Selamat Ulang Tahun Anakku …

Ada satu hari, dimana engkau tidak pernah ada didunia
Ada satu hari, engkau tidak diketahui rupa, suara dan warnamu
Ada satu hari, dimana segala sesuatu berjalan apa adanya

Sampai …

Ada satu hari engkau tiba-tiba dikabarkan datang dan menunggu untuk dilahirkan
Ada satu hari engkau hanya cukup memakan saripati dari apa yang dikonsumsi mamamu
Ada satu hari dimana detak jantungmu hanya bisa terdengar saat telingaku kudekatkan diperut istriku

Sampai …

Ada satu hari ketika engkau dilahirkan keatas dunia ini
Ada satu hari dimana engkau mengoek diatas sebuah pembaringan rumah sakit
Ada satu hari engkau bahkan tidak pernah berbusana
Ada satu hari engkau kemudian tergolek tanpa daya dan upaya

Sampai …

Ada satu hari ketika engkau belajar mengenal dunia barumu
Ada satu hari ketika engkau belajar untuk tersenyum
Ada satu hari ketika engkau belajar merangkak dan berjalan
Ada satu hari ketika engkau belajar menyebut Papa … Mama …

Sampai …

Ada satu hari engkau menjamah tubuhku dan membangunkanku ditengah malam
Ada satu hari engkau belajar untuk mengerti dan memahami
Ada satu hari engkau mulai bisa tertawa dan bercanda dengan kami semua

Sampai …

Ada satu hari dimana aku ingin mengucapkan kepadamu ….
Selamat ulang tahun anakku tersayang ….
Ridho dan Kasih Sayang Allah semoga selalu tercurah kepadamu …
Kami semua menyayangimu, kami semua mencintaimu …
Papamu, mamamu, kakakmu, nyaimu, omamu, pugokmu dan semua orang diatas dunia ini InsyaAllah

Anakku Haura,
Bangkitlah nak, besarlah, menjadilah engkau seorang wanita yang sejati
Jadilah engkau sebagai seorang srikandi, jadilah engkau sebagai seorang Kartini atau Cut Nyak Dien …
Tetapi satu pintaku … jangan pernah lupa untuk menjadi seorang Fatimah Az-Zahrah atau untuk menjadi seorang Khadijjah Al-Qubro

Tatap dunia ini …
Rengkuh dia …
Tersenyumlah anakku …
Arahkan mukamu lurus ketempat sujudmu
Satukan jiwamu dalam kekhyusukan ibadahmu

Suatu saat … aku mungkin tidak ada bersamamu
Suatu saat … mungkin aku tidak lagi melihat rupamu
Suatu saat … mungkin peranku akan digantikan lelaki pilihan hatimu

Namun anakku.,
Kasihku,
Do’aku
Cintaku
Akan selalu menyertaimu selamanya …
Tak akan lekang oleh panasnya kekalutan dan waktu
Tak akan luntur dan bias oleh guyuran air mata emosi serta kebencian

Dari papandamu dihari ulang tahunmu, sembilan belas nopember 2009
Hari ini, engkau genap berusia 4 Tahun anakku … empat tahun menurut kalendar orang-orang Masehi
It doesn’t matter at all … Allah menciptakan bulan dan matahari salah satunya agar bisa menjadi penanggalan dan waktu
Happy Birthday my Daughter.,

I love you and will always be.,

Advertisements

Belajarlah dari mana saja kau bisa mempelajarinya …

Belajarlah dari mana saja kau bisa mempelajarinya …
Oleh : Armansyah

Sudah bukan isyu baru lagi bila sebagai umat Islam, kita diwajibkan untuk belajar dan mengambil manfaat dari apapun yang bisa kita pelajari. Bahkan wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah Muhammad Saw adalah perintah untuk membaca, Iqra.

Tindakan ber-Iqra akan menghasilkan pribadi ilmuwan yang memberikan kemajuan-kemajuan, pencerahan, kemodernitasan ditengah masyarakat sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat itu sendiri menjadi lebih baik dan tentu saja lebih kenal terhadap kemaha besaran Allah secara aplikatif. Tidak terbatas pada teori-teori dan doktrin yang sering dirasakan berat dan membelenggu sehingga terkadang membuat orang justru lari dari agama.

Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya. (Qs. Hud [11] :61)

Kita mesti mencari ilmu pengetahuan Tuhan yang tersebar dalam lautan ayat Qauniah atau segala sesuatu yang ada disekitar kita termasuk alam semesta secara keseluruhannya sesuai dengan kemajuan peradaban yang ada pada kita. Umat Islam mesti cerdas dalam beragama, bahwa Islam sama sekali tidak menghendaki umatnya untuk menjadi sebatas pemain figuran dijagad raya ataupun penikmat dari peradaban namun Islam juga menginginkan umatnya bisa maju dan tampil menjadi pemeran utama dari peradaban itu sendiri.

Islam bukan hanya sebatas agama dengan doktrin dan ritual akhirat sehingga hanya habis dengan menyibukkan diri dengan melafaskan kalimat-kalimat puji-pujian dan permohonan ampun. Islam adalah agama keseimbangan yang juga mementingkan kehidupan dunia.

Carilah bagian yang Allah berikan padamu diakhirat tetapi jangan sampai engkau melupakan bagianmu didunia. (Qs. Al-Qashash [28] :77)

Islam tidak pula agama yang melarang umatnya untuk menghibur diri mereka atas kekompleksitasan hidup yang mereka hadapi setiap hari, tidak juga penghiburan diri itu mesti selamanya diwujudkan dengan bersimpuh dan bersujud kepada al-Khaliq. Kita bisa melihat dalam sebuah kasus yang diceritakan oleh Imam Muslim pada kitab shahihnya yang bersumberkan dari Anas. Dimana pernah terjadi disuatu waktu sekelompok sahabat Rasul memantapkan tekad mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan menolak kehidupan duniawiah yang dianggap sebagai penghalang pencapaian tujuan tersebut. Diantara mereka waktu itu ada yang menolak untuk menikah, ada yang menolak untuk memakan daging dan ada juga yang menolak untuk tidur diatas hamparan tembikar. Nabi Muhammad yang lalu mengetahuinya malah mencela perbuatan tersebut.

Mengapa beberapa orang mengatakan begini dan begini ? Ketahuilah, aku sholat dan tidur, puasa dan berbuka, (juga) menikahi perempuan. Sebab itu siapa yang tidak menyukai sunnahku maka orang itu tidak termasuk golonganku !

Tegas sekali pernyataan beliau, orang nomor satu dalam Islam yang semua perkataan, pemikiran, kebijakan dan tingkah lakunya menjadi panutan dan acuan siapapun yang mengaku muslim mengenai adanya keseimbangan didalam hidup dan berkehidupan ini.

Suatu ketika Salman berziarah ke rumah Abu Darda, ia melihat Ummud Darda –istri dari Abu Darda-, memakai pakaian yang telah lusuh. Maka Salman berkata kepadanya: “Ada apa denganmu?” Ummud Darda’ menjawab: “Saudaramu Abu Darda tidak berhajat dengan apa yang ada di dunia ini.” Datanglah Abu Darda, lalu dibuatkan makanan untuknya. Salman berkata pada Abu Darda: “Makanlah.” “Aku sedang puasa,” jawab Abu Darda . “Aku tidak akan makan makanan ini sampai engkau mau makan,” sergah Salman.

Pada akhirnya Abu Darda membatalkan puasanya lalu menyantap hidangan yang telah disiapkan bersama Salman. Malam itu Salman menginap di kediaman Abu Darda. Ketika Abu Darda hendak bangkit untuk shalat (di awal) malam, Salman mencegahnya: “Tidurlah dulu,” katanya. Abu Darda pun tidur, namun tak berapa lama ia bangkit lagi untuk mengerjakan shalat. Kembali Salman mencegahnya: “Tidurlah kembali,” ucapnya. Ketika datang akhir malam, Salman berkata membangunkan Abu Darda: “Bangunlah sekarang”. Keduanya lalu menunaikan shalat malam. Setelahnya Salman menasihati saudaranya: “Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak terhadapmu. Jiwamu pun punya hak terhadapmu sebagaimana istrimu memiliki hak terhadapmu, maka tunaikanlah hak dari setiap yang memiliki hak.” Abu Darda mendatangi Nabi Shallallahu Saw lalu menceritakan hal tersebut kepada beliau, maka Nabi menanggapinya dengan ucapan beliau: “Benar apa yang dikatakan Salman tersebut.”

“Karena tubuhmu memiliki hak terhadapmu, matamu pun punya hak terhadapmu, demikian pula istrimu memiliki hak terhadapmu….” (HR. Al-Bukhari no. 1975 dan Muslim no. 2722)

Ada keselarasan atau keseimbangan diantara keduanya sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh dan terintegrasi sesuai dengan tujuan awal keberadaan atau eksistensi manusia sendiri dijadikan Allah sebagai Khalifah dibumi. Apabila kita menjadi Khalifah yang baik dalam artian sesuai dengan kehendak Allah maka itulah makna dari eksistensi kita dijadikan dalam kerangka beribadah kepada-Nya. Olehnya maka didalam Islam, kita harus Kaffah, totalitas, menyeluruh, lahir dan batin. Tidak boleh ada yang pincang dalam beragama, semua harus sesuai jalur dan garis yang ditentukan sehingga tercipta sebuah proporsionalitas dalam hidup dan kehidupan.

Orang yang sibuk berdzikir lisan tanpa berdzikir tindakan artinya dia secara tidak langsung menafikan fitrah kehidupan insaniahnya atau mengebiri nikmat jasadiah yang mestinya dia salurkan atau dia manfaatkan. Perilaku rahbaniah semacam ini sudah dikecam oleh Rasul sendiri dalam sejumlah riwayatnya. Artinya bahwa pendekatan kepada Allah memiliki makna pendekatan kepada makhluk-Nya, memberikan kemaslahatan pada lingkungannya sekaligus tanpa mengabaikan kebaikan serta kemaslahatan dirinya pribadi.

Didalam belajar dan mencari tahu, kita bisa memanfaatkan seluruh komponen indera kita secara maksimal. Kita juga tidak dilarang untuk memanfaatkan sumber-sumber dari luar Islam didalam proses pembelajaran tersebut. Nabi Saw bersabda :

Hikmah itu adalah barang orang mukmin yang hilang, dimanapun dia menemukannya, dia lebih berhak untuk memilikinya. (HR. At-Tirmidzi)

Demikian pula Imam Ali bin Abi Thalib, diriwayatkan pernah berkata serupa : “Hikmah itu barang berharga yang hilang dari seorang Mukmin, karena itu, dimanapun orang Mukmin menemukan hikmah, maka harus mengambilnya. Ambillah hikmah itu walaupun dari orang munafik!”

Dari dahulu saya selalu memiliki keyakinan bahwa semua hal … dari setiap apa yang diciptakan oleh Allah, dari setiap gejala alam yang tampak, dari berbagai fenomena yang mewabah, dari setiap peristiwa yang berlaku tentu punya pelajaran-pelajaran yang bisa kita ambil hikmahnya, bisa kita ambil ilmunya untuk pendewasaan diri kita secara IQ maupun EQ. Hemat saya, kita bisa mendapatkan pembelajaran ini dari siapapun dan dari metode apapun. Even itu dari orang-orang kafir atau munafik sekalipun. Karena Kekafiran juga adalah satu bagian dari ayat-ayat Allah yang harus kita pelajari dan ambil hikmahnya, sebab tidak ada sesuatu yang ada dikehidupan ini yang tidak berguna.

Kita hanya akan dehidrasi di gurun sahara, hilang di segitiga bermuda, hipotemia di kutub utara dan tersesat di samudra antartika hanya karena kita tidak mau belajar apapun dari banyak sumber.

Heboh film 2012: We were warned, adalah pembicaraan yang sangat menarik akhir-akhir ini diberbagai media, tidak terkecuali di fesbuk, forum, televisi dan radio. Termasuk juga di Milis_Iqra@googlegroups.com dimana saya menjadi salah satu moderatornya. Setiap pembicaraan mengenainya selalu menuai kontroversi, mulai dari heboh pelarangan dari sekelompok ulama dari MUI Jawa Timur (yang justru kontradiksi dengan sikap MUI Pusat), content dari film yang berkaitan dengan isyu kiamat alias akhir dunia, visual efek yang luar biasa, marahnya sebagian orang karena tempat ibadahnya dihancurkan sementara satu tempat ibadah justru dibiarkan saja, kemaslahatan  atau kemudharatan dari menontonnya, perbandingan uang karcis dan donasi keumat serta lain sebagainya. Ramai dan terus ramai … membuat film ini semakin histeris dan populeritasnya semakin melambung.

Saya pribadi sudah mengeluarkan dua tulisan berkaitan dengan film ini, semuanya bisa dilihat pada blog arsiparmansyah.wordpress.com. Itu belum dihitung dari komen singkat atau keterlibatan diskusi saya pada sejumlah pihak diberbagai tempat, khususnya milis_iqra yang saya cintai.

Tulisan ini, lagi-lagi juga belum bisa lari jauh dari untuk tidak membahas tentang fenomena film 2012 yang disutradarai oleh Roland Emrich. Apa boleh buat, saya terpaksa menggunakan film ini sekali lagi sebagai salah satu bahan penulisan.

Berkaitan dengan pembelajaran yang bisa dilakukan oleh kita selaku umat Islam, rasanya tidak berlebihan bila saya juga mengatakan bahwa kita pada dasarnya juga sangat tidak tertutup kemungkinan untuk memetik hikmah dari film tersebut. Munculnya fatwa ataupun penafian terhadap film tersebut bagi umat Islam dan mengkait-kaitkannya terhadap isu-isu dalam kitab suci ataupun hukum-hukum agama juga terlalu berlebihan. Karena memang isi dari film ini tidak ada sedikitpun yang sifatnya melecehkan agama Islam, sebaliknya, terlepas dari alasan yang dikemukakan oleh sang sutradara untuk tidak melakukannya, Ka’bah sebagai salah satu simbol keagamaan didalam Islam justru menjadi obyek yang tidak divisualisasikan hancur dalam film ini. Sementara kita bisa dengan jelas melihat kehancuran Vatikan dan St. Basilika (termasuk patung Yesus di Rio Jeneiro) yang menjadi simbol kebesaran agama Kristen atau juga bagaimana kita divisualisasikan bila istana atap langit milik Dalai Lama harus porak-poranda oleh terjangan tsunami raksasa.

Ini memang sekedar film dan mestinya bisa diperlakukan sesuai porsinya sendiri yaitu sebagai hiburan dan bagian pembelajaran dalam banyak hal. Seperti yang panjang lebar sebelum ini saya bahas, kita boleh belajar hal positip dari manapun sumbernya.

Janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertaqwa dan mengadakan ishlah di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengerahui. (Qs. 2 al-Baqarah: 224)

Bahwa apa yang divisualisasikan dalam film 2012 tentang beragam kejadian alam seperti gempa bumi, letusan gunung, tsunami dan lain sebagainya sangat bisa untuk kita jadikan bahan perenungan dan perbandingan secara subyektif terhadap pemberitaan yang disampaikan oleh kitab suci mengenai huru-hara dihari kiamat. Meskipun sekali lagi saya katakan, film 2012, sama sekali tidak bercerita mengenai kiamat Qubro seperti yang ada dalam keyakinan masyarakat Islam.

Setiap manusia memiliki cara belajar yang berbeda-beda. Dalam buku Quantum Learning dipaparkan tiga cara alamiah seseorang dalam mempelajari sesuatu. Yaitu : “secara visual, auditori atau kinestetik”. Dan sebagai manusia, kita memiliki sebuah sistem yang bisa disebut sebagai superlink, yaitu cara untuk mempermudah, mempercepat serta membuat nyaman sebuah proses pembelajaran yang berkaitan dengan penggunaan kedua sisi otak manusia sebagai penerimanya. Inilah kiranya kenapa Allah menciptakan panca indera yang sangat lengkap dan sempurna bagi makhluk bernama manusia.

Kita juga tahu bila kecenderungan pemakaian sisi otak yang biasa kita lakukan adalah dominasi fungsi otak hanya pada satu sisi, yaitu pada otak kiri atau otak kanan. Pengguna otak kiri cenderung memproses informasi secara bertahap dan linier. Sedangkan pengguna otak kanan cenderung berpikir global, melihat segalanya sebagai sebuah gambaran yang luas serta senang menghubungkan segala sesuatu yang nampaknya tidak saling berhubungan.

Tidak setiap dari kita memiliki kesamaan dalam penerimaan pesan dan informasi untuk bisa disimpan didalam otak dan dipelajari guna sebuah proses kemapanan diri dan pendewasaan kepribadiannya. Ada yang kesulitan memahami teks-teks didalam sebuah buku tanpa melihat contoh visualisasi praktek yang menghantarkannya pada pemahaman yang dimaksud oleh buku tersebut. Ada pula yang cukup mengandalkan pendengarannya saja dalam menerima dan mempelajari sesuatu, mereka dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Tetapi patut dicatat, bahwa tipe inipun biasanya masih mengalami kesulitan memahami teks-teks diatas kertas sampai ia mendapat ulasan verbalnya secara lisan. Sementara kinestetik adalah cara pembelajaran dengan sifat harus berhubungan langsung, seperti menyentuh-mendengar dan melihat. Dalam metode role playing yang sekarang sedang banyak diterapkan oleh sekolah-sekolah di Indonesia (termasuk sekolah Internasional tempat saya mengajar), kita juga mencoba mengembangkan penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan.

Oleh karenanya, kembali pada konteks agama, selama itu bisa dimanfaatkan sebagai jembatan seseorang untuk memahami agama yang mereka yakini, maka tidak ada salahnya untuk dilakukan sembari tetap mengawalnya pada batas-batas koridor yang dikhawatirkan dapat menyimpang.

Menonton sebuah film dan mendapatkan pelajaran darinya sekaligus menghibur diri, tidak bisa dihukum berdosa selama apa yang menjadi bahan tontonan dan hiburan itu memang tidak keluar dari garis-garis syariat yang ditentukan. Terutama yang dapat membelokkan akidah orang dari jalan Tauhid atau kemusrikan kepada Allah. Dalam bahasa sederhana, kembali pada asas tontonan yang bisa menjadi tuntunan atau minimal jembatan yang menuntun seseorang pada jalan Tuhan dan pemahaman pesan-pesan yang Dia sampaikan melalui kitab suci-Nya.

Dalam hal menghibur diri, Rasulullah Saw dipercaya telah bersabda :

“Demi Allah yang jiwaku ada pada gengamanNya , jika kalian di rumahmu masing-masing berzikir dan berada dalam keadaan yang sama seperti kamu berada di sisiku, maka tentu para malaikat akan berjabatan tangan dengan kalian dan akan melindungi kalian dengan sayapnya. Tetapi, wahai Hanzhalah (kehidupan ini) kadang-kadang begini dan begitu (Rasulullah s.a.w. mengulangi-ulangi kata-kata tersebut sebanyak tiga kali)” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Hanzhalah Al-Asdi).

“Legakanlah hatimu sekali-kali.” (HR. Abu Daud dari Ibnu Syihak Az-Zuhri dengan sanad mursal dan hasan).

Kita semua terlahir dengan penuh kefitrahan manusiawi kita. Terkadang kita butuh terhadap penghiburan, terkadang kita merasa hati kita bahagia dan sedih, tertawa atau juga menangis. Marah serta tersenyum.

Para sahabat mensifati Rasulullah Saw bahwa beliau adalah termasuk orang yang sering bergurau. (Kanzul ‘Ummal, no: 184)

Saya kutipkan juga dari buku Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur’an & Sunnah karya Dr. Yusuf Qardhawi yang bisa diakses pada situs  Islamic Network berikut:

http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Masyarakat/SeniLawak.html

Kita dapatkan bahwa Rasulullah SAW di rumahnya juga bergurau dengan isteri-isterinya dan mendengarkan cerita mereka. Sebagaimana diceritakan di dalam haditsnya Ummu Dzar yang terkenal di dalam shahih Bukhari. Kita lihat juga bagaimana perlombaan Nabi SAW dengan ‘Aisyah RA di mana sesekali ‘Aisyah menyalipnya dan sesekali Nabi mendahuluinya, maka Nabi bersabda kepadanya, “Ini dengan itu (satu-satu).”

Diriwayatkan juga bahwa punggung Rasulullah SAW pernah ditunggangi oleh kedua cucunya Hasan dan Husain ketika masih kecil. Beliau dan kedua cucunya menikmati tanpa rasa berat. Ketika itu ada salah seorang sahabat yang masuk dan melihat pemandangan itu, maka sahabat itu berkata, ..Sebaik-baik yang kamu naiki adalah yang kamu naiki berdua.” Nabi SAW berkata, “Sebaik-baik yang naik adalah keduanya.”

Rasulullah SAW juga pernah bergurau dengan nenek-nenek tua yang datang dan berkata, “Doakan aku kepada Allah agar Allah memasukkan aku ke surga,” maka Nabi SAW berkata kepadanya, “Wahai Ummu Fulan! Sesungguhnya surga itu tidak dimasuki orang yang sudah tua,” maka wanita tua itu pun menangis, karena ia memahami apa adanya. Maka Rasulullah SAW memahamkannya, bahwa ketika dia masuk surga, tidak akan masuk surga sebagai orang yang sudah tua, tetapi berubah menjadi muda belia dan cantik. Kemudian Nabi SAW membaca firman Allah SWT:

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (wanita-wanita surga) itu dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (Al Waqi’ah: 35-37)

Ada seorang laki-laki datang ingin dinaikkan unta, maka Nabi bersabda, “Saya tidak akan membawamu kecuali di atas anak unta,” maka orang itu berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang dapat saya perbuat dengan anak unta?” Ingatannya langsung ke anak unta yang masih kecil. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Apakah ada unta yang melahirkan kecuali unta juga?”

Zaid bin Aslam berkata, Ada seorang wanita bernama Ummu Aiman datang ke Rasulullah SAW berkata, “Sesungguhnya suamiku mengundangmu.” Nabi berkata, “Siapakah dia, apakah dia orang yang matanya ada putih-putihnya?.” Ia berkata, “Demi Allah tidak ada di matanya putih-putih!.” Maka Nabi berkata. “Ya, di matanya ada putih-putih,” maka wanita itu berkata, “Tidak, demi Allah.” Nabi berkata, “Tidak ada seorang pun kecuali di matanya ada putih-putihnya.” (Az-Zubair bin Bakar dalam “Al Fakahah wal Mizah” dan Ibnu Abid-Dunya). Yang dimaksud dalam hadits ini adalah putih yang melingkari hitamnya bola mata.

Anas berkata, “Abu Talhah pernah mempunyai anak bernama Abu ‘Umair, dan Rasulullah SAW pernah datang kepadanya lalu berkata, ‘Wahai Abu ‘Umair apa yang diperbuat oleh Nughair (burung kecil)?’ Karena anak burung pipit yang dipermainkan.”

‘Aisyah berkata, “Rasulullah SAW dan Saudah binti Zam’ah pernah berada di rumahku, maka aku membuat bubur dan tepung gandum yang dicampur dengan susu dan minyak, kemudian aku hidangkan, dan aku katakan kepada Saudah, ‘Makanlah’ maka Saudah berkata, ‘Saya tidak menyukainya,’ Maka aku berkata, ‘Demi Allah benar-benar kamu makan atau aku colekkan bubur itu ke wajahmu, ‘ maka Saudah berkata, ‘Saya tidak mau mencicipinya, ‘ maka aku (‘Aisyah) mengambil sedikit dari piring, kemudian aku colekkan ke wajahnya, saat itu Rasulullah SAW menurunkan kepada Saudah kedua lututnya agar mau mengambil dariku, maka aku mengambil dari piring sedikit lalu aku sentuhkan ke wajahku, sehingga akhirnya Rasulullah SAW tertawa.” (HR. Zubair bin Bakkar di dalam kitabnya “Al Fukahah”)

Diriwayatkan juga sesungguhnya Dhahhak bin Sufyan Al Kallabi adalah orang yang berwajah buruk. Ketika dibai’at oleh Nabi SAW maka Nabi bersabda, “Sesungguhnya aku mempunyai dua wanita yang lebih cantik daripada si Merah Delima ini (‘Aisyah),–ini sebelum turun ayat tentang hijab–, “Apakah tidak sebaiknya aku ceraikan salah satunya untukmu, kemudian kamu menikahinya?” Saat itu ‘Aisyah sedang duduk mendengarkan, maka Aisyah berkata, ‘Apakah dia lebih baik atau engkau?” Maka Dhahhak menjawab, “Bahkan saya lebih baik daripada dia dan lebih mulia.” Maka Rasulullah SAW tersenyum karena pertanyaan ‘Aisyah kepadanya, karena ia laki-laki yang berwajah buruk. ‘ (HR. Zubair bin Bakkar di dalam “Al Fukaahah”)

Rasulullah SAW senang untuk menebarkan kegembiraan dan kebahagiaan dalam kehidupan manusia, terutama di dalam momen-momen seperti hari raya atau pesta pernikahan.

Ketika Abu Bakar RA tidak setuju dengan nyanyian dua budak wanita pada hari raya di rumahnya dan mengusir keduanya, maka Nabi berkata kepada Abu Bakar, “Biarkan keduanya, wahai Abu Bakar, sesungguhnya hari ini adalah hari raya.”

Di dalam riwayat lain dikatakan, “Agar orang-orang Yahudi mengetahui bahwa sesungguhnya di dalam agama kita ini ada hiburan.”

Rasulullah SAW juga pernah mengizinkan kepada orang-orang Habasyah untuk bermain dengan tombak mereka di Masjid Nabawi pada hari-hari besar dan Nabi SAW mendorong mereka, “Di bawahmu wahai Bani Arfidah.”

Rasulullah SAW memberi kesempatan kepada Aisyah RA untuk melihat mereka dari belakangnya, sedangkan mereka terus bermain dan menari, dan Nabi tidak memandang demikian itu sebagai dosa.

Pada suatu hari beliau pernah menegur suatu pesta perkawinan yang sepi-sepi saja, tidak disertai permainan atau lagu-lagu. Beliau mengatakan, “Mengapa tidak ada permainannya? Sesungguhnya kaum Anshar itu tertarik dengan permainan.”

Di dalam sebagian riwayat Rasulullah SAW bersabda, “Mengapa kamu tidak mengirimkan bersamanya orang yang menyanyi dan mengatakan. ‘Kami telah datang kepadamu… kami telah datang kepadamu… (karena itu) sambutlah kami…,’ sebagai ucapan selamat kami untukmu.”

Para sahabat Nabi SAW dan orang-orang yang mengikuti mereka (para tabi’in) adalah sebaik-baik generasi, namun mereka juga tertawa dan bergembira karena mengikuti petunjuk Nabinya. Sampai orang seperti Umar bin Khaththab yang terkenal kerasnya, juga pernah bergurau dengan budaknya. Umar mengatakan kepada budaknya, “Aku diciptakan oleh Pencipta orang-orang mulia, dan engkau diciptakan oleh Pencipta orang-orang durhaka!” Ketika Umar melihat budaknya sedih karena kata-kata itu, maka Umar menjelaskan dengan mengatakan, “Sesungguhnya tidak ada yang menciptakan orang-orang mulia dan orang-orang durhaka kecuali Allah ‘Azza wa Jalla.”

Sebagian sahabat ada yang bersenda gurau dan Rasulullah SAW pun membiarkan dan menyetujui. Hal seperti ini terus berjalan setelah Rasul SAW wafat. Semua itu diterima oleh para sahabat, tidak ada yang mengingkari, meskipun seandainya peristiwa itu terjadi sekarang pasti akan diingkari oleh sebagian besar aktifis Islam dengan pengingkaran yang keras, bahkan mungkin mereka menganggap pelakunya tergolong orang-orang yang fasik atau menyimpang.

Akhirnya, kata pengantar akhir dari saya pribadi (Arman) bahwa kebanyakan dari kita sering bertindak terlalu apatis terhadap kebenaran yang diungkapkan oleh orang lain, terlebih jika orang tersebut memiliki cara pandang yang berseberangan dengan apa yang kita yakini kebenarannya. Padahal belum tentu semua yang ada dalam pemikiran orang tersebut salah dan sebaliknya belum tentu juga setiap pikir dan tindakan kita bernilai benar; bisa saja kita bersikap konsisten terhadap nilai-nilai yang kita anut sehingga kita menyebutnya sebagai sebuah kebenaran namun bukan tidak mungkin konsistensi kita tadi hanya ilusi dimana pikiran kita sesungguhnya berjalan sesuai pola logika yang bisa bergeser dan menyimpang.

Pikiran kita memang seringkali tidak menyimpang kalau kita bandingkan dengan standar kita sendiri. Padahal standar kita dibentuk oleh pikiran kita yang bisa jadi pula dipengaruhi oleh orang lain. Jadi, maksud saya acapkali pikiran kita ternyata hanya tidak menyimpang dari pikiran kita sendiri atau kelompok dimana kita berkomunitas.

Allah menjadikan kita lengkap dengan panca indera berikut fungsinya adalah untuk menangkap dan menyerap semua nilai-nilai kebenaran yang berserakan disemesta raya, ini adalah tools atau alat yang harus dioptimalisasikan penggunaannya.

Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi ? padahal mereka mempunyai hati yang dengan hati itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar; Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. – Qs. 22 al-Hajj : 46

Sesungguhnya Allah juga berfirman : Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa’ : 63

Semoga tulisan ini bermanfaat.,

Salam dari Palembang …

Armansyah

Histeria Kiamat dalam versi Islam

Histeria Kiamat dalam versi Islam
Oleh : Armansyah

Tulisan ini masih merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “We were warned : Histeria film 2012″. Bagi anda yang ketinggalan membacanya, masih bisa mengaksesnya diblog saya : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2009/11/17/we-were-warned-histeria-film-2012/

Sebelum anda meneruskan bacaan anda ini saya ingatkan kepada anda yang Muslim namun tidak terbiasa dengan gaya penjabaran ayat-ayat Qur’an secara ilmiah untuk segera memalingkan situs anda dari sini (jika anda sedang membacanya di arsiparmansyah.wordpress.c

om atau juga dari facebook.com/armansyah atau mendelete email ini bila anda membacanya via Milis_Iqra.

Karena dalam penulisan ini anda nantinya akan dibuat terkejut dengan beberapa analisa dan penafsiran bebas saya terhadap Kitabullah Al-Qur’an Al-Karim dan Hadist Rasulullah Muhammad Saw yang bukan suatu hal mustahil anda dapat terjerumus dalam pemahaman yang keliru sehingga menggoyahkan akidah dan keimanan anda sekaligus mengadakan fitnahan terhadap diri saya.

Tetapi tidak ada pretensi apapun dalam penulisan ini, sekedar mencoba memahami kitab suci Al-Qur’an dan sunnah Rasul secara “modern” berkaitan dengan isyu Doomsday/hari kiamat. Tulisan ini juga merupakan revisi dari tulisan saya pada tahun 1996 yang lalu di situs geocities.com/pentagon/1246 yang juga sempat dikompilasi oleh pakdenono.com menjadi ebook dan didistribusikan kepada masyarakat.

Bahwa heboh dari keberadaan film “2012: We were warned” yang disutradarai Roland Emrich benar-benar menghipnotis banyak orang sekaligus menimbulkan silang pendapat mengenai banyak hal.

Sebut saja mulai dari akurasi kiamat yang diprediksi terjadi pada tanggal 21 Desember 2012 hingga berbagai kontent dalam film tersebut termasuklah didalamnya tentang ketidak hancuran Ka’bah sebagai salah satu simbol keagamaan dunia dalam peristiwa Doomsday itu sementara berbagai simbol keagamaan dunia lainnya seperti Vatikan, “Istana atap langit”-nya Dalai Lama di Himalaya dan lain sebagainya digambarkan porak-poranda. Tidak ketinggalan gedung putih, tugu kemerdekaan bangsa Amerika serta kapal indukpun hancur lebur dengan visualisasi luar biasa.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Malang, Jawa Timur, seperti dilansir oleh Republika Online (http://www.republika.co.id/berita/89799/MUI_Malang_Haramkan_Film_2012) bahkan secara tegas mengharamkan film “2012: We were warned” karena dampak isi cerita film tersebut dikhawatirkan akan membuat masyarakat resah terkait tibanya hari kiamat pada 2012.

Begitupula dengan Front Pembela Islam (FPI) menyatakan bahwa film tersebut mengandung unsur kemusryikan (lihat beritanya di http://www.inilah.com/berita/politik/2009/11/17/181393/fpi–film-kiamat-2012-musyrik/ )

Berlawanan dengan keduanya, MUI Pusat sebagaimana dilansir oleh situs inilah dot kom (berita detilnya disini : http://www.inilah.com/berita/politik/2009/11/17/181462/mui-tak-ada-fatwa-haram-film-kiamat-2012/) disampaikan oleh Ketua MUI KH. Ma’ruf Amin sendiri bahwa MUI Pusat justru sama sekali tidak mengeluarkan fatwa larangan apalagi haram untuk masyarakat muslim menonton film “2012: We were warned”. Beliau mengatakan “Saya tidak melihat ada sesuatu yang bisa menyesatkan, selama itu dipandang hanya sebatas imajinasi dari pembuat film yang mencoba mengambarkan kiamat terjadi pada tahun 2012. Jadi silakan saja menonton film itu.”

Apapun adanya, jelas film yang diperankan oleh Chiwetel Ejiofor dan Jimi Mistry tersebut telah benar-benar sukses menggarap pasar dengan kontroversi yang menyertainya.

Secara konten dan cerita, seperti dalam artikel pertama, saya katakan bahwa film 2012: We were warned tidak beda jauh dengan film-film Hollywood lainnya. Bahkan unsur dramanya boleh disebut jauh dibawah film-film seperti Independence Day (ID4), Armageddon dan The Day After Tomorrow. Tetapi film ini sangat memikat dengan visualisasi efek yang ditampilkan sehingga membuatnya memiliki nilai jual tinggi dipasaran. Berbeda dengan film sejenisnya yang juga mengekor peramalan kiamat 2012 (seperti film 2012: Doomsday atau 2012: Supernova), meskipun sesungguhnya film “2012: We were warned” sama sekali tidak menceritakan perihal terjadinya kiamat qubro sebagaimana dibayangkan oleh banyak orang.

Kali ini bahasan saya akan masuk lebih jauh pada kajian agama (Islam) dari sudut pandang kosmologinya. Saya tidak akan berbicara dari sudut pandang nubuat doktriner seperti kedatangan Imam Mahdi dan polemik Isa Al-Masih yang memang sebenarnya sudah tuntas saya bahas pada buku saya berjudul “Ramalan Imam Mahdi: Akankah ia datang pada 2012” [Serambi, 2008]. Saya hanya akan melangkah pada berbagai penceritaan Al-Qur’an dan as-Sunnah terhadap fenomena-fenomena kiamat dan tanda-tanda kosmos yang menyertainya saja.

Bahwa dalam banyak hadis yang dipercaya sebagai benar ucapan Nabi Muhammad Saw, beliau menggambarkan sejumlah informasi sebagai berikut :

Dari Abu Hurairah katanya Rasulullah bersabda, Tidak akan datang Kiamat sehingga banyak terjadi gempa bumi” [Shahih Bukhari, Kitab Al-Fitan 13 : 81-82]

Dan diriwayatkan dari Salamah bin Nufail As-Sukuni, Ia berkata : Kami sedang duduk-duduk di sisi Rasulullah lalu beliau menyebutkan suatu hadits yang antara lain isinya : Sebelum terjadinya hari Kiamat akan terdapat kematian-kematian yang mengerikan, dan sesudahnya akan terjadi tahun-tahun gempa bumi” [Musnad Imam Ahmad 4 : 104 dengan catatan pinggir Muntakhab Al-Kanz. Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, Thabrani, Al-Bazaar, dan Abu Ya’ala dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi kepercayaan” Majmu’uz Zawa’id 7 : 306]

“Tidak tegak hari kiamat hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya. “ (HR. Al-Bukhari no. 4359 dan Muslim, 1/157)

Dewasa ini kejadian kosmos yang sudah digambarkan oleh Rasul diatas –saya percaya– sedang terjadi dan berjalan. Dimana-mana selalu saja ada gempa bumi dan bahkan sesekali di-ikuti oleh tsunami. Contoh paling akhir adalah kejadian di Aceh, Yogya, Situ Gintung, Tasikmalaya dan juga Sumatera Barat yang luluh lantak olehnya. Banyak faktor dan kausalitas sebagai berlakunya hukum dan ketentuan Allah terhadap datangnya hari penghabisan tersebut.

Fenomena yang belum ada saat ini adalah terbitnya matahari dari tempat ia terbenam. Mungkin hal ini berkaitan dengan fenomena perubahan siklus hukum benda langit pada masanya atapun dikarenakan suatu peristiwa besar yang terjadi seperti perang nuklir dan sebagainya sehingga mempengaruhi sistem orbit bulan dan matahari terhadap kedudukan bumi. Allahu a’lam bissawab[Allah Yang Mahatahu sesungguhnya, karena semuanya masih misteri sampai hari ditulisnya ini].

Dari dalam kitab suci Al-Qur’an, ada juga fenomena yang berkaitan dengan eksistensi makhluk dari dalam bumi sebagai salah satu pertanda dari kiamat. Berikut ayatnya :

Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi. (Qs. 27 An-Naml : 82)

Hemat saya sejauh ini, ayat diatas adalah bercerita tentang sebuah pengulangan sejarah dunia. Kita tahu bahwa dahulu, planet bumi kita ini pernah dihuni oleh sejenis makhluk hidup (diantaranya berukuran raksasa) yang kita kenal dengan nama Dinosaurus. Makhluk ini –diduga oleh sebagian ahli sejarah dan geologi—hidup antara 225 sampai 230 juta tahun yang lalu. Berbagai spekulasi selanjutnya juga berkembang sekaitan dengan kepunahan mereka. Ada yang menduga bahwa kepunahan mereka disebabkan oleh hujan meteor, radiasi bintang yang meledak, diare, tsunami raksasa, ledakan gunung serupa Krakatau dan lain sebagainya. Memang yang paling populer adalah akibat meteor yang jatuh kebumi dan memusnahkan semuanya.

Tetapi faktanya apakah semua Dinosaurus benar-benar sudah musnah atau hilang dari bumi setelah berbagai spekulasi penyebabnya itu terjadi ? ternyata tidak. Pada abad ke-10 salah seorang berkebangsaan Irlandia mencatat perjumpaannya dengan seekor makhluk yang rupanya seperti Stegosaurus (salah satu jenis dari Dinosaurus).

Pada tahun 1500-an, sebuah buku scientific Eropa, berjudul Historia Animalium, mencatat beberapa jenis binatang dinosaurus masih hidup pada saat itu. Seorang ahli ilmu pengetahuan alam terkenal, Ulysses Aldrovandus, mencatat sebuah pertemuan antara seorang petani bernama Baptista dan seekor naga yang ciri-cirinya mirip dengan dinosaurus Tanystropheus.

Pertemuan itu terjadi tanggal 13 Mei 1472 dekat Bologna di Itali, dan petani itu membunuh naga tersebut. Terdapat pula laporan-laporan lain yang menyatakan penampakan dinosaurus pada dekade terakhir ini. Pada Science Digest edisi Juni 1981 dan Science Frontiers No. 33 tahun 1983, penyelidik dan penduduk di Afrika melaporkan penampakan makhluk seperti dinosaurus. Deskripsi yang diberikan cocok dengan rupa dinosaurus. Dalam Melbourne Sun , 6 Februari 1980, lebih dari 40 orang mengklaim bahwa mereka melihat plesiosaurus dari pantai Victorian Australia akhir-akhir ini.

Laporan paling anyar bisa kita baca pada berbagai media nasional maupun internasional awal bulan Oktober 2009 lalu. Berita tersebut berkisar penemuan telur-telur Dinosaurus di sebuah desa di bagian selatan Provinsi Tamil Nadu, India. Telur-telur dengan diameter 13-30 cm yang berada pada areal sekitar 1,2 meter itu ditemukan oleh ekspedisi yang dipimpin oleh M. Ram Kumar, seorang pakar geologi di Periyar University yang dibiayai oleh lembaga Ilmiah Jerman-India.

Fosil telur itu tertimbun dalam sarang di bawah abu vulkanik dari eropsi Plateau Deccan di sepanjang tepian dan bawah aliran Sungai Cauvery. Di daerah aliran sungai itu juga ditemukan sisa-sisa kotoran dan tulang belulang dinosaurus. Memang dalam kasus ini telur-telur Dinosaurus itu sudah berupa fosil dan dalam kondisi yang tidak mungkin menetas.

Tetapi, apakah tidak tertutup kemungkinan jika tanpa sepengetahuan siapapun, jauh disuatu tempat, ternyata masih ada telur-telur Dinosaurus tertentu yang masih terpendam dan bisa menetas jika mendapat suatu kondisi tertentu ? Atau mungkin juga saat ini telur itu sudah ada yang menetas dan sedang dalam tahap pertumbuhan sang Dinosaurus muda untuk menjadi dewasa dan keluar pada saat yang sudah direncanakan oleh Allah melalui siklus hukum sebab dan akibatnya sendiri.

Selain itu, kembali pada ramalan kosmologi kiamat yang diceritakan oleh kitab suci Al-Qur’an …
“Apabila bumi digoncangkan dengan sekeras-kerasnya, dan gunung-gunung dihancurkan selumat-lumatnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan.” (QS. 56:4-6)

“Ketika bumi digoncangkan sekeras-kerasnya, dan bumi mengeluarkan semua isinya, manusia bertanya : ‘Mengapa menjadi begini ?’, dihari itu bumi akan menceritakan beritanya bahwa Tuhanmu telah memerintahkan seperti itu.” (QS. 99:1-5)

“Wahai manusia, insyaflah pada Tuhanmu, bahwa goncangan Sa’ah itu adalah sesuatu yang amat dahsyat.” (QS. 22:1)

Sungguh luar biasa sekali kejadian hari itu, hari dimana Allah menepati janji-Nya kepada semua makhluk-makhluk ciptaan-Nya, hari dimana tidak ada satupun yang dapat memberikan pertolongan dan hari yang tiada satu juga tempat bersembunyi.

Bahkan meskipun makhluk itu [yaitu kita sebagai manusia] pergi keplanet Saturnus sekalipun, begitu kira-kira “tafsir modern” atas ayat Al-Qur’an surah Al-Mursaalat [77] ayat 30 sampai 34 :

Pergilah kamu kepada planet [zhillu/naungan] yang mempunyai 3 lingkaran, yang tiada lindungan karena dia tetap tidak akan menyelamatkan dari bencana [Sa’ah] bahwa dia [Sa’ah] melontarkan percikan api laksana balok seolah dia iringan [cahaya] yang kuning. Kecelakaan pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan [kebenaran]. (QS. 77:30-34)

Sekedar informasi saja planet Saturnus memiliki cincin yang dapat dikelompokkan menjadi tujuh lapis, namun pengamatan yang bisa dilihat dari Bumi hanya dapat melihat tiga lapisan cincin yang mengelilingi Saturnus. Ketiga cincin itu (dari luar ke dalam) umumnya disebut sebagai cincin, A, B, dan C. Di samping tiga lapis cincin, juga terdapat dua daerah pembatas gelap yang disebut sebagai Encke Division dan Cassini Division. Encke Division berada dalam cincin A, sedangkan Cassini Division yang lebih lebar memisahkan antara cincin A dan cincin B. (info : http://www.nineplanets.org/saturn.html)

Saya melihat bahwa pembicaraan al-Qur’an dalam kasus ini sama seperti ketika ia berbicara tentang Dzulkarnaen yang disebutkan sampai disebuah daerah dimana matahari terbenam di air yang hitam (lihat surah AL-Kahfi (18) :86). Padahal Terjadinya siang dan malam telah menyebabkan adanya perbedaan waktu di permukaan Bumi kita ini.

Dengan adanya pergerakan bumi dari utara keselatan dalam garis ekliptiknya maka terjadi juga pergantian siang dan malam sehingga matahari terlihat seolah terbit ditimur dan terbenam dibarat, padahal matahari tidak pernah terbit maupun terbenam. Manusia membuat persepsi yang demikian disesuaikan dengan cara pandang yang mereka hadapi dan bukan berdasar kenyataan yang sebenarnya. Oleh karena itu pula dibeberapa tempat dalam al-Qur’an, bayat-ayatnya juga ditulis atau diwahyukan oleh Allah dengan mengikuti persepsi dan pandangan mata manusia.

Misalnya disebutkan bila bumi ini bagai hamparan (Surah An-Naazi’aat ayat 30, Al-Ghasyiyah ayat 20). Dalam kasus Dzulkarnaen apa yang disampaikan Al-Qur’an adalah dia pergi kesebuah tempat dengan arah terbenamnya matahari hingga apabila ia telah sampai kebatas pantai dari jurusan matahari terbenam diapun melihat matahari seolah-olah terbenam kedalam laut yang sudah gelap itu [tentang Dzulkarnaen ini bisa dilihat penjabaran lengkap saya di https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/06/25/kisah-dzulkarnain/].

Seperti cerita Dzulkarnaen itu jugalah saya melihat dan menafsirkan bebas kasus surah Al-Mursaalat [77] ayat 30 sampai 34 bisa juga tentang Saturnus. Ia mengikuti pola pandang mata manusia yang hanya bisa menjangkau 3 cincinnya saja dari bumi.

Jadi seolah-olah Al-Qur’an itu hendak berkata, jika kita memang mampu menghindari hari kiamat itu pada waktu terjadinya, silahkan saja kerahkan apapun teknologi yang mampu kita perbuat. Termasuk menyiapkan sebuah armada antariksa yang dapat memindahkan populasi manusia dari planet bumi ini menuju keplanet lain diluar angkasa sekalipun. Jadi bukan hanya sebatas bahtera seperti yang ada dalam cerita film “2012: We were warned” saja. Ke Saturnus sekalipun kalau memang kita bisa menghindari kiamat itu, silahkan. Demikian tantangan dari Al-Qur’an.

Intinya itulah dia hari kiamat, hari Sa’ah /waktu kehancuran total yang ditentukan/, Yaumul Hasrah /hari penyesalan/, Yaumul Muhasabah /hari perhitungan/, Yaumul Wazn /hari pertimbangan/ dan sejumlah nama lain yang kesemuanya menunjukkan mengenai kiamat yang akan terjadi dalam satu hitungan yang mengagetkan.

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Kapankah datangnya ?”. Katakanlah:”Hanya disisi Tuhankulah pengetahuan /ilmu/ tentangnya; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. ia /Kiamat/ itu amat dahsyat untuk langit dan bumi. Dia tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya ilmu /pengetahuan/ tentangnya ada di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. 7:187)

Marilah kita telaah lebih jauh ayat-ayat al-Qur’an yang bersangkutan tentangnya.
Demi yang terbang dalam keadaan bebas, yang membawa beban berat yang bergerak dengan mudahnya dan membagi-bagi urusan; bahwasanya yang dijanjikan itu adalah benar. (QS. 51:1-5)

Demi yang meluncur dengan cepatnya dan memercikkan api yang merubah waktu subuh dan menimbulkan debu yang berpusat padanya sebagai satu kesatuan. Sungguh, manusia itu tidak tahu berterima kasih kepada Tuhannya. (QS. 100:1-6)

Pada hari meledaknya tata surya ini dengan bencana besar serta diturunkannya para malaikat secara bersungguh-sungguh. (QS. 25:25)

Pada hari tata surya ini digoncang dengan sebenar-benar goncangan dan orbit akan terlepas dengan luar biasa. (QS. 52:9-10)

Ketika matahari digulung (olehnya) dan bintang-bintang meluluh, tenaga alamiah pun terlepaskan [dari posisi orbitnya], relasi (hubungan molekul pada benda) ditinggalkan dan semua unsur dikumpulkan serta lautan mendidih. (QS. 81:1-6)

Tata surya akan pecah karenanya sebagai bukti janji-Nya ditunaikan; Sungguh, ini satu peringatan, barang siapa yang mau mengikuti niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. (QS. 73:18-19)

Maha Besar Allah yang telah membukakan sedikit tabir rahasia-Nya kepada manusia mengenai hari perjanjian dengan segala kelogisannya yang sudah sepantasnya menjadi bahan pemikiran bagi kaum yang mau memikirkan serta bagi mereka yang benar-benar mengharapkan ridho dari Tuhannya.

Melalui AlQur’an, wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw sang utusan mulia sekitar 14 abad yang lalu ditanah Arabia telah menyajikan secara gamblang proses kehancuran tersebut berdasarkan data-data ilmiah yang mampu dicapai oleh pemikiran manusia diabad 20 ini. Al-Qur’an memberitakan bahwa kehidupan dalam tata surya ini akan ditutup sekaligus secara mendadak dengan alasan dan pembuktian yang logis dan komplit. Hidup didunia ini adalah selaku ujian terhadap manusia yang akan menentukan nilai bagi setiap diri untuk ditempatkan pada golongan yang baik atau jahat diakhirat nanti yang berpokok pangkal pada ayat 51:56.

Dengan alasan ini teranglah bahwa hidup kini bukan terwujud dengan sendirinya tanpa ujung pangkal, bukan pula menjalani reinkarnasi dengan mati dan hidup berulang kali dengan jalan penitisan kepada makhluk/zat lainnya , malah sesuai dengan pemikiran wajar berdasarkan hukum kausalita yang berlaku.
Hari kehancuran total itu oleh AlQur’an dinamakan Sa’ah, yaitu waktu penutupan kehidupan massal yang ditentukan Allah, tak seorangpun yang dapat mengetahui kapan waktu pastinya sebagai satu pengujian kepada setiap diri mengenai Iman dan Ilmunya.

Tiada kejadian Sa’ah itu melainkan dalam sekejapan mata atau lebih cepat lagi. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 16:77)

Pada ayat 16:77 diatas telah disebutkan bahwa kedatangan Sa’ah itu terjadi dalam tempo yang sangat singkat, dan digambarkan kecepatannya melebihi kejapan mata.

Menurut hukum Fisika, kecepatan pandangan mata sama besar dengan kecepatan gerak sinar atau gelombang radio. Sinar bergerak sekitar 186.282 mil sedetik. Dalam satu tahun atau selama 365 hari ada 31.536.000 detik. Jadi sinar bergerak dalam satu tahun sejauh 5.874.589.152.000 mil, dan ini dinyatakan 1 tahun sinar, biasanya angka ini dibulatkan menjadi 6 billion mil. Sementara itu sinar dari matahari untuk mencapai bumi dibutuhkan waktu 8.3 menit [juga biasanya dibulatkan menjadi 8 menit sinar saja].

Jadi jika misalnya matahari itu mendadak hilang dari angkasa maka keadaan itu baru dapat kita lihat 8 menit kemudiannya, karena memang sekianlah kecepatan kejapan mata atau pandangan mata [menurut hukum Fisika]. Kini dikatakan oleh Al-Qur’an bila kejadian Sa’ah itu lebih cepat lagi.

Benda angkasa yang bergerak bebas dan dapat setiap waktu menghantam bumi kita ini ada beberapa, diantaranya asteroid, meteor dan juga komet. Asteroid misalnya, ia memiliki kecepatan lesat antara 11-12,8 kilometer perdetik hingga 40.000 mil/jam. Komet sendiri memiliki kecepatan antara 37100 km per jam hingga 150000 km/jam. Dengan kecepatan 37100 km per jam saja artinya jarak kota New York hingga kota Los Angeles (4506 km) bisa ditempuh hanya dalam 6,5 menit. Ini berarti kecepatan komet dan asteroid kadang kala bisa ada diatas kecepatan cahaya.

Bila kita sekarang, berkaca dari beragam hasil penelitian ilmiah tentang ilmu antariksa modern dengan tidak lupa juga mengambil beberapa film besutan Hollywood sebagai perbandingan visualisasi yang subyektif (seperti Deep Impact atau Armageddon) maka bila kita kaitkan dengan ayat-ayat al-Qur’an sekitar penyebab utama dari kehancuran alam semesta –sekali lagi saya katakan ini secara subyektif dan sederhana—maka kita akan lebih mudah mendapat pengetahuan imajinasi tentang dahsyatnya kejadian hari itu sehingga dengan demikian semakin sering melakukan introspeksi diri. Hisab diri kita, kelakuan kita sehari-hari.

Ada satu ayat Qur’an yang cukup mengundang perhatian kita untuk menghubungkannya kepada penyebab kejadian pada hari Sa’ah itu, ayat tersebut adalah :

Dan yang menguasai itu berada atas bagian-bagiannya dan [benda] yang membawa semesta Tuhanmu diatas mereka ketika itu “Ada Delapan”. (QS. 69:17)

Saya sepakat dengan Nazwar Syamsu, bahwa kita bisa melihat tafsir lain dari kata ‘Arsy yang selama ini ditafsirkan oleh sebagian besar orang sebagai singgasana dimana Allah berdiam. Sebab Allah tidak membutuhkan tempat, ruangan dan juga tidak terikat dengan waktu.

Jika dikatakan bahwa Allah *duduk* diatas ‘Arsy maka berarti Allah memiliki wujud yang sama seperti makhluk-Nya yang memerlukan tempat tinggal dan tempat bernaung, padahal Allah Maha Suci dan Maha Mulia dari semua itu ! Sungguh kontradiksi sekali dengan sifat-sifat keTuhanan yang dikenal didalam Islam sebagai Asma ul Husna .

Semua benda angkasa dinamakan semesta raya atau langit bagi manusia dan dapat diterjemahkan juga sebagai ‘Arsy Allah, termasuk planet-planet, bulan-bulan [satelites], komet dan apa-apa yang ada diantaranya. Semua benda itu dibangun oleh Allah sebagai yang dimaksud ayat 11:7.
Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari [maksudnya 6.000 tahun karena 1 hari Allah = 1000 tahun manusia berdasarkan ayat 22:47] dan adalah semestanya atas Almaa’ … (QS. 11:7)

Semesta raya disusun begitu rupa terdiri dari jutaan bima sakti/galaksi. Masing-masing bima sakti terdiri dari jutaan bintang yang setiapnya dikitari oleh planet-planet yang umumnya juga dikitari oleh bulan-bulan sebagai satelitnya. Satu bintang dengan beberapa planet dan bulannya dinamakan tata surya atau solar system.

Kita kembali pada ayat 69:17 sebelumnya yang mengatakan bahwa kelak pada hari Sa’ah akan ada 8 yang membawa semesta raya ini padanya yang karena itu dia disebut sebagai yang menguasai. Adalah satu hal yang cukup masuk akal jika kita telah berasumsi bahwa yang 8 dimaksudkan oleh Alqur’an ini adalah 8 rombongan benda angkasa, entah itu komet atau asteroid yang akan datang dengan kecepatan penuh dan menjadikan penyebab hari Sa’ah tersebut.

Demi [bintang-bintang] yang berbaris tersusun [disemesta raya], Demi [benda angkasa] yang membentur dengan benturan Demi [ayat-ayat Qur’an] yang menganalisakan pemikiran Bahwa Tuhanmu adalah satu, yaitu Tuhan semua planet dan bumi ini serta apa yang ada diantaranya serta Tuhan bagi tempat-tempat terbit matahari [dalam setiap planetnya]. (QS. 37:1-5)

bahwa kelak dikemudian hari serombongan komet akan datang membentur/menyeret tata surya kita, waktunya sangat dirahasiakan, hanya Allah sendiri yang mengetahuinya. Waktu itu akan tergoncanglah planet-planet dengan hebatnya terseret mengikuti layang sekumpulan benda angkasa itu dan musnahlah semua yang hidup kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah sebagaimana yang terdapat dalam ayat 39:68

Apabila ditiupkan sangkakala dengan sekali tiupan, terbawalah bumi ini dan semua tenaga alamiahnya lalu bergoncanglah ia sekali goncangan maka ketika itu menimpalah yang menimpa dan pecahlah tata surya ini pada hari itu menurut ketentuan. (QS. 69:13-16)

Dan ditiupkan sangkakala lalu mati apa-apa yang ada dilangit dan apa-apa yang ada dibumi kecuali apa saja yang dikehendaki oleh Allah, kemudian akan ditiupkan padanya [sekali lagi] maka tiba-tiba mereka bangkit [dari mati dan] menunggu [pengadilan Tuhan atas mereka]. (QS. 39:68)

Apakah dan bagaimana waktu itu kejadian penyeretan tata surya ini dan dengan jalan bagaimana pula Allah menjalankan hukum-hukum Kausalita-Nya untuk memberikan perlindungan kepada apa yang dikecualikan-Nya seperti pada ayat 39:68 diatas ?

Mari kita jawab bersama …
Perhatikan ulang firman Allah berikut ini :

Demi yang meluncur dengan cepatnya dan memercikkan api yang merubah waktu subuh dan menimbulkan debu yang berpusat padanya sebagai satu kesatuan. Sungguh, manusia itu tidak tahu berterima kasih kepada Tuhannya. (QS. 100:1-6)

Demi yang terbang dalam keadaan bebas, yang membawa beban berat yang bergerak dengan mudahnya dan membagi-bagi urusan; bahwasanya yang dijanjikan itu adalah benar. (QS. 51:1-5)
Demi yang membentur dengan benturan (QS. 37:2)

Dari ayat Qur’an diatas kita bisa membaca bahwa kelak akan datang sekumpulan benda angkasa yang meluncur dengan cepat sambil memercikkan api [QS. 100:1] yang telah ditentukan Allah untuk membentur tatasurya kita ini [QS. 37:2] lalu menyeretnya menurut layangnya disemesta luas [QS. 100:4] hingga habislah semua bintang diangkasa itu semuanya terseret pada waktu tertentu berturut-turut [QS. 51:4].

Waktu itu matilah semua makhluk berjiwa dalam daerah tatasurya [QS. 39:68] hari itu tidak ada tempat berlindung sama sekali bagi manusia sekalipun dia mencoba pergi dari bumi menuju ke planet Saturnus. No way out even you go to outerspace.

Dengan ini saja kita bisa mengambil kesimpulan bahwa benda angkasa yang dimaksudkan kemungkinan besar adalah komet atau juga asteroid yang memiliki karakteristik nubuatan Qur’an. Dan yang menjadi ekor dari benda angkasa tersebut adalah bintang-bintang dengan semua planet dan bulannya yang telah dibentur dan diseret oleh benda itu lebih dahulu. Dalam Qur’an diistilahkan yang terbang bebas dan berbeban berat serta mudah dalam pergerakan maka dalam gerak demikian dia membentur setiap tatasurya yang menghalangi arah geraknya, langsung membentur dan menyeret. Waktu itu juga seluruh Ionosfir akan bergabung dengan komet/asteroid tersebut, sehingga berakibat setiap tatasurya yang dibenturnya itu otomatis menurut kepada benda raksasa itu.

Pembenturan komet/asteroid atas setiap bintang dan planet bukan terlaksana sekaligus, bukan dalam satu ketika secara mendadak melainkan melalui proses alamiah yaitu secara berangsur-angsur sehingga kian lama wujudnya semakin membesar dalam masa yang amat panjang dan itu telah mulai terjadi semenjak ribuan tahun yang lalu dan akan tetap seperti itu hingga masa ketentuan itu diberlakukan Allah.

Mungkin hal itu susah digambarkan dalam ingatan kita secara manual dan mau tidak mau kita membayangkan apa yang ada dalam film-film Deep Impact atau Armageddon bahwa langit biru yang ada diatas kita ini kelak tiada lagi berbintang karena semuanya mengikut pada 8 rombongan benda angkasa seolah merekalah yang menguasai semesta raya dihari tersebut.

Dan yang menguasai itu berada atas bagian-bagiannya dan yang membawa semesta Tuhanmu diatas mereka ketika itu “Ada Delapan”. (QS. 69:17)

Bahwa setiap planet itu berputar disumbunya untuk mewujudkan siang dan malam serta Timur dan Barat bagi permukaan masing-masing planet itu adalah sudah satu hukum yang pasti dalam ilmu Astronomi. Semua bintang berada pada posisi tertentu disemesta raya dengan sifat Repellent antara satu dengan lainnya tersusun rapi sesuai dengan hukum-hukum yang sudah ditetapkan Allah.

Sungguh, Allah menahan planet-planet dan bumi agar tidak luput /dari garis orbitnya/, Jika semua itu sampai luput, adakah yang dapat menahannya selain Dia ? Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS. 35:41)

Tapi mesti dijelaskan disini dalam hubungannya dengan banyak ayat Qur’an yang lain serta kajian Ilmu pengetahuan modern, setiap planet memiliki Rawasia [tenaga alamiah] Simple karenanya tidak akan kejadian dua planet dempet bersatu; sebaliknya setiap planet dalam tatasurya ini akan dempet bersatu dengan matahari yang dikitarinya namun tidak akan lebur mencair karena masing-masingnya dikungkung oleh batang magnet yang membujur dari Utara ke Selatan. Termasuk planet bumi kita ini.

Hal ini berlaku sewaktu tatasurya ini diseret oleh komet/asteroid/benda angkasa lainnya yang masih misteri sehingga menyebabkan susunan planet kacau balau. Orbit dan jarak tertentu tak terlaksana lagi masing-masingnya tertarik jatuh pada matahari disebabkan Rawasia yang berlainan. Setiap planet itu melekat pada matahari dalam keadaan utuh berupa globe yang senantiasa bulat dan tetap berputar disumbunya.

Hal demikian sangat penting sekali terjadi karena dengan itu tidak akan kejadian adanya suatu planet dalam tatasurya kita ditarik oleh bintang lain, tetapi hal itu pulalah yang menyebabkan permukaan setiap planet terbakar, lautan menguap habis, gunung-gunung meleleh dan setiap benda mencair jadi atom asal seperti diterangkan oleh ayat 81:1 s.d 81:6

Ketika matahari digulung (olehnya) dan bintang-bintang meluluh, tenaga alamiah pun terlepaskan [dari posisi orbitnya], relasi (hubungan molekul pada benda) ditinggalkan dan semua unsur dikumpulkan serta lautan mendidih. (QS. 81:1-6)

Akan tetapi lain keadaannya dengan bulan-bulan yang menjadi satelit mengitari planet. Untuk itu AlQur’an menerangkan :

Semakin dekat Sa’ah dan terpecahnya bulan-bulan. (QS. 54:1)

Dan lenyaplah bulan-bulan itu serta dikumpulkanlah bulan-bulan itu bersama matahari. (QS. 75:8-9)

Bulan memiliki Rawasia Spot atau Mascon, yaitu titik pusat magnet yang berada dalam tubuhnya, karena itu dia tidak pernah berputar tetapi mengedar keliling planet. Makanya bulan terwujud dari pasir halus tak memadat, bergravitasi sangat lemah. Bulan mengorbit matahari dengan jarak 384,400 km dari planet bumi kita dan bergaris tengah 3476 km dengan massa 7.35e22 kg.

Sewaktu planet-planet jatuh tertarik dempet pada matahari pada hari Sa’ah tersebut maka setiap bulan itu tak mungkin mempertahankan wujud globenya, masing-masing akan meleleh menjadi satu dengan matahari dan mulai saat itu hilanglah bulan untuk selama-lamanya sebagaimana tercantum pada ayat 75:8-9 diatas dan sesuai pula dengan ayat 39:68 yang menyatakan bahwa pada ledakan pertama itu semua yang hidup akan mati kecuali apa-apa yang dikehendaki oleh Allah, dan secara kesimpulan *subyektif* salah satu benda yang tidak akan dimusnahkan oleh Allah itu adalah planet bumi kita ini sebab pada saat itu bumi tidak lebur kedalam matahari dalam pengertian meleleh melainkan akan mewujudkan satu keadaan baru sebagaimana yang diterangkan Allah dalam firman-Nya yang lain serta beberapa Hadist Nabi Muhammad Saw yang akan kita bahas dibawah ini :

Pada hari Kami putarkan tata surya ini laksana putaran radiasi untuk ketetapan-ketetapan [Kami]. Sebagaimana Kami memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya kembali sebagai janji atas Kami. Sungguh pasti akan Kami tepati [janji itu]. (QS. 21:104)

[Yaitu] hari dimana bumi diganti dengan bumi yang lain [dalam rupanya] begitu pula planet-planet, dan mereka semuanya tunduk kepada Allah yang Esa dan Perkasa. (QS. 14:48)

Wahai manusia, insyaflah pada Tuhanmu, Bahwa goncangan Sa’ah itu adalah sesuatu yang amat dahsyat. (QS. 22:1)

Dia berfirman: “Di sana engkau hidup dan disana pula engkau akan mati, dan dari sana pula engkau akan dibangkitkan. (QS. 7:25)

Dari Sahal bin Sa’ad ra. katanya: Rasulullah Saw bersabda: “Dikumpulkan manusia pada hari kiamat di Bumi yang putih kemerah-merahan bagai dataran yang bersih, tidak ada tanda-tanda penunjuk untuk siapapun”. (HR. Imam Muslim)

Dari Mikdad bin Aswad ra. katanya: Rasulullah Saw bersabda: “Didekatkan matahari kepada manusia dihari kiamat sehingga jarak matahari dari mereka sekira satu mil. Manusia digenangi keringat menurut ukuran amal mereka…” (HR. Imam Muslim)

Jadi jelaslah bahwa bumi kita ini dan juga matahari tidak akan hancur saat kiamat itu melainkan akan diperbaharui bentuk dan keadaannya sebagaimana Firman Allah dan Hadist Rasul diatas.

Begitulah satu keterangan yang cukup jelas bagi kita untuk menggambarkan keadaan bumi dan sistem matahari yang telah mengalami Sa’ah dengan orbit dan keadaan lain yang juga berubah total [sebagaimana pada Hadist yang pertama dikatakan bahwa bumi berwarna putih kemerah-merahan akibat penyatuannya semula dengan matahari pada waktu Sa’ah dan menguapkan/menghanguskan semua benda hingga tidak ditemukan tanda-tanda apapun sebagai penunjuk sementara jarak orbit matahari kala itu teramat dekat dengan bumi dan sebagai perwujudan dari apa yang selama ini dikenal orang dengan nama Padang Mahsyar].

Jika sekarang ini bumi kita diliputi oleh Atmosfir yang dalam AlQur’an, Atmosfir disebut sebagai Barkah [sesuatu yang melindungi sekaligus sebagai rahmat Allah] dengan lautan yang menggenangi hampir separuh daratan bumi, maka setelah Sa’ah tersebut, bumi menjadi telanjang dari Ionosfir sehingga pandangan mata dapat memandang lepas keseluruh penjuru langit dan air laut menjadi menguap menimbulkan bentuk-bentuk daratan baru dipermukaannya yang keadaannya tidak dapat diramalkan orang bagaimana bentuknya saat itu.

Coba anda perhatikan ayat-ayat Tuhan berikut ini :

Maka ketika bintang-bintang dilenyapkan [dari pandangan mata karena diseret benda angkasa yang meluncur secara deras]. Dan apabila atmosfir telah dibuka dan gunung-gunung telah dihancurkan menjadi debu [yaitu meleleh karena jatuh dempet pada matahari]. (QS. 77:8-10)

Pada prinsipnya, tempat hidup di Akhirat nanti adalah tempat hidup didunia ini juga yang sudah mengalami perombakan sedemikian rupa pada saat Sa’ah, sebab dimana lagi tempat lain yang mungkin didiami dalam semesta raya Tuhan kalau tidak dipermukaan salah satu planet ? Bukankah Tuhan pula menyatakan bahwa dibumi ini juga manusia akan dibangkitkan nantinya ?

Dia berfirman: “Di sana engkau hidup dan disana pula engkau akan mati, dan dari sana pula engkau akan dibangkitkan. (QS. 7:25)

Dan tidakkah manusia pikirkan bahwa Kami jadikan ia dari setitik Nutfah tetapi tiba-tiba ia jadi pembantah yang nyata, dan dia mengadakan perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang hancur luluh ?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala ciptaan.” (QS. 36:77-79)

Jika kamu ragu tentang kebangkitan nanti, maka sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah [Turab], kemudian dari setetes mani [Nutfah], kemudian dari segumpal darah [‘Alaqah], kemudian dari segumpal daging [Mudgah] yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu.

Dan Kami tetapkan dalam rahim [ibumu] apa yang Kami kehendaki sampai waktu tertentu, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian kamu sampai pada kedewasaanmu, dan diantara kamu ada yang diwafatkan [sebelumnya] dan diantara kamu ada yang dipanjangkan umurnya sampai pikun agar dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. (QS. 22:5)

Pada hari kebangkitan itu, hari dimana setiap diri dihidupkan kembali nanti terdapatlah dua macam bentuk manusia yang memperlihatkan perbedaan yang menyolok ditentukan oleh perbedaan beriman dan kafirnya.

Pada hari yang akan ada muka yang putih berseri dan ada pula yang bermuka hitam muram. Kepada orang-orang yang hitam muram mukanya akan ditanyakan: “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman karenanya rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”. Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah. (QS. 3:106-107)

Dan ditiup sangkalala, maka secara cepat mereka keluar dari kuburnya bersegera kepada Tuhan mereka dan berkata :”Aduhai, celakalah kami ! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat istirahat kami ?” Inilah apa yang dijanjikan Yang Maha Pemurah dan benarlah [sabda] para Rasul. (QS. 36:51-52)

Pemandangan dan pendengaran manusia dihari itu sangat tajam, jika sekarang ini manusia hidup dalam alam tiga dimensi dimana panca indera memiliki keterbatasan tertentu dalam pencapaiannya maka diakhirat kelak manusia akan hidup dalam alam 4 dimensi dimana penglihatan dan pendengaran tak terhalang dan tak dibatasi oleh ukuran tertentu dalam lingkungannya malah mereka akan melihat serta mendengar sesuatu pada gelombang yang sudah lama menggelombang keangkasa luas yang kemudian kembali memantul kepada panca indera mereka.

Keadaan seperti itu akan menakutkan manusia yang selalu berbuat dosa selama hidup sebelumnya, pada hari itu juga dia dapat kembali melihat rekaman kehidupannya yang pada hakekatnya adalah Neutron yang senantiasa merekam segala gerak gerik yang berlaku dalam hidup satu diri kemudian dia mengapung keangkasa sebagai anti partikel waktu dimana fungsi rekamannya berhenti karena tiada lagi yang direkamnya.

Para ahli sependapat bahwa masa lalu tidak hilang begitu saja tapi ia berpindah kewujud lainnya dan mengambang diangkasa yang beberapa diantaranya dapat dilihat oleh orang-orang tertentu yang memiliki ketajaman indra ke-6 untuk melihat kejadian masa lalu yang pada intinya adalah mengadakan persesuaian frekwensi pikirannya kearah frekwensi rekaman yang ada, tinggal lagi sampai sejauh mana frekwensi manusia tersebut dapat melihat secara luas dan jauh rekaman yang dia inginkan yang tentu juga akan mengeluarkan banyak tenaga.

Sesungguhnya engkau berada dalam keadaan lalai tentang hari Akhir ini, maka Kami angkatkan darimu tutupan pancaindera [yang menutupimu sebelumnya], maka penglihatanmu pada hari ini sangat tajam. (QS. 50:22)

Diberitakan kepada manusia pada hari itu apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Bahkan manusia itu akan melihat riwayat dirinya sendiri. (QS. 75:13-14)

Awaslah, karena sesungguhnya tulisan untuk orang-orang yang pembangkang itu ada dalam Sijjin. Dan sudahkah engkau tahu apa Sijjin itu ? Yaitu Kitab Rekaman (QS. 83:7-9)

Ingatlah, bahwa tulisan orang-orang baik itu ada dalam ‘Illiyyin. Tahukah engkau apakah ‘Illyyin itu ? Yaitu Kitab Rekaman (QS. 83:18-20)

Dalam ayat yang lain Allah juga menerangkan dengan cukup jelas perihal Kitab catatan Raqid ‘Atid itu sebagai Mar’a yang dikeluarkan dari setiap benda.

Jagalah kesucian nama Tuhanmu Yang Maha tinggi. Yang telah menjadikan dan menyempurnakan. Dan yang telah menentukan serta menunjuki. Yang mengeluarkan Mar’a [berkas-berkas kehidupan] Lalu menjadikannya dalam keadaan mengapung dan berisikan catatan [gusaan ahwa]. Kelak akan Kami beberkan padamu. (QS. 87:1-6)

Terimakasih, saatnya kita saling bermuhasabah diri !
Salam dari Palembang …


ARMANSYAH, 18 Nopember 2009

We were warned : Histeria film 2012

We were warned : Histeria film 2012
Oleh : Armansyah

Histeria film “2012: We were warned” telah menyebar keseantero bumi dalam waktu yang relatif singkat. Beranjak dari beragam fenomena dan misteri sistem penanggalan yang ditemukan dari sisa-sisa peradaban suku Maya (yaitu salah satu suku yang tinggal di wilayah selatan Mexico sekarang atau semenanjung Yucatan Amerika Tengah yang berbatasan dengan Samudera Pasifik di sebelah barat, dan Laut Karibia di sebelah timur) Guetemala telah sukses menghantarkan film besutan sutradara Roland Emrich ini populer. Saya sendiri dalam hal ini mengakui ikut menjadi korban dari promosi film tersebut, bahkan saking histerianya, sempat salah nonton film dengan tajuk yang sama tetapi berbeda tema, yaitu “2012: Doomsday”, dengan pemeran utama Dale Midkiff dan Cliff De Young.


Sejumlah arkeolog modern percaya bahwa suku Maya mempunyai peradaban yang luar biasa pada masanya, bahkan diantaranya ada yang percaya bahwa peradaban suku Maya dimasa lalu berada jauh diatas peradaban kita sekarang ini. Peradaban suku Maya itu menurut para arkeolog yang mempercayai hal tersebut bisa dilihat dari peninggalan mereka seperti buku-buku, meja-meja batu  dan cerita-cerita yang bersifat mistik.

Suku Maya sendiri diduga memiliki korelasi dengan sejumlah peradaban dibenua Asia. Pasalnya, candi-candi yang terletak di kompleks Chichen Itza mirip dengan candi di Asia. Bahkan, ada pula yang persis dengan yang dimiliki Indonesia. Kompleks candi suku Maya di Chichen Itza dibangun sekitar tahun 502-522 Masehi. Ia merupakan bangunan peninggalan Suku Maya yang paling lengkap dan terawat dengan baik. Kompleks candi ini cukup luas dan tiap candi terpisah satu sama lain. Di tengah-tengah berdiri Candi El Castilo yang bentuknya menyerupai piramida dengan atap terpancung. Yang mengherankan, Candi El Castilo mirip dengan Candi Sukuh di Kabupaten Karanganyar, Jawa tengah di sisi barat Gunung Lawu, tepatnya di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah.

Tentang keterkaitan candi Suku Maya dan Indonesia konon pernah menjadi bahan penelitian dari Prof. Gualberto Zapata Alonzo yang melalui bukunya “An Overview of The Mayan World” yang terbit 2002, ia menyebutkan, seni dan kesadaran beragama Suku Maya memiliki persamaan dengan India, Indocina dan Indonesia. Candi Tikal di Guatemala ada kesamaan dengan piramida Naksei Chan Crong di Angkor, Kamboja. Begitu pula dengan Candi di Paleque, Meksiko. Candi itu mirip dengan Candi Ajanata di India. Selain itu, simbol-simbol agama dan mitos binatang Suku Maya mirip dengan di Jawa dan Indocina. Dalam cerita Hindhu Mahabharata dan Ramayana terdapat pula suku dengan panggilan Maya. Bahkan, pada agama Hindu terdapat dewa bernama Maya.

Akan tetapi, hal yang membuat suku Maya menjadi fenomena utama dan akar dari film “2012: We were warned” seperti yang sempat saya singgung sebelumnya adalah pada kalender yang dibuat oleh bangsa Maya, berakhir pada tanggal 21 Desember 2012 !

Dan menurut orang-orang yang mempercayainya, hal itu merupakan signal dari suku Maya bila bumi sudah mencapai titik klimaks kehidupan dan booom, terjadilah kiamat qubro alias Doomsday. Argumen sejumlah orang tersebut lalu mendapat pembenaran dari sejumlah analisa dan penyelidikan yang sangat subyektif dari sejumlah kalangan ilmuwan dengan isu keberadaan planet nibiru atau planet x yang sedang berjalan menuju kearah planet bumi kita dan bersiap menjadi alat  penghancurnya. Menariknya, ketua suku Maya sendiri, Apolinario Chile Pixtun dan arkeolog Meksiko, Guillermo Bernal, keduanya mencatat bahwa “histeria kiamat” dalam film “2012: We were warned” justru bertentangan dengan dengan apa yang sebenarnya dipahami oleh mereka sendiri. Apa yang didengung-dengungkan oleh sejumlah orang tentang terjadinya kiamat pada tahun 2012, hanyalah sebuah bualan dan sisipan terhadap kenyataan ramalan suku Maya.

Sebagai seorang muslim yang tahu akan eksistensi nash didalam Islam menyangkut hari akhir, saya tidak akan menganggap serius segala teori yang berkaitan dengan tanggal 21 Desember 2012. Entah itu yang dikemukakan melalui berbagai film semacam “2012: We were warned” atau sejenisnya maupun apa yang dilontarkan secara terang-terangan diluarnya. Bahwa apa yang disebut sebagai hari kehancuran, Armageddon, Doomsday atau kiamat itu pasti akan datang. Ini sudah menjadi ketentuan dari Allah melalui hukum alam yang ada.

Didalam kitab suci Al-Qur’an sendiri keimanan kepada Allah hampir selalui dikaitkan pada keimanan pada adanya hari akhir sebagaimana misalnya dalam Al-Baqarah [2]:8, Al-Baqarah [2]:126, Al-Baqarah [2]:228, Al-Baqarah [2]:232, Ali Imran [3] :114, An-Nisaa [4]:39], An-Nisaa [4]:59, An-Nisaa [4]:162, At-Taubah [9]:18-19, At-Taubah [9]:44, Al-Ankaabut [29]:36, Al-Mujaadilah [58]:22 dan masih banyak lagi ayat-ayat didalam Al-Qur’an yang semisal. Intinya bahwa kepercayaan seorang muslim terhadap eksistensi Tuhan memiliki korelasi yang tidak terpisahkan dengan keharusannya untuk mempercayai akan tibanya hari kiamat itu sendiri. Dia menjadi satu kesatuan yang utuh dan membentuk fondasi kepercayaan didalam Islam.  Siapa yang mendustakannya secara jelas dinyatakan oleh Al-Qur’an sebagai orang yang sesat!


Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisaa’ [ 4]:136)

Hanya saja tinggal lagi kapan waktunya tiba, ini dia yang kita tidak bisa mengetahuinya secara pasti. Semua orang boleh-boleh saja melakukan analisa dan prediksi sesuai dengan disiplin ilmunya masing-masing. Akan tetapi seperti yang juga saya tulis dalam buku “Ramalan Imam Mahdi: Akankah ia datang pada 2012 [Serambi, 2008]” bahwa semua prediksi yang dilakukan itu hanyalah sebatas praduga yang tidak memiliki validasi kepastian apapun. Jangankan untuk berbicara kepastian tibanya hari kiamat, memprediksikan tanggal dan waktu terjadinya gempa bumi saja sampai hari ini faktanya tidak ada satu negara maju manapun yang bisa melakukannya secara akurat. Semua bermain dalam praduga dan waktu antara (range domain) namun coba lihat gempa di Sumatera Barat dan Tasikmalaya atau Tsunami di Aceh dan Yogya.

Sejauh ini, seluruh nash keagamaan didalam Islam yang berbicara masalah kiamat lebih banyak kepada perujukan tanda-tanda yang akan menjadi pemicu terjadinya hari akhir tersebut dan bukan merujuk pada tanggal maupun waktu. Semua secara jelas dinyatakan tertutup bagi siapapun kecuali Allah semata. Saya tidak akan membahas masalah tanda-tanda kiamat dalam versi Islam karena memang sebenarnya ini sudah saya bahas secara detil dalam buku “Ramalan Imam Mahdi: Akankah ia datang pada 2012 [Serambi, 2008]”. Jadi bagi anda yang ingin tahu lebih banyak mengenai ini silahkan saja membaca buku tersebut.

Oke kita kembali dulu pada pembahasan film “2012: We were warned”. Secara jujur saya kataka bahwa film ini memang menarik untuk disaksikan. Visual effect yang disuguhkan sungguh luar biasa dan membuat film ini terasa hidup dan mendebarkan. Akan tetapi jika kita berbicara masalah drama atau alur cerita, dalam pandangan saya pribadi film ini biasa saja. Datar dan bisa ditebak, tidak ubahnya seperti film-film science fiction Hollywood lainnya. Sebut saja Independence Day (ID4), The day after tomorrow, Armageddon, Double Impact, war of world dan sejenisnya. Apalagi ending dari film ini tidaklah kiamat dalam arti yang sebenarnya namun replika saja dari kejadian dijaman Nuh a.s melalui banjir besarnya yang membentuk ulang struktur bumi dan permukaannya.

Histeria yang ditonjolkan difilm ini lebih pada penggambaran terjadinya tsunami raksasa yang menelan seluruh isi bumi, gempa besar yang disertai keluarnya api dari dalam bumi yang menghancurkan istana Vatikan sampai Patung Yesus di Rio Jeneiro dan seterusnya. Saya pribadi mengacungi 4 jempol untuk sound system dan visual effect film ini. Terlepas dari alur cerita dan tokoh yang ditampilkannya, konten film “2012: We were warned”, sangat bagus untuk menjadi muhasabah diri setiap kita berkaitan dengan penggambaran terjadinya hari akhir.

Memang tidak akan sama persis seperti yang disampaikan oleh kitab suci, namun secara subyektif, film ini mampu menghadirkan imajinasi kita terhadap dahsyatnya kejadian dihari kiamat tersebut.

Tulisan ini InsyaAllah akan bersambung dengan Histeria Kiamat dalam versi Islam.,

Salam manis dari Palembang,


Salamun ‘ala manittaba al Huda

ARMANSYAH

%d bloggers like this: