Mengenal API Vision (auto deteksi image dimedia sosial)

Didalam ilmu computer programming ada istilah API, singkatan dari Application Programming Interface. Secara sederhana arti dan fungsi dari API ini adalah sekumpulan perintah, fungsi, komponen, dan protokol dalam bentuk koding-koding pemrograman yang memudahkan proses kerja suatu aplikasi.

API ini biasanya berisi alghoritma terstruktur yang lengkap dan berjalan dibelakang layar. Kita sebagai user tak tahu apapun tentang API ini. Pokoknya kita tinggal klik-klik mouse, sentuh-sentuh layar atau ketik sana sini selesai. Sisanya apa yang ada dibalik layar (behind the scene), itulah yang dikerjakan oleh sistem dengan API-nya.

Bisa dikatakan semua aplikasi komputer yang beredar dijagad informatika pasti memiliki API-nya masing-masing. Sebab eksistensi API adalah mutlak untuk memudahkan kerja si programmer dan user dalam berinteraksi dengan aplikasi.

Facebook punya API, Instagram punya API, Youtube punya API, Google punya API, Twitter punya API, PATH punya API, General Ledger, Aplikasi Absensi Fingerscan dan lain-lain…. semua pasti punya APInya sendiri.

Yuk sekarang saya ajak anda melihat contoh langsung penggunaan API ini dalam kasus-kasus yang sering terjadi.

Google, untuk tujuan komersial, telah membuka kepada publik salah satu API mereka yang dinamai Vision API. Adapun fungsi dan cara kerja dari Vision API Google tersebut disebut dalam web officialnya : to understand the content of an image by encapsulating powerful machine learning models. It quickly classifies images into thousands of categories (e.g., “sailboat”, “lion”, “Eiffel Tower”), detects individual objects and faces within images, and finds and reads printed words contained within images.

Easily detect broad sets of objects in your images, from flowers, animals, or transportation to thousands of other object categories commonly found within images. Vision API improves over time as new concepts are introduced and accuracy is improved. (https://cloud.google.com/vision/)

Intinya, Vision API yang ditawarkan oleh Google ini mampu mengidentifikasikan sebuah gambar, foto atau image apapun kedalam klasifikasi tertentu sesuai apa yang terdapat didalam gambar itu sendiri.

Misalnya, anda upload foto berdua pasangan anda. Nah, Vision API akan langsung tahu disana adalah foto dua orang manusia. Bahkan secara lebih detil akan di identifikasikan apakah anda mengenakan topi alias penutup rambut atau tidak, apakah anda berkumis atau tidak dan seterusnya. Bahkan apakah didalam image ini ada hewan, ada gunung, ada kapal dan sebagainya akan mampu dikenali oleh Vision API. MasyaAllah.

Jika anda sering nonton film-film Science Fiction dan juga Police Action yang mempertunjukkan adegan bagaimana polisi mengenali dan mencari presisi wajah seseorang menggunakan komputer sampai muncul output orang itu adalah si A, si B … nah inilah API-nya kurang dan lebih didalam praktek nyata.

Itulah contoh algorithma yang pernah kita bahas pada status saya terdahulu.

Jadi jangan heran bila begitu anda mengupload sebuah gambar/image lalu saat itu juga facebook atau instagram akan langsung dapat mengidentifikasikan image apa yang anda upload ini. Jualankah? Meme bullyingkah? dan sebagainya. Termasuk apakah didalam image itu ada kata-kata tertentu yang masuk dalam daftar hitam mereka (misal lgbt, fpi, cebong dan lain-lain).

Manakala image yang kita upload itu dianggap match dengan data didalam database yang mereka simpan, image yang sudah anda upload akan langsung di banned bahkan akun anda dapat secara otomatis diblokir oleh sistem. (Saya bilang oleh sistem ya, jadi otomatis, tidak ada campur tangan operator manusianya disini).

Skema algorithma yang mirip-mirip juga diterapkan oleh youtube dalam mengidentifikasikan sebuah video mengandung content berhak cipta dan sejenisnya sehingga sistem youtube akan langsung otomatis mengenali video kita itu terdapat musik dari si A, diproduksi oleh studio rekaman ABC dan lain-lain.

So, hati-hati dalam bermedia sosial saat ini. Cerdas dan ariflah. Kita tidak hanya berhadapan dengan manusia-manusia jahat yang selalu mengintai-intai status dan image kita tetapi juga berhadapan dengan sistem yang memiliki algorithma canggih, ibaratnya kita berhadapan dengan cyborg maya. API model ini juga yang sangat saya yakini dibenamkan dalam mesin 2T yang heboh itu.

Armansyah
Dosen & Praktisi IT
Ditulis di Bumi Palembang Darussalam, 08 Jan 2018.

Advertisements

Mengenal enkripsi (panduan untuk mca)

Didalam dunia pemrograman, ada istilah enkripsi yang secara bebas dapat diterjemahkan sebagai metode pengacakan. Apa yang diacak? Jelas teks, entah berupa kata atau kalimat. Baik dia ditulis dengan format alphabet maupun alphanumeric (gabungan alphabet dengan angka dan symbols).

Bila anda menulis “Tiada Tuhan Kecuali Allah” nah dengan metode enkripsi, kata-kata tersebut dapat saja berubah menjadi ” !ibmmB!jmbvdfL!obivU!bebjU ”

Dapatkah anda membaca teks ” !ibmmB!jmbvdfL!obivU!bebjU ” ? tentu tidak… sekeras apapun anda berupaya memutar balikkan teks itu dengan teori probabilitas tetap tak akan dapat memecahkan kodenya.

Nah untuk bisa membacanya maka anda perlu melakukan proses dekripsi atau restorisasi pengacakan dengan algorithma yang sama juga sehingga teks ” !ibmmB!jmbvdfL!obivU!bebjU ” akan dikembalikan kestruktur asalnya menjadi “Tiada Tuhan Kecuali Allah”

Formulanya harus sama.

Inilah yang sebenarnya terjadi pada proses percakapan di WhatsApp dan sebagian besar aplikasi chat lainnya. Hanya saja tingkatan enkripsi ini luas dan berjenjang. Apa yang tadi saya contohkan hanya bentuk sederhananya saja.

Secara klasik cara-cara begini digunakan pada sandi morse dan sandi pramuka. Hayo, yang SD-nya dulu ikut pramuka pasti ingat khan?

Metode enkripsi ini tentu akan efektif bila ditulis sebagai posting di media sosial. Tak sembarang orang dapat membacanya. Bahkan tidak pula mesin yang bernilai 2T. Tulisan yang sudah di enkripsi menjadi tak ubahnya seperti coretan yang tak berguna, ketikan asal dari anak kecil yang tak sengaja memainkan gadget ayahnya atau rapalan mantera-mantera dalam komik-komik.

Cuma ya itu tadi, si penerima informasi harus punya formula dekripsinya agar teks yang acak tadi dapat dikembalikan menjadi informasi. Repot. Apalagi bila sifatnya publik tertentu. Setiap orang harus copy paste ke mesin atau perangkat lunak dekripsinya masing-masing untuk dapat membaca informasi yang diteruskan oleh membernya.

Contoh program enkripsi dan dekripsi

Olehnya anak-anak IT sering bergurau dan membuat formula asal sehingga kesannya teks telah di enkripsi guna menyulitkan orang membacanya (dan dalam hal ini dianggap mampu mengelabui mesin 2T maupun fitur algorithma media sosial). Misalnya kata-kata FPI dirubah jadi eFP3i, Islam menjadi i5L4m.

Sebagai seorang programmer, saya tidak melihat ini efektif. No at all. Mereka bisa mempelajarinya dan kemudian memasukkan pola ini kedalam database filter yang mereka punya sehingga next time kata-kata seperti ini muncul akan langsung dapat dikenali. Piece of cake. Too easy. Bukan solusi. Cuma bikin mules. Xoxoxo

Sudah InsyaAllah ntar kita lanjut lagi ya… pelan-pelan. Take a breath.

Armansyah
Bumi Palembang Darussalam, 08 Jan 2018

Mengenal cara kerja media sosial (panduan untuk mca)

Jadi begini… pernahkah anda memposting sebuah item tertentu yang akan dijual di facebook lalu dalam waktu sepersekian milidetik facebook secara otomatis menandai posting anda sebagai posting jualan? Begitu juga ketika kita memposting suatu status mengandung kata-kata yang “dianggap” menyalahi aturan facebook lalu status kita itu dianggap spam dan tak bisa diposting di timeline? Padahal mungkin buat kita kata-kata itu sah-sah saja dan sesuai norma keagamaan maupun konstitusi dinegara kita, misalnya tag 3LG38T (baca : perilaku jahannam kaum Nabi Luth).

Dilain kesempatan anda mungkin pernah pula memposting sebuah video yang mengandung content musik dari artis tertentu dan youtube otomatis mengetahui apa nama musik tersebut, siapa artisnya serta apa nama studio rekamannya. Anda selanjutnya dianggap oleh youtube telah melanggar copyright. Semuanya lagi-lagi hanya dalam waktu sepersekian milidetik pasca ia kita upload.

Terakhir, di Instagram. Kita upload meme tertentu eh IG pun mendadak tahu meme apa itu. Jika dianggap gambar itu memiliki sesuatu yang dianggap melanggar peraturannya maka seperti youtube dan facebook, posting anda inipun akan di banned.

So bagaimana facebook, youtube dan instagram tahu apa yang kita upload dalam tempo yang sangat singkat? Taklah mungkin dibalik layarnya duduk para operator masing-masing media sosial nongkrongin akun-akun yang berjumlah jutaan manusia tersebut, khan? logika sajalah.

Seluruh cases ini didalam ilmu informatika, wabil khusus ilmu pemrograman komputer dikenali dengan algorithma. Yaitu skema tertsruktur tertentu yang telah didesain sedemikian rupa alurnya sehingga dapat digunakan untuk memecahkan persoalan yang dihadapi oleh manusia. Algorithma inilah yang nantinya setelah dipadukan dengan koding-koding bahasa pemrograman lalu ditanamkan kedalam chip dapat membuat sebuah mesin seolah memiliki kecerdasan buatan (Artifficial Intelligence alias AI).

Itulah yang digunakan oleh Facebook, Instagram dan Youtube. Ini juga yang ada dibalik mesin 2T yang sekarang sedang heboh.

Didalamnya juga sudah dipasang filter kata yang nantinya akan disimpan kedalam database tertentu sehingga manakala sebuah posting ditemukan match dengan kata-kata didalam database tersebut, mesin ini secara otomatis menandainya sebagai sebuah pelanggaran rules of the game mereka.

Kami para programmer sudah tak asing dengan permodelan klasik kata-kata ini. Secara prinsipnya pola kerja pemfilteran ini sama seperti anda mengetikkan suatu keywords di google, yahoo dan bing. Setelah anda tekan enter, kata yang anda input dikolom pencarian akan segera diproses oleh koding pemrograman yang telah dibekali algorithma bagus sehingga apapun temuan didatabase mereka yang mendekati apalagi persis sama dari keyword anda tadi akan langsung ditampilkan.

Lantas apakah tak ada cara untuk menghindari hal demikian?

Tenang… kami di dunia komputer selalu punya prinsip diatas langit selalu ada langit. Selama teknologi itu ciptaan manusia, tentu ada sisi lemahnya. Tinggal lagi how to find it.

Tentu anda sudah faham pula bila didunia perkomputeran ada yang disebut virus dan anti virus. Nah, sekuat apapun algorithma yang ada dalam sebuah anti virus, si programmer jahat akan terus mencari sisi lemahnya sehingga virus yang ia buat dapat mengelabui anti virus tadi. Makanya dijagad software akan anda temui ratusan anti virus dari berbagai vendor termasuk anti virus lokal. Kenapa? sebab setiap anti virus punya keterbatasan algorithma. Terkadang anti virus A tidak mampu mengenali virus X, anti virus B bisa namun tak mampu membersihkan virus tadi. Eh anti virus C bisa mengenali dan bisa membersihkannya.

Again… keterbatasan algorithma. Sisi lemah si programmer.

Lalu kembali lagi pada kasus mesin 2T…. hehehe, saya menyebutnya sami mawon. Tak ada ciptaan manusia yang sempurna. InsyaAllah kedepan kita coba bahas dan explore ini one by one ya.

Tetap setia pantengin status-status saya. Termasuk iklan komersial herbalnya, travelnya dan lain-lain ya hahaha…. namanya juga usaha.

Bumi Palembang Darussalam,
08 Januari 2018

Armansyah, S.Kom, M.Pd
Dosen & Praktisi IT

Dajjal (Revisi Catatan Kekinian)

Dalam teologi Islam khususnya berkenaan dengan nubuat akhir jaman, –meski tak ada dalam satu ayat al-Qur’anpun– terdapat informasi tentang kedatangan Dajjal. Hadist-hadist yang bercerita mengenai ini jumlahnya cukup banyak dan redaksinya bervariatif.

Eksistensi Dajjal tersebut cukup sering dipahami dalam bentuk dan wujud makhluk tertentu yang bermata satu (bahkan entah dapat darimana pula referensinya, kadang ilustrasinya ada yang ditambah dua tanduk dikepalanya). Selain bermata satu, Dajjal digambarkan memilki kekuatan supernatural dimana ia mampu mengelabui pandangan orang sehingga api terlihat bagaikan air dan air terlihat bagaikan api.

Dajjal mampu menghidupkan orang mati, mematikan orang hidup, menyuburkan pedataran yang tandus dan sejumlah hal-hal yang disifati adikodrati lainnya.

Sepintas lalu bila kita mengabaikan pemahamannya secara kritis, maka tidaklah heran membaca hadist-hadist terkait Dajjal pasti langsung mengimajinasikannya kedalam bentuk wujud makhluk tertentu. Apalagi bila membaca rujukan tambahan terkait kedatangan Imam Al-Mahdi dan juga Nabi ‘Isa al-Masih, tak ayal imaginasi sering mengantarkan ilustrasi kedalam dua sosok superhero bertempur melawan seekor monster yang ganas nan hebat.

Namun benarkah Dajjal ini adalah berupa sosok makhluk individual tertentu layaknya monster Doomsday dalam film Batman V Superman? Atau bak monster-monster dalam film-filmnya Ultraman hingga Megaloman?

 

Saya tidak melihatnya demikian.

Bahasa al-Qur’an dan Hadist terkadang banyak yang bersifat metafora. Berbentuk kiasan. Termasuk dalam hal Dajjal ini. Saya lebih menafsirkannya sebagai sebuah sistem yang diterapkan secara tidak adil khususnya terhadap komunitas Islam (bisa terhadap sebuah negara Islam maupun orang per-orangnya dari kaum Muslimin). Kepincangan cara pandang itulah yang disifati dalam inisial satu mata. Siapapun bisa melihatnya meski ia buta huruf sekalipun.

Akibat ketidak adilan ini maka siapapun yang memandang sistem tersebut akan dapat dengan mudah mengetahui bila ia merupakan suatu tatanan anti agama, anti kebenaran dan pastinya anti terhadap Islam. Disinilah penyifatan kata kafir pada kening Dajjal dalam berbagai hadist yang tersiar.

Sistem anti Islam ini dapat memanipulasi data dengan semua perangkat hukum, teknologi serta kekuasaan yang mereka miliki sehingga apa yang benar menjadi terlihat batil, sebaliknya sesuatu yang batil terlihat sebagai kebenaran.

Banyak orang terkecoh dengan rekayasa tersebut sehingga mereka menjatuhkan dirinya kedalam nilai-nilai tidak benar, bergabung dalam barisan kelompok kebatilan, kelompok penista agama, kelompok anti Islam sementara beberapa dari mereka masih berpikir bila pilihan sikapnya itu justru ada diatas jalan Tuhan. Ketika ayat-ayat al-Qur’an yang berupa hukum muhkamat dipelintir oleh kelompoknya sehingga menimbulkan gerakan perlawanan dari pejuang-pejuang kebenaran, dari para ulama, para ahli ilmu, mereka (yaitu orang-orang tadi) justru berada bersama barisan orang-orang yang menistakan al-Qur’an. Mereka mencemooh para pendekar kebenaran sebagai orang-orang tak ada kerjaan, orang-orang ekstrim, teroris dan berbagai sebutan penistaan lainnya.

Inilah api yang terlihat bagaikan air sementara mereka justru menghindar dari air yang sesungguhnya, yaitu air kebenaran.

Siapa yang mengingkari sistem ini bersiaplah untuk berhadapan secara frontal dengan budak-budak Dajjal yang menjadi operator misinya. Fitnah akan dihembuskan dengan sejuta satu pembenaran, baik berupa video, audio hingga kesaksian-kesaksian verbal. Pendeknya dijebak oleh sebuah permainan konspirasi tingkat tinggi. Bila dia negara Islam maka artinya dia siap untuk di invasi secara militer, di embargo secara ekonomi bahkan pimpinannya harus siap pula untuk ditembak mati atau diturunkan secara paksa seperti nasib Presiden Mursi di Mesir, Saddam Husain di Irak, Moammar Qhadafi di Libya hingga Erdogan di di Turki. Bila jalan-jalan ini tidak dimungkinkan untuk terjadi maka mempengaruhi orang-orang terdekat yang berkuasa menjadi pilihan. Ujungnya semua lawan politik ditangkap dengan tuduhan ini dan itu serta cepat maupun lambat kekuasaan berhasil diraih secara otoriter.

Rekayasa teknologi saat ini mampu menghadirkan cuaca buatan sampai tsunami palsu yang menghancurkan. Daerah yang kering dan tandus dapat “disulap” dengan perangkat teknologi menjadi penuh buah, subur, dingin… ibaratnya mereka menciptakan heaven in hell.

Armansyah, 22 Nop 2017
Ditulis ulang dengan beberapa perbaikan redaksi dan konteks politik kekinian dari tulisan-tulisan lawas pribadi tahun 2007a

Membongkar Fitnah rekayasa video HRS & Penari Telanjang

Setelah heboh dengan isyu chat mesum yang diduga sebagian orang tertentu telah dilakukan oleh FH dan Habib Rizieq (meskipun secara ilmiah pembuktian hal ini sesungguhnya sangat lemah sekali seperti yang telah kita bahasa beberapa waktu lalu), baru-baru ini publik digegerkan kembali dengan keberadaan sebuah video dimana Habib Rizieq seolah tengah menari bersama seorang penari striptis ditonton oleh sejumlah jemaah beliau.

Entah siapa yang mempublikasikannya pertama kali, namun video itu ternyata telah menjadi viral kemana-mana. Bahkan Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) menurut pemberitaan telah juga ikut dikirim video itu melalui aplikasi WhatsApp beliau. Wallahua’lam.

Sepintas lalu, dalam pandangan mata orang awam, boleh jadi video tersebut tampak real. Seakan-akan memang benar terjadi. Tetapi tidak bagi seorang praktisi IT dan Telematika. Ibarat dalam kasus penyaliban Nabi ‘Isa, maka kejadian tersebut hanyalah subbihalahum alias diserupakan, disamarkan, dipalsukan dalam pandangan mata. Tetapi pada hakekatnya hal yang terjadi tidaklah seperti itu adanya.

Semua contoh dalam tulisan ini beranjak dari video rekayasa yang digunakan untuk memfitnah Habib Rizieq. Digunakan dalam rangka pembuktian secara ilmiah bila memang video striptis yang beredar itu bukanlah real alias memang sebuah rekayasa dari musuh-musuh Islam untuk menjatuhkan citra dan wibawa ulama, khususnya dalam kasus ini : Habib Rizieq.

Sebelumnya, saya minta maaf bila dalam pembuktian dari perspektif IT disini akan menampilkan contoh perempuan dengan aurat terbuka. Semoga Allah mengampuni kesalahan kita tersebut. Semua semata-mata hanya untuk membuktikan mana yang haq dan mana yang batil agar fitnah tidak terus berkembang ditengah umat Islam. InsyaAllah.

Baik kita mulai saja…. video yang viral dan tersebar luas di berbagai media sosial termasuk WhatsApp group itu adalah berikut ini :

Tampak dalam video diatas bagaimana seorang penari perut atau striptis seolah berada diatas panggung yang sama dengan Habib Rizieq dan mereka berdua terkesan sedang menari bersama.

Tapi tahukah anda bahwa video itu sebetulnya rekayasa. Sebab video asli Habib Rizieq yang ada dalam video fitnah itu adalah sebagai berikut :

Nah lalu bagaimana video penari striptis ini? jawabnya diambil dari channel youtube Juan Sillero (link : https://www.youtube.com/user/TheJuansillero). Berikut adalah video asli penari tersebut :

Video tersebut diupload oleh Juan Sillero 3 tahun lalu di channelnya.

Jika anda tidak dapat mengaksesnya karena sesuatu dan lain hal, saya telah membuat backup di channel saya :

Video penari striptis ini pada dasarnya adalah salah satu contoh modelling dalam pembelajaran video dengan teknik Greenscreen yang ditampilkan oleh Juan Sillero dalam channel youtubenya tersebut. Selain video penari striptis itu, ada beberapa lagi video yang sejenis dapat kita temukan di channelnya termasuk contoh tokoh-tokoh hero seperti Spiderman, Superman atau tokoh kocak Mr. Bean.

Penggunaan Greenscreen sendiri jamak dilakukan dalam rekayasa perfileman Hollywood, seperti misalnya dapat anda lihat dalam video berikut :

Saya sendiri pernah mendapat pelatihan teknik greenscreen ini beberapa tahun lalu di Pustekkom Jakarta.

Untuk mengolah greenscreen ini sendiri tidak terlalu sulit. Bahkan dengan ponsel Android biasapun setiap orang dapat melakukannya. Salah satu aplikasi yang dapat digunakan misalnya adalah KineMaster seperti contoh berikut :

Berikut kita coba gunakan teknik yang sama untuk membongkar kasus video rekayasa yang telah memfitnah Habib Rizieq ini :

Contoh setelah jadi videonya :

Contoh lain :

Bagaimana? Apakah anda masih mau percaya dengan video Habib Rizieq yang disisipi oleh penari striptis tersebut? Hati-hatilah dalam menilai dan menghakimi ulama… mereka adalah warosatul ‘anbiya. Hanya setan yang tidak menyukai para kekasih Allah. Apakah anda salah satunya? 

Semoga Allah masih memberi pelaku pembuat video fitnah ini waktu untuk bertobat dan kembali kejalan yang benar.

Catatan tambahan : Kinemaster bukan satu-satunya aplikasi yang dapat digunakan untuk mengintegrasikan video berlatar belakang hijau (greenscreen) kedalam video lain yang berbeda. Masih banyak aplikasi lain diluar Kinemaster, misalnya diantaranya adalah ZS4 Video Editor, Virualdub, VSDC Free Video Editor, Wax, iMove, Filmora dan sebagainya.

Armansyah
Praktisi IT

28 Romadhon 1438H/23 Juni 2017
Palembang Darussalam.

 

Metadata

Kali ini kita akan bicara tentang metadata. Apasih sebetulnya metadata file itu?

Saya pribadi hampir mengartikannya sebagai DNA dari sebuah file. DNA sendiri kependekan dari Deoxyribo Nucleic Acid. Ini sejenis asam yang pasti ada didalam diri manusia. Asam tersebut menyimpan seluruh informasi biologis tentang genetika dari manusia itu sendiri. Dari DNA ini juga seseorang misalnya bisa diketahui siapa orangtuanya dan lain-lain terkait.

Nah metadata file artinya informasi tentang file atau an electronic “fingerprint”-lah kira-kira.

Disini file apapunlah itu pasti ada metadatanya. Hanya saja ada metadata yang utuh dan ada yang tidak utuh lagi. Metadata file yang utuh akan menampilkan informasi terkait tanggal pengambilan foto/pembuatan dokumen berikut info jam, merk kamera yang digunakan bila file tersebut memiliki format foto/image dan lain-lain.

Istilah metadata sendiri sebetulnya pada awalnya sering digunakan dalam literature tentang database management systems (DBMS) untuk menggambarkan informasi yang diperlukan untuk mencatat karakteristik informasi yang terdapat pada pusat data. “Kebetulan” mata kuliah Database ini yang saya asuh dalam sebagian besar perkuliahan saya. Sehingga kiranya bila sekarang saya berbicara tentang metadata atau istilah lainnya adalah Exif (Exchangeable image file format) dari sebuah file atau dokumen tidaklah berlebihan. Apalagi tesis S2 sayapun khusus terkait Database itu sendiri.

Sekarang bila kita kembalikan pembicaraan kita pada kasus yang diduga melibatkan Habib Rizieq dan Firza sebagaimana telah diopinikan sedemikian rupa oleh para media sekuler anti Islam demi menjatuhkan wibawa dan citra ulama dimata umat, komentar saya kali ini dalam kaitan metadata file screenshot yang diduga percakapan keduanya tersebut sama seperti komentar saya yang lalu ketika mengomentari prematurnya dakwaan kejahatan terhadap mereka dengan cuma bermodalkan sebuah screenshot yang pada dasarnya dapat dibuat dengan mudah menggunakan aplikasi fake di playstore.

What does it mean?
Metadata is useless for screenshot images. And even if you can prove that the screenshot accurately shows what was on the screen at the time, what’s to say that the application displaying what you took a screenshot of is legitimate? We could easily make an application that displays an image, and take a screenshot of that as I told you before. Isn’t it?

Sebuah file hasil screenshot tidak mengandung informasi detil terkait seperti file hasil tangkapan kamera secara langsung. Status sebuah file screenshot sama seperti file gambar yang telah di edit atau direkayasa dengan menggunakan aplikasi tertentu seperti photoshop dan sejenisnya.

Ditambah, metadata file sendiri sekarang sudah dapat dirubah-rubah dengan mudah menggunakan aplikasi dari playstore. Persis sama mudahnya dengan membuat percakapan palsu yang dikesankan dilakukan via whatsapp lalu dinisbatkan terhadap seseorang.

Tak perlu latar belakang pendidikan tinggi untuk melakukannya. Temanya tetap sama : Awam boleh, goblok jangan.

Berikut pada status ini saya lampirkan beberapa contoh aplikasi perubah metadata yang dapat diunduh bebas dari playstore yang ada di Android, serta beberapa alamat situs yang dapat digunakan untuk memeriksa metadata sebuah file.

Buktikan sendiri dan jangan hanya membeo apa yang dikatakan orang lain… apalagi sampai ikut-ikutan memfitnah ulama.

Saya menggunakan sebuah foto dimana Metadata asli saya lampirkan lalu foto yang sama saya rubah metadatanya dengan menggunakan aplikasi “Photo Exif Editor Pro” yang versi litenya dapat di unduh bebas dari Playstore.

Piece of cake.

Kemudian untuk mengecek sebuah metadata secara online (terlepas apakah metadata itu betul-betul masih asli ataukah sudah direvisi dengan maksud dan tujuan tertentu) anda bisa menggunakan alamat berikut : https://29a.ch/photo-forensics/#exif-meta-data dan http://exif.regex.info/exif.cgi (diluar kedua alamat situs ini masih banyak lagi penyedia online lain yang memungkinkan kita mengecek metadata dari sebuah file).

18620344_10155230535593444_183651995091044627_n

Dengan demikian maka saat ini faktanya untuk menjadikan sebuah foto apalagi itu screenshot sebagai bukti dari kasus kejahatan yang diduga telah dilakukan oleh Habib Rizieq sangat prematur bahkan lemah. Jangan sampai kita ditertawakan oleh negara lain hanya karena masalah ini. Lebih-lebih pula dari sisi lainnya sumber dari screenshot yang diopinikan tersebut justru berasal dari anonymous atau tidak diketahui.

Maaf seribukali maaf, dalam jurnal ilmiah, kajian-kajian ilmiah atau seminar ilmiah… bila anda menggunakan sumber anonymous maka anda akan ditertawakan… syukur-syukur tidak ditendang keluar ruangan. Jangankan sumber anonymous … lah menggunakan Wikipedia selaku rujukan dalam skripsi atau thesis pun posisinya sama dengan menggunakan blog dan status facebook selaku referensi : terlarang atau sangat tidak disarankan.

Kenapa terlarang? karena blog dan media sosial tidak dapat divalidasi akurasi serta pertanggungan jawab contentnya. Wikipedia bisa ditulis oleh siapa saja, tidak ada filter atau persyaratan tertentu terhadap orang-orang yang akan membuat rintisan tulisan tentang sesuatu hal disana.

Sudahlah jangan terus mempermalukan hukum dinegara ini, kasus chat yang didakwakan pada Habib Rizieq sudah sewajarnya dihentikan prosesnya sebab memang secara ilmiah ditinjau dari sudut keilmuan IT maka ia ibarat mendirikan benang basah. Tak punya sandaran kekuatan yang dapat dijadikan argumen kebenaran yang dihujjahkan.

Stop kriminalisasi ulama.

#kamibersamaHRS
#fitnahakhirjaman
#saveulama

Palembang, 24 Mei 2017
Jelang Romadhon 1438H

Mgs. Armansyah, S.Kom, M.Pd

NB. Untuk yang mau reshared demi pencerahan dan edukasi publik silahkan selama tidak merubah, mengganti ataupun merevisi kata-kata dalam status asli sehingga terjadi penyimpangan makna dan pengertian dimasyarakat.

Di published di Facebook pertama kali 24 Mei 2017
https://web.facebook.com/armansyah/posts/10155230193663444

Fake WhatsApp

Dalam posting kali ini saya ingin kembali memberi pencerahan pada mereka yang masih awam tentang percakapan palsu whatsapp.

Sebagaimana wawancara saya dengan sejumlah media, saya menyampaikan bila screenshot percakapan mesum yang diduga dilakukan antara Habib Rizieq dengan Firza terlalu prematur untuk dijadikan barang bukti tuduhan kejahatan pada keduanya.

Disini saya berbicara bukan dalam posisi ustadz atau pendakwah agama namun sebagai seorang Dosen/Praktisi IT.

Sesuai UU No. 15 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 butir 2 bahwa Dosen memiliki tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat maka sebagai seorang Dosen dibidang IT saya terpanggil secara moral untuk memenuhi undang-undang tersebut.

Bahwa dalam status terdahulu saya juga sampaikan banyak sekali aplikasi yang dapat membuat percakapan palsu ala whatsapp di internet dan di unduh secara bebas oleh siapapun juga.

Bila kita punya handphone bersistem Android maka aplikasi tersebut dapat dijumpai di Playstore. Jumlahnya banyak bukan hanya satu atau dua aplikasi.

Pada lampiran status ini saya menyertakan sejumlah contoh aplikasi yang tersedia di playstore tersebut dengan contoh penerapan langsung kedalam bentuk fake conversation antara saya (Armansyah) dengan Habib Rizieq yang lalu saya screenshot.

Cukup cari foto Habib Rizieq yang di inginkan di mesin pencari Google lalu simpan di local device dan tempatkan foto tersebut sebagai profile di fake chat. Selanjutnya atur juga profile lawan bicaranya, mau diri kita sendiri atau orang lain sehingga berkesan seakan itu memang dialog dua arah dari dua orang berbeda yang dilakukan di whatsapp.

 

 

Piece of cake… seperti saya tulis sebelumnya,

sesungguhnya tidak perlu latar belakang pendidikan tinggi

untuk membuat percakapan imajinasi semacam itu.

Aplikasi-aplikasi ini dibuat oleh penciptanya sebetulnya untuk sekedar have fun saja. Olehnya tidak untuk digunakan sebagai alat penipuan atau kejahatan lainnya. Memang disayangkan bila aplikasi semacam itu dapat diunduh bebas di playstore. Tapi mau bagaimana lagi, mungkin pihak Google punya alasan dan kebijakannya sendiri sehingga membiarkan aplikasi-aplikasi tersebut boleh di unggah di layanan playstore mereka.

Alhasil sebagai kesimpulan, terlalu dini untuk menyatakan sebuah screenshot whatsapp adalah bukti yang bernilai pasti benar dari sebuah kejahatan. Apalagi tuduhan kejahatan tersebut diarahkan pada ulama yang notabene sebagai warosatul ‘anbiya, pewaris para Nabi.

Berhenti menggiring opini menyesatkan yang seakan-akan screenshot tersebut pasti benar sehingga dapat dijadikan barang bukti kasus kejahatan. Alat bukti itu harus dibuktikan dulu dan diuji serta dianalisa agar betul-betul diketahui validitasnya.

Pada status selanjutnya insyaAllah kita akan bahas dari sudut pembuktian metadata sebuah file.

Untuk yang ingin mereshared status ini atau memviralkannya ulang sebagai bagian dari edukasi kepada masyarakat agar melek terhadap perkembangan Teknologi Informasi, saya persilahkan.

Wahyu pertama yang diterima Rasulullah adalah Iqro. Baca. Karenanya mari jangan malas belajar.

Awam Boleh Goblok Jangan.

Mgs. Armansyah, S.Kom, M.Pd
Dosen dan Praktisi IT

Tulisan ini pertama kali dipublished di Facebook, 22 Mei 2017
https://web.facebook.com/armansyah/posts/10155224157443444

%d bloggers like this: