Selamat ‘Iedul Fitri 1429 H

Bila muka tak bisa saling bersua
Bila lidah tidak bisa saling mengucap kata
Bila waktu sudah tak lagi tersisa
Maka untaian maaf ini jadikanlah sebagai perantara

Sahabat semua,

Mohon maaf lahir dan batin
Atas semua perkataan / lisan,
semua tulisan,
semua kelakuan dan semua pemikiran yang mungkin menyakiti
serta tidak berkenan dihati

Selamat ‘Iedul Fitri 1 Syawal 1429 H
Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT


ARMANSYAH & Keluarga

Advertisements

Jangan sia-siakan anakmu yang perempuan

Tadi malam saya akhirnya menuntaskan pembacaan novel “kisah nyata” karangan Jean P. Sasson (http://www.jeansasson.com) berjudul  “the Princess“. Sebuah kisah memilukan sekaligus memalukan tentang nasib kaum perempuan di Arab Saudi.

Saya tidak akan berbicara mengenai pro dan kontra terhadap isi buku tersebut, namun rasanya perlu saya ikut berbagi pengetahuan tentang keutamaan kita –khususnya selaku orang tua– atas anak-anak kita yang perempuan.

Mereka terlahir atas cinta kasih kita dengan istri, mereka tidak pernah meminta untuk dilahirkan dan memiliki orang tua seperti kita. Jangan sia-siakan mereka …

Rasul bersabda, “Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan lalu bersabar di dalam kesusahan dan kegembiraan mereka, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga dengan kasih sayang-Nya kepada mereka” Seorang laki-laki bertanya, “Bagaimana jika dua anak, ya rasul?” Rasul menjawab, “dua anak juga.” Laki-laki itu bertanya lagi, “Bila satu anak, ya rasul” Dijawab, “satu anak perempuan juga” (HR. Hakim)

Rasulullah saw. bersabda, “Tiada seorang muslim yang memiliki tiga anak perempuan kemudian dia memberi nafkah sampai keduanya menikah atau meninggal dunia kecuali keduanya menjadi dinding baginya dari api neraka.” Seorang perempuan bertanya,”Apakah dua anak juga?” Rasul menjawab, “Atau dua anak perempuan.” (HR Thabrani)

Rasululalh saw. bersabda, “barangsiap diuji dengan anak-anak perempuan ini, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka (anak-anak perempuan itu) menjadi benteng untuknya dari api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).


“Barangsiapa memelihara dua anak perempuan, memberi nafkah kepada keduanya dan membaguskan pemeliharaan keduanya sampai keduanya dewasa, maka akan datang di hari kiamat aku dan dia.” Rasul mengepalkan jari-jari beliau (HR. Muslim, Tirmidzi, Ibnu Hibban).

Pesan Imam Ali

Mutiara Nahjul Balaghah
Wacana dan surat-surat Imam Ali R.a,
Diambil dari buku dengan judul yang sama
Dengan pengantar Muhammad Abduh
Terbitan Mizan Cetakan VII Mei 1999
Ditulis ulang oleh : Armansyah
http://armansyah.swaramuslim.net
U/. Milis_Iqra 06 Pebruari 2007
——————————–

Pesan Imam Ali r.a kepada Abu Dzar r.a ketika melepasnya menuju dusun terpencil Rabadzah
Halaman 67

Abu Dzar al-Ghifari adalah seorang sahabat dekat Nabi Saw yang melancarkan berbagai protes dan kecaman keras terhadap Muawiyah bin Abu Sofyan serta pejabat-pejabat bawahannya didaerah Syam. Hal ini disebabkan mereka hidup amat mewah dan berfoya-foya diatas penderitaan rakyat.; Karena merasa kewalahan dan khawatir akan meluasnya pengaruh Abu Dzar, maka Muawiyah mengadukannya kepada Usman bin Affan selaku Khalifah waktu itu yang kemudian memangggil Abu Dzar kekota Madinah dengan maksud mencegahnya meneruskan kecaman-kecaman tersebut.

Tetapi Abu Dzar tetap bersikeras pada pendiriannya, bahkan mendesak Khalifah Usman agar memecat Muawiyah dari jabatannya sebagai gubernur Syam dan sekitarnya.; Akhirnya atas hasutan Marwan bin Hakam, menantu dan penasehat pribadi Usman bin Affan, lalu Abu Dzar diusir dan diasingkan ke Rabadzah, sebuah dusun terpencil. Dan dikeluarkanlah perintah agar tidak seorangpun mengiringi keberangkatan Abu Dzar atau bercakap-cakap dengannya.; Marwan sendiri ditugasi oleh Usman untuk mengawasi pelaksaan perintah tersebut.

Namun pada hari keberangkatannya, Ali bin Abu Thalib bersama ‘Aqil bin bin Abu Thalib ( saudaranya ), Ammar bin Yasir serta kedua putera beliau Hasan dan Husien ikut mengantar dan bercakap-cakap dengan Abu Dzar.

Saat Marwan melihat Hasan putera Ali ( cucu Rasul ) berbincang-bincang dengan Abu Dzar, Marwan menegurnya : ” Hai Hasan, tidakkah anda ketahui bahwa Amirul Mukminin ( Usman ) telah melarang siapapun berbicara dengan orang ini ? ; Jika belum tahu, ketahuilah sekarang ! ” ; Mendengar ucapan yang sombong itu, Ali menjadi gusar lalu dipukulnya unta Marwan dengan cambuknya seraya berkata : ” Minggirlah, semoga Allah melemparkanmu keneraka ! ” ; Ucapan itu menyebabkan Marwan meninggalkan tempat itu dalam keadaan marah dan mengadukannya kepada Usman.; Sementara Ali sendiri berkata kepada Abu Dzar :

Wahai Abu Dzar, sungguh engkau telah marah demi Allah.
Maka gantungkanlah harapanmu hanya kepada Dia yang engkau marah untuk-Nya.
Orang-orang itu telah menjadi takut kehilangan dunia mereka, sementara engkau telah risau karena takut kehilangan agamamu, maka tinggalkanlah apa yang mereka takutkan. Biarkanlah itu ditangan mereka dan larilah dengan membawa apa yang engkau takutkan dari mereka.

Sesungguhnya besar sekali kebutuhan mereka pada apa yang tidak engkau berikan kepada mereka.
Sedang engkau sama sekali tidak membutuhkan apa yang tidak mau mereka berikan kepadamu.
Kelak engkau pasti akan mengetahui siapa yang benar-benar beruntung dan lebih banyak memperoleh pengagum serta orang-orang yang merasa iri padanya.

Dan sekiranya seluruh langit dan bumi tertutup rapat bagi seorang hamba, lalu ia bertakwa kepada ALLAH SWT, niscaya Allah akan membukakan jalan tembus baginya.

Maka jangan sekali-kali membiarkan sesuatu mendatangkan ketenangan bagimu selain kebenaran. Dan jangan membiarkan sesuatu menyebabkan kerisauan bagimu selain kebatilan. Sekiranya engkau bersedia menerima dunia mereka, pasti mereka akan mencintaimu. Namun jika engkau bersedia menerima sebagian darinya untuk engkau nikmati, pasti mereka tidak akan lagi merasa takut kepadamu.

Demikianlah.

Doa Imam Ali

Mutiara Nahjul Balaghah
Wacana dan surat-surat Imam Ali R.a,
Diambil dari buku dengan judul yang sama
Dengan pengantar Muhammad Abduh
Terbitan Mizan Cetakan VII Mei 1999
Ditulis ulang oleh : Armansyah
http://armansyah.swaramuslim.com | arsiparmansyah.wordpress.com
U/. Milis_Iqra 17 Januari 2007
——————————————————————-

Pasal 23 : Doa Imam Ali R.a
Halaman 49


Ya Allah, peliharalah kehormatan wajahku dengan kecukupan.
Jangan jatuhkan martabatku dengan kemiskinan, sehingga aku terpaksa mengharapkan rezki dari manusia yang justru mengharapkan rezki dari-Mu.

Atau memohon belas kasihan hamba-hambaMu yang jahat. Atau tertimpa bala’ dengan memuji siapa yang memberiku atau mencela siapa yang menolakku. Sedangkan Engkaulah dibalik semua itu yang sebenarnya memberi dan menolak.
Sesungguhnya Engkaulah yang maha kuasa atas segalanya …

Allahumma, Ya Allah, Engkaulah yang paling dekat menghibur para wali-Mu, yang paling menjamin kecukupan bagi siapa saja yang bertawakkal kepada-Mu. Engkau melihat sampai kelubuk hati mereka, menembus jauh dalam nurani mereka dan mengetahui kedalaman perasaan mereka.

Semua rahasia mereka terbuka dihadapan-Mu, semua bisikan hati mereka mendamba mengharap dari-Mu.

Bila menderita keterasingan, mereka segera terhibur dengan sebutan-Mu.
Dan bila tercurah atas mereka aneka ragam musibah, merekapun berlindung kepada-Mu.
Mereka benar-benar menyadari bahwa kendali segalanya berada ditangan-Mu sebagaimana kemunculannya berasal dari ketentuan-Mu.

Allahumma, bila aku tak mampu mengutarakan permohonanku, atau tak kuasa melihat keinginanku, tunjukilah aku sesuatu yang akan mendatangkan maslahat bagiku. Sebab semuanya itu tak mengherankan diantara jalan hidayah-Mu, bukan pula sesuatu yang baru diantara kemampuan-Mu.

Rahasia Kehidupan

Rahasia Kehidupan
Oleh : Armansyah
Created on July 28, 2007
Penulis Buku :
– Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih
– Jejak Nabi “Palsu”
– Ramalan Imam Mahdi

Firstly Posted in Milis_Iqra@googlegroups.com on July 30, 2007

=-=-=-=-=—=-

Alkisah, sekelompok sahabat Nabi telah memantapkan tekad mereka untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan jalan menolak kehidupan duniawiah yang dianggap sebagai penghalang pencapaian tujuan tersebut.

Diantaranya ada yang menolak untuk menikah, ada yang menolak untuk memakan daging dan ada juga yang menolak untuk tidur diatas hamparan tembikar sebagaimana dikisahkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya yang bersumber kepada Anas.

Tampaknya, mereka adalah orang-orang yang jujur, orang yang berada diatas jalan kebenaran yang bagi mereka hidupnya hanyalah untuk Allah semata, tidak ada ruang dan tempat buat apapun disisinya selain Allah. Suatu pola kehidupan yang sebenarnya telah populer dikalangan kaum Bhiksu, Pertapa, Pendeta, Sufi dan sebagainya sejak ratusan atau mungkin ribuan tahun sebelum itu.

Sungguh, ini adalah sikap mental yang sangat positip sekali dalam rangka pencerdasan nilai-nilai spiritual yang sering terkontaminasi oleh kesemrawutan kehidupan duniawiah yang serba gemerlap, serba materialistis, serba politis, serba munafik. Orang per orang pada ribut untuk berebut jabatan, saling sikut demi mendapatkan posisi sebagai Kepala Negara, sebagai Kepala Daerah, sebagai caleg nomor satu, sebagai Mentri, sebagai Camat, sebagai Bupati bahkan sebagai RT dikampung sekalipun. Begitu juga diperkantoran, orang menebar fitnah agar bisa naik posisi dihadapan atasannya, agar bisa diberikan fasilitas mewah seperti mobil atau rumah. Ibu-ibu dengan dalih arisannya, juga ikut-ikutan sibuk menggunjingkan si A atau si B yang dagangannya lebih laris, yang rumahnya lebih besar, yang mobilnya lebih lux, yang suaminya lebih tampan dan seterusnya.

Dikampus atau sekolahan, para pemuda bertikai demi mendapatkan sang pujaan hati yang cantik nan jelita. Mereka bergaya bak pemain Srimulat atau Ekstravaganza dalam usaha mempopulerkan dirinya sehingga mendapatkan kekaguman dan simpati dari calon kekasih. Suatu waktu mereka ngebut-ngebutan dijalan biar disebut hebat, dilain waktu mereka berkelahi, tawuran dan saling menikam dengan pisau agar disebut jagoan.

Nun jauh ditempat berbeda, sepasang suami istri rela melakukan apa saja untuk mendapatkan anak yang di idam-idamkan sejak lama, berpantang ini berpantang itu telah dilakukan, mengatur siklus hubungan intimpin sudah dicoba sesuai petunjuk dan saran dari dokter, tidak itu saja, lewat dokter gagal jalur alternatifpun ditempuh, datanglah keparanormal atau dukun yang konon katanya lewat kesaktiannya mampu memberikan keturunan yang molek bagi suami istri yang bermasalah itu. Gagal juga, Tuhanpun disalahkan karena putus asa.

Banyak pernak-pernik dunia ini yang menyeramkan untuk dijalani … sejuta tragedi, semilyar petaka, sebilyun air mata telah siap menanti dibalik jalan-jalan panjang hembusan nafas yang terlontar setiap harinya.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. -Qs. 3 Ali Imran:14

Saat perut lapar kita perlu makan, dan makanpun harus yang enak dan bergizi … bekerjalah kita …. semakin keras dan gigih kita bekerja maka peluang untuk makan yang lebih dari sekedar enak dan bergizi tadi lambat laun mampu kita dapatkan …

Tapi masalah tidak berhenti sampai disini bila kita sudah menikah
Urusannya semakin kompleks … makanan yang enak dan bergizi itu harus cukup buat anak dan istri … atau kalau perlu juga cukup untuk dikonsumsi oleh orang tua dan saudara-saudara kita ….. Belum puas, kitapun berpikir tentang perlunya bekerja untuk 7 turunan kita …. kita harus menggunakan semua cara demi terwujudnya cita-cita luhur ini … pintu kejahatanpun menggedor, kita bisa korupsi.

Kita bisa memulai dari Korupsi waktu, korupsi data, korupsi uang, korupsi keluarga …. yah, pokoknya yang berbau manipulasi itulah …

Ternyata dunia memang kotor
Hitam pekat …

Tampaknya … kehidupan selibat, kehidupan bhiksuni atau Rahbaniyyah adalah alternatip terbaik untuk menjangkau keridhoan Tuhan yang Maha Suci dan Maha Agung, bagaimana mungkin kita bisa dekat, bisa bersahabat, bisa bermesraan dengan Dia jika kita masih terjebak dalam dunia yang serba semu dan serba kotor ?

Kawin … sex …ciuman, pelukan, mesra-mesraan …… ah, itu semua urusan daging yang menjijikkan … semua penuh nafsu !
Berumah tangga … hamil … melahirkan … bertanggung jawab … mencari nafkah untuk keluarga …. ah, itupun cuma sekedar beban yang membuat hilangnya konsentrasi ibadah dan penyerahan totalitas kita kepada Allah.

Bukankah al~Qur’an berkata :

Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia dari pada mereka di hari Kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. -Qs. 2 al-Baqarah: 212

Jadi bukankah lebih baik sebagai orang beriman maka kita tinggalkan saja kehidupan dunia yang katanya indah-indah itu ? Khan kenyataannya hidup tidak indah, hidup penuh gelombang. Dunia yang hitam pekat ini adalah ancaman terbesar bagi nilai-nilai Tauhid yang dikehendaki oleh Tuhan, selama kita tetap tidak beranjak dari nafsu dunia, maka bukankah masih perlu dikaji kembali pernyataan Syahadat kita ? Bagaimana kita bisa menjangkau peringkat Tauhid yang Kaffah dan Hanif bila kita ternyata juga tetap terbelenggu oleh pemberhalaan tersembunyi terhadap anak-anak, harta, wanita, tahta, keluarga, populeritas dan sebagainya itu ?

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. -Qs. 8 al-Anfaal :28

Tapi bagaimana dengan makna hidup dan hakekat keberadaan kita sendiri didunia ini ?
Jika memang kehidupan dunia hanya sebuah fatamorgana yang sama sekali tidak bermanfaat buat orang beriman, kenapa Allah tidak menjadikan dunia ini diisi oleh orang kafir saja semuanya ?

Atau untuk apa Allah menjadikan dunia yang serba ingkar kepada eksistensi kebenaran-Nya yang sejati dan membiarkan orang beriman hidup bersatu padu dengan orang kafir ?

Pasti ada logika lain yang mampu menjawab pertanyaan klasik seperti diatas.

Sesungguhnya kehidupan dunia hanya permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertaqwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. -Qs. 47 Muhammad :36

Hidup memang ternyata ditamsilkan sebagai sebuah ajang permainan … analogi sederhana dari penjelasannya adalah ketika kita sedang bermain Mortal Combat, Nascar, Winning Eleven, Fifa, Prince of Persia atau Final Fantasy di console Playstation, yang kita kejar adalah kemenangan dan kepuasan. Kita akan merasa kecewa bila permainan yang kita mainkan berakhir dengan kekalahan, kita pada hakekatnya tidak mau menjadi pecundang dalam permainan tersebut.

Begitulah sebenarnya kehidupan ini … kita sedang bermain dalam sebuah pentas sejarah yang sayangnya tidak bisa direset sekehendak hati saat kita gagal atau games over pada endingnya, karena itu kita tidak boleh jadi pecundang, artinya kita mesti menjadi pemenang dari permainan diatas dunia fana ini.

Pernikahan, pekerjaan, kekayaan, sex, persahabatan, kultus individu, jabatan dan lain sebagainya itu hanya sebuah ujian dari ketauhidan atau penghambaan kita kepada Allah … cinta kasih-Nya menjalar disetiap sisi dunia yang gelap itu, cahaya-Nya bersinar hangat dibalik belahan gemerlap dunia yang kotor dan penuh kemunafikan …. senyum-Nya ada pada setiap level atau stage yang berhasil kita lalui, tugas kita adalah menyelesaikan permainan dengan baik, semua bentuk kesukaran yang ditemui pada dasarnya adalah penyesuaian dari semakin tingginya level dimana kita berada. Bermohonlah kepada-Nya, bermunajatlah kepada-Nya, penuhi semua seruan-Nya, maka kita akan menemui cheat-cheat maupun tips-tips khusus yang membantu mengalahkan ambisi nafsu duniawiah yang hendak memasung langkah kita.

Menghindari kehidupan dunia sama artinya menghindari pengakuan eksistensi kita diatas bumi ini, bila kita menolak menikah, menolak hidup berkeluarga, menolak hamil dan melahirkan, menolak mengejar harta dan jabatan sama saja dengan menolak kefitrahan yang sudah dilimpahkan oleh Allah yang Maha Kuasa, dan itu artinya kita bahkan secara tidak langsung sudah menolak Allah itu sendiri ! Menolak Allah … menolak cinta kasih-Nya, menolak rahmat-Nya, menolak sunnatullah-Nya.

Jika sudah seperti ini apakah iya kitapun masih layak disebut bertuhan ? apakah lagi bertauhid ?

Pantas saja saat Nabi Muhammad mendengar keinginan sekelompok sahabatnya itu untuk menjalani kehidupan yang demikian, beliau berkata :

Mengapa beberapa orang mengatakan begini … dan begini ? Ketahuilah aku Sholat dan tidur, puasa dan berbuka, menikahi perempuan … sebab itu siapa yang tidak menyukai sunnahku maka orang itu tidak termasuk golonganku !

Subhanallah, Rasul yang mulia itu malah memberikan penegasannya bahwa tidak sepatutnya manusia itu melarikan diri dari dunia, melarikan diri dari nilai fitrahnya meskipun itu untuk mengejar penghambaan diri yang totalitas kepada Allah.

Ternyata Islam benar-benar tidak egois … semua sudah dibagi menurut porsinya masing-masing, ada hak untuk Allah dan ada hak untuk manusia. Kita dijadikan diatas dunia ini bukan dalam bentuk malaikat justru karena memang itulah fitrah kita. Jangan bermimpi untuk berpola hidup seperti malaikat. Olehnya pula otomatis kitapun tidak harus memalaikatkan juga manusia lain diluar kita yang hanya akan membuat kita keluar dari batasan Tauhid dan kewajaran yang sudah ditentukan oleh-Nya.

Kita senang dengan harta, jabatan, pasangan, anak-anak, sex, guru, sahabat dan seterusnya itu adalah hal yang wajar tapi dudukkanlah semua itu pada haknya masing-masing, tidak perlu berlebihan, tidak perlu pula disangkali.

Ada ustadz kaya, Alhamdulillah, ada ustadz yang miskin maka bantulah dia … kita tidak boleh sinis dengan keduanya, kaya atau miskin merupakan bagian dari proses kehidupan yang dijalani oleh kedua hamba Allah tersebut, apa yang salah bila ada orang beriman yang kaya ? atau apa yang salah bila ada orang beriman yang kehidupannya pas-pasan ?

Bukankah al~Qur’an sudah memberikan contoh keteladanan Sulaiman dengan seluruh mahligai istananya ? bukankah al~Qur’an juga sudah memberikan contoh keteladanan Ayyub yang penuh kesederhanaannya ?

Menikah … seluruh Nabi Allah menikah tanpa terkecuali.

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami adakan kepada mereka istri-istri dan keturunan. -Qs. 13 ar-Ra’d :38

Apa yang salah dengan menikah ?
Hamba-hamba Allah yang terkasih seperti Nuh, Ibrahim, Musa, Daud, Sulaiman, Isa al~Masih (Yesus) sampai kepada Muhammad melangsungkan pernikahan …. mereka berkasih-kasihan dengan istri mereka, mereka melakukan hubungan intim dengan istri mereka dan mereka memperoleh keturunan dari pernikahan mereka.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. – Qs. 30 ar-Ruum : 21

Sama sekali tidak terlihat adanya kesalahan atau kebatilan dalam tatanan pernikahan …

Muslim dari Sa’id bin Abu Waqqas meriwayatkan, saat Usman bin Madh’un berniat untuk hidup membujang, Nabi Saw melarangnya …. lalu kenapa kita harus memandang sebelah mata dengan pernikahan saat kita sudah memiliki kemampuan untuk melakukannya secara finansial ?

Takut cerai ? takut gagal ? takut anu dan takut anu ?

Semua ketakutan itu tidak ada dasarnya secara realistis.
Ketakutan itulah yang justru menjadikannya takut untuk melangkah.

Setiap rumah tangga pasti berhadapan dengan badai, pasti berhadapan dengan prahara … sekecil apapun itu.
Apakah badai dan prahara ini justru membuat kita lari kebelakang ? membuat kita mengundurkan langkah kaki kesuatu bentuk pertanggung jawaban moral sebagai seorang suami atau sebagai seorang istri ?

Untuk apa Allah menurunkan ayat-ayatNya tentang rumah tangga ? tentang pengaturan siapa yang halal dan siapa yang haram untuk dinikahi ? tentang pembagian waris ? tentang wasiat Tauhid pada generasi selanjutnya ? tentang perceraian ?

Allah tidak haus dengan pengabdian yang monoton, Allah itu dinamis.
Allah menjadikan pria memiliki penis lengkap dengan susunan spermatozoanya yang merupakan alat untuk bersenang dan meneruskan garis keturunan, Allah juga menjadikan wanita bertubuh indah, wajah cantik dan rupawan lengkap dengan struktur ovariumnya sebagai tempat untuk bersenang dan memelihara calon Khalifah Tuhan berikutnya didunia …. semua adalah sekelumit kecil dari bentuk ketidak egoisan Tuhan melalui otoritas-Nya kepada manusia.

Maka terhadap nikmat Tuhanmu yang manakah kamu ragu-ragu ? -Qs. 53 an-Najm :55

Dengan menenggelamkan diri kita kedalam dunia, mencari nafkah, rapat anu dan rapat anu, pergi menjajakan kue, menulis artikel, menyusui anak, mondar-mandir kedokter untuk mengontrol kesehatan, berpolitik, bersenang-senang adalah jalan untuk mencapai kemuliaan dimata Tuhan.

Itulah rahasia kehidupan yang sesungguhnya.

Apakah manusia itu menyangka bahwa mereka akan dibiarkan berkata: “Kami telah beriman”, padahal mereka belum diuji kembali ? -Qs. 29 al-Ankabut :2

Allah tidak ingin kita keluar sebagai pecundang, Allah ingin Tauhid kita bagus, Allah tidak menjadikan kita malaikat yang tanpa nafsu, itu semua adalah karunia yang harus kita syukuri, kita harus pandai memanajeriali diri kita sendiri. Jangan bertindak berlebihan, jangan bertindak anarkis, jangan bersikap merugikan orang lain … itulah cara mendapatkan cinta kasih Allah.

Dan sebagian manusia, ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Tetapi orang-orang yang beriman adalah amat sangat cintanya kepada Allah. -Qs. Al-Baqarah 2:165

Manusia adalah Khalifah, jadi eksistensi amanah itu harus kita pegang dengan baik sebab kita akan mempertanggung jawabkan kekhalifahan kita kelak disaat mulut dan tangan telah terkunci.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. -Qs. 2 al-Baqarah :216

Palembang, 2008

Armansyah

=-=-=-=-=—=-

Khutbah Nabi dalam pernikahan Fatimah

Artikel dirujuk dari blog Bapak Syamsuri, salah seorang member milis_iqra@googlegroups.com
Alamat blog : http://shalatdoa.blogspot.com/2008/04/khutbah-nabi-saw-dalam-pernikahan.html

Allah yang memerintahkan Nabi saw agar menikahkan Fatimah dengan Ali (sa)

Dalam kitab Dzakhair Al-Uqba: 32, bab Fadhail Fatimah (sa):
Anas bin Malik berkata: Ketika Rasulullah saw berada di masjid, beliau bersabda kepada Ali (sa): “Ini Jibril memberitahu aku bahwa Allah telah menikahkan kamu dengan Fatimah, dan disaksikan oleh empat puluh ribu malaikat…”

Dalam kitab yang sama, halaman 86 disebutkan:
Ali bin Abi Thalib (sa) berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Datang kepadaku malaikat Jibril dan berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah menyampaikan salam padamu dan berfirman padamu: Sesungguhnya Aku telah menikahkan Fatimah puterimu dengan Ali bin Abi Thalib di tempat yang paling mulia, maka nikahkan ia dengannya di bumi.”

Hadis ini dan yang semakna terdapat dalam kitab:
1. Kanzul Ummal, jilid 6 halaman 152, fadhail Ali bin Abi Thalib (sa), hadis ke 32891.
2. Majma’ Az-Zawaid, Al-Haitsami, jilid 9 halaman 204, manaqib Fatimah (sa).
3. Faydh Al-Qadhir, Al-Manawi, jilid 2 alaman 215.
4. Ash-Shawaiq Al-Muhriqah, Ibnu hajar, halaman 74, bab 9, fadhail Ali bin Abi Thalib (sa).
5. Kunuz Al-Haqaiq, halaman 29, hadis ke 1415.

Khutbah Nabi saw dalam pernikahan Fatimah dengan Ali (sa)
Dalam Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab 4, bab manaqib Ali bin Abi Thalib (sa):
Anas bin Malik berkata: Abu Bakar pernah melamar Fatimah (sa) kepada Rasulullah saw. Tapi Rasulullah saw bersabda: Wahai Abu Bakar, belum turun ketetapan dari Allah swt. Kemudian Umar melamarnya beserta beberapa orang quraisy. Rasulullah saw menjawab seperti jawaban kepada Abu Bakar. Kemudian salah seorang dari mereka berkata kepada Ali bin Abi Thalib (sa): Sekiranya engkau yang melamarnya kepada Nabi saw, niscaya beliau menerima lamaranmu. Ali (sa) berkata: Bagaimana mungkin, padahal sebelumnya pemuka-pemuka Quraisy telah melamarnya dan beliau tidak menerimanya? Anas berkata: Kemudian Ali bin Abi Thalib (sa) melamarnya. Maka Rasulullah saw bersabda: “Telah memerintahkan padaku Tuhanku Azza wa Jalla tentang hal itu.”

Anas bin Malik berkata: Berselang beberapa hari Nabi saw memanggilku dan bersabda: Wahai Anas, undang agar datang kepadaku Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Sa’d bin Abdul Waqqash, Thalhah, Zubair dan beberapa orang dari Anshar. Kemudian aku mengundang mereka. Mereka pun datang dan berkumpul di dekat Nabi saw, mereka menyiapkan majlis, sedangkan Ali bin Abi Thalib (sa) tidak hadir karena menyiapkan keperluan Nabi saw. Dalam pernikahan puterinya Fatimah Az-Zahra’ Rasulullah saw bersabda dalam khutbahnya:

الحمد لله المحمود بنعمته ، المعبود بقدرته ، المطاع بسلطانه ، المرهوب من عذابه وسطواته النافذ أمره في سمائه وأرضه ، الذي خلق الخلق بقدرته ، وميزهم بأحكامه وأعزهم بدينه ، وأكرمهم بنبيه محمد (صلى الله عليه وآله وسلم) ، إن الله تبارك اسمه ، وتعالت عظمته ، جعل المصاهرة سبباً لاحقاً ، وأمراً مفترضاً أوشج به الأرحام ، وألزم الأنام ، فقال عز من قائل : ( وهو الذي خلق من الماء بشراً فجعله نسباً وصهراً وكان ربك قديراً ) فأمر الله تعالى يجري إلى قضائه ، وقضاؤه يجري إلى قدره ، ولكل قضاء قدر ، ولكل قدر أجل ولكل أجل كتاب : ( يمحو الله ما يشاء ويثبت وعنده أم الكتاب.( ثم إن الله عزوجل أمرني أن أزوج فاطمة بنت خديجة من عليّ بن أبي طالب فاشهدوا أني قد زوجته على أربعمائة مثقال فضة إن رضي بذلك علي بن أبي طالب.

“Segala puji bagi Allah yang terpuji dengan segala nikmat-Nya, yang disembah dengan ketentuan-Nya, yang ditaati dengan kekuasaan-Nya, yang ditakuti azab dan kekuasaan-Nya, yang meliputi perkara-Nya di langit dan bumi-Nya, yang menciptakan makhluk dengan takdir-Nya, yang mengistimewakan makhluk-Nya dengan hukum-Nya dan memuliakan mereka dengan agama-Nya, yang menjadikan mereka mulia dengan Nabi-Nya Muhammad saw. Sesungguhnya Allah nama-Nya Maha Mulia, Maha Tinggi dan Maha Agung. Ia telah menjadikan mushaharah (hubungan keluarga karena pernikahan) sebagai sebab penerus generasi, perkara yang menjadi sebab penyambung keluarga dan penerus generasi manusia. Allah yang Maha mulia firman-Nya menyatakan: “Dialah yang menciptakan manusia dari air kemudian menjadikan manusia punya keturunan dan mushaharah, dan Tuhanmu Maha Kuasa.” (Al-Furqan: 54). Perkara Allah swt berlaku dalam ketetapan-Nya, ketetapan-Nya berlaku dalam takdir-Nya, setiap ketetapan mempunyai takdir, setiap takdir mempunyai ajal, dan setiap ajal mempunyai kitab, “Allah menghapus apa yang dikehendaki dan menetapkan (apa yang dikehendaki), di sisi-Nya ada Ummul Kitab.” (Ar-Ra’d: 39).

Sesungguhnya Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikan sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah ( dalam nilai perak), dan Ali bin

Kemudian Nabi saw minta mangkok yang berisi kurma yang masih segar. Kemudian dihidangkan di depan kami, lalu beliau bersabda: “Ambil lalu pergilah. Kemudian kami pergi. Ketika kami pergi datanglah Ali bin Abi Thalib (sa) datang kepada Nabi saw, lalu Nabi saw tersenyum dan bersabda:

إن الله أمرني أن أزوجك فاطمة على أربعمائة مثقال فضة إن رضيت بذلك

“Sesungguhnya Allah telah memeritahkan aku untuk menikahkan kamu dengan Fatimah dengan mahar empat ratus fidhdhah (perak), jika kamu ridha hal itu.”
Ali (sa) menjawab: Aku ridha ya Rasulallah.

Anas berkata: kemudian Nabi saw berdoa:

جمع الله شملكما، وأسعد جدكما، وبارك عليكما، وأخرج منكما كثيراً طيباً

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.”

Anas bin Malik berkata: Demi Allah, sungguh telah keluar dari mereka berdua kebajikan yang banyak.

Muhibuddin Ath-Thabari Asy-Syafi’i berkata: Hadis ini juga diriwayatkan oleh Abul Khayr Al-Qazwini Al-Hakimi.

Khutbah ini juga disebutkan dalam kitab:
1. Dzakhair Al-‘Uqba, halaman 29, fadhail Fatimah (sa).
2. Ash-Shawa’iq Al-Muhriqah, Ibnu hajar, halaman 84, 85 dan 97, bab 11, fadhail Ahlul bait (sa). Pada halaman 97 terdapat sedikit perbedaan redaksi.
3. Mirqat Al-Mafatih, Ali bin Sulthan, jilid 5 halaman 574, bab fadhail Ali bin Abi Thalib (sa), syarah hadis ke 6104.

Khutbah Nabi saw dalam Riwayat yang lain
Dalam kitab Makarimul Akhlaq: 206, Syeikh Ath-Thabrasi:
Imam Ali Zainal Abidin (sa) berkata: Ketika Nabi saw menikahkan Fatimah (sa) dengan Ali (sa) beliau menyampaikan khutbahnya:

الحمد لله المحمود بنعمته، المعبود بقدرته، المطاع بسلطانه، المرهوب من عذابه وسطوته، المرغوب إليه فيما عنده، النافذ أمره في سمائه وأرضه. ثم إن الله عزوجل أمرني أن أزوج فاطمة من علي [ بن أبي طالب ]، فقد زوجته على أربعمائة مثقال فضة إن رضي بذلك علي. ثم دعا صلى الله عليه وآله وسلم بطبق [ من ] بسر، ثم قال انتهبوا فبينا ننتهب إذ دخل علي (عليه السلام) فتبسم النبي (صلى الله عليه وآله وسلم) في وجهه، ثم قال: يا علي أعلمت أن الله عزوجل أمرني أن أزوجك فاطمة فقد زوجتكها على أربعمائة مثقال فضة إن رضيت، فقال علي (عليه السلام): رضيت بذلك عن الله وعن رسوله

“Segala puji bagi Allah yang terpuji dengan segala nikmat-Nya, yang disembah dengan ketentuan-Nya, yang ditaati dengan kekuasaan-Nya, yang ditakuti azab dan kekuasaan-Nya, yang dicintai dengan segala yang ada di sisi-Nya, yang meliputi perkara-Nya di langit dan bumi-Nya. Allah Azza wa Jalla telah memerintah aku untuk menikahkan Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, maka aku nikahkan ia dengan mahar 400 fidhdhah (perak) jika Ali ridha hal itu.”

Kemudian Nabi saw menghidangkan kurma yang masih segar, lalu bersabda kepada para sahabatnya: ambillah lalu pergilah. Kemudian kami (sahabat) pergi. Ketika Ali bin Abi Thalib (sa) dating, Nabi saw tersenyum lalu bersabda: “Wahai Ali, tahukah kamu bahwa Allah Azza wa Jalla merintahkan aku untuk menikahkan kamu dengan Fatimah, maka aku telah menikahkan kalian berdua dengan mahar 400 fidhdhah jika kamu ridha. Ali (sa) menjawab: Aku ridha hal itu karena itu Allah dan Rasul-Nya.

Kemudian Nabi saw berdoa:

جمع الله شملكما وأسعد جدكما وبارك عليكما وأخرج منكما كثيرا طيبا

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.”

Jangan Mengedepankan Pornografi atas nama seni

FPKS: Jangan Mengedepankan Pornografi Atas Nama Seni
Sumber : http://fpks-dpr.or.id/main.php?op=isi&id=5928

Fraksi-PKS Online: Ramadhian Fadillah – detikNews.
Jakarta – Sejumlah artis dan seniman memprotes RUU pornografi. Namun FPKS yakin UU pornografi ini tidak akan menghambat kreativitas seniman karena seni dan pornografi adalah dua hal yang berbeda.

“Seni dan pornografi bukanlah sesuatu yang sama, jangan mengedepankan pornografi atas nama seni,” ujar anggota Panitia Khusus (Pansus) RUU Pornografi dari FPKS Hilman Rosyad Syihab dalam keterangan pers yang dikirim ke redaksi detikcom, Rabu (17/9/2008).

Hilman yang juga menjabat Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI menilai, pornografi tidak terkait agama maupun budaya tertentu. Pornografi sangat bertentangan dengan moral dan berbahaya dan akan menyebabkan sakit mental.

“Kita tahu banyak perkosaan terhadap anak di bawah umur, banyak remaja yang sudah kecanduan nonton film porno serta banyak wanita yang menjadi subjek pornografi akibat jeratan ekonomi. Semua terjadi karena materi pornografi banyak beredar tanpa kendali hukum yang memadai,” paparnya.

Hilman juga yakin tidak akan ada disintegrasi bangsa karena RUU pornografi ini. “Tidak ada suku dan agama mana pun di negeri ini yang mendukung pornografi, jadi di mana letak disintegrasi-nya?” ungkap Hilman.

Hilman mengimbau kepada semua pihak untuk secara obyektif menerima RUU Pornografi demi kepentingan dan martabat bangsa. Bila RUU dipahami dengan baik, maka tidak ada substansi yang perlu dikhawatirkan.

“Tidak ada yang perlu ditakuti dari RUU ini,” pungkasnya.


Inna min khiyarikum ahsanakum akhlâqan
Sesungguhnya orang pilihan di antara kalian adalah orang yang berakhlak baik

Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH
https://arsiparmansyah.wordpress.com
http://armansyah.swaramuslim.com
http://dunia-it-armansyah.blogspot.com/

%d bloggers like this: