Dialog tentang Tuhan dan agama [Bag. 1]


Salamun ‘ala manittaba al-Huda,

Berikut adalah arsip diskusi lintas agama antara saya dengan Rizal Lingga (alamat email : nyomet123@yahoo.com) mewakili pihak kristiani di Milis_Iqra@googlegroups.com

Tema diskusi kali ini adalah berkaitan dengan Tuhan dan agama …

Berikut pernyataan dari Rizal Lingga sesuai aslinya :

———- Forwarded message ———-
From: rizal lingga <nyomet123@yahoo.com>
Date: 2010/4/20
Subject: Re: [Milis_Iqra] Diskusi tentang Tuhan [Untuk Rizal Lingga]
To: milis_iqra@googlegroups.com


Berbicara tentang Tuhan berarti berbicara tentang hal yang abstrak. Bagaimana manusia bisa mengetahui tentang Tuhan? Bagaimana manusia bisa mengenal akan Tuhan?


Apa arti kata Tuhan jika dihubungkan dengan eksistensi diri manusia? Apakah manusia mengenal siapakah dirinya sendiri? Bagaimana dia bisa ada? Apa artinya ADA, berada di dunia ini? Apa makna dari segala sesuatu jika dihubungkan dengan dirinya?
Lantas, apa artinya Tuhan jika dihubungkan dengan dirinya? Karena kesadaran akan Tuhan hanya ada jika ada kesadaran akan diri manusia itu sendiri.

Bagaimana manusia bisa mengenal Tuhan?
Menurut saya ada dua macam cara:
Pertama dengan perenungan mencari makna ada (the meaning of BEING), ada dunia (the existence of cosmos and world) , ada diri manusia (the existence of being), ada dirinya sendiri (the existence of self). Lantas didalam mencari makna ini manusia yang merenung itu menyadari adanya suatu Eksistensi yang lebih besar dari dirinya sendiri, dan itulah yang disebut dengan nama Tuhan.Jalan ini ada dalam ranah filsafat.

Yang Kedua, dengan jalan agama. Manusia itu beragama, lantas agama yang dianutnya memberitahukan kepadanya tentang Tuhan menurut apa yang dipahami oleh agama itu. Dengan beragama berarti manusia itu berteologi secara khas agama tersebut, dan hal ini tidak bisa dihindari, sebab tidak ada teologi agama yang obyektif.
Semua teologi agama itu subyektif, dan merasa tafsirnyalah yang paling benar akan manusia, dunia, dan Tuhan.
Jadi, berbicara akan Tuhan dengan warna agama dipastikan akan subyektif, dan dipastikan tidak akan ada titik temunya dengan pemahaman agama lain, karena setiap agama menafsirkan akan Tuhan dengan cara yang berbeda.
Jadi, sekalipun Tuhan itu Esa, namun setiap agama melihat dan memaknakan arti Esa itu secara berbeda-beda.

Armansyah mengkritik pemahaman saya akan Tuhan sebagai dipengaruhi oleh teologi Kristen, khususnya akan doktrin Trinitas. Namun Armansyah sendiri bagaimanapun juga, bisa dipastikan, akan memahami Tuhan dengan teologi Islam. Memahami Tuhan dengan kacamata Islam, dan tentu saja Armansyah akan merasa yakin bahwa teologinya
tentang Tuhan adalah yang paling benar.

Armansyah, sadarlah, kita takkan pernah bisa berteologia tentang Tuhan secara obyektif keilmuan. Karena teologia tentang Tuhan yang obyektif dan murni itu TIDAK ADA. Semua orang pasti akan dipengaruhi oleh teologia agamanya sendiri dalam mengartikan Tuhan.
Jadi Armansyah, jika kita berteologia tentang Tuhan, perspektif kita pasti beda, karena teologia yang obyektif akan Tuhan itu sekali lagi kukatakan, TIDAK ADA. Jadi, jika kamu mengkritik akan doktrin Trinitas, bisa dipastikan itu karena kamu menilai doktrin Trinitas dari perspektif ISLAM, tidak mungkin lari dari itu.


Sebab saya belum pernah membaca, kajian Armansyah tentang Tuhan secara Filsafat, yang mencoba mengambil jarak dari agamanya sendiri. Saya lihat kamu belum pernah mencobanya (apa ada artikel tulisanmu yang mengkaji Tuhan secara Filsafat?) dan saya tidak yakin bahwa kamu bisa. Karena kalau kamu berbicara tentang Tuhan, hampir dipastikan itu berdasarkan teologi agama Islam.

Tapi, bagaimanapun juga, saya berusaha mencari titik-titik temu tentang Tuhan, sesuati dengan apa yang saya pahami selama ini akan Tuhan.


Pertama-tama, Tuhan itu Kekal, tidak punya awal tidak punya akhir.
Kedua, Tuhan itu Maha Kuasa, tidak ada apapun yang tidak bisa diperbuatnya, kecuali kalau perbuatan itu bertentangan dengan sifatNya sendiri. Misalnya, Tuhan dan dosa tidak akan pernah bisa bertemu, karena itu mustahil bagi Tuhan berbuat dosa dan kejahatan

.
Ketiga, Tuhan itu Maha Tahu, tidak ada yang tidak diketahuinya.
Keempat, Tuhan itu Maha Hadir, tidak ada ruang di alam semesta ini yang tidak diketahui dan dilihatnya.
Kelima, Tuhan itu mengasihi semua makhluk ciptaanNya, teristimewa manusia. Tuhan itu memiliki semua perasaan yang terdapat pada diri manusia, ini disebabkan karena Tuhan telah menciptakan manusia itu demikian, seperti Dia sendiri. Namun Dia seimbang dalam melaksanakan semua sifat-sifatNya, tidak ada sifat Tuhan yang ekstrim dan berlebihan dalam satu hal.

Keenam,Tuhan itu Adil, Dia pasti menghukum semua dosa dan pelanggaran dengan setimpal dan adil.Sehubungan dengan sifatnya yang adil ini, maka Tuhan harus meminta pertanggung-jawaban dari semua makhluk ciptaannya, manusia dan malaikat, akan apapun yang telah diperbuat oleh manusia dan malaikat.
Itu dari segi pelanggaran. Keadilan Tuhan juga akan membuat Dia memberikan ganjaran akan setiap perbuatan baik yang dibuat oleh manusia.


Sehubungan dengan keadilan dan ganjaran dari Tuhan bagi manusia dan malaikat, Tuhan menciptakan Surga dan Neraka. Surga pertama-tama adalah tempat tinggal Tuhan sendiri, tapi juga tempat tinggal malaikat-malaikat dan manusia-manusia yang telah berkenan kepadanya. Neraka diciptakan pertama-tama bagi malaikat-malaikat yang tidak taat, tapi kemudian jugatempat manusia-manusia berdosa. Tuhan tidak melempar malaikat dan manusia ke neraka atas kehendakNya sendiri apalagi ditentukan terlebih dahulu, tapi malaikat dan manusia itu sendiri karena perbuatan-perbuatannya, mendapat hukuman di neraka.


Jadi, Neraka itu harus ada karena keadilan Tuhan mengharuskanNya demikian.

Nah, Armansyah, inilah yang bisa saya katakan dan ketahui tentang Tuhan.

Berikut Tanggapan saya sebagai seorang Muslim sebagaimana terkirim juga di milis_iqra@googlegroups.com :

Rizal,

Dalam hidup ini kita semua punya parameter yang pasti untuk dapat menentukan benar atau salah dari suatu keadaan, parameter tersebut tidak lain dari akal, dengan akal kita dapat mengenal berbagai macam bentuk ekosistem yang ada, dengan akal misalnya kita bisa membedakan antara si A dengan si B, dengan akal pula kita bisa membedakan antara anjing dengan manusia … begitulah seterusnya dan siapapun sepakat bahwa secara akal pun kita bisa menilai sejauh mana sesuatu itu bisa bersifat benar dan sejauh apa pula sesuatu itu bisa disebut salah.

Dalam hal agama serta ketuhanan, semua agama pasti mendogmakan agamanya saja yang paling benar, orang Islam bilang Islamlah yang paling benar, orang kristen bilang kristenlah yang benar, orang budha akan berkata budhalah yang benar dan demikianlah adanya klaim-klaim dari semua agama dan ajaran yang ada, tidak ada yang memproklamirkan ajarannya sesat, ajarannya salah … sangat egois memang, tetapi begitulah fakta dan begitulah sunnatullahnya.

Kita tidak mungkin bisa membedakan mana dogma yang benar dan mana dogma yang salah dengan berdasarkan dogma juga (baca: Iman), artinya seseorang tidak bisa berdalih dibelakang kata ” iman ” untuk membenarkan dogma yang ia anut, sebab sekali lagi kata ” iman ” ini adalah bagian dari dogma yang ada, dan setiap pemeluk masing-masing agama bisa berkata yang sama, akibatnya jika dipaksakan dan dibenturkan secara emosional bisa dipastikan akan kacaulah apa yang disebut sebagai kebenaran yang sejati (toh akhirnya kebenaran menjadi sangat relatif dan subyektif padahal kebenaran itu sifatnya absolut atau pasti).

Akhirnya, semua doktrin keagamaan termasuk dogma ketuhanan sekalipun tidak berarti apa-apa jika tidak bisa dicerna secara ilmu melalui akal pikiran yang ada pada manusia, dan inilah sikap rasionalitas keber-agamaan yang saya anut. Konsep ini pernah digunakan oleh orang-orang Muktazilah dan juga sebagian komunitas Syiah pada masanya. Tetapi saya bukan bagian dari mereka meskipun ada kesamaan dalam hal metode pembelajaran agama yang digunakan.

Anda boleh berkata saya orang yang sombong atau apapun jenisnya, tidak jadi persoalan buat saya karena bagi saya Tuhan tidak akan membebani umat-Nya dengan hal-hal yang tidak bisa mereka mengerti dengan kondisi yang ada pada mereka. Kebenaran sejati hanya bisa didapatkan melalui jalan belajar, dan belajar identik dengan ilmu sementara ilmu merupakan tempatnya akal bekerja.

Hanya melalui akal saja maka masing-masing klaim dari dogma agama-agama yang ada itu bisa dijustifikasi benar dan salahnya.

Hidup ini penuh dengan hukum-hukum keseimbangan, coba anda pelajari apa saja, pasti tidak akan anda dapati kepincangan dalam perputaran hukum-hukum alam tersebut.

Begitu pula dengan hal keimanan kepada Allah, mesti diraih dengan keseimbangan, yaitu antara akal (rasio logika + ilmu pengetahuan) dan hati.

Kebenaran adalah sesuatu yang bernilai absolut, mutlak.
Namun seringkali kebenaran ini menjadi relatif, bergantung kepada bagaimana cara masing-masing orang memberikan arti dan penilaian terhadap kebenaran itu sendiri, sehingga itu pula kebenaran sudah menjadi sesuatu yang bersifat subjektif.

Bahwa untuk menjalankan ketentuan suatu agama terkadang harus dimulai dengan kata iman memang sering menjadi sesuatu hal yang tidak dapat terbantahkan.

Keadaan beriman sesorang umumnya berada dalam kondisi “jadi” dari seseorang itu (sebab ini akan kembali dari lingkungan mana ia dilahirkan).

Namun seiring dengan bertambah dewasanya cara kita berpikir, sangat pantas sekali apabila kita mencoba mempertanyakan sejauh mana kebenaran dari keberimanan yang kita peroleh dari kondisi ‘jadi’ tadi.

Tuhan memberikan kita akal untuk berpikir, untuk menjadi cerdas bukan untuk jadi figuran dan sekedar ikut-ikutan.

Karenanya kita berdua tidak bisa mengatakan kondisi beriman tersebut ada karena lewat iman.
Pernyataan ini tertolakkan dalam dunia ilmiah dan bertentangan dengan penalaran saya selaku manusia yang fitrah.

Menurut saya, sebenarnya seseorang memperoleh keimanannnya lewat dua jalur, ada yang lewat akal dan ada yang lewat nafsu (nafsu dalam hal ini adalah persangkaan atau praduga manusia).

Jika iman diartikan percaya, maka percaya juga bisa lewat akal atau persangkaan.
Misalnya apabila kita hendak melewati sebuah jembatan dari besi, tentu kita akan enteng saja melewatinya, karena persangkaan kita jembatan tersebut sudah kuat. Tetapi bila yang dilewati adalah jembatan dari kayu dan tali, paling tidak kita akan mengecek kekuatan jembatan tersebut terlebih dahulu (menginjak-injak dari pinggir terlebih dahulu dsb )

Dalam beragama pun demikian, terdapat orang-orang yang mencapai iman dengan akal, dan ada yang dengan persangkaan.

Misalnya yang dengan persangkaan adalah seorang islam yang tidak mampu menjawab pertanyaan ” Mengapa anda memilih Islam ?”, “Darimana anda tahu bahwa Islam itu benar ?”, ” jika dahulunya orang tua anda bukan Islam kira-kira apakah anda masih Islam ?”, atau bisa juga “mengapa anda harus menjadi Kristen ?”, “Darimana anda yakin bahwa Kristen itu benar ?”

Jadi bagi saya, Iman terhadap sesuatu itu tetap harus dibuktikan dulu apakah memang pengimanan tersebut sudah benar atau belum. Dan jalan untuk membuktikan kebenaran akan keimanan ini salah satunya dengan mengadakan penelaahan terhadap iman itu sendiri dengan mengadakan penyeimbangan dengan akal pikiran sebagai suatu anugerah dari Allah bagi manusia.

Tuhan menjadikan alam semesta ini dengan ilmu-Nya, dan Dia telah mengukur keseimbangan masing-masing komposisi ciptaan-Nya itu secara proporsional dan adil. Demikian pula halnya dengan penciptaan manusia. Ini sudah dibahas oleh kitab anda sendiri di Genesis pasal 3 ayat 22 : “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat”. Inilah fitrah awal manusia, mereka sudah disetting untuk memiliki ilmu. DImana dengan ilmu itu manusia menjadi mengerti dan dapat memisahkan kebaikan dengan kejahatan. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam al-Qur’an surah Asy-Syams ayat 7 dan 8 :

“Wa nafsin wama sawwaha, fa alhamaha fujuroha wa taqwaha”
Dan Nafs serta penyempurnaannya, dilhamkan kepadanya kefasikan serta ketakwaan…

Oleh karena itu juga maka II Timotius pasal 3 ayat 16 menyatakan bila kitab suci sendiripun termasuk hal-hal yang dapat dipelajari dengan ilmu : “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”.

Tuhan itu Maha Pintar, dan Dia ingin kita sebagai makhluk-Nya pun mencontoh kepintaran yang sudah Dia ilhamkan dan Dia ajarkan melalui ayat-ayat-Nya, baik itu yang sifatnya kontekstual ( seperti kitab suci ) ataupun global ( seperti alam semesta ini dan semua hal disetiap proses kausalitasnya ).; Karenanya, Tuhanpun pasti akan menyesuaikan dan membagikan ilmu-Nya sesuai tingkat yang bisa dicapai maupun bisa dipahami oleh kita yang memang notabene tidak berarti apa-apa dibanding Dia.

Tuhan misalnya mengilhamkan dan menurunkan ilmu matematika didunia ini tentunya selain untuk ilmu duniawiah, Dia juga punya misi khusus untuk membuat ilmu matematika itu sebagai salah satu jalan menggapai dan mengenal diri-Nya.; karena itu, bila dalam matematika kita mengenal satu ditambah satu sama dengan dua, maka itulah kepastiannya dan selamanya tidak akan mungkin berubah kecuali faktor-faktor atau operasionalnya dirubah menjadi perkalian atau sebagainya.

Kalau kita lihat kenyataan saat ini semua pengetahuan manusia yang didijitalkan maka semuanya akan melulu kombinasi 10101010 yang tak lebih dari pernyataan bahwa semua ilmu pengetahuan adalah ilmu pengetahuan Allah Yang Maha Esa. Ketika Anda melihat televisi, mendengarkan radio, berselancar di internet, melihat situs porno, mengetikkan e-mail, menulis artikel, atau apapun aktivitas yang Anda lakukan dengan perangkat elektronik maka semua itu tak lebih dari sinyal-sinyal 10101010.

Dalam kenyataan yang lebih mengejutkan, tubuh kita dan otak kitapun tak lebih dari biokomputer yang menguraikan semua tangkapan sistem inderawi kita dalam kode-kode biner 101010 dari semua informasi dan pengetahuan yang kita ekstrak melalui cahaya yang tertangkap sinyalnya dari sekeliling kita. Apakah indera itu mata, telinga, hidung, kulit ataupun perasaan kita, semua itu tak lebih dari kode-kode biner atau suatu penauhidan atas Allah Yang Maha Esa.

Allah itu ingin adanya keteraturan dalam semua proses hidup dan kehidupan didunia ini. Dan itu hanya bisa terjadi apabila Dia sendiri menjadikan segala sesuatunya itu secara logis dan bisa dimengerti atau bisa dipelajari.

Misalnya, kenapa Tuhan toh masih butuh waktu sekian hari untuk sebuah proses penciptaan alam semesta ? kenapa Dia tidak menjadikannya dengan sekali jadi saja ? apakah Dia tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya ?

Ya tentu tidak demikian, khan.
Itu semua menumbuhkan asumsi-asumsi kepada kita bahwa Allah itu ingin semuanya berjalan secara logis sehingga kehendak-kehendak-Nya itu bisa diterima dengan wajar dan membuat kita semakin kagum terhadap diri-Nya.

Samalah misalnya kita ambil contoh lain tentang penciptaan diri Yesus, toh, Allah memulainya dari mengirimkan malaikat kepada Maria sang ibunda untuk memberikan kabar suka cita, lalu kemudian Maria melalui proses Parthenogenesenya menjadi hamil dan mulai mengandung sama seperti wanita-wanita lainnya mengandung dan ketika sudah tiba waktunya lahirlah bayi Yesus terus dengan semua proses perkembangan alamiahnya dia kemudian menjadi besar dan membutuhkan proses belajar dari ahli-ahli Taurat sampai kemudian sekian puluh tahun kemudian dia menjadi orang yang mampu menjadi seorang al-Masih dikalangan umatnya, Bani Israel.

Semua itu melalui tahapan-tahapan, melalui proses demi proses … sehingga kalimah : tidak ada yang mustahil bagi Tuhan sudah sewajarnya kita tempatkan pada proporsi yang seharusnya dan tidak menyimpang dari kausalitas yang sudah Dia tentukan sendiri dalam menjaga keseimbangan tatanan-tatanan penciptaan-Nya.

“Allah adalah Allah yang suka akan ketertiban; Ia bukan Allah yang suka pada kekacauan. Seperti yang berlaku di dalam semua jemaat Allah.” (1 Korintus 14:33 Bahasa Indonesia sehari-hari)

Intinya, iman yang buta tidak bisa dijadikan sandaran dalam beragama :

Sekali lagi buat anda ingatlah pesan Paulus dibawah ini :

1 Telasonika 5:21 : “Hendaklah segala perkara kamu uji dan yang baik kamu pegang.”

Kita hanya bisa sampai kepada Tuhan apabila jalan yang kita tempuh juga benar, dan untuk tahu benar tidaknya maka gunakan akal untuk menganalisanya, apabila sesudah dianalisa dengan akal kebenaran itu tertolakkan maka bisa jadi dia bukan kebenaran sejati.

Akal diberikan oleh Allah untuk berpikir, membedakan mana yang salah dan mana yang benar.

Tanpa akal, manusia tidak lebih dari sekedar hewan yang tidak pernah memikirkan benar salah tindakannya bahkan mungkin jauh lebih sesat daripada itu.

Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul kedunia untuk memberikan petunjuk kepada manusia agar memilih jalan kebenaran, dan petunjuk Allah itu hanya bisa diterima oleh orang-orang yang mau untuk berpikir tentang hakikat kebenaran sejati. Dan berpikir yang benar didalam penerimaan tersebut adalah berpikir yang tidak hanya merenung atau asal-asalan, namun berusaha untuk mengerti, mempelajari, menyelidiki, memahami serta mengamalkan.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (Qs. al-Israa’ 17:36)

Menisbikan peranan akal pikiran untuk menggapai keimanan sama sekali tidak layak kita terapkan, sebab hal ini akan menyamakan kedudukan kita dengan para penyembah berhala yang tidak pernah mau tahu tentang benar salahnya keimanan mereka, yang jelas mereka harus menerima dan yakin.

Ini hal yang harus anda sepakati dulu berdasar ilmu dan referensi kitab anda sendiri Lingga.,

Kenapa saya menolak Trinitas dan apakah saya terpengaruh oleh doktrin ketuhanan didalam Islam atau Yahudi ? Itu sudah jelas bahwa konsep ketuhanan trinitas tidak bisa saya terima dengan akal saya dan keterbatasan saya sebagai manusia. Saya hanya membodohi diri saja bila terus memaksakan diri untuk menerimanya secara bulat tanpa bisa dan boleh mengkritiknya.

Saya adalah seorang muslim, orang yang berserah diri pada Allah, Tuhan yang Maha Esa, tidak bisa disetarakan dengan apa dan siapapun, Tuhan yang bisa saya cerna dengan akal saya, karena itu saya bangga menjadi muslim dan akan tetapi mati sebagai seorang muslim : “Sungguh shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, (QS. Al-An’am [6] :162)

Saya tidak akan pernah menyembah makhluk manapun sebagai tuhan saya, tidak juga yesus yang anda pertuhankan itu. Sebab sudah tegas konsep Tauhid sejati :

Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu
(Kitab Keluaran pasal 20 ayat 3 s/d 5)

Hukum yang terutama ialah: Dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa (Markus pasal 12 ayat 29)

Tuhan secara filsafat adalah tuhan dalam bentuk yang terlalu bervariasi sebagaimana bisa dibaca melalui pendapat para filosof yang ada (sebut saja nama socrates, plato, aristoteles, descartes atau juga kant dan bandingkan semua konsepsi filsafat mereka tentang tuhan). Saya lebih memilih ranah akal atau rasio untuk memahami Tuhan dan menemukan eksistensi kebenaran Dia. Ini juga yang pernah ditempuh oleh ilmuwan besar dunia Isaac Newton (1642-1727) yang juga terkenal dengan karyanya yang mengkritik ajaran Trinitas dengan judul “An Historical Account of Two Notable Corruption of Scripture” artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Sebuah catatan sejarah tentang dua penyelewengan pokok terhadap kitab suci”. Newton pernah berkata :

Bagi mereka yang mampu, biarlah mereka mengambil kebaikan dari kontroversi tersebut. Untuk saya sendiri, saya tidak bisa mengambil apa-apa darinya. Jika dikatakan bahwa kita tidak boleh menentukan maksud dari kitab suci dan apa yang tidak bisa ditentukan oleh penilaian-penilaian kita, maka saya mengatakan bahwa bukanlah tempatnya dipertentangkan. Tetapi pada bidang-bidang yang dipertentangkan, saya menyukai untuk mengambil apa yang paling saya mengerti. Adalah sikap keras dan sisi takhayul dari manusia dalam masalah-masalah agama menjadi bukti misteri-misteri tersebut.


Advertisements

Khusuk

Khusuk itu letaknya ada pada hati kita Mbak Whe-En. Khusuk adalah sikap diri dan jiwa yang tenang dalam menghadap Allah. Ketenangan berkorelasi erat dengan kelembutan dan pengetahuan. Sesuatu yang dilakukan secara terburu-buru, ribut, heavy metal, teriak-teriak, bentak-bentak dan berbagai istilah serupa lainnya tidak akan dapat mengantarkan seseorang pada suatu sikap yang tenang.

Memang bagi orang-orang yang sudah dalam tingkat “pakem” atau “maqom” tertentu, berisiknya nada mayor disekitar dirinya tidak akan menganggu ketenangannya dalam berbuat apa yang ia lakukan namun fakta bahwa kita semua umumnya hanya hamba-hamba Allah yang awam, kita masih masuk dalam klasifikasi anak sd yang sedang belajar dimana dalam prosesnyapun kita masih ada jeda beristirahat atau keluar main 2 sampai 3 kali. Kebanyakan kita belum menjadi professor yang belajarnya sudah dapat lewat teleconfrence dan dari detik kedetik ada dilaboratoriumnya sampai lupa waktu, lupa makan dan lupa segalanya.

Islam adalah agama yang memperhatikan aspek-aspek keawaman penganutnya, Islam adalah tuntunan yang bisa dipahami dan diamalkan secara insaniah oleh setiap diri sesuai fitrah yang ada pada mereka. Karenanya ada tuntunan-tuntunan agar kita bisa mengaplikasikan Islam dalam setiap langkah kehidupan ini tanpa kita merasa berat dan terganggu menjalankannya. Disitulah letaknya tuntutan Islam terhadap pengetahuan. Islam ingin umatnya memiliki ilmu, sehingga orang-orang yang berilmu disebut oleh Tuhan dalam al-Qur’an dengan istilah ulama. Tentang ulama ini, Allah lebih jauh menjanjikan “maqom” yang lebih baik daripada mereka yang malas ataupun suka dengan gaya jalan gerbong kereta api. (Tut-tut-tut …)

Apapun yang kemudian menjadi noise ditengah nada minor kebenaran, hadapilah dengan jiwa yang besar. Banggalah jika kita adalah pelaku kebenaran, berbuat benar, bertindak benar, berpikir benar, bersikap benar dan benar dalam benar. Lambat laun, situasi minor atau mayor disekitar kita akan disikapi secara otomatis oleh jiwa kita, oleh otak kita sehingga tidak akan membawa dampak apapun bagi perbuatan yang kita lakukan.

Trust me.
Easy Come-Easy Go and Back To basic.
Tanpa beban dan kembalikan kepada Allah.

Tulisan yang ditanggapi :

———- Forwarded message ———-
From: Whe~en (gmail) (Email : whe.en9999@gmail.com)
Date: 2008/9/12
Subject: [Milis_Iqra] Lebih Keras Gang Sebelah
To: Milis_Iqra@googlegroups.com

Lebih Keras Gang Sebelah

By : Whe~en (http://wheen.blogsome.com/)

Ramadhan milik semua orang beriman. Teraweh, tadarus, berdo’a banyak dilakukan orang.

Malam kemaren saya pikir teraweh bakal tidak jadi dilaksanakan oleh warga blok perumahan saya. Kami masih teraweh beratapkan langit dan di jalan gang. Alhamdulillah gerimis jam 4 sore agaknya tidak jadi berlanjut. Musholla kami belum jadi, dan bahkan imamnyapun berganti – ganti.

Malam ini suara imam tidak cukup keras terdengar walaupun saya ada di shaf ketiga. Betapa susahnya berkonsentrasi kepada bacaan imam agar saya khusyuk. Mungkin juga karena level iman saya membuat pikiran kadang – kadang melayang.

Ternyata tidak cukup sampai disitu. Ketika teraweh kami belum selesai, suara speaker blok sebelah yang sedang melaksanakan teraweh dan lantunan doa ternyata jauh lebih keras dari suara imam kami. Saya bahkan tidak bisa mendengar surat Al-fatihah sudah selesai apa belum diucapkan imam sampai jamaah menyahut amin.

Diskusi tentang artikel mas Arman di MI ”Tuhan Tidak Budeg” belum juga kelar dan mungkin tidak akan pernah kelar. Apakah ketika saya punya keinginan agar penggunaan speaker lebih bertoleransi dan sesuai kebutuhan menjadikan saya dicap menentang syiar?

Pernahkah terlintas bahwa saya ingin khusyuk teraweh, saya ingin khusyuk tadarus, saya ingin khusyuk berdo’a kepada Allah di bulan yang ketika kita puasa do’a kita tidak tertolak sampai berbuka?

Saya cuma ingin biarkan saya khusyuk beribadah seperti yang lain.

QS Al A’raaf (7) : 205

Dan sebutlah Tuhannmu dalam hatiumu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

Whe~en
http://wheen.blogsome.com/

“Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS 20 : 25-28)
“Ya Allah jadikan Aku hamba yang selalu bersyukur dan penyabar”

-=-=–=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa’ : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://myiqra.co.cc
Situs 2 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=–=-=-=-=-=-=-=-

Pertanyaan seputar menjadi caleg

———- Forwarded message ———-
From: ardi (email : ardi_arifin@hotmail.com)
Date: Wed, Sep 10, 2008 at 1:49 PM
Subject: [Milis_Iqra] Re: Tuhan tidak budeg
To: Milis_Iqra <Milis_Iqra@googlegroups.com>

Agak jauh dr topik neh akh, boleh tanya bgmna persiapan antum pribadi secara lahir dan batin menghadapi 2009 sbg caleg (seperti sy bilang; ditunggu gebrakannya.. hehehe) dgn konsituen kaum muslim? mumpung
ramadhan biasanya jawaban lbh clear hehehe… mudah2an jawaban n niat antum bs diteladani jg untuk caleg2 lain… 🙂

Tanggapan :

Tidak ada persiapan apapun Akhi secara khusus, InsyaAllah, seperti yang pernah saya sampaikan juga diforum moderator, konsep saya hanya Easy Come Easy Go and Back To Basic.

Artinya, biarkan segala sesuatu terjadi secara alamiah, mengalir bagaikan air. Tanpa ada beban !


Tidak ada yang perlu saya gegaskan dan tidak juga yang perlu saya buru kecuali mengejar peringkat dihadapan Allah, mencoba membuat Allah “tersenyum” kepada saya melalui niat awal mengikutinya. Itu saja. Bukankah menurut kaidah Nabi kita selayaknya tidak meminta jabatan ? Jadi easy go sajalah. Jika Allah berkehendak saya untuk duduk sebagai anggota legislatif maka itu pasti terjadi dengan semua runtutan prosesnya yang berjalan tanpa saya perlu gusrak-gusruk sikut sana sikut sini. Semuanya saya kembalikan pada Allah mas, tidak ada beban sama sekali sehingga saya harus menjadi stress apabila gagal dalam menjadi anggota legislatif. itulah arti Back To Basic dan Easy Come Easy Go. Saya percaya Allah pasti memberi yang terbaik buat saya meskipun boleh jadi itu tidak selalu harus membuat saya menyenangi alurnya.


Armansyah – Palembang.

Jahar atau Sir dalam Sholat Dhuzur dan Ashar

Qiraah di dalam shalat itu ada tiga macam :
1) jahar, 2) Sir, 3) Isma.

[1] Jahar ialah membaca keras, seperti yang ada pada shalat fardlu, 2 Rakaat awal maghrib, 2 rakaat awal isya dan 2 rakaat shubuh.

[2] Sir ialah membaca tidak bersuara atau pelan (hanya terdengar ditelinga sendiri), seperti pada rakaat ketika shalat maghrib, 2 rakaat akhir shalat isya, dzuhur dan ashar.

[3] Adapun Isma adalah dengan sengaja memperdengarkan bacaan-bacaan yang asalnya sir yang tujuannya untuk mengajar ma’mum.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ فِي الْأُولَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ وَفِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُخْرَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ وَيُسْمِعُنَا الأَيَةَ أَحْيَانًا …

“Dari Abi Qotadah, sesungguhnya Nabi Saw., membaca pada shalat dzuhur pada dua rakaat awal masing-masing dengan ummul kitab dan surat, dan pada dua rakaat akhir dengan Fatihah. Dan kadang-kadang beliau memperdengarkan ayat kepada kami.” (HR.Muttafaq ‘alaih).

Kalimat “wayusmi’unal ayata ahyanan” (kadang-kadang memperdengarkan ayat kepada kami) menunjukkan bahwa bacaan tersebut termasuk klasifikasi sir.

Jadi, diperbolehkan untuk mengeraskan bacaan sesuai pendengaran telinga maupun membacanya didalam hati dalam sholat dzhuhur maupun ashar.

Dan bacalah al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. (QS. 73:4)

Berbagi cerita: Kenapa Rasul …?

Banyak dari kita umumnya sudah tidak asing lagi dengan lirik musik religi dari Bimbo dengan judul “Rasul Menyuruh Kita”.

Sebuah lagu dengan tema keagamaan yang penuh dengan pesan-pesan Islam dan diiringi nada yang funky.
Tetapi pernahkah kita menyelami hakekat dari isi syair tersebut secara benar dalam kehidupan nyata ?

Mari kita simak dua bait pertama lagu ini :

Rasul menyuruh kita mencintai anak yatim
Rasul menyuruh kita mengasihi orang miskin

Pertanyaannya : Sudahkah kita melakukannya ?
Ikhlaskah kita melakukannya ?
Apa yang kita tahu dan yang kita bayangkan saat mendengar kata anak yatim ? mencintai anak yatim ?

Apapula yang kita tahu tentang orang miskin ? apa yang kita bayangkan mengenainya ?

Tahukah kita bila mencintai anak yatim dan menyantuni orang miskin adalah salah satu syarat utama dalam beragama ?

Tahukah kita bila mengabaikan keduanya maka kita jatuh pada komunitas pendusta agama ?

Silahkan berbagi cerita disini …


“Sesungguhnya lidah adalah bagian dari tubuh dan dikendalikan oleh otak. Jika otak tidak bergolak dan aktif, lidah juga tidak akan menghasilkan apapun. Namun, jika otak terbuka lidah juga akan terbuka”. (Imam Ali bin Abi Thalib)

Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH
https://arsiparmansyah.wordpress.com
http://armansyah.swaramuslim.com
http://dunia-it-armansyah.blogspot.com/

Silaturahmi dengan Ulil Abshar

———- Forwarded message ———-
From: Armansyah
Date: 2008/8/22
Subject: Re: [Milis_Iqra] Fwd: [Forum Pembaca KOMPAS] Menjadi Muslim dengan perspektif liberal
To: ulil99@yahoo.com
Cc: “Milis_Iqra@googlegroups.com” <milis_iqra@googlegroups.com>

Bung Ulil Abshar.

Terimakasih atas tanggapan anda kali ini, adalah satu kehormatan buat saya setelah lebih dari 6 artikel komunitas Islam Liberal saya jawab dan cc khan pada setiap penulisnya termasuk anda sendiri.

Bung Ulil, saya memahami bila anda jarang atau mungkin sama sekali justru belum pernah membaca tanggapan-tanggapan saya tersebut karena memang ada banyak hal yang mesti anda klarifikasi dari apa yang saya tanggapi disana. Seperti biasa juga, saya tidak akan memaksa seseorang untuk menjawab apa-apa yang saya jawab kembali.

Satu tahun terakhir ini saya agak absen dari kunjungan kesitus anda sehingga tidak banyak artikel yang bisa saya tanggapi seperti 2 tahun sebelumnya sehingga maaf saja kalau anda ada pernah menjawab melalui artikel lain atas apa yang saya tanyakan.

Jadi sejauh ini diantara kita bisa disebut seimbang.


Bung Ulil.

Saya pribadi meskipun bukan bagian dari komunitas Jaringan Islam Liberal, adalah orang yang berusaha menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan terobosan-terobosan baru dalam hal keagamaan. Secara umum,  kemerdekaan berarti bebas dari segala penindasan, sebaliknya bebas hidup, beragama, memiliki kekayaan, berpikir serta mengemukakan pandangan. Islam memperjuangkan kemerdekaan itu tetapi ia bukanlah kebebasan liar yang tanpa batas, sebaliknya Islam sarat dengan ikatan hukum dan etika mulia. Inilah makna kemerdekaan dalam Islam yang berbeda dari agama atau bentuk-bentuk isme lainnya. Semua orang yang memiliki kemampuan untuk berpikir sehat tentu akan mengerti bahwa hidup ini harus memiliki aturan main tertentu agar terjadi keseimbangan dan kemaslahatan dalam menjalaninya, baik itu menyangkut kehidupan antar bangsa sampai antar anak bangsa.

Tetapi masyarakat modern dewasa ini dengan alasan kebebasan hak asasi dan seni menolak adanya peraturan yang akan diberlakukan sebuah negara yang dasarnya untuk menjaga moralitas masyarakat dinegara itu sendiri.

Harapan saya semoga silaturahmi perdana ini bisa terus berlanjut dimasa yang akan datang, saya sangat tertarik untuk berdialog dengan anda berlandaskan pada Qawlan Sadidan (pembicaraan yang benar, jujur dan tidak berbelit-belit), Qawlan balighan (pembicaraan yang jelas), Qawlan maysuran (pembicaraan yang pantas), Qawlan layyinan (pembicaraan yang lemah lembut), Qawlan kariman (pembicaraan yang mulia, terhormat) dan Qawlan Ma’rufan (perkataan yang baik). InsyaAllah.

Anda boleh berkunjung keblog saya kapan saja untuk mengenal karakter saya lebih jauh, saya juga mengundang anda untuk bergabung di milis_iqra@googlegroups.com jika anda berkenan.

———- Forwarded message ———-
From: Ulil Abshar-Abdalla (email : ulil99@yahoo.com)
Date: 2008/8/22
Subject: Re: [Milis_Iqra] Fwd: [Forum Pembaca KOMPAS] Menjadi Muslim dengan perspektif liberal
To: Armansyah <armansyah.skom@gmail.com>

Bung Arman,
Terus terang, saya jarang membaca tanggapan anda atas pemikiran teman-teman JIL atau pemikiran saya sendiri. Pertama, terlalu banyak tanggapan yang masuk ke saya. Kala tanggapan yang masuk layak saya jawab, biasanya saya tanggapi. Kalau saya anggap tak butuh tanggapan, saya lewatkan saja.

Kedua, biasanya saya memberikan jawaban secara umum. Tulisan-tulisa saya secara tak langsung menjawab pertanyaan dan tanggapan yang diajukan kepada saya. Memang, saya tak menanggapi secara langsung dan spesifik.

Ketiga, saya tak berpretensi bisa menjawab semua hal. Kalau saya tak memberikan tanggapan balik, boleh jadi saya memang tak bisa memberikan jawaban.

Semoga keterangan ini menjawab pertanyaan anda.

Ulil


— On Fri, 8/22/08, Armansyah <armansyah.skom@gmail.com> wrote:
From: Armansyah <armansyah.skom@gmail.com>
Subject: Re: [Milis_Iqra] Fwd: [Forum Pembaca KOMPAS] Menjadi Muslim dengan perspektif liberal
To: Milis_Iqra@googlegroups.com
Cc: ulil99@yahoo.com
Date: Friday, August 22, 2008, 8:17 AM

Sampaikan saja salam saya untuk Ulil Abshar (email ini saya cc khan pada ybs juga).
Pertanyaan saya satu : kenapa semua jawaban saya untuk JIL termasuk satu diantaranya untuk Ulil, tidak pernah mendapatkan tanggapan.

Ditunggu konfirmasi yang lalu …

2008/8/22 najla abu <najla.abu@gmail.com>
catatan baru dari Ulil Abshar abdalla,

ada yang mau comment atau silaturahmi..? he..he…he…
ada alamat emainya di bawah ini….

———- Forwarded message ———-
From: Ulil Abshar-Abdalla <ulil99@yahoo.com>
Date: 2008/8/22
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Menjadi Muslim dengan perspektif liberal
To: Forum Pembaca Kompas <forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com>

Sayyidul Istighfar

Sayyidul Istighfar

عن النبي صلى الله عليه وسلم: (سيد الاستغفار أن تقول: اللهم أنت ربي لاإله إلا أنت، خلقتني وأنا عبدك، وأنا على عهدك ووعدك ما استطعت، أعوذ بكمن شر ما صنعت، أبوء لك بنعمتك علي وأبوء لك بذنبي فاغفر لي، فإنه لايغفر الذنوب إلا أنت. قال: ومن قالها من النهار موقنا بهاً، فمات من يومهقبل أن يمسي، فهو من أهل الجنة، ومن قالها من الليل وهو موقن بها، فماتقبل أن يصبح، فهو من أهل الجنة).
Dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia menceritakan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliaubersabda: “Yang dimaksud dengan Sayyidul Istighfaar adalah ucapan seorang hamba: “Allahumma anta Rabbi. Laa ilaaha illa Anta kholaqtaniwa ana ‘abduka wa ana ala ‘ahdika wawa’dika mastatha’tu ‘audzubika min syarri ma shana’tu ‘audzu bika min syarri ma shana’tu, abu u laka bini’matika ‘alayya wa abu-u bidzan bi faghfirlii fai-nnahu laa yaghfirudz dzunuuba illa Anta”.

Artinya : Ya Allah Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau yang telah menjadikanku, sedangkan aku adalah hamba-Mu, aku senantiasadalam kekuasan Mu dan janji-Mu sepanjang aku mampu untuk itu, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan perbuatanku, aku mengaku kepada-Muatas nikmat yang Kau karuniakan kepadaku dan aku mengaku atas-atas dosa-dosa yang aku perbuat, maka ampunilah aku, tiada yang mengempuni dosa-dosa selain Engkau.

Barangsiapa membaca doa ini setiap sore, dan apabila malam harinya ia meninggal, maka berhak masuk surga. Dan barangsiapa membaca doa inisetiap pagi hari, dan apabila siang harinya ia meninggal, maka berhak masuk surga. -Riwayat Bukhari

Sehubungan dengan hal ini, Ibnu Taimiyah berkata tentang sabda Nabi, Sayidul Istighfar yaitu seorang hamba mengatakan “Allahumma anta rabbi laailaahailla anta” hadits ini mencakup pengetahuan yang berharga yang karenanya dikatakan sebagai sayidul istigfar. Karena inti hadits ini adalah pengenalan hamba tentang Rububiyyah Allah, kemudian mengagungkan-Nya dengan tauhid Uluiyyah (Laa ilaaha illa anta) kemudian pengakuan bahwa Dialah Allah yang menciptakannya dan mengadakannya yang sebelumnya tidak ada , maka Dia yang lebih layak untuk berbuat ihsan kepada-Nya atas ampunan dosanya sebagaimana perbuatan ihsan atasnya karena penciptaan dirinya

Kemudian perkataan “Wa ana abduka“  yaitu keyakinannya akan perkara ubudiyah, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan Ibnu Adam untuk diri-Nya dan beribadah kepda-Nya sebagaimana disebutkan dalam sebagian atsar  Allah Ta’ala berfirman :

“Wahai Ibnu Adam Aku ciptakan engkau untuk-Ku dan Aku ciptakan segala sesuatu karenamu, maka karena hak-Ku atasmu maka jangan kau sibukan dengan apa yang telah Aku citpakan untukmu dari yang Aku ciptakan kamu untuknya (ibadah).”

Di dalam atsar yang lain disebutkan : “Wahai Ibnu Adam Aku ciptakan engkau untuk beribadah kepada-Ku maka jangan bermain-main, dan Aku telah menjaminmu dengan rizkimu maka jangan merasa lelah (dari berusaha), Wahai Ibnu Adam mintalah kepada-Ku niscaya engkau akan dapati Aku, jika engkau mendapatkan Aku maka engkau akan mendapatkan segala sesuatu, jika engkau luput dari Aku maka engkau akan luput pula dari segala sesuatu, dan Aku mencintai kamu dari segala sesuatu.”

Maka seorang hamba apabila keluar dari apa yang Allah ciptakan untuknya berupa ketaatan dan ma’rifat kepada-Nya, mencintai-Nya, inabah (kembali) kepada-Nya dan tawakal atas-Nya, maka dia telah lari dari tuannya. Apabila taubat dan kembali kepada-Nya maka dia telah kembali kepada apa yang Allah cintai, maka Allah akan senang dengan sikap kembali ini. Oleh karena itu Nabi Shallahllahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang berita dari Allah :

“Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubatnya hamba dari pada gembiranya seseorang yang mendapatkan kembali tungganganya yang hilang di suatu tempat dengan membawa makanan dan minumannya, Dialah yang memberikan taufiq kepadanya dan Dia pula yang mengembalikan barangnya kepadanya.”

Maka ini adalah ihsan dan karunia Allah atas hamba-Nya. Maka hakikat dari ini adalah agar tidak ada sesuatu yang lebih dicintai hamba kecuali Allah.

Kemudian sabdanya : “Wa ana ala ahdika wawa’dika mastathotu”, maka Allah menjanjikan kepada hamba-hamba-Nya dengan suatu perjanjian yang Allah perintahkan dan larang padanya, kemudian Allah menjanjikan bagi yang menunaikannya dengan suatu janji pula yaitu memberikan pahala bagi mereka dengan setinggi-tingginya pahala. Maka seorang hamba berjalan diantara pelaksanaan atas perjanjian Allah kepadanya dengan pembenaran akan janji-Nya, artinya saya melaksanakan perjanjian-Mu dan membernarkan akan janji-Mu.

Makna ini sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi :

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu.”

Perbuatan iman yaitu perjanjian yang Allah tawarkan kepada hamba-hanba-Nya sedang ihtisab yaitu pengharapan pahala Allah atas keimanan. Maka ini tidaklah pantas kecuali harus bersamaan dengan sikap pembenaran atas janji-Nya. Dan sabdanya “Imanan wah tisaaban” ini adalah manshub atas maf’ul lahu yang sesungguhnya terkandung padanya pengertian bahwa Allah mensyariatkan, mewajibkan, meridhoinya dan memerintahkan dengannya. Sedang mengharap pahala dari Allah yaitu dengan mengerjakan amalan dengan ikhlas disertai mengharap pahala-Nya.

Sabdanya “mastatho’tu” yaitu bahwa tidaklah aku melaksanakan semua itu kecuali sebatas kemampuanku bukan atas apa yang semestinya dan wajib bagiku. Ini menunjukan dalil atas kekuaran dan kemampuan hamba, dan bahwasanya hamba tersebut tidaklah dipaksa atasnya, bahkan baginya ada kemampuan yaitu berupa beban perintah, larangan, pahala dan siksa. Pada hadis tersebut terdapat bantahan atas Qodariyah yang mengatakan bahwa sesungguhnya bagi hamba tidak memiliki kekuasaan, kemampuan atas perbuatanya sama sekali, akan tetapi hanya siksa Allah atas perbuatan-Nya bukan atas perbuatan hamba-Nya. Pada hadits ini juga terdapat bantahan terhadap kelompok Majusiyah dan selain mereka

Kemudian perkataan : “Audzubika min syarri ma shana’tu”
Berlindung kepada Allah kemudian menggantungkan diri kepada-Nya, membentengi diri dengan-Nya, lari kepada-Nya dari apa yang dia takutkan, sebagaimana seorang yang lari dari musuh dengan berlindung di balik prisai yang menyelamatkan dia darinya. Pada hadits ini ada penetapan tentang perbuatan dan usaha dari hamba. Dan bahwa kejelekan disandarkan kepada yang berbuat bukan kepada pencipta dari kejelekan itu, maka perkataan “Audzubika min syari ma shana’tu.”  Bahwa kejelekan itu hanya dari hamba, adapun Rabb maka baginya nama-nama yang baik dan segala sifat yang sempurna. Maka setiap perbutan-perbuatan-Nya penuh hikmah dan maslahat, hal ini dikuatkan dengan sabdanya :
“… dan kejelekan itu bukan kepada-Mu.” (HR Muslim dalam Doa istiftah)

Kemudain perkataan “Abuu bini’matika alayya“ artinya aku mengetahui akan perkara ini, yaitu aku mengenalmu akan pemberian nikmat-Mu atasku. Dan sesungguhnya aku adalah orang yang berdosa, dari-Mu perbuatan ihsan dan dariku perbutan dosa, dan aku memuji-Mu atas nikmat-Mu dan Engkaulah yang lebih berhak atas pujian dan aku meminta ampun atas dosa-dosaku.

Oleh karena itu berkata sebagian orang-orang arif : semestinya bagi seorang hamba agar jiwanya mempunyai dua hal yaitu jiwa yang senatiasa memuji rabbnya dan jiwa yang senatiasa meminta ampun atas dosanya. Dari sini ada sebuah kisah Al Hasan bersama seorang pemuda yang duduk di masjid seorang diri dan tidak bermajlis kepadanya, maka ketika suatu hari lewat kepadanya beliau berkata : “Apa sebabnya engkau tidak bermajelis dengan kami, maka pemuda itu menjawab ‘ pada waktu itu aku berada diantara nikmat Allah dan dosaku yang mengharuskan aku memuji-Nya atas nikmat tersebut dan istighfar atas dosaku, dan aku ketika itu sibuk memujinya dan beristighafar kepada-Nya dari bermajelis kepadamu’, maka berkata Al Hasan : Engkau lebih fakih menurutku dari Al Hasan.”

Dan kapan seorang hamba bersaksi dengan dua perkara ini maka akan istiqomahlah peribadatannya kepada-Nya dan akan naik kepada derajat ma’rifat dan iman sehingga akan terus merasa kecil dihadapan Allah maka akan semakin tawadhu kepada Rabbnya, dengan demikian ini adalah kesempurnaan peribadatan Kepada-Nya dan berlepas diri dari sikap ujub, sombong dan tipuan amal.

Dan Allah-lah yang memberi petunjuk serta taufiq, segala puji hanya bagi Allah shalawat dan salam atas penghulu kita Muhammad, keluarga dan shahabatnya.

Apakah bid’ah ini dibaca hanya setiap habis sholat tertentu saja ?
Maka saya bisa menjawabnya begini : Didalam hadis, tidak ada penyebutan secara mutlak mengenai kapan kita harus membaca istighfar tersebut, artinya, kita bisa saja membacanya sore hari atau pagi hari diwaktu mana saja kita sukai, sebab sebagaimana firman Allah :


Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. -Qs. an-Nisa’  4:103

Sungguh, dalam penciptaan langit dan bumi dan terjadinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang memiliki pikiran (yaitu) yang mengingat ALLAH sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil berbaring -Qs. 3 ali imron : 190 – 191
Karena itu, jawabnya boleh-boleh saja asal kita tidak lantas memutlakkan bahwa harus disubuh hari saja membaca istighfar tersebut dan diwaktu lainnya dianggap kurang afdol atau tidak sah.


Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH
https://arsiparmansyah.wordpress.com
http://armansyah.swaramuslim.com
http://dunia-it-armansyah.blogspot.com/

%d bloggers like this: