Tawaran Naskah u/. Penerbit

Assalamu’alaykum Wr. Wb.,

Teman-teman dari Penerbit dan Redaksi yang saya hormati,

Melihat perkembangan dan antusiasime masyarakat dalam menyikapi kehadiran buku karya Jaber Bolushi yang berjudul “Ramalan Paling Mengguncangkan Abad ini, Oktober 2015 Imam Mahdi Akan Datang” terbitan Papyrus Publishing 2007 maka saat ini saya sedang menyusun naskah jawaban atas buku tersebut dengan lebih detil.

Secara global atau umum, jawaban atas buku tersebut sudah saya publikasikan di Internet sejak tanggal 17 Desember 2007.
Alamat tulisan tersebut bisa diakses pada : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2007/12/17/bedah-buku-jaber-bolushi-2015-imam-mahdi-akan-datang/

Dari statistik WordPress, diperoleh data bahwa tulisan tersebut setidaknya sudah dikunjungi (dan diasumsikan dibaca) sebanyak 892 kali (lihat gambar yang saya sertakan pada posting ini).



Angka tersebut hanya terpaut satu tingkat dari tulisan saya menanggapi gerakan Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku oleh penerbit Hikmah (Mizan Publika, 2007) dengan judul “Jejak Nabi Palsu”. Angka kunjungan pada tulisan “Fenomena Al-Qiyadah Al-Islamiah sebagai Neo Khawarij” mendapat rating 1.142 kunjungan (perbandingan bisa juga dilihat pada gambar yang disertakan).



Oleh karena itu, maka saya bermaksud untuk menawarkan naskah yang masih sedang saya selesaikan ini kepada rekan-rekan penerbit sekalian.
Adapun persyaratan yang saya ajukan adalah, buku tersebut nantinya selain ada dipasaran Indonesia, harus bisa terdistribusikan kemanca negara (minimal untuk wilayah Malayasia dan Singapura).

Hal ini guna mencoba menyeimbangkan buku aslinya sendiri yang memang sudah menyebar dalam skala luas.
Bagi penerbit yang berminat, silahkan untuk menghubungi saya secara langsung via ponsel dinomor 0816.355.539

Untuk tambahan informasi, Alhamdulillah –sebelumnya– saya sudah menerbitkan dua buku, yaitu “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih : Sebuah Pelurusan Sejarah dan Jawaban Untuk Dinasti Yesus” –Penerbit Restu Agung Jakarta– dan buku “Jejak Nabi Palsu : Dari Mirza Ghulam Ahmad, Lia Aminuddin hingga Ahmad Musaddiq”. Kedua buku ini juga mendapat dukungan penuh dari tim FAKTA (Forum Anti Kegiatan Pemurtadan) yang dipimpin oleh Bapak Abu Deedat Syihab serta pengelola situs Swaramuslim.



Demikian informasi dan tawaran ini saya coba berikan, atas perhatiannya diucapkan terimakasih.


Salamun ‘ala manittaba al Huda

ARMANSYAH
http://armansyah.blogsome.com
http://www.penulis-indonesia.com/armansyah/blog/

Advertisements

Tafsir Al-Baqarah ayat 1

Basmalah
Logo Milis_Iqra
Salam
Tafsir Al-Baqarah ayat 1
Oleh : Armansyah

Penulis buku “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih” & “Jejak Nabi Palsu”

——————————————————–
Audzu
Alief-Lam-Miem
Terjemahan : Alief – Lam – Miem
Alief adalah abjad pertama dalam huruf Hijaiyyah sedangkan berturut-turut Lam dan Miem merupakan abjad ke-23 dan ke-24 dalam susunan huruf Hijaiyyah.
Para penafsir al-Qur’an terbagi atas beberapa bagian dalam memahami ayat pertama dari surah al-Baqarah ini, sebagaimana bisa dibaca juga dalam penjelasan al-Qur’an terbitan Departemen Agama Republik Indonesia : 
Diantara ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. Golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. Kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu. ( al-Qur’an dan terjemahnya Edisi Revisi 1989, Departemen Agama Republik Indonesia Jakarta Penerbit Gema Risalah Press Bandung hal. 8)
A. Hassan sendiri dalam Tafsir al-Furqonnya pada halaman 2 footnote 9 yang merupakan penjelasan dari ayat ini menulis :
Menurut sebahagian dari tafsir-tafsir, bahwa :
a. Alief itu ringkasan atau potongan huruf dari kalimah Allah atau Ana ( artinya AKU )
b. Lam itu ringkasan atau potongan huruf Jibril, Allah atau Latief ( Maha Halus )
c. Miem itu ringkasan atau potongan huruf dari Muhammad, A’lam ( Maha Mengetahui ) atau Majid ( Maha Mulia )
Sehingga kata-kata Alief-Lam-Miem bisa berartikan :
a. Allah, Jibril, Muhammad
b. Aku, Allah, Yang Maha Mengetahui
c. Allah, Yang Maha Halus, Yang Maha Mulia
Jadi maksudnya bahwa :
a. Qur’an ini dari Allah kepada Jibril kepada Muhammad
b. Qur’an ini dari-Ku, Allah, yang Maha Mengetahui
c. Qur’an ini dari Allah, Maha Halus dan Maha Mulia
( Sumber : Tafsir al-Furqon, A. Hassan terbitan Persatuan Islam Bangil 26 April 1956 / 15 Ramadhan 1375 H )
Dalam buku : Pengantar Fenomenologi al-Qur’an karya Lukman Abdul Qohar Sumabrata dkk halaman 83 dan 84 menuliskan bahwa huruf Alief merupakan makna simbolis dari Otak atau pribadi, huruf Lam merupakan simbol dari Manusia/Tubuh dan huruf Miem merupakan simbol dari Mata Rantai atau kaitan.
Pada halaman 93 s/d 99 kemudian dipaparkan tentang keberadaan 29 surat yang memiliki ayat-ayat penggalan sejenis dari total 6236 jumlah ayat al-Qur’an. Yang mana menurut penulis buku ini, adanya huruf-huruf singkat ( yang mirip sandi ) tersebut selalu menjadi persoalan karena menyimpang dari kaidah gramatika bahasa arab. Sehingga lalu menimbulkan kesimpulan bahwa ini merupakan huruf-huruf simbolik yang memiliki makna tersendiri yang membutuhkan penterjemahan kedalam bahasa konvensi yang bersifat verbal.
Disamping itu pemaknaan secara simbolik dalam hubungan ini juga dilakukan atas dasar model rasionalitas tertentu, yang tidak bersifat ad-hoc ( sepotong-potong ). Salah satunya dengan cara mengkorelasikan antara satu sandi dengan sandi lain yang ada dalam al-Qur’an. ( 28 surat lain yang memiliki ayat-ayat sejenis adalah : Ali Imron, al-A’raaf, Yuunus, Huud, Yuusuf, Ar-Ra’du, Ibrahim, al-Hijr, Maryam, Thaha, asy-Syu’ara, an-Naml, al-Qashash, al-‘Ankabut, ar-Ruum, Luqman, as-Sajdah, Yaa-siin, Shaad, al-Mu’min, al-Fushilat, asy-Syuuraa, az-Zuhruuf, ad-Dukhan, al-Jatsiyah, al-Ahqaaf, Qaaf dan al-Qolam ).
Dalam al-Baqarah, ayat pertamanya adalah huruf Alief ( disusul Lam dan Miem ).
Angka satu ( yaitu mengacu pada nomor ayat yang pertama ( 1 ) ) sama dengan huruf Alief yang artinya otak atau pribadi. Jelaslah disini bahwa huruf al-Qur’an merupakan simbol dari sesuatu yang harus diolah oleh otak dan dijadikan agenda atau bahan pemikiran bagi manusia.
al-baqarah ayat 266
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. -Qs. 2 al-Baqarah: 266
Seterusnya, kausalitas dalam suatu rangkaian peristiwa yang berlaku dapat di-identifikasi, bahkan dapat diukur melalui perhitungan tertentu sebab-sebab dan berbagai variabel yang mendukungnya.
( Lihat : Pengantar Fenomenologi al-Qur’an, Dimensi keilmuan dibalik Mushaf Utsmani karya Lukman Abdul Qohar Sumabrata, Dr. Lukman Saksono MSc dan Drs. Anharudin terbitan Grafikatama Jaya )
Lain pula dengan apa yang disampaikan oleh Abu Abdurrahman as-Salmi sebagaimana dikutip oleh Dr. Muhammad Husein adz-Dzahabi dalam bukunya : Penyimpangan-penyimpangan dalam penafsiran al-Qur’an terbitan Rajawali Pers halaman 105-106:
Alief-Lam-Miem
Merupakan kombinasi dari Alief yang artinya aliful wahdaniyah ( ke-esaan ), huruf Lam adalah Lamul luthfi ( kelembutan ) dan huruf Miem adalah Miemul Mulki ( kerajaan ), sehingga pengertiannya : siapa saja yang dapat menemukan diri-Ku secara hakekat dengan jalan memutuskan hubungan dan keinginan yang bersifat duniawi akan aku Kasihi … Aku akan membebaskannya dari status budak dan menempatkannya pada martabat yang tertinggi ; artinya berhubungan dengan Allah, pemilik semua kerajaan.
Selanjutnya Abu Abdurrahman as-Salmi mengatakan :
Alief-Lam-Miemmempunyai makna : Alief berarti cucilah batinmu, Lam berarti anggota-anggota tubuhmu dimaksudkan untuk beribadah kepada-Ku dan Miem berarti berbuatlah bersama-Ku untuk mengubah bentuk dan sifat-sifatmu. Aku akan menghiasimu dengan sifat-sifat senang berada bersama-Ku, menyaksikan Aku dan berdekatan dengan-Ku.
Bagaimanapun, penafsiran dari as-Salimi ini penuh metafora dan nuansa sufistiknya kental sekali sehingga bisa membuat bingung orang-orang awam yang mencoba mempelajari maksud dari kata-kata agungnya tersebut.
Pada akhirnya, ketiga huruf Hijaiyyah dalam ayat pertama surah al-Baqarah ini menjadi sebuah isyarat kepada manusia, khususnya orang-orang yang beriman untuk mau terus belajar dan mengkaji apa-apa yang sudah diwahyukan kepadanya sebagai suatu tuntunan dalam menempuh hidup dan kehidupan didunia ini.; al-Qur’an diturunkan bukan untuk Tuhan, al-Qur’an diwahyukan bukan untuk menjadi mantera-mantera sebagaimana ada di film-film misteri ditelevisi, tetapi al-Qur’an diwahyukan agar manusia ini tidak menghambat otaknya dalam memikirkan ayat-ayat Allah sehingga benar-benar bisa menjadikannya pedoman.
Alief-Lam-Miem
Huruf Alief yang berdiri tegak menyerupai pilar penyanggah dalam suatu bangunan yang tanpanya maka bangunan apapun tidak akan pernah bisa berdiri, Alief bisa jadi sebuah cermin kemandirian, keteguhan dan kesetiaan ( bukankah Alief yang menyerupai angka 1 ini juga merupakan huruf pertama yang menyusun kata-kata Allah dan bukankah huruf Alief ini juga simbol dari ke-esaan Allah yang artinya bentuk pengakuan akan keberadaan satu-satunya Tuhan dalam konsep Islam dan prinsip Tauhid adalah melarang menjadikan yang lain sebagai Tuhan ? inilah sebuah pengajaran akan kesetiaan, keloyalitasan dan pengabdian yang sebenarnya )
Huruf Lam yang bagaikan cangkul seakan mengisyaratkan keharusan untuk menggali dan terus menggali ilmu-ilmunya Allah yang tersebar tidak hanya dalam wujud tekstualitas mushaf al-Qur’an namun juga semua ilmu yang ada disemesta raya sebagai tanda-tanda yang harusnya membuat manusia semakin mawas diri.
Sedangkan huruf Miem bagaikan sebuah mata rantai yang bisa mengikat huruf Hijaiyyah apa saja, sebagaimana kita ketahui bersama bahwa hurufMiemdapat berada pada posisi manapun, ditengah didepan ataupun diakhir. Ini seperti yang diungkapkan oleh L.A.Q.Sumabrata tidak ubahnya penggambaran akan sebuah peristiwa bisa merupakan sebab dari peristiwa berikutnya maupun akibat dari peristiwa sebelumnya.
Saya pernah menjelaskan hal ini secara panjang lebar ketika berbicara masalah takdir. Dimana dalam tulisan itu saya menyatakan bahwa takdir masing-masing orang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.
Coba anda bayangkan, bila saja orang yang bernama Thomas Alpha Edison, James Watt, Abraham Lincoln Bell, Bill Gates tidak pernah terlahir didunia ini atau katakanlah mereka terlahir namun tidak menjadi seperti sekarang ini … kira-kira, apakah saat ini kita bisa saling berkenalan seperti ini melalui internet ? Apakah kira-kira peradaban kita sekarang ini sama seperti yang kita jalani saat ini ?
Jawabnya tidak !
Oleh karena mereka ada dan oleh karena hasil kreatifitas mereka maka dunia bisa menjadi seperti ini, kita tidak perlu lagi berkirim surat melalui burung merpati, kita tidak juga perlu lagi mempelajari ilmu telepati karena kehadiran pesawat telepon yang membuat komunikasi bisa terjadi antara 2 orang atau lebih dari tempat yang sangat berjauhan sekalipun, bahkan kita tidak perlu repot memikirkan bagaimana caranya bisa menerima telepon saat sedang berada dijalan raya sebab handphone sudah pula terlahir.
Kita tidak juga bingung membuat sistem pengarsipan manual yang menumpuk kertas sebab sudah ada komputer dan sudah ada pula bermacam aplikasi, bahasa pemrograman dan sarana-sarana penunjang lainnya diciptakan orang.
Bahkan untuk belajar agamapun kita tidak perlu jauh-jauh datang ketanah Arab hanya untuk mempelajari Tafsir al-Mizan, Tafsir at-Thabari, kitab-kitab Hadis dan sebagainya dan seterusnya sebab dengan adanya komputer dan Internet maka kita bisa mempelajarinya bahkan sambil menonton televisi dirumah ditemani secangkir kopi susu dan di-iringi musi lembut Diego Modena lewat Imploranya.
Contoh lain, bila kita menebangi hutan terus-terusan maka karena sebab itu akan mengakibatkan terjadi banjir, tanah longsor dan sebagainya yang bisa saja merugikan orang lain. Begitu pula jika kita ingin anak dan istri kita sholeh, ya harus ada proses pembelajaran bagi mereka dan harus pula ada contoh dari orang yang paling dekat dengan mereka.
Kesimpulannya, dengan sebab takdir orang lain maka kitapun bisa menentukan takdir pada diri kita masing-masing, mau apa, mau jadi bagaimana diri kita, mau sebejat apa atau mau seshaleh apa, mau berjalan keneraka atau berjalan kesurga dan lain sebagainya.
Ini semua membuktikan bahwa hidup adalah suatu rangkaian yang saling berhubungan sampai pada titik paling kecil sekalipun, baik disadari maupun tidak disadari.
Karena itulah makanya orang yang enggan untuk belajar, orang yang enggan untuk mencari tahu tentang kebenaran tidak ubahnya bagaikan orang yang sengaja menganiaya dirinya sendiri. Dia mau syurga tapi malas untuk meraih syurga, dia maunya dapat nikmat tapi tidak pernah mau bersyukur terhadap yang memberi nikmat.
Al-Baqarah ayat 243
Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. Qs. 2 al-Baqarah: 243
Bangsa Indonesia bisa lepas dari penjajahan Belanda dan Jepang, disebabkan adanya aksi, adanya perjuangan.; Kita bisa diterima bekerja dikantor dan sampai bisa mempunyai kedudukan penting, juga karena adanya aksi dari kita untuk belajar dan menguasai ilmu-ilmu tertentu yang dengannya kita bisa seperti sekarang, dan ada banyak lagi contoh lainnya.
ar-ra'ad ayat 11
Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. – Qs. 13 ar-Ra’d 11
Apakah Allah lalu berlepas tangan dalam hal ini ?
Jawaban dari pertanyaan ini akan kembali pada sejauh mana kausalitas pada diri kita telah kita maksimalkan kearah yang positip, menuju kreativitas yang menciptakan hubungan sebab-akibat bagi diri dan sejarah orang lain.
Allah tidak menginginkan seseorang menjadi jahat, bukti bahwa Dia sudah mengutus banyak Nabi dan Rasul-Nya, sudah mengutus para mujahid-mujahid yang memberikan pencerahan disetiap jaman dan tempat sebagai jalan (sebab-akibat) orang lain untuk berbuat baik dan meninggalkan kejahatan.
al-Baqarah 276
Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. -Qs. al-Baqarah  2:276
6-12
Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. -Qs. al-An’am 6:12
Akan halnya seorang penjahat tetap menjadi penjahat, seorang penzinah tetap menjadi penzinah, seorang pengkhianat tetap menjadi pengkhianat itu bukan karena Allah mentakdirkan dirinya harus seperti itu, sebab sekali lagi ini adalah akibat dari sebab yang dia lakukan sendiri :
3-117
Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. -Qs. ali Imran 3:117
4-40
Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarah, dan jika ada kebajikan sebesar zarah, niscaya Allah akan melipat gandakan dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. -Qs. an-Nisa’ 4:40
Semuanya berlaku sama,
17-15
Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (kehendak Allah [nilai-nilai positip]), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. -Qs. 17 al-Israa’ :15
Kita semua dilahirkan dengan membawa sifat baik dan buruk, ini fitrah (sesuatu yang natural) sebagai bekal dan bukti kemanusiawian kita, saat kita hanya dibekali dengan sifat yang baik saja maka ini bukan fitrah dan tentu kita bukan manusia, begitupula bila kita hanya dibekali sifat buruk saja maka itupun bukan fitrah.
Fitrahnya kita ya seperti ini, tinggal lagi mau bagaimana kita memprogram fitrah yang ada.
Jika anda yakin hidup anda akan happy ending maka berupayalah agar itu bisa menjadi terwujud, kejar dan cari takdir tersebut dari sekian juta atau sekian milyar takdir-takdir anda yang ada di Lauhful Mahfudz.
Allah memang merencanakan semua makhluk-Nya berakhir bahagia, akan tetapi Allah memberikan kebebasan bagi manusia untuk tetap menentukan model bahagia seperti apa dan akhir yang bagaimana yang dia inginkan.
2-185
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. -Qs. al-Baqarah 2:185
Rencana Allah tidak berjalan dengan mengabaikan hukum-hukum yang pun sudah ditetapkan-Nya sendiri.
33-62
Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. -Qs. 33:62
Kita berdoa dan berusaha dalam hidup ini agar semua modul-modul dari semua sintaksis pemrograman Allah yang teramat sangkat kompleks ini berjalan dengan baik, kita berdoa agar Allah memberikan bantuan (mengintervensi) atas semua usaha yang kita lakukan dengan memberikan jalur link pada hukum sebab-akibat yang baik, sholeh dan positip.
52-21
Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.Tiap-tiap manusia terikat dengan apayang dikerjakannya. -Qs. 52 ath-Thuur :21
2-186
Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. -Qs. 2 al-Baqarah: 186
Demikianlah pembahasan seputar ayat pertama dari surah al-Baqarah ini.
Mungkin ada diantara anda yang menyebut : ah itu kan hanya bisa-bisanya Armansyah saja, padahal itu kan hanya 3 huruf yang tidak perlu dicari-cari penafsirannya, biarlah Allah yang tahu.
Saya jawab disini, hidup penuh dengan falsafah simbol-simbol yang menuntut kepada kita untuk diterjemahkan kedalam bahasa verbal yang bisa dimengerti.
Dalam al-Qur’an ada ayat misalnya yang berkata :
Dan langit, bagaimana ia ditinggikan. – Qs. 88 al-Ghasyiyah 18
Sebagai sebuah simbol yang memerlukan kajian dengan semua aspek keilmuan yang mengharuskan pula pencapaian pola peradaban yang semakin maju agar kita mengerti hukum-hukum yang berkaitan dengan alam semesta.
Lagi-lagi … Iqra … Iqra, belajar dan belajarlah.
Benar bahwa tidak kita dapati dalam kitab-kitab hadis penjelasan panjang lebar dari Nabi Saw mengenai surah al-Baqarah ayat 1 ini, tetapi ini tidak bisa langsung diasumsikan bahwa Nabi tidak pernah memberitahukan maknanya kepada masyarakat Islam kala itu.; Sebab bila demikian yang ada dikepala kita, maka artinya Nabi sudah menyembunyikan penjelasan yang mestinya harus beliau paparkan.
Bisa saja riwayat tentang ini tidak sampai ketangan kita dan akhirnya menjadi bagian dari ayat-ayat Mutasyabihat yang oleh Allah agar bisa menjadi bahan pembelajaran dan kajian bagi orang-orang yang berilmu pada generasi selanjutnya.
Toh Abu Hurairah misalnya kita kenal sebagai orang yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Nabi, namun coba perhatikan juga apa yang disampaikannya sebagaimana bisa dilihat pada Shahih Bukhari hadis ke-86 : Aku telah menghafal dari Rasulullah Saw dua karung hadis, yang satu aku siarkan dan yang satu lagi bila aku siarkan niscaya leherku ini dipenggal orang.

Jadi Abu Hurairah sendiri -dengan berbagai situasi yang dihadapinya- memilih untuk tidak menyampaikan sejumlah hadis-hadis lain dari Nabi yang katanya perimbangannya sama seperti yang beliau sampaikan dan kita kenal sekarang ini.

Harus diakui secara jujur bahwa tidak semua pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an dari beliau itu kita temukan dalam hadis-hadis yang beredar ditengah masyarakat muslim dewasa ini, bahkan jangankan hal tersebut, sedang asbabun nuzul masing-masing ayat dalam 30 juz al-Qur’an pun tidak semuanya terdapati dalam kitab-kitab hadis sekelas Bukhari dan Muslim serta yang lainnya, sama seperti misalnya tidak adanya himpunan khotbah-khotbah Jum’at beliau Saw yang terdokumentasikan secara utuh oleh para perawi hadis dalam masa hidup beliau Saw semenjak diutus sebagai Nabi dan semenjak syariat sholat Jum’at menjadi kewajiban hingga wafatnya.
Menyikapi yang demikian, Imam Ali bin Abu Thalib berkata :

Sesungguhnya hadis-hadis yang beredar dikalangan orang banyak, ada yang haq dan ada yang batil.; Yang benar dan yang bohong.; Yang nasikh dan yang mansukh, yang berlaku umum dan khusus. Yang muhkam dan yang mutasyabih.
Adakalanya ucapan-ucapan Rasulullah Saw itu memiliki arti dua segi, yaitu ucapan yang bersifat khusus dan yang bersifat umum. Maka sebagian orang mendengarnya sedangkan ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Rasulullah Saw. Lalu sipendengar membawanya dan menyiarkannya tanpa benar-benar memahami apa artinya, apa yang dimaksud dan mengapa ia diucapkan.
Dan tidak semua sahabat Rasulullah Saw mampu bertanya dan minta penjelasan dari Beliau. Sampai-sampai seringkali merasa senang bila seorang Badui atau pendatang baru bertanya kepada Beliau, karena merekapun dapat mendengar penjelasan beliau.
[ Saya ringkas dari buku Mutiara Nahjul Balaghah, terjemahan Muhammad al-Baqir, Syarh oleh Muhammad Abduh, Hal 31-32, terbitan Mizan 1999 ]

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.,
Armansyah

Tafsir Alhamdu…

Tafsir Alhamdu…
Oleh : Armansyah
Penulis buku “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih” & “Jejak Nabi Palsu”

 

Terjemahan : Segala puji untuk Allah, Robb seluruh makhluk

 

Alhamdu = segala puji.

Puji atau memuji adalah aktivitas penyanjungan, yang mana ini adalah sebuah pernyataan bahwa sesuatu itu biasanya bersifat lebih baik dari yang lain bahkan dari dirinya sendiri sekalipun.

 

Kata segala identik dengan semua yaitu kumpulan dari apapun yang ada …

Saat kata terjemahan ” segala ” disambung dengan kata ” puji ” dan kata ” Allah ” maka jadilah dia ” Segala puji buat Allah” yang bermakna pemujaan, penyanjungan dan bentuk rasa syukur kepada Allah azza wajalla.

 

Robbi bisa berarti pendidik, pemelihara, pengelola, pengatur, kepemilikan,

Robbi juga bisa identik dengan kata Tuan dalam bahasa Indonesia yang artinya majikan.

 

Disamping itu dilapangan kita lihat mayoritas umat Islam di-Indonesiapun menyamakan istilah Robbi dalam bahasa Arab dengan istilah Tuhan dalam bahasa Indonesia, mungkin dari satu sisi hal ini bisa diterima akan tetapi kata Tuhan sebenarnya tidaklah terlalu pas untuk menterjemahkan istilah Robbi pada bahasa Arab yang sangat kaya dengan penafsiran, hakekat, makna sampai kepada synonimnya. Namun dalam dialog sehari-hari memang akan menjadi sebuah beban tersendiri bila kita terlalu memaksakan kehendak mendebat penggunaan kalimat Tuhan sebagai pengganti dari kata Robbi ini.

 

Sejumlah orang juga sering menyepadankan arti dari Robb dengan kata ” Maha Pencipta “, namun menurut saya inipun juga kurang tepat.

 

Alasannya :

 

 

Wahai manusia, sembahlah Robb-mu yang telah menciptakanmu (kholaqokum) dan … -Qs. 2 al-Baqarah: 21

 

atau

 

 

Sebenarnya Robb kamu adalah Robb langit dan bumi yang telah menciptakannya ….Qs. 21 al-Anbiya: 56

 

Jika kata Robb dipadankan dengan arti sebagai pencipta maka dikedua ayat diatas akan terjadi pengulangan kata yang tidak perlu,  yaitu kata “yang telah menciptakanmu” atau kata “yang telah menciptakannya”, sehingga bisa menjadi kalimat : Wahai manusia, sembahlah penciptamu dan orang-orang sebelummu … atau Sebenarnya penciptamu adalah pencipta langit dan bumi …

 

Jika kita meletakkan kata al-khaliq (pencipta) sebagai ganti kata ar-rabb pada kedua ayat di atas, maka tidak lagi diperlukan penyebutan kata “yang telah menciptakanmu” dan kata “yang telah menciptakannya”. Sebaliknya, jika kita mengatakan bahwa arti kata ar-rabb adalah pengatur atau pengelola atau juga Pemelihara, maka di sana tetap diperlukan penyebutan kata “yang telah menciptakanmu” dan kata “yang telah menciptakannya”. Sehingga dengan demikian, makna ayat yang pertama ialah “sesungguhnya Zat yang telah menciptakan-mu adalah pengatur urusanmu”, sementara pada ayat yang kedua ialah “sesungguhnya pencipta langit dan bumi adalah penguasa dan pengatur keduanya.”

 

Lalu kata ‘aalamin …

Dalam pemandangan saya tidaklah selamanya bisa diartikan dengan seluruh alam atau semesta alam ( melingkupi semua penciptaan, mulai dari bintang, planet, bulan, matahari, binatang, tumbuh-tumbuhan, tanah, air, udara, manusia dan sebagainya ).

 

Disejumlah besar ayat-ayat al-Qur’an, kata ini justru lebih tepat bila diartikan sebagai ” seluruh manusia “, hal ini misalnya bisa kita lihat dalam surah 6 ( al-an’am ) ayat 90, surah 12 ( Yuusuf ) ayat 104, surah 38 ( Shaad ) ayat 87, surah 68 ( al-Qalam ) ayat 52 dan surah 81 ( at-Takwir ) ayat 2 dimana diayat-ayat ini disebutkan ” pemikiran bagi ‘aalamin “.

 

Yang memiliki aktivitas berpikir itu khan pastinya manusia yang mempunyai akal dan bisa membuat sebuah keputusan akan perbuatannya … bukan makhluk lain diluar itu apalagi jika memasukkan benda padat dan cair kedalamnya. Dalam hal ini bangsa Jin pun ( untuk jenis-jenis tertentunya ) mungkin bisa dikategorikan sebagai ” manusia ” dalam pengertian makhluk yang berakal pikiran sehingga termaktub dalam istilah ‘aalamin ini, hal ini didasarkan juga  atas kenyataan yang dipaparkan oleh sejumlah ayat-ayat al-Qur’an mengenai komunitas mereka yang kurang lebih sama seperti kita ( Acuan : Qs. 6 al-an’am : 100 ;  Qs. 6 al-an’am : 128 ; Qs. 6 al-an’am : 130 ; Qs. 7 al-a’raf  : 38 ; Qs. 7 al-a’raf  : 179  dan seterusnya ).

 

Istilah ‘aalamin sendiri berasal dari kata ‘alama yang berarti ” mengetahui ” dan ini memang merujuk pada sesuatu yang bisa mencari tahu, bisa belajar dan bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil.

 

 

Demikian.,
Wassalam.,
Armansyah

Tafsir Basmalah…

Tafsir Basmalah…
Oleh : Armansyah
Penulis buku “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih” & “Jejak Nabi Palsu”

 

BI ISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM

 

  

Ayat ini terdiri dari suku kata :

 

Bi ismi             : Dengan (atas) nama

Al-laah             : Maha Tuhan

Ar-Rahmaan     : Maha Pengasih (pemurah)

Ar-Rahiim        :  Maha Penyayang (Cinta)

 

 

Sepintas, jika kita perhatikan terjemahan kata demi kata, sepertinya tidak ada hal yang istimewa dan sama sekali tidak mengandung suatu rahasia. Benarkah ?

Mari kita lihat.

 

Kata “Bi ismi” yang diterjemahkan menjadi “Dengan atau atas nama”, memiliki arti sangat dalam, yaitu bertindak mewakili. Sebab seseorang yang berani menyebut diri sebagai “mewakili” sesuatu, maka itu berarti orang tersebut sudah sangat (atau setidaknya sudah) mengenal siapa yang diwakilinya.  Tidak saja, dia mengenal siapa yang diwakilinya, tetapi dia juga mengetahui secara jelas dia akan mewakili dalam hal apa.

 

Kata “Bi ismi Allah” atau “Bismillah …” mengandung arti bahwa seseorang yang menyebut kata itu adalah orang yang mewakili “Allah”  Sang Maha Tuhan. Jika ada

“Maha Tuhan”, tentulah ada tuhan-tuhan yang tidak Maha. Apakah yang dimaksud dengan Tuhan ? Tuhan dalam bahasa Indonesia bisa berarti sesuatu yang dipatuhi, sesuau yang menjadi tempat pemujaan, penyembahan, ketaatan dan sejenisnya.

 

Jadi siapa pun dan apa pun yang masuk dalam kriteria tersebut diatas pada dasarnya dia itu bisa disebut dengan tuhan. Kita patuhi atasan, maka atasan itu adalah tuhan. Kita patuhi komputer, maka komputer itu adalah tuhan. Kita patuhi pemilik uang, maka pemilik uang itu adalah tuhan. Kita patuhi kesenangan untuk menonton sepak bola, maka kesenangan untuk menonton sepak bola itu adalah tuhan juga. Akan tetapi diatas semua itu hanya ada satu yang benar-benar tuhan, yaitu sesuatu yang segala sesuatu lainnya tadi selalu patuh dan berhajat hanya kepada-Nya.

 

Dialah Allah, Tuhan yang Esa, Tuhan dari semua tuhan-tuhan yang diciptakan maupun terbentuk secara sadar dan tidak sadar oleh semua makhluk-Nya, Dialah Tuhan yang memiliki segala kerajaan dilangit dan dibumi, Tuhan yang tidak pernah beranak maupun diperanakkan dalam berbagai sifat maupun penafsiran-Nya.

 

Pada ayat pembuka dari semua surah al-Qur’an ini, Allah itu disebutkan memiliki  sifat-sifat : Ar-Rahmaan, yang berarti Maha Pengasih kepada semua yang membutuhkan sesuatu kebutuhannya dan Ar-Rahiim, yang berarti Maha Penyayang atau Maha Mencitai kepada semua yang membutuhkan Cinta.

 

MEWAKILI SIFAT AR-RAHMAAN

 

Kita tahu semua makhluk hidup termasuk kita memiliki kebutuhan pokok untuk hidupnya. Misalnya kita butuh udara, kita butuh air, kita butuh cahaya, kita butuh tenaga dan lain sebagainya. Semua ini telah disediakan oleh Allah. Kita tinggal mengambilnya dan tinggal menikmatinya. Maka sifat Ar-Rahmaan yang ada pada Allah ini juga akan diwakili oleh orang yang menyebutkan dirinya telah mewakilinya.

 

Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. -Qs. 35 Faathir :39

 

Apa yang dilakukan oleh orang yang mewakili sifat ini ? Ialah selalu bersedia menolong “mengambilkan” seluruh kebutuhan yang dibutuhkan oleh makhluk Allah.

 

 

Jika ada anjing yang kehausan, maka dia akan mengambilkan air untuk diminum bagi anjing itu. Jika ada orang kelaparan, maka dia dengan senang hati akan menolong mencari dan mengambilkan makanan dan minuman untuk orang yang kelaparan itu. Pendeknya, kapan saja dia menemukan makhluk yang memerlukan kebutuhannya, maka tugas “wakil Allah” itu adalah menolong menyediakan dan memberikan kepada makhluk tersebut.

 

MEWAKILI SIFAT AR-RAHIIM

 

Ar-Rahiim adalah salah sifat Allah yang bermakna bahwa Allah itu adalah satu-satunya yang Maha Menyayangi hamba-Nya. Di dalam suatu keluarga, orangtua mengasihi seluruh anak-anak mereka. Namun demikian, kadangkala tidaklah semua anak disayanginya. Mungkin hanya satu atau dua yang disayanginya disebabkan bermacam hal yang menyebabkannya. Adakalanya seorang orangtua sangat sayang kepada anaknya karena anak itu selalu mengerti apa yang diinginkan oleh orangtuanya.

 

Ada kalanya juga karena anak itu selalu patuh kalau disuruh melakukan sesuatu.

Ada kalanya karena anaknya cacat dan menderita sejak lahir. 

 

Latar belakang sehingga orangtua sangat menyayangi seorang anaknya memiliki kondisi yang berbeda-beda, sesuai dengan kondiri mereka masing-masing. Begitu juga terhadap seorang manusia yang mencintai lawan jenisnya. Ada kalanya bukan karena cantik dan gagahnya. Adakalanya bukan karena kayanya. Adakalanya bukan karena tutur-katanya.

 

Namun jika misalnya, orangtua sudah sangat menyayangi anaknya, maka apapun yang

dimintanya pasti akan diberikannya. Kalau belum ada, maka akan dicarikannya. Seseorang yang mencintai seseorang lawan jenisnya, maka dia akan berusaha memenuhi semua yang dibutuhkan oleh yang dicintainya itu.

 

Maka orang yang mewakili sifat Allah Ar-Rahiim ini, dia akan selalu menyayangi seluruh makhluk Allah ketika dia menemukan ada makhluk Allah yang menderita kesusahan padahal seluruh kebutuhan hidupnya sudah terpenuhi. Dia akan bertindak sebagai “Ayah kepada anak yang disayanginya” tanpa membeda-bedakan siapa makhluk itu.

 

Jika  dia menemukan seekor harimau terjepit pohon yang tumbang, maka dengan kasih sayangnya, ditolongnya harimau itu dengan menyingkirkan pohon yang menghimpitnya. Dia tidak akan sembarangan membunuh binatang jika bukan karena memang dibutuhkannya.

 

Tentu saja, orang yang mewakili sifat Ar-Rahiim ini tidak akan mau menyakitkan hati orang atau makhluk lainnya, karena dia yakin, jika dia menolong makhluk Allah, tentulah Allah akan selalu menolong dia.

 

Bila Aku mencintai hamba-Ku, maka :

Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar

Menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat

Menjadi tangannya yang dengannya ia memukul keras

dan menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan

Jika ia memohon kepada-Ku sungguh akan Aku karuniakan dirinya

Dan bila ia memohon perlindungan-Ku, Aku akan melindunginya

Hadist Bukhari

 

Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, akupun mendekat kepadanya sehasta

Dan jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, niscaya Aku mendekat kepadanya sedepa

Dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, maka Aku mendatanginya sambil berlari

Hadist Riwayat Syaikhani dan Turmudzi dari Abu Hurairah

 

MULIANYA ORANG YANG MENYATAKAN :

BISMILLAHIR RAHMAANIR RAHIIM

 

Betapa mulianya orang yang menjadi wakil Allah itu bukan ? Beranikah kita mewakili Allah dengan sifat-sifatnya ? Maka setiap kita menyebutkan ayat “Bismillaahir rahmaanir rahiim”, itu berarti  kita telah menyatakan bahwa diri kita dengan sepenuh hati bersedia bertindak mewakili Allah untuk menyebarkan dan mencontohkan sifat kasih dan sifat sayangnya itu kepada seluruh makhluk Allah. 

 

Jika bersedia, maka mulailah segala sesuatunya dengan pernyataan “Bismillahir rahmaanir rahiim”. Jika belum mampu, maka belajar adalah jalan terbaik untuk menjadi mampu. Allah hanya membebani kita sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

 

Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya dan Dia telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. -Qs. 65 at-Thalaaq :3

 

 

Untuk kita renungkan bersama :

 

Bahagialah mereka yang diamnya berfikir, memandangnya mengambil pelajaran, mendengarnya mengambil hikmah, dan dalam tindakannya orang mengenal indahnya ajaran Islam.

 

“If you are not a part of the solution, You are a part of the problem”

 

 

 

Demikian.,
Wassalam.,
Armansyah

Tafsir ‘Audzubillah…

Tafsir ‘Audzubillah…
Oleh : Armansyah
Penulis buku “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih” & “Jejak Nabi Palsu”
Terjemah : Apabila kamu membaca al-Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang dirajam.
– Qs. 16 an-Nahl : 98
Ayat diatas selanjutnya menjadi sebuah justifikasi didalam Islam bahwa setiap kali akan membaca al-Qur’an ( khususnya dalam bahasa Arab ) maka seyogyanya untuk membaca kalimah :
Terjemahan bebasnya : Aku berlindung kepada Allah dari setan yang dirajam
Mari sekarang kita bahas ayat ini bersama-sama berdasar kata ( pada terjemahan ) yang saya garis bawahi diatas…
1. Aku
– Ini adalah simbol dari diri kita sebagai pribadi mandiri
– Kata ini melambangkan egoisme individual
– Tunggal dalam arti tidak melibatkan pihak lain diluar diri kita
– Bentuk pengukuhan atas eksistensi diri
– Kata yang sarat dengan rasa sombong, angkuh dan subyektif
Misal :
* Ini punya AKU !
* Hanya AKU yang bisa begini dan begitu !
* AKU adalah AKU !
* Ini Kehendak AKU !
* dst
2. Berlindung
– Ini adalah lambang kepengecutan
– Bentuk ketidak berdayaan
– Upaya bertahan
– Upaya menghindar sesuatu yang tidak bisa dia kendalikan
– Upaya penyelamatan diri
Bila digabung kata 1 + kata 2 menjadi : Aku Berlindung
Artinya : sebuah bentuk pernyataan kelemahan diri kita sebagai pribadi yang bermodulkan rasa egoisme, kesombongan, keangkuhan dari sesuatu yang sifatnya mengancam.
Jadi dari sini saja sebenarnya ada sebuah kesimpulan : Aku bukanlah benar-benar AKU … atau dalam bahasa yang lebih modernis = we are nothing !
Inilah bukti betapa manusia ini sebenarnya lemah, tiada berkuasa sedikitpun untuk mengendalikan sesuatu agar tidak terjadi pada dirinya, dia masih butuh sesuatu yang lain diluar dirinya yang dia anggap mampu memberikan proteksi atas kejadian yang tidak bisa dia kendalikan tadi.
Dalam bahasa persamaan : AKU = aku ; artinya semua kebesaran diri kita, semua kekuasaan kita, semua kehebatan diri kita … ini ada batasnya.
AKU ternyata perlu sesuatu untuk menyelamatkan KEAKUAN ini … dan dalam hal ini satu-satunya yang bisa melakukan semua itu adalah Allah Ta’ala.
Olehnya benarlah firman Allah yang lain :
Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah maha kaya tidak butuh sesuatu apapun lagi maha terpuji – Qs. 35 Fathir : 15
Allah tidak butuh perlindungan dari apapun, Allah tidak juga butuh ketergantungan dengan siapapun, Dia adalah Qiyamuhu Binafsihi, Dia adalah mukhalafatuhu lilhawadith dan Dia adalah Laisa kamaslihi syai’u sebagaimana firman-Nya :
Allah pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak atas sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: ” Jadilah”. Lalu itupun terjadilah -Qs. 2 al-Baqarah: 117
Karena itulah sebaiknya kita ini mawas diri, jangan pernah mencoba mengambil alih haknya Tuhan dengan bertingkah seolah AKU adalah segalanya, tanpa AKU kau tidak ada apa-apanya, jika bukan AKU kau pati hancur dan berbagai bentuk KEAKUAN kita lainnya.
3. Dari setan
Lihatlah, kita ini makhluk dan untuk menghadapi keganasan dari makhluk lain yaitu dalam hal ini adalah setan maka kita yang penuh KEAKUAN ini memang butuh perlindungan kepada yang bukan makhluk, kita butuh Khaliq yang menciptakan semua makhluk.
Sekarang siapa sih Setan ?
Setan atau Syaithan (شَيْطَانٌ) dalam bahasa Arab diambil dari kata (شَطَنَ) yang berarti jauh. Ada pula yang mengatakan bahwa itu dari kata (شَاطَ) yang berarti terbakar atau batal. Pendapat yang pertama lebih kuat menurut Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir, sehingga kata Syaithan atau setan artinya yang jauh dari kebenaran atau dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala (Al-Misbahul Munir, hal. 313).

Bagi sebagian kalangan, apabila mendengar kata Setan, maka seketika pikirannya biasanya akan langsung membayangkan sesosok makhluk yang seram, hitam, bertanduk dikepalanya, kedua matanya merah, gigi tajam tak ubahnya drakula, dan memiliki ekor dengan ujungnya seperti anak panah.

Akan tetapi apakah memang demikian keadaan setan sebenarnya ?
Jika kita membuka lembaran-lembaran kitab suci dan juga hadis-hadis yang meriwayatkan perihal setan itu sendiri, ternyata kita TIDAK akan menemukan penggambaran sosok setan seperti yang kita bayangkan itu. Tidak ada keterangan apapun dari Allah didalam al-Qur’an maupun juga dari Rasul didalam Hadisnya mengenai perwujudan asli dari makhluk yang bernama setan ini.
Satu hal lain yang sangat lumrah terjadi dimasyarakat, bila kita menyebut setan maka biasanya kitapun akan sering mengindentikkannya dengan Iblis, yaitu suatu makhluk yang diceritakan oleh al-Qu’ran sebagai pembangkang perintah Tuhan saat disuruh bersujud kepada manusia yang oleh Tuhan berfungsi sebagai Khalifah dibumi (Lihat Qs. 2 al-Baqarah : 34, Qs. 7 al-A’raaf : 11, Qs. 15 al-Hijr : 31, Qs. 17 al-Israa’ : 61, Qs. 18 al-Kahfi : 50, Qs. 20 Thaaha : 116 dan Qs. 38 Shaad : 74).
Menurut Encyclopedia Britannica, kata setan sebenarnya berasal dari bahasa Ibrani yang berarti “musuh” dan biasanya ditujukan kepada jenis Jin yang ingkar dan melakukan bisikan jahat terhadap manusia sebagai tindakan godaan dan kesuksesan mereka adalah bergantung dari kecerdikannya.
Pernyataan tersebut tidak bertentangan dengan pernyataan al-Qur’an maupun hadis Nabi berikut :
Kami jadikan para Nabi itu musuh-musuh setan, yaitu dari jenis manusia dan Jin – Qs. 6 al-an’am : 112
Sungguh, aku melihat setan-setan Jin dan manusia lari dari Umar
– Hadis Riwayat Tirmidzi
Dari ayat dan hadis tersebut, digambarkan oleh al-Qur’an bahwa setan itu terbagi atas dua jenis, yaitu setan dalam wujud manusia dan setan dalam wujud Jin. Dan dari sini juga ada indikasi bahwa yang namanya setan itu tidak selamanya identik dengan Iblis.
Allah menjadikan setan dari jenis manusia, seperti halnya setan dari jenis jin. Dan hanyalah setiap yang durhaka disebut setan, karena akhlak dan perbuatannya menyelisihi akhlak dan perbuatan makhluk yang sejenisnya, dan karena jauhnya dari kebaikan. (Tafsir Ibnu Jarir, 1/49)

Ibnu Katsir menyatakan bahwa syaithan adalah semua yang keluar dari tabiat jenisnya dengan kejelekan (Tafsir Ibnu Katsir, 2/127). Lihat juga Al-Qamus Al-Muhith (hal. 1071).
Sementara Ibnu Jarir menyatakan, syaithan dalam bahasa Arab adalah setiap yang durhaka dari jin, manusia atau hewan, atau dari segala sesuatu.
Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau berada di masjid. Akupun duduk. Dan beliau menyatakan: “Wahai Abu Dzar apakah kamu sudah shalat?” Aku jawab: “Belum.” Beliau mengatakan: “Bangkit dan shalatlah.” Akupun bangkit dan shalat, lalu aku duduk. Beliau berkata: “Wahai Abu Dzar, berlindunglah kepada Allah dari kejahatan setan manusia dan jin.” Abu Dzar berkata: “Wahai Rasulullah, apakah di kalangan manusia ada setan?” Beliau menjawab: “Ya.”
Ibnu Katsir menyatakan setelah menyebutkan beberapa sanad hadits ini: “Inilah jalan-jalan hadits ini. Dan semua jalan-jalan hadits tersebut menunjukkan kuatnya hadits itu dan keshahihannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/172)

Yang mendukung pendapat ini juga hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Muslim:الْكَلْبُ اْلأَسْوَدُ شَيْطَانٌ

“Anjing hitam adalah setan.”
Ibnu Katsir menyatakan: “Maknanya –wallahu a’lam– yaitu setan dari jenis anjing.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/173)
Ini adalah pendapat Qatadah, Mujahid dan yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Katsir, Asy-Syaukani dan Asy-Syinqithi.

( Teks yang miring diatas dikutip dari http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=349 )

Jadi sekali lagi : Iblis tidak selamanya = Setan
Maka sujudlah mereka kecuali Iblis, adalah dia dari golongan jin
– Qs. 18 al-Kahfi : 50
Jadi, Iblis itu sendiri dinyatakan Allah berasal dari golongan Jin, tidak ada Iblis dari golongan manusia, sehingga mengidentikkan antara Iblis dan Setan tidaklah selamanya benar.

Lalu, setan dari jenis manusia itu apa dan bagaimana ?
Sabda Nabi :
Apabila tiba bulan Ramadhan, dibukalah pintu langit, dikunci pintu neraka dan setan dibelenggu
Hadis Riwayat Bukhari dari Abu Hurairah
Pernyataan Nabi bahwa pintu langit dibuka pada bulan Ramadhan tentunya dimaksudkan sebagai terbukanya pintu rahmat dan pintu ampunan Allah bagi para hamba-Nya yang berpuasa, sementara terkuncinya pintu neraka adalah tertutupnya pintu azab Allah selagi kita menggunakan kesempatan dibulan suci itu untuk melakukan introspeksi diri (bahasa agamanya : bertaubat) serta memperbanyak amal ibadah.
Dan pernyataan setan dibelenggu pada bulan Ramadhan juga tidak mungkin kita artikan secara kontekstual yang sebenarnya, sebab memang pada kenyataannya dibulan Ramadhan masih banyak kejahatan merajalela, penyembahan berhala, minum-minuman keras, main perempuan dan aneka tindak kriminal lainnya.
Jadi, yang dimaksud oleh Nabi itu tidak lain adalah pada bulan Ramadhan itu sewajarnya hawa nafsu kejahatan yang senantiasa ada pada diri manusia itu lebih terkekang karena simanusianya seharusnya sibuk melakukan pendekatan diri kepada Tuhan, banyak melakukan dzikir serta menahan makan dan minum yang merupakan sumber dari timbulnya nafsu negatif.
Kesimpulan ini sesuai juga dengan sabda Nabi yang lain :
Sesungguhnya setan itu berjalan pada manusia melalui tempat jalannya darah Maka persempitlah tempat jalannya dengan lapar
Hadis Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ibnu Majah
Tidaklah mungkin pada tubuh kita ini ada setan (dalam pengertian makhluk Jin) yang berdiam, sebab jika itu benar maka kita semua ini bisa dikatakan kesurupan setiap hari, karena itulah maka yang disebut sebagai setan itu adalah dorongan negatif yang selalu berusaha mendominasi semua perbuatan dan pikiran kita setiap waktu (seiring dengan perjalanan darah).
Bukankah Nabi juga pernah bersabda tatkala beliau kembali dari medan perang :
Kita baru saja kembali dari peperangan kecil menuju keperang yang besar Yaitu perang melawan hawa nafsu
– Hadis Riwayat al-Khatib dari Jabir
Pada Hadis yang sudah kita kutip sebelumnya Nabi menyatakan bahwa lapar (berpuasa) merupakan salah satu cara mengekang diri dari tindakan negatif yang justru merugikan diri kita sendiri.
Sabda Nabi yang lain :
Jika kalian mendengar suara keledai maka belindunglah kepada Allah dari setan. Karena sesungguhnya dia melihat setan
– Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim
Sekali lagi, jika memang didalam diri manusia ini ada setan dalam pengertian makhluk halus, maka apakah setiap keledai melihat manusia juga pasti akan bersuara (melenguh) sebab pada saat yang sama seharusnya dia juga melihat setan didalam diri manusia ?Sementara jika kita mengartikan setan sebagai energi negatif atau dorongan nafsu untuk berbuat kejahatan (menentang jalan Tuhan) maka hal ini sesuai dengan pernyataan al-Qur’an :

Lalu ALLAH mengilhamkan kepada jiwa (Nafs) itu (nilai-nilai) fasiq dan (nilai-nilai) taqwa – Qs. 91 asy-syams : 8

Bersesuaian pula dengan teori yang ada pada ilmu Psiko-linguistik yang menyatakan bahwa manusia dilahirkan didunia bukan dengan piring kosong (teori Tabula rasa), manusia dilahirkan dengan dibekali faculties of the mind atau ada juga yang mengistilahkannya sebagai innate properties (Soenjono Dardjowidjojo, Psiko-linguistik : Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia, Yayasan Obor Indonesia, 2003).
Semuanya berpulang kepada kita, mana yang akan kita ikuti, apakah semangat berbuat kebaikan ataukah semangat untuk berlaku jahat ?
Ketahuilah, bahwa didalam jasad ada gumpalan, bila gumpalan itu baik maka baiklah seluruh jasad dan apabila rusak maka rusaklah seluruh jasad ketahuilah bahwa itulah hati – Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim
Semakin kita condong pada perbuatan negatif (hawa nafsu), maka Iblis yang sejak awal mengumumkan permusuhannya dengan manusia, akan mengerahkan semua bala tentaranya dari kalangan Jin yang juga memiliki sifat jahat untuk menambah semangat kita berbuat hal yang batil dengan jalan membisik-bisikkan rayuan fatamorgana didalam hati.
Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka – Qs. 3 an-nisa’ : 120
… Kejahatan setan yang biasa bersembunyi, yang berbisik kedalam dada manusia dari Jin dan manusia – Qs.114 an-nas : 4 – 6
Kita semua sudah mengetahui bahwa antara ALLAH dan Iblis telah terjadi satu perjanjian dimana Iblis diberi kebebasan oleh Tuhan untuk mengadakan cobaan serta ujian atas keimanan manusia terhadap-Nya.
Dan ajaklah siapa yang kamu sanggupi diantara mereka dengan ajakanmu, kerahkanlah kepada mereka pasukanmu yang berkendaraan dan pasukanmu yang berjalan kaki lalu bersekutulah bersama mereka dalam urusan harta dan anak-anak dan berilah mereka janji – Qs. 17 al-Isra : 64

Disamping itu, mungkin kita juga perlu melakukan kajian secara komprehensif terhadap beberapa hadis Nabi yang menghubungkan penyakit dengan setan dan menghubungkan pula antara suatu perbuatan dengan setan misalnya :
Hendaklah seseorang diantara kamu makan, minum dan mengambil dengan tangan kanannya karena setan itu makan, minum dan memberi dengan tangan kirinya – Hadis Riwayat Ibnu Majah
Apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaklah diletakkan tangannya dimulutnya dan tidak memanjangkan suaranya, karena sungguh setan mentertawakannya – Hadis Riwayat Ibnu Majah
Tutuplah bejana, tutuplah tempat-tempat air, tutuplah pintu dan padamkanlah lampu Sebab setan tidak singgah ditempat air yang tertutup, tidak membuka pintu tertutup Serta tidak membuka bejana yang tertutup – Hadis Riwayat Bukhari
Janganlah kalian kencing dilobang – Hadis Riwayat Abu Daud, Nasa’i dan Ahmad
Jangan kalian melepas ternak-ternak kalian dan anak-anak kalian saat matahari terbenam hingga kegelapan malam, sebab sungguh, setan bergentayangan saat matahari terbenam hingga hilang gelapnya malam – Hadis Riwayat Muslim
Beberapa hadis diatas meskipun teksnya dihubungkan dengan setan, namun bisa kita tinjau dari sisi tata krama, medis maupun keselamatan.
Orang yang makan, minum atau melakukan aktivitas dengan tangan kirinya berkesan orang yang tidak sopan dan jorok, sebab secara umum, tangan kiri kita gunakan untuk –maaf- mencebok sisa kotoran dipantat. Lalu secara psikologis, apakah kita mau makan makanan yang bersih dan sehat dengan tangan yang biasa memegang kotoran ?
Lalu bayangkan kita menguap lebar-lebar sambil bersuara “hhaaaahhh…” ditengah orang banyak atau didekat orang yang anda sayangi ataupun malah didalam suatu rapat, apa kesan orang-orang tersebut kepada kita ? Selain itu jika saat kita menguap lebar itupun akan memungkinkan virus-virus tertentu yang ada diudara masuk melalui mulut.
Perintah Nabi untuk menutup tempat-tempat air yang terbuka, mematikan lampu dan menutup pintu tidak lain agar makanan dan minuman kita bersih dari penyakit yang berbahaya seperti jentik nyamuk demam berdarah atau jilatan binatang sejenis kucing, tikus dan sebagainya.
Mematikan lampu sebelum tidur adalah langkah efisiensi atau penghematan sekaligus mencegah terjadinya arus pendek yang bisa mengakibatkan kebakaran apalagi pada masa lalu orang menggunakan lampu teplok dan lilin untuk penerangan sehingga tidak menutup kemunginan lampu teplok itu jatuh kelantai dan mengenai kain sehingga terjadi kebakaran.
Dan larangan kencing dilobang menurut saya agar tidak timbul penyakit maupun aroma tak sedap dari lobang bekas kencing, ini tentu saja pengecualian bagi lobang WC yang bisa disiram sehingga tidak menimbulkan bau dan penyakit sebagaimana pernah diungkapkan oleh Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manarnya bahwa makhluk-makhluk hidup yang halus yang dikenal orang sekarang dengan perantaraan mikroskop dan diberi nama mikroba ada kemungkinan juga termasuk jenis Jin jahat (setan) yang menjadi penyebab dari berbagai macam penyakit (Syaikh Muhammad al-Ghazali, Studi Kritis atas Hadis Nabi Saw : Antara pemahaman tekstual dan kontekstual dengan pengantar : Dr. M. Quraish Shihab, Terj. Muhammad al-Baqir, Penerbit Mizan, 1993, hal. 125).
Menutup pintu tidak lain agar rumah kita tidak dimasuki setan manusia berupa maling, rampok atau sejenisnya yang dapat merugikan kita sendiri. Sementara larangan Nabi agar tidak melepaskan ternak dan anak-anak diwaktu matahari tenggelam hingga pagi hari tidak lain untuk menghindarkan kita dari ulah penculik anak dan maling binatang.
Kesimpulan akhir adalah setan itu merupakan segala sesuatu yang bersifat jahat yang bisa menjerumuskan seseorang dalam suatu bahaya, baik bahaya didunia maupun bahaya diakhirat. Setan bisa berupa hawa nafsu negatif yang merangsang seseorang untuk berlaku jahat dan menyimpang dari kebenaran. Setan juga bisa menimbulkan penyakit tertentu dan setan juga bisa berwujud Jin yang jahat.
Jadi, jika ada manusia yang selalu melakukan kejahatan, kebiadaban atau kenistaan maka dia adalah setan berwujud manusia, demikian pula bila ada Jin yang berlaku sama seperti itu maka dia adalah setan berwujud Jin.
Sebagai tambahan penutup, dalam al-Qur’an Allah tidak pernah menyinggung asal penciptaan setan, namun Allah telah menyinggung asal penciptaan Jin dan Manusia didalam banyak ayatnya, sementara asal penciptaan Malaikat disinggung oleh Nabi dalam sebuah Hadisnya :
Sesungguhnya, orang-orang yang bertaqwa, bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat ALLAH, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. – Qs. 7 al-a’raf : 201
Jika setan mengganggumu, maka mohonlah perlindungan kepada ALLAH, sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui – Qs. 41 fushilat : 36
4. Yang dirajam
Rajam adalah sebuah bentuk hukuman atau tindakan agresif dengan metode melempar baik dalam makna phisik atau juga melalui kata-kata, hukum rajam biasanya diberlakukan sampai orang atau sipelaku tadi mati.
Jika disebut pada kalimah Ta’awudz bahwa : setan yang dirajam, maka ini tidak jauh berbeda dengan sifat dari setan itu sendiri yang selalu melemparkan rasa was-was, ketakutan dan berbagai hal lainnya terhadap diri manusia.
Terlepas dari pembahasan ini, bahwa kalimah Ta’awudz : berdasarkan beberapa literatur lainnya bukanlah satu-satunya kalimah yang bisa digunakan sebagai bentuk doa atau permintaan perlindungan kepada Allah dari setan.
Berikut beberapa bentuk lain dari Ta’awudz :
A’udzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiimi min hamzihi wanaf-khihi wanaf-tsihi.
(Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dari kegilaannya, kesombongannya dan sya’irnya*. (Abu Dawud, Ibnu Majah, Daroqutni dan Hakim,
disahihkan oleh Hakim, Ibnu Hiban dan Adz-Dzahabi).
* naf-tsun ditafsirkan oleh rawi dengan Asy-Syi’ru yaitu syi’ir. Yang dimaksud dengan syi’ir disini yaitu syi’ir yang tercela dengan dalil bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda, “Sesungguhnya di antara syi’ir itu ada hikmah. – Riwayat Bukhari
A’udzu billaahis-samii’il-‘aliimi minasy-syaithoonir-rojiimi min hamzihi wanaf-khihi wanaf-tsihi.
Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk, dari kegilaannya, kesombongannya dan sya’irnya. – Riwayat Abu Dawud dan Turmudzi dengan status Hasan
Demikian.,
Wassalam.,
Armansyah

Tenaga Dalam (2)

Tenaga Dalam
Bagian ke-2
Oleh : Armansyah

 

Adalah cukup disayangkan bila sampai dijaman modern ini masih banyak orang -terutama umat Islam- yang masih bersikap apriori dan cenderung terlalu skeptis dengan keberadaan Tenaga Dalam, pikiran mereka hanya seputar kontekstual keghaiban yang melibatkan unsur makhluk-makhluk dari dimensi lain dalam upayanya menyesatkan manusia dari jalan Tuhan, padahal tidak semua fenomena keghaiban harus dikonotasikan dengan para lelembut, kuntilanak, wewe gombel, ifrit dan berbagai variasi nama Jin (terutama Jin jahat) lainnya.

Memang terkadang tidak bisa disalahkan juga timbulnya pemikiran yang seperti ini, sebab ada banyak sekali perguruan Tenaga Dalam (bahkan ada juga perguruan silat yang nota bene lebih banyak mengandalkan tenaga kasar) yang mencampur adukkan kekuatan dalam yang sebenarnya sangat ilmiah dan rasional dengan mistikisme yang penuh dengan tindak khurafat.

Ini sudah menjadi bagian dari hukum Kausalitas Tuhan … jangankan terhadap tenaga dalam, bahkan terhadap agamapun orang masih banyak yang mencampur adukkannya dengan hal-hal yang absurd dan klenik, lihatlah tradisi Maulud ataupun Tahun Baru Islam yang ada dikraton Yogya umpamanya … atau tradisi pengkeramatan malam Jum’at kliwon disebagian masyarakat Jawa … dan sebagainya.

Ini semua sebenarnya bisa disikapi secara dewasa dan arif oleh para agamawan (Ulama) terlebih lagi bagi orang-orang yang mendalam ilmunya (baik dibidang duniawiah apalagi akhirat), toh jika kita mau jujur, defenisi ulama itu sebenarnya mengacu pada tingkat keilmuan yang seimbang bukan hanya notabene ditujukan untuk orang-orang yang fasih berbahasa Arab, hafal al-Qur’an ataupun pintar membaca hadis dan berbagai kitab Fiqih sebagaimana deskripsi yang ada dan melekat dihati sebagian besar umat Islam dewasa ini.

Istilah Ulama sangat identik dengan kata sarjana atau cendikiawan dalam bahasa Indonesia … yaitu orang yang memiliki antusiasme dan mau mendalami serta mengkaji ilmu-ilmu Tuhan baik yang bersifat fisik maupun metafisik secara obyektif dan cerdas, berpikir tidak hanya berdasarkan dogma saja tetapi mau mencari tahu penjelasan rasional dari dogma itu sendiri.
Saat Tuhan berbicara mengenai fenomena turunnya hujan dari langit, seorang Ulama seharusnya tidak hanya memandangnya dari sudut …ooh itu kehendak Allah …tetapi juga mempelajari bagaimana siklus hujan bisa terjadi dan kalau perlu mengupayakan cara (dengan teknik rasional yang berdasarkan teknologi tentunya) untuk bisa membuat hujan buatan yang bisa membantu masyarakat lainnya.

Dengan demikian maka barulah apa yang disebut dengan Khalifah Tuhan dibumi bisa terwujud dalam arti yang sesungguhnya…. tetapi bila ide ini dibawa keforum pengajian … percayalah kepada saya, anda akan ditertawakan atau malah dituding ingin menjadi tuhan tandingan.
Saya ingin mengajak kita semua diforum ini untuk menyimak ayat berikut :

Dan diatas bumi terdapat bidang-bidang tanah  yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman, pohon korma yang berakar tunggal dan yang tumbuh berumpun, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. -Qs. 13 ar-Ra’d :4
Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. -Qs. ali Imran 3:190

Ya … Semua ayat al-Qur’an memang diturunkan dengan mengandung hal-hal yang logis, dapat dicapai oleh pikiran manusia dan tidak menentang fitrah yang ada, dan al-Qur’an itu pun dijadikan mudah agar dapat dijadikan pelajaran atau bahan pemikiran bagi kaum yang mau memikirkan sebagaimana yang disebut dalam Surah al-Qamar ayat 17 :
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ? -Qs. 54 al-Qamar :17

dan surah al-A’raaf ayat 52 :
Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Kitab kepada mereka, Kami jelaskan kitab tersebut atas dasar ilmu pengetahuan; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. -Qs. 7: al-A’raaf 52

Sejak jaman dahulu ajaran-ajaran pokok agama yang disampaikan para Nabi telah bercampur-aduk dengan keterangan-keterangan tentang mekanisme alam, baik yang bercorak ilmiah rancu [pseudoscientific], mitos maupun yang bersifat legendaris.
Orang yang meyakini kebenaran suatu agama juga disuruh percaya begitu saja kepada segala macam mitos penciptaan serta kekuatan dari makhluk dimensi alam sana sehingga esensi kebenaran agama yang sesungguhnya tertutup.

Sikap menentang para ilmuwan barat (dan akhir-akhir ini juga dilakukan sebagian sarjana Muslim) terhadap dogma-dogma agama terutama disebabkan oleh adanya perbedaan antara ilmu pengetahuan yang telah teruji mengenai alam dengan mitos-mitos alegorik yang dipaksakan untuk diyakini sebagai [bukti-bukti] kebenaran tertulis mengenai fakta-fakta kosmologis dan historis yang ada, padahal jika kita kembalikan pada teks-teks kitab suci, semuanya tidak pernah didapati, yang ada hanya pemahaman seseorang atau sekelompok kaum atas teks-teks kitab suci.

Dalam beragama, harus diakui secara jujur bahwa kita lebih banyak menyandarkan kepercayaan dan pemahaman kepada pendapat dan pemahaman orang lain yang terkadang pemikiran maupun ijtihad mereka sendiri lebih banyak dipengaruhi pula oleh lingkungan dan peradaban yang berlaku diseputarnya.

Umat Islam modern sudah mengalami krisis kepercayaan diri yang besar sekalipun mereka sudah dihadapkan dengan peradaban serba maju dan ditunjang berbagai teknologi informasi yang membuat dunia menjadi semakin menyempit…. ada berjuta alasan akan diberikan untuk menutupi krisis ketidak percayaan diri mereka tersebut dan untuk tidak memperluas pembahasan maka kita pun tidak akan membahasnya disini.
Dilain pihak, fakta bahwa jasa yang diberikan oleh kemajuan Sains kepada umat manusia sangatlah besar nilainya, antara lain terdiri dari pembebasan ajaran-ajaran pokok agama atas semua nilai ilmiah dibalik mitos-mitos yang beredar secara turun temurun.

Manusia diwajibkan oleh Allah melalui al-Quran supaya berpikir dan merenungkan kekuasaan serta memperhatikan alam ciptaan-Nya. Karena berpikir adalah merupakan salah satu dari fungsinya akal yang dimiliki oleh manusia. Jika akal tidak berfungsi, maka manusia telah kehilangan milik satu-satunya yang menjadikannya makhluk terbaik dan tidak dapat lagi berperan dalam kehidupan selaku manusia yang berpredikat Khalifatullah fil ardl.

Para cendikiawan telah sepakat bahwa pikiran yang bebas dan akal yang kreatif adalah pangkal kemajuan umat manusia, sedangkan pikiran yang terbelenggu dan akal yang tidak berinisiatif dan hanya pandai meniru serta bertaqlid buta menjadi penghambat kemajuan individu dan umat.

Oleh sebab itulah Rasulullah Saw dalam banyak hadis mengisyaratkan kepada umatnya tentang fungsi dan kegunaan akal yang sebenarnya agar manusia tidak salah menempatkan derajat kemanusiaannya.

Wahyu pertama yang turun kepada Nabi pun adalah perintah agar berpikir.

Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan,  Dia ciptakan manusia dari segumpal darah.  Bacalah karena Tuhanmu itu sangat mulia; Yang mengajar dengan Qalam.  Dia mengajar manusia apa yang mereka tidak tahu. Qs. 96 al-alaq : 1 – 5 

Perintah membaca bukan hanya dalam konteks dimana Nabi disuruh oleh malaikat Jibril membaca saat turun wahyu pertama saja, akan tetapi bisa kita tafsirkan secara luas dalam konteks masa kini. Dimana membaca adalah awal dari berpikir. Awal dari mencari tahu dan melakukan penyelidikan, awal dari menganalisa serta awal dari suatu pemahaman ataupun kesimpulan.

Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat ?”. Maka apakah kamu tidak berpikir ?. -Qs. al-An’am 6:50

Bagi mereka yang masih bersikap skeptis terhadap rasionalitas Tenaga Dalam, akan sangat jadi sudah mengabaikan berbagai pendapat para ahli yang mengatakan bahwa manusia ini sebenarnya belum 100% memaksimalkan kemampuan yang ada pada dirinya.
Tidak usah jauh-jauh, masalah pemaksimalan otak sajalah yang sudah menjadi rahasia umum … toh kita baru 1 % saja menggunakannya secara optimal, padahal jika otak ini bisa dimaksimalkan lagi dengan berbagai stimulasi dan metode pelatihan maka dipercayai peradaban kita sekarang akan cepat melompat berkali-kali lipat kedepan.

Fakta Seorang BJ. Habibie jauh lebih pintar dari orang kebanyakan …begitu pula dengan Bill Gates, Linus Torvalds, Albert Einstein,  Stephen Hawking dan lain-lainnya … coba kita bayangkan andai semua orang didunia ini mampu mencapai kepintaran seperti mereka … pasti ada banyak hal yang sudah kita lakukan, paling tidak untuk agama dan bangsa.

Dengan metode optimalisasi otak tertentu, seseorang bisa lebih memusatkan daya konsentrasi pikirannya … dan pada tahap lebih jauh dengan kekuatan konsentrasi pikirannya itu dia mampu menggerakkan benda atau bahkan mempengaruhi pikiran orang lain agar mau mengikuti apa yang dia inginkan (tentu saja artikel saya ini tidak akan berkaitan dengan teknik hipnotis sekelompok masyarakat yang berbau klenik), lihat saja bagaimana seorang Romy Rafael atau Deddy Corbudzier bisa melakukan banyak hal yang kelihatannya irrasional tetapi sebenarnya sangat logis dan ilmiah jika dikaji dengan benar.

Sesungguhnya didalam otak kita, ada sepuluh hingga lima belas milyar sel otak dan didalam sepuluh atau lima belas milyar sel otak tersebut ada ribuan tentakel lagi didalamnya dan didalam setiap tentakel itu sendiri terdapat ribuan tonjolan (mirip bantalan penghisap) yang mana dari hubungan yang terbentuk oleh reaksi lembut elektrokimia antar tonjolan-tonjolan inilah yang menunjukkan tingkat intelektualitas atau kemampuan seseorang.

Penelitian intensif di Universitas California yang mempelajari tentang otak kiri dan otak kanan telah mengungkapkan bahwa masing-masing otak tersebut mengendalikan aktivitas intelektual yang berbeda, dari yang benar-benar kreatif dan imajinatif sampai yang paling logis dan kuantitatif. Dimana akhirnya didapatkan kesimpulan bahwa orang yang semata-mata menggunakan salah satu sisi otak saja seringkali mengalami kesulitan dalam menggunakan sisi otak yang lainnya. Akibatnya menjadi orang yang berpikir dengan dimensi tunggal dan sangat subyektif.

Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. -Qs. 36 Yaasin :36

Beberapa fungsi dari otak kiri adalah menangani angka, susunan, logika, organisasi dan hal lain yang memerlukan pemikiran rasional, beralasan dengan pertimbangan yang deduktif dan analitis. Otak kiri terbiasa dengan hal-hal yang bersifat matematis dan ilmiah, ia memfokuskan diri pada garis dan rumus, sebaliknya mengabaikan kepelikan tentang warna dan irama.

Adapun beberapa fungsi otak kanan adalah mengurus dimensi yang berbeda seperti mimpi, berkhayal, warna, musik, ritme dan proses pemikiran lain yang memerlukan kreativitas, imajinasi yang hidup, orisinalitas, daya cipta dan bakat artistik. Pemikiran otak kanan tidak begitu tegang, kurang terikat oleh parameter ilmiah dan matematis, dia lebih fokus pada rupa dan bentuk, warna-warni dan kelembutan, sebaliknya mengabaikan ukuran dan dimensi.

Selama ini sebagian besar dari kita telah terlalu berlebihan dalam memanfaatkan otak kanan yang mengurusi hal-hal yang bersifat intuitif dan mistik serta cenderung mengabaikan fungsi otak kiri yang bersifat analistis dan rasional. Akibatnya ya seperti yang ada sekarang inilah … orang cenderung bersikap skeptis, ada keanehan sedikit saja maka mulai otak kanannya bekerja mencitrakan bahwa itu perbuatan setan dan alhasil dia tidak akan mau percaya sedikitpun mengenai semua penjabaran ilmiah yang ada dibalik semua keanehan itu.

Manusia memiliki 3 unsur utama yaitu Phisik (sebagai cashing), ar-Ruh (sebagai baterai yang menjadi sumber kehidupan) dan an-Nafs (sebagai jiwa yang memiliki kebebasan berkehendak, termasuk untuk beriman atau kafir). Didalam cashing jasmani kita inilah ar-Ruh menyalakan listrik atau energinya yang membuat kita bisa hidup sementara an-Nafs (kadangkala disebut juga anfus) bisa melakukan perbuatan ini dan perbuatan itu.

Didalam cashing jasmani ini Allah sudah melengkapi pula berbagai keperluan dasar bagi an-Nafs untuk melakukan aplikasinya, mulai dari akal, hati, jantung, tulang, paru-paru dan berbagai periferal serta fitur-fitur lain yang begitu kompleks.

Pendalaman mengenai tubuh manusia sebenarnya belum final, para ahli masih terus mengadakan penelitian demi penelitian untuk menyibak berbagai rahasianya (keghaibannya). Karena itu bagi saya, orang yang skeptis dengan keberadaan Tenaga Dalam hanya karena faktor keghaiban semata menjadi terlalu sangat absurd sekali, sebab toh mengenai tenaga kasarpun dia sebenarnya tidak bisa melihat keberadaannya.

Adakah diantara anda yang bisa menjelaskan kepada saya seperti apa wujud tenaga kasar yang karenanya anda bisa berjalan, anda bisa membaca tulisan ini, anda bisa menggerakkan tangan dipointer mouse dan berbagai aktivitas harian lainnya ?

Atau apa yang membuat anda bisa berjalan …? Kaki kah ? ternyata bukan … orang yang terkena stroke kakinya ada tetapi dia tidak bisa digunakan …atau kenapa anda bisa mendorong atau memukul kaca hingga pecah ? hanya karena ada tangankah ? atau karena hal lain ? tolong pertanyaan saya ini dijawab dengan ilmiah dan bukan dogma keagamaan yang berakhir dengan kalimat “semua karena Allah”.

Saya beri satu analogi ringan …

Sungguh, Allah menahan planet-planet dan bumi agar tidak lepas  /dari garis orbitnya/, Jika semua itu sampai terlepas, adakah yang dapat menahannya selain Dia ? Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. -Qs. 35:41

Ayat tersebut bila dijelaskan dengan penjabaran yang ilmiah maka didapatlah bahwa cara Allah menahan planet-planet dan bumi agar tidak saling bertabrakan satu dengan lainnya atau lepas dari garis orbitnya adalah melalui hukum alam gravitasi ….karenanya setiap planet termasuk bumi kita ini pasti ada gaya gravitasi yang membuat mereka tetap mengorbit digaris edarnya masing-masing.

Pertanyaan lanjutannya … bisakah anda buktikan kepada saya bagaimana wujud dari gaya gravitasi itu sendiri ? Sekali lagi saya minta wujud phisiknya … bukan bukti keberadaannya yang lebih banyak merujuk pada hasil maupun akibat.

Saya rasa tidak akan mampu dijawab … paling tidak dengan teknologi yang kita capai saat tulisan ini dibuat…. sebab siapa tahu seiring berjalannya sang waktu, maka gaya gravitasi itu bisa dibuktikan melalui teknologi tertentu sebagaimana metode Kirlian yang mampu melihat keberadaan aura.

Masih haruskah anda menjadi skeptis …? saya tidak.

Dengan mengabaikan orang-orang yang skeptis tersebut maka saya sebutkan disini bila didalam tubuh manusia sebenarnya terdapat aliran listrik.
Pembuktiannya sederhana saja dan tidak perlu anda kelaboratorium manapun.

Silahkan pukul lutut bagian bawah (dengkul), anda akan merasakan seperti ada kejutan listrik.

Silahkan juga mencolek otot pada daerah leher ( tulang selangka ), anda akan merasakan seperti ada kejutan listrik.
Pada kasus yang sering terjadi secara tidak disengaja, kadangkala siku tangan kita terbentur pada dinding, kursi atau meja dan seketika itu juga secara spontanitas biasanya kita merasakan bagai terkena strom listrik.

Ini secara sederhana bisa membuktikan dalam tubuh manusia memang terdapat tenaga listrik. Sekarang bila listrik dibangkitkan secara benar, maka akan diperolah manfaat yang besar bagi kesehatan tubuh. Sebaliknya bila orang secara sembarangan bermain-main dengan tenaga listrik ini , akibatnya dapat menjadi fatal yaitu terjadinya kekacauan medan listrik di dalam tubuh. Bila aliran listrik dalam tubuh bisa kita buat aktif (artinya sengaja diolah), maka aliran tersebut akan selalu mengalir dan pada tingkatan tertentu bisa berdaya guna sesuai apa yang kita inginkan.

Tentu saja sesuai dengan tulisan saya sebelumnya, ini tidaklah mudah, diperlukan konsentrasi dan ketekunan berlatih, tidak ada Tenaga Dalam bisa bangkit hanya dalam tempo yang singkat, apalagi cuma dalam hitungan 5 menit sampai 30 menit seperti yang bisa kita baca dikoran-koran. Untuk yang ini saya sebut cuma bohong-bohongan, kalaupun bisa maka sifatnya sudah tidak murni lagi dari diri sipelaku melainkan bisa merupakan pinjaman ataupun isian dari sang guru ( sayangnya metode beginian inilah yang banyak beredar dipasaran dan hanya menghancurkan rasionalitas Tenaga Dalam ditengah masyarakat).

Saya juga berani mengatakan bahwa tidak ada Tenaga Dalam yang bisa bangkit tanpa latihan phisik dan konsentrasi … belajar tenaga dalam tidak perlu harus berpuasa dan berpantang anu dan anu …bahkan secara orisinal, belajar tenaga dalam tidak pula perlu menggunakan lafas dzikir atau amalan-amalan tertentu yang harus dibaca sekian ribu kali … itu hanya buatan kita-kita saja untuk menarik minat pasar.

Ataupun secara positipnya hal tersebut dibuat oleh mereka yang memang benar-benar melalui tenaga dalam ini agar orang-orang (terutama yang berperi laku jahat) bisa kembali kejalan Tuhan (kebenaran) … karenanya muncullah Tai Chi dan Kungfu dengan pernak-pernik Tao atau Budha dan sejenisnya, di Indonesia sendiri karena mayoritasnya umat Islam maka ya pernak-perniknya menggunakan atribut Islam.

Melatih tenaga dalam intinya melatih cara menggunakan nafas secara efektif.

Pernafasan merupakan awal pembangunan phisik seorang anak manusia, semua orang perlu memperhatikan pernafasan sendiri sehingga tubuhnya menjadi sehat dan kuat. Seperti diketahui, seluruh olahraga konvensional memakai sistem pernafasan aerob, di mana oksigen diambil seorang olahragawan sebanyak-banyaknya melebihi kapasitas ketika dia sedang tidak berolahraga, cuma olahraga konvensional tidak memperhatikan penabungan oksigen yang didapat, sedangkan pernafasan luar biasa yang disebut olahraga an-aerob(sebaliknya dari olahraga aerob) berusaha memaksimalkan permanfaatan oksigen sesedikit mungkin, artinya mengirit pemanfaatan oksigen.

Umumnya dalam belajar dan berlatih tenaga dalam, yang digunakan ada dua sistem pernafasan, sistem aerob dan an-aerob, sehingga seseorang bisa menjadi sangat kaya oksigen, hal ini diibaratkan seorang yang pandai mencari harta dan pandai pula menabungnya (mengiritnya) sehingga hartanya melimpah ruah.

Efek yang ditimbulkan olah napas berbeda dengan olah raga. Pada olah napas, ketika kita melakukannya memang terasa capek. Namun, setelah latihan justru kesegaran yang kita dapatkan dan tidak capek, baik fisik maupun mental. Sebaliknya, pada olah raga, terutama yang sifatnya permainan, setelah latihan selama 50 menit saja misalnya, capeknya sudah sebegitunya.

Inti perbedaan tadi terletak pada adanya keteraturan. Pada olah napas, ada keteraturan napas, emosi, gerak. Pada olah raga mungkin ada keteraturan gerak, tapi emosi dan napasnya mungkin tidak teratur. Padahal, keteraturan emosi dan napas sangat berpengaruh terhadap kesegaran tubuh dan mental.

Seperti halnya olah raga, dalam berolah napas kita memerlukan pemanasan. Tujuannya, untuk mempersiapkan tubuh memasuki bagian utama olah napas. Bentuk pemanasannya berupa pelenturan tubuh dari bagian atas sampai bawah dengan gerakan lembut atau diarahkan pada organ-organ tertentu yang hendak diperkuat. Ini perlu karena dalam olah napas, di samping konsentrasi, olah organ tubuh juga ikut dilibatkan. Dengan pemanasan diharapkan tubuh menjadi lebih lentur, lemas, dan bebas dari ketegangan.

Dalam bagian utama olah napas ada tiga proses yang dilalui, yakni menarik, menahan, dan membuang napas. Tujuannya untuk mengoptimalkan volume napas, menjaga keteraturan napas, dan mengelola napas secara efisien. Karena napas bisa diartikan sebagai daya hidup, maka dengan menarik napas kita mengambil daya hidup melalui hidung dan menghimpunnya di dalam tubuh. Kita tidak sekadar menghirup napas ala kadarnya, melainkan sebanyak-banyaknya. Bisa lima atau sepuluh kali lipat dari biasanya. Dengan demikian asupan oksigen ke tubuh akan jauh lebih banyak dan maksimal.

Ketika napas kita tahan, daya hidup akan mengendap dan kita biarkan untuk merasuki seluruh tubuh. Penahanan napas yang terarah dan terkendali akan membantu mengaktifkan organ kita yang lemah, memperbaikinya, dan memberdayakannya sehingga bisa berfungsi dengan baik. Saluran energi yang tersumbat bisa terbuka kembali, aliran darah ke seluruh tubuh lebih lancar, metabolisme tubuh pun menjadi sempurna. Penahanan napas juga bermanfaat untuk melatih pengendalian diri atau emosi. Dalam proses menahan napas, kita perlu pula melakukan penegangan organ tertentu dan konsentrasi untuk membantu mengarahkan dan memusatkan energi pada organ tersebut. Lama penahanan napas tergantung kemampuan kita, tetapi secara bertahap bisa ditingkatkan.

Pada tahap awal biasanya sekitar 15 detik. Setelah mengalami latihan secara kontinyu maka bisa ditingkatkan dengan menahan napas selama 40 detik keatas …tetapi intinya ini semua tidak bisa dipaksakan harus sekian detik, tetapi ditingkatkan secara gradual sesuai dengan irama hidup dan kemampuan masing-masing orang.

Setelah kita tahan beberapa saat, “sisa” napas mesti kita buang sampai habis dengan bantuan pengecilan perut. Ini dimaksudkan agar menimbulkan kerinduan yang kuat pada diri kita untuk menariknya kembali. Pelepasannya bisa melalui mulut atau hidung.

Dalam proses ini terdapat unsur pembersihan dan pelepasan. Kita melepas segala kotoran, emosi, stres, dan rasa sakit. Pelepasannya juga mesti dalam harmoni dengan gerakan tubuh dan ekspresi wajah, misalnya dengan tubuh terlihat gagah atau wajah tersenyum lembut penuh kedamaian. Dalam semua proses olah napas tadi, kita melibatkan pula olah organ tubuh yang penekanannya pada penguatan tangan, bahu, dada, perut, pinggang, dan paha dengan dasar pengembangan napas dada. Dengan olah organ tubuh, energi napas disalurkan kepada organ-organ tubuh untuk memberi penguatan.

Olah organ tubuh mesti selalu harmoni dengan olah napas. Gerakan tubuh lembut akan dibarengi karakter napas lembut pula. Begitu pula sebaliknya. Untuk pengolahan energi di tangan misalnya, maka pengerasan di tangan dilakukan sambil konsentrasi di tempat yang sama, sedangkan organ lain dikendorkan.

Karena dalam olah napas ada penguatan pada organ tertentu, aliran energi menjadi tidak seimbang dan merata. Karena itu perlu tahapan yang disebut napas penyegaran sebagai sarana penyeimbang. Dengan seimbangnya kembali energi dalam tubuh, tubuh menjadi segar kembali dan penuh vitalitas.

Bila ada orang yang belajar Tenaga Dalam malah menjadi sakit … maka saya jamin pasti ada yang salah dari cara dia mengaplikasikan pernapasannya …atau justru dia terlalu memaksakan diri untuk bisa menguasai tenaga dalam hanya dengan tempo yang singkat.

Latihan mental tenaga dalam erat kaitannya dengan pengendalian perasan, pikiran dan hawa nafsu.

Ketiga hal ini perlu betul-betul diperhatikan setiap saat sehingga bisa mencapai kesempurnaan hidup atau insan kamil (manusia yang paripurna), dimana dengan apa yang ia miliki tidak membuatnya menjadi besar kepala dan merasa paling hebat …untuk itu maka memang dibutuhkan asupan nilai-nilai agama didalamnya.

Landasan spiritual di dalam berlatih ilmu tenaga dalam seharusnya akan semakin membuat kedekatan kita terhadap Allah, Tuhan yang menguasai segala kerajaan, orang yang belajar Tenaga Dalam seyogyanya menjadi orang yang mampu menyeimbangkan pemakaian otak kiri dan otak kanannya.

Demikian akhir dari semua penulisan saya mengenai Tenaga Dalam … meskipun masih banyak lagi yang ingin disampaikan tetapi rasanya cukuplah 3 artikel ini sebagai pengantar pengenalan … tulisan ini dibuat bukan untuk mendeskreditkan pemahaman tertentu tetapi ini murni dalam kerangka mendobrak kesubyektifitasan (bahasa agamanya sama dengan kejumudan) berpikir sebagian umat Islam yang selalu bersikap skeptis.

Memang tulisan-tulisan disini beberapa bagiannya saya kutip dari berbagai sumber dan saya bundel dengan semua pengalaman dan pemahaman yang saya dapatkan selama mempelajari Tenaga Dalam yang tidak lupa pula saya kaitkan dengan status saya selaku Muslim.

Kurang dan lebih saya minta maaf dan kepada Allah saya minta ampun,

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. -Qs. 16 an-Nahl :125

Kami akan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda Kami disekitar alam semesta termasuk pada diri mereka sendiri, sehingga terbuktilah bagi mereka kebenaran itu – Qs. 41 Fushilat : 53

Dan melihatlah orang-orang yang diberi ilmu itu bahwa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu adalah hal-hal yang benar (logis) serta memberi petunjuk kepada tuntunan yang Maha Kuasa dan Maha Terpuji. – Qs. 34 Saba’ : 6

Dan akan kamu ketahui kenyataan kabarnya sesudah waktunya tiba – Qs. 38 Shad : 88

Wassalam.
Armansyah

Tenaga Dalam

Tenaga Dalam
(Lanjutan : Bolehkah mempelajari ilmu ghaib)
Oleh : Armansyah
Memang sudah umum terjadi dalam masyarakat dewasa ini yang mengkaitkan Tenaga Dalam dengan hal-hal yang berbau agamis, mistis, klenik dan penuh ketakhayulan yang membuat sekelompok orang lain justru menjadi apriori untuk mengenal dan mendalaminya. Ketika ada yang berbicara tentang tenaga dalam, yang terbayang dipikiran kita biasanya suatu demonstrasi yang memamerkan kehebatan supranatural, mampu membelah balok, membuat orang lain terpental, ditusuk tidak mempan, jalan diatas api dan berbagai hal ajaib lainnya.

Dalam buku yang ditulis oleh Lillian Too[1] seorang ahli Feng Shui, dikutip satu pendapat dari Dr. Scott Peck (dari bukunya “The Road Less Travelled”) :

Bahwa dalam berpikir tentang keajaiban, biasanya manusia selalu membayangkan hal-hal yang terlalu dramatis. Ibarat kita mencari semak yang terbakar, terbelahnya lautan dan suara-suara dari syurga.

Padahal kita dapat melihat kejadian sehari-hari didalam hidup kita sebagai bukti adanya keajaiban tersebut, sekaligus mempertahankan orientasi ilmiah kita.

Didalam berbagai Kitab suci, terdapat banyak sekali kisah-kisah fantastis yang umumnya dilakukan oleh para Nabi yang biasanya disebut sebagai mukjizat kenabian, namun adalah menarik sekali bila kita membaca pendapat Choa Kok Sui [2], seorang ahli tenaga dalam dari Philipina yang memberikan komentarnya mengenai mukjizat :

Mukjizat adalah kejadian fantastis yang mendayagunakan hukum alam tersembunyi yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang.

Dan mukjizat sama sekali tidak melanggar hukum alam, ia sesungguhnya berlandaskan hukum alam

Pernyataan ini selaras pula dengan apa yang dikatakan oleh salah seorang tokoh Kristen bernama St. Augustine. 

Keajaiban yang bertentangan dengan alam tidak akan terjadi, melainkan hanya bertentangan dengan apa yang kita ketahui secara alami

Dan memang kita seringkali menisbahkan sesuatu yang terjadi pada kehidupan para Nabi maupun orang-orang yang dekat dengan Tuhan sebagai sesuatu yang tidak dapat dijelaskan secara akal sehat dan senantiasa berusaha menghindarinya dengan dalih kebesaran Tuhan semata.

Padahal al-Qur’an secara tegas menyatakan akan keberlakuan hukum kausalitas  didalam setiap tindak dan kejadian yang ada diseluruh kehidupan semesta raya ini [3].

Allah sebagai dzat yang Maha Kuasa tidak memperlakukan hukum-hukum-Nya secara sewenang-wenang dan melanggar rasionalitas yang Dia ciptakan sendiri terhadap makhluk-makhluk-Nya (ingat : Dalam menciptakan alam semesta ini Tuhan melakukannya dengan bertahap yaitu selama 6 hari –al-‘araaf 54- apakah Tuhan tidak sanggup menciptakan hanya dengan “satu kedipan saja” –Kun Fayakun- ?)

Peradaban manusia saat ini adalah peradaban yang didukung oleh ketinggian ilmu dan teknologi. Setiap anggota masyarakatnya mempercayakan diri pada kemampuan penalaran otak. Segala masalah kefanaan bahkan yang baka haruslah bisa dijelaskan dan dapat diterima akal, kecuali mungkin untuk umat Islam adalah urusan seputar ruh [4].

Dunia ilmu atau hasil penalaran otak, adalah dunia logika.

Kebenaran ilmu adalah kebenaran logika, yang bertolak dari hukum sebab-akibat, yang harus dapat diterima akal. Karena dunia ilmu mencari kebenaran yang didasarkan pada pengamatan terhadap gejala-gejala yang tampak, lalu memikirkan, mencari sebab-sebab dan akibatnya, diuji atau dibuktikan melalui penelitian dan percobaan.

Proses pelaksanaannya tidak terikat oleh panca indera, kepercayaan, tradisi, anggapan umum maupun adat-istiadat kebiasaan yang berlaku pada suatu komunitas.

Kisah Nabi Ibrahim yang tidak mempan dibakar api [5] atau kisah Khalifah Umar bin Khatab yang dapat melihat tembus dan mengirimkan instruksi pada panglimanya yang sedang berperang Sariyah bin Husun dari Madinah saat beliau berkhotbah  Jum’at [6] ternyata adalah fenomena yang bisa terjadi kepada siapa saja jika digali dengan latihan kesadaran yang benar … hal ini juga bisa terjadi kepada orang yang tekun melatih kejiwaannya maupun fisik dengan baik, sehingga muncul kekuatan yang timbul seperti mukjizat.

Jika hal ini terjadi kepada seorang yang terdoktrin dengan suatu agama maka dia akan  menyandarkan kejadian itu kepada apa yang menjadi kepercayaan yang diyakininya, apakah itu kepada Yesus, Hyang Widhi, Tao, Sang Budha, Allah, dewa-dewa, dan lain-lain tetapi pada hakikatnya kekuatan layaknya para Nabi itu ada dan bisa dilatih secara universal, tetap tidak bisa dipungkiri.

Sehubungan dengan Tenaga Dalam, saya membagi kekuatan dasar manusia menjadi tiga, yaitu kekuatan kasar yang dihasilkan oleh phisik serta kekuatan halus yang didapatkan dari pengolahan batin atau jiwa serta yang terakhir adalah kekuatan dalam yang ada pada tubuh kita sendiri.

Kekuatan kasar terwujud dalam daya upaya yang dilakukan oleh manusia sehari-hari seperti adanya kekuatan untuk berjalan, menggerakkan tangannya, berlari, mengangkat gelas dan sebagainya. Kekuatan kasar (phisik) ini juga bisa diolah sedemikian rupa sehingga kekuatan yang semula hanya berkapasitas 20% dengan adanya latihan-latihan tertentu meningkat menjadi 80 sampai 100%.

Latihan ini bisa dengan cara berolah raga berat seperti angkat besi, lari dan seterusnya, bisa pula melalui jalan mempelajari ilmu beladiri seperti Karate, Yudo, Taekwondo dan sejenisnya; yang kesemua itu pada dasarnya hanya sebagai pembangkit dari 70% tenaga phisik yang tidak ia pergunakan sebelumnya.

Akan halnya kekuatan halus, dia berasal dari pengolahan hati, seberapa jauh dia bisa memfungsikan hatinya sehingga menghubungkannya dengan Allah sebagai sumber kebenaran atau malah menghubungkannya dengan Jin yang dapat menjadi sumber kebatilan [7].

Pengolahan kekuatan halus dilakukan dengan cara membersihkan hati dan pikiran kita dari perbuatan-perbuatan yang negatif, senantiasa berlaku baik, bersikap welas asih kepada sesama, mencondongkan diri kepada kebenaran yang datang dari Tuhan dengan puncak pengolahan tenaga batin ini adalah tidak meninggalkan komunikasi dengan Allah selaku sumber dari segala sumber gerak kehidupan.

Inilah yang terjadi pada diri para Nabi dan Rasul, kekuatan mukjizat mereka  memang tidak diperoleh melalui suatu latihan pernapasan tertentu atau gerak jurus dan amalan-amalan khusus namun muncul karena kedekatan mereka terhadap sang Maha Pemberi Kekuatan.

Lalu apakah mukjizat semacam ini tidak bisa dimiliki oleh manusia biasa meski tingkat keimanannya tinggi ?

Sampai disini saya akan menganalogikannya secara sederhana :

Seorang raja mengirimkan utusannya kepada suatu daerah yang keadaannya kacau balau dimana pembunuhan, pemerkosaan, perampokan sampai penghujatan kepada sang raja terjadi disetiap sudutnya.

Logikanya, tentu sang raja tidak akan mengirim utusan tersebut dengan hanya bermodal selembar surat perintah tanpa membekalinya dengan senjata pusaka tertentu berikut pasukan yang siap membantunya menjalankan misi kerajaan, bukan?

Lalu ketika sang utusan tiba didaerah tujuan dan dia bertemu dengan sekelompok orang yang ingin membantunya dalam menegakkan kebenaran dan menumpas kemungkaran, tentunya lagi mereka tidak akan diberi oleh sang raja senjata pusaka sebagaimana yang pernah dia berikan kepada utusannya.

Untuk ikut berjuang bersama, orang-orang tersebut harus berupaya sendiri mencari senjata agar dapat melindungi diri mereka dari musuh. Nah inilah sebuah perumpamaan dari gambaran mukjizat para Nabi dengan apa yang bisa diperoleh oleh para manusia lainnya.

Sementara kekuatan ketiga yaitu kekuatan dalam, adalah satu kekuatan yang terpendam didalam diri setiap makhluk (dalam hal ini manusia) yang mungkin tidak pernah disadarinya secara langsung keberadaannya. Dan kekuatan didalam diri manusia inilah yang sering disebut orang sebagai Tenaga Dalam

Pengolahan Tenaga Dalam secara alamiah adalah dengan melakukan olah nafas yang benar menyempurnakan serta mengatur jalan pernafasan sedemikian rupa sehingga pembuluh-pembuluh darah yang ada menjadi terbuka dan peredaran darah semakin lancar sehingga memudahkan tenaga yang tadinya terpendam didalam tubuh manusia keluar dan berfungsi sebagaimana yang ia inginkan, sekali lagi mengulangi pembahasan sebelumnya bahwa contoh paling mudah penerapan tenaga dalam adalah sewaktu kita –maaf- mau buang hajat, apalagi jika -maaf- keras, kita akan menekan perut dengan napas kita sehingga kotoran yang ada mau keluar, nah pada waktu itu kita tidak memakai tenaga phisik, sebab kita tidak menekan perut sambil mengurut-ngurutnya dengan tangan.

Contoh lain adalah sewaktu kita berobat kedokter, biasanya saat diperiksa dengan steteskop kita disuruh menarik napas panjang, menahannya lalu dilepas perlahan sehingga sang dokter dapat merasakan dan mendeteksi denyutan ataupun suatu gejala yang ada pada diri kita. Jelas disini semakin menunjukkan betapa pentingnya teknis pernapasan yang bisa menghasilkan energi tertentu.

Mengolah tenaga dalam pada prinsipnya tidak berkaitan dengan doktrin agama atau kepercayaan manapun, dia bisa dipelajari secara universal.  Jika ada satu perguruan yang menggabungkan doa-doa atau amalan tertentu dalam proses pembelajaran tenaga dalam menurut saya hanya sebagai metode dakwah dari sang guru agar para muridnya mau menjalankan perintah agama dan menggunakan ilmu tersebut pada jalan kebenaran.

Islam tidak mengatur tata cara berdzikir kepada Allah secara khusus, sebaliknya ayat-ayat al-Qur’an justru memberi isyarat kepada kita bahwa berdzikir boleh dengan jalan apa saja dan bagaimanapun posisinya. 

Sungguh, dalam penciptaan langit dan bumi dan terjadinya malam dan siang,
terdapat tanda-tanda bagi orang yang memiliki pikiran
(yaitu) yang mengingat ALLAH sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil berbaring (totally dalam semua keadaan)
Qs. 3 ali imron : 190 – 191

Adanya individu tertentu yang berkat latihan dan dzikirnya ketika belajar Tenaga Dalam memiliki kemampuan membaca pikiran manusia, melakukan pengobatan phisik dan non phisik, bisa mengusir Jin dan seterusnya bukan suatu hal yang membingungkan. Dari kacamata iman, konon, Isa al-Masih pernah menjawab pertanyaan muridnya :

Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu ?

Ia berkata kepada mereka: Karena kamu kurang iman.

Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.

Kitab Injil Matius 17 : 19 -20

Dan satu hadis Qudsi dari Nabi Muhammad SAW :

Bila Aku mencintai hamba-Ku, maka :

Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar

Menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat

Menjadi tangannya yang dengannya ia memukul keras

dan menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan

Jika ia memohon kepada-Ku sungguh akan Aku karuniakan dirinya

Dan bila ia memohon perlindungan-Ku, Aku akan melindunginya

Hadis Riwayat Bukhari [8]

Melita Denning dan Osborne Philips menulis dalam buku mereka:

Dengan cara berpikir dan latihan yang benar, aura anda juga mempunyai daya untuk mencegah secara absolut pendekatan besaran non materi tanpa anda keluar !

Baik dalam keadaan bangun maupun tidur, tidak ada vampir astral incubus atau succubus atau pengganggu non materi yang lain dapat menembus tameng aura psikis yang telah berkembang [9]

Belajar Tenaga Dalam, adalah proses dimana jiwa belajar menembus dunia metafisika, dunia yang tidak kasat mata, dunia yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, meniadakan semua pikiran materialistik, menghilangkan semua simbol-simbol duniawiah, melenyapkan tuhan-tuhan keseharian dan menggantikannya pada satu kesempurnaan yang serba Maha, sekali lagi tetap dengan catatan bahwa tenaga dalam disini tidak dicampuri berbagai unsur klenik, tahayul hingga pensyirikan melalui berbagai modelnya.

Dengan pergerakan phisik yang dinamis dan seimbang dalam setiap pembuatan jurus-jurusnya (kiri dan kanan) adalah suatu cara membangkitkan energi positip (yaitu kesehatan) dan membuang energi negatip yang berupa penyakit-penyakit tertentu, dan ini mampu membuat kita menjadi seorang dokter atau tabib, setidaknya bagi diri kita sendiri.

Ketika suatu hari saya melakukan donor darah, saya tahu bahwa kondisi saya sedang tidak stabil karena selama beberapa malam sebelumnya kurang tidur, namun dengan pertimbangan kemanusiaan, maka tetap saya lakukan, sampai akhirnya beberapa puluh menit selanjutnya tubuh saya lemas dan merasa sangat tidak berdaya, kemudian saya lakukan teknik pernapasan yang saya pelajari dari perguruan Prana Sakti, dan setelah beberapa menit melakukannya, akhirnya saya merasakan kondisi tubuh saya kembali normal seperti sediakala tanpa saya meminum obat ataupun energy drink.

Tenaga dalam yang diolah secara baik melalui teknik pernapasan tertentu yang juga dibarengi dengan gerak phisik dan senantiasa berdzikir kepada Allah, akan mampu mengusir semua pikiran jahat maupun serangan tak terduga dari Jin dan manusia (misalnya semacam santet, guna-guna dan sejenisnya yang keberadaannya tidak bisa dipungkiri oleh siapapun didunia ini).

Karena itu salah satu konsep yang terpenting dalam ilmu Tenaga Dalam bukanlah untuk mementalkan musuh yang menyerang dalam keadaan marah semata apalagii penjahat sekarang terorganisir, terencana rapi dan bisa membunuh orang seperti menyembelih ayam, tanpa ekspresi apalagi marah, sebaliknya mengajarkan kepada orang-orang untuk membuat musuh yang semula ingin menyerang berbalik menjadi sahabat sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad sendiri dalam berbagai kasus.

 Dalam kacamata agama disebutkan secara pasti bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatunya itu secara seimbang :

Tidak sekalipun kamu bisa melihat suatu ciptaan ar-Rohmaan yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ? – Qs. 67 al-Mulk : 3

Kita tahu, ada panas ada dingin, ada malam ada siang, ada laki-laki ada wanita, ada baik ada buruk, ada yang tampak ada pula yang tidak tampak dan tentunya juga ada tenaga luar pasti ada tenaga dalam.

Sesuatu yang tidak tampak bukan berarti sesuatu itu tidak ada, kita percaya ada Tuhan tapi apakah kita bisa melihat wujud Tuhan ? Tidak ! yang kita lihat hanya ciptaan-Nya, bukan Tuhan itu sendiri ! Lalu kita percaya angin itu ada, apakah kita juga bisa melihat angin ? Tidak !

Seorang astronom percaya adanya galaksi, tanpa perlu terbang ke ruang angkasa melewati puluhan planet atau bahkan ribuan jumlahnya, begitu juga seorang geolog percaya adanya minyak di kedalaman 2000 meter, tanpa harus masuk sendiri ke dalam bumi, dan seorang biolog atau arkeolog percaya adanya dinosaurus, tanpa harus pergi ke zaman purba dengan mesin waktu.

Dalam hal ini, al-Qur’an memberi kesaksian yang universal :

Kami akan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda Kami disekitar alam semesta termasuk pada diri mereka sendiri, sehingga terbuktilah bagi mereka kebenaran itu – Qs. 41 Fushilat : 53

Bukan jamannya lagi mengajukan pertanyaan konyol kenapa Nabi tidak mengajarkan Tenaga Dalam, sebab secara logika pula saya akan balik bertanya : apakah Nabi juga pernah mengajarkan cara melindungi diri dari gempa, tsunami ataupun bagaimana cara naik keangkasa luar dan menjelajah sampai kebulan padahal beliau sendiri sudah pernah menjelajah melebihi bulan dengan jasad dan ruhnya pada peristiwa Isra’ dan Mikraj ?

Yang perlu kita lakukan adalah mempelajari dan menganalisa kitab suci al-Qur’an secara lebih baik, hentikan semua bentuk kebodohan berpikir, dan mari lihat isyarat yang diberikan al-Qur’an secara global :

Hai komunitas Jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka lintasilah

kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan [10]

– Qs. 55 ar-Rahman : 33

Inilah indikasi kuat bagi kita untuk mau belajar, mau menganalisa atau melakukan penelitian sehingga terwujudlah insan paripurna harapan al-Qur’an [11]

Lalu haruskah kita berguru pada orang-orang tertentu dalam mempelajarinya ? 

Guru pada dasarnya hanya bersifat membimbing dan membantu agar proses pembelajaran tidak salah yang dapat mengakibatkan kefatalan pada diri sendiri maupun orang lain. Bahkan seorang Nabi Muhammad memerlukan Jibril untuk mengajarinya banyak hal, dan ketika apa yang dilakukan oleh Nabi dianggap bisa berakibat fatal, beliau langsung mendapat teguran dari Allah melalui Jibril [12].

Jadi jelas, lebih bijaksana bila kita tidak mengabaikan peranan keberadaan seorang guru ketimbang belajar sendiri kecuali kita memang ada potensi dan pengetahuan yang cukup untuk mendalaminya.

Adapula sebagian orang yang membid’ahkan penggabungan antara tenaga dalam dengan dzikir atau lafas-lafas asma Allah tertentu, inipun sangat tidak berdasar, karena hal ini sama sekali bukan bagian dari kejahatan ataupun pengingkaran ayat-ayat Tuhan yang menyuruh kita untuk menjadikan Allah satu-satunya pusat meminta dan sholat plus sabar selaku penolong [13]

Ini adalah sebuah upaya yang harus dilakukan secara aktif oleh manusia, sama seperti mempelajari ilmu pengetahuan lainnya. Bahkan sama seperti upaya yang dilakukan saat kita meminta bantuan dokter melalui terapi dan obat-obatannya.

Berobatlah kamu semua, dan jangan berobat kepada yang haram

Hadis Riwayat Baihaqi [14]

سنن ابن ماجه ٣٥٠٦: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي الْخَصِيبِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عِيسَى عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ
كَانَ أَهْلُ بَيْتٍ مِنْ الْأَنْصَارِ يُقَالُ لَهُمْ آلُ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ يَرْقُونَ مِنْ الْحُمَةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ نَهَى عَنْ الرُّقَى فَأَتَوْهُ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ قَدْ نَهَيْتَ عَنْ الرُّقَى وَإِنَّا نَرْقِي مِنْ الْحُمَةِ فَقَالَ لَهُمْ اعْرِضُوا عَلَيَّ فَعَرَضُوهَا عَلَيْهِ فَقَالَ لَا بَأْسَ بِهَذِهِ هَذِهِ مَوَاثِيقُ

 

Sunan Abu Daud 3388: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Mu’awiyah dari Abdurrahman bin Jubair dari Ayahnya dari ‘Auf bin Malik ia berkata, “Pada masa jahiliyah aku pernah melakukan penjampian, lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda mengenai hal tersebut?” Beliau menjawab: “Perlihatkan jampi kalian kepadaku! Tidak mengapa dengan jampi selama bukan perbuatan syirik.”

سنن أبي داوود ٣٣٨٨: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي مُعَاوِيَةُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
كُنَّا نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ فَقَالَ اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ تَكُنْ شِرْكًا

Shahih Muslim 4079: Telah menceritakan kepadaku Abu Ath Thahir; Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb; Telah mengabarkan kepadaku Mu’awiyah bin Shalih dari ‘Abdur Rahman bin Jubair dari Bapaknya dari ‘Auf bin Malik Al Asyja’i dia berkata; “Kami biasa melakukan mantera pada masa jahiliyah. Lalu kami bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; ‘Ya Rasulullah! bagaimana pendapat Anda tentang mantera? ‘ Jawab beliau: ‘Peragakanlah manteramu itu di hadapanku. Mantera itu tidak ada salahnya selama tidak mengandung syirik.’

صحيح مسلم ٤٠٧٩: حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ قَالَ
كُنَّا نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ فَقَالَ اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ

Musnad Ahmad 13863: Telah bercerita kepada kami Abu Mu’awiyah telah bercerita kepada kami Al ‘A’masy -lewat jalur periwayatan lain-Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dari Abu Sufyan dari Jabir berkata Rasulullah melarang ruqa (perlindungan orang sakit dengan membaca dzikir yang disyariatkan). Ibnu Numair berkata dalam haditsnya, lalu pamanku mendatangi (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) dan dia sedang melakukan ruqyah dari sengatan kalajengking. (Jabir bin Abdullah Radliyallahu’anhuma) berkata; lalu datanglah keluarga ‘Amr bin Hazm kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka berkata; Wahai Rasulullah, kami memiliki cara ruqo (bentuk jamak, plural dari ruqyah) untuk melindungi dari sengatan kalajengking, sedangkan anda melarang cara ruqo (bentuk jamak, plural dari ruqyah). (Jabir bin Abdullah Radliyallahu’anhuma) berkata; lalu mereka mempraktekkannya di hadapan (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), lalu beliau bersabda: “Saya kira tidak mengapa. Barangsiapa yang bisa bermanfaat bagi saudaranya maka lakukanlah!” 

Saya yakin, selama kita tidak berhenti pada keragu-raguan, maka nilai kebenaran itu akan bersifat mutlak dan konsisten walau dikaji dari kacamata apapun.

Kebenaran itu berasal dari Tuhan-mu,

sebab itu jangan sekalipun kamu termasuk orang-orang yang ragu

Qs. 2 al-Baqarah : 147

Ini adalah sebuah upaya yang harus dilakukan secara aktif oleh manusia, sama seperti mempelajari ilmu pengetahuan lainnya. Bahkan sama seperti upaya yang dilakukan

Terakhir sebagai advise dari saya, jangan pernah berpikiran bisa menjadi seorang Superman dengan belajar Tenaga Dalam, hebat tidaknya seseorang tidak ditentukan oleh seberapa tinggi atau kuat tenaga dalamnya akan tetapi seberapa jauh mentalitasnya terhadap Tuhan dan sesama makhluk serta seberapa aktifnya dia mendekatkan diri pada ilahi.

Jika dengan belajar tenaga dalam kita bisa menyembuhkan penyakit orang lain maka itu semata-mata karena Allah sudah bersedia menitipkan seupil kekuatan-Nya kepada kita untuk menjadi perantara kesembuhan orang lain, jika kita bisa mempengaruhi pikiran orang lain dengan kekuatan pikiran yang diperoleh dari latihan konsentrasi maka lakukanlah itu sebagai bentuk perjuangan dalam mempengaruhi pikiran para wakil rakyat yang sedang demam naik gaji hampir total 50 juta perbulan, dan jika anda dengan belajar tenaga dalam mampu mematahkan besi dan baja maka lakukanlah itu untuk berjuang memberantas pelaku perjudian, penodongan dan berbagai tindakan anarkis lainnya yang dibackup oleh para preman, jika dengan belajar tenaga dalam maka anda bisa mendeteksi sesuatu yang tersembunyi maka gunakanlah itu untuk mendeteksi para koruptor yang lari keluar negeri atau bersembunyi dibawah ketek pejabat.

Demikianlah …

Wassalam.

Armansyah


[1]Lillian Too Explore The Frontiers Of Your Mind Elex Media Komputindo 1997 hal 40

[2]Choa Kok Sui Penyembuhan Dengan Tenaga Prana Tingkat Lanjut Elex Media Komputindo 1993 hal ix

[3] Surah 17 al-Israa’ ayat 77 dan surah 48 al-Fath ayat 23

[4]Surah 17 al-Israa ayat 85

[5]Surah 21 al-Anbiyaa’  ayat 68 s/d 69

[6] Dr. Abbas Mahmud Aqqad  Keagungan Umar bin Khatab Pustaka Mantiq 1993 hal 35

[7]Surah 72 al-Jin ayat 6

[8] K.H.M. Ali Usman, H.A.A.Dahlan, Drs. H.M.D. Dahlan Hadits Qudsi Firman ALLAH yang tidak dicantumkan dalam alquran C.V. Diponegoro 1976 hal 43

[9]Denning & Philips Penuntun Praktis Llewellyn Bela Diri dengan Kekuatan Dalam Elex Media Komputindo 1989 hal 17

[10] Kekuatan disini bisa juga berarti teknologi modern atau hasil pengembangan potensi diri

[11] Qs. 3 Ali Imron : 191 dan 4 an-Nisaa’ : 103

[12] Contoh sewaktu Nabi bermuka masam pada orang buta – Surah 80 ‘Abasa : 1 s/d 11

[13] Qs. 2 al-Baqarah : 45

[14]Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, Ketuhanan Yang Maha Esa menurut Islam Penerbit al-Ikhlas Surabaya hal 200


(Lanjut kebagian kedua : Tenaga Dalam Bag. 2)

%d bloggers like this: