Video : Fujur dan Taqwa

Advertisements

Saya cinta ulama dan habaib

Oleh : Armansyah

Mungkin banyak yang berpikir jika saya ini jauh dari para ulama. Inilah klarifikasi resmi dari saya, semoga bisa terhindar dari fitnah.

Saya mencintai para ulama dan habaib, saya menghormati mereka dengan semua kewaraan serta keilmuan mereka. Ketika saya menyelisihi pemahaman mereka, tidak berarti saya mencemooh pribadi mereka yang memang pantas dimuliakan insyaAllah. Berbeda dalam memahami nash maupun ijtihad adalah hal yang biasa didalam Islam selama tujuan kita sama dan akidah kitapun satu. Kita semua adalah saudara dalam Tauhid, sama mengakui Allah sebagai Rabb dan Nabi Muhammad Saw sebagai Rasulullah serta Khatamannabiyyin.

Wahai Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan jangan Engkau biarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau sajalah yang Maha Penyantun dan Penyayang. (Al-Qur’an, Surah al-Hashr ayat 10)

Rindu ikut puasa dan lebaran bersama Pemerintah (suara anak bangsa)

Oleh : Armansyah

Sebagai anak bangsa, saya tentu saja sangatlah ingin dan rindu untuk bersama-sama melakukan ibadah shaum dan lebaran bersama pemerintah selaku ulil amri. Ini bukan sebuah olok-olokan ataupun joke saja namun benar-benar tulus keluar dari hati saya yang paling dalam. Catatan ini dibuat dengan harapan kiranya suatu hari, disuatu masa, bisa terwujudkan.

Sebagaimana kita ketahui dan maklumi bersama, di Indonesia, tanah air yang tercinta, yang dibangun diatas darah, keringat, air mata serta perjuangan para pahlawan revolusi jaman dahulu (salah satunya termasuk almarhum ayah saya), hampir setiap tahunnya, pelaksanaan shaum atau puasa dan juga pelaksanaan lebaran, baik “iedul Fitri (hari raya 1 syawal) maupun ‘iedul Adha (hari raya kurban) selalu saja menuai konflik.

Konflik dalam pengertian adanya perbedaan keputusan akhir pelaksanaan kedua ibadah tersebut diatas antara pihak pemerintah yang menggunakan metode rukyatul hilal dengan sejumlah organisasi masyarakat (ormas) ke-Islaman maupun sejumlah pribadi muslim yang menggunakan metode hisab, terutama hisab wujudul hilal.

Perbedaan ini semestinya memang bisa diminimalisir atau bahkan dihindari jika saja kita bisa membuka diri dan membuka pemahaman kita untuk mengarah pada perbaikan kualitas ibadah yang semakin sempurna dari waktu ke waktu. Tentunya tidak hanya habis dalam uraian kata saja, tetapi bisa di implementasikan secara nyata di kehidupan nyata beragama.

Pemerintah, ditinjau dari sisi konstitusi kenegaraan maupun konstitusi keagamaan berfungsi sebagai ulil amri atau otoritas yang harusnya menjadi ikutan rakyatnya, makmumnya, termasuk saya.

Namun saya, dengan amat sangat terpaksa, terpaksa sering bertindak diluar ketetapan pemerintah dalam hal pelaksanaan ibadah shaum dan lebaran atas beberapa dasar dan argumentasi yang akan saya jelaskan dibawah ini.

Continue reading

Bersama keluargaku tercinta

Keluarga Besar Armansyah

Keluarga Besar Armansyah

Taat pada Ulil Amri Minkum: Apa maksudnya?

Oleh : Armansyah

Mentaati perintah Ulil Amri merupakan satu kesatuan dari perintah untuk mentaati Allah dan mentaati Rasul-Nya. Hal ini tercantum dalam kitab suci al-Qur’an surah An-Nisaa’ ayat 59 :

ilustrasi Surah an-Nisaa' ayat 59

ilustrasi Surah an-Nisaa’ ayat 59

yaa ayyuhaa alladziina aamanuu athii’uu allaaha wa-athii’uu alrrasuula waulii al-amri minkum fa-in tanaaza’tum fii syay-in farudduuhu ilaa allaahi waalrrasuuli in kuntum tu’minuuna biallaahi waalyawmi al-aakhiri dzaalika khayrun wa-ahsanu ta’wiilaan 

Terjemahan ayat diatas adalah :

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Asbabun Nuzul ayat ini dari Ibnu Abbas, katanya, “Diturunkan ayat ini pada Abdullah bin Hudzafah bin Qais, yakni ketika ia dikirim oleh Nabi saw. dalam suatu ekspedisi. Berita itu diceritakannya secara ringkas. Dan kata Daud, ini berarti mengada-ada terhadap Ibnu Abbas, karena disebutkan bahwa Abdullah bin Huzafah tampil di hadapan tentaranya dalam keadaan marah, maka dinyalakannya api lalu disuruhnya mereka menceburkan diri ke dalam api itu. Sebagian mereka menolak, sedangkan sebagian lagi bermaksud hendak menceburkan dirinya.” Katanya, “Sekiranya ayat itu turun sebelum peristiwa, maka kenapa kepatuhan itu hanya khusus terhadap Abdullah bin Hudzafah dan tidak kepada yang lain-lainnya? Dan jika itu turun sesudahnya, maka yang dapat diucapkan pada mereka ialah, ‘Taat itu hanyalah pada barang yang makruf,’ jadi tidak pantas dikatakan, ‘Kenapa kalian tidak mau mematuhinya?'”

Continue reading

%d bloggers like this: