>
>> Perkara ini dapat dilihat dengan jelas melalui firman Allah s.w.t dalam surah al-Baqarah ayat 164, bermaksud: Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi, perubahan malam dan siang serta kapal yang belayar di lautan membawa perkara yang memberi faedah kepada manusia, dan apa yang diturunkan Allah s.w.t dari langit dari air lalu dihidupkan dengannya bumi yang gersang dan menyebarkan padanya setiap kehidupan, melalukan angin dan awan yang ditundukkan di antara langit dan bumi, itu semua merupakan tanda (kekuasaan Allah s.w.t) bagi mereka yang berfikir.
>>
>> Ayat ini menunjukkan hubungan yang rapat di antara kandungan alam maya dengan Allah s.w.t. Setelah menceritakan tentang realiti yang dapat dilihat di sekitar manusia dari langit, bumi, siang, malam dan perjalanan kapal di tengah lautan bergelora, kejadian hujan dan sebagainya yang perlu dikaji dan diselidiki oleh umat Islam untuk mencapai kecemerlangan hidup di dunia, Allah s.w.t mengakhiri ayat tersebut dengan menyatakan semua perkara itu adalah tanda bagi orang yang menggunakan fikirannya. Dengan kata lain, sebagai perantara untuk manusia mengakui kewujudan Allah s.w.t dan keagungan-Nya sebagai pencipta dan pentadbir alam ini.
>>
>> Dari perspektif yang lebih jelas, ia memberitahu kita bahawa semua kejadian yang berlaku di dunia ini akan membawa kita kepada mengingati tentang kewujudan, kekuasaan, kebijaksanaan dan keagungan Allah s.w.t, dengan satu syarat iaitu melalui perantaraan akal yang sememangnya dianugerahkan kepada semua manusia.
>>
>> Oleh itu, Allah s.w.t memandang rendah mereka yang tidak menggunakan anugerah akal fikiran yang diberikan untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada-Nya. Mereka dihumbankan kepada kedudukan yang lebih hina daripada haiwan ternakan. Ini kerana mereka hanya menggunakan segala anugerah Allah s.w.t untuk kesenangan dan kemewahan duniawi semata-mata, seterusnya lalai daripada tujuan asal mereka dijadikan iaitu untuk mengenal dan mengabdikan diri kepada Allah s.w.t.
>>
>> Dari sini kita dapat melihat perbezaan antara golongan ilmuwan yang beriman dengan Allah s.w.t dengan yang tidak beriman.
>>
>> Golongan pertama akan menjadikan ilmu yang diperoleh untuk menambahkan lagi keimanan dan keyakinan kepada Allah s.w.t, manakala golongan kedua pula hanya memusatkan ilmu mereka demi mencapai kesenangan dan kemewahan di dunia semata-mata.
>>
>> Maka benarlah firman Allah s.w.t yang bermaksud Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah s.w.t adalah para alim ulama.
>>
>> Yang pasti, gabungan antara akal dan wahyu akan memberikan manusia jalan kebenaran yang bersinar sebagaimana yang diajarkan oleh para rasul. Pengabaian terhadap salah satu daripada kedua sumber tersebut akan menjadikan perjalanan hidup manusia pincang, seterusnya membawa kepada kekecewaan dan kegagalan.
>>
>> Menerusi wahyu yang disampaikan oleh para rasul, kita mengetahui di penghujung sana adanya hari kiamat. Pada hari tersebut manusia akan diperlihatkan setiap perbuatannya di dunia ini, daripada amalan kebaikan mahupun kejahatan biarpun sebesar zarah. Seterusnya mereka akan dibalas dengan pembalasan yang setimpal dengan perbuatannya.
>>
>> Sebagai seorang yang mempunyai akal yang rasional kita sewajarnya membuat persediaan untuk menghadapi hari tersebut. Kejayaan pada hari tersebut dapat dicapai apabila kita dicurahi rahmat Allah s.w.t. Kerahmatan ini pula dapat diperoleh dengan melaksanakan segala perintah Allah s.w.t dan dalam masa yang sama menjauhi segala larangan-Nya.
>>
>> Kesimpulannya, tugas akal yang paling mulia ialah apabila ia digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Apabila melihat kepada kejadian alam yang begitu hebat, tersusun dan indah ini, sewajarnyalah terdetik di hati kita ingatan terhadap Allah s.w.t yang Maha Agong yang mencipta alam ini.
>>
>> Hasil daripada ingatan yang berterusan inilah manusia akan sentiasa hidup dalam lindungan rahmat Allah s.w.t, sebagaimana firman-Nya yang bermaksud: Maka ingatilah Aku nescaya Aku akan mengingati kamu dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.
>
>
> –~–~———~–~—-~————~——-~–~—-~
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa’ : 63
>
> Gabung :
Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
>  Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
>    Situs :  http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
>     Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=-
> -~———-~—-~—-~—-~——~—-~——~–~—
>

Penentuan Ramadhan

Wa’alaykumsalam Wr. Wb.,

Salamun ‘ala manittaba al Huda

 

Yang bapak Andri sampaikan benar dan saya sangat sepakat dengan bapak, ini juga pernah menjadi perdebatan sengit antara saya dengan sekelompok kawan-kawan disuatu milis satu tahun yang lalu (dihitung dari kalendar Islam).

 

Berikut saya coba gulirkan ulang beberapa arsip diskusi dimasa itu ….

 

 

 

Terjemahan : Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, serta matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui. -Qs. al-An’am 6:96

 

Ayat diatas diperkuat oleh ayat berikut :

 

 

Terjemahan : Dia-lah yang menjadikan matahari terang dan bulan bercahaya dan Dia menentukan orbitnya [ Manzilah ] agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan; tidaklah Allah menjadikan semua itu melainkan dengan haq, Dia menjelaskan tanda-tandaNya bagi kaum yang mau mengetahui – Qs. 10 Yuunus : 5

 

Bila kita perhatikan kedua ayat diatas, ada kata yang telah saya lingkari dengan garis merah, disitulah point-point pembahasan ini InsyaAllah berawal.

 

Surah al-An’am 6 ayat 96 menggunakan lafadz Qomar dalam menyebutkan bulan sebagai pasangan dari matahari demikian juga halnya dengan surah Yunus ayat 5 juga menggunakan kata yang sama, ini semua tidak bisa kita pungkiri bahwa istilah Qomar disini merujuk pada pengertian phisik, yaitu bulan selaku satelit bumi dan bukan bulan dalam pengertian diluarnya. Dibuktikan pula dengan adanya kata ditentukan orbit atau manzilah dari bulan tersebut sehingga membuat kita memang harus tersaklek dengan pengertian tersebut.

 

Unik, bahwa Allah menyatakan keduanya [ yaitu matahari dan bulan ] bisa digunakan sebagai penentu bilangan tahun dan perhitungan, disini kitapun mau atau tidak mau harus mengartikannya kepada maksud sebagai dasar bagi perhitungan kalender atau penanggalan sebagai penunjuk waktu bagi manusia.

 

Artinya lagi dalam menentukan penanggalan [khususnya disini menyangkut penanggalan Hijriyah], maka kita harus merujuk pada perjalanan bulan mengelilingi bumi yang berdasar ilmu hisab diperoleh data sejauh 331 derajat 5, selama 29 hari 12 jam 44,04 menit 3 detik.

 

Karena itu, sesuai dari sabda Nabi Muhammad Saw sendiri :

 

 

Sesungguhnya kami ini segolongan umat yang ummi, kami tidak pandai menulis dan tidak bisa menghitung, sebulan itu ada yang begini dan begini, yaitu kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari – Riwayat Bukhari, Muslim dan lain-lain,

 

Diayat yang lain, Allah pun mengemukakan :

 

 

 

Terjemahan : Mereka bertanya kepadamu tentang hilal [ bulan sabit ], katakanlah : itu adalah penentu waktu bagi manusia dan haji – Qs. 2 al-Baqarah : 189

 

Istilah hilal inipun sepadan dengan istilah Qomar, yaitu merujuk kepada wujud bulan secara phisik yang beredar mengelilingi bumi.; Jadi bila dikatakan hilal sebagai penentu waktu bagi manusia dan haji artinya pun sama seperti yang dimaksud oleh Surah al-An’am 6 ayat 96 dan surah Yunus ayat 5, yaitu menjadikannya sebagai dasar penanggalan sehingga bisa ditentukanlah kapan waktunya untuk berhaji.

 

Dari penjelasan singkat diatas, kita harusnya sudah bisa berkesimpulan bahwa metode hisab atau secara Astronomis justru mendapat penekanan dalam mengambil keputusan untuk penentuan waktu dalam kehidupan manusia.

 

Sekarang kita beranjak lagi pada surah al-Baqarah yang memaparkan perintah berpuasa …

 

 

Terjemahan : Bulan Romadhon, yang bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir/membuktikan di bulan itu (Faman Sahida minkumul sahro), maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu … -Qs. 2 al-Baqarah : 185

 

Ayat ini menggunakan istilah Sahru Romadhon untuk merujuk kepada bulan Ramadhan, dia tidak menggunakan lafadz Hilal atau Qomar, dan bila kita menilik pada surah seperti an-Nisaa 4 : 92, at-Taubah 9 : 36, al-Ahqaaf : 15 maka diperoleh data bahwa yang dimaksudkan dari kata Syahra adalah bulan dalam makna perhitungan.

 

 

Terjemahan : Sesungguhnya bulan disisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan langit dan bumi – Qs. 9 at-Taubah : 36

 

 

Terjemahan : Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada ibu-bapaknya, ibunya sudah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya pula dengan susah payah,  mengandungnya sampai menyapihnya diusia 30 bulan – Qs. 46 al-Ahqaaf : 15

 

Dengan demikian Syahra adalah hasil dari hisab yang dilakukan atas Qomar atau hilal, atau dalam bahasa sederhananya, istilah syahra merupakan penanggalan yang diperoleh dari hasil perhitungan perjalanan bulan dalam garis edarnya.

 

Apakah tidak bisa menentukan penanggalan berdasarkan ru’yah phisik alias dengan cara melihat bulan secara langsung diangkasa ?

 

Tentu saja bisa dan ini cara yang paling mudah, tetapi hasilnya akan cenderung lebih tidak akurat dibandingkan melalui metode hisab atau perhitungan dengan menggunakan ilmu pengetahuan, sebab melihat bulan secara langsung bisa dipengaruhi oleh faktor cuaca dan penampakan obyek langit lain yang bisa saja dianggap sebagai bulan. Kekacauan lain yang bisa timbul adalah ketidak jelasan penyusunan agenda atau jadwal kerja misalnya, dimana bila kita hari ini tanggal 25 dan kita mau menentukan 8 hari kedepannya tanggal berapa persisnya haruslah menunggu sampai bulan yang sedang dijalani berakhir baru bisa menentukan tanggal berapa 8 hari dari sekarang itu. Sehingga penentuan bulan baru melalui metode ini rawan dengan kekacauan maupun kesalahan dalam penghitungan penanggalan.

 

Secara ringkas, metode melihat phisik bulan sebagai penentu bulan baru dimana awal bulan ditandai oleh penampakan hilal (bulan sabit) sesudah matahari terbenam (maghrib). Bila hilal terlihat, itulah tanggal satu, bila tidak terlihat maka ditetapkan sebagai tanggal 30. Dan tanggal 7 ditandai dengan bulan setelah bulatan di awal malam. Bulan purnama menunjukkan malam itu tanggal 14. Bulan setengah bulatan di akhir malam menandakan itu tanggal 21.

 

Sama seperti kalender masehi, kalender hijriah juga memiliki 12 bulan. Perbedaannya, jika bulan pada kalender masehi memiliki 30 dan 31 hari (selain bulan Februari), maka pada kalender hijriah, bulan memiliki 29 atau 30 hari. Dengan demikian satu tahun hijriah memiliki 11 hari lebih sedikit dibandingkan tahun masehi. Perbedaan lainnya adalah jika hari pada kalender masehi dimulai pada tengah malam, maka pada kalender hijriah hari dimulai setelah matahari terbenam.

 

Lalu kenapa ada perbedaan dalam metode hisab ?

Menurut situs moonsighting.com ada berbagai macam cara di berbagai negara dewasa ini untuk menentukan bulan baru melalui metode tersebut, yaitu umur, ketinggian, atau perbedaan matahari terbenam dan bulan terbenam, hasil kalkulasi, bulan baru sebelum 12.00 GMT dimanapun di dunia. [ Sumber : http://www.moonsighting.com/methods.html %5D

 

Perbedaan lainnya adalah sebagaimana sudah disampaikan oleh Sdr. Nurdan Darojat [ wonosari@gmail.com ] dalam postingnya di milis myquran@googlegroups.com dalam threads : Penentuan 1 syawal [ lihat attachment ] .

 

Jawaban no 3.

 

Saya akhirnya harus kembali mengeluarkan dasar hadis yang teksnya sudah saya cantumkan dibagian atas :

 

Sesungguhnya kami ini segolongan umat yang ummi, kami tidak pandai menulis dan tidak bisa menghitung, sebulan itu ada yang begini dan begini, yaitu kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari – Riwayat Bukhari, Muslim dan lain-lain

 

Dan saya pernah mengatakan juga dalam posting My Diary 18 : Pesona Perbedaan bahwa hadis ini bisa menjadi sebuah pengakuan jujur dari pribadi Nabi Saw mengenai status peradaban umatnya saat itu, dimana mereka disebutkan tidak pandai dalam hal ilmu pengetahuan ( termasuk baca-tulis-menghitung ). Jadi, jika ternyata umatnya sekarang lebih pandai dalam hal tersebut, maka seyogyanyalah kepandaian ini dipergunakan dalam kerangka menetapkan apa-apa yang sebelumnya sering menjadi keraguan akibat keterbatasan yang ada.

 

Hadis ini pun bisa sebagai sebuah indikasi bahwa Nabi mengakui adanya metode lain diluar dari apa yang biasa beliau dan umatnya gunakan [ penentuan bulan baru secara manual ].

 

Memang tidak menutup kemungkinan bahwa dimasa Nabi hidup ada orang-orang tertentu yang bisa melakukan hisab, akan tetapi karena cara dan bentuk kepastian dari metode ini belum bisa disebut akurat akibat keterbatasan kondisi peradaban, maka Nabi belum menggunakan metode seperti ini.

 

Disini saya akan mengutip dari bukunya Buya Hamka : Pandangan Hidup Muslim, terbitan Bulan Bintang Djakarta 1966 halaman 142 :

 

Kalau misalnya hiduplah Nabi kita Muhammad Saw dijaman kita ini, agaknya akan beliau suruhkanlah Bilal bin Rabah melakukan azan dengan memakai loadspeaker dan mikrofon. Akan beliau suruhkan agaknya Mu’az bin Djabal menyebarkan Islam kenegeri Yaman, bahkan keseluruh dunia dengan memakai radio [ tambahan dari saya : malah mungkin dengan email, handphone maupun milis ].

 

Hal ini selaras pula dengan apa yang disampaikan oleh M. Hasbi Ash Shiddieqy dalam bukunya : Pedoman Puasa, terbitan Bulan Bintang Djakarta 1960 halaman 53

 

Perintah berpuasa sesudah melihat bulan dengan mata kepala adalah : Lil Irsyad bukan Lil Idjab yaitu melihat bulan dengan mata kepala hanyalah salah satu jalan memulai puasa tetapi bukan satu-satunya jalan. Ini hanya jalan yang ditempuh oleh umat yang belum pandai berhisab.

 

Karenanya sangat menggelikan hati kalau orang berpuasa yang fanatik kepada lahir perintah, terus menetapkan bahwa dialah ( ru’yah ) satu-satunya jalan buat memulai puasa ( Tambahan dari saya : termasuk memulai I’edul Fitri ).

 

Demikian kutipan yang disampaikan oleh kedua tokoh Islam besar Indonesia ini.

 

Masih hendak menambahkan juga bahwa dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar :

 

Sebenarnya bulan itu dua puluh sembilan hari, maka janganlah kamu berpuasa sampai kamu melihat bulan dan janganlah kamu berbuak sampai kamu melihatnya. Jika mendung, ” kadarkanlah ” olehmu atasnya ( Fa in ghumma ‘alaykum faqdurulah ).

 

M. Hasbi Ash Shiddieqy masih dalam buku tersebut diatas [ yaitu pada halaman 49 ] menyatakan bahwa ulama berbeda pendapat dalam mengartikan perkataan : maka kadarkanlah untuknya. Jumhur ulama dari madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i berpendapat bahwa artinya sempurnakan menjadi 30 hari sebagaimana riwayat dalam hadis lain dari Muslim yang berbunyi Faqduru lahu tsalatsina = kadarkanlah untuknya 30 hari, sementara yang lainnya berpendapat pergunakanlah hisab.

 

Selaras dengan ini, saya ingin merujuk pada salah satu firman Allah :

 

 

Terjemahan : Wahai jemaah Jin dan Manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, silahkan lintasi, tapi kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan sulthon. -Qs. 55 ar-Rahman :33

 

Kata sulthon bisa diterjemahkan sebagai kekuatan, dan dalam hal ini merujuk pada kekuatan akal, yaitu bagaimana memaksimalkan kemampuan akal yang ada untuk mampu menciptakan peradaban yang cerdas, berilmu pengetahuan tinggi sehingga memungkinkan untuk mengeksplorasi seluruh alam semesta ini untuk kemaslahatan hidup masing-masing.

 

Dan ilmu hisab atau Astronomi, merupakan salah satu masterpiece manusia yang tentu saja bisa digunakan untuk berbagai tujuan termasuk menentukan perhitungan waktu sebagaimana di-isyaratkan oleh ayat-ayat yang sudah saya kutip dibagian atas sebelum ini.

 

Karena itulah kita akan kembali kepada konsep Iqra, konsep membaca, baca dan bacalah terus … analisa dan teruslah menganalisa, temukanlah, manfaatkanlah semua potensi yang ada dalam diri ini. Tidak heran bila ayat ini justru yang turun pertama kepada Rasulullah Saw.

 

Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan,  Dia ciptakan manusia dari segumpal darah.  Bacalah karena Tuhanmu itu sangat mulia; Yang mengajar dengan Qalam.  Dia mengajar manusia apa yang mereka tidak tahu
Qs. 96 al-alaq : 1 – 5 

 

Perintah berpikir adalah perintah Allah dalam al-Qur’an [salah satunya silahkan lihat kembali akhir surah 10 Yuunus ayat 5 diatas yang sudah saya lingkari merah : Liqowmi ya’lamun : Dia menjelaskan ayat-ayatNya bagi kaum yang mau mengetahui ] … dan ini tanpa kecuali baik itu dalam kehidupan beragama maupun bermasyarakat …. silahkan cek semua ayat Allah yang memerintahkannya … semua tidak ada pengecualian eh, kamu berpikir ya dalam hidup ini tapi jangan berpikir dalam beribadah … tidak, tidak ada ayat yang seperti itu.

 

Jika pemikiran seperti ini terus dipertahankan maka umat Islam tidak akan beda dengan umat Kristen atau yang lainnya … taklid buta tanpa berani bersifat kritis … pendapat seperti ini juga yang akhirnya menimbulkan kejumudan dalam beragama, akhirnya banyaklah perbuatan bid’ah yang berkembang dimasyarakat sebab setiap dogma harus di-ikuti saja tanpa ada ghirah untuk berpikir, mencari tahu apa dan kenapanya.

 

Bahwa akal diberikan oleh Allah untuk berpikir, membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Tanpa akal, manusia tidak lebih dari sekedar hewan yang tidak pernah memikirkan benar salah tindakannya bahkan mungkin jauh lebih sesat daripada itu.

Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul kedunia untuk memberikan petunjuk kepada manusia agar memilih jalan kebenaran, dan petunjuk Allah itu hanya bisa diterima oleh orang-orang yang mau untuk berpikir tentang hakikat kebenaran sejati.

Dan berpikir yang benar didalam penerimaan tersebut adalah berpikir yang tidak hanya merenung atau asal-asalan, namun berusaha untuk mengerti, mempelajari, menyelidiki, memahami serta mengamalkan dan alat untuk itu semua adalah akal.

Menisbikan peranan akal pikiran untuk menggapai keimanan sama sekali tidak layak kita terapkan, sebab hal ini akan menyamakan kedudukan kita dengan para penyembah berhala yang tidak pernah mau tahu tentang benar salahnya keimanan mereka, yang jelas mereka harus menerima dan yakin.

Jika sudah begini … untuk apa wahyu diturunkan ? Untuk apa para Nabi dan Rasul diutus ? Untuk apa Tuhan menciptakan manusia ?

Untuk apa Tuhan melimpahkan akal ? serta untuk apa Tuhan menjadikan kebenaran dan kebatilan ?

Kalau keputusan orang-orang yang menyatakan hisab itu haram atau tercela sebagai hujjah penentu 1 Ramadhan dan 1 Syawal, maka mereka seharusnya tidak pula setuju dan ikut dalam hal penetapan waktu sholat setiap harinya, atau waktu imsak misalnya.

 

Mengapa dalam urusan menetapkan permulaan puasa dan hari raya kita berkeras harus melihat phisik bulan dengan mata kepala ?

 

Pada jaman Nabi Saw, oleh beliau orang diberi pimpinan bahwa waktu dzuhur harus melihat matahari condong kebarat sampai bayangan sesuatu jadi sepanjang dirinya, dan demikian seterusnya sampai Ashar, waktu maghrib, semuanya dengan ukuran melihat matahari. Pada waktu Isya orang agar melihat hilangnya tanda merah ditepi langit hingga tengah malam; dan pada waktu subuh orang supaya melihat terbit fajar sampai hampir terbit matahari.

 

Demikian juga menyangkut berbuka puasa pada setiap harinya, orang diberi tuntunan supaya melihat tanda tenggelamnya matahari, dan waktu imsak sehabis makan sahur orang supaya melihat terbitnya fajar. Tetapi coba introspeksi saja masing-masing diri yang mengaku Muslim ! masihkah anda-anda mengikuti tuntunan Nabi seperti itu ?

 

Saya yakin 99% umat Muslim didunia ini sudah tidak lagi menggunakan metode tersebut, kita lebih banyak mengikuti keputusan atau penetapan ahli hisab dimana mereka mengatur ketentuan waktu sholat, waktu berbuka dan berimsak setiap hari melalui jam, jadwal, program  komputer semacam shollu dan sebagainya.

 

Oleh karena itu, jika diantara kita masih banyak yang bersikeras bahwa penetapan untuk awal puasa dan awal syawal harus dengan ru’yah phisik bulan [ qomar/ hilal ] secara langsung, maka saya usulkan hendaknya anda-anda dalam mengerjakan sholat 5 waktu setiap hari atau berbuka puasa dan berimsak harus benar-benar melihat matahari dan sebagainya sebagaimana diterangkan sebelumnya sebagai hal yang dicontohkan dan diperintahkan oleh Nabi. Ini agar anda-anda tidak pincang dalam berpikir.

 

Siapapun boleh-boleh saja mengikuti pendapatnya Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz atau juga Ibnu Taimiyah yang menurutnya mereka semua menolak dan mencela metode hisab karena BERANGGAPAN itu melanggar sunnah, tidak ada paksaan dalam ajaran agama kita, tetapi yah, kemungkinan besar akan terus beginilah umat Islam ini kedepannya, tidak pernah ada kata sepakat dalam penentuan awal Ramadhan dan awal Syawal.

 

Yang jelas, hidup ini berproses, dari bayi menjadi batita lalu ke balita terus anak-anak, remaja, dewasa dan tua … peradaban dan cara berpikirpun harusnya demikian, modernitas bukan berarti mengubah atau melakukan pelanggaran terhadap sunnah, modernitas harusnya diartikan sebagai mengaktualkan as-sunnah itu sendiri demi tercapainya kemaslahatan yang lebih baik dari sebelumnya, apalagi nyata-nyata dalam hadis yang berkaitan dengan perhitungan perjalanan bulan pada topik kita ini memiliki indikasi kuat dari Nabi akan terbukanya metode lain dalam hal penentuan awal Ramadhan dan awal Syawal bila syarat-syaratnya sudah tercukupi.

 

Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. -Qs. 71 Nuh :14
Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). -Qs. 84 al-Insyiqaaq :19

 

Dus, M. Hasbi Ash Shiddieqy juga menulis bahwa penolakan sejumlah ulama masa lalu terhadap metode hisab sebenarnya karena jaman itu metode ini lebih banyak disalah gunakan orang sebagai nujum atau meramal sehingga mereka tidak ingin haq bercampur dengan batil.; Tetapi bagaimana dengan efektifitas hisab jaman kita sekarang ini ? sekedar mengingatkan juga, setiap apa yang kita tulis dikeyboard dan ditampilkan kelayar monitor sebenarnya merupakan hisab dari angka 010101 …

 

Satu kutipan akhir dari Flying Book 68 KH. Fahmy Basya :

Dalam Al-Quran dikatakan : “Faman syahhida mingkumusy-syahhro, falyashumhhu” Maka siapa dari kamu menyaksikan bulan, maka hendaklah dia mempuasainya. (Al-Quran, surat Al-Baqarah, ke 2 ayat 185) ; Yang diperselisihkan sekarang ialah kata: “SYAHHIDA” ini. Apakah ia bermakna menyaksikan dengan mata telanjang atau menyaksikan dengan ilmu hitungan ?.  

Jawabnya ialah: “Asyhhadu allaa ilaahha illallaahh, Wa asyhhadu annaa muhammadar rasuulullaah “

 

Satu pertanyaan balik saja dari saya kepada sahabat-sahabat yang mendasari pemahamannya atas melihat bulan dengan mata telanjang,  … jika anda tetap mengabaikan metode hisab sebagai penentu bulan baru dalam setiap periodenya, tolong jelaskan pemahaman anda mengenai aplikasi dari Surah al-An’am 6 ayat 96 dan dengan surah Yunus ayat 5 dijaman sekarang ini.

 

Demikianlah yang bisa saya sampaikan, kurang dan lebihnya saya minta maaf, yang pasti saya sudah menyampaikan apa yang saya tahu dan ini dibaca juga oleh orang banyak, sehingga setidaknya beban saya dari menyembunyikan ilmu jauh lebih berkurang, saya hormati apapun keputusan maupun sikap orang-orang yang berseberangan dengan saya. InsyaAllah, selama ijtihad anda memang murni demi menggapai ridho-Nya, saya yakin Allah akan memberikan balasan yang sesuai dengannya.

 

 

 

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.,

 

 

 

 

ARMANSYAH

http://armansyah.swaramuslim.net

https://arsiparmansyah.wordpress.com

http://rekonstruksisejarahisaalmasih.wordpress.com

 

 

 

—– Original Message —–

From: andri subandrio

To: Milis_Iqra@googlegroups.com

Sent: Tuesday, September 04, 2007 9:31 AM

Subject: [Milis_Iqra] Re: Tentukan Awal Ramadhan, Depag Laporkan Pencarian Hilal Secara Online


Assalamualaikum

 

Itulah kekeliruan umat Islam yang terbesar disepanjang jaman yakni tidak mau belajar dengan cermat, pada al Baqarah 185, tidak ada satupun kata “yubshiru” = melihat, yang ada adalah “syahida” = menyaksikan, adalah sangat beda sekali antara melihat dengan menyaksikan, kalau melihat sudah dipastikan harus secara fisik ke fisik, yakni fisik mata seseorang dengan fisik obyek yang dilihat yakni bulan, sedangkan “syahida” = menyaksikan mempunyai pengertian yang luas bisa secara fisik ke fisik namun juga bisa dengan perhitungan atau akal dan logika, contoh yang sederhana adalah saat kita mengucapkan kalimat Syahadah, kita tidak melihat fisik Allah, dan kita juga tidak melihat fisik rasulullah makanya dalam hal ini digunakan kata “syahida’ bukan “bashiru” atau “yubshiru”.

 

Kemujdian dengan kemajuan IT kalau umat Muslim mmasih berkutet dengan melihat bulan, saya tidak mengerti apa gunanya perintah belajar dalam agama yang agung ini, apa gunanya ayat pertama yang turun adalah “Iqra”

 

Wassalamualaikum

On 9/4/07, Whe~en (gmail) <whe.en9999@gmail.com> wrote:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

From Eramuslim

Semoga bermanfaat

 

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh//
Whe~en
http://wheen.blogsome.com/

“Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS 20 : 25-28)
“Ya Allah jadikan Aku hamba yang selalu bersyukur dan penyabar”

Tentukan Awal Ramadhan, Depag Laporkan Pencarian Hilal Secara Online

Selasa, 4 Sep 07 05:29 WIB

http://www.eramuslim.com/berita/nas/7903152512-tentukan-awal-ramadhan-depag-laporkan-pencarian-hilal-secara-online.htm

Departemen Agama (Depag) akan menyebarluaskan proses pencarian hilal secara online melalui televisi dan website, dengan memanfaatkan teropong hilal yang tersebat di berbagai tempat, sehingga diharapkan perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan bisa diatasi.

“Setiap tahunnya kerap terjadi perbedaan menentukan hari pertama bulan suci sehingga tak jarang memunculkan kegelisahan antarumat Muslim, “kata Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni, di Jakarta, Senin(3/9).

Pernyataan ini merupakan penegasan terhadap pernyataan yang disampaikan di Sengkang, Wajo, Sulawesi Selatan, Sabtu lalu. Di mana, Pemerintah akan berupaya mencari cara agar setiap tahun umat Muslim Indonesia bisa memulai ibadah puasa Ramadhan pada hari yang sama. Karena itu, ungkapnya, mulai tahun ini pemerintah melalui Depag akan menyambungkan secara online teropong pencari hilal ke semua stasiun televisi dan website.

Lebih lanjut Maftuh menyatakan, dengan tersambungnya teropong hilal yang diletakkan di lima titik berbeda di wilayah Indonesia, masyarakat bisa menyaksikan langsung keberadaan hilal di rumah masing-masing melalui siaran televisi.

Ia menambahkan, proses pencarian hilal akan dimulai pada tanggal 11 September mendatang, apabila pada malam harinya (selepas Maghrib) hilal sudah bisa terlihat, maka umat Islam Indonesia akan memulai puasa pada tanggal 12 September. Namun, kalau tanggal 11 September itu belum terlihat hilal, maka akan dilanjutkan tanggal 12 September.

“Pada tanggal 12 September, masyarakat masih bisa menyaksikan secara langsung proses pencarian hilal tersebut, “ujarnya.

Maftuh mengingatkan, perbedaan cara atau metode menentukan permulaan Ramadhan, hendaknya jangan sampai menimbulkan perpecahan di kalangan umat, dan semua warga diminta agar menghormati perbedaan ini sebagai bentuk rahmat dari Allah SWT.

Ketika ditanya bagaimana sikap pemerintah terhadap organisasi masyarakat yang sudah menentukan lebih dulu awal bulan puasa sebelum penglihatan hilal, Menteri menegaskan, hal itu termasuk perbedaan yang tetap layak dihormati.

Kendati demikian, Maftuh menjelaskan, sebenarnya perbedaan tersebut tak perlu terjadi, apabila semua warga kembali kepada prinsip dasar pelaksanaan ajaran agama. Di mana, Islam sudah menegaskan kepada umatnya agar mematuhi aturan-aturan Allah, Rasulullah, dan para pemimpin atau pemerintah (ulil amri ) dalam menjalankan syariat agama.

“Yah, kalau semua umat mengikuti keputusan pemerintah, tentu tidak akan ada perbedaan menentukan awal puasa, “tandasnya. (novel)



–~–~———~–~—-~————~——-~–~—-~
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa’ : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs :  http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=–=-=-=-=-=-=-=-
-~———-~—-~—-~—-~——~—-~——~–~—

Makna lillahi ta’ala?

—– Original Message —–

From: ria meina

To: Milis_Iqra@googlegroups.com

Sent: Saturday, September 01, 2007 10:10 PM

Subject: [Milis_Iqra] makna lillahi ta’ala?

 

Assalamualaikum….

Mau tanya:
– Sebenarnya “lillahi ta’ala” itu yg seperti apa?
– Mengharapkan ridho ALLAH apakah bisa disamakan dengan mengharapkan pahala?
– Apakah “hanya karena ALLAH” itu diartikan tanpa pamrih dapat pahala…???
– Bagaimana seandainya ibadah & amal shaleh yg dilakukan adalah karena harapan dapat pahala?? Apakah ini berarti belum “lillahi ta’ala”?

JAWAB ARMAN :

Wa’alaykumsalam Wr. Wb.,

 

Allah menjadikan kita pada hakekatnya berfungsi sebagai khalifah-Nya diatas dunia ini, tugas kekhalifahan inilah yang apabila dijalankan dengan semestinya dilandasi oleh petunjuk-petunjuk yang Dia sampaikan dalam bentuk wahyu tekstual maupun pemahaman kita terhadap ayat-ayat universal-Nya maka akan menjadi ibadah buat kita.

 

Sistematika kehidupan kita ini dimulai dari setetes mani yang bercampur untuk kemudian seiring dengan sunnatullah atau hukum alamnya terus mengalami perkembangan tahap demi tahap sehingga menjadi sosok manusia sempurna, dan itupun baru pada tahapan bayi kecil tak berdaya, kembali kita tunduk pada kaidah sunnatullah yang berproses sampai menjadi dewasa dan tua, demikian seterusnya.

 

Ini hendaknya menjadi bagian dari pembelajaran atas kedewasaan pola pikir dan pola pemahaman kita terhadap segala sesuatunya, jika awalnya kita bertindak hanya karena ikut-ikutan, maka mulailah kita belajar kenapa kita melakukan sesuatu atau kenapa kita harus mempercayai sesuatu itu sebagai sebuah kebenaran, demikian pula misalnya dalam hal ibadah, jika sebelumnya kita beribadah hanya karena mengharap surga atau takut karena neraka, maka belajarlah untuk mulai menyikapi fenomena surga dan neraka sebagai motivator kita kepada tingkat ibadah yang lebih tinggi lagi yaitu tingkat ibadah yang hanya berharap ridho-Nya Allah.

 

Dengan demikian maka tingkat keikhlasan kita beribadahpun secara berangsur-angsur tumbuh dengan sendirinya, karena yang ada dipikiran kita, ibadah itu untuk menyenangkan Allah (ini istilah saya) dan bukan untuk menyenangkan diri kita (egoistik sebab mengharap kenikmatan surgawi).

 

Lalu bagaimana bila kita masih mengharap pahala dalam beribadah ? salahkah ?

Salah atau tidak akhirnya kembali kepada seberapa jauh good-will kita melakukannya, tidak ada yang perlu dipermasalahkan dengan surga dan nerakanya, tapi mulailah kita belajar untuk mencapai maqam lebih tinggi dari sekedar itu.

 

Anggaplah ibadah karena mengharap pahala tertentu itu adalah ibadahnya anak kecil, dan karena kita sudah tidak lagi kecil, maka kitapun harus meng-update sasaran ibadah kita, sebab demikianlah yang seharusnya seperti yang tercantum dalam surah 6 ayat 162.

 

Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Robb semesta alam -Qs. al-An’am 6:162

 

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.,

 

ARMANSYAH

 

%d bloggers like this: