Pemesanan langsung kembali dibuka

Buku Rekons & JNP

Bersama ini di informasikan bahwa per-26 Pebruari 2008, pemesanan secara langsung buku “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih” dan buku “Jejak Nabi Palsu” kembali dibuka.

Untuk yang ingin memesan silahkan sms kenomor 0816.355.539, sebutkan nama dan alamat anda serta jumlah buku yang dipesan dan buku apa saja.


Jawaban yang akan diberikan adalah harga buku dan ongkos kirim serta nomor rekening untuk proses transfer dana.

Kesempatan ini diberikan secara terbatas sesuai dengan jumlah stock yang ada pada penulis.


Salamun ‘ala manittaba al Huda

ARMANSYAH
http://armansyahskom.wordpress.com
http://www.penulis-indonesia.com/armansyah/blog/

Buah hatiku sembuh !

Alhamdulillah,

Senang rasanya hati ini melihat kedua anak yang saya kasihi sudah kembali sehat seperti sedia kala. Mereka bisa berlari-lari kecil, saling bermain, menyibukkan diri dengan aktivitas-aktivitas lucu setiap harinya. Alhamdulillah.

Kesehatan memang sebuah karunia yang tidak akan bisa dinilai harganya.

Beberapa hari yang lalu, mereka berdua panas dan batuk-batuk … kasihan sekali melihat mereka.
Mata merah, tubuh lemas, no spirit and no activity.
Sebagai pegawai swasta dengan hasil pas-pasan, fasilitas Askes menjadi begitu berarti.
Namun ternyata obat askespun tidak banyak membantu … Subhanallah.

Begitu cek saldo tabungan melalui sms banking, Alhamdulillah, ternyata masih ada sisa uang direkening.
Malam itu, 3 malam lalu, akhirnya “men-tega-kan” diri untuk membawa sikecil berobat kedokter non-askes.

Biaya obat dan dokter praktis dibayar penuh.
That’s a risk.

Expensive, yes, setidaknya for me and for us.
Tapi, ini untuk anak-anak, untuk kesembuhan mereka.

Alhamdulillah, setelah mendapat penanganan dokter tersebut dan asupan obatnya, mereka kembali bersinar dan kembali menjadi boneka-boneka yang lucu, dan manja … Alhamdulillah, ya Robb. Segala puja dan puji hanya untuk-Mu, tanpa sekutu. Maha Gagah Engkau

That’s my true story …
Berbicara mengenai Askes, ada yang punya pengalaman tertentu yang mungkin menarik untuk dibagi disini ?
Juga tentang kesehatan … ?

Silahkan …

Me and My Daughter

Nafsu (Hmmm…!)

Nafsu
Oleh : Armansyah

Dari sejak awal manusia diciptakan, mereka sudah dibekali nafsu. Bahkan ketika merekapun hendak memulai periode “penciptaan ulang” generasi selanjutnya, itupun diawali dengan nafsu.

Anda boleh berpikir bebas mengenai artikel saya ini, tetapi inilah faktanya, semua dihadirkan dengan nafsu.
Tidak perduli sebaik atau sebejat apapun kelakuan kita, semuanya akan kembali kepada nafsu itu tadi.
Karena, nafsu terbagi atas dua macam :

1. Fujuroha
2. Taqwaha

Nafsu Fujuroha adalah nafsu untuk berbuat menyimpang atau negatip sedangkan Nafsu Taqwaha adalah nafsu untuk berbuat kebenaran atau positip.

Dasarnya adalah :

wa nafsin wama sawwaha, fa alhamaha fujuroha wa taqwaha -Qs. Asy-Syams : 7-8

Dan nafs serta penyempurnaannya, diwahyukan kepadanya kefasikan serta ketakwaan …

Pada penjabarannya, kedua nafsu tadi bisa terpecah lagi menjadi banyak pembagian dan percabangan. Tetapi yang jelas pada akhirnya yang menjadi penentu dari penilaian dimata Tuhan adalah Nafs yang muthmainnah. Yaitu nafsu yang sudah berhasil melalui banyak fase dalam menuju pendominasian keseharian kita, dimana setiap gerak dan langkah hanya terpusat pada sistem ridhatillah atau keridhoan Allah.

Sebaliknya orang yang melakukan perbuatan buruk adalah orang yang berpusat pada sistem fujuroha, termasuklah yang senantiasa bersikap ingkar, membantah, berbuat zalim, berbuat sia-sia dan sebagainya.

Ketika dua orang lawan jenis melakukan persetubuhan dalam konsep suka sama suka, cinta sama cinta maka saat itu mereka sudah tenggelam dalam nafsu. Tetapi nafsu apakah yang demikian itu ? Bisakah dikelompokkan kedalam nafsu yang taqwaha ataukah kedalam nafsu fujuroha ?

Ketika seseorang memutuskan diri untuk menonton suatu pertunjukan yang digelar disebuah teater atau bioskop, maka inipun pada hakekatnya sedang digeluti oleh nafsunya. Tetapi pertanyaannya tetap sama, nafsu apakah yang demikian itu ? Bisakah dikelompokkan kedalam nafsu yang taqwaha ataukah kedalam nafsu fujuroha ?

Bila nafsu itu adalah taqwaha, maka apa kira-kira kriterianya ? sejauh apa batasan minimal serta maksimal sebuah perbuatan sehingga dapat dikelompokkan kedalam perbuatan yang dibenarkan (bukan membenarkan) ?

Sebaliknya lagi bila nafsu itu fujuroha maka pertanyaannya juga sama … mana standar-standar penetapannya dalam ukuran grafik minimal dan maksimal pada sumbu X dan Y ?

Islam lalu mengajarkan :

Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun berumpun dan yang tidak berumpun serta tumbuhan dan ladang yang berbeda hasilnya, begitupun yang berminyak dan yang bijinya bersusun, yang serupa dan yang tiada serupa. Makanlah buahnya bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya dihari memetik hasilnya (sebagai sedekah); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-An’am 6:141)

Sebaik-baik agama ialah haniffiyat al-samhah (yaitu semangat mencari kebenaran yang lapang, toleran, tidak sempit, tanpa kefanatikan dan tidak membelenggu jiwa) – Riwayat Ahmad

Pada kesempatan lain, Nabi mengajarkan pada Utsman ibn Mazh’un : “Sesungguhnya matamu punya hak atas engkau, dan keluargamu punya hak atas engkau! Maka sembahyanglah dan tidurlah, puasalah dan makanlah!”

Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. 7:31)

Maksud terpenting yang dapat dipetik dari ajaran diatas adalah bahwa ajaran Islam hendak menempatkan manusia pada posisi kemanusiaannya. Bahwa manusia itu bukan malaikat, yang sama sekali tidak memiliki kecenderungan bendawi (makan, tidur, berhubungan seksual atau kesenangan lainnya termasuk nonton, main games dan seterusnya).

Ada batasan yang diberikan, yaitu jangan berlebih-lebihan.
Tunaikan haq masing-masing, dalam konteks modern sekarang ini batasan lebih dan kurang ini memang kadang terasa bias antara satu orang dengan orang yang lainnya. Banyak faktor yang kemudian harus sama-sama dipertimbangkan secara bijak dan tidak dapat digeneralisir.

Haq mata untuk menonton harus di-imbangi juga dengan niat awal dari menonton itu sendiri, apakah just for having fun ? penasaran ? mencari ilmu ? dan seterusnya …

Haq kelamin untuk bertemu kelamin … juga diatur dengan sistem pernikahan yang legal serta niat awal persetubuhan tersebut, apakah sekedar memuaskan fujuroha atau memang untuk mencapai taqwaha (sebab bukankah penyalurannya pada tempat yang dibenarkan menjadi pahala ?)

Stop.
Jangan tegang …
Marilah kita simak ayat berikut : Walaa uqsimu bin nafsil lawwamah (Qs. al-Qiyamah ayat 2)

Manusia punya kecenderungan untuk mengalihkan nafsunya pada pertobatan, jadi bila kita merasa lebih banyak digiring oleh nafsu fujuroha ketimbang taqwaha yang akan mengantarkan kita pada muthmainnah maka segeralah perbaiki niat. Segera salurkan haq yang ada secara proporsional dan tepat sasaran.

Hidup ada haq dan kewajiban, bersedekah adalah kewajiban kita kepada orang yang membutuhkan bantuan rezeki sementara membayar sesuatu untuk kesenangan jiwa maupun pendidikan batiniah merupakah haq jiwa didalam kehidupan ini. Islam tidak mengajarkan konsep rahibiyah atau sufiesme, tetapi Islam mengajarkan keseimbangan.

Mohon maaf bila artikel ini dirasa kurang berkenan.

Yaa ayya tuhannafsul muthmainnah. Irrji’ii ilaa Rabbiki radhiyatan mardhiyah. Fad khulii fi’ibaadi. Wad khuli jannatii”.

———–

On Fri, Feb 22, 2008 at 2:17 PM, Liana <lianawati_snd@yahoo.co.id> wrote:

Mas, tanya sedikit ya?
Masih tentang “menonton” 🙂
– Secara manusiawi terkadang aku sering terhanyut kedalam imajinasi
terutama ketika menonton sebuah film roman/percintaan (bukan karena
adegan tapi alur ceritanya)seperti dengan cara memposisikan diri
sendiri dalam alur cerita tsb. Apakah ini yang disebut kecenderungan
fujuroha?

Jawab :

Manusia telah dibekali fitrah baik dan buruk, itu satu hal yang pertama harus kita ingat.
Orang lalu menafsirkan makna fitrah sebagai kebaikan semata, padahal fitrah itu dalam konsepsi saya adalah kondisi default manusia (apa adanya).

Memang hadis Nabi menyebut semua anak terlahir menurut fitrahnya dan ini tidak bertentangan dengan apa yang saya pahami. Hadis itu punya lanjutan kalimat yang kurang lebih isinya, “orang tuanyalah yang menjadikannya muslim, nasrani atau majusi”, pada kalimat lanjutan tersebut esensi minor atau mayor yang akhirnya mempengaruhi nafsu manusia pada tahapan lebih lanjut. Sedangkan fitrah itu adalah kondisi awal sebagaimana dinyatakan Allah sejak penyempurnaan Nafs dengan Fujuroha dan Taqwaha.

Kesenangan terhadap sesuatu yang kita anggap menarik, merangsang, memikat dan lain sebagainya adalah bagian dari kecenderungan Nafs secara total. Tinggal lagi tarikan mana yang menyeret daya senang tersebut pada diri kita, apakah fujurohanya atau taqwanya.

Ketika main games F1 diconsole Playstation sebagai misalnya, saya sering memposisikan diri sebagai orang yang membawa langsung mobil tersebut didunia nyata. Apakah ini salah ? saya rasa tidak. Secara kejiwaan, usaha peniruan, usaha untuk memposisikan sama antara diri kita dengan sesuatu diluar diri kita yang menimbulkan daya ketertarikan merupakan hal yang wajar dan termasuk instink alamiah. Sama misalnya ketika anak saya menyebut dirinya sebagai Ultraman, sebagai Spiderman atau man-men-man-men sejenis yang merupakan hasil pikatan sang tokoh yang kita saksikan.

Bagaimanapun, manusia memiliki panca indera yang punya fungsi dua arah dan ini tidak bisa dipungkiri. Ada daya tangkap dan ada daya tarik. Saat misalnya Mbak Liana menonton film lalu memposisikan diri sebagai sang tokoh, maka daya tangkap panca indera Mbaklah yang sedang bekerja. Tinggal lagi sebatas apa dan sejauh mana kita akhirnya memposisikan “double characters” tadi pada diri kita, inilah yang penting.

Saat seseorang akhirnya memilih untuk mendominasi secara totally kepada kepribadian orang lain, maka ditinjau dari sudut kedokteran ini adalah penyakit (yaitu kepribadian ganda alias gangguan identitas disosiatif alias schizofrenia). Pernah nonton film Mr. Brooks yang diperankan Kevin Kostner ?

– Secara manusiawi lagi aku juga pernah merasa bahwa menonton tidak
sekedar memuaskan batinku tapi juga memanjakan mata apalagi ketika
melihat pemeran prianya menarik misalnya. Apakah ini juga termasuk
kecenderungan fujuroha?

So, Bagaimana dengan pengalaman Mas2 ketika menonton dan melihat
pemeran wanitanya?

Afwan & Wasalam.

Menonton pada hakekatnya sama seperti memandang, ada istilah dari mata jatuh kehati.
Tugas hati kadang tidak konsekwen … tergantung apa yang dipandang, kecenderunganpun praktis berubah-ubah, kadang Fujuroha kadang Taqwaha. Itulah jawaban saya.

It’s natural of human being, Allah mengajarkan kepada kita doa yang indah :

Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-berlebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (QS. Ali Imran 3:147)

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. 7:23)

————–

2008/2/22 Dani Permana <adanipermana@gmail.com>:

Sama tanya dikit saja:
Apakah Nonton di bioskop termasuk kedalam hal ini
membayar sesuatu untuk kesenangan jiwa maupun pendidikan batiniah merupakah haq jiwa didalam kehidupan ini

Apakah pendidikan batiniah diperoleh dengan menonton?


Pendidikan batiniah adalah istilah lain dari proses pembelajaran.

Belajar dapat dimana saja dan dari apa saja, bahkan dari hal yang burukpun kita bisa memperoleh pelajaran tentang hal-hal yang baik.

Menonton, membaca, berdiskusi, memandang langit, bermain sesuatu permainan adalah bentuk-bentuk maupun metode dari pembelajaran yang bisa dilakukan.

——–

%d bloggers like this: