Kritik Hadis Israk dan Mikraj Bag. 3

Oleh : Armansyah
Penulis Buku “Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih”,
Jejak Nabi “Palsu” dan Ramalan Imam Mahdi

>> Boleh Copy Paste u/. non komersil dengan tetap mencantumkan sumber <<

Inti sari hadis

Dari hadis-hadis yang sudah kita tuliskan sebelumnya, maka mari kita simpulkan dalam poin-poin terpentingnya.

Dari hadis Abu Hurairah dari Al-Musayyab, yaitu:

1. Tidak djelaskan posisi dan keberadaan Nabi saat itu (apakah sedang tidur atau sedang terjaga atau apakah beliau SAW sedang berada dimasjid Al-Haram, dirumah atau ditempat tertentu, hadis langsung bercerita mengenai pertemuan Nabi Muhammad dengan Nabi Musa)

2. Nabi Muhammad SAW diceritakan bertemu dengan Nabi Ibrahim as dan oleh beliau, Nabi SAW diberi pilihan antara susu dan arak (Khamr), Nabi memilih susu

3. Dihadis ini sama sekali tidak disinggung mengenai keadaan arwah para Nabi yang lain termasuk arwah Nabi Ibrahim, apakah sedang shalat atau tidak, tetapi yang jelas seperti sudah dijelaskan pada poin 2 diatas, Nabi Ibrahim diceritakan langsung memberi Nabi Muhammad pilihan minuman

Dari hadis Abu Hurairah dari Abu Salamah, yaitu :

1. Digambarkan arwah para Nabi sedang Shalat di Baitul Maqdis (Yerusalem)

2. Nabi Muhammad lalu jadi imam shalat dari para arwah Nabi-nabi setelah waktu Shalat masuk
3. Setelah itu Nabi dikenalkan oleh seseorang (tidak jelas siapa orang tersebut) kepada malaikat penjaga neraka yang ada disana (di Baitul Maqdis, Yerusalem diantara jemaah arwah para Nabi).

Dari hadis Anas bin Malik melalui jalur Az-Zuhri dari Abu Dzar adalah, yaitu :

1. Saat itu Nabi Muhammad SAW sedang tidur dirumahnya dimekkah

2. Atap rumahnya dibuka

3. Malaikat Jibril turun lalu membedah dada Nabi SAW dan mencucinya dengan air zam-zam

4. Nabi dan malaikat Jibril langsung pergi kelangit sampai lapisan ke-7 dimana disana beliau SAW bertemu dengan arwah Nabi Ibrahim as

5. Peristiwa diatas digambarkan langsung terjadi tanpa terlebih dahulu mampir di baitul maqdis

6. Nabi mendapat perintah shalat 50 kali dari Alalh

7. Nabi langsung mengajukan dispensasi untuk menurunkan jumlah tersebut kepada Allah (tanpa terlebih dahulu bertemu dengan arwah Nabi Musa as)

8. Allah langsung menurunkan beban dari 50 kali menjadi 1/2 nya (jadi 50 dibagi 2 adalah 25 kali shalat )

9. Nabi turun kelangit berikutnya dan baru bertemu arwah Nabi Musa

10. Arwah Musa meminta kepada Nabi Muhammad agar kembali menghadap Allah untuk meminta dispensasi kembali

11. Nabi kembali menghadap Allah dan mendapat dispensasi ulang sebesar 1/2 dari jumlah keringanan sebelumnya ( 25 dibagi 2 adalah 12.5 kali shalat )

12. Nabi turun kelangit berikutnya dan bertemu lagi dengan arwah Nabi Musa

13. Arwah Nabi Musa meminta kepada Nabi Muhammad agar kembali menghadap Allah untuk meminta dispensasi kembali

14. Nabi kembali menghadap Allah dan mendapat dispensasi ulang sehingga jadi 5 kali shalat dalam sehari semalam

Dari hadis Anas bin Malik melalui jalur Qatadah dari Ibnu Sha’sha’ah, yaitu :

1. Saat itu Nabi Muhammad SAW sedang berada di :

1.1. Samping rumah (tidak dijelaskan rumah siapa)

1.2. Samping Ka’bah (redaksional yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal)

1.3. Reruntuhan bangunan (redaksional yang juga diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal)

1.4. Diatas bongkahan batu sambil berbaring (berdasar redaksional riwayat Bukhari dan Ahmad bin Hambal juga)

2. Ada 3 orang malaikat mendatangi Nabi SAW

3. Malaikat Jibril turun lalu membedah dada Nabi SAW dan mencucinya dengan air zam-zam

4. Nabi naik Buraq kebaitul Maqdis

5. Nabi shalat dengan arwah para Nabi dan menjadi imam mereka

6. Nabi naik kelangit

7. Dilangit Nabi berkenalan dengan arwah para Nabi (padahal sebelumnya diceritakan mereka masih ada di Baitul Maqdis)

8. Sampai dilangit ke-6 Nabi bertemu arwah Nabi Musa

9. Saat bertemu dengan beliau, arwah Nabi Musa malah menangis

10. Dilangit Nabi SAW pergi kebaitul maqmur

11. Bertemu dengan arwah Nabi Ibrahim as dan Nabi SAW diberi dua pilihan air minum

12. Yaitu Arak dan susu plus madu

13. Nabi memilih susu

14. Nabi naik lagi ke Sidratul Muntaha

15. Disana ada 4 sungai, 2 sungai didalam surga dan 2 sungai lainnya adalah sungat Eufrat dan Nil

16. Nabi mendapat perintah shalat 50 kali

17. Nabi turun kelangit berikutnya dan bertemu arwah Nabi Musa

18. Arwah Musa meminta kepada Nabi Muhammad agar kembali menghadap Allah untuk meminta dispensasi kembali

19. Allah lalu menurunkan beban dari 50 kali menjadi 40 kali

20. Nabi turun lagi kelangit berikutnya dan bertemu lagi dengan arwah Nabi Musa

21. Arwah Musa meminta kepada Nabi Muhammad agar kembali menghadap Allah untuk meminta dispensasi kembali

22. Nabi kembali menghadap Allah dan mendapat dispensasi ulang sebesar 30 kali

23. Nabi turun lagi kelangit berikutnya dan bertemu lagi dengan arwah Nabi Musa

24. Arwah Musa meminta kepada Nabi Muhammad agar kembali menghadap Allah untuk meminta dispensasi kembali

25. Nabi kembali menghadap Allah dan mendapat dispensasi ulang sebesar 20 kali

26. Terus berulang sampai akhirnya diturunkan menjadi 5 kali shalat

27. Ketika Arwah Musa meminta kepada Nabi Muhammad agar kembali menghadap Allah untuk meminta dispensasi kembali …

28. Ada seseorang memanggil Nabi dan berseru bahwa dispensasi yang diberikan sudah final

Dari hadis Anas bin Malik melalui jalur Hammad bin salamah dari Tsabit Al-banani, yaitu :

1. Nabi Muhammad SAW diberi Buraq lalu kebaitul Maqdis

2. Disana Nabi SAW shalat bersama para arwah nabi yang lain dan jadi imam shalat mereka

3. Malaikat Jibril memberi Nabi dua pilihan air minum, susu dan arak

4. Nabi memilih susu

5. Nabi lalu pergi kelangit

6. Kembali bertemu dengan arwah para Nabi disetiap lapisan langit ( padahal sebelumnya diceritakan mereka masih ada di Baitul Maqdis )

7. Nabi kesidratul Muntaha

8. Allah mewajibkan 50 kali shalat

9. Nabi turun kelangit berikutnya dan bertemu dengan arwah Nabi Musa

10. Arwah Musa meminta kepada Nabi Muhammad agar kembali menghadap Allah untuk meminta dispensasi kembali

11. Nabi kembali menghadap Allah dan mendapat dispensasi, yaitu dikurangi 5 kali dari total jumlah sebelumnya ( jadi 50 – 5 = 45 kali )

12. Kejadian ini terus berulang dan dispensasi dari Allah turun per-5 kali dari jumlah-jumlah sebelumnya ( dari 45 jadi 40, dari 40 jadi 35 dst )

26. Akhirnya diturunkan menjadi 5 kali shalat

Dari hadis Anas bin Malik melalui jalur Syarik bin Abu Namr, yaitu :

1. Nabi Muhammad SAW ada di Ka’bah

2. Datang 3 orang malaikat kepada Nabi

3. Malaikat Jibril membelah dada Nabi dan dicuci dengan air zamzam

4. Nabi SAW naik Buraq menuju kebaitul maqdis

5. Disana Nabi SAW shalat bersama para arwah nabi yang lain dan jadi imam shalat mereka

6. Nabi naik kelangit

7. Kembali bertemu dengan arwah para Nabi disetiap lapisan langit

8. Diberi perintah shalat 50 kali

9. Nabi turun kelangit berikutnya dan bertemu dengan arwah Nabi Musa

10. Arwah Musa meminta kepada Nabi Muhammad agar kembali menghadap Allah untuk meminta dispensasi kembali

11. Nabi kembali menghadap Allah dan mendapat dispensasi, yaitu dikurangi 10 kali dari total jumlah sebelumnya ( jadi 50 – 10 = 40 kali )

12. Kejadian ini terus berulang dan dispensasi dari Allah turun per-10 kali dari jumlah-jumlah sebelumnya ( dari 40 jadi 30, dari 30 jadi 20 dst )

13. Akhirnya diturunkan menjadi 5 kali shalat

14. Nabi lalu turun kedunia

15. Nabi terbangun dan berada di Masjidil Haram

Dari perbandingan antar riwayat Abu Hurairah melalui sanad Abu Salamah dengan riwayat Abu Hurairah melalui sanad Said bin Al-musayyab juga dengan semua riwayat lain menimbulkan kritik sebagai berikut :

1. Mana yang benar : arwah para Nabi sedang shalat atau tidak ? Berdasar riwayat Al-Musayyab mereka tidak melakukan shalat.

2. Jika jawabannya adalah “Ya”, bagaimana dengan kasus Nabi Ibrahim memberi Nabi dua wadah minuman dalam riwayat Abu Hurairah dari Al-Musayyab ?

3. Siapa yang jadi imam manusia : Muhammadkah atau Ibrahim as ?

Bukankah Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia” (QS. Al-Baqarah (2) : 124) ? Padahal semua Nabi adalah manusia juga (lihat QS. Ibrahim (14) : 11 ) maka ketentuan surah Al-Baqarah ayat 124 diatas tentu termasuk jemaah para Nabi tersebut.

4. Apakah Nabi mampir dulu ke Bait Al-Maqdis seperti mayoritas riwayat diatas ataukah tidak seperti riwayat Abu Hurairah melalui jalur Az-Zuhri dari Abu Dzar ?

5. Dimana tepatnya posisi Nabi saat awal pemberangkatan ?

5.1. Disamping rumah (tidak dijelaskan rumah siapa) ?

5.2. Disamping Ka’bah ?

5.3. Direruntuhan bangunan ?

5.4. Diatas bongkahan batu sambil berbaring ?

5.5. Didalam rumah beliau di Mekkah ?

6. Benarkah Allah bersikap plin-plan dengan ketetapan-Nya sendiri dan seorang arwah Nabi Musa terkesan lebih mengetahui akan sesuatu yang belum terjadi daripada Allah dan Nabi Muhammad SAW yang notabene disatu sisi sebagai Al-Khaliq yang Maha mengetahui segala sesuatunya dan disisi lain adalah seorang Nabi yang harusnya lebih tahu kondisi umatnya ketimbang seorang Nabi yang sudah wafat ratusan tahun dari masanya ?

Bukankah Allah berfirman : Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya dan Dia-lah yang Maha cepat hisab-Nya. (QS. AR-Ra’d (13) : 41)

Tidaklah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan. (QS. Al-Baqarah (2) :77)

Disini kita bisa mengambil persamaan contoh kasus dalam hal kebolehan melakukan hubungan suami istri dibulan Ramadhan (lihat QS. Al-Baqarah (2) : 187), secara jelas disebutkan betapa sesungguhnya Allah itu mengetahui akan kelemahan makhluk-Nya:

Allah mengetahui bahwasannya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu … (QS. Al-Baqarah (2) : 187)

7. Berapa tepatnya jumlah pengurangan Shalat dari 50 kali itu ?

7.1. Dari 50 kali langsung menjadi 1/2 nya seperti riwayat Anas bin Malik melalui jalur Az-Zuhri dari Abu Dzar ?

7.2. Dari 50 kali bertahap menjadi 40 kali (berkurang per-10 kali) seperti riwayat Anas bin Malik melalui jalur Qatadah dari Ibnu Sha’sha’ah ?

7.3. Dari 50 kali bertahap menjadi 45 kali (berkurang per-5 kali) seperti riwayat Anas bin Malik melalui jalur Hammad bin salamah dari Tsabit Al-banani ?

8. Bagaimana proses awal pengurangan jumlah Shalat tersebut ?

8.1. Nabi langsung meminta dispensasi tanpa bertemu dulu dengan arwah Nabi Musa ?
8.2. Nabi terlebih dahulu bertemu dengan arwah Nabi Musa baru meminta dispensasi ?

9. Apakah Nabi berjalan menggunakan Buraq ataukah langsung ?

10. Siapa yang memberi Nabi pilihan air minum : Malaikat Jibril ataukah arwah Nabi Ibrahim ?

11. Disebutkan sebelumnya Nabi shalat mengimami para arwah Nabi sebelumnya dibumi (di Baitul Maqdis), lalu ketika Nabi naik kelangit disebutkan bahwa Nabi sudah bertemu dengan mereka disetiap lapisan langit. Bagaimana dan kapan proses mereka naik kelangit dan langsung siap diposisinya masing-masing (setiap lapisan langit) padahal sebelumnya mereka baru saja shalat bersama Nabi sementara Nabi Muhammad sendiri baru saja naik bersama Jibril kelangit tahap demi tahap ? Padahal jarak antar langit cukup jauh dan perjalanan para ruh dari bumi menuju langit memakan waktu yang lama ?

Bukankah Allah berfirman : Naik malaikat-malaikat dan ruh-ruh kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun (QS. Al-Maarij (70) : 4) ?

Perbedaan waktu yang disebut dalam ayat diatas dinyatakan dengan angka satu hari malaikat dan ruh berbanding 50.000 tahun waktu bumi, perbedaan ini tidak ubahnya dengan perbedaan waktu bumi dan waktu elektron, dimana satu detik bumi sama dengan 1.000 juta tahun elektron atau 1 tahun Bima Sakti sama dengan 225 juta tahun waktu sistem solar. Jadi bila malaikat berangkat jam 18:00 dan kembali pada jam 06.00 pagi waktu malaikat, maka menurut perhitungan waktu dibumi sehari malaikat sama dengan 50.000 tahun waktu bumi. Dan untuk jarak radius alam semesta hingga sampai ke Muntaha dan melewati angkasa raya yang disebut sebagai ‘Arsy Ilahi, 10 Milyar tahun cahaya diperlukan waktu kurang lebih 548 tahun waktu malaikat. Bagaimana menjelaskan poin 11 diatas ?

12. Disaat awal Nabi berangkat : apakah beliau terjaga ataukah tertidur ?

Dari dua belas pertanyaan yang kita kemukakan berdasarkan hasil perbandingan silang hadis-hadis shahih yang dirangkum oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani dalam kitab shahihnya, maka jelas dibutuhkan penjelasan yang kongkret dan memuaskan. Bahwa kemudian pertanyaan-pertanyaan ini dikembalikan lagi pada doktrin “Iman” maka ini akhirnya hanya sebuah pelarian dari ketidak berdayaan kita dalam mengkritisi dan menyikapi riwayat-riwayat yang saling berlawanan dalam dogma keyakinan kita. Fakta bahwa kita terlalu sering bersikap fanatik secara berlebihan dalam berkeyakinan sehingga mengalahkan keobyektifitasan dan analisa kita secara jujur. Bila ada yang mendebat hadis apalagi yang diperdebatkan hadis itu merupakan riwayat dari Imam Bukhari dan Imam Muslim maka mulailah kita sibuk untuk balik menyerang orang yang mengkritisi tersebut dengan sejumlah argumentasi yang pada hakekatnya malah tidak menyambung dengan apa yang dilontarkan oleh orang tersebut sebelumnya. Kita justru menerima sebuah pesan atau kritikan dari orang lain lebih banyak bukan untuk dipahami ataupun dianalisa namun justru untuk ditanggapi. Apa yang disampaikan oleh orang lain khususnya bila berhubungan dengan keyakinan kita maka kitapun cenderung mengartikannya sebagai bentuk serangan bukan menyikapinya sebagai sebuah masukan yang membangun ataupun memperbaiki diri. Kita sepakat bila firman Allah tidak mungkin salah atau saling kontradiksi, namun bagaimana dengan hadis ? bagaimana dengan hadis-hadis hasil periwayatan shahih para Imam seperti Bukhari, Muslim atau Ahmad bin Hambal ?

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. An-Nisa (4) :82)


Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH

Advertisements

Kritik Hadis Israk dan Mikraj Bag. 1

Kritik Hadis Israk dan Mikraj

Bagian 1
Oleh : Armansyah
Penulis Buku “Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih”,
Jejak Nabi “Palsu” dan Ramalan Imam Mahdi

>> Boleh Copy Paste u/. non komersil dengan tetap mencantumkan sumber <<

Syaikh Nashiruddin Al Al-Albani “Israk Mikraj : Kumpulan Hadits dan Takhrijnya” Terj. M. Romlie Shofwan el Farinjani, Penerbit Pustaka Azzam, 2004 telah menuliskan sejumlah tujuh belas orang perawi hadis mengenai kejadian tersebut dari berbagai sumbernya. Sebut saja mulai dari Abu Hurairah, Anas bin Malik, Ubay bin Ka’ab, Buraidah bin Hushaib Al-aslami sampai dengan riwayat Abi Ayyub Al-anshari dan Abu Dzar, lengkap dengan berbagai versi mereka masing-masing. Letak permasalahan bagi kita adalah tidak semua hadis-hadis ini ternyata memiliki isi cerita yang persis sama antara satu dengan yang lain, ada beberapa yang memiliki kemiripan dari jalan ceritanya namun tetap saja mempunyai banyak perbedaan dan bahkan tidak jarang saling memiliki kontroversi atau pertentangan.

Saya memilih untuk mengambil dan mengkritisi kumpulan hadis Israk dan Mikraj karya Syaikh Nashiruddin Al-Albani ini tidak lain karena beliau termasuk orang yang fakih dibidang hadis dan merupakan tokoh ternama dalam dunia Islam yang karya-karyanya sering menjadi rujukan banyak ulama maupun cendikiawan muslim diseluruh dunia dari berbagai lapisan dan madzhab.

Dengan demikian kiranya cukup jelas dan beralasan bagi rekan-rekan semua kenapa saya memilih karya beliau dalam studi kita kali ini.Saya pikir, saya cukup obyektif melakukannya.

Saya pribadi tidak meragukan sama sekali apabila Rasulullah benar-benar pernah diperjalankan pada suatu malam dari suatu tempat dimasjid Al-Haram menuju kemasjid Al-Aqsha, adapun kemudian yang menarik untuk dibahas salah satunya pada bab ini sekaligus membuatnya berbeda dengan karya-karya lain yang pernah ada tidak lain dari pendalaman yang dilakukan terhadap berbagai cerita Israk dan Mikraj yang bisa dijumpai didalam hadis-hadis shahih. Bagi penulis pribadi, keberadaan dan peranan hadis didalam Islam bukan menjadi sesuatu hal yang perlu diperselisihkan, hadis ataupun lebih tepatnya lagi as-Sunnah, lebih banyak merupakan contoh penerapan Al-Qur’an yang dilakukan oleh Nabi sepanjang hidupnya. Tetapi, terlalu banyak variasi dalam teks-teks sejumlah hadis yang disebut-sebut shahih dan mutawatir bahkan kadangkala isinya pun saling berseberangan membuat penulis memilih untuk bersikap lebih berhati-hati dalam memahami dan menerimanya sebagai sebuah kebenaran yang mutlak. Kalaupun sanad hadisnya shahih berdasar kriteria ilmu-ilmu hadis, maka penulis akan mengembalikan lagi pada metode penerimaan hadis dari istri Nabi yaitu ‘Aisyah binti Abu Bakar Radhiallahu ‘anha saat disampaikan kepadanya hadis Umar bin Khatab sewaktu sang Khalifah ditikam dari belakang dan mendekati kematiannya, saat itu Hafshah putrinya yang juga salah seorang dari istri Nabi menangisi kejadian tersebut, diikuti pula oleh seorang sahabat bernama Shuhaib yang merawat luka-lukanya, melihat keduanya menangisi dirinya, Umar membentak mereka seraya mengemukakan suatu hadis Nabi bahwa orang yang ditangisi kematiannya akan memperoleh siksa Allah. Tatkala berita ini disampaikan kepada ‘Aisyah, beliau malah menolak hadis yang diriwayatkan oleh Umar tersebut dengan merujuk pada surah Al-an’am ayat 164 bahwa seseorang tidak akan bisa menanggung dosa orang lain. Penolakan istri Nabi SAW tersebut disampaikan dengan menyifati Umar sebagai orang yang baik dan benar tetapi dia telah salah dengar. Penulis rasa metode yang diajarkan oleh Ummul Mu’minin ‘Aisyah binti Abu Bakar Radhiallahu ‘anha dapat kita sepakati tanpa perselisihan apapun.

Bila pada masa-masa awwalun saja sudah terdapat perbedaan dan kehati-hatian dalam penerimaan sebuah hadis, apalagi kiranya dijaman kita sekarang ini. Penulis sangat berharap kepada para pembaca untuk dapat membedakan antara menolak ataupun mempertanyakan validasi satu atau sejumlah hadis dengan menolak ucapan Rasul dan bahkan menolak validasi dari Rasul itu sendiri. Hal ini penting untuk dikemukakan dari awal sehingga tidak terjadi salah komunikasi ataupun menjadikan penyimpangan persepsi dari tulisan yang ada dibuku ini.

Adanya kisah penolakan orang-orang kafir Mekkah kepada Nabi manakala beliau menyampaikan peristiwa Israk dan Mikrajnya menjadi tidak tepat dijadikan persamaan dengan orang yang menolak pemberitaan hadis-hadis mengenainya. Bagaimana tidak, saat orang-orang itu melakukan penolakan, mereka benar-benar berhadapan dengan sosok Nabi yang menjadi orang pertama dan pelaku dari peristiwa tersebut, yang implikasinya bagi umat Islam, semua ucapan dari beliau SAW tidak mungkin dusta dan keliru. Sedang hadis yang sampai ditangan kita pada hari ini, adalah hasil penceritaan ulang dari masa kemasa yang tercatat dalam banyak perbedaan narasi sebagaimana yang akan kita buktikan pada bagian ketiga dari buku ini. Apakah benar kisah seputar Israk dan Mikraj itu berbeda-beda sebagaimana yang ada disekian banyak hadis itu ? Benarkah semua cerita yang sampai ketangan kita hari ini tentang hal tersebut benar-benar sebagaimana dahulu Rasul menceritakannya ? kalau memang benar, kenapa bisa berbeda ? atau kenapa bisa saling berkontradiksi ? apakah lalu Rasul berdusta ? apakah Rasul plin-plan dalam bercerita ?

Satu-satunya asumsi yang bisa ditarik adalah, Rasul tidak mungkin berdusta, cerita-cerita itulah yang sudah terintervensikan oleh tangan kedua dan ketiga atau pihak lainnya yang kadang masih melekatkan nama besar sejumlah sahabat atau perawi yang ternama untuk menguatkan penambahan maupun pengurangannya. Apa yang terjadi dalam sejarah ajaran Nabi ‘Isa Al-Masih seharusnya ditadabburi oleh umat Islam dengan cermat, bagaimana sebuah ajaran langit yang lurus dan bersih akhirnya bisa berbalik menjadi ajaran-ajaran yang seolah saling bertabrakan dengan nilai-nilai kebenaran dan penuh dengan ritual paganisme atau pemberhalaan.

Kenapa umat Islam tidak mau belajar dari sejarah kerancuan-kerancuan yang ada dalam kitab-kitab Perjanjian Baru untuk hadis-hadis Nabi Muhammad SAW ? kenapa kita seolah merasa segan melancarkan kritik teks terhadap hadis apabila sudah disebutkan perawinya bernama Imam Bukhari atau perawinya bernama Imam Muslim, atau juga memiliki sanad dari Abu Hurairah, dari Ibnu Mas’ud, dari Ibnu Abbas, dari ‘Ibnu Umar dan lain sebagainya ?  Bukankah kita selaku umat Islam sudah terbiasa dengan tegas menyatakan kritik terhadap otentisitas kitab Bible yang diyakini oleh umat Kristiani meskipun dikatakan perawinya dari Paulus, dari Petrus dan dari Yohannes ?

Kita sudah sering tidak jujur pada diri kita sendiri, cerita-cerita hadis seputar Israk dan Miraj hanyalah satu dari sekian banyak hadis-hadis yang sebenarnya masih sangat terbuka untuk dikritisi redaksinya, sebab kita tidak pula mungkin menerima semua cerita yang berbeda-beda itu dengan alasan iman, kita butuh hujjah yang kuat untuk bisa memilih satu diantaranya (dan memang hanya bisa satu, tidak lebih, sebab tidak mungkin semuanya benar -kecuali bila semua riwayat itu tidak ada perbedaan).

Penolakan atas keabsahan hadis-hadis tersebut tidak dapat langsung dihakimi sebagai kaum yang anti hadis atau ingkar sunnah, sebab membantah atau menolak sejumlah riwayat hadis tidak bisa dengan serta merta diasumsikan bahwa seseorang telah menolak perkataan Muhammad Rasulullah. Kita sekarang ini sebagaimana yang telah disinggung, mendapatkan hadis-hadis mengenai Israk dan Mikraj dalam puluhan versi narasi yang terkadang setiap versi yang berbeda itu diriwayatkan oleh orang yang sama, padahal tidak mungkin satu cerita punya begitu banyak perbedaan. Berbeda kasusnya dengan orang-orang dimasa lalu yang mendapatkan hadis itu langsung dari mulut Nabi SAW sendiri yang notabene pasti hanya ada satu versi dan nilai validitasnyapun pasti.

Dari Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abu Thalib, cucu Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam dan kesayangan beliau radhiallohu ‘anhuma, dia berkata: “Aku telah hafal (sabda) dari Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam: “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i) -Tirmidzi berkata: Ini adalah Hadis Hasan Shahih

Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmidzi dan lainnya dengan status Hadis adalah hasan)

Dan jangan kamu mengikuti apa yang kamu tidak tahu mengenainya. Sungguh pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Israa (17) : 36)

Bersambung …


Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH

Statistik Blog ini Terbaru

Melihat begitu besarnya minat pembaca terhadap tanggapan saya untuk buku “Ramalan Paling Mengguncangkan Abad ini, Oktober 2015 Imam Mahdi Akan Datang” yang ditulis oleh Jaber Bolushi terbitan Papyrus Publishing 2007.

Per-31 Juli 2008, pukul 11:35 WIB, tercatat sudah 2.605 pembaca yang mengaksesnya.

Statistik Terbaru Blog Ini

Statistik Terbaru Blog Ini

(link : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2007/12/17/bedah-buku-jaber-bolushi-2015-imam-mahdi-akan-datang/)

Maka pada tahun 2008, Armansyah bekerjasama dengan Penerbit Serambi Ilmu Semesta (www.serambi.co.id) akan segera merilis buku “Dibalik Isu Datangnya Imam Mahdi”

Nantikan penerbitannya …

Lihat promonya di https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/05/05/segera-terbit-dibalik-isu-datangnya-imam-mahdi/

Baca juga informasi lain di : https://arsiparmansyah.wordpress.com/baca-ini/

Dialog Islam-Kristen : Pengalaman Rohani dan Empirik


Apa yang akan anda baca berikut ini adalah cuplikan salah satu dialog lintas iman yang terjadi antara saya (Armansyah) sebagai seorang Muslim dan Sdr. Rizal Lingga (email : nyomet123@yahoo.com) dari Kristiani.

Kami sudah banyak berbincang-bincang lintas iman di Milis_Iqra@googlegroups.com selama bertahun-tahun dan inipun termasuk salah satu lanjutannya.

Selamat membaca …. salam hangat dari Palembang.

———- Forwarded message ———-
From: rizal lingga

Date: 2008/7/30
Subject: [Milis_Iqra] Re: Analisa Doktrin Penebusan Dosa
To: Milis_Iqra@googlegroups.com

2008/7/30 rizal lingga

[Lingga] Saya berusaha menjawab anda sebisa waktu saya. Dan sekarang saya kembali lagi ke email paling lama yang belum dibalas.

[Arman] : Be my pleasure, happy to read it. I’m Proud of you my friend.

[Arman sebelumnya]

Jika memang masih ada yang mau ditanggapi, silahkan …
Saya sudah membuat tulisan dalam “versi web” dari konsep penyaliban Nabi Isa tersebut yang bisa anda baca disini :

https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/06/24/misteri-penyaliban-nabi-isa/ atau disini http://armansyah.swaramuslim.com/more.php?id=33_0_1_0_M

Anda boleh memberi komentar dimilis ini atau juga dikedua blog saya tersebut diatas.

[Lingga] : Komentar yang berat mungkin belum lagi sekarang. Dan akan saya coba lihat blog anda di waktu lain.

[Arman] : That’s fine, BTW Thanks for concerned.


[Arman sebelumnya] : Dalam beragama, saya membebaskan diri dari ikatan ortodok/klasik/salafi, modern, liberal dan sebagainya. Saya hanya seorang muslim yang senang membaca, berpikir dan menulis serta mengaplikasikannya dengan apa yang bisa saya lakukan.

Agama itu teori dan praktek, doktrin sendiri masuk dalam teori.
Adalah sesuatu hal yang saya rasa terlalu berlebihan dari ucapan anda bahwa doktrin tidak punya arti praktis. Sebab dengan pernyataan itu, anda seolah menafikan eksistensi kitab suci anda sendiri yang sarat dengan doktrin atau pelajaran tertulis mengenai iman, sejarah dan banyak hal lainnya. Bukankah ada satu ayat dalam kitab anda yang menyatakan setiap yang ditulis memiliki arti ? Bahkan orang yang menambah dan mengurangi tulisan-tulisan atau doktrin disana dicela ? Saya anggap anda hapal ayatnya.

Bagaimana menurut anda ?

[Lingga]

Sebenarnya Arman, tidak ada dari kita yang bisa lepas dari doktrin yang ada dan aliran2 yang ada. Karena pada awalnya kita belajar dari dan melalui mereka juga. Namun dalam perjalanan waktu anda dan saya menemukan bahwa aliran2 yang ada lebih sibuk dalam saling menyerang dan menyalahkan satu sama lain.
Ketika kita mencari hakikat yang sejati didalam kepercayaan kita, semua aliran itu mengklaim bahwa dialah yang paling benar. Jadi mana yang benar?

Ketika mencari mana yang benar, saya akhirnya lebih berpegang kepada ajaran dasar yang ada di kitab suci dan melihat kepada pengalaman hidup saya yang nyata. Jika ajaran itu ada relevansinya pada pengalaman nyata saya, dan tidak bertentangan dengan hati nurani saya, dan memberikan kekuatan kepada iman saya, maka ajaran itulah yang saya pegang teguh.

[Arman] : Saat saya mengatakan bahwa agama itu teori dan praktek maka itu artinya kedua hal tersebut saling berhubungan dan tidak bisa dipisahkan. Bisa jadi suatu praktek itu salah tapi teorinya benar dan dilain waktu praktek benar tetapi tidak sesuai teori atau juga praktek salah karena teori juga salah.

Kitab suci dalam hal ini saya sebut sebagai teori, dan dari kitab suci inilah maka muncul praktek dilapangan yang menimbulkan dinamisisasi atau stagnanisasi. Tetapi bila kita sejenak mundur sedikit kebelakang, maka saya berpikiran tidak salah untuk mempelajari kebenaran dari teori yang disampaikan oleh kitab suci itu sendiri. Sebab bukan tidak mungkin apa yang kita yakini sebagai kitab suci ternyata tidaklah benar-benar suci. Dalam artian bahwa apa yang kita sangka sebagai kumpulan dari wahyu-wahyu, ilham-ilham dari yang maha kuasa ternyata tidak lebih dari penggalan catatan-catatan manusia biasa yang “cacat” dan penuh distorsi. Olehnya maka tidaklah tepat untuk membenarkan teori A dengan teori A itu sendiri.


[Lingga]

Karena di alkitab hanya ada menyebut satu nama bagi pengikut Yesus Kristus yaitu Kristen, maka itulah saya: Kristen.

[Arman] : Apakah sebutan ini berasal dari yesus sendiri ? bisa bantu saya dikitab apa, pasal berapa dan ayat berapa ? Jika tidak, apa dasarnya ? kenapa ?


[Lingga]

Namun secara faktual saya terdaftar di denominasi gereja protestan, dan saya percaya juga dengan ajaran dasar dari Martin Luther dan Yohanes Calvin.
Mengapa saya katakan ajaran dasar karena banyak tulisan2 mereka yang berbau abad 15 tidak dapat saya terima.


[Arman] : Lingga, saya tidak akan mendebat dari gereja mana anda berasal. Bagi saya dialog yang kita bangun ini adalah sebuah dialog lintas peradaban dan lintas sekatan. Karena untuk sampai pada titik kebenaran tertinggi kita memang tidak dapat berada dalam lingkungan sekatan apapun dari keyakinan yang kita percayai. Olehnya maka terus terang saya merasa bahagia bila menyebut diri saya sebagai seorang Muslim. Saya bersyukur istilah Muslim ini tidak mengisyaratkan kesektean atau komunitas tertentu sebab Muslim adalah orang yang berserah diri secara total kepada Allah. Entah kenapa banyak orang justru merasa nyaman jika ia disebut dan dikenal sebagai komunitas Salafi, sunni, syiah, ahmadiyah dan sebagainya ketimbang ia hanya dikenal sebagai seorang Muslim saja. Padahal kitab suci Al-Qur’an justru mewajibkan penggunaan istilah Muslim dan bukan yang lain.

[Lingga]

Apakah ajaran dasar mereka? Bahwa manusia itu diselamatkan hanya oleh anugerah Yesus Kristus yang mati diatas salib untuk menebus dosa manusia, dan yang percaya kepadaNya akan diselamatkan.

[Arman] : Kapan yesus berkata seperti kalimat anda diatas ? bisa bantu perlihatkan kepada saya dikitab apa, pasal berapa dan ayat mana ?

[Lingga] :
Itulah ajaran dasar Luther dan Calvin yang saya terima.


[Arman] : Apakah ini berarti bahwa anda tidak mengikuti ajaran yesus secara langsung namun mengikuti apa yang diajarkan oleh Luther dan Calvin tentang ajaran yesus ? kenapa ?

[Lingga] :

Seperti itulah keyakinan saya setelah melalui waktu dan bentrokan pemikiran2 dengan banyak aliran2.
Saya kira dalam hal ini, pada keyakinan kita masing2, nampaknya kita menempuh jalan yang hampir sama. apakah dalam mengatakan ini saya benar Armansyah?

[Arman] : Ya dan Tidak.
Ya dalam hal proses pencariannya, tetapi Tidak dalam hasil akhir dari proses tersebut.
Saya melepaskan diri dari semua bentuk madzhab dan sekatan internal yang dibentuk oleh manusia diluar Allah dan Rasul-Nya sementara anda sesuai tulisan yang anda tulis sendiri memilih apa yang telah diajarkan oleh Luther dan Calvin.

Sebagai konsekwensinya maka sayapun tidak akan menyalahkan orang lain atas apa yang saya yakini, dalam hal ini misalnya saya tidak akan mengkambinghitamkan syaikh anu, ulama anu, imam anu, habib anu atau kyai anu karena saya salah mengikuti mereka yang ternyata salah memberikan pengajarannya. Ini cukup gentle buat saya.

Apakah anda akan menisbatkan kesalahan dari keyakinan anda kepada Martin Luther dan Calvin apabila kelak suatu ketika anda sadar ajaran mereka itu salah ? –misalnya–

Arman sebelumnya :

Pengalaman dibentuk dari kepercayaan kita terhadap sesuatu. Sementara kepercayaan itu sendiri dibangun dari doktrin yang dianggap benar berdasar kajian-kajian komprehensif. Kadang kepercayaan itu dibangun atas satu dugaan atau asumsi-asumsi subyektif karena alasan yang abstrak.

[Lingga] :Benar katamu, banyak orang membangun imannya diatas dasar doktrin yang abstrak. Pada awalnya ajaran2 itu berasal dari persitiwa2 nyata, namun dalam perjalanan waktu banyak pengikut2 ajaran itu yang merasa diri “pandai” lantas membuat rumusan2 yang nampak megah namun abstrak. Semakin jauh seseorang dari ajaran dasar karena penambahan2 teologis yang semakin rumit namun semakin menjaring angin, semakin asinglah ajaran2 itu jika dipertemukan dengan pengalaman rohani yang nyata.


[Arman] : Pernahkah anda berpikir bahwa apa yang kita alami secara nyata kadang tidaklah benar-benar nyata ? sehingga dari sini maka pengalaman paling nyata sekalipun dapat menipu diri kita ?

Arman sebelumnya :

Oleh sebab itu maka banyak orang dari berbagai agama punya pengalaman berbeda, menyenangkan ataupun tidak mengenai apa yang mereka percayai. Orang Budha yang percaya dengan konsep Budhanya akan punya pengalaman moksa yang sedemikian rupanya, begitupula orang kristen dengan konsep kristusnya atau orang Islam dengan konsep Tauhidnya.

Seperti anda tahu, saya tidak pernah menjadikan pengalaman-pengalaman semacam ini sebagai sesuatu yang perlu dibesar-besarkan apalagi dihujjahkan sebagai suatu kebenaran atas apa yang kita yakini.

[Lingga] :
Apakah pengalaman seseorang SELALU BENAR? Mungkin bagi dirinya sendiri, tapi tidak selalu begitu bagi orang lain.

[Arman] : Karenanya maka membawa pengalaman nyata pribadi kepada orang lain untuk membuktikan kebenaran sesuatu tidaklah relevan dalam kacamata saya. Makanya saya tidak terlalu memprioritaskan semua laporan pengalaman nyata seseorang terhadap sesuatu hal dalam proses pencarian jati diri kebenaran. Hal tersebut relatif sifatnya dan sesuatu yang relatif tidak bisa dijadikan sandaran kebenaran.

[Lingga] :

Apakah yang menyebabkan Paulus dalam II Korintus 11: 24-27 bisa bertahan dari pengalaman2 yang begitu berat? (dilempari batu, tenggelam kapal, dirampok, mengalami bahaya di kota, di padang gurun, di tengah laut, bahkan bahaya dari saudara2 palsu?)
Hanya satu jawaban, karena dia memiliki pengalaman sejati dengan Yesus Kristus sendiri. Kisah para rasul 9:1-18.
Seseorang tanpa pengalaman nyata dengan Yesus Kristus takkan mungkin bisa bertahan terhadap tantangan dan pencobaan2 dunia ini yang begitu berat.

[Arman] : Darimana anda yakin Paulus tidak berbohong waktu itu ? Anda ikut menyaksikannya sendiri secara nyata dalam pengalaman hidup anda ?


[Lingga] : Sekalipun tidak se spektakuler pengalaman rasul Paulus, namun saya berani mengatakan telah mengalami perjumpaan rohani dengan Yesus Kristus dan TAHU bahwa dosa2ku SUDAH diampuni.

Inilah Arman, pengalaman kristiani saya.

[Arman] : Silahkan saja … itu adalah pengalaman anda dan terimakasih karena telah berbagi pengalaman. Tetapi seperti yang saya sampaikan, saya tidak memprioritaskan semua laporan pengalaman nyata seseorang terhadap sesuatu hal dalam proses pencarian jati diri kebenaran.

[Arman sebelumnya] :

Saya lebih memilih pendekatan secara empiris atau secara logika dalam beragama. Sebab ini cenderung lebih obyektif ketimbang menggunakan perasaan, pengalaman atau ikut-ikutan.

Lingga : Bagi saya pendekatan empiris dan logika itu adalah sangat penting. Anda lihat, tulisan2 saya disini selalu mengutamakan pendekatan logika dan akal sehat. Namun jika menunjuk kepada keyakinan rohani, maka bagi saya pendekatan empiris tidak lagi cukup. Saya memerlukan sesuatu yang jauh lebih kuat dari penjelasan empiris, dan itu hanya bisa didapan dari pengalaman rohani sejati. Namun pengalaman rohani ini harus berdasar kepada kitab suci.

Sebab tidak semua pengalaman2 rohani manusia sesuai dengan Alkitab. Yang tidak sesuai dengan Alkitab, maka pengalaman rohani sehebat apapun, harus ditolak.

Wassalam,

[Arman] : Entahlah Lingga, kadang saya melihat anda menjawab dengan argumen logika tetapi kadang saya juga melihat anda menjawab tidak dengannya. Disini kita berbeda jalan, bahwa anda tidak menerapkan pendekatan empiris dalam kehidupan beragama sementara saya tetap mempertahankan pendekatan tersebut untuk mencari jati diri kebenaran sejati.


Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH
https://arsiparmansyah.wordpress.com
http://armansyah.swaramuslim.com
http://dunia-it-armansyah.blogspot.com/

Indonesiaku, petaka bagi negeriku

Indonesiaku, petaka bagi negeriku
Oleh : Armansyah

Faathiru (al)ssamaawaati wa(a)l-ardhi ja’ala lakum min anfusikum azwaajan wamina (a)l-an’aami azwaajan yadzraukum fiihi laysa kamitslihi syay-un wahuwa (al)ssamii’u (a)lbashiir(u)

Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan untuk kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan begitupula dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan, dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu.Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Asy-Syuura [42] :11)

(al)ladzii khalaqa sab’a samaawaatin thibaaqan maa taraa fii khalqi (al)rrahmaani min tafaawutin fa(i)rji’i (a)lbashara hal taraa min futhuur(in)

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang (QS. Al-Mulk [67] :3)

Sejak awal Allah telah menciptakan segala kejadian yang ada termasuk penciptaan makhluk-makhluk-Nya dalam keadaan berpasang-pasangan. Semua itu dibentuk untuk menjaga keseimbangan sistem yang berlaku dalam tatanan ciptaan itu sendiri. Tidak terkecuali didalamnya adalah manusia yang diciptakan secara heterogen : laki dan perempuan (dzakar wa untsa).

Allah berfirman (al Hujurat: 13): “Wahai manusia, sungguh Kami telah meciptakan kamu dari seorang jenis lelaki dan wanita”.

Perhatikan pula (53:45): “Dan sungguh Dia yang menciptakan berpasang-pasangan, yaitu lelaki dan wanita”

Dari adanya kedua jenis kelamin pada manusia ini maka nantinya akan ada kecenderungan terhadap masing-masing lawan jenisnya yang pada akhirnya akan mengikat mereka dalam satu kesatuan hubungan yang dari sana mereka memiliki kemampuan untuk berketurunan dan melestarikan spesies manusia itu sendiri.

Melalui kitab al-Qur’an kita disuguhkan berbagai cerita tentang keinginan sejumlah manusia suci dalam pentas sejarah berbagai jaman yang sangat ingin mendapatkan keturunan, tercatatlah misalnya kisah Nabi Ibrahim dan istri beliau Sarah serta kisah dari Nabi Zakaria. Mereka mewakili contoh insan-insan normal yang berjalan diatas fitrah kemanusiawian mereka sebagaimana pembentukan awal dari Tuhan.

Tapi ternyata tidak semua manusia berjalan lurus diatas garis alamiahnya, ada sejumlah orang yang malah cenderung untuk mengingkarinya dan membuat penyimpangan-penyimpangan dari kausalitas yang telah berlaku. Indonesiaku merupakan contoh paling dekat dengan fenomena-fenomena ini.

Tidak terlalu jauh dari kota Palembang dimana aku berada, tepatnya didaerah Kasang Solok, Kecamatan Kumpe Ulu Kabupaten Muarojambi Propinsi Jambi ada seorang anak menggumuli ibu kandungnya hingga hamil dan bahkan melahirkan. Ironisnya pergumulan itu justru disyahkan oleh sang ibu kandung itu sendiri yang sudah menjanda belasan tahun dan dilakukan atas dasar suka sama suka.

Ketika kasus ini terbongkar, sang anak yang bernama Feriyanto sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda penyesalannya. Ia justru sempat mengatakan bahwa dia bingung harus memanggil apa kepada sang bayi yang lahir dari benih dirinya dan sang ibunda. Antara anak dan adik. (Lihat : Harian Sriwijaya Post edisi Senin, 28 Juli 2008 hal. 1)

Nun jauh dari pulau Sumatera, melompat kita ketanah Jawa tepatnya daerah Jombang-Jawa Timut ada seorang pemuda bernama keren “Very Idham Henyansyah” alias Ryan melakukan serangkaian pembunuhan berantai dengan angka korban diatas 10 jiwa. Tambahan lagi, orang satu ini terakhir kali diketahui sebagai seorang yang saleh dan rajin kemasjid sekaligus sebagai pelaku homoseksual atau menyukai hubungan sesama jenis.

Maha Suci Allah, aku memohon pertolongan kepada-Nya untuk semua keturunanku dari hal-hal keji semacam ini.

Menelusuri ayat-ayat al Qur’an dan hadits-hadits nabi, memberikan penjelasan pada kita bahwa apapun alasan yang dibuat oleh manusia saat ini tak akan ditolerir oleh ajaran Islam. Kisah kaum Luth yang pernah terjadi di daerah sekitar Jordan dan Palestina bernama “Saduum/Soddom” (nama perbuatan ini lebih dikenal dengan nama sodomI. Sementara itu, dalam bahasa Arabnya, hubungan sejenis ini lebih dikenal dengan lawath, yang diambil dari kata Luth) merupakan dalil terjelas yang mengharamkan hubungan sejenis ini. Bahkan menurut al-Qur’an, perbuatan seperti ini adalah perbuatan keji yang tertinggi, yang tak seorang manusia manapun pernah melakukannya (Innakum lata’tuuna al faahisyah maa sabaqakum bihaa min ahadin minal’aalamiin). Al-Qur’an juga menyatakan perbuatan itu dilakukan oleh komunitas yang kaanuu qawma saw-in faasiqiin(a) (jahat dan fasik).

Perbuatan hubungan sejenis, baik yang dilakukan oleh pria maupun oleh wanita, adalah perbuatan keji yang amat tercela. Sehingga Allah menegaskan, bahwa tak satu pun dari kalangan al’aalamiin (pada umumnya ulama menafsirkan seluruh makhluk Allah) yang pernah melakukannya. Artinya, babi-babi, kera-kera, anjing-anjing, tikus-tikus, hingga ulat-ulat dibalik tanah tak akan melakukan hal seperti ini, karena demikian memalukan. Tapi kenapa ada manusia yang melakukannya? Jawabannya, manusia telah berulah menjadikan diri mereka jauh lebih hina dari binatang itu sendiri.

Ketika Ibrahim memohon kepada malaikat yang akan mengazab kaum Luth agar ditunda karena Luth masih berada dikalangan mereka, malaikat menjawab (Hud: 76): “Ya Ibraahim, a’ridh ‘an haadza, innahu qad jaa amru rabbik ainnahum laatihim ‘azdaabun ghaeru marduud” (Oiy Ibrahim, biarke baelah gawe ini. Sungguh keputusan Tuhanmu telah datang dan sungguh mereka akan didatangi adzab yang tidak tertolak).

Sulit bagi kita untuk menutup mata, mendustai diri dari kenyataan, dan apalagi menyalahkan zaman atau alam sekitar. Menjamurnya penyaluran syahwat yang dilajur oleh dorongan biologis semata, syahdan bermunculanlah samen leven (living together, unmarried couples [konsep yang mempromosikan target nuclear family], homo seksualisme, lesbianisme, kumpul kebo), prostitusi (lokalisasi pelacuran), unwanted child (anak haram), single headed household (pola keluarga tunggal), single parent (single mother, single father), parentsless, penyakit kelamin (sipilis, raja singa, AIDS), hingga panti-panti asuhan anak terlantar dan sebatang kara sebagai akibat ulah kejahatan seksual, termasuk di antaranya adalah abortus provocatus
criminalis. Pergaulan bebas memang menjanjikan kepuasan yang tak kunjung tiba, akhirnya masing-masing pihak mencari cara kepuasan. Salah satunya adalah dengan mengganti jenis kelamin dengan harapan semoga kepuasan yang didambakan dapat terpenuhi.

Okelah jika yang mengganti kelamin ini termasuk kelompok Khuntsa alias hermaphrodit alias berkelamin ganda. Dalam kasus ini dia memang harus dan wajib untuk menghilangkan salah satunya berdasar tinjauan ilmu kedokteran modern dan hukum Islam yang berkaitan. Misalnya dia cenderung kepada sifat kewanitaan namun dia ternyata tidak punya komponen sebagaimana halnya wanita (seperti payudara untuk menyusui, rahim untuk tempat reproduksi) maka dia harus memilih menjadi laki-laki, kecuali bila kondisinya memang mendukung. Tetapi faktanya kejadian didunia kita sekarang justru orang berganti kelamin bukan atas dasar pertimbangan tersebut melainkan hanya mengikut nafsunya semata.

Ini semua salah satu akibat dari tidak tegasnya hukum diberlakukan.
Mulai dari korupsi, kolusi, perzinahan, pembunuhan, perkosaan, malpraktek, klaim kerasulan dan beragam tindak kriminal lain sebagainya.
Orang jadi tidak sungkan untuk maling duit negara, duit perusahaan, merekayasa laporan keuangan, berzinah terang-terangan, menggumuli lawan jenis dalam rumpun keluarga yang sama, melakukan pembunuhan dengan bermacam gayanya termasuk mutilasi, memperkosa dan seterusnya.

Coba kalau hukum dinegara ini jalan dengan tegas, maka untuk pelaku homo dan lesbi mestinya uqtulil faa’ila wal maf’uula, untuk koruptor potong tangan, untuk penzinah dia didera didepan banyak orang, untuk pembunuh maka dia mesti di Qishash. Saya yakin negeri ini InsyaAllah aman dan relatif berkurang pesat tingkat kejahatannya.

But, it is only a dream. A sweet dream that never come true.

Dalam Mu’jam Tabrani dan lainnya dari hadits yang disampaikan Said bin Zubair, dari Ibnu Abbas; ia berkata, bersabdalah Rasulullah saw, “Tiada suatu kaum itu mengurangi takaran, mengelabuhi timbangan kecuali Allah akan mencegah hujan kepada mereka. Dan tiada nampak perzinaan pada suatu bangsa kecuali akan timbul maut atas mereka. Tidak lahir pada suatu kaum perbuatan riba kecuali Allah akan mengangkat penguasa yang gila. Tiada muncul pembunuhan pada suatu bangsa kecuali Allah akan memberi kekuasaan kepada musuh-musuh mereka. Dan tiada timbul suatu perbuatan homoseksual kecuali akan timbul pada mereka kehinaan (kemusnahan). Dan tiada suatu bangsa meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, kecuali amal-amal mereka tidak akan terangkat dan doa-doa mereka tidak didengarkan” (HR.Tabrani).

Hadits di atas adalah prediksi Rasulullah saw, yang sekarang ini telah menjadi kenyataan. Kasus-kasus sosial yang diangkat Nabi seperti: mengurangi takaran, mengelabuhi timbangan, ‘melegal’-nya perzinahan, riba, pembunuhan, homoseksual, dan meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar. Kesemuanya merupakan kasus yang dapat melahirkan patologi sosial yang berakhir dengan sebuah musibah atau bencana. Akankah Indonesia ini akan selalu dan selalu ditimpa bencana karena kitanya sudah terlalu dan selalu pula sering melakukan penyimpangan ?

So, khususnya dalam kasus waria.
Mari kucilkan mereka, jangan beri tempat pada mereka untuk membaur dengan komunitas normal. Jangan bersikap masa bodoh. Sebab komunitas ini lama kelamaan akan merasa mendapat tempat dan diterima oleh masyarakat. Pada waktunya akan disyahkan perkawinan sejenis dan bla-bla lainnya.

Kita bersyukur KPK memiliki gigi yang lumayan tajam dalam hal pemberantasan korupsi, tapi kapan kita akan punya kpk dalam hal perzinahan, pembunuhan, homoseksual, lesbian atau pelaku pengaku rasul baru ?

Haruskah anak cucu kita ikut menjadi korban kebancian, pembunuhan, mutilasi, keperdayaan kesesatan ?


Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH
https://arsiparmansyah.wordpress.com
http://armansyah.swaramuslim.com
http://dunia-it-armansyah.blogspot.com/

Kritik Hadis Israk dan Mikraj Bag. 2

Kritik Hadis Israk dan Mikraj

Bagian 2
Oleh : Armansyah
Penulis Buku “Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih”,
Jejak Nabi “Palsu” dan Ramalan Imam Mahdi

>> Boleh Copy Paste u/. non komersil dengan tetap mencantumkan sumber <<

Pembaca diharapkan ikut membacanya secara perlahan dan dengan seksama sehingga pada akhir pembahasan bisa menentukan sejauh mana akurasi bahasan yang saya buat ini sehingga tidak menimbulkan fitnah kepada saya pribadi.

Tulisan kali ini memang panjang, namun bila hanya karena panjangnya hadis-hadis ini membuat anda tidak mau membacanya maka anda tidak akan bisa mengikuti bahasan selanjutnya. Bayangkan saja semua hadis dibawah ini saya ketik sendiri semalaman maka anda yang tinggal membacanya saja malas apalagi untuk meneruskan bahasannya 🙂

Let us see

Hadis Abu Hurairah dari Al-Musayyab

Dari Said bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah, ia berkata : Nabi SAW bersabda : “Pada malam dimana aku mengadakan penjalanan Israk, aku bertemu dengan Nabi Musa as -sambil menyifati (menyebutkan ciri-ciri Nabi Musa)- bahwa beliau adalah orang yang kurus dan berambut lurus, (tinggi) seperti orang yang berasal dari kaum Syanu’ah”. Rasulullah bersabda : “Kemudian aku bertemu dengan Nabi ‘Isa as –sambil menyifati (menyebutkan ciri-ciri Nabi ‘Isa)- bahwa beliau adalah orang yang berbadan tinggi, bertubuh sedang dan berkulit merah. Sepertinya beliau baru saja keluar dari kamar mandi.” Rasulullah bersabda : “Setelah itu aku berjumpa dengan Nabi Ibrahim as, sedangkan menurutku, aku adalah orang yang paling serupa dengan beliau diantara anak-anak keturunannya. Kemudian Nabi Ibrahim membawakan dua buah tempat menuman (wadah) kepadaku. Satu diantaranya berisi akir susu, dan yang satunya lagi berisi arak (Khamr). Jibril berkata kepadaku, “Ambil dan minumlah salah satu dari kedua minuman ini yang engkau sukai!”, lalu aku mengambil air susu dan meminumnya. Kemudian dia berkata, “Engkau telah mengambil apa yang menjadi fitrah. Ingat, sungguh seandainya engkau mengambil arak (Khamr), niscaya umatmu akan tersesat semua.” (HR. Bukhari dalam Shahih 3394, 3437, 4709, 5576 dan 5603, Imam Muslim dalam Shahih 272, Imam Ahmad dalam kitab Sunan Jilid 2/282 dan 512 dan Al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah 3761).

Hadis Abu Hurairah dari Abu Salamah

Dari Abu salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh aku telah diperlihatkan suatu ruangan, sedangkan orang-orang Quraisy malah menanyakan tentang hAl-hal yang tidak aku ketahui tentang Baitul Maqdis. Betapa aku tidak pernah merasakan kegelisahan hati semacam itu sebelumnya. Kemudian Allah SWT mengangkat miniaturnya kepermukaanku, sehingga aku bisa melihat kembali peristiwa tadi malam dan menjawab atas pertanyaan-pertanyaan kaum Quraisy tersebut secara detail. Disana aku juga diperlihatkan jemaah para Nabi, diantaranya adalah Nabi Musa yang sedang menunaikan Shalat. Beliau adalah seorang laki-laki yang kurus dan berambut lurus, berpostur tinggi seperti ketinggian orang-orang lelaki dari kaum Syanu’ah. Aku juga melihat Nabi ‘Isa –putera Maryam- yang sedang menjalankan Shalat pula. Menurutku, orang yang paling menyerupai beliau adalah Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi. Pada waktu itu, aku juga bertemu dengan Nabi Ibrahim yang sedang menunaikan Shalat. Adapun orang yang paling serupa dengan beliau menurutku adalah teman kalian ini (maksudnya adalah diri Rasulullah sendiri). Maka ketika waktu Shalat tiba, aku menjadi imam bagi mereka. Seusai Shalat ada seseorang yang berkata kepadaku, “Wahai Muhammad, ini adalah malaikat penjaga pintu neraka, berilah salam kepadanya”. Lalu aku menoleh kepadanya dan ia mendahuluiku dalam memberi salam” (HR. Muslim, Shahih 278)

Hadis Anas Bin Malik dari Abu Dzar

Dari Az-Zuhri, dari Anas ia berkata bahwa Abu Dzar pernah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Atap rumahku yang ada di Mekkah telah dibuka, lalu Malaikat Jibril turun dan membedah dadajy. Kemudian Jibril membasuhnya dengan air zam-zam sambil membawa wadah yang terbuat dari emas dan penuh berisi dengan nilai hikmah dan keimanan. Setelah itu, Jibril mengosongkan dadaku dan mengisinya dengan hikmah dan keimanan. Lantas Jibril menutup dadaku kembali.” Jibril lalu menggandeng tanganku dan mengajakku bermikraj –melakukan perjalanan- menuju lapisan langit pertama. Ketika kami sampai disana, Jibril berkata kepada penjaga langit itu, “Bukalah!” lalu penjaga langit tersebut bertanya, “siapa ini?” Jibril menjawab, “aku Jibril”, ia bertanya kembali, “apakah kamu bersama seseorang ?” Jibril menjawab “Ya aku bersama Muhammad”, ia bertanya kembali “Apakah kalian diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab “Ya”, maka petugas itupun langsung membukakan pintu langit shaf pertama.

Imam Muslim bercerita bahwa ketika lapisan pertama terbuka, tiba-tiba Rasulullah SAW bersama Jibril melihat seorang laki-laki yang sedang duduk. Adapun disebelah kanan lelaki itu terdapat sekelompok massa dan disebelah kirinya terdapat sekelompok massa pula. Ketika laki-laki itu melihat kearah kanan, maka ia tertawa dan ketika melihat kearah kiri, maka iapun menangis. Selanjutnya laki-laki itu berkata, “Selamat datang wahai Nabi yang saleh dan putera yang saleh.” Rasulullah SAW bertanya kepada Jibril, “Siapakah orang ini ?” Jibril menjawab, “Ini adalah Nabi Adam as, sedangkan sekelompok massa yang ada disamping kiri dan kanan adalah hembusan nafas anak keturunannya. Adapun mereka yang golongan kanan adalah ahli surga, dan golongan kiri adalah ahli neraka. Maka ketika beliau melihat kearah kanan beliau langsung tertawa dan jika melihat kearah kiri beliau langsung menangis.

Selanjutnya, kami naik kelangit lapis kedua. Jibril lalu berkata kepada penjaga langit tersebut, “Bukalah !” lantas penjaga itu bertanya seperti halnya pertanyaan penjaga langit pertama, hingga akhirnya ia mau membukakan pintu langit itu. Anas menceritakan bahwasanya Rasulullah SAW didalam Mikrajnya bertemu dengan Nabi Adam, Idris, Musa, Isa dan Nabiyullah Ibrahim as. Anas tidak menyebutkan satu-persatu tempat bertemunya mereka, kecuali Adam pada langit pertama dan Nabi Ibrahim pada langit ketujuh. Anas menceritakan bahwa ketika Jibril melakukan perjalanan bersama Nabi SAW, mereka bertemu dengan Nabi Idris. Beliau menyambut, “Selamat datang wahai Nabi yang saleh dan saudaraku yang saleh.” Nabi bertanya, “Siapakah ini ?” Jibril menjawab, “Ini adalah Nabi Idris” setelah itu aku bertemu dengan Nabi Musa as dan beliau menyambut “Selamat datang Nabi yang saleh dan saudaraku yang saleh.” Rasulullah bertanya, “Siapa ini ?” Jibril menjawab “Ini adalah Nabi Musa as.” Kemudian aku bertemu dengan Nabi Isa dan beliau menyambut dengan berkata “Selamat datang Nabi yang saleh dan saudaraku yang saleh”. Rasulullah SAW bertanya, “Siapa ini ? ” Jibril menjawab “Ini adalah Nabi Isa as.” Kemudian aku bertemu nabi Ibrahim as, beliau menyambutku, “Selamat datang Nabi yang saleh dan saudaraku yang saleh”.

Ibnu Syihab berkata, “Ibnu Hazm bercerita kepadaku bahwa sesungguhnya Ibnu Abbas dan Abu Habbah Al-Anshari berkata bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Selanjutnya, kami bermikraj lagi sampai pada suatu tempat dimana aku bisa mendengar dengan jelas goresan pena.” Ibnu Hazm dan Anas bin Malik berkata bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Maka Allah SWT mewajibkan kepada umatku 50 kali shalat”

Imam Muslim meriwayatkan, “Kemudian aku kembali”, sedangkan menurut Imam Bukhari, “Kemudian aku menghadap (konsultasi) kepada Tuhanku, selanjutnya Allah berkenan mengabulkan dispensasi (keringanan) maka dibebaskanlah separuhnya.” Imam Muslim berkata, ” Aku (Nabi SAW) lalu kembali menghadap Nabi Musa dan aku katakan padanya bahwa Allah SWT berkenan membebaskan separuh. Kemudian beliau berkata kepadaku, “Kembalilah engkau menghadap Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melaksanakannya.” Lantas aku kembali menghadap dan minta dispensasi, maka Allah membebaskan separuh lagi. Setelah itu aku kembali menghadap Nabi Musa dan beliau berkata “Kembalilah engkau kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu masih tidak mampu melaksanakannya.” Imam Muslim meriwayatkan, “Kemudian aku kembali kepada Nabi Musa as dan aku katakan bahwa “Hanya tinggal 5 waktu dari 50 waktu yang diwajibkan semula. Allah tidak akan merubah lagi firman-Nya untukku.” Imam Muslim juga meriwayatkan, “Kemudian aku kembali kepada Nabi Musa dan beliau masih meminta agar aku kembali dan minta dispensasi lagi kepada Allah. Maku aku menjawab, “Sungguh aku benar-benar merasa malu kepada Tuhanku.” Imam Muslim meriwayatkan, “Selanjutnya aku bersama Jibril beranjak meninggalkan Nabi Musa dan berhenti di Sidratul Muntaha. Ditempat itu terdapat sesuatu yang beraneka ragam dan aku tidak mengetahui nama-namanya.” Imam Muslim berkata, “Kemudian aku memasuki surga, ternyata disana ada pohon anggur Haba’il.” (HR. Bukhari dalam Shahih 349, 1636 dan 3342, Muslim dalam Shahih 263, An-Nasa’i meriwayatkan sebagian hadis tersebut akan tetapi tidak disebutkan nama Abu Dzar sebagai perawi, Ahmad dalam kitab Sunan jilid 5/143-144 tetapi dia menyebutkan riwayat ini dari Ubay bin Ka’ab).

Hadis Anas Bin Malik dari Qatadah

Dari Qatadah, Anas bin Malik bin Sha’sha’ah bercerita kepadaku bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda, “Pada waktu dibedah dadaku itu, sepertinya aku berada disamping rumah.” Menurut riwayat Imam Ahmad bin Hanbal, “Disamping Ka’bah”, adapun menurut satu riwayat –juga oleh Ahmad bin Hanbal- yang lain adalah didalam reruntuhan bangunan. Barangkali Qatadah juga menyebutkan “Diatas bongkahan batu sambil terlentang”, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari, “Yaitu antara sadar dan tidak. Lalu datang salah satu dari ketiga orang. Jibril mendatangiku dengan membawa wadah yang terbuat dari emas dan penuh berisi dengan hikmah dan keimanan. Kemudian Jibril membedah dan menumpahkan semua –kotoran- yang ada didalam perutku. Lantas dia membasuh hatiku dengan air zam-zam dan memenuhinya dengan hikmah dan keimanan. Setelah itu Jibril menjahit dan mengembalikan keadaan perutku seperti semula. Kemudian aku diajak menaiki hwan yang bukan seperti kuda dan lebih besar dari himar (keledai).” Rasulullah SAW melanjutkan ceritanya, “Setelah itu ada orang yang bertanya, “Apakah itu yang dinamakan Buraq wahai Abu Hamzah (panggilan Rasulullah) ?, ” Beliau menjawab “Betul.” Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari menceritakan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Kecepatan kendaraah –Buraq- itu adalah sekejap mata dan dengan Buraq itulah aku dibawah.”

Ibu Jarir meriwayatkan, “Setelah itu, kami bergegas menuju Baitul Maqdis. Disana kami menunaikan shalat bersama para Nabi dan Rasul, dan aku yang menjadi imam. Kemudian aku bersama Jibril bergegas menuju lapisan langit pertama. Penjaga langit itu bertanya, “Siapa ini ?” Jibril menjawab, “Saya, Jibril” Ia bertanya lagi, “Kamu bersama siapa?” Jibril menjawab “Aku bersama Muhammad” Ia bertanya lagi, “Apakah kalian diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab “Ya” Penjaga itu berkata, “Selamat datang, kalian adalah sebaik-baik orang dan kalian telah tiba.” Imam Ahmad bin Hambal menambahkan dalam riwayatnya, “Setelah itu penjaga langit pertama membukakan pintu, lalu aku mendatangi Nabi Adam,” Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Jibril berkata, “Ini adalah bapakmu, oleh karena itu ucapkanlah salam” Lalu aku mengucapkan salah kepadanya dan beliau menjawab salamku sambil berkata, “Selamat datang anakku dan nabiku.” Dalam riwayat lain, Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari menambahkan, “Selamat datang puteraku yang saleh dan Nabi yang saleh.”

Dalam riwayatnya, Imam Bukhari mengatakan, “Kemudian kamipun naik.” Sedangkan riwayat Imam Ahmad bin Hambal. “Kemudian kami naik menuju langit kedua dan minta dibukakan pintu kepada penjaga langit itu. Penjaga langit itu bertanya, “Siapa ini ? ” Jibril menjawab, “Saya Jibril.” Lalu dia bertanya, “Siapa orang yang bersamamu ?” Jibril menjawab “Muhammad” kemudian kami mendatangi Nabi Yahya dan Nabi Isa. Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari menambahkan, “Mereka berdua adalah puteranya bibi.” Lantas Jibril berkata “Inilah Nabi Yahya dan Nabi Isa, oleh karena itu berilah ucapan salam kepada mereka.” Maka akupun menyalami dan mereka langsung menjawab. Setelah itu, mereka menyambut, “Selamat datang saudaraku dan Nabiku.” Menurut riwayat Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari yang lain, “Selamat datang saudaraku yang saleh dan Nabi yang saleh”.

Imam Bukhari meriwayatkan, “Kemudian kamipun naik” Sedangkan riwayat Imam Ahmad bin Hambal, “Kemudian kami naik menuju langit ketiga. Begitu seterusnya seperti pada langit pertama dan kedua. Kemudian kami mendatangi Nabi Yusuf, lalu Jibril bertaka, “Ini adalah Nabi Yusuf, oleh karena itu ucapkanlah salam” Maka akupun menyalami dan beliau langsung membalas seraya berkata, “Selamat datang saudaraku dan nabiku”, Sedangkan menurut riwayat lain dari Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari, “Selamat datang saudaraku yang saleh dan nabi yang saleh”.

Imam Bukhari meriwayatkan, “Kemudian kamipun naik.” Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan, “Kemudian kami naik menuju langit keempat begitulah seterusnya seperti pada langit pertama, kedua dan ketiga”. Kemudian kami mendatangi Nabi Idris lalu Jibril berkata, “Ini adalah Nabi Idris, oleh karena itu ucapkanlah salam” Maka akupun menyalami dan beliau langsung membalas seraya berkata, “Selamat datang saudaraku dan nabiku” sedangkan dalam riwayat Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari yang lain, “Selamat datang saudaraku yang saleh dan nabi yang saleh”.

Imam Bukhari meriwayatkan, “Kemudian, kamipun naik.” Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan, “Kemudian kami naik menuju langit kelima, begitu seterusnya seperti pada langit pertama, kedua, ketiga dan keempat.” Kemudian kami mendatangi Nabi Harun, lalu Jibril berkata, “Inilah Nabi Harun, oleh karena itu ucapkanlah salam.” Maka akupun menyalami dan beliau langsung membalas serya mengatakan, “Selamat datang saudaraku dan nabiku”, sedangkan didalam riwayatnya Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari yang lain, “Selamat datang saudaraku yang saleh dan Nabi yang saleh”

Imam Bukhari meriwayatkan, “Kemudian kamipun naik”, sedangkan Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan, “Kemudian kami naik menuju langit keenam, begitu seterusnya seperti pada langit pertama sampai langit kelima” Kemudian kami mendatangi Nabi Musa lalu Jibril berkata, “Inilah Nabi Musa, oleh karena itu ucapkanlah salam” Maka akupun menyalami dan beliau langsung membalas serya mengatakan, “Selamat datang saudaraku dan nabiku”, sedangkan didalam riwayatnya Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari yang lain, “Selamat datang saudaraku yang saleh dan Nabi yang saleh”, akan tetapi ketika beliau mempersilahkan kami, tiba-tiba beliau langsung menangis. Lalu Jibril menegur, “Apakah gerangan yang membuat engkau menangis ? ” Nabi Musa langsung mengadu kepada Allah, “Wahai Tuhanku, anak laki-laki inikah yang Engkau utus setelahku yang mana umatnya paling mulia dan paling banyak masuk surga daripada umatku ?”, Imam Bukhari meriwayatkan, “Kemudian, kamipun naik”, sedangkan Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan, “Kemudian kami naik menuju langit ketujuh, begitu seterusnya seperti pada langit pertama sampai langit keenam”. Kemudian kami mendatangi Nabi Ibrahim. Imam Bukhari meriwayatkan, lalu Jibril berkata, “Inilah bapakmu, Nabi Ibrahim.” Sedangkan dalam riwayatnya, Imam Ahmad bin Hambal, “Inilah nabi Ibrahim”, kemudian aku menyalami beliau dan beliaupun langsung menjawab salamku, seraya berkata, “Selamat datang puteraku dan Nabiku.” Adapun didalam riwayat yang lain, Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari mengatakan, “Selamat datang puteraku yang saleh dan Nabi yang saleh”.

Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari juga meriwayatkan, bahwa Qatadah pernah berkata, “Hasan pernah bercerita kepadanya dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Kemudian aku diangkat menuju Al-Bait Al-Makmur. Ketika sampai disana, aku bertanya kepada Malaikat Jibril, “Tempat apa ini namanya ? “. Jibril menjawab “Ini adalah Baitul Makmur, ditempat inilah sebanyak 70.000 malaikat setiap hari menunaikan shalat. Jika mereka sudah keluar maka tidak satupun diantara mereka yang kembali ketempat itu lagi.” Kemudian aku disodori beberapa wadah, satu diantaranya berisi arak (Khamr) sedangkan yang lainnya berisi madu dan susu. Lantas aku mengambil dan meminum dari wadah yang berisikan susu.” Lalu Nabi Ibrahim berkata, “Ini adalah fitrah yang diberikan kepada engkau dan umatmu”. Masih dalam riwayat Imam Ahmad bin Hambal, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setelah itu aku diangkat menuju Sidratul Muntaha. Tempat itu tampak seperti batang pohon anggur yang menjulang dari muka bumi dan mempunyai daun yang menyerupai telinga gajah. Selanjutnya Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari menambahkan bahwa, “Inilah Sidratul Muntaha. Adapun didasar tempat tersebut terdapat empat sungai. Dua diantaranya ada didalam, sedangkan dua yang lain ada diluar.” Lantas aku bertanya kepada Jibril, “Apa maskud dari semua ini, wahai Jibril ?”, Jibril menjawab, “Adapun dua yang didalam itu tempatnya adalah disurga, sedangkan dua yang diluar itu adalah sungai Eufrat dan sungai Nil.”

Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari meriwayatkan, “Rasulullah SAW bersabda, “Kemudian aku diwajibkan menunaikan 50 kali shalat setiap hari, setelah itu aku kembali. Pada saat itu aku bertemu dengan Nabi Musa dan beliau bertanya, “Apa yang engkau peroleh ?” Aku menjawab, “Telah diwajibkan kepadaku 50 kali shalat setiap hari.” Nabi Musa berkata, “(dalam riwayat Imam Bukhari beliau bersumpah –Demi Allah-) aku lebih banyak tahu daripada kamu.” Didalam riwayat Imam Bukhari yang lain, “Sungguh aku telah menelusuri –kemampuan- manusia-manusia sebelum engkau, dan sungguh aku telah mendoktrin Bani Israel dengan sangat ketat. Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu menunaikan hal itu. Oleh karenanya maka kembalilah engkau menghadap Tuhanmu dan mintalah dispensasi!” Rasulullah SAW bersabda, “Selanjutnya aku kembali menghadap Tuhanku yang Maha Agung, lalu aku meminta dispensasi. Maka Allah memperingankan kewajiban tersebut menjadi 40. Setelah itu aku kembali dan menemui Nabi Musa. Beliau bertanya lagi, “Apa yang engkau peroleh ?” Aku menjawab, “Allah memperingan menjadi 40.” Lantas Nabi Musa berkata kepadaku seperti semula. Aku kembali menghadap Tuhanku Yang Maha Agung, maka Allah mengurangi lagi menjadi 30. Kemudian aku kembali dan bertemu dengan Nabi Musa seraya memberitahukan dispensasi yang aku terima, dan beliau masih mengatakan kepadaku hal yang sama dengan semula. Lalu aku kembali menghadap Allah dan Dia menguranginya lagi menjadi 20, kemudian 10 dan terakhir kalinya hanya tinggal 5. Selanjutnya aku menemui Nabi Musa, lalu memberitahukan tentang –begitu banyaknya- dispensasi yang sudah aku terima. Akan tetapi beliau masih mengatakan kepadaku hal yang sama seperti semula. Pada kesempatan itu, aku mengatakan, “Sungguh aku benar-benar malu kepada Tuhanku Yang Maha Agung, sudah berapa kali aku bolak-balik ?” Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari menambahkan, “Akan tetapi Allah selalu merestui dan mengabulkan permohonanku.” Didalam hadis yang lain, Imam Ahmad bin Hambal dan dan Imam Bukhari menerangkan, “Ketika percakapan antara Rasulullah SAW dengan Nabi Musa berlangsung, tiba-tiba ada seseorang memanggil Rasulullah SAW agar beliau mencukupkan sampai disitu, karena Rasulullah SAW telah meminta dispensasi yang begitu banyak untuk umatnya. Segala bentuk kebaikan akan dibalas 10 kali lipat. (HR. Ahmad dalam sunan Jilid 4/207-210 melalui jalur Hisyam ad-Dustiwa’, Imam Bukhari dalam Shahih 3207, 3393 dan 3887, Imam Muslim dalam shahih 264 dan 265 dan Ibnu Jarir dalam 15/3)

Hadis Anas Bin Malik dari Tsabit Al-Banani

Riwayat Tsabit, ia menceritakan dari Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Aku telah dibawakan kendaraan Buraq. Kendaraan ini adalah sejenis hewan berwarna putih, yang mana tingginya antara himar dan kuda. Sedangkan kecepatannya adalah sama dengan kejapan mata. Ketika itu, aku dibawa menuju Baitul Maqdis dan disana aku bergabung dengan majelisnya para Nabi. Sesampainya disana aku masuk masjid dan menunaikan shalat dua reka’at. Setelah itu aku keluar dan Jibril langsung menghampiriku dengan membawa satu wadah yang berisi arak (Khamr) dan satu wadah lagi yang berisi susu. Kemudian aku memilih wadah susu, lalu Jibril berkata, “Engkau telah memilih”. Selanjutnya kami bermikraj menuju langit pertama. Lalu Jibril meminta agar penjaga langit itu mau membukakan pintu. Sebelumnya penjaga langit itu bertanya, “Siapa kalian ?”, Jibril menjawab, “Saya Jibril”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapa orang yang bersamamu itu ?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Lantas dia bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab, “Benar!” Maka penjaga itupun langsung membukakan pintu langit pertama. Dilangit itu, kami bertemu dengan Nabi Adam, lalu beliau menerima dan menyambut kami dengan sangat baik. Kemudian kami bermikraj menuju langit kedua, lalu Jibril meminta agar penjaga langit itu mau membukakan pintu. Penjaga langit itu bertanya, “Siapa kalian ?”, Jibril menjawab, “Saya Jibril”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapa orang yang bersamamu itu ?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Lantas dia bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab, “Benar!” Maka penjaga itupun langsung membukakan pintu langit itu. Ketika sampai disana, kami bertemu dengan dua anak laki-lakinya bibi, yaitu Nabi Yahya dan Nabi Isa. Mereka langsung menerima dan menyambut kami dengan sangat baik. Selanjutnya kami bermikraj menuju langit ketiga. Sesampainya disana, Jibril minta agar penjaga langit itu mau membukakan pintu. Penjaga itu bertanya, “Siapa kamu ?”, Jibril menjawab, “Saya Jibril”. Dia bertanya lagi, “Siapakah orang yang bersamamu ?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Lantas dia bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap kepada-Nya ?”, Jibril menjawab, “Ya!” Maka penjaga pintu itupun membukakan untuk kami. Ketika sampai disana, kami bertemu Nabi Yusuf. Beliau adalah Nabi yang diberikan Allah separuh dari ketampananku. Lantas beliau menerima dan menyambut kami dengan baik sekali. Kemudian kami bermikraj menuju langit keempat. Sesampainya disana, Jibril meminta agar penjaga langit itu mau membukakan pintu. Penjaga langit itu bertanya, “Siapa kalian ?”, Jibril menjawab, “Saya Jibril”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapa orang yang bersamamu itu ?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Lantas dia bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab, “Benar!” Maka penjaga itupun langsung membukakan pintu langit itu. Disana kami bertemu dengan Nabi Idris. Beliau langsung menerima dan menyambut kami dengan baik sekali seraya membacakan firman-Nya, “Dan Kami telah mengangkatnya kemartabat yang tinggi (QS. . Maryam (19): 57).

Setelah itu, kami bermikraj menuju langit kelima. Sesampainya disana Jibril meminta agar penjaga langit itu mau membukakan pintu. Penjaga langit itu bertanya, “Siapa kalian ?”, Jibril menjawab, “Saya Jibril”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapa orang yang bersamamu itu ?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Lantas dia bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab, “Benar!” Maka penjaga itupun langsung membukakan pintu. Disana kami bertemu dengan Nabi Harun. Beliau juga menerima dan menyambut kami dengan baik sekali. Kemudian, kami bermikraj menuju langit keenam. Sesampainya disana Jibril meminta agar penjaga langit itu mau membukakan pintu. Penjaga langit itu bertanya, “Siapa kalian ?”, Jibril menjawab, “Saya Jibril”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapa orang yang bersamamu itu ?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Lantas dia bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab, “Ya, kami telah diutus-Nya” setelah itu penjaga langit tersebut mau membukakan pintu. Disana aku bertemu dengan Nabi Musa. Beliau telah menerima dan menyambut kami dengan amat baik. Selanjutnya kami bermikraj menuju langit ketujuh. Sesampainya disana, Jibril meminta agar penjaga langit itu mau membukakan pintu. Penjaga langit itu bertanya, “Siapa kalian ?”, Jibril menjawab, “Saya Jibril”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapa orang yang bersamamu itu ?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Lantas dia bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab, “Ya, kami telah diutus-Nya”, Maka penjaga langit itupun langsung membukakan pintu kepada kami. Disana kami bertemu dengan Nabi Ibrahim as. Ketika itu beliau sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Makmur. Beliau juga masuk ketempat itu setiap hari bersama 70.000 para malaikat yang datang silih berganti. Setelah itu kami pergi menuju Sidratul Muntaha. Tempat itu memiliki daun yang menyerupai telinga gajah dan tampak seperti batang pohon anggur yang menjulang dari muka bumi. Jika perintah Allah menghendaki perubahan tempat itu, maka tak satupun diantara makhluk Allah yang mampu untuk mengubahnya dan mengungkapkan keindahannya. Rasulullah SAW bersabda, “Maka Allah menurukan wahyu kepadaku dan mewajibkanku 50 kali shalat dalam sehari-semalam.” Setelah itu aku turun dan bertemu dengan Nabi Musa. Beliau bertanya, “Apa yang diwajibkan Tuhan kepada umatmu ?”, Aku menjawab, “50 kali shalat dalam sehari-semalam.” Lalu Nabi Musa berkata, “Kembalilah engkau kepada Tuhanmu dan mintalah dispensasi, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu menunaikannya. Sungguh aku telah mencoba untuk mempraktekkan hal ini kepada Bani Israel.” Rasulullah bersabda, “Kemudian aku kembali –menemui- Tuhanku yang Maha Agung. Aku memohon, “Wahai Tuhanku, berilah dispensasi kepada umatky.” Maka Allah menurunkan 5. Kemudian aku kembali menemui Nabi Musa, beliau bertanya, “Apa yang kamu peroleh ?” Aku menjawab, “Aku telah diberi dispensasi lima”. Beliau berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukan hal itu. Oleh karena itu kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah dispensasi untuk umatmu.” Rasulullah SAW bersabda, “Ketika itu aku selalu bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa as dan Allah selalu memberikan dispensasi lima-lima”. Pada akhirnya Tuhanku berfirman, “Wahai Muhammad, cukuplah 5 kali shalat dalam sehari-semalam, dengan tiap-tiap shalatnya bernilai 10. Dengan demikian, esensinya sama dengan 50 kali shalat. Barangsiapa yang mengerjakannya, maka baginya adalah satu pahala. Karena jika kebajikan itu dikerjakan, ia akan mendapatkan 10 pahala. Barangsiapa yang berniat untuk satu kejahatan, akan tetapi ia belum sempat mengerjakannya, maka baginya tidak mendapat apa-apa. Karena jika kejahatan itu dikerjakan, ia hanya mendapat dosa satu.” Rasulullah SAW bersabda, “Setelah itu aku turun dan menemui Nabi Musa, lalu aku memberitahukan apa yang aku peroleh.” Beliau berkata, “Kembalilah engkau pada Tuhanmu dan mintalah dispensasi lagi, karena pada dasarnya umatmu masih belum mampu mengerjakan hal itu.” Rasulullah SAW bersabda, “Aku mengatakan kepada Nabi Musa, “Sungguh aku sudah berkali-kali menghadap Tuhanku sampai aku merasa malu sendiri terhadap-Nya.” (HR. Ahmad dalam sunan jilid 3/148 dengan teks dari beliau, Imam Muslim dalam shahih 259 melalui jalur Hammad bin Salamah).

Hadis Anas Bin Malik dari Syarik bin Abi Namr

Ia menceritakan bahwasanya ia mendengar Anas bin Malik berkata –dalam riwayat lain, “Bercerita kepadaku …” –tentang kepergian malam Israknya Rasulullah SAW dari masjidil Ka’bah dan bahwasanya Rasulullah SAW didatangi tiga orang yang tidak dikenal sebelum beliau mendapat wahyu –panggilan- untuk menghadap-Nya. Ketika itu beliau sedang didalam Masjidil Haram. Salah seorang dari ketiga orang tersebut berkata, “Siapa diantara mereka yang merupakan orang yang dimaksud ?”, Lalu orang kedua berkata, “Dialah orang yang paling baik diantara yang lainnya.” Orang terakhir berkata, “Pilih saja orang yang terbaik.” Pada malam itu hanya berlalu begitu saja, dimana Rasulullah SAW belum pernah memimpikan hal serupa melalui bisikan hati, karena pada hakekatnya Rasulullah SAW itu hanya matanya saja yang terpejam namun hati beliau tidak pernah tidur. Begitu juga para Nabi yang lain, mereka juga hanya memejamkan mata sedangkan hatinya tidak pernah tidur. Dalam mimpi Rasulullah SAW yang berikutnya, ketiga orang tersebut tidak ada yang berkata sepatah katapun dan mereka langsung membawa Rasulullah dan meletakkannya didekat sumur zam-zam. Lantas malaikat Jibrillah yang bertanggung jawab atas beliau.

Kemudian, malaikat Jibril membedah dada Rasulullah SAW menembus jantung sampai kebagian perut yang paling dalam. Setelah itu, Jibril membasuh dan membersihkannya dengan air zam-zam. Selanjutnya malaikat Jibril membawa wadah yang terbuat dari emas, didalamnya terdapat “Taur” yang terbuat dari emas pula dan penuh berisi dengan keimanan dan hikmah lalu dimasukkan kedalam dada hingga Al-Ghadid –yaitu urat leher- Rasulullah SAW dan menutupnya kembali. Setelah itu, Rasulullah SAW naik Buraq dan ber-Israk menuju Baitul Maqdis. Disana Rasulullah SAW kemudian menunaikan shalat bersama para Nabi dan Rasul, sementara beliau bertindak sebagai Imam.

Kemudian Rasulullah SAW bermikraj dengan malaikat Jibril menuju langit-langit dunia. Jibril mengetuk pintu, lalu para penghuni langit tersebut menghampirinya sambil bertanya, “Siapa ini ?” Jibril menjawab, “Saya Jibril”, Mereka bertanya lagi, “Siapa orang yang menyertaimu ? ” Jibril menjawab, “Aku bersama Muhammad”, Mereka bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?”, Jibril menjawab, “Ya”, Mereka lalu menyambut “Selamat datang ditempat kami.” Maka seluruh penghuni langit merasa begitu gembira dengan kedatangan Muhammad. Ternyata para penghuni langit itu tidak mengetahui apa kehendak Allah dengan mengutus Muhammad kemuka bumi ini sebelum mereka semua diberitahu. Pada saat Rasulullah SAW dan malaikat Jibril berada dilangit-langit dunia, mereka bertemu dengan Nabi Adam. Jibril berkata kepada Rasulullah, “Ini adalah bapakmu, maka ucapkanlah salam untuknya.” Kemudian Rasulullah SAW menyalami Nabi Adam dan beliaupun langsung menjawab sambil berkata, “Selamat datang wahai anakku, sebaik-baik anakku adalah engkau”. Dilangit-langit dunia yersebut mereka menjumpai sungai yang mengalir jernih. Lalu Rasulullah SAW bertanya, “Sungai apa ini namanya wahai Jibril ?” Jibril menjawab, “Ini adalah sungat Nil dan sungai Eufrat.” Selanjutnya langit tadi dilewati begitu saja oleh Rasulullah SAW. Tiba-tiba beliau menyaksikan sungai yang lain. Didalam sungai itu terdapat endapan-endapan mutiara dan jamrud. Ketika Rasulullah SAW menyentuh sungai itu, aromanya seperti minyak misik yang amat wangi. Lantas Rasulullah SAW bertanya, “Sungai apa ini, wahai Jibril ?” Jibril menjawab, “Ini adalah sungai (telaga) Kautsar yang telah disiapkan untukmu.”

Setelah itu Rasulullah SAW bermikraj menuju langit kedua. Maka para malaikat penjaga langit itupun bertanya seperti pertanyaan malaikat yang menjaga dilangit pertama, yaitu “Siapa ini ?” Jibril menjawab, “Saya Jibril”, Mereka bertanya lagi, “Siapa orang yang menyertaimu ? ” Jibril menjawab, “Aku bersama Muhammad”, Mereka bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?”, Jibril menjawab, “Ya”, Mereka lalu menyambut “Selamat datang ditempat kami.” Kemudian Rasulullah SAW bermikraj menuju langit ketiga, dan para malaikat penjaga langit itupun mengatakan hal yang sama dengan pertanyaan-pertanyaan malaikat yang ada dilangit pertama dan kedua. Kemudian Rasulullah SAW bermikraj menuju langit keempat. Mereka juga mengatakan hal yang sama. Begitupula halnya ketika Rasulullah SAW sampai dilangit kelima, keenam dan ketujuh. Dari tiap langit itu semua, Rasulullah SAW selalu berjumpa dengan para Nabi. Diantara nama-nama mereka yang aku (Rasulullah) kenali adalah : Nabi Idris dilangit kedua, Nabi Harun dilangit keempat. Disamping itu masih banyak nama-nama para Nabi lainnya, yang aku jumpai dilangit kelima. Lalu Nabi Ibrahim as dilangit keenam, serta Nabi Musa as dilangit ketujuh yang menyebut keagungan kalam Allah SWT. Nabi Musa berkata, “Wahai Tuhanku! Aku tidak menyangka sama sekali jika ada seseorang yang akan Engkau angkat dan bertemu denganku (disini).” Setelah itu, Rasulullah SAW terus naik yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Allah SWT. Akhirnya Rasulullah SAW sampai kesidratil Muntaha dan disitulah Allah turun menemui beliau dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Kemudian Allah menurunkan wahyu agar umat Rasulullah menunaikan 50 kali shalat dalam sehari-semalam. Rasulullah SAW kemudian turun dan berjumpa dengan Nabi Musa. Sengaja Nabi Musa mencegat beliau untuk menanyakan, “Wahai Muhammad, apa yang telah dibaiatkan Tuhan kepadamu ?”, Rasulullah menjawab,”Tuhan membaiat aku untuk menunaikan 50 kali shalat dalam setiap siang dan malam hari.” Nabi Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu menunaikan hal itu. Oleh karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan (dispensasi) buat engkau dan umatmu.” Lalu Rasulullah SAW menoleh kepada Jibril seakan-akan beliau hendak memberi isyarat mengenai pernyataan Nabi Musa tersebut. Lantas malaikat Jibrilpun mengisyaratkan bahwa jika hal itu yang terbaik menurut Rasulullah SAW, maka Jibril hanya bisa menurut.

Kemudian Rasulullah SAW naik dan menemui Allah SWT, seraya memohon, “Wahai Tuhanku, berilah kami keringanan, karena sesungguhnya umatku tidak mampu menunaikan-perintah ini-“. Lalu Allah SWT menurunkan 10 shalat. Setelah itu Rasulullah SAW kembali dan Nabi Musa pun sudah mencegatnya. Pada waktu itu, Rasulullah SAW bolak-balik antara Allah dan Nabi Musa. Sampai akhirnya Allah SWT mewajibkan 5 kali shalat. Akan tetapi Nabi Musa masih mencegat Rasulullah SAW ketika perintah shalat hanya tinggal 5 waktu. Nabi Musa berkata, “Wahai Muhammad, sungguh aku telah berusaha mempraktekkan hal itu kepada Bani Israel kaumku. Bahkan yang lebih ringan dari inipun mereka masih tidak mampu dan malah meninggalkannya. Padahal, umatmu itu lebih lemah jasad, hati, fisik, penglihatan maupun pendengarannya. Oleh karena itu kembalilah engkau kepada Tuhanmu dan mintalah dispensasi kembali.” Setiap kali Rasulullah SAW mendengarkan pendapat Nabi Musa, beliau selalu menolah dan memberi isyarat kepada Jibril. Namun Jibril selalu tidak meragukan alasan-alasan Nabi Musa. Kemudian Rasulullah menghadap Allah lagi, disaat perintah shalat hanya tinggal 5 waktu. Beliau memohon, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya umatku itu lemah jasad, hati, fisik, penglihatan maupun pendengarannya. Maka berilah kami dispensasi.” Kemudian Allah SWT berfirman, “Wahai Muhammad, aku sudah mengabulkan permintaanmu semoga engkau bahagia.” Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT sudah tidak akan merubah ketetapan-Nya lagi padaku, sebagaimana Allah telah mewajibkan kepada kalian didalam Al-Kitab.” Rasulullah SAW bersabda lagi, “Setiap satu amal kebajikan akan dibalas 10 kali lipat. Kalian hanya diwajibkan 5 kali, namun kalian akan mendapat 50 didalam ummul kitab.”

Setelah itu, Rasulullah SAW kembali menemui Nabi Musa dan ia berkata, “Apa yang telah engkau perbuat ?” Rasulullah menjawab, “Aku memohon kepada Tuhanku agar memberikan kami dispensai, lalu Allah memberikan setiap satu kebajikan dengan balasan 10 kali lipat.” Nabi Musa berkata, “Sungguh aku telah mencoba melaksanakan perintah yang lebih ringan dari hal itu kepada Bani Israel, kemudian mereka beramai-ramai meninggalkannya. Oleh karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah dispensasi kembali.” Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Nabi Musa! Sungguh aku benar-benar merasa malu, dan takut berbuat salah kepada Tuhanku.” Lantas Nabi Musa berkata, “Kalau begitu sekarang turun dengan menyebut asma Allah SWT.” Rasulullah SAW bersabda, “Setelah itu aku terbangun dan aku sudah kembali berada di Masjid Al-Haram” (HR. Bukhari dalam shahih 3570 dan 7517, Imam Muslim dalam shahih 262).

Bersambung.

Rasionalitas Israk dan Mikraj (4)

Rasionalitas Israk Mikraj : ISRAK MIKRAJ DALAM TINJAUAN NUBUAT
Oleh : Armansyah

Dalam salah satu hasil penelitiannya ditahun 1997, Profesor Pundit Vaid Parkash, seorang pendeta Hindu dari Alahabad University India mengemukakan tentang ramalan dari kitab Veda mengenai kisah perjalanan tokoh suci “Kalky Autar” dengan seekor kuda yang akan terbang dengan cepat dari bumi menuju langit. Menurut sang Profesor, ramalan tersebut tidak lain dari peristiwa Israk dan Mikraj Nabi Muhammad SAW yang mengendarai Buroq dengan kecepatan melebihi kilat. Ketokohan “Kalky Autar” sendiri bisa dibaca pada buku kedua penulis yang berjudul “Jejak Nabi Palsu : Dari Mirza Ghulam Ahmad, Lia Aminuddin hingga Ahmad Musaddiq” terbitan Hikmah Publishing (2007).

Selain dari kitab Veda, ramalan serupa juga bisa ditemukan dalam kitab Perjanjian Baru milik umat Kristiani. Dalam kitab Wahyu atau Revelation pasal 19 ayat 11, ada disebutkan tentang tokoh suci yang bergelar “Pistos kai Alethinos”10 atau “Yang Setia dan Benar” dengan menunggang “hippos leukos” 11 atau sebuah kendaraan bersinar12 telah turun dari langit (Ouranos) 13. Gelar “Pistos kai Aleithinos” sendiri mengingatkan kita pada gelar yang diperoleh Muhammad sejak kecil dari masyarakatnya, yaitu “Al-Amin” atau orang yang dapat dipercaya.

Isi selengkapnya dari kitab Wahyu pasal 19 ayat 11 sampai 16 ini adalah :

Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: “Yang Setia dan Yang Benar”, Ia menghakimi dan berperang dengan adil. Dan matanya bagaikan nyala api dan di atas kepalanya terdapat banyak mahkota dan padanya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorangpun, kecuali Ia sendiri.

Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan namanya ialah: “Firman Allah.”  Dan semua pasukan yang di sorga mengikuti dia; mereka menunggang kuda putih dan memakai lenan halus yang putih bersih. Dan dari mulutnya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa. Dan Ia akan menggembalakan mereka dengan gada besi dan Ia akan memeras anggur dalam kilangan anggur, yaitu kegeraman murka Allah, Yang Mahakuasa. Dan pada jubahnya dan pahanya tertulis suatu nama, yaitu: “Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan.”

Dari ayat-ayat kitab Perjanjian Baru diatas, maka bisa kita tafsirkan bahwa Nabi Muhammad SAW yang akan datang sesudah masa kenabian Isa Al-Masih selesai, digambarkan dengan gagahnya sedang naik Buraq (dalam perjalanan Mikrajnya). Nabi Muhammad SAW sejak lamapun dikenal oleh orang-orang disekitarnya sebagai seorang yang dapat dipercaya, keputusannya adil dan jujur karena itulah sejak masih kecil beliau SAW sudah digelari masyarakatnya sebagai Al-Amin. Dalam tiap permasalahan selalu dijadikan hakim yang adil oleh semua pihak, termasuk juga oleh para musuhnya. Muhammad melarang menyakiti orang yang sudah tidak berdaya sekalipun hal tersebut dalam peperangan bahkan pepohonan, anak-anak, kaum wanita, orang-orang tua serta rumah-rumah ibadah umat lain dilarang untuk diganggu. Inilah yang dimaksud oleh Kitab Wahyu diatas sebagai orang yang menghakimi dan berperang dengan adil.

Dari mulut Muhammad keluar sebilah pedang yang tajam yang bisa membunuh orang-orang kafir, ini adalah tamsil bila segala perilaku dan ajaran yang dibawa oleh Muhammad berdasarkan Firman Allah (Al-Qur’an) yang benar yang dengan itu dapat membantah dengan tegas semua dakwah yang dilakukan oleh orang-orang kafir dengan dalih kitab-kitab suci mereka yang telah diselewengkan. Diatas kepalanya terdapat banyak mahkota yang melambangkan kekuasaan dan kemegahan sang Nabi yang telah dicapai pada masa hidupnya didalam penyebaran agama Islam serta memerintah dengan tongkat besi yang menyimbolkan suatu ketegasan dan senantiasa mewanti-wanti umatnya akan kemurkaan Allah apabila mereka melanggar hukum-hukum yang sudah ditetapkan-Nya. Muhammad juga akan diiringi oleh para Malaikat dari segala mara bahaya sebagai bukti rahmat yang telah ditimbulkan atas kehadirannya kebumi ini oleh Allah.

Demikianlah yang bisa kita simpulkan dari ayat-ayat tadi dalam konteks keseluruhannya. Adapun kitab Wahyu sendiri dipercaya oleh umat Kristiani sebagai pengilhaman Tuhan kepada pribadi Yohanes, salah seorang murid utama dari Nabi Isa Al-Masih. Penulis juga sudah mengupas tentang hal ini dalam buku pertama yang berjudul “Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih : Sebuah Pelurusan Sejarah & Jawaban untuk Dinasti Yesus” terbitan Restu Agung (2008).

Dikemukakannya data-data diatas tujuannya tidak lain untuk memberikan pengukuhan kepada cerita-cerita seputar kejadian Israk dan Mikraj Nabi Muhammad SAW. Telah banyak desas-desus yang berkembang diluaran yang mengatakan bila Israk dan Mikraj hanyalah sebuah dongeng, cerita isapan jempol serta sama sekali tidak ilmiah. Apa-apa yang telah kita jabarkan pada bab pertama buku ini diatas, telah membuktikan hal yang sebaliknya. InsyaAllah kita akan membahas lebih jauh masalah ini pada bagian selanjutnya.


Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH

%d bloggers like this: