Tak perlu menggugat Jodha Akbar!

logo_jodha_akbar_india

Beberapa waktu terakhir, saya sering membaca banyaknya pihak-pihak tertentu yang memprotes keberadaan mini seri Jodha Akbar yang tayang di salah satu televisi swasta.  Kisah tersebut dianggap menyudutkan Islam.

Sebenarnya jika saya melihat sejarah aslinya, maka menurut saya pribadi tak perlu ada yang harus di protes disana. Tokoh Jalal atau aslinya Jalāl ud-Dīn Muhammad Akbar pada faktanya bukanlah penganut Islam yang benar. Dia bahkan membentuk satu agama baru yang merupakan perpaduan antara Islam, Hindhu, Zoroaster dan Jainism yang disebut sebagai Din-i-Ilahi (cek: http://en.wikipedia.org/wiki/Din-e_Ilahi).

Kisah Jalal adalah kisah tentang seorang tokoh yang memang pernah ada dalam sejarah dunia di India. Kita tidak dapat menafikannya atau menolaknya. Cukup jadikan pelajaran saja apa yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, sebaliknya mana yang baik dari tokoh tersebut, tidak pula haram untuk kita ambil hikmahnya.

 

Demikian ….

Palembang Darussalam,

 

Armansyah

 

 

 

Advertisements

Rekaman Ceramah di Majelis Ta’lim: Salam

Silahkan di unduh jika berkenan… judulnya: “Salam”.

Ceramah saya di salah satu majelis ta’lim

Link:

https://db.tt/vxKsGH2o

Format MP3, lama: 25 menit (download langsung dari akun Dropbox saya, tidak pakai survey atau iklan apapun).

Sedikit sinopsis:

Banyak dari kita umat Islam yang tidak mengerti tentang arti salam kita sendiri, akhirnya kita suka-suka dalam menggunakan salam. Ada yang menyingkatnya, ada yang menjadikannya ucapan “slang” dan seterusnya.

Semoga bermanfaat.

 

Antara konsep Khilafah dan Pilkada tak langsung

Oleh : Armansyah

Ditulis di TL FB, 12 September 2014

Berbicara tentang rencana kembalinya pemilihan kepala daerah oleh anggota DPRD, pada hakekatnya saya sepakat dan setuju. Hal ini jika kita tinjau dari sistem Khilafah didalam Islam maka konsep pilkada tak langsung itulah yang lebih mendekatinya, walaupun sudut pandang dan dasar pijakannya tetap saja jauh berbeda, dimana yang satu berpijak pada syari’at Islam dan satunya lagi pada konsep demokrasi.

Pada sistem khilafah, seorang Khalifah dipilih berdasarkan musyawarah diantara para fuqaha, kurang lebih mirip-mirip anggta dewan tertinggilah ya. Dalam konsep ini masyarakat atau umat tidak terlibat secara langsung dalam prosesnya tapi setelah kemufakatan terjadi diantara para fuqaha itu maka umat wajib untuk sami’na wa-atho’na, taat. Meski demikian, sesuai dengan contoh yang ada pada masa Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib, jika ada diantara masyarakat yang menolak berbaiat, mereka tidak dipaksa apalagi dihukum, kecuali bila mereka pada akhirnya membuat kekacauan didalam masyarakat.

Pada konsep khilafah, wilayah faqih tentu tidak dapat sembarang orang memasukinya, Tidak mungkin rakyat yang tak paham ilmu agama dipilih dan duduk disidang fuqaha seperti halnya konsep demokrasi. Menurut konsep wilayah faqih ini jika hal itu terjadi, maka seluruh konsep keagamaan dan kenegaraan yang berkaitan dengan hukum-hukum ilahi serta kemanusiaan akan kacau balau. Sementara menurut kaidah demokrasi, siapa saja asal mampu mempengaruhi banyak orang untuk memilihnya maka, entah apakah dia mampu atau tidak mampu, berilmu atau tidak berilmu, beriman atau tidak beriman… pokoknya sah dan dapat menjadi anggota legislatif. Ujung-ujungnya untuk mempengaruhi banyak orang ya harus banyak duit.

Jika ingin melihat konsep yang agak cenderung mendekati khilafah misalnya ada pada Iran hari ini, tentunya terlepas dari konsep pemahaman keagamaan yang dianut oleh mayoritas umat disana..

Kembali lagi pada soal pilkada…. saya seratus persen insyaAllah setuju dengan penjabaran Yusril Ihza Mahendra berikut (sumber kutipan saya sertakan di bagian akhir).

Continue reading

Biar sibuk, tetap tilawahan yaa….

tetap_tilawahan_ya

 

Hukum mengadzankan bayi baru lahir

Tulisan ini awalnya adalah sebuah pertanyaan disalah satu komentar status Facebook saya tanggal 11 September 2014. Dengan pertimbangan kemaslahatan yang bisa juga diperoleh dari mensharingnya kepada publik, maka saya tulis dalam blog ini.

Pertanyaannya adalah :

Tadz.. Katanya hadis tentang mengadzani bayi baru lahir lemah ya.?? Jadi lebih baik di lakukan atau ditinggalkan.?

Jawab :

Ada beberapa hadist yang berkaitan dengan mengadzankan bayi yang baru lahir.

Sunan Tirmidzi 1436: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dan ‘Abdurrahman bin Mahdi keduanya berkata; telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Ashim bin Ubaidullah dari Ubaidullah bin Abu Rafi’ dari Bapaknya ia berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumandangkan adzan -shalat- pada telinga Hasan bin Ali saat ia dilahirkan oleh Fatimah.” Abu Isa berkata, “Hadits ini derajatnya hasan shahih. Dan pelaksanaan dalam akikah adalah sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari jalur yang banyak, yaitu dua ekor kambing yang telah cukup umur untuk laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan. Diriwayatkan pula dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Bahwasanya beliau pernah mengakikahi Al Hasan bin Ali dengan satu kambing. Dan sebagian ulama berpegangan dengan hadits ini.” (Al-Bani mendhaifkan hadist ini karena Ashim bin Ubaidullah salah satu perawinya yang dari kalangan tabi’in disebut oleh Imam Bukhari munkar, Ibnu Sa’d menyebut tidak boleh berhujjah dengan hadistnya tapi Ibnu Hajar hanya mendhaifkannya saja).

Ada juga hadist dari Abu Daud yang berderajat Hasan.

Sunan Abu Daud 4441: Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan ia berkata; telah menceritakan kepadaku Ashim bin Ubaidullah dari ‘Ubaidullah bin Abu Rafi’ dari bapaknya ia berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumandangakan adzan layaknya adzan shalat pada telinga Al Hasan bin Ali ketika dilahirkan oleh ibunya, Fatimah.”

Continue reading

Antara tanah hari ini dan tanah esok hari

Waktunya muhasabah lagi yuk… saat saya menulis ini, bumi Palembang Darussalam telah masuk waktu senja hari. Jelang masuk waktu untuk sholat Maghrib. Nah, hari ini kita telah menjalani hari kita seperti biasa. Bergelut dengan beragam aktivitas yang mungkin melelahkan dan membuat penat. Mari kita hisab diri kita hari ini… apa amalan yang sudah kita perbuat selain aktivitas rutin kita? adakah yang plus dari hari kemarin? atau justru kemunduran? Misal, kemarin kita sedekah sama anak-anak jalanan di lampu merah dan hari ini kita melupakannya.

Sahabat…. hari ini kita masih diberi kesempatan untuk hidup, padahal dosa-dosa kita menumpuk. Itu tandanya, Allah masih memberi waktu bagi kita untuk bertobat. Mari jangan sia-siakan. Tetap saling ingat mengingatkan dalam berbuat benar dan berbuat sabar.

Hari ini juga kita masih dapat menginjak tanah dengan kaki kita, tapi esok boleh jadi justru tubuh kita sudah ada didalam tanah yang hari ini kita injak. Tidak ada yang tahu kapan dan dimana kita akan mati. Terus mohon ampunan pada Allah yuuk.

Palembang, 11 September 2014 (status Facebook)

 

Armansyah

 

Berbuatlah semampu kita untuk akhirat kita

Jadilah manusia yang bermanfaat bagi orang lain, sesuai dengan kapasitas ilmu dan kemampuan kita. Khoirunnas anfa’uhum linnas, manusia yang terbaik –kata Rasul– adalah manusia yang memberi manfaat bagi orang lain. Boleh jadi sebuah senyum yang tersimpul oleh kita, kepahaman ilmu yang kita ajarkan, pengetahuan agama yang kita tablighkan atau sejumlah uang yang kita sedekahkan pada orang lain, mendatangkan manfaat untuknya dan menjadi penolong kita pada hari kita di hisab oleh Robbi izzati.

Status FB, 11 September 2014

Armansyah

%d bloggers like this: