Cara Menyadarkan Isteri yang Belum Berhijab

—– Original Message —–

From: “wawan r” <wawan.ridwxxxx@xxx.com>

To: “Milis_Iqra” <Milis_Iqra@googlegroups.com>

Sent: Tuesday, July 10, 2007 7:35 PM

Subject: [Milis_Iqra] Re: Cara Menyadarkan Isteri yang Belum Berhijab

 

>
> Assalamu’alaikum wr. wb.
> Mengutip dari artikel diatas:
> “Dengan pendekatan yang instensif dengan agama, keteladan serta doa
> yang
> bapak penjatkan, semoga hidayah Allah pun segera datang kepada isteri
> bapak.
> Jika segala usaha bapak sudah lakukan dan isteri tetap menolak maka
> bapak
> tidak bertanggung jawab terhadap isteri di hadapan Allah, karena bapak
> sudah
> berusaha membawanya ke jalan Allah dan jika tidak digubris maka
> menjadi
> pilihan isteridan tanggung jawabnya sendiri kelak di hadapan Allah.
> Wallahu’alambishshawab.”
>
> Kebetulan sekali problem diatas saya alami saat ini, meskipun saya
> sudah maksimal selama 3 tahun ini berdo’a setiap malam hingga berusaha
> seperti membelikan buku2, sholat berjamaah, mengajak ke pengajian,
> bahkan membawa kelingkungan sosial yang sudah memakai hijab, tapi
> tidak sedikitpun istri saya tersentuh untuk segera sadar, malahan
> akhir2 ini dia sering menolak dengan cara halus hingga cara kasar, ada
> satu alasan yang sampai saat ini masih menjadi alasan utamanya, yaitu
> pahala Allah yang menentukan, yang penting katanya saya tidak pernah
> meninggalkan shalat. selalu itu yang dia ucapkan. Astagfirullah.
> Lantas apakah setelah jelas2 dia menolak, saya tetap boleh
> memperistrinya? Apakah saya nanti termasuk kedalam golongan kafir
> karena saya menikahi wanita yang jelas2 sudah berbuat kafir kepada
> Allah? Mohon bantuan rekan2, karena jika membaca artkel diatas
> sepertinya mudah saja saya membiarkan istri saya dalam kekufurannya,
> tapi bagaimana nanti tanggung jawab sebagai pemimpin rumah tangga? .
>
> wasalam.
>


 

Arman :

 

Sekali lagi bapak, hidayah adalah urusan mutlak dari Allah.

Usaha adalah bentuk atau cara kita dalam menggapai hidayah tersebut.

 

Menjadi seorang suami memang tidak mudah, apalagi umpamanya istri kita itu termasuk kedalam golongan orang yang baru mendapatkan secercah hidayah dari Allah. Dibutuhkan keuletan maupun kesabaran yang pasti tidak memakan waktu sebentar.

 

Jangan putus asa dan jangan pula berhenti ditengah jalan …. dalam pandangan saya, yang disebut dengan usaha adalah perbuatan yang sifatnya kontinyuitas dan berkesinambungan. Kegigihan kita dalam menjembatani upaya kearah perbaikan, bisa jadi kelak akan menghasilkan buah yang juga diharapkan, yaitu kesadaran dari sang istri untuk mengikuti apa yang sudah kita sampaikan kepadanya.

 

Disisi lain, kita juga sebagai suami, mungkin sangat perlu meninjau ulang cara kita menyampaikan informasi dan pengarahan kepada sang istri. Tidak tertutup kemungkinan justru cara kita-lah yang salah dan terkesan sangat egois sehingga istri kita menolak seruan yang ada.

 

al~Qur’an menyuruh kita untuk mengajak orang kepada kebenaran dan kebaikan melalui cara-cara yang penuh hikmah serta keteladanan.

 

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

 

Bimbinglah orang-orang yang hendak kita bimbing, dengan menggunakan kaidah-kaidah pembelajaran yang membekas dijiwa mereka, ada sebuah shock therapy disini dan jelas membutuhkan keterampilan dari kitanya untuk dapat melakukan hal tersebut.

 

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa’ : 63

Bahwa sang istri dalam hal ini mungkin saja bertindak kufur terhadap perintah hijab yang diserukan Allah adalah sebuah pemikiran yang benar, namun apakah kita hendak menutup diri sendiri dari kekufuran yang bisa jadi malah lebih besar dimata Allah bila mengabaikan amanah untuk menjadi mercusuar Allah ditengah keluarga ?

 

Demikian sedikit sumbang saran dari saya.

Silahkan kalau ada rekan lain yang ingin menambahkan.

  

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.,

   

ARMAN

Advertisements

Tolong saya, hukum aborsi ???

—– Original Message —–

From: Asdeddy Syam

To: milis_iqra@googlegroups.com

Sent: Friday, June 29, 2007 9:24 AM

Subject: [Milis_Iqra] Tolong saya, hukum aborsi ???

 

Ada kasus seorang calon ibu telah mengandung dengan usia kandungan 6 bulan, setelah di USG diketahui bahwa si anak di dalam rahim mengalami cacat fisik, dan akhirnya disarankan oleh dokter untuk di gugurkan saja.

 

Bagaimana hukumnya menurut Islam.???? (sesuai dengan Qur’an dan Sunnah tentunya)

 

 

Jazakallah, atas sumbangsihnya

Wassalam

 

 

Asdeddy Sjam

 

Wa’alaykumsalam Wr. Wb.,

 

Aborsi, tanpa alasan yang jelas ( terutama dari sisi medis dan ini berkaitan dengan keselamatan jiwa ) adalah sama seperti pembunuhan.

 

Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan …. -Qs. 6 Al-An’am :140

 

Dalam kasus cacat fisik, maka ini sudah menjadi ketetapan ataupun konsekwensi yang harus ditanggung oleh orang tua maupun sianak nantinya. Hal tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan perbuatan aborsi.

 

Allah mengetahui apa yang dikandung oleh perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya. -Qs. 13 ar’Ra’d :8

 

Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agamanya. -Qs. Al-An’am 6:137

 

Janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan suatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). -Qs. Al-An’am  6:151

 

Miskin pada ayat yang terakhir diatas tidak hanya mengenai ketiadaan harta benda tetapi juga menyangkut ketidak lengkapan fisik (miskin fisik) dan karenanya maka membunuh atau aborsi dengan sebab ini menjadi tidak dibenarkan.

 

Demikian secara ringkas, semoga menjawab apa yang ditanyakan.

Terimakasih.

 

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.,

   

ARMAN

 

Tafsir Fi Zhilalil Qur’an : Kembali kepada Allah, makna dan aplikasinya

Berikut saya coba ringkaskan sebuah artikel menarik dari kajian Sayyid Quthb dalam Mukadimah bukunya : Tafsir Fi Zhilalil Qur’an ( Dibawah naungan Qur’an ) Jilid 1 halaman 20 s/d halaman 25 terbitan Gema Insani tahun 2000.

 

Kembali kepada Allah, Makna dan Aplikasinya

 

Akhirnya sampailah aku dalam masa hidupku -dibawah naungan al-Qur’an- kepada keyakinan yang pasti bahwa tidak ada kebaikan dan kedamaian bagi bumi ini, tidak ada kesenangan bagi kemanusiaan, tidak ada ketenangan bagi manusia, tidak ada ketinggian, keberkahan dan kesucian dan tidak ada keharmonisan antara undang-undang alam dengan fitrah kehidupan melainkan dengan kembali kepada Allah.

 

Kembali kepada Allah -sebagaimana yang tampak didalam bayang-bayang al-Qur’an- memiliki satu bentuk dan satu jalan.

 

Hanya satu, tidak ada yang lain, yang mengembalikan semua kehidupan kepada Manhaj Allah yang telah ditulis-Nya didalam kitab-Nya yang mulia bagi kemanusiaan, yaitu dengan menjadikan kitab ini sebagai pengatur didalam kehidupannya dan berhukum kepadanya didalam semua urusannya.

 

Kalau tidak begitu, kerusakanlah yang akan terjadi dimuka bumi, kesengsaraan bagi manusia, terbenam kedalam lumpur dan kejahiliyahan yang menyembah nafsu selain Allah.

 

Sesungguhnya berpedoman kepada manhaj Allah didalam kitab-Nya itu bukanlah perkara sunnah, tathawwu’ atau boleh memilih, tetapi ia adalah iman. Kalau tidak mau, tidak ada iman bagi yang bersangkutan.

 

Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak ( pula ) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan tentang urusan mereka ” – Qs. al-Ahzaab : 36

 

 

Kemudian Kami jadikan kamu berada diatas suatu syariat ( peraturan ) dari urusan itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun ( azab Allah ). Dan sesungguhnya orang-orang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang bertakwa ” – Qs. al-Jaatsiyah : 18-19

 

 

Kalau begitu, urusan ini sangat serius.

Itu adalah urusan akidah sejak  dari dasarnya, kemudian urusan kebahagiaan atau kesengsaraan manusia.

 

Sesungguhnya manusia yang diciptakan Allah ini tidak dapat membuka gembok-gembok fitrahnya kecuali dengan menggunakan kunci ciptaan Allah, dan tidak akan dapat mengobati penyakit-penyakit fitrah itu kecuali dengan obat yang dibuat oleh tangan Allah.

 

Allah telah menjadikan manhaj-Nya sebagai kunci gembok dan obat bagi semua penyakitnya.

 

Dan Kami turunkan dari al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman ” – Qs. al-Israa : 82

 

Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus ” – Qs. al-Israa : 9

 

 

Akan tetapi manusia tidak ingin mengembalikan gembok ini kepada penciptanya, tidak ingin membawa sisakit kepada penciptanya, tidak mau menempuh jalan sesuai dengan urusan dirinya, urusan kemanusiaannya, dan mana urusan yang sekiranya membawanya bahagia atau sengsara.

 

Ia tidak terbiasa menempuhnya dengan mempergunakan segenap sarana dan peralatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya yang kecil-kecil, padahal ia tahu bahwa untuk memperbaiki alat-alat itu diperlukan insinyur yang membuatnya.

 

Tetapi kaidah ini tidak diterapkan bagi kehidupan manusia itu sendiri, yaitu dikembalikan kepada pabrik yang memproduksinya dan tidak mau bertanya kepada orang-orang yang membuat alat-alat yang mengagumkan itu, yaitu organ-organ manusia yang agung dan mulia, yang halus dan lembut, yang tidak ada yang mengetahui saluran-salurannya dan jalan-jalan masuknya yang membuatnya dan menciptakannya.

 

Sesungguhnya Dia maha mengetahui segala isi hati. Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui, padahal Dia maha halus lagi maha mengetahui ? ” – Qs. al-Mulk 13:14

 

 

Islam mengendalikan dengan al-Qur’an ini dengan konsep-konsep baru yang dibawa oleh al-Qur’an dan dengan syariat yang dikembangan dari konsep ini. Yang demikian ini melahirkan manusia-manusia yang lebih agung daripada kelahirannya sendiri secara fisik.

 

al-Qur’an telah melahirkan bagi manusia pandangan yang baru tentang alam dan kehidupan ini, tentang nilai dan tatanan, sebagaimana ia telah melahirkan bagi kemanusiaan sebuah realitas sosial yang unik, yang menjadi mulia hanya semata-mata konsepsinya sebelum ditumbuhkan sebagai manusia baru oleh al-Qur’an.

 

Ya, sebuah realitas sosial yang bersih dan indah, yang agung dan luhur , yang lapang dan toleran, yang realistis dan positip, yang seimbang dan harmonis, yang sama sekali tidak terbayang dalam hati manusia seandainya Allah tidak menghendakinya dan merealisasikannya dalam kehidupan mereka, dibawah naungan al-Qur’an, dibawah bayang-bayang al-Qur’an, manhaj al-Qur’an dan syariat al-Qur’an.

 

Setelah itu, terjadilah bencana yang membinasakan.

Islam terjauh dari kepemimpinan, terjauh darinya, dan digantikan oleh kejahiliyahan pada kali lain, dalam berbagai bentuk dan wujudnya, dalam bentuk materialisme yang dikagumi manusia sekarang sebagaimana kagumnya anak-anak kecil terhadap pakaian berlukisan dan mainan yang warna-warni.

 

Disana ada sekelompok orang yang sesat dan menyesatkan, yang menipu dan menjadi musuh kemanusiaan. Mereka menaruh manhaj ilahi dalam satu piringan timbangan dan teori buatan manusia dalam dunia materi pada piringan timbangan yang lain, kemudian mereka berkata : ” Inilah pilihanku! Pilihanku adalah manhaj Ilahi bagi kehidupan dan meninggalkan segala sesuatu hasil pemikiran manusia dalam dunia materi. ; Atau, mempergunakan hasil pengetahuan manusia dengan menjauhi manhaj ilahi !! “

 

Ini daya yang tercela dan busuk !

Masalahnya tidak demikian.

 

Manhaj ilahi tidak memusuhi kreativitas manusia, tetapi ia justru memberi inspirasi terhadap kreasi ini dan mengarahkannya kepada yang benar, dan mendorongnya untuk menempati posisinya sebagai khalifah dimuka bumi, suatu posisi yang diberikan Allah kepadanya, dikuasakan-Nya mereka terhadapnya, dan diberi-Nya kemampuan dan potensi untuk menunaikan tugas-tugasnya, ditundukkan-Nya alam dengan undang-undangnya sehingga dapat menunjang perwujudan tugasnya, dan diatur-Nya penciptaan manusia dengan penciptaan alam sehingga mereka dapat menguasai kehidupan, kerja dan kreasi.

 

Sementara berkreasi itu sendiri merupakan ibadah kepada Allah, sebagai salah satu cara untuk mensyukuri nikmat-Nya yang amat besar dam sebagai syarat pelaksanaan janji kekhalifahan itu sendiri, yaitu hendaklah mereka beramal dan bergerak serta berdaya upaya dalam bingkai keridhoan Allah.

 

Adapula golongan lain yang tidak berkurang niat baiknya, tetapi pengetahuannya tidak memadai dan tidak mendalam. Mereka menjadikan suatu lapangan bagi hukum alam dan suatu lapangan lain bagi nilai-nilai keimanan, memisahkan kerjanya dan dampak nyatanya dala alam dan realitas kehidupan.

 

Ini adalah suatu kesalahan, ini adalah pemisahan antara dua macam sunnah Allah yang pada hakekatnya tidak terpisah. Nilai-nilai iman adalah sebagian dari sunnah Allah dialam semesta, sama dengan hukum-hukum  Islam. Hasilnya saling berhubungan dan berkaitan. Tidak ada alasan untuk memisahkannya ( sekularisasi ) dalam hati dan pikiran seorang mukmin.

 

Inilah gambaran yang benar yang ditimbulkan oleh al-Qur’an didalam jiwa ketika jiwa itu hidup dibawah naungan al-Qur’an. Fi Zhilalil Qur’an.

 

Iman kepada Allah, beribadah kepada-Nya secara istiqomah dan memberlakukan syariat-Nya  dimuka bumi, semuanya adalah melaksanakan sunnah-sunnah Allah, yaitu sunnah-sunnah yang aktif dan positip, yang bersumber dari semua sunnah Kauniyah ” hukum alam ” yang kita lihat bekasnya yang nyata dengan indra dan pengalaman kita.

 

Syariat Allah bagi manusia merupakan salah satu bagian dari undang-undang-Nya yang menyeluruh dialam semesta. Pelaksanaan syariat ini pasti memiliki dampak yang positip didalam menyerasikan perjalanan hidup manusia dengan perjalanan alam semesta.

 

Syariat saling melengkapi dengan konsep Islam yang menyeluruh terhadap wujud yang besar dan eksistensi manusia, serta apa yang ditimbulkan oleh konsepsi ini, yaitu ketakwaan hati, kesucian perasaan, besarnya kemauan, akhlak yang luhur dan perilaku yang lurus.

 

Tampak pula keharmonisan dan keserasian diantara sunnah-sunnah Allah, baik yang kita sebut hukum alam maupun nilai-nilai iman. Masing-masing adalah bagian dari sunnah Allah yang komplet terhadap alam wujud ini.

 

Manusia juga termasuk salah satu kekuatan alam, dengan kerjanya dan iradahnya, iman dan kesalehannya, ibadah dan aktivitasnya. Dan mereka juga merupakan kekuatan yang memiliki dampak positip dalam alam wujud ini, yang berkaitan dengan sunnah Allah yang komprehensif bagi alam ini. Semuanya bekerja secara teratur dan harmonis, serta menghasilkan buah yang sempurna ketika bertemu dan berpadu.

 

Akan tetapi ia akan menimbulkan dampak yang merusak dan menggoncangkan, merusak kehidupan, menyebarkan kesengsaraan dan nestapa diantara manusia apabila berpisah dan berbenturan.

 

Karena itu, terjadilah hubungan yang erat antara amalan manusia dan perasaannya dengan terjadinya peristiwa-peristiwa alam dalam bingkai sunnah ilahiah yang meliputi seluruhnya.

 

Wassalamu’alaykum Wr, Wb.,

 

ARMANSYAH

Islam Kaffah

Islam Kaffah

Oleh : Armansyah

http://armansyah.swaramuslim.net

 

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu semuanya kedalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya dia itu musuh yang nyata bagimu.”
(Qs. al-Baqarah 2:208)

Ayat diatas merupakan seruan, perintah dan juga peringatan Allah yang ditujukan khusus kepada orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang mengakui Allah sebagai Tuhan satu-satunya dan juga mengakui Muhammad selaku nabi-Nya agar masuk kedalam agama Islam secara kaffah dan agar mau melakukan intropeksi diri, sudahkah kita benar-benar beriman didalam Islam secara kaffah ?

Allah memerintahkan kepada kita agar melakukan penyerahan diri secara sesungguhnya, lahir dan batin tanpa syarat hanya kepada-Nya tanpa diembel-embeli hal-hal yang bisa menyebabkan ketergelinciran kedalam kemusryikan.

 

Bagaimanakah jalan untuk mencapai Islam Kaffah itu sesungguhnya ?
al-Qur’an memberikan jawaban kepada kita :

 

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling darinya, padahal kamu mengerti.”
(Qs. al-Anfaal 8:20)

 

Jadi Allah telah menyediakan sarana kepada kita untuk mencapai Islam yang kaffah adalah melalui ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya serta tidak berpaling dari garis yang sudah ditetapkan.

 

Taat kepada Allah dan Rasul ini memiliki aspek yang sangat luas, akan tetapi bila kita mengkaji al-Qur’an secara lebih mendalam lagi, kita akan mendapati satu intisari yang paling penting dari ketaatan terhadap Allah dan para utusan-Nya, yaitu melakukan Tauhid secara benar.

 

Tauhid adalah pengesaan kepada Allah.
Bahwa kita mengakui Allah sebagai Tuhan yang Maha Pencipta yang tidak memiliki serikat ataupun sekutu didalam zat dan sifat-Nya sebagai satu-satunya tempat kita melakukan pengabdian, penyerahan diri serta ketundukan secara lahir dan batin.

 

Seringkali manusia lalai akan hal ini, mereka lebih banyak berlaku sombong, berpikiran picik laksana Iblis, hanya menuntut haknya namun melupakan kewajibannya. Tidak ubahnya dengan orang kaya yang ingin rumahnya aman akan tetapi tidak pernah mau membayar uang untuk petugas keamanan.

 

Banyak manusia yang sudah melebihi Iblis.
Iblis tidak pernah menyekutukan Allah, dia hanya berlaku sombong dengan ketidak patuhannya untuk menghormati Adam selaku makhluk yang dijadikan dari dzat yang dianggapnya lebih rendah dari dzat yang merupakan sumber penciptaan dirinya.

 

Manusia, telah berani membuat Tuhan-tuhan lain sebagai tandingan Allah yang mereka sembah dan beberapa diantaranya mereka jadikan sebagai mediator untuk sampai kepada Allah. Ini adalah satu kesyirikan yang besar yang telah dilakukan terhadap Allah.

 

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan pendeta-pendeta mereka sebagai Tuhan-Tuhan selain Allah, juga terhadap al-Masih putera Maryam; padahal mereka tidak diperintahkan melainkan agar menyembah Tuhan Yang Satu; yang tidak ada Tuhan selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (Qs. al-Bara’ah 9:31)

 

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa’atan, namun mereka berkata: “Mereka itu penolong-penolong kami pada sisi Allah !”. Katakanlah:”Apakah kamu mau menjelaskan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit-langit dan dibumi ?” ; Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Qs. Yunus 10:18)

 

Penyakit syirik ini dapat mengenai dan menyertai siapa saja, tidak terkecuali didalam orang-orang Islam yang mengaku bertauhid. Untuk itulah Allah memberikan perintah internal kepada umat Muhammad ini agar sebelum mereka melakukan Islamisasi kepada orang lain, dia harus terlebih dahulu mengIslamkan dirinya secara keseluruhan alias Kaffah dengan jalan mentaati apa-apa yang sudah digariskan dan dicontohkan oleh Rasul Muhammad Saw sang Paraclete yang agung, Kalky Authar yang dijanjikan.

 

Bagaimana orang Islam dapat melakukan satu kesyirikan kepada Allah, yaitu satu perbuatan yang mustahil terjadi sebab dia senantiasa mentauhidkan Allah ?

 

Sejarah mencatatkan kepada kita, berapa banyak orang-orang Muslim yang melakukan pemujaan dan pengkeramatan terhadap sesuatu hal yang sama sekali tidak ada dasar dan petunjuk yang diberikan oleh Nabi.

 

Dimulai dari pemberian sesajen kepada lautan, pemandian keris, peramalan nasib, pemakaian jimat, pengagungan kuburan, pengkeramatan terhadap seseorang dan seterusnya dan selanjutnya. Inilah satu bentuk kesyirikan terselubung yang terjadi didalam diri dan tubuh kaum Muslimin kebanyakan.

 

Mereka lebih takut kepada tokoh Roro Kidul ketimbang kepada Allah, mereka lebih hormat kepada kyai ketimbang kepada Nabi. Mereka lebih menyukai membaca serta mempercayai isi kitab-kitab primbon dan kitab-kitab para ulama atau imam Mazhab tertentu ketimbang membaca dan mempercayai kitab Allah, al-Qur’anul Karim.

 

Adakah orang-orang yang begini ini disebut sebagai Islam yang kaffah ?
Sudah benarkah cara mereka beriman kepada Allah ?

 

Saya yakin, kita semua membaca al-Fatihah didalam Sholat, dan kita semua membaca “Iyyaka na’budu waiyya kanasta’in” yang artinya “Hanya kepada Engkaulah (ya Allah) kami mengabdi dan hanya kepada Engkaulah (ya Allah) kami memohon pertolongan”.

 

Ayat ini berindikasikan penghambaan kita kepada Allah dan tidak memberikan sekutu dalam bentuk apapun sebagaimana juga isi dari surah al-Ikhlash :

 

“Katakan: Dialah Allâh yang Esa. Allâh tempat bergantung. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada bagi-Nya kesetaraan dengan apapun.”
(Qs. al-Ikhlash 112:1-4)

 

Hanya sayangnya, manusia terlalu banyak yang merasa angkuh, pongah dan sombong yang hanyalah merupakan satu penutupan dari sifat kebodohan mereka semata sehingga menimbulkan kezaliman-kezaliman, baik terhadap diri sendiri dan juga berakibat kepada orang lain bahkan hingga kepada lingkungan.

 

Untuk mendapatkan kekayaan, kedudukan maupun kesaktian, tidak jarang seorang Muslim pergi kedukun atau paranormal, memakai jimat, mengadakan satu upacara ditempat-tempat tertentu pada malam-malam tertentu dan di-ikuti pula dengan segala macam puasa-puasa tertentu pula yang tidak memiliki tuntunan dari Allah dan Rasul-Nya.

 

Apakah mereka-mereka ini masih bisa disebut sebagai seorang Islam yang Kaffah ?
Dengan tindakan mereka seperti ini, secara tidak langsung mereka sudah meniadakan kekuasaan Allah, mereka menjadikan semuanya itu selaku Tuhan-tuhan yang berkuasa untuk mengabulkan keinginan mereka.

 

“Dan sebagian manusia, ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Tetapi orang-orang yang beriman adalah amat sangat cintanya kepada Allah.”
(Qs. Al-Baqarah 2:165)

 

Kepada orang-orang seperti ini, apabila diberikan peringatan dan nasehat kepada jalan yang lurus, mereka akan berubah menjadi seorang pembantah yang paling keras.

 

“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam al-Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.”
(Qs. al-Kahf 18:54)

 

“Tidakkah engkau pikirkan orang-orang yang membantah tentang kekuasaan-kekuasaan Allah ? Bagaimana mereka bisa dipalingkan ?”
(Qs. al-Mu’min 40:69)

 

Orang-orang sekarang telah banyak yang salah pasang ayat, mereka katakan bahwa apa yang mereka lakukan itu bukanlah suatu kesyirikan melainkan satu usaha atau cara yang mesti ditempuh, sebab tanpa usaha Tuhan tidak akan membantu.

 

Memang benar sekali, tanpa ada tindakan aktif dari manusia, maka tidak akan ada pula respon reaktif yang timbul sebagai satu bagian dari hukum alam sebab-akibat. Akan tetapi, mestikah kita mengaburkan akidah dengan dalil usaha ?

 

Anda ingin kaya maka bekerja keras dan berhematlah semampu anda, anda ingin mendapatkan penjagaan diri maka masukilah perguruan-perguruan beladiri entah silat, karate, kempo, tenaga dalam dan sebagainya.

 

Anda ingin pintar maka belajarlah yang rajin begitu seterusnya yang pada puncak usaha itu haruslah dibarengi dengan doa kepada Allah selaku penyerahan diri kepada sang Pencipta atas segala ketentuan-Nya, baik itu untuk ketentuan yang bagus maupun ketentuan yang tidak bagus.

 

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(Qs. al-Baqarah 2:216)

 

“Yang demikian itu adalah nasehat yang diberikan terhadap orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, karena barang siapa berbakti kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan bagi mereka satu pemecahan; dan Allah akan mengaruniakan kepadanya dari jalan yang tidak ia sangka-sangka; sebab barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan menjadi pencukupnya. Sesungguhnya Allah itu pelulus urusan-Nya, sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap sesuatu.”
(Qs. at-Thalaq 65:2-3)

 

Bukankah hampir semua dari kita senantiasa hapal dan membaca ayat dibawah ini dalam doa iftitahnya ?

 

“Sesungguhnya Sholatku, Ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan sekalian makhluk, tiada serikat bagi-Nya, karena begitulah aku diperintahkan.”
(Qs. al-An’aam 6:162-163)

 

Anda membutuhkan perlindungan dari segala macam ilmu-ilmu jahat, membutuhkan perlindungan dari orang-orang yang bermaksud mengadakan rencana yang jahat dan keji, maka berimanlah anda secara sungguh-sungguh kepada Allah dan Rasul-Nya, InsyaAllah, apabila anda benar-benar Kaffah didalam Islam, Allah akan menepati janji-Nya untuk memberikan Rahmat-Nya kepada kita.

 

“Dan ta’atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.”
(Qs. Ali Imran  3:132)

 

Rahmat Allah itu tidak terbatas, Rahmat bisa merupakan satu perlindungan, satu pengampunan, Kasih sayang dan juga bisa berupa keridhoan yang telah diberikan-Nya kepada kita.

 

Apakah anda tidak senang apabila Tuhan meridhoi anda ?
Seorang anak saja, apabila dia telah mendapatkan restu dan ridho dari kedua orangtuanya, anak tersebut akan memiliki ketenangan dan penuh suka cita didalam melangkah, apakah lagi ini yang didapatkan adalah keridhoan dari Ilahi, Tuhan yang menciptakan seluruh makhluk, yang berkuasa atas segala sesuatu ?

 

Jika Allah ridho kepada kita, maka percayalah Allah akan membatalkan dan mengalahkan musuh-musuh kita. Maka dari itu berkepribadian Kaffah-lah didalam Islam, berimanlah secara tulus dan penuh kesucian akidah.

 

Dalam kajian lintas kitab, kita akan mendapati fatwa dari ‘Isa al-Masih kepada para sahabatnya mengenai kekuatan Iman :

 

Terjemahan Resmi: Baru: Matius: 17
17:19 Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan dia, bertanyalah mereka: “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?”

 

17:20 Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.


al-Qur’an pun memberikan gambaran :

 

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Qs. 2 al-Baqarah: 186)

 

Kita lihat, Allah akan mendengar doa kita, Dia akan memberikan Rahmat-Nya kepada kita dengan syarat bahwa terlebih dahulu kita harus mendengarkan dan percaya kepada-Nya, mendengar dalam artian mentaati seluruh perintah yang telah diberikan oleh Allah melalui para Nabi dan Rasul-Nya, khususnya kepada Rasul Muhammad Saw selaku Nabi terakhir yang universal.

 

Tidak perlu anda mendatangi tempat-tempat keramat untuk melakukan tapa-semedi, berpuasa sekian hari atau sekian malam lamanya dengan berpantang makan ini dan makan itu atau juga menyimpan, menggantung jimat sebagai penolak bala, pemanis muka, atau sebagai aji wibawa.

 

Ambillah al-Qur’an, bacalah dan pelajarilah, amalkan isinya … maka dia akan menjadi satu jimat yang sangat besar sekali yang mampu membawa anda tidak hanya lepas dari derita dunia yang bersifat temporary, namun juga derita akhirat yang bersifat long and abide.

 

Yakinlah, bahwa sekali anda mengucapkan kalimah “Laa ilaaha illallaah” (Tiada Tuhan Selain Allah), maka patrikan didalam hati dan jiwa anda, bahwa jangankan ilmu-ilmu jahat, guna-guna, santet, Jin, Iblis apalagi manusia dengan segenap kemampuannya, Tuhan-pun tidak ada.

 

Kenapa demikian ?
Sebab dunia ini telah dibuat terlalu banyak memiliki Tuhan-tuhan, semua berhala-berhala yang disembah oleh manusia dengan beragam caranya itu tetap dipanggil Tuhan oleh mereka, entah itu Tuhan Trimurti, Tuhan Tritunggal, Tuhan anak, Tuhan Bapa, Tuhan Budha dan seterusnya.

 

Manusiapun sudah menjadikan harta, istri dan anak-anak sebagai Tuhan, menjadikan para ulama sebagai Tuhan, menjadikan perawi Hadis sebagai Tuhan, menjadikan keluarga Nabi sebagai Tuhan dan seterusnya.

 

Karena itu Tauhid yang murni adalah Tauhid yang benar-benar meniadakan, menafikan segala macam jenis bentuk ketuhanan yang ada, untuk kemudian disusuli dengan keberimanan, di-ikuti dengan keyakinan, mengisi kekosongan tadi dengan satu keberadaan, bahwa yang ada dan kita akui hanyalah Tuhan yang satu, tanpa berserikat dan esa dalam berbagai penafsiran.

 

Itulah intisari dari Iman didalam Islam, intisari seluruh ajaran dan fatwa para Nabi terdahulu, dimulai dari Nuh, Ibrahim terus kepada Ismail, Ishak, Ya’kub, Musa hingga kepada ‘Isa al-Masih dan berakhir pada Muhammad Saw.

 

Itulah senjata mereka, itulah jimat yang mereka pergunakan didalam menghadapi segala jenis kebatilan, segala macam kedurjanaan yang tidak hanya datang dari manusia namun juga datang dari syaithan yang terkutuk.

 

Dalam salah satu Hadits Qudsi-Nya, Allah berfirman :
“Kalimat Laa ilaaha illallaah adalah benteng pertahanan-Ku; dan barangsiapa yang memasuki benteng-Ku, maka ia aman dari siksaan-Ku.”
(Riwayat Abu Na’im, Ibnu Hajar dan Ibnu Asakir dari Ali bin Abu Thalib r.a.)

 

Nabi Muhammad Saw juga bersabda :
“Aku sungguh mengetahui akan adanya satu kalimat yang tidak seorangpun hamba bilamana mengucapkannya dengan tulus keluar dari lubuk hatinya, lalu ia meninggal, akan haram baginya api neraka. Ucapan itu adalah : Laa ilaaha illallaah.”
(Riwayat Bukhari dan Muslim)

 

Untuk itu, marilah sama-sama kita memulai hidup Islam yang kaffah sebagaimana yang sudah diajarkan oleh para Nabi dan Rasul, sekali kita bersyahadat didalam Tauhid, maka apapun yang terjadi sampai maut menjemput akan tetap Allah sebagai Tuhan satu-satunya yang tiada memiliki anak dan sekutu-sekutu didalam zat maupun sifat-Nya.

 

Cobalah anda ikrarkan : Apapun yang terjadi sampai saya mati akan tetap berpegang kepada Laa ilaaha illallaah.

 

Segera kita tanggalkan segala bentuk kepercayaan terhadap hal-hal yang berbau khurafat, kita ikuti puasa yang diajarkan oleh Islam, kita contoh prilaku Nabi dalam keseharian, kita turunkan berbagai rajah dan tulisan-tulisan maupun bungkusan-bungkusan hitam yang kita anggap sebagai penolak bala atau juga pemanis diri yang mungkin kita dapatkan dari para dukun, paranormal atau malah juga kyai.

 

Nabi Muhammad Saw bersabda :
“Barangsiapa menggantungkan jimat penangkal pada tubuhnya, maka Allah tidak akan menyempurnakan kehendaknya.”
(Hadist Riwayat Abu Daud dari Uqbah bin Amir)

 

“Ibnu Mas’ud berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, mantera-mantera, tangkal dan guna-guna adalah syirik.”
(Hadist Riwayat Ahmad dan Abu Daud )

 

“Sa’id bin Jubir berkata: orang yang memotong atau memutuskan tangkal (jimat) dari manusia, adalah pahalanya bagaikan memerdekakan seorang budak.”
(Diriwayatkan oleh Waki’)

 

Percayalah, Allah adalah penolong kita.

 

“Sesuatu bahaya tidak mengenai melainkan dengan idzin Allah.”
(Qs. at-Taghabun 64:11)

 

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah ni’mat Allah kepadamu tatkala satu kaum hendak mengulurkan tangannya untuk mengganggu, lalu Allah menahan tangan mereka daripada (sampai) kepada kamu; dan berbaktilah kepada Allah; hanya kepada Allah sajalah hendaknya Mu’minin berserah diri.”
(Qs. al-Maaidah 5:11)

 

Apabila setelah kita melepaskan seluruh kebiasaan buruk tersebut kita mendapatkan musibah, bukan berarti Allah berlepas tangan pada diri kita dan kitapun bertambah mendewakan benda-benda, ilmu-ilmu yang pernah kita miliki sebelumnya.

 

Akan tetapi Allah benar-benar ingin membersihkan kita dari segala macam kemunafikan, menyucikan akidah kita, hati dan pikiran kita sehingga benar-benar berserah diri hanya kepada-Nya semata.

 

“Apakah manusia itu menyangka bahwa mereka akan dibiarkan berkata: “Kami telah beriman”, padahal mereka belum diuji lagi ?” (Qs. al-Ankabut 29:2)

 

“Dan sebagian dari manusia ada yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, tetapi manakala ia diganggu dijalan Allah, maka ia menjadikan percobaan manusia itu seperti adzab dari Allah; dan jika datang pertolongan dari Tuhan-mu, mereka berkata: “Sungguh kami telah berada bersamamu.”; Padahal bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada-dada makhluk ?”
(Qs. al-Ankabut 29:10)

 

“Dan sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang beriman dan mengetahui orang-orang yang munafik.” (Qs. al-Ankabut 29:11)

 

Nabi juga bersabda :
“Bilamana Allah senang kepada seseorang, senantiasa menimpakan cobaan baginya supaya didengar keluh kesahnya.”
(Riwayat Bukhari dan Muslim)

 

Bagaimana bila sebagai satu konsekwensi dari usaha kembali kepada jalan Allah tersebut kita gugur ? Jangan khawatir, Allah telah berjanji bagi orang-orang yang sudah bertekad untuk kembali pada kebenaran :

 

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.”
(Qs.at-Taubah 9:20)

 

“Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik”.
(Qs. ali Imran 3:195)

 

“Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.”
(Qs. an-Nisa’  4:74)

 

Kembali kejalan Allah adalah satu hijrah yang sangat berat, godaan dan gangguan pasti datang menerpa kita dan disanalah kita dipesankan oleh Allah untuk melakukan jihad, melakukan satu perjuangan, melibatkan diri dalam konflik peperangan baik dengan harta maupun dengan jiwa (tentunya ini tidak berlaku bagi mereka yang cuma melakukan teror dengan membunuh diri).

 

Dengan harta mungkin kita harus siap apabila mendadak jatuh miskin atau juga melakukan kedermawanan dengan menyokong seluruh aktifitas kegiatan umat Islam demi tegaknya panji-panji Allah; berjihad dengan jiwa artinya kita harus mempersiapkan mental dan phisik dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi akibat ketidak senangan sekelompok orang atau makhluk dengan hijrah yang telah kita lakukan ini.

 

Apakah anda akan heran apabila pada waktu anda masih memegang jimat anda merupakan orang yang kebal namun setelah jimat anda tanggalkan anda mendadak bisa tergores oleh satu benturan kecil ditempat tidur ? Bagaimana anda memandang keperkasaan seorang Nabi yang agung yang bahkan dalam perperanganpun bisa terluka dan juga mengalami sakit sebagaimana manusia normal ?

 

Percayalah, berilmu tidaknya anda, berpusaka atau tidak, bertapa maupun tidaknya anda bukan satu hal yang serius bagi Allah apabila Dia sudah menentukan kehendak-Nya kepada kita.

 

“Berupa apa saja rahmat yang Allah anugerahkan kepada manusia, maka tidak ada satupun yang bisa menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Gagah, yang Bijaksana.”
(Qs. Fathir 35:2)

 

Apabila memang sudah waktunya bagi kita untuk mendapatkan musibah (baik itu berupa maut dan lain sebagainya) maka dia tetap datang tanpa bisa kita mundurkan atau juga kita majukan, tidak perduli anda punya ilmu, punya jimat atau seberapa tinggi kedudukan sosial anda.

 

“Bagi tiap-tiap umat ada batas waktunya; maka apabila telah datang waktunya maka mereka tidak dapat meminta untuk diundurkan barang sesaatpun dan tidak dapat meminta agar dimajukan.”
(Qs. al-A’raf 7:34)

 

“Masing-masing Kami tolong mereka ini dan mereka itu, sebab tidaklah pemberian Tuhanmu itu terhalang.”
(Qs. al-Israa 17:20)

 

Demikianlah, semoga kita semua bisa mendapatkan hikmah dari tulisan ini.

Wassalam.


Armansyah

http://armansyah.swaramuslim.net

Putra Perjanjian : Sebuah analisa

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Misteri Putra Perjanjian
(c) Oleh : Armansyah
=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

 

Dari Surah Ash Shaffat (37) ayat 99 sampai dengan ayat 113 :

 

99 Dan Ibrahim berkata: Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.

 

100. Wahai Tuhanku, anugerahilah aku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh;

 

101. Maka Kami gembirakan dia dengan (kelahiran) seorang anak yang amat sabar.

 

102. Maka tatkala anak itu telah sampai pada usia dapat membantu bapaknya, berkatalah Ibrahim : ‘Wahai anakku sayang, sesungguhnya aku melihat didalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Untuk itu bagaimanakah pendapatmu ?’ Anaknya menjawab: ‘Hai Bapakku, laksanakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapati aku termasuk golongan orang-orang yang sabar’.

 

103. Maka tatkala keduanya (bapak dan anak) telah menyerahkan diri (kepada Allah) dan Ibrahim telah merebahkan anaknya diatas pipinya (ditempat penyembelihan dan hampir menyembelihnya).

 

104. Maka Kami panggillah dia, ‘Wahai Ibrahim’ (Janganlah engkau lanjutkan perbuatan itu.) 

 

105. Sungguh, engkau telah membenarkan (melaksanakan perintahKu dalam) mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”

 

106. “Sesungguhnya (perintah penyembelihan) ini benar-benar suatu ujian yang nyata,

 

107. Dan Kami tebus sembelihan itu dengan sembelihan yang agung,

 

108. dan Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian) dikalangan orang-orang yang datang kemudian.

 

109. Yaitu, Kesejahteraan yang senantiasa dilimpahkan atas Ibrahim.”

110. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,

 

111. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

 

112. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq, seorang Nabi yang termasuk orang-orang yang saleh,

 

113. Dan Kami limpahkan keberkatan atasnya (Ismail) dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucu mereka berdua, ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.”

 

Ibrahim adalah seorang Nabi yang mumpuni dan penuh berkah dari Allah, dimana beliau sejak kecilnya didalam pencarian jati diri kebenaran sosok Tuhannya, telah mempergunakan kekuatan akal pikirannya serta hati nuraninya, dimulai dari ketidak puasannya terhadap berhala-berhala yang dibuat oleh bapaknya sendiri dan dijadikan sesembahan kaumnya masa itu (Qs. 37:83-93), juga ketidak puasannya terhadap hal-hal yang semula dianggapnya Tuhan namun kemudian dinisbihkannya sendiri karena bertentangan dengan akal pikiran serta hati nurani (Lihat kisah Ibrahim dalam pencarian Tuhan pada Qs. 6:75-79)

 

Keberimanan Ibrahim kepada Allah yang Esa yang tidak terbagi menjadi potongan-potongan kecil kemakhlukan telah membuatnya berlepas diri terhadap kaumnya dan bahkan juga bapaknya (Qs. 60:4 dan Qs. 19:41-48) yang sampai pada puncaknya penghancuran seluruh berhala sesembahan mereka (Qs. 21:57-58) sehingga dikorbankanlah Ibrahim kedalam satu hukuman pembakaran yang berkat rahmat dari Allah, keselamatan dilimpahkan kepada Nabi agung ini dan api tidak mampu menembus kulitnya yang mulia itu. (QS. 21:61-69)

 

Cerita tentang Ibrahim as dibakar oleh Raja Nimrod juga bisa didapati dalam “The Writings of Abraham” (Bab 42-43), sebuah kitab yang dipakai oleh orang-orang Mormon. Naskah atau kitab itu cukup menarik untuk diketahui, bisa dilihat di http://www.absalom.com/mormon/rigby/index.html

 

Selain itu, kisah Ibrahim (Abraham) yang hendak dibakar oleh kaumnya itu juga dapat diketemukan di kitab Sheivet Mussar (bab 52). Teks lengkap mengenai Abraham dari kedua naskah ini
dapat dibaca di: http://www.tiac.net/users/bpilant/netzach/abraham.html

 

Selanjutnya keberimanan yang tulus dan penuh tanpa syarat setelah beliau mendapatkan kebenaran tersebut dengan Allah,  Ibrahim kembali diuji oleh Allah, setelah sekian lamanya beliau berumah tangga dengan Sarah tidak ada tanda-tanda istrinya ini akan menjadi hamil, sehingga diluar statusnya selaku seorang Nabi, Ibrahim tetaplah seorang manusia yang memiliki keinginan untuk mempunyai keturunan sebagai suatu fitrah yang ada pada diri setiap laki-laki dan suami kepada masa depan penerusnya.

 

Ibrahim berdoa kepada Allah agar beliau dianugerahi seorang anak yang saleh (Qs. 37:99-100), dan pada bagian ayat berikutnya dijelaskan bahwa permintaan Ibrahim ini dikabulkan oleh Allah dengan diberinya seorang putra yang telah lama dinanti-nantikannya melalui istri keduanya Hajar, Bible dalam Kitab Kejadian 16:11 telah pula menegaskan dan menguatkan kisah yang dipaparkan oleh Qur’an ini.

 

“And again: Behold, said he, thou art with child, and thou shalt bring forth a son: and thou shalt call his name Ismael, because the Lord hath heard thy affliction.”
(Genesis 16:11 from Douay)

 

Sarah sebagai istri pertama dari Ibrahim telah memberikan persetujuan kepada suaminya untuk menikahi Hajar (Kejadian 16:2-3), dari Hajar ini lahirlah putra pertama Ibrahim yang bernama Ismail disaat usia Ibrahim kala itu 86 tahun (Kejadian 16:16).

 

“And Sarai said unto Abram, Behold now,  Lord hath restrained me from bearing: I pray thee, go in unto my maid; it may be that I may obtain children by her. And Abram hearkened to the voice of Sarai. And Sarai Abram’s wife took Hagar her maid the Egyptian, after Abram had dwelt ten years in the land of Canaan, and GAVE HER TO HER HUSBAND ABRAM TO BE HIS WIFE.”
(Genesis 16:2-3 from “The Restored Name King James Version of the Scriptures”)

 

“And Abram was fourscore and six years old, when Hagar bare Ishmael to Abram.”
(Genesis 16:16 from “The Restored Name King James Version of the Scriptures”)

 

Kisah ini bersesuaian dengan al-Qur’an pada surah 37:101, dan Bible pada kitab Kejadian 21:5 menceritakan bahwa Ibrahim juga akhirnya mendapatkan keturunan dari Sarah, yaitu Ishak, dimana pada kala itu usia Ibrahim sudah mencapai 100 tahun.

 

Jadi beda antara usia Ismail dan Ishak adalah 14 tahun.
Suatu perbedaan usia yang cukup jauh.

 

Pada ayat al-Qur’an berikutnya, yaitu surah 37:102, disebutkan bahwa tatkala usia anak yang dilahirkan pertama tersebut, dalam hal ini adalah Ismail sudah mencapai usia yang cukup untuk mengerti, maka Allah mengadakan ujian bagi Ibrahim antara kecintaannya terhadap Allah dan kecintaannya terhadap anak yang selama ini sudah dia nanti-nantikan.

 

Kisah ini jika kita kembalikan pada Bible, sangat bersesuaian, dimana pada usia Ismail yang sudah lebih dari 10 tahun itu, beliau sudah cukup mengerti untuk berpikir dan tengah meranjak menuju kepada fase kekedewasan.

 

Ibrahim yang mendapatkan perintah dari Allah itu, melakukan dialog tukar pikiran dengan putranya mengenai pengorbanan yang diminta oleh Allah terhadap diri anaknya ini. Dan kisah yang ini sama sekali bertentangan dengan kisah Bible yang menyebutkan Ibrahim telah membohongi putranya.

 

“He said to him: Take thy only begotten son Isaac, whom thou lovest, and go into the land of vision: and there thou shalt offer him for a holocaust upon one of the mountains which I will show thee.”
(Genesis 22:2 from Douay)

 

Dari sini kita lihat sudah, bahwa Kitab Kejadian 22:2 sudah mengalami distorsi dengan penyebutan anak tunggal itu adalah Ishak (Isaac).

 

Pada Kejadian 16:16 diterangkan pada waktu Hagar memperanakkan Ismail bagi Abram, ketika itu umur Ibrahim 86 tahun. Pada kejadian 21:5 disebutkan pada waktu Ishak lahir maka umur Ibrahim 100 tahun. Berdasarkan kedua ayat itu, maka anak Ibrahim yang lahir lebih dahulu ialah Ismail; Jika Kejadian 22:2 menerangkan bahwa firman Tuhan kepada Ibrahim untuk mengorbankan “anak tunggal”, jelas pada waktu itu anak Ibrahim baru satu orang.

 

Adapun anak yang baru seorang ini sudah tentu anak yang lahir pertama atau yang lahir lebih dahulu. Dan anak Ibrahim yang lahir pertama ini ialah Ismail. Jadi Kejadian 22:2 yang menyebutkan “anak tunggal” itu Ishak, jelas merupakan sisipan atau penggantian yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu.

 

Apabila pada Kejadian 16:16 dan Kejadian 21:5 anak Ibrahim pada waktu itu sudah dua orang, yaitu Ismail dan Ishak … mengapa pada Kejadian 22:2 disebutkan “anak tunggal” ?

 

Yang berarti bahwa anak Ibrahim baru satu orang, lalu kemana anak yang satunya lagi ? Padahal kedua anak tersebut masih sama-sama hidup, sehingga pada waktu Sarah (ibu Ishaq) wafat, kedua anak Ibrahim itu, yakni Ismail dan Ishaq sama-sama hadir mengurus jenasah Sarah.

 

Jadi seharusnya ayat yang menerangkan kelahiran Ishaq itu letaknya sesudah ayat pengorbanan, sehingga setelah ayat pengorbanan lalu diikuti oleh ayat kelahiran Ishak. Inilah yang disebut dengan “tahrif” oleh al-Qur’an, yaitu mengubah letak ayat dari tempatnya yang asli ketempat lain sebagaimana yang disitir oleh Surah An Nisa’ ayat 46 :

 

“Diantara orang-orang Yahudi itu, mereka mengubah perkataan dari tempatnya …”

 

Dengan begitu semakin jelas saja bahwa Bible mengandung tahrif (pengubahan, penambahan, pengurangan dsb), dan jelas pula bahwa kitab yang sudah diubah-ubah itu tidak dapat dikatakan otentik dari Tuhan melainkan merupakan kitab yang terdistorsi oleh ulah tangan-tangan manusia.

 

Setelah ternyata Ibrahim lebih mengutamakan kecintaan dan kepatuhannya kepada Allah, maka Allah melimpahkan rahmat-Nya yang sangat besar kepada Ibrahim juga Allah telah meluluskan doa Ibrahim sebelumnya agar memperoleh anak yang saleh, yaitu putra tunggalnya, Ismail.

 

Ismail ini juga mengikuti jejak langkah bapaknya selaku manusia yang menyerahkan diri kepada Allah secara penuh tanpa syarat yang kelak akan menjadi salah seorang penerus kenabian Ibrahim sebagaimana dinyatakan didalam AlQur’an pada Qs. 19:54, Qs. 4:163, Qs. 6:86, Qs. 21:85, Qs. 38:48  dan bagi Ismail sendiri juga didalam Bible pun dinyatakan bahwa Allah telah mengabulkan permintaan Ibrahim akan hal diri Ismail dan bahkan dijadikan Allah keturunan Ismail ini sebagai suatu bangsa yang besar (Lihat Kejadian 17:20, Kejadian 21:13 dan  Kejadian 21:18 => Secara panjang lebar pembahasannya silahkan baca artikel : Tafsir Kitab Kejadian).

 

Setelah kisah pengorbanan putra tunggalnya kala itu tersebut, Ibrahim kembali digirangkan oleh Allah dengan mendapatkan seorang putra dari Sarah dimana waktu itu, baik menurut al-Qur’an sendiri maupun Bible, sebelumnya Sarah sempat merasakan pesimis mengingat usianya yang sudah lanjut, sementara Ibrahim sendiri sudah memiliki putra dari Hajar 14 tahun sebelumnya, dikala usia Ibrahim 86 tahun.

 

al-Qur’an Surah Ibrahim (14) ayat ke-39 melukiskan betapa Ibrahim merasa bersyukur sekali dengan dua putranya ini (yaitu Ismail dan Ishak) sebagai suatu karunia baginya yang sudah berusia lanjut.

 

Pengusiran Ismail dan Ibunya, Hajar yang dilakukan oleh Sarah sebagaimana yang dimuat didalam Bible terjadi pada waktu Ishak disapihkan karena ketakutan Sarah akan ikut terjatuhnya warisan ketangan Ismail yang juga merupakan putra dari Ibrahim (Lihat Kejadian 21:8-10).

 

“And the child grew and was weaned: and Abraham made a great feast on the day of his weaning.  And when Sara had seen the son of Agar the Egyptian playing with Isaac her son, she said to Abraham: Cast out this bondwoman, and her son: for the son of the bondwoman shall not be heir with my son Isaac.”
(Genesis 21:8-10 From Douay)

 

Hal ini sebenarnya bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh Bible dalam ayat lainnya yaitu Ulangan 21:15-17.

 

“And the water was spent in the bottle, and she cast the child under one of the shrubs. And she went, and sat her down over against him a good way off, as it were a bowshot: for she said, Let me not see the death of the child. And she sat over against him, and lift up her voice, and wept. And Elohim heard the voice of the lad; and the angel of Elohim called Hagar out of heaven, and said unto her, What aileth thee, Hagar? fear not; for Elohim hath heard the voice of the lad where he is.”
(Genesis 21:15-17 from “The Restored Name King James Version of the Scriptures”)

 

Kenapa bertentangan ?
Ishak ketika disapih berusia sekitar 2 tahun, sementara Ismail 16 tahun dan saat terjadi pengusiran atas Ismail dan ibunya ini telah terjadi konflik baru dalam ayat-ayat Bible, Kejadian 21:8-10 bertentangan dengan Kejadian 21:14-21.

 

Dimana dalam ayat itu digambarkan seolah-olah Ismail masih berupa seorang bayi yang digendong dibahu ibunya, dan disebut dengan istilah budak, kemudian Ismail yang menurut Bible sendiri saat itu sudah berusia 16 tahun yang notabene sudah cukup dewasa kembali digambarkan bagai anak kecil yang mesti dibaringkan dibawah pokok serumpun (Kejadian 21:15) lalu diperintahkan untuk diangkat, digendong (Kejadian 21:18)

 

Masa iya sih Hagar yang seorang perempuan harus menggendong seorang anak laki-laki “dewasa” yang berusia 16 tahun, apa tidak terbalik seharusnya Ismail yang menggendong Hagar ?

 

Kemudian disambung pada Kejadian 21:20 seolah Ismail masih sangat belia sekali sehingga dikatakan “…maka disertai Allah akan budak itu sehingga besarlah dia, lalu ia pun duduklah dalam padang belantara dan menjadi seorang pemanah”.

 

Jadi dari sini saja sudah kelihatan telah terjadi kerusakan dan manipulasi sejarah dan fakta yang ada pada ayat-ayat Bible.

 

Dalam satu perdiskusian agama dimilis isnet beberapa tahun yang lampau, seorang rekan Kristen membantah kalimat “untuk diangkat, digendong … ” yang termuat didalam Bible adalah dalam bentuk kiasan, jadi disana jangan diartikan secara harfiah, karena maksud yang ada pada ayat itu bahwa nasib hidup dan makan dari Ismail ada dipundak Hagar.

 

Padahal jika kita mau melihat kedalam konteks ayat-ayat aslinya, akan nyatalah bahwa apa yang dimaksudkan dengan bentuk kiasan tersebut sama sekali tidak menunjukkan seperti itu.

 

Mari kita kupas :

 

Kejadian 21:14
Maka bangunlah Ibrahim pada pagi-pagi hari, lalu diambilnya roti dan sebuah kirbat yang berisi air, diberikannya kepada Hagar, ditanggungkannya pada bahunya dan anak tersebut, lalu disuruhnya pergi. Maka berjalanlah ia lalu sesatlah ia dalam padang birsjeba.
(Alkitab LAI terbitan Djakarta 1963)

 

Didalam Bible berbahasa Inggris saya kutipkan adalah demikian :

 

“And Abraham rose up early in the morning, and took bread, and a bottle of water, and gave it unto Hagar, putting it on her shoulder, and THE CHILD, and sent her away: and she departed, and wandered in the wilderness of Beer-sheba.
(Genesis 21:14  from “The Restored Name King James Version of the Scriptures”)

 

“So Abraham rose up in the morning, and taking bread and a bottle of water, put it upon her shoulder, and delivered the boy, and sent her away. And she departed, and wandered in the wilderness of Bersabee.”
(Genesis 21:14 from Douay)

 

Jadi jelas bahwa Ibrahim mengambil roti dan sebuah kirbat yang berisi air lalu memberikannya kepada Hagar dengan meletakkan keduanya itu diatas pundak Hagar bersama Ismail yang jelas sudah lebih dulu ada dalam dukungannya lalu menyuruh Hagar pergi.

 

Lihat kalimat bahasa Inggris tidak menyebutkan Hagar dan Ismail tetapi hanya menyebutkan kata “…and sent HER away: and SHE departed, and wandered”

 

Jadi jelas yang diusir dan berjalan serta tersesat disana adalah Hagar sendirian, sebab Ismail ada dalam gendongan Hagar, bukankah mustahil anak berusia 16 tahun digendong ?

 

Lalu kita lanjutkan pada kalimat berikutnya :
“Hatta, setelah habislah air yang didalam kirbat itu, maka dibaringkannyalah budak itu dibawah pokok serumpun.” (Alkitab LAI terbitan Djakarta 1963: Kej. 21:15)

 

“And the water was spent in the bottle, and SHE CAST THE CHILD under one of the shrubs.”
(From “The Restored Name King James Version of the Scriptures”)

 

“And when the water in the bottle was spent, SHE CAST THE BOY under one of the trees that were there. ” (From Douay)

 

Jadi semakin jelas, ketika air didalam kirbat sebagai bekal sudah habis, lalu Ismail (yang secara jelas disebut sebagai THE CHILD dan THE BOY) yang digendong itu diturunkan dari tubuhnya dan dibaringkan dibawah pohon.

 

Apakah masih mau bersikeras dengan mengatakan kalau kata “menggendong atau memikul” THE CHILD disana bukan dalam arti yang sebenarnya ?

 

Lalu kita lihat sendiri pada ayat-ayat berikutnya dimana Hagar akhirnya mendapatkan mata air dan memberi minum kepada anaknya (THE CHILD) yang menangis kehausan lalu anak tersebut dibawah bimbingan Tuhan meranjak dewasa, jadi anak itu pada masa tersebut belumlah dewasa, padahal usianya kala itu sudah hampir 17 tahun.

 

Bagi Ishak sendiri, beliau pun dijanjikan oleh Allah menjadi seorang Nabi yang hanif sebagaimana ayah dan juga saudara tuanya, Ismail, dimana nantinya dari Ishak ini akan terlahir Ya’qub yang kelak menjadi bapak bagi bangsa Israil.

 

Kepada rekan-rekan dari kalangan Nasrani saya meminta maaf, saya bukan hendak menggurui anda-anda semua atau juga hendak mengadakan pelecehan, tetapi kita sekarang berbicara masalah kebenaran dan keobjektivitasan yang bisa sama-sama kita saksikan.

 

Saya dapat memahami jika anda dari kaum Kristiani tetap pada pendirian bahwa al-Qur’an salah dan Bible sajalah yang benar, sebab memang dasar pijakan kaum Kristiani ada pada Bible sehingga apapun keyakinan anda maka tidak akan jauh dari apa yang dikatakan oleh Bible.

 

“Kebenaran itu adalah dari Tuhan-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Qs. Al-Baqarah 2:147)

 

“Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka manfa’atnya bagi diri sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya.”
(Qs. Al-An’am  6:104)

 

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
(Qs. 22:46)

 

“Dan sesungguhnya Kami telah menjadikan isi neraka itu beberapa banyak dari Jin dan manusia, yang mempunyai hati tetapi tidak untuk mengerti dengannya, mempunyai mata tidak untuk melihat dengannya dan mempunyai telinga tidak dipergunakan untuk mendengarkan; mereka itu seperti binatang, malah mereka lebih sesat.” (Qs. 7:179)

 

“Sekalipun melihat, mereka tidak melihat. Sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.” (Matius 13:13)

 

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.,

Hidayah

—– Original Message —–

From: “ardi!” <ardi_arifin@xxx.com>

To: “Milis_Iqra” <Milis_Iqra@googlegroups.com>

Sent: Tuesday, June 12, 2007 3:52 PM

Subject: [Milis_Iqra] Re: Hidayah



mas Arman tanya sdikit neh..

> Saya punya seorang kerabat. Dengan latar belakang; pendidikan pasca
> sarjana dr abroad, secara humanis dan personality cukup baik; jujur,
> pekerja keras, loyal dan sifat2 lainnya yang cukup baik sehingga
> beliau mempunyai karier di pemerintahan yang cukup baik dan cukup
> berhasil dalam membina keluarga. Salah satu sifat yang mungkin agak
> buruk adalah kecenderungan untuk selalu berfikiran negatif pada saat
> berhadapan pertama kali thd segala sesuatu, tetapi hal ini dikarenakan
> masa muda yang agak buruk ketika berada di keluarga besar dengan
> saudara2 tiri.
>
> Secara ibadah beliau bisa dinilang agak standar; sholat 5 waktu, puasa
> ramadhan, dan hal2 ‘ritual-budaya’ lainnya.
>
> Yang menjadi permasalahan adalah; beliau selalu dihadapkan dengan
> contoh2 buruk dari dunia islam seperti misalnya: ada sanak keluarga
> yang secara ‘ilmu’ islam cukup dalam tetapi mereka mempunyai sifat2
> buruk seperti cheating, suka memfitnah, berbohong dll. Ditambah hal2
> lain yang beliau anggap juga contoh buruk seperti pemboman bali/SCBD/
> dll yang nota bene citra orang2 yang ‘fanatik’ berislam sangat buruk
> dihadapan beliau, serta banyak contoh lainnya terkait lainnya
> (misalnya AA Gym Gate… hehehe)
>
> Dilain pihak beliau mempunyai sahabat2 dan contoh2 non muslim yang
> berpendidikan tinggi, beragama katolik taat mempunyai sifat2 yang
> sangat baik; jujur, pekerja keras, karier yg baik dsb.
>
> Saya secara pribadi bertanya2; mengapa Allah SWT selalu memberika
> contoh buruk ttg dunia islam kepada beliau dan sebaliknya memberikan
> contoh baik ttg hal2 diluar islam. Hal ini menjadkan beliau sangat
> sulit untuk ‘diislamkan’ kembali dan memahami islam secara lebih
> benar. Hal tersebut juga menjadikan beliau antipati thd hal2 yg
> bersifat mendalami islam shg beliau cenderung menjalankan islam secara
> ‘agama’ dan bukan sebagai ‘jalan hidup”.
>
> Dilihat bahwa beliau secara humanis beliau cukup baik, menurut mas
> Arman kira2 mengapa Allah SWT tidak membuka mata hati (hidayah?) dan
> sepertinya menutup beliau dari indahnya Islam tetapi justru
> diperlihatkan dengan ‘baik’nya non islam….
>
> mohon tanggapan..

 

——————————————————————————————–

Jawab Armansyah :

 

Hidup ini selalu penuh dengan ujian … kadang ujian itu bisa membuat orang yang diuji kembali sadar dan tidak jarang justru malah terjebak kedalam ujian tersebut.

 

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? -Qs. 29 al-Ankaabut :2

 

Bukankah Allah juga pernah mengkaitkan atau mengkorelasikan antara hikmah dengan akal ?

 

Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. -Qs. 2 al-Baqarah: 269

 

Jadi rahasia untuk menjemput hidayah Allah adalah meluruskan dulu pemikiran kita … dengan demikian ujian yang didatangkan kepada kita bisa dimaknai sebagai proses pembelajaran dalam menempa kedewasaan dan kematangan iman kita kepada-Nya.

 

Demikian sementara ini mas Ardi.

 

 

 

Menjawab Hambran Ambrie (2)

Menjawab Hambran Ambrie (2)

Oleh : Armansyah

Cat : HA = Hambran Ambrie ; AR = Armansyah

———————————————————————–

HA :

 

Saya mengaku percaya akan kebenaran Alkitab dan Jesus Kristus Anak
Allah, Tuhan dan Juru selamat umat manusia, adalah melalui (atau
disebabkan) Al–Quran. Sungguh ajaib! Tetapi memang demikianlah
sebenarnya.

 

 

AR : Apa yang ditulis oleh HA diatas mengingatkan saya pada apa yang pernah ditulis pula oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya mengutip pendapat Ibnu Abbas sebagaimana terdapat dalam buku Penyimpangan dalam penafsiran al-Qur’an Karya DR. Muhammad Husein Adz-Dzahabi terbitan CV. Rajawali hal 4 :

 

Ada 4 tema pokok dalam tafsir al-Qur’an :

1. Yang dapat dipahami oleh orang yang menguasai bahasa Arab

2. Yang dapat dipahami oleh orang bodoh

3. Yang dapat dipahami oleh para ulama ( orang berilmu -AR )

4. Yang dapat dipahami oleh Allah semata

 

Nah, dalam hal ini maka mau tidak mau saya harus menggolongkan HA kedalam kelompok orang yang ke-2, apalagi al-Qur’an sendiri juga jelas mengatakan :

 

 

a026.png

 

Dengan itu banyak orang yang telah tersesat, dan dengan itu (pula) banyak orang yang mendapat petunjuk. Tidak tidak ada yang tersesatkan kecuali mereka yang fasik, -Qs. al-Baqarah 2:26

 

Seseorang bisa saja hapal al-Qur’an 30 Djuz dengan baik, fasih dan tepat dalam hal tajwid dan seseorang itu pun bisa saja pula hapal ribuan hadis yang ada dalam berbagai kitab para perawi tetapi itu tetap bukan jaminan bahwa dia mampu memahami al-Qur’an secara benar, toh se-ekor beo pun bisa diajari menghapal sesuatu tanpa sang beo itu sendiri harus mengerti apa yang dia hapalkan.

 

Demikian.

 

HA :

 

Saya mendapatkan kebenaran ajaran Kristen ini, sama sekali bukanlah
disebabkan kepandaian atau kecerdasan mempelajari Alkitab terlebih
dahulu. Juga tidak disebabkan penerangan para pendeta atau penginjil
manapun. Hal ini dapat dimaklumi, karena saya sendiri tadinya adalah
seorang Muslim, anggota/pengurus Muhammadiyah, mubaligh Islam. Dalam
tahun 1947 saya adalah salah seorang pelopor/Ketua Kongres Um-mat Islam
se- Kalimantan di Amuntai, bersama-sama dengan saudara K.H. Idham
Chalid. Dalam tahun 1950-51, adalah sebagai Imam Tentera Pusroh Islam
Angkatan Darat di Banjarmasin dengan pangkat Letnan-II. Juga sebagai
penulis Muslim dalam pelbagai majalah Islam antara lain: Mingguan Adil
di Solo, Mingguan-Risalah Jihad di Jakarta, Mingguan Anti Komunis di
Bandung, dan lain-lain.

 

AR :

 

Sekali lagi saya cukup kagum dengan pengalaman organisatoris HA, tetapi sayang semua itu tidak di-ikuti dengan kedewasaan berpikir maupun ilmu yang luas, karena pada akhirnya dia harus mencampakkan akal sehatnya dibalik semua doktrin yang sama sekali tidak bisa dijelaskan oleh akal sehatnya itu sendiri. HA hanya menjatuhkan dirinya kelembah kebodohan dibalik semua pergaulannya dengan orang-orang yang berilmu agama tinggi. Tidak ada beda dengan fenomena Abu Jahal dimasa kenabian dahulu.

 

HA :

 

Lebih dari itu, saya adalah juga salatl seorang
Anti Kristen yang agresif sejak tahun 1936 di Muara Teweh Barito);
hingga tahun 1962 termasuk salah seorang bersimpati untuk mendirikan
Negara Islam di Indonesia, yang sekaligus bermakna Anti Kristen.

 

AR :

 

Mendirikan negara Islam bukan berarti harus anti kepada agama Kristen, inilah yang salah dari pemikiran seorang Hambran Ambrie !

Betapa picik dan bodohnya pemikiran seperti itu, HA jelas bukan orang yang berilmu dalam masalah ini, baginya Islam itu memang menakutkan bagi pemeluk ajaran lain diluarnya. Sekali sebuah negara sudah bersyariatkan Islam maka yang lain harus ikut kepada Islam, semuanya harus tunduk pada syariat Islam.

 

Tidak demikian !

 

Dijaman Nabi dan ke-4 khalifah beliau dahulu, negara Madinah bisa berdiri dengan bersyariatkan Islam tanpa harus memberangus ajaran agama lain yang ada ditengah masyarakat. Ditengah mereka hidup ajaran Yahudi, ditengah mereka juga hidup ajaran Nasrani, Majusi dan lain sebagainya. Sebagai sebuah perbandingan saja, ketika Yerusalem ditaklukkan oleh Persia dibawah pimpinan Choroes II pada tahun 614 semua gereja dihancurkan oleh mereka dan semua rakyat ditindas dengan kejam tetapi ketika tahun 637 pasukan Umar bin Khatab menaklukkan kekuasaan Roma dan merebut Yerusalem, semuanya terjadi dengan damai bahkan antara uskup Yerusalem dan Umar terjalin persahabatan yang baik. Hak rakyat disana baik yang muslim atau kafir dilindungi, orang Yahudi dan Nasrani bebas melakukan syariat mereka sementara Muslim pun demikian.

 

HA :

 

Karena itu tidal lah mungkin sama sekali bagi saya untuk dapat memahami
isi Alkitab itu secara baik dan wajar. Alkitab, memang sudah saya miliki
sejak tahun 1936, Saya membaca Alkitab bukanlah untuk mencari
kebenarannya, melainkan hanya untuk mencari ayat-ayat .yang dapat
menunjang pendirian saya sebagai seorang Muslim yang Anti Kristen, untuk
menyerang iman Kristen itu sendiri.

 

AR :

 

Apa yang sudah dilakukan oleh Sdr. Hambran Ambrie terhadap Bible atau alkitab sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang alim atau orang yang berpendidikan tinggi sangat tidak sesuai dengan pengalaman organisatorisnya yang tinggi, sebab Islam sendiri mengajarkan agar kita harus bisa menata jiwa ini dengan bersih, baik sangka ( Khusnudzzon ) serta bersikap obyektif ( adil, jujur, terbuka ) baik kepada dirinya sendiri maupun orang lain termasuk kepada mereka yang berseberangan keyakinan dengannya.

 

Sikap HA terhadap alkitab dengan mencari-cari pembenaran disana atas klaim-klaim Islam maupun tujuannya menyerang keyakinan orang lain yang berimplikasi kepada kepribadiannya malah meragukan otoritas kebenaran mutlak dari al-Qur’an dan ini tidak bisa dibenarkan.

 

“Kebenaran itu adalah dari Tuhan-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Qs. Al-Baqarah 2:147)

“Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka manfa’atnya bagi diri sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya.”
(Qs. Al-An’am 6:104)

HA :

 

Sampai berumur 40 tahun, saya adalah penghujat Jesus Kristus. Saya tidak
percaya bahkan menolak ke-Ilahi-an Jesus Kristus itu sebagai Anak Allah,
Tuhan dan Juruselamat. Pelbagai cara yang sudah saya lakukan untuk
menghinakan menolak kebenaran Jesus Kristus.

 

AR :

 

Kenapa harus menghujat keyakinan orang lain, sesembahan orang lain ?

Bukankah al-Qur’an sendiri sudah berpesan :

 

a1082.png

 

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. – Qs. 6 al-An’aam : 108

 

Semakin jelas kepada kita seberapa jauh sebenarnya kedalaman ilmu seorang Hambran Ambrie mengenai ajaran Islam …

 

Menolak ilahiah Isa al-Masih bukan berarti memperbolehkan kita untuk melakukan hujatan kepada mereka yang menerima ketuhanannya, ini yang harus di-ingat oleh setiap Muslim.

 

Penolakan kita itu menyangkut prinsip keyakinan yang bisa dibuktikan dengan logika, fakta maupun kontekstual dogma yang menuntut kita untuk tetap bersikap bijak pada orang lain dalam bentuk : inilah keyakinanku dan terserah kepadamu apakah mau ikut keyakinanku atau mau tetap dengan keyakinanmu sebab untukku apa yang kupahami dan untukmu apa yang kamu pahami … lakum dinukum waliyadin.

 

 

HA :

 

Tetapi begitu besar Kasih Allah, pada suatu saat saya dicari, dijemput dan diselamatkan.

 

AR :

 

Jangan terlalu mudah menyatakan diri telah terselamatkan sebelum hal itu bisa dibuktikan secara benar, sebab dunia ini penuh hal yang nisbi dan menipu, kita perlu parameter yang jelas untuk bisa dijadikan ukuran dalam hal validitas segala sesuatunya.

 

1 Telasonika 5:21 : “Hendaklah segala perkara kamu uji dan yang baik kamu pegang.”

 

HA :

 

Dalam tahun 1962, dikala saya sedang menyusun sesuatu naskah khotbah,
saya membaca ayat Quran s.AIMaidah 68, yang berbunyi: “Qul ya ahlal
kitabi lastum’ala sya-in hatta tuqiemut taurata wa! injil wa ma unzila
alaikum min rabbikum.”

artinya: “Katakanlah! hai Ahli Kitab. Kamu tidak pada agama yang
sebenarnya, kecuali apabila kamu turuti Taurat dan Injil, dan apa-apa
yang diturunkan kepadamu dari pada Tuhanmu”.

Ayat ini, bukanlah untuk pertama kali itu saya baca, melainkan sudah
ratusan kali. Tetapi pada kali terakhir itu, Allah telah membisikan
dalam roh-jiwa saya, bahwa yang dimaksudkan “Taurat dan Injil” dalam
ayat Quran itu adalah Taurat-lnjil yang ada terdapat dalam Alkitab atau
Bible sekarang ini.

 

AR :

 

Sebelum membahas mengenai Taurat dan Injil mana yang dimaksud disini, harus terlebih dahulu diketahui bahwa perintah ini ditujukan bagi kaum Yahudi dan Nasrani bukan umat Muslim.

 

Menarik ayat itu mengatakan bahwa mereka tidak berada pada kebenaran sebelum mengikuti apa yang tercantum didalam Taurat dan Injil … berikut saya buktikan sedikit maksud ayat ini :

 

Apa salah satu perintah dari hukum Musa ?

 

“Jangan ada padamu Allah lain dihadapan-Nya, jangan membuat untukmu patung yang menyerupai apapun yang ada dilangit diatas atau yang ada dibumi dibawah atau yang ada didalam air dibawah bumi; Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Allah itu Maha Pencemburu.”

Demikian bisa anda jumpai dalam Kitab Keluaran pasal 20 ayat 3 sampai dengan ayat 5; hal senada juga bisa anda jumpai dalam Ulangan 6 ayat 4, Yesaya 43:10-11, Yesaya 44:6, Yesaya 45:18, Ulangan 4 ayat 35; Keluaran 8:10, Samuel II:7:22, Raja-raja I:8:23; Tawarikh I:17:20, Mazmur 86:8, Mazmur 113:4, Hosea 13:4; Zakharia 14:9.

Bahwa anda dilarang keras untuk mengadakan Tuhan-tuhan lain selain daripada Allah yang berkuasa atas penjuru langit dan bumi tanpa sekutu, Dia-lah yang awal dan yang Akhir, tidak ada bersama-Nya Tuhan lain.

 

Tetapi benarkah kaum Ahli Kitab sekarang sudah menerapkan isi Taurat diatas ?

Fakta : umat Nasrani ( salah satu dari ahli kitab ) justru mengambil sosok Isa al-Masih sebagai Tuhan tandingan Allah, yang dipuja, dipuji, disembah, dimintai pertolongan ….

 

Dari sisi Injil, apakah benar umat Nasrani juga sudah menerapkan isinya ?

 

“Jawab Jesus: Hukum yang terutama adalah : Dengarlah wahai orang Israel, Tuhan kita adalah Tuhan yang Esa.” (Markus 12:29)

Jesus secara jelas dan gamblang sekali menyatakan bahwa “Tuhan Kita”, yaitu Tuhan dari diri Jesus sendiri dan Tuhan semua orang Israel itu adalah sama, yaitu Tuhan yang Esa, tidakkah kaum Ahli Kitab mau kembali merenung betapa Jesus pun mengakui status kehambaannya dihadapan Allah itu sendiri ? Lihat secara baik-baik, Jesus tidak mengatakan bahwa dirinya itulah Tuhan orang Israel.

 

Tetapi fakta : justru umat Nasrani menganggap Jesus adalah Tuhan atau anak Tuhan !

Jadi sesuai ayat yang dibaca oleh Hambran Ambrie tadi, mereka belum berada dalam kebenaran disisi Allah.

 

Mengenai apakah Alkitab sekarang asli atau bukan nanti kita akan coba bahas dan buktikan dibagian lainnya … InsyaAllah.

 

HA :

 

Pikiran saya sejak dahulu mengatakan, bahwa Taurat dan Injil yang
dimaksudkan oleh Al-Quran itu secara phisik sudah tidak ada lagi, dan
isinya sekarang telah diintisarikan dalam Al-Quran. Sedang Taurat Injil
yang ada dalam Alkitab sekarang ini, adalah yang palsu isinya sudah
diorak-arik oleh tangan manusia, dikurangi dan ditambah dan lain-lain.

Roh jiwa saya selalu mengatakan bahwa Taurat Injil itu adalah yang
terdapat dalam Alkitab sekarang benar adanya.
Pikiran/otak saya selalu mengatakan: tidak yang ada sekarang adalah
Taurat–Injil palsu.
Roh jiwa saya mengatakan: bahwa Taurat-Injil yang dimaksudkan itu adalah
yang terdapat dalam Alkitab sekarang .
Pendapat pikiran/otak saya sekarang bertolak belakang dengan kata hati
rohjiwa saya. Karenanya saya menjadi ragu, bimbang, mana yang benar.

Untuk mendapatkan ketentraman, maka masalah ini saya bawa dalam
sembahyang tahjud (sembahyang tengah malam) dengan doa istiharah, yaitu
suatu doa kepada Allah memohon agar diberi petunjuk tanda-tanda
kebenaran, supaya Allah pilihkan buat saya mana yang benar satu diantara
dua macam pendapat ini.

Saya berdoa demikian:
“Ya Allah, khalik langit dan bumi; Allah-nya orang-orang Islam,
Allah-nya orang-orang Kristen, Allah-nya orang-orang Budha, Allah-nya
bulan bintang, Allahnya lembah dan gunung-gunung, Allah semesta alam,
tunjukkan tanda-tanda kebenaran Tuhan yang disebutkan dalam Quran ini
mengenai Taurat dan Injil itu. Apakah yang dimaksud itu memang Taurat
dan Injil yang sudah tidak ada, yang sudah disarikan dalam Al-Quran.
Jika memang demikian, saya mohon agar Tuhan teguhkan hatiku untuk tidak
mempelajari Alkitab itu. Tetapi kalau sekiranya yang dimaksudkan “Taurat
Injil” dalam Quran itu, adalah memang kebenarannya itu ada di dalam
Alkitab (Bible) sekarang ini, saya mohon kiranya Tuhan bukakan hatiku
untuk lebih bergairah membaca mempelajari Alkitab itu secara jujur dan
baik.”

Saya tidak meminta pilihkan kepada siapa-siapapun, tidak kepada pendeta,
juga tidak kepada alim-ulama Islam juga tidak kepada kawan-kawan saya
yang cerdas pandai, tetapi saya minta dipilihkan oleh Allah Yang Maha
Tahu dan Maha Benar itu saja, agar dalam hal ini saya mendapatkan satu
pilihan yang benar-benar ”meyakinkan kebenarannya”, menurut kehendak
Allah itu sendiri.

 

AR :

 

Kita hanya bisa sampai kepada Tuhan apabila jalan yang kita tempuh juga benar, dan untuk tahu benar tidaknya maka gunakan akal untuk menganalisanya, apabila sesudah dianalisa dengan akal kebenaran itu tertolakkan maka bisa jadi dia bukan kebenaran sejati.

Akal diberikan oleh Allah untuk berpikir, membedakan mana yang salah dan mana yang benar.

Tanpa akal, manusia tidak lebih dari sekedar hewan yang tidak pernah memikirkan benar salah tindakannya bahkan mungkin jauh lebih sesat daripada itu.

Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul kedunia untuk memberikan petunjuk kepada manusia agar memilih jalan kebenaran, dan petunjuk Allah itu hanya bisa diterima oleh orang-orang yang mau untuk berpikir tentang hakikat kebenaran sejati. Dan berpikir yang benar didalam penerimaan tersebut adalah berpikir yang tidak hanya merenung atau asal-asalan, namun berusaha untuk mengerti, mempelajari, menyelidiki, memahami serta mengamalkan.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (Qs. al-Israa’ 17:36)

Menisbikan peranan akal pikiran untuk menggapai keimanan sama sekali tidak layak kita terapkan, sebab hal ini akan menyamakan kedudukan kita dengan para penyembah berhala yang tidak pernah mau tahu tentang benar salahnya keimanan mereka, yang jelas mereka harus menerima dan yakin.

Jika sudah begini … untuk apa agama diturunkan ? Untuk apa para Nabi dan Rasul diutus ? Untuk apa Tuhan menciptakan manusia ? Untuk apa Tuhan melimpahkan akal ? serta untuk apa Tuhan menjadikan kebenaran dan kebatilan ?

 

Hidup ini penuh dengan hukum-hukum keseimbangan, coba anda pelajari apa saja, pasti tidak akan anda dapati kepincangan dalam perputaran hukum-hukum
alam tersebut.

Begitu pula dengan hal keimanan kepada Allah, mesti diraih dengan keseimbangan, yaitu antara akal (rasio logika + ilmu pengetahuan + dogma) dan hati ( pertimbangan ).

Kebenaran adalah sesuatu yang bernilai absolut, mutlak.

Namun seringkali kebenaran ini menjadi relatif, bergantung kepada bagaimana cara masing-masing orang memberikan arti dan penilaian terhadap kebenaran
itu sendiri, sehingga itu pula kebenaran sudah menjadi sesuatu yang bersifat subjektif.
Bahwa untuk menjalankan syariat suatu agama haruslah dimulai dengan keimanan dahulu adalah sesuatu hal yang tidak dapat terbantahkan.
Keadaan beriman sesorang umumnya berada dalam kondisi “jadi” dari seseorang itu (sebab ini akan kembali dari lingkungan mana ia dilahirkan).
Namun seiring dengan bertambah dewasanya cara kita berpikir, sangat pantas sekali apabila kita mencoba mempertanyakan sejauh mana kebenaran dari keberimanan yang kita peroleh dari kondisi ‘jadi’ tadi.
Tuhan memberikan kita akal untuk berpikir, untuk menjadi cerdas bukan untuk jadi figuran dan sekedar ikut-ikutan.

Karenanya kita berdua tidak bisa mengatakan kondisi beriman tersebut ada karena lewat iman.
Pernyataan ini tertolakkan dalam dunia ilmiah dan bertentangan dengan penalaran saya selaku manusia yang fitrah.

Menurut saya, sebenarnya seseorang memperoleh keimanannnya lewat dua jalur, ada yang lewat akal dan ada yang lewat nafsu (nafsu dalam hal ini adalah
persangkaan atau praduga manusia).

Jika iman diartikan percaya, maka percaya juga bisa lewat akal atau persangkaan.

Misalnya apabila kita hendak melewati sebuah jembatan dari besi, tentu kita akan enteng saja melewatinya, karena persangkaan kita jembatan tersebut sudah kuat. Tetapi bila yang dilewati adalah jembatan dari kayu dan tali, paling tidak kita akan mengecek kekuatan jembatan tersebut terlebih dahulu (menginjak-injak dari pinggir terlebih dahulu dsb )
Dalam beragama pun demikian, terdapat orang-orang yang mencapai iman dengan akal, dan ada yang dengan persangkaan.
Misalnya yang dengan persangkaan adalah seorang islam yang tidak mampu menjawab pertanyaan ” Mengapa kamu memilih Islam ?”, “Darimana kamu kamu tahu bahwa Islam itu benar ?”, ” jika orang tua anda bukan Islam kira-kira kamu Islam tidak ?”, atau bisa juga “mengapa kamu harus menjadi Kristen ?”, “Darimana kamu yakin bahwa Kristen itu benar ?”
Jadi bagi saya, Iman terhadap sesuatu itu tetap harus dibuktikan dulu apakah memang pengimanan tersebut sudah benar atau belum. Dan jalan untuk membuktikan kebenaran akan keimanan ini salah satunya dengan mengadakan penelaahan terhadap iman itu sendiri dengan mengadakan penyeimbangan dengan akal pikiran sebagai suatu anugerah dari Allah bagi manusia.
Manusia menurut sejarah al-Qur’an telah diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang mulia hingga malaikat sekalipun disuruh tunduk, hormat terhadap makhluk bernama manusia ini. Manusia diciptakan berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya, keutamaan manusia yang paling sering disinggung oleh banyak orang dan bahkan juga al-Qur’an adalah dilimpahkannya anugerah akal sebagai alat untuk berpikir dan memberikan jalan baginya didalam upaya mencari kebenaran Allah, yaitu dzat yang menjadi sumber dari kebenaran itu sendiri.
Sebagaimana yang seringkali saya tuliskan, seorang manusia tidak bisa memilih, di negeri mana ia dilahirkan, dan siapa orang tuanya. Yang ia dapatkan hanyalah kenyataan, bahwa di negerinya, kebanyakan orang memeluk agama atau keyakinan (ideologi) tertentu, dan orang tuanyapun mendidiknya sejak kecil dengan suatu pandangan hidup tertentu.
Namun hampir setiap manusia yang normal ternyata memiliki suatu naluri (instinkt), yakni suatu saat akan menanyakan, apakah keyakinan yang dianutnya saat itu benar atau salah. Dia akan mulai membandingkan ajaran-ajaran agama atau ideologi yang dikenalnya. Bagaimanapun juga keberhasilan pencariannya ini sangat bergantung dari informasi yang datang ke padanya.
Kalau informasi pengganggu (noise) yang datang kepadanya terlalu kuat, misalnya adanya teror atau propaganda yang gencar dari pihak-pihak tertentu, bisa jadi sebelum menemukan kebenaran itu, ia sudah berhenti pada keyakinan tertentu yang dianggapnya enak (meski sebenarnya sesat).
Kebenaran suatu ajaran bisa direlatifkan dengan mudah bila hanya didasari oleh suatu asumsi. Dan kenyataan, hampir setiap pengertian buatan manusia adalah relatif. Para filosof mengatakan, bahwa suatu definisi hanyalah konsensus dari beberapa orang pada saat tertentu di tempat tertentu yang memiliki pengalaman yang mirip.
Maka tak heran, bahwa untuk beberapa pengertian yang sering kita dengar saja (seperti “demokrasi”, “hak asasi manusia”, dll), antar bangsa (dengan latar belakang kultur yang berbeda) dan antar generasi (dengan pengalaman sejarah yang berbeda), bisa berbeda pula pemahamannya.

InsyaAllah bersambung …

Wassalam.,

%d bloggers like this: