Boleh Mengkritik sahabat tetapi jangan menghina mereka!

Boleh Mengkritik sahabat Nabi tapi jangan menghina mereka!
Sebuah kritik pada sebagian pemikiran orang syiah.

Oleh : Armansyah

Perseteruan antar sahabat dimasa lalu, pada hakekatnya telah menjadi fakta sejarah yang tidak mungkin dihindarkan atau ditutup-tutupi. Melakukan kajian dan kritik terhadap mereka dari sisi ilmiah sama sekali bukan hal yang terlarang apalagi berdosa, terutama jika kita memang ingin obyektif dan mencari kebenaran sesungguhnya.

Kita tidak perlu berlebihan dalam menyikapi semua kritik dan kajian pada generasi pertama tersebut seolah mereka adalah kaum untouchable persons. Mereka juga adalah manusia biasa, sama seperti kita dan orang lain diluarnya. Kedekatan mereka pada Rasulullah, kesatu jamanan mereka dengan Rasul tidak harus lalu ditaklidkan dengan sifat pembenaran diri pada mereka dalam segala sesuatunya. Hal yang saya percaya, mereka sendiri tidak menyukainya.

Maksud saya dengan sahabat disini tentunya adalah orang-orang yang dianggap sebagai sahabatnya Nabi Muhammad SAW. Siapapun itu adanya. Entah mereka itu 4 khalifah pertama (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali) maupun individu lain diluar mereka.

Para Nabi saja diceritakan secara jelas didalam al-Qur’an, kerap berbuat hal-hal yang bersifat khilaf dalam kapasitasnya sebagai manusia biasa yang normal. –dalam artian, kesalahan ini tidak ada kaitannya dengan posisi mereka sebagai Rasul atau duta Allah pada manusia untuk menyampaikan wahyu.

Continue reading

Advertisements

Ultah pernikahan kami ke-10

 

10 Tahun sudah perjalanan bahtera rumah tangga ini dibina, banyak cerita sudah dituai. Banyak tawa telah direnda, memang tidak mudah merajut, membina dan mempertahankan keutuhan rumah tangga. Dalam perjalanannya, pasti ada tangis, ada marah, ada cemburu dan pastinya ada pula bahagia. Semoga, pernikahan ini tetap langgeng berada dalam naungan hidayah, lindungan serta ridho Allah SWT. Menghasilkan keturunan yang istiqomah, cerdas dan berguna bagi agamanya, orang tuanya, keluarganya dan bangsa secara keseluruhan.

Wa-allafa bayna quluubihim law anfaqta maa fii al-ardhi jamii’an maa allafta bayna quluubihim walaakinna allaaha allafa baynahum innahu ‘aziizun hakiimun

Dan Allahlah yang mempersatukan hati mereka. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [Surah al-Anfaal ayat 63]

Silaturahim bersama warga di ‘Iedul Fitri 1433H

Berbagi kenangan Silaturahim bersama warga komplek pada hari pertama ‘Iedul Fitri 1 Syawal 1433 H yang bertepatan pada 19 Agustus 2012. 

 

Continue reading

Kenangan bersama Guru Mengaji

10 Agustus 2012 lalu masih dipertengahan bulan suci Ramadhan 1433 H, menyempatkan diri membesuk salah satu guru saya waktu kecil, istimewanya, ini adalah orang yang mengajari saya baca huruf hijaiyyah sampai lancar dari kitab kecil “turutan alif-ba-ta” sampai khatam al-Qur’an pertama kalinya sekitar tahun 86-an dulu.

Beliau adalah Kyai Azzaman Riva’i. 

Inilah “turutan” yang pertama kali saya baca sewaktu belajar mengaji tahun 80-an lalu. Masih Alif diatas A Alif dibawah i Alif didepan U: A-I-U. Subhanallah, another nostalgia dari masa lalu ketika belum ada metode Iqro. Bukunya masih terawat baik sampai hari ini.

Sewaktu saya khatam al-Qur’an pertama kalinya dibulan Maret 1985 dulu, beliau ini juga memberikan hadiah kepada saya berupa sebuah kitab al-Qur’an yang sampai hari ini masih tetap saya jaga dan saya gunakan.

%d bloggers like this: