Open Order: CD Saur Sepuh Episode Singgasana Berdarah

Singgasana Berdarah

Program penyelamatan salah satu budaya bangsa yang hampir punah sedang dilakukan. Saya dan kawan-kawan saat ini sedang mengumpulkan kembali rekaman Sandiwara Radio yang pernah hits di era 80-an. Yaitu masanya televisi dirumah cuma ada siaran TVRI dan berbagai legenda dalam bentuk cerita di radio berjaya, mengisi hari-hari kanak-kanak ditahun-tahun tersebut.

Salah satu sandiwara radio yang kita coba lestarikan adalah kisah Saur Sepuh karya Alm. Niki Kosasih yang juga pernah di filmkan beberapa kali di layar lebar dan telah diangkat pula dalam bentuk sinetron televisi. Pada kesempatan kali ini, kita berhasil “menyelamatkan” episode legendaris: Singgasana Berdarah.

Bagi yang ingin mendapatkan rekaman lawas Sandiwara Radio era 80-an berjudul Saur Sepuh dalam episode Singgasana Berdarah, full 56 episode yang sudah dikonversi dalam format mp3 bisa inbox facebook saya atau kontak via WhatsApp/sms di 0816-355-539 atau pin 5A20977D.

Berikut adalah contoh kualitas audio rekamannya…. silahkan didengarkan.

Peluang Usaha Mandiri (Murah)

iklan4koran-rev-ig

Memahami hikmah eksistensi Hajarul Aswad

Proses Tawaf harus dimulai dari tempat dimana Hajarul Aswad berada.

ilustrasi_hajarul_Aswad

Hajarul Aswad dipercaya oleh sebagain umat Islam merupakan batu yang berasal dari syurga yang dibawa turun oleh malaikat Jibril kepada Nabi Ibrahim. Menurut sejumlah kalangan lainnya lagi –dan ini menjadi pemahaman saya pribadi juga– Hajarul Aswad adalah batu meteor yang diturunkan oleh Allah kebumi yang menjadi petunjuk arah kepada Nabi Ibrahim ketika pertama kali beliau hendak meninggalkan istri dan anak tertuanya, Siti Hajar dan Isma’il ‘alayhissalam.

Kembali kepada proses tawaf tadi, dari tempat Hajarul Aswad inilah kita memasuki sistem alam semesta. Kita harus mengikuti pergerakan orang-orang lain yang sudah ada lebih dahulu dari kita disana dan berasimilasi bersama-sama mereka. Inilah jalan keselamatan dan cara untuk menemukan orbit kita.

Jika kita tidak menyertai orang-orang lain maka kita tidak akan sanggup untuk bergerak didalam orbit kita ataupun menghampiri Allah ta’ala. Itulah sebabnya saya sering mengulang-ulang dalam banyak status di media sosial, dibuku maupun diberbagai kesempatan tabligh bahwa untuk dapat sukses, kita mesti membantu orang lain juga untuk sukses. Kita membuka jalan buat orang lain bersama-sama menuju kepada kebahagiaan, menggapai ridho ilahi.

Dari titik batu hitam Hajarul Aswad inilah kita memiliki kesempatan untuk memilih. Kita harus memilih jalan, tujuan dan masa depan kita. Kita harus menentukan orbit dimana kita akan bergerak dalam lautan manusia yang bertawaf mengelilingi Ka’bah sebagai baitullah.

Hajarul Aswad menjadi tonggak patokan dimana kita memulai ikrar kita kepada Allah untuk tidak menyekutukan DIA dengan apapun. Kita tidak menjadi hamba makhluk manapun kecuali menjadi hambanya Allah. Kita tidak menjadikan manusia manapun sebagai tuhan-tuhan tandingan disisi Allah, tidak ada makhluk yang dapat dan boleh dinisbatkan sebagai tuhan anak, tuhan ibu, tuhan bapak ataupun jelmaan dari Tuhan itu sendiri, karena semua makhluk tetaplah dalam posisinya sebagai makhluk. Tidak pula hajarul aswad maupun Ka’bah. Hajar Aswad hanya sebagai simbol dari titik awal perjalanan menuju kepada Allah dan Ka’bah merupakan media pemersatunya.

Bertawaf mengajarkan kita pada hidup yang aktif dan dinamis. Tawaf mengajarkan nilai-nilai sosial kepada kita. Tidak bergerak sendirian tetapi bergerak bersama orang-orang lain. Kita bergerak bukan karena alasan politik, bisnis, kekerabatan atau lainnya namun kita bergerak bersama-sama atas dasar cinta. Kita berjemaah karena cinta. Ya. benar, aktifitas kita secara jama’i itu didorong hanya karena cinta kita kepada Allah. Robbul ‘aalamin.

Melalui cinta kita kepada Allah, maka Allah menghubungkan cinta-Nya juga kepada orang-orang lain yang bergerak dengan satu tujuan yang sama kepada-Nya. Dengan cara yang sedemikian dalam, halus, indah serta penuh nilai-nilai pengetahuan kosmik, Allah merajut silaturrahim kita dengan orang-orang dari berbagai negara diseluruh dunia melalui daya tarik cinta-Nya.

Tak ada sekatan kedaerah dalam menuju keridhoan Allah, tak ada pula halangan bahasa, warna kulit, perbedaan pandangan, beda ormas, beda partai politik, tidak pula ada beda status sosial antara si kaya dan si miskin.

Dalam bertawaf itu, Allah membuat kita lupa kepada diri kita sendiri. Apa yang kita rasakan hanyalah cinta dan daya tarik haru biru kepada-Nya. Kita larut dalam nuansa cinta bersama orang-orang lain yang ikut bertawaf, kita terpesona dengan totalitas penghambaan kepada Allah. Merasa terhormat dan tersanjung karena Allah telah mengundang kita secara pribadi untuk melakukan kunjungan kerumah-Nya. Dia telah mengundang kita secara pribadi untuk menziarahi Rasul yang Dia sayangi, Habiballah Muhammad ibn Abdillah al-Mustofa. Penutup para Nabi.

Mari kita sama-sama hijrah niat, sama-sama memantapkan niat untuk menjadi para tamu Allah di tanah suci.

Bagi para sahabatku dimanapun anda berada, saya mengajak anda semua untuk bergabung bersama saya dan keluarga insyaAllah tahun depan kita memohon kepada Allah dimudahkan jalannya untuk berumroh.

DP Umroh : Rp. 3,5 Juta dan selebihnya bisa anda cicil sesuai kemampuan anda. Alangkah naifnya kita jika untuk mencicil kendaraan, mencicil gadget, mencicil rumah saja kita bisa lalu untuk proses ke baitullah kita tidak mau.

Silahkan lihat jadwalnya disini : http://armitravel.com/paket-umroh-haji-plus

peluangusaha

Jika anda mampu mengajak orang lain untuk bergabung bersama-sama dalam lautan cinta-Nya sebanyak 10 orang, insyaAllah ada bonus menanti anda.

tabelkomisiarmitravel

Salam cinta Baitullah,
Salam sukses dunia dan akhirat.

Armansyah, Palembang Darussalam.

Memahami hikmah Tawaf

Ka’bah, ia bagaikan matahari yang merupakan pusat sistem tata surya ini, dan manusia-manusia yang mengelilinginya bak bintang-bintang yang beredar dalam orbitnya. Dengan Ka’bah ditengah-tengah, gerombolan manusia tersebut mengelilinginya didalam sebuah gerakan yang sirkular.

ilustrasi-semesta

Ka’bah melambangkan konstansi dan keabadian Allah, sedang jutaan manusia dalam berbagai bentuk, rupa, warna kulit, bahasa dan asal negara yang berbeda-beda yang bergerak mengelilinginya itu melambangkan aktivitas dan transisi makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang terjadi secara terus-menerus.


tawaf-sekeliling-Baitullah

Dalam perjalanan waktunya, Ka’bah akan tetap konstan ada disana sementara jutaan manusia yang bertawaf mengitarinya akan saling silih berganti dan berubah-ubah dari waktu kewaktu.

Tawaf mengajarkan arti kehidupan kepada jemaahnya. Perhatikan ritme gerakan kita ketika sedang bertawaf. Posisi kita senantiasa berubah-ubah ditengah arus jutaan manusia yang bersama-sama berputar mengelilingi baitullah. Bisa jadi pada titik tertentu kita berada sangat dekat dengan Ka’bah dan bahkan dapat menyentuhnya serta mencium Hajarul Aswad. Namun pada kesempatan lain kita boleh jadi tersingkir menjauh dan berjarak dengan Ka’bah. Seberapa jauh jarak antara kita dan Ka’bah tergantung dari jalan dan konsistensi kekuatan kita dijalan sistem tawaf itu.

Inilah hakekatnya. Didalam hidup kita kadang merasa jauh dari Tuhan. Kita seolah berjarak dengan-Nya. Terombang-ambing oleh arus kehidupan dunia yang memaksa kita terlempar jauh dari Allah.

Islam adalah ajaran yang penuh fitrah. Tidak bersifat doktrinal semu yang hanya dapat dimengerti oleh segelintir orang bergelar kyai, ustadz, syaikh, habaib atau lainnya. Jalan Allah adalah jalannya umat manusia. Untuk dapat menghampiri Allah terlebih dahulu kita harus menghampiri manusia, menghampiri makhluk-Nya. Untuk mencapai kesalehan kita harus benar-benar terlibat dalam permasalahan yang dihadapi oleh umat, oleh masyarakat.

Kita tidak boleh bersikap sebagai rahib yang memencilkan diri didalam biara, menjauh dari kompleksitas dunia, menghindari peliknya kehidupan berumah tangga, berpolitik, ekonomi, hukum dan sebagainya. Kita harus terjun kelapangan dan terlibat secara aktif. Melalui cara inilah kita dapat menghampiri Allah.

menghadap_Kabah

Renungkanlah lagi posisi kita dalam bertawaf disekeliling baitullah. Kita tidak boleh berhenti dibagian manapun dari Ka’bah selama arus perputaran aktivitas manusia yang bertawaf kepadanya terus berjalan. Kita harus ikut terbenam dan hanyut dalam gelora lautan manusia yang gegap gempita mengitari Ka’bah atau jika kita nekad berhenti maka kita akan binasa karena terinjak dan tertabrak. Kita harus aktif berkarya, berbuat dan menjalankan semua aktifitas hidup ini dalam lingkaran ibadah kepada-Nya, sebab kita merupakan Khalifah Allah.

Salam dari Palembang Darussalam.
18 September 2015.

Armansyah, M.Pd
http://armitravel.com
https://arsiparmansyah.wordpress.com

Hukum memaafkan tapi tak mau bertemu muka lagi

Memaafkan itu perkara yang mulia. Tetapi bolehkah kita memaafkan seseorang yang telah berbuat salah dengan kita namun kita sendiri enggan untuk berjumpa lagi dengannya?

Mungkin banyak dari kita akan mengatakan “… itu tidak benar… ” ; “… jangan memutus silaturrahim… berdosa …” atau “… jika demikian halnya berarti kita belum ikhlas memaafkan orang itu…. ” …” wah itu namanya kita dendam….” dan kata-kata lain yang sejenis. Iya khan?

Kata maaf, meminta maaf atau memberi maaf memang mudah dilisankan. Toh lidah tak bertulang khan? Namun sekali lagi, maaf dilisan kadang tetap membekas juga dihati. Tahukah anda, bahwa ada hal-hal tertentu yang kadang tidak mudah bagi kita untuk melupakan peristiwa yang membuat hati kita sakit, terluka dan malah jika teringatnya justru akan membuat diri kita sendiri terjebak akan dosa?

Ini perkara hati yang terluka, perkara psikologis kejiwaan.

Ada sebuah cerita….
Seorang anak diminta oleh ayahnya untuk memasang paku sebanyak mungkin disebuah papan. Setelah selesai, ayahnya justru kembali meminta sang anak mencabut paku-paku yang sudah ia tancapkan dipapan itu.

Meskipun heran, si anak akhirnya melakukannya juga. Lalu si ayah mengatakan, bahwa begitulah sebenarnya hidup ini bila kita sudah menyinggung orang lain nak. Memasang paku dipapan itu mudah dan melepasnya lagipun itu tidak begitu sulit….. tetapi apakah papan itu akan tetap sama mulusnya seperti dulu?

Hem. Lalu kembali lagi kepermasalahan awal kita…. salahkah, berdosakah bila kita memaafkan seseorang tetapi kita tidak mau melihat wajahnya lagi? Salahkah bila kita memaafkan seseorang namun kita ingin menjauh dari diri orang itu?

Yuk kita lihat apa yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW terhadap Wahsyi.

Anda tahu siapa Wahsyi? Dialah orang yang membunuh paman Rasul yang bernama Hamzah pada waktu perang Uhud atas permintaan Zubair bin Muth’im dengan jaminan pembebasan dirinya dari statusnya sebagai budak.

Riwayat berikut ini aslinya sangat panjang matnnya tetapi saya ringkas saja seperlunya, ia merupakan penuturan dari Wahsyi sendiri kepada sahabat Rasul yang bernama Ja’far bin ‘Amr Ad-Dlamry dan ‘Ubaidullah bin ‘Ady bin Hiyar.

Sumber : Shahih Bukhari No. 3764 Bab Perang:

Wahsyi berkata, “Aku tinggal di Makkah sampai Islam tersebar di sana, aku lalu keluar menuju Thaif, ketika penduduk Tha’if mengutus beberapa utusan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka salah seorang utusan berkata kepadaku, “Beliau tidak akan menyakiti utusan.” Wahsyi melanajutkan, “Aku pun pergi bersama mereka sampai aku menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika beliau melihatku, beliau bertanya: “Apakah engkau wahsyi?” aku menjawab, “Benar.” Beliau bersabda: “Apakah kamu yang telah membunuh Hamzah?” Wahsyi menjawab, “Perkara itu sebagaimana yang telah sampai kepada anda.” Beliau bersabda: “Dapatkah kamu menjauhkan wajahmu dariku?”

Wahsyi berkata, “Lalu aku kembali pulang. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal, muncullah Musailamah Al Kadzab, aku berkata, “Aku akan berusaha mencari Musailamah, semoga aku dapat membunuhnya dan menebus kesalahanku karena membunuh Hamzah, “

Musnad Ahmad 15497: Wahsy berkata; dan itulah apa yang akan menjadi janjiku. Ketika orang-orang balik pulang, sayapun bersama mereka. (Wahsy) berkata; saya tinggal di Makkah sampai Islam tersebar di sana. Saya keluar ke Thaif. lalu Rasulllah Shallallahu’alaihiwasallam mengirimkan suatu utusan kepadaku, dan mengajakku bicara, sang utusan mengatakan bahwa beliau tidak marah terhadapnya. Aku pun pergi bersama mereka sampai aku temui Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam. Ketika beliau melihatku, beliau bertanya, “Apakah engkau wahsy?” saya menjawab, “Benar”. Beliau bersabda: “Kamu yang telah membunuh Hamzah?” (Wahsy) berkata; urusan tentang pembunuhan itu telah sampai kepada anda, Wahai Rasulullah”, dan beliau bersabda: “Dapatkah kamu menjauhkan wajahmu dariku?” (Wahsy) berkata; lalu saya kembali pulang, ketika Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam meninggal dan muncul nabi palsu Musailamah Al Kadzab, saya bertekad, “Sayan akan menjumpai Musailamah, semoga saya dapat membunuhnya dan menebus kesalahan karena membunuh Hamzah”,

Adakah salah seorang dari kita akan berani menyebut Rasulullah SAW seorang pendendam hanya karena beliau menolak melihat wajah Wahsyi didekatnya atas kesalahan dia membunuh Hamzah? Saya rasa, riwayat seperti ini harus dibaca dengan pertimbangan ilmu psikologi juga sehingga kita tidak kemudian salah menjatuhkan fitnah terhadap sikap Rasulullah.

Intinya, sah dan boleh-boleh saja bila pada satu kesempatan ada orang yang berbuat salah pada kita dan hal itu kita anggap sangat melukai hati kita, susah buat kita untuk tidak terjebak pada dosa atau khilaf bila melihat orang tersebut didepan kita maka maafkanlah ia namun berilah jarak antara kita dan mereka, jarak bukan dalam artian hendak memutus silaturrahim, tetapi jarak untuk saling menjaga perasaan saja, jarak yang membuat pihak yang telah bersalah untuk belajar dan melakukan perbaikan dirinya secara sungguh-sungguh.

Salam dari Palembang Darussalam.

Mgs Armansyah Azmatkhan, M.Pd

Redaksi Asli :

صحيح البخاري ٣٧٦٤: حَدَّثَنِي أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا حُجَيْنُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْفَضْلِ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ عَمْرِو بْنِ أُمَيَّةَ الضَّمْرِيِّ قَالَ
خَرَجْتُ مَعَ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَدِيِّ بْنِ الْخِيَارِ فَلَمَّا قَدِمْنَا حِمْصَ قَالَ لِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَدِيٍّ هَلْ لَكَ فِي وَحْشِيٍّ نَسْأَلُهُ عَنْ قَتْلِ حَمْزَةَ قُلْتُ نَعَمْ وَكَانَ وَحْشِيٌّ يَسْكُنُ حِمْصَ فَسَأَلْنَا عَنْهُ فَقِيلَ لَنَا هُوَ ذَاكَ فِي ظِلِّ قَصْرِهِ كَأَنَّهُ حَمِيتٌ قَالَ فَجِئْنَا حَتَّى وَقَفْنَا عَلَيْهِ بِيَسِيرٍ فَسَلَّمْنَا فَرَدَّ السَّلَامَ قَالَ وَعُبَيْدُ اللَّهِ مُعْتَجِرٌ بِعِمَامَتِهِ مَا يَرَى وَحْشِيٌّ إِلَّا عَيْنَيْهِ وَرِجْلَيْهِ فَقَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ يَا وَحْشِيُّ أَتَعْرِفُنِي قَالَ فَنَظَرَ إِلَيْهِ ثُمَّ قَالَ لَا وَاللَّهِ إِلَّا أَنِّي أَعْلَمُ أَنَّ عَدِيَّ بْنَ الْخِيَارِ تَزَوَّجَ امْرَأَةً يُقَالُ لَهَا أُمُّ قِتَالٍ بِنْتُ أَبِي الْعِيصِ فَوَلَدَتْ لَهُ غُلَامًا بِمَكَّةَ فَكُنْتُ أَسْتَرْضِعُ لَهُ فَحَمَلْتُ ذَلِكَ الْغُلَامَ مَعَ أُمِّهِ فَنَاوَلْتُهَا إِيَّاهُ فَلَكَأَنِّي نَظَرْتُ إِلَى قَدَمَيْكَ قَالَ فَكَشَفَ عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ وَجْهِهِ ثُمَّ قَالَ أَلَا تُخْبِرُنَا بِقَتْلِ حَمْزَةَ قَالَ نَعَمْ إِنَّ حَمْزَةَ قَتَلَ طُعَيْمَةَ بْنَ عَدِيِّ بْنِ الْخِيَارِ بِبَدْرٍ فَقَالَ لِي مَوْلَايَ جُبَيْرُ بْنُ مُطْعِمٍ إِنْ قَتَلْتَ حَمْزَةَ بِعَمِّي فَأَنْتَ حُرٌّ قَالَ فَلَمَّا أَنْ خَرَجَ النَّاسُ عَامَ عَيْنَيْنِ وَعَيْنَيْنِ جَبَلٌ بِحِيَالِ أُحُدٍ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ وَادٍ خَرَجْتُ مَعَ النَّاسِ إِلَى الْقِتَالِ فَلَمَّا أَنْ اصْطَفُّوا لِلْقِتَالِ خَرَجَ سِبَاعٌ فَقَالَ هَلْ مِنْ مُبَارِزٍ قَالَ فَخَرَجَ إِلَيْهِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ يَا سِبَاعُ يَا ابْنَ أُمِّ أَنْمَارٍ مُقَطِّعَةِ الْبُظُورِ أَتُحَادُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثُمَّ شَدَّ عَلَيْهِ فَكَانَ كَأَمْسِ الذَّاهِبِ قَالَ وَكَمَنْتُ لِحَمْزَةَ تَحْتَ صَخْرَةٍ فَلَمَّا دَنَا مِنِّي رَمَيْتُهُ بِحَرْبَتِي فَأَضَعُهَا فِي ثُنَّتِهِ حَتَّى خَرَجَتْ مِنْ بَيْنِ وَرِكَيْهِ قَالَ فَكَانَ ذَاكَ الْعَهْدَ بِهِ فَلَمَّا رَجَعَ النَّاسُ رَجَعْتُ مَعَهُمْ فَأَقَمْتُ بِمَكَّةَ حَتَّى فَشَا فِيهَا الْإِسْلَامُ ثُمَّ خَرَجْتُ إِلَى الطَّائِفِ فَأَرْسَلُوا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولًا فَقِيلَ لِي إِنَّهُ لَا يَهِيجُ الرُّسُلَ قَالَ فَخَرَجْتُ مَعَهُمْ حَتَّى قَدِمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَآنِي قَالَ آنْتَ وَحْشِيٌّ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ أَنْتَ قَتَلْتَ حَمْزَةَ قُلْتُ قَدْ كَانَ مِنْ الْأَمْرِ مَا بَلَغَكَ قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تُغَيِّبَ وَجْهَكَ عَنِّي قَالَ فَخَرَجْتُ فَلَمَّا قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجَ مُسَيْلِمَةُ الْكَذَّابُ قُلْتُ لَأَخْرُجَنَّ إِلَى مُسَيْلِمَةَ لَعَلِّي أَقْتُلُهُ فَأُكَافِئَ بِهِ حَمْزَةَ قَالَ فَخَرَجْتُ مَعَ النَّاسِ فَكَانَ مِنْ أَمْرِهِ مَا كَانَ قَالَ فَإِذَا رَجُلٌ قَائِمٌ فِي ثَلْمَةِ جِدَارٍ كَأَنَّهُ جَمَلٌ أَوْرَقُ ثَائِرُ الرَّأْسِ قَالَ فَرَمَيْتُهُ بِحَرْبَتِي فَأَضَعُهَا بَيْنَ ثَدْيَيْهِ حَتَّى خَرَجَتْ مِنْ بَيْنِ كَتِفَيْهِ قَالَ وَوَثَبَ إِلَيْهِ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَضَرَبَهُ بِالسَّيْفِ عَلَى هَامَتِهِ
قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْفَضْلِ فَأَخْبَرَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ يَسَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ فَقَالَتْ جَارِيَةٌ عَلَى ظَهْرِ بَيْتٍ وَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ قَتَلَهُ الْعَبْدُ الْأَسْوَدُ

Shahih Bukhari 3764: Telah menceritakan kepadaku Abu Ja’far Muhammad bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Hujain bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah bin Abu Salamah dari Abdullah bin Al Fadl dari Sulaiman bin Yasar dari Ja’far bin ‘Amru bin Umayyah Adl Dlamri dia berkata, “Aku keluar bersama ‘Ubaidullah bin ‘Ady bin Hiyar ke Syam. Ketika kami sampai ke Himsh, ‘Ubaidullah bin ‘Adi berkata kepadaku, “Bagaimana kalau kita menemui Wahsyi dan bertanya tentang (peristiwa) terbunuhnya Hamzah?” aku menjawab, “Baiklah.”

Continue reading

Memahami Perintah Rasul membunuhi anjing

Ada stigma negatif terhadap Islam dan khususnya Rasulullah SAW terkait dengan satu kejadian disalah satu periode kenabian dimana beliau (Nabi) pernah memerintahkan sahabatnya untuk mencari dan membunuh jenis anjing tertentu.

Orang yang tidak paham dan tidak pernah membaca nash-nash tersebut secara keseluruhan dengan lengkap akan menjudge buruk terhadap agama Allah ini. Tidak itu saja, tetapi kurangnya sosialisasi para ulama sehubungan dengan permasalahan inipun ikut memberikan peranan terjadinya kebencian dan kezaliman sejumlah umat Islam sendiri terhadap anjing.

Sekarang Admin tampilkan satu hadist yang mudah-mudahan dapat memberikan pencerahan kepada semuanya mengenai latar belakang peristiwa tersebut.

Shahih Muslim 2938 Shahih: Dari Abu Az Zubair bahwa dia pernah mendengar Jabir bin Abdullah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami supaya membunuh anjing, bahkan anjing milik seorang wanita badui yang selalu mengiringinya kami bunuh juga.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang membunuh anjing seperti itu, namun beliau bersabda: “Bunuhlah anjing yang berwarna hitam dengan dua titik putih dikeningnya, karena anjing itu adalah jelmaan dari setan.”

Dari hadist ini diatas, jelas bahwa perintah Nabi ketika itu hanya tertuju pada anjing dengan kriteria tertentu saja, tidak untuk keseluruhan jenis anjing lain. Dan ini artinya bersifat kondisionil. Ada penyebab yang membuat beliau memerintahkannya (dalam ilmu hadist dikenal sebagai Asbabul Wurud).

Terkait dengan setan, kita tahu bahwa didalam terminologi Islam, kata “setan” sendiri merupakan istilah yang digunakan untuk merujuk pada segala sesuatu yang bersifat jahat dan merugikan. Ia tidak pernah merujuk pada jenis individu tertentu. Silahkan simpulkan sendiri apa itu setan dalam terminologi Islam berdasar hadist-hadist ini:

Misalnya:

Sunan Tirmidzi 1092: Dari Jabir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian menemui perempuan yang sedang ditinggal pergi suaminya (sendirian dirumah). Sungguh setan itu mengalir pada diri kalian semua dengan mengikuti aliran darah.”

Sunan Ibnu Majah 295: Dari Abu Umamah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian hendak masuk ke kamar mandi, maka jangan merasa lemah untuk mengucapkan; ALLAHUMMA INNI A’UUDZU BIKA MINAR RIJSIN NAJISIL KHABITSIL MUKHBITSISY SYAITHANIRRAJIIM (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kotoran yang najis, buruk lagi membahayakan, yaitu setan yang terkutuk).”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menghabarkan kepada kami bahwasanya jin itu terdiri dari tiga kelompok. Pertama, jin yang selalu beterbangan (melayang) di udara, kedua, jin dalam wujud ular-ular dan anjing- anjing dan ketiga, jin yang mempunyai tempat tinggal dan suka bepergian. (Hadist ini riwayat Imam Thabrani, Hakim, Baihaqi dengan sanad yang shahih).

Juga ayat al-Qur’an berikut:

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia. (Surah an-Naas ayat 1 s/d 6)

Dengan demikian maka setan dapat saja berupa penyakit berbahaya, dapat berupa nafsu yang merusak, dan dapat pula dirujuk kepada Manusia dan Jin apabila mereka senantiasa melakukan kejahatan.

Nah dalam konteks perintah Rasul untuk membunuh anjing berwarna hitam dengan dua titik putih dikeningnya, karena anjing itu adalah jelmaan dari setan, dapat saja kita pahami bahwa jenis anjing tersebut pada waktu itu merupakan anjing yang menyebarkan wabah penyakit tertentu, seperti rabies misalnya. Atau memang ada jenis Jin jahat yang berusaha untuk mengganggu ketentraman masyarakat. Wallahua’lam.

Bukankah dilain waktu Rasul juga pernah memerintahkan untuk membunuh jenis ular tertentu yang beliau katakan sebagai jelmaan Jin?

Sunan Abu Daud 4574: Dari Abu Sa’id Al Khudri berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya ular hitam itu dari jin, barangsiapa melihatnya dalam rumahnya hendaklah ia memintanya untuk keluar hingga tiga kali, dan jika tetap berada di dalam rumah hendaklah ia membunuhnya, karena itu adalah setan.”

Musnad Ahmad 10942: Dari Abu As Sa`ib Bahwasanya ia berkata; aku mendatangi Abu Sa’id Al Khudri, ketika aku sedang duduk di sampingnya aku mendengar gerakan di bawah ranjangnya hingga akupun melihatnya, dan ternyata itu adalah seekor ular. Kemudian aku berdiri, namun Abu Sa’id berkata; “Ada apa denganmu?” Aku menjawab; “Ada ular di sini, ” ia berkata; “kalau ada ular mau apa?” aku menjawab; “membunuhnya, ” ia kemudian menunjuk ke sebuah rumah yang ada di depan rumahnya, kemudian ia berkata; “anak pamanku tinggal di rumah tersebut, ketika terjadi perang Ahzab ia meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menemui istrinya, dan dia seorang pengantin baru, beliau pun mengizinkannya dan memerintahkan kepadanya agar membawa senjata yang ia bawa. Dia pun pulang ke rumahnya dan mendapati istrinya sedang berada di depan pintu rumahnya, ia mengacungkan tombaknya kepada istrinya, maka istrinya pun berkata; “Jangan terburu-buru (menuduh) sampai kamu tahu apa yang menyebabkan aku keluar rumah.” ia pun masuk ke dalam rumah dan mendapati seekor ular yang siap menerkam, lalu ia pun menikamnya dengan tombak, kemudian setelah ia lari keluar dengan kondisi tertombak.” Abu Sa’id berkata; “Aku tidak tahu mana dari keduanya yang mati lebih dulu (laki-laki tersebut atau ular).”

Lalu kaumnya mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata; “Berdoalah kepada Allah, agar Allah mengembalikan saudara kami, ” beliau bersabda: “Mintakanlah ampun untuk saudara kalian, ” beliau ulangi hingga dua kali. Kemudian setelah itu beliau bersabda: “Sesungguhnya ada sekelompok dari bangsa jin masuk Islam, jika salah seorang dari kalian mendapatkan salah satu dari mereka peringatkanlah hingga tiga kali, kemudian jika setelah itu menampakkan lagi kepada kalian maka bunuh, bunuh, yaitu setelah yang ketiga kalinya.”

Shahih Bukhari 3065: Telah bercerita kepadaku ‘Amru bin ‘Ali telah bercerita kepada kami Ibnu Abi ‘Adiy dari Abu Yunus Al Qusyairiy dari Ibnu Abi Mulaikah bahwa Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma pernah membunuh ular kemudian dia melarangnya. Dia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah merobohkan sebuah tembok milik Beliau lalu menemukan kulit ular di baliknya maka Beliau berkata: “Lihatlah dan cari dimana ular itu”. Maka para shahabat mencarinya (dan menemukannya) maka Beliau berkata: “Bunuhlah ular itu”. Maka aku membunuhnya. Kemudian aku bertemu dengan Abu Lubabah lalu dia bercerita kepadaku bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Janganlah kalian membunuh ular kecuali ular yang berekor pendek dan ular belang karena ular jenis ini dapat menggugurkan kandungan dan merabunkan penglihatan, untuk itu bunuhlah”.

Tentunya Muhammad dalam kapasitas beliau sebagai seorang Nabi dan Rasul Allah tentu telah lebih tahu hakekat sebenarnya dari maksud perintah yang beliau berikan.

Tapi pastinya yang perlu kita tekankan disini adalah, Rasul tidak memerintahkan pembunuhan secara menyeluruh kepada setiap jenis anjing pada masa itu. Olehnya, manusia dijaman manapun tidak boleh menzalimi dan melakukan pembunuhan terhadap anjing secara semena-mena dengan mengatasnamakan sunnah, sebab faktanya sunnah yang diterapkan oleh Rasulullah tidak seperti apa yang dipahami secara umum. Ada kasus yang mengkhususkannya dan berlaku pula secara khusus.

Mgs Armansyah
Penulis buku ” Hukum Anjing Menurut Islam
Silahkan di reposted selama dirasakan bermanfaat.

cover-smashonly

Pemesanan Buku ini bisa langsung kontak saya sebagai penulisnya karena buku ini tidak didistribusikan ke toko buku.

Harga buku 50rb
Khusus pengiriman Jakarta dan Palembang free-ongkir

Tambah 25 ribu untuk ongkir diluar Jakarta dan Palembang
Kirim Nama lengkap, alamat, Hp, JlhPesanan

Kirim via SMS/WhatsApp ke 0816355539 atau IDLine: arman.syah atau Pin BB: 5756345F.

Dana dapat ditransfer ke nomor rekening:
Mandiri : 1130002034746 a/n. Armansyah
BCA : 8570045327 a/n. Armansyah

PAN, PKS, Pembelotan dan Saya

Saya paham maksud dari manuver politik PAN yang menyeberang ke pemerintah sehingga berkesan mengkhianati KMP. Namun pertanyaannya apakah massa akar rumput yang telah berjuang menjadikan PAN sebagai salah satu kekuatan politik negeri ini juga paham dengan tindakan kaum elitnya itu? Apalagi dari sejumlah sumber pemberitaan nyata sekali bila keputusan tersebut sama sekali tidak melibatkan seluruh wilayah didaerah.

Andaikata yang melakukan ini adalah PKS, maka jujur saja saya akan mengharamkan suara yang sudah saya berikan kepada partai ini saat pemilu lalu. Saya memilih PKS atas dasar kesamaan ideologis perjuangan serta kesepemahaman ijtihad politik. Setiap rupiah yang masuk kedalam darah daging wakil-wakil rakyat yang saya pilih itu akan menjadi harta harom buat mereka karena telah mengkhianati amanah. Kelak sayapun akan menuntut pertanggung jawaban mereka di padang mahsyar dihadapan pengadilan Allah. Jadi jangan dianggap sepele atau main-main perkara amanah ini. Oleh sebab itulah menurut Rasulullah, orang yang ingkar terhadap janji dan tidak amanah merupakan orang-orang munafik.

Musnad Ahmad 13919: Dari Abdurrahman bin Sabith dari Jabir bin Abdullah Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ka’b bin’ Ujroh, “Semoga Allah melindungimu dari pemerintahan orang-orang yang bodoh”, (Ka’b bin ‘Ujroh Radliyallahu’anhu) bertanya, apa itu kepemerintahan orang bodoh? (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: “Yaitu para pemimpin negara sesudahku yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula berjalan dengan sunnahku, barangsiapa yang membenarkan mereka dengan kebohongan mereka serta menolong mereka atas kedholiman mereka maka dia bukanlah golonganku…… Wahai Ka’b bin Ujroh sesungguhnya tidak akan masuk syurga daging yang tumbuh dari hal yang di murkai Allah (haram), dan neraka adalah paling tepat untuknya, Wahai Ka’b bin ‘Ujroh manusia berpagi dengan dua keadaan; yaitu ia terjual dirinya kemudian ia membebaskannya atau ia menjual dirinya kemudian ia menghancurkan dirinya”.

Tetapi Alhamdulillah, PKS sampai hari ini tetap istiqomah pada konstituennya. Ya, akhirnya mari kita hormati saja pendirian kaum elit PAN yang telah memutuskan arah jalannya tersebut. Mudah-mudahan apa yang digadang-gadang oleh mereka membuahkan hasil dan bukan malah larut atau tenggelam didalam arus kemunafikan serta kemungkaran.

Shahih Bukhari 1959: Diriwayatkan dari Abu Burdah bin Abu Musa dari bapaknya radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan orang yang bergaul dengan orang shalih dan orang yang bergaul dengan orang buruk seperti penjual minyak wangi dan tukang tempa besi, Pasti kau dapatkan dari pedagang minyak wangi apakah kamu membeli minyak wanginya atau sekedar mendapatkan bau wewangiannya, sedangkan dari tukang tempa besi akan membakar badanmu atau kainmu atau kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap”.

Salam dari Palembang Darussalam.

Armansyah,

%d bloggers like this: