Cinta, pernikahan dan Syurga bersama

Pernikahan itu salah satu terapan nyata untuk belajar saling menerima kesamaan dan kekurangan orang lain. Keharmonisan sebuah hubungan percintaan dua insan bukanlah semata tentang rasa cinta itu sendiri, tapi kedewasaan untuk ikhlas mengerti, memahami dan menerima kenyataan bila kita “tidak sedang menikahi diri kita sendiri”. Pernikahan adalah langkah awal bagi batin untuk memulai bertanggung jawab dan siap menghadapi kehidupan. Oleh sebab itu, banyak orang mengatakan bila menikah sama dengan menyempurnakan agama pada diri kita.

bersama_zawjaha

Tentu sudah menjadi sunnatullah, hidup bersama ditengah perbedaan dan persamaan pasti akan menuai konflik. Olehnya banyak pula orang mengkiaskan hidup berumah tangga sebagai perjalanan diatas sebuah kapal laut dengan ombak yang bergelombang. Terkadang ketika angin sedang bertiup kencang maka layar sesekali akan oleng dan jalannya kapalpun akan naik turun dihantam oleh gelombang. Ini sekali lagi merupakan hukum alam. Bahkan rumah tangga Rasulullah saja tidak luput dari perselisihan paham, meskipun dalam prakteknya tidak seperti kita yang lebih cenderung centang prenang memperturutkan emosi diri.

Oleh sebab itulah, megahnya resepsi pernikahan, banyaknya tamu undangan atau sucinya tempat berlangsungnya akad tidak akan berarti apa-apa jika kita gagal dalam menerjemahkan makna sakinah mawaddah berumah tangga. Puncak asmara dua insan yang menyatu di salah satu sunnah nabawiah tersebut hanya terwujud manakala rohmah atau keridhoan ilahi diperoleh. Dan itu hanya mungkin digapai bila masing-masing pasangan mau tunduk dibawah perintah agama. Masing-masing dari suami dan istri sepakat bila pada akhirnya syurga tujuan bersama.

Quu anfusakum wa ahlikum naro.

Salam dari Palembang Darussalam.
18 Pebruari 2015

Mgs. Armansyah Sutan Sampono Azmatkhan, S.Kom, M.Pd

Kontroversi Sholat 3 waktu (Kasus Jombang)

Ada kabar di awal bulan Pebruari 2015 ini dari salah satu Pesantren di Jombang terkait tentang adanya fatwa mereka yang menyatakan sholat 3 waktu. Jika kita orang awam dan langsung menelan mentah-mentah fatwa tersebut, maka yang keluar dari lisan kita pasti celaan, cacian, penyesatan hingga boleh jadi menuding pesantren dan ulama yang berfatwa demikian sebagai kafir.

Tidak demikian sebetulnya sahabatku yaa ikhwan fillah. Jangan membiasakan diri berkomentar tanpa ilmu apalagi sampai memberikan vonis tertentu. Baca dulu fatwanya baik-baik dan utuh, lihat dan analisa kitab-kitab hadis yang otoritatif sehubungan apa yang difatwakan itu. InsyaAllah, niscaya akan didapati bahwa fatwa tersebut dapat dibenarkan dan tidak menyelisihi nash. Hanya saja kita selama ini tidak pernah membaca atau mendengarnya. Tinggal lagi sekarang, bagaimana caranya menyampaikan itu secara bijak dan tidak disalahgunakan oleh orang-orang tertentu. Munculnya penolakan adalah wajar, sebab sekali lagi itu terkait dengan latar belakang pendidikan, pergaulan, wawasan hingga pengalaman masing-masing orang.

Pertama, mari kita lihat dulu beritanya :

Berita pertama :

Adalah Pondok Pesantren Urwatul Wutsqo (PPUW) di Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur yang mengeluarkan ide kontroversial tersebut setelah menerapkan hukuman cambuk bagi santrinya.

Pada stiket tersebut, tertulis Salat 3 Waktu disebut Shalat Jamak. Misalnya Dzuhur dan Ashar, dilakukan pada waktu Dzuhur. Kemudian Shalat Magrib dan Isya’dilakukan pada waktu Isya. Dalam Islam disebut salat yang dijamak.

Yang kontroversial, dalam stiker disebutkan salat jamak bisa dilakukan orang yang tidak bepergian (musyafir). Bahkan, salat 3 waktu bisa dilakukan bagi orang yang berprofesi sebagai pekerja, pedagang kaki lima, petani dan sebagainya. Dalam stiker itu tertulis “Boleh dilakukan tiap hari meski tidak pergi.”

Stiker itu juga tertulis, salatnya yang bisa dilakukan saat seseorang harus pergi, adalah salat Qoshor. “Yaitu dengan baju najis, tidak berdiri dsb, atau menyingkat empat rakaat menjadi dua rakaat,” tulis stiker tersebut.

Peredaran stiker ini menuai keresahan bagi masyarakat setempat yang mayoritas penganut ahlusunnah wal jamaah atau Nahdlatul Ulama (NU).

Sumber: http://berita.suaramerdeka.com/anjuran-shalat-tiga-waktu…/

Berita kedua :

Pondok Pesantren Urwatul Wutsqo (PPUW) Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Jombang mengakui telah mengeluarkan fatwa salat tiga waktu. Dzuhur dengan Ashar dijamak, Magrib dan Isya’ juga dijamak. Ini boleh dilakukan meski tidak dalam keadaan bepergian jarak jauh (Musyafir).

“Stiker yang kami edarkan ini untuk para pekerja yang sibuk. Di antaranya para sopir truk, tukang becak, dan para buruh tani. Karena mereka tidak bisa tepat waktu untuk melaksankan salat lima waktu,” kata Hj Quratul Ayun, istri pengasuh PPUW Bulurejo, kepada wartawan di kediamannya, Kamis 19 Februari 2015.

Quratul Ayun merupakan istri dari Qoyim Ya’qub, pengasuh PPUW. Kiai Qoyim enggan menemui wartawan guna memberikan penjelasan. “Saya yang disuruh memberikan keterangan kepada wartawan,” ujarnya.

Dia lantas menyodorkan dasar hukum tentang ajaran salat tiga waktu tersebut, yakni surat Al Isra’ ayat 78. Dalam surat itu, lanjutnya, ada tiga waktu salat. Pertama, saat tergelincirnya matahari, kemudian gelap malam, dan terang fajar.

“Salat jamak juga ada dalam hadits nabi,” katanya

Seperti diberitakan, sejak sepekan terakhir ini beredar stiker yang berisi salat tiga waktu. Stiker itu mengundang banyak kontroversi masyarakt muslim di Jawa Timur Selanjutnya, MUI juga menindaklanjuti temuan tersebut. (ren)

Sumber : http://m.news.viva.co.id/…/591967-salat-3-waktu-di…

Dari berita diatas, ada hal yang harus digaris bawahi :

1. Salat 3 Waktu disebut Shalat Jamak. Misalnya Dzuhur dan Ashar, dilakukan pada waktu Dzuhur. Kemudian Shalat Magrib dan Isya’dilakukan pada waktu Isya. Dalam Islam disebut salat yang dijamak.

Artinya pada point ini, sesungguhnya sholat yang dilakukan tetaplah 5, yaitu: Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya

Permasalahannya hanya ke-5 sholat itu di jamak, dengan waktu yang sesuai keterangan mereka diatas.

2. Fatwa ini untuk para pekerja yang sibuk. Di antaranya para sopir truk, tukang becak, dan para buruh tani. Karena mereka tidak bisa tepat waktu untuk melaksankan salat lima waktu.

Artinya pada point ini, ada sebab yang menjadi akibat keluarnya fatwa tersebut.

3. Sholat dengan dijamak Ini boleh dilakukan meski tidak dalam keadaan bepergian jarak jauh (Musyafir).


Nah sekarang, apakah hal tersebut secara nash nabawiyah ada pijakannya? Mari sama-sama saya ajak sahabat sekalian membaca dengan perlahan hadis-hadis berikut ini:

Musnad Ahmad 20992: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdur Rahman telah menceritakan kepada kami Qurroh bin Kholid dari Abu Az Zubair telah menceritakan kepada kami Abu Ath Thufail telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Jabal, ia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pergi dalam salah satu perjalanan beliau saat perang Tabuk, beliau menjamak dhuhur dan ashar, maghrib dan isya’. Saya bertanya; Apa yang menyebabkan beliau melakukannya. Ia menjawab; Agar tidak memberatkan ummat beliau.

Musnad Ahmad 2426: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjama’ antara Zhuhur dan Ashar di Madinah ketika tidak sedang bepergian dan tidak pula dalam kondisi takut (khawatir).” Sa’id bin Jubair berkata; “Wahai Ibnu Abbas, mengapa beliau melakukan yang demikian?” dia menjawab; “Beliau ingin agar tidak memberatkan seorang pun dari umatnya.”

Musnad Ahmad 3095: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata; Aku melakukan shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam delapan rakaat sekaligus dan tujuh rakaat sekaligus. Aku bertanya kepada Ibnu Abbas; Mengapa beliau mengerjakan seperti itu? ia menjawab; Beliau ingin tidak memberatkan umatnya.

Musnad Ahmad 3152: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Habib bin Abu Tsabit dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjamak antara shalat Zhuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya` di Madinah bukan karena takut dan tidak pula hujan. Aku bertanya kepada Ibnu Abbas; Mengapa beliau lakukan itu? ia berkata; Agar tidak memberatkan umatnya.

Sepintas, hadis-hadis tersebut memang disebutkan semuanya bersumber dari kitab musnad Ahmad, tapi hal ini tidak sepenuhnya benar. Sebab hadis-hadis sejenis juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya.

Shahih Muslim 1147: Dan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus dan ‘Aun bin Salam semuanya dari Zuhair. Ibnu Yunus mengatakan; telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Abu Zubair dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas katanya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat Zhuhur dan Ashar sekaligus di Madinah bukan karena takut dan bukan pula karena safar.” Abu Zubair mengatakan; “Aku bertanya kepada Sa’id; “Mengapa beliau melakukan hal itu? Dia menjawab; Aku bertanya kepada Ibnu Abbas sebagaimana kamu bertanya kepadaku, lalu dia menjawab; “Beliau ingin supaya tidak merepotkan (memberatkan) seorangpun dari umatnya.”

Shahih Muslim 1151: Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah (dan diriwayatkan dari jalur lain) telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib dan Abu Said Al Asyajj sedangkan lafadznya milik Abu Kuraib, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Waki’, keduanya dari Al A’masy dari Habib bin Abu Tsabit dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas katanya; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjamak antara zhuhur dan ashar, maghrib dan isya` di Madinah, bukan karena ketakutan dan bukan pula karena hujan.” Dalam hadis Waki’, katanya; aku tanyakan kepada Ibnu Abbas; “Mengapa beliau lakukan hal itu?” Dia menjawab; “Beliau ingin supaya tidak memberatkan umatnya.”

Begitupula dalam kitab Sunan Abu Daud

Sunan Abu Daud 1025: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Habib bin Abu Tsabit dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjama’ shalat Dluhur dan Ashar, antara shalat Maghrib dan Isya’ di Madinah, tidak dalam kondisi ketakutan, tidak pula hujan.” Maka di tanyakan hal itu kepada Ibnu Abbas; “Apa maksud beliau melakukan hal itu?” Ibnu Abbas menjawab; “Supaya tidak memberatkan umatnya.”

Dari hadis-hadis yang telah disebutkan pada bagian atas maka dapat terlihat bila Rasul pernah melakukan sholat jamak seperti itu dalam dua keadaan :

1. Dalam keadaan bepergian (artinya sedang dalam perjalanan dan berperang atau dapat juga kita sebut beliau SAW dalam kondisi sibuk)

2. Dalam kondisi yang lapang, artinya tidak sedang keadaan bepergian atau juga terkendala cuaca

Nah, jika kita berpijak dari nash-nash diatas ini maka apa yang difatwakan oleh Pesantren tersebut pada hakekatnya masih memiliki pijakan nash agama. Jika kita menilik dari dasar timbulnya fatwa pesantren ini, maka jelas fatwa tersebut beralasan. Yaitu untuk tidak memberatkan orang yang memang kondisinya ditempat itu boleh jadi sesuai pengamatan dari orang-orang pesantren ini tergolong sering meninggalkan sholat wajib.

Shahih Muslim 3262: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib sedangkan lafadznya dari Abu Bakar, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid bin Abdullah dari Abu Burdah dari Abu Musa dia berkata, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat seseorang dari sahabatnya untuk melaksanakan perintahnya, beliau bersabda: “Berilah mereka kabar gembira dan janganlah menakut-nakuti, mudahkan urusan mereka jangan kamu persulit.”

Oleh sebab itu menjadi suatu kewajiban tersendiri dalam hal ini bagi pihak yang berwenang seperti MUI selaku lembaga formal yang posisinya diakui oleh umat maupun juga pemerintah untuk menyelidiki lebih lanjut sekaligus memberikan penjelasan pada khalayak terkait masalah ini.

Perlu ada kajian yang komprehensif terhadap perilaku umat Islam sebagaimana yang telah dijadikan alasan oleh pesantren Urwatul Wutsqo. Apakah benar sebagian besar orang-orang yang disebutkan itu memang merasa keberatan dan terkendala dalam melakukan 5 sholat fardhu pada waktunya?

Intinya selama tidak ada dalil lain yang membatalkan hadis-hadis tersebut maka meskipun ia “pernah dilakukan oleh Nabi” dan “tidak terus menerus” maka status hukum yang dapat disimpulkan terhadap kasus ini adalah : Boleh (Mubah).

Tinggal lagi seperti yang saya sampaikan dibagian atas, bagaimana cara menyampaikan ini secara bijak kepada publik agar tidak terjadi penyalahgunaan dalil sehingga membiaskan hukum baku terhadap sholat diawal waktu untuk setiap jenis sholat itu sendiri.

Dalil ini secara ilmu hadis dapat batal manakala misalnya ada kecacatan dalam hal sanad yang membuat derajatnya menjadi lemah atau bahkan maudhu’ maupun ada keterangan lain yang menasakhnya.

Wallahua’lam.

Saya pribadi belum pernah melakukan jamak yang demikian, namun karena adanya nash-nash agama terkait masalah tersebut, maka sayapun juga tidak berani membatilkannya. Tidaklah mudah untuk memberi fatwa sesuatu perbuatan itu haram, sesat dan kafir. Semua mesti dengan ilmu dan dasar yang otoritatif.

Mudah-mudahan kita dapat terus bertambah dewasa dalam hal kearifan diri dan bertambah luas ilmu serta pemahaman.

Sometimes we need to jump out of the box and see everything clearly from above.

Armansyah, 20 Pebruari 2015

I am Muslim and I don’t Celebrate Valentine’s Day

novalentinesday

 

Karena percikan cinta, maka seorang ibu dapat mengasihi anaknya, seorang ayah dapat mengayomi keluarganya, seorang laki-laki dapat mempersunting wanitanya dan membentuk mahligai keluarga dalam tatanan rumah tangga yang mulia.

Kata cinta dan sayang adalah kata-kata yang begitu sakral dalam kehidupan ini, sampai-sampai dalam setiap hari, seorang muslim pasti akan menyebut dan mengulang-ulang lafasnya hingga lebih dari 10x dalam waktu sehari semalam.

Ar-Rohman, Ar-Rohim…

Ya, cinta dan kasih sayang merupakan sifat-sifat Allah yang dipercikkan kepada diri manusia agar mereka dapat saling mengisi kehidupannya diatas dunia ini selaku Khalifah dengan penuh warna dan romansanya. Agar dapat memfungsikan jabatan kekhalifahannya dengan penuh kearifan serta sentuhan kelembutan.

Senantiasa menebarkan salam, menebarkan pesan-pesan perdamaian diakhir ritualisasi cinta yang agung dalam bentuk simbolik berupa sapaan kekanan dan kekiri wajahnya. Lima waktu dalam 24 jam, belum jika itu ditambah ritual cinta lainnya yang bersifat tambahan…. cinta dhuha, cinta qobliyah, cinta ba’diyah, cinta tahajjud, cinta witir, cinta hajat, cinta taubat…. maka entah berapa kali lisan insan-insan muslim ini mengagungkan kalimah cinta yang sangat mulia tersebut.

Maka patutkah bila kemudian cinta semu dihadirkan dalam bentuk peringatan sehari yang sama sekali tak ada arti, makna apalagi landasan hukumnya?

Valentine, boleh jadi sebuah ungkapan ekspresi cinta bagi orang diluar kita, diluar komunitas cinta agung kita…. komunitas umat Muhammad, komunitas yang berpijak pada aturan tertinggi ilahiah yang terwujud dalam semua tatanan lahir dan batin, di ekspresikan dalam bentuk simbolik secara wajib 5x sehari semalam dan ditebar dalam wujud aplikasi disepanjang waktu.

So… perayaan valentine bukan milik kita, eksistensi cinta kasih yang diungkapkan dalam bentuk tukar-tukaran coklat apalagi bila sampai terjadi tukar-tukaran pasangan haram yang tidak di ikat dalam tali pernikahan di altar kesucian cinta sang Maha Pencinta dengan disaksikan oleh para wali dan di ikrarkan dalam akad dan sumpah syahadat … maka itu adalah cinta perzinahan, cinta yang hanya dimiliki oleh kaumnya binatang, cinta haram.

Para anak muda Muslim dan akhwat muslimah, jangan terjebak dalam budaya dan pengkondisian setaniah. Mari bersama kita ikrarkan ….

‪#‎Iammuslim‬ and ‪#‎novalentines‬ or ‪#‎valentinesday‬

Shahih Bukhari 5581: Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan mendapatkan manisnya iman sehingga ia mencintai seseorang dan ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan sehingga ia lebih suka dimasukkan ke dalam api dari pada kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, dan sehingga Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari pada yang lain.”

Sunan Tirmidzi 1920: Dari Abu Hurairah berkata: “Cintailah orang yang engkau cintai seperlunya, karena bisa saja suatu hari dia akan menjadi musuhmu, dan bencilah orang yang kamu benci seperlunya, karena bisa jadi suatu hari kelak dia akan menjadi orang yang engkau cintai.” –hadits ini mauquf kepada Ali.

Musnad Ahmad 10230: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai-sampai jika mereka masuk ke dalam lubang biawak kalian akan mengikutinya.”

 

Palembang Darussalam, 11 Pebruari 2015

Armansyah Azmatkhan

https://www.facebook.com/armansyah/posts/10153010032993444:0

Perjanjian dengan Setan: Hitler vs Copperfield

Maraknya pemberitaan terkait ditemukannya surat perjanjian antara Adolf Hitler dengan Iblis mengingatkan saya dengan pemberitaan sejenis pada David Copperfield yang disampaikan oleh seorang penulis buku bernama Muhammad Isa Dawud.

Terlepas dari benar atau tidaknya surat-surat yang dinyatakan tersebut, tetapi terjadinya persekutuan antara Jin dan manusia, merupakan fenomena adikodrati yang dibenarkan oleh al-Qur’an.

“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”. (Sumber: al-Qur’an, surah al-Jin [72] ayat 6)

Biasanya kesepakatan yang terwujud antara manusia dan jin ini terkait dengan pemenuhan ambisi tertentu sang manusia itu sendiri agar dapat terpenuhi. Misalnya agar ia memperoleh harta yang berlimpah, jabatan, disegani masyarakat, memiliki ilmu kebal, ilmu gendam, guna-guna dan sebagainya dan seterusnya.

Jin sendiri dalam al-Qur’an dan al-Hadist memang digambarkan sebagai sosok makhluk yang digjaya dan memiliki sejumlah kemampuan diluar batas kesanggupan manusia normal. Misalnya ada Jin yang dapat terbang, Jin yang dapat memindahkan suatu benda yang berada pada lokasi yang sangat jauh dalam waktu kejapan mata sebagaimana terdapat dalam cerita Nabi Sulaiman dan Ifrit, ada Jin yang dapat menyerupai sosok manusia tertentu dan sebagainya dan seterusnya.

Singkatnya bahwa perjanjian antara jin dan manusia dapat dibenarkan secara nash dan akal sehat. Oleh sebab itu kita sering membaca dan mendengar adanya orang yang bersemedi digoa tertentu, merendam tubuhnya di kali ini dan kali itu, tidur di kuburan atau dibawah pohon-pohon besar yang dianggap kramat, menghaturkan sesajen pada penghuni gunung a dan gunung b dan lain sebagainya.

Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu semua kepada Adam”, lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?” Iblis berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil”.

Tuhan berfirman: “Pergilah, barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahanam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan yang berkendaraan dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, Kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga”. (Sumber: al-Qur’an surah al-Isra [76] ayat 61 s/d 65)

Anyway sahabatku semuanya…. apalah artinya jabatan dan kekayaan yang sifatnya temporary ini dibanding dengan kebahagiaan yang sebenarnya. Sampai berapa lama kita ini dapat bertahan hidup diatas dunia? Saya belum membaca ada orang yang dapat hidup lebih dari 200 tahun hanya karena ia berserikat dengan Jin. Bahkan Jin-jin itu sendiripun punya stock nyawa yang sama dengan kita, mereka juga dapat mati dan dapat terbunuh. Apakah kita akan menghambakan diri pada makhluk yang hakekatnya sama seperti kita?

Akankah kita menjual akidah kita, menjual iman kita, menjual agama kita, menjual kebahagiaan batin kita dengan mengikat perjanjian tertentu pada Jin-jin jahat itu? Sementara ada sebagian dari Jin itu sendiri malah bertaubat dan menjadi muslim, mengikuti ajaran Allah yang hanif sebagaiman dituntunkan oleh Rasulullah. Tidakkah orang-orang yang waras akalnya mau berpikir?

Shahih Muslim 682: Ibnu Mas’d berkata : “Kami pernah pada suatu malam bersama Rasulullah, lalu kami kehilangan beliau sehingga kami mencarinya di lembah dan setapak jelan ke gunung. Maka kami berkata, ‘Jin membawanya pergi atau membunuhnya secara sembunyi-sembunyi.’ Maka kami bermalam dengan malam yang jelek yang para sahabat turut bersama melalui malam itu. Pada pagi harinya, tiba-tiba beliau datang dari arah Hira’. Perawi berkata, “Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami telah kehilanganmu, lalu mencarimu, maka kami tidak mendapatkanmu hingga kami bermalam pada malam yang jelek yang para sahabat turut bersama melalui malam-malam itu.’ Beliau menjawab, ‘Seorang dai dari kalangan jin mendatangiku, maka aku pergi bersamanya, lalu aku membaca al-Qur’an di hadapan mereka.’ Perawi berkata, ‘Lalu beliau beranjak pergi bersama kami untuk menunjukkan jejak-jejak mereka dan jejak perapian mereka.

Musnad Ahmad 3758: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar telah menceritakan kepada kami Yunus dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semalam aku membacakan Al Qur`an kepada sekumpulan jin di Al Hujun.”

Akhirnya, hanya kepada Allah saja kita pantas untuk menghambakan diri. Memohon dan berharap. Tidak menyekutukan Allah dengan makhluk-makhlukNya, siapapun mereka adanya. Toh mereka sendiri berharap dan bergantung pada Allah juga. Jika Allah tidak mengizinkan perbuatan mereka terjadi ya tidak akan terjadi juga, meskipun mereka adalah bangsa Jin yang memiliki kemampuan hebat seperti apapun.

Lalu bagaimana cara menghadapi orang-orang yang berserikat dengan Jin itu? Jawabnya bisa menjadi sangat panjang dengan penguraian yang lebih detil, tetapi saat ini saya cukupkan saja satu cara untuk melawan orang-orang yang ngelmu dengan bersekutu pada Jin untuk menundukkan manusia lainnya semacam ilmu gendam, ilmu guna-guna dan sejenisnya. InsyaAllah jika dilakukan dengan keyakinan yang penuh kepada Allah, akan bermanfaat.

Sunan Nasa’i 5399: Telah mengabarkan kepada kami Hillal bin Al ‘Ala ia berkata; telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Sulaiman ia berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Abbad dari Al Jurairi dari Abu Nadlrah dari Abu Sa’id ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berlindung dari tatapan mata jahat bangsa jin dan manusia. Maka saat turun surat Mu’awwidzatain (surat Al falaq dan surat An Naas) beliau membaca keduanya dan meninggalkan selain itu.”

Salam dari Palembang Darussalam.
10 Pebruari 2015

Mgs. Armansyah Azmatkhan.

https://www.facebook.com/armansyah/posts/10153007728988444

Malaysia: Antara Mobnas dan Film Animasi Anaknya

Sebenarnya langkah untuk menggandeng Malaysia dalam proses pengembangan mobil nasional bukanlah sesuatu yang perlu untuk diributkan. Harus diakui bahwa dewasa ini, negri Jiran tersebut sudah banyak melakukan lompatan diberbagai bidangnya. Bukankah roda kehidupan itu senantiasa berputar selaku sunnatullah yang memang berproses? Jika dulu anak-anak muda Malaysia banyak berdatangan ke Indonesia untuk menuntut berbagai ilmu, sekarang boleh jadi giliran anak-anak muda Indonesia yang belajar pada mereka.

Jujur, dari sisi film animasi anak-anaknya saja, dalam komparasi sederhana, saya sangat memberikan apresiasi positip untuk misalnya “Upin & Ipin” serta “Pada Zaman Dahulu”. Apalagi bila ingin dibandingkan dengan animasi anak-anak sejenis produksi dalam negeri kita. Sebagai seorang pendidik, saya melihat aspek edukasi yang terdapat dalam “Upin & Ipin” dan “Pada Zaman Dahulu” jauh diatas misalnya sebut saja Sopo Jarwo dan Keluarga Somad.

Ini bukan tentang bangga atau tidaknya terhadap produksi anak bangsa, namun kita juga harus jeli melihat konten dari produk itu sendiri. Terlebih misalnya tayangan yang ditujukan pada anak-anak kecil kita. Bagaimana suatu tayangan dapat membantu memberikan edukasi yang positip dan benar terhadap tumbuh kembang kepribadian serta kecerdasan IQ, EQ maupun SQ anak-anak kita itu. Lihatlah sejumlah episode Upin & Ipin misalnya, kontennya penuh dengan nilai-nilai Islami, ajaran berpuasa, tarawih, mengaji, memainkan permainan anak-anak, tentang akhlak, cara menyayangi binatang serta tumbuh-tumbuhan dan seterusnya. Hal yang saya belum melihatnya pada animasi-animasi anak Indonesia. Jikapun ada pesan moral didalamnya, seperti misalnya sosok Pak Haji pada cerita Sopo Jarwo, masih terkesan menggurui dan juga monoton.

Yaa… ini lagi-lagi hanya dipandang dari sudut-sudut edukasi saja. Saya tidak melihat dari sudut politik dan sebagainya. Karena memang sementara ini saya rehat dulu dari aktivitas politik praktis dan berfokus pada dunia pendidikan. Jadi, mohon maaf bila ada yang kurang berkenan. Terkait tayangan anak-anak, ini juga diambil dari sudut pandang saya selaku seorang ayah dengan 3 orang anak dan juga seorang Muslim serta seorang edukator.

Salam dari Palembang Darussalam.
08 Pebruari 2015

Armansyah Azmatkhan.

Presiden bukanlah petugas partai…

Partai politik hanyalah salah satu media rakyat untuk menyalurkan aspirasi politiknya. Tetapi partai politik bukanlah satu-satunya alat representatif dari rakyat itu sendiri yang sifatnya majemuk. Partai politik juga meskipun ia menjadi partai yang berhasil mendudukkan kadernya sebagai pejabat pemerintahan termasuk sebagai Presiden sekalipun harus arif dalam memposisikan mereka terhadap partainya.

Seyogyanya, seorang kader partai politik, manakala ia telah menjadi seorang pejabat negara, apapun posisi jabatannya itu, harus melepaskan baju kepartaiannya semula untuk menghindari adanya conflict of interest yang akan mengganggu kinerja pemerintahan yang berjalan.

Pernyataan yang menyebutkan “seorang Presiden adalah seorang petugas partai” sama sekali bukan kalimat yang seharusnya dipublikasikan dan keluar dari orang-orang yang memang berniat untuk berjuang demi kemaslahatan rakyat. Partai politik tidak selamanya menjadi representatif rakyat manakala ia mulai terlibat dalam penyimpangan serta penindasan terhadap rakyatnya itu sendiri.

Sementara seorang Presiden, maka ia adalah presiden atau pemimpin bagi seluruh rakyat di negeri itu. Entah rakyatnya itu merupakan pendukung partai politiknya atau mereka-mereka yang berseberangan dengan dirinya. Disitulah kearifan, jiwa besar serta keadilan seorang pemimpin itu di uji. Dia harus memisahkan antara kepentingan pribadi maupun golongan dan kepentingan hidup orang banyak. Dia harus merangkul dan mendengar aspirasi semua pihak, tidak cuma terbatas pada partai politiknya saja.

Seorang Presiden sejatinya bukan petugas partai politik tertentu, tetapi Presiden adalah petugas rakyat yang bekerja untuk kemaslahatan rakyat.

Ini juga kiranya yang pernah menjadi salah satu alasan saya untuk ikut berkontribusi dalam kepartaian di PKS pada 2009 lalu sebagai calog legislatifnya. Partai ini, meskipun tidak dapat juga saya sebut sempurna– tapi ia lebih profesional dalam menyikapi perpolitikan praktis. Kadernya yang menjabat suatu jabatan di pemerintahan maka ia harus mundur dari jabatannya di kepartaian, tidak perduli apakah ia sebagai seorang pengurus harian atau bahkan seorang ketua partai sekalipun. Sebab ia pada waktu itu bukan lagi berjubah partai namun ia sudah menjadi representatif dari rakyat banyak.

Salam dari Palembang Darussalam.
06 Pebruari 2015
Armansyah Azmatkhan.

kenanganjdcaleg1

kenanganjdcaleg2

Hukum Selfie (Penjelasan Singkat)

selfie

Saya ditanya seputar hukum selfie, terkait akhir-akhir ini katanya sedang jadi trending topic karena adanya fatwa oleh salah satu ustadz.

Sebenarnya jawaban mengenai ini bisa sangat panjang lebar dilengkapi oleh berbagai argumentasi yang bersumberkan nash aqli maupun naqli dan jawabannya dapat juga dibuat singkat.

Saya akan jawab singkat saja dalam status medsos ini, mudah-mudahan nantinya Allah beri kelapangan waktu untuk menguraikannya dalam bentuk tulisan yang detil melalui blog saya di arsiparmansyah.wordpress.com bersama-sama dengan hukum merayakan Maulid Nabi.

1. Inti dari hukum selfie ini kembali lagi pada hukum penggunaan gambar makhluk hidup dalam kajian fiqh. Ya tak dipungkiri jika diantara ulama kita ada yang berpendapat hal itu terlarang untuk dilakukan namun ada yang membolehkannya dengan catatan-catatannya sendiri.

2. Tanpa bermaksud untuk tidak menghormati mereka yang melarangnya, sebagai seorang Muslim yang mengedepankan rasionalitas berpikir dalam beragama, saya cenderung untuk memilih pendapat kedua. Hal yang sama juga saya lakukan untuk kasus hukum musik dan syair (tentang ini tulisannya sudah ada di blog sejak 2008 lalu, silahkan di cek saja sendiri).

3. Perlu ada defenisi yang tegas terkait dengan makna selfie itu sendiri dalam menetapkan batasan standar boleh dan tidak bolehnya selfie tertentu dari sudut pandang syari’at.

4. Kembangkan sikap saling hormat menghormati diantara kedua pendapat berbeda. Toh dengan menghormati pandangan orang lain, kita tidak berarti mengaminkannya juga. Sebaliknya ukhuwwah tetap terjaga tanpa kehilangan idealisme masing-masing.

Salam dari Palembang Darussalam.
21 Januari 2015

Armansyah Azmatkhan
Link asli :
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10152963793268444&set=a.407879698443.185889.727558443&type=1

%d bloggers like this: