RALAT ONGKOS KIRIM BUKU

Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih

Sekaitan informasi pengiriman Buku “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih” maka dengan ini diberitahukan kembali bahwa :

A. Saya merubah perusahaan jasa pengiriman / cargo dengan pertimbangan besar biaya yang nantinya akan dikeluarkan oleh rekan-rekan kepada cargo yang relatif lebih murah dari yang pertama.
B. Berikut ongkos kirim kekota-kota dibawah ini, sesuai dengan daftar pemesan buku yang masuk kesaya sampai hari ini :
# Jakarta (DKI, Jaksel-Jakut-Jaktim, Tangerang, Bekasi, Bogor : Rp. 15.000,- ( Lima Belas Ribu Rupiah )
# Padang : Rp. 22.500,- (Dua Puluh Dua Ribu Lima Ratus Rupiah)
# Batam : Rp. 22.500,- (Dua Puluh Dua Ribu Lima Ratus Rupiah)
# Surabaya : Rp. 20.000,- (Dua Puluh Ribu Rupiah)
# Bandung : Rp. 20.000,- (Dua Puluh Ribu Rupiah)
# Timika – Papua : Rp. 68.000,- (Enam Puluh Delapan Ribu Rupiah) *
# Balik Papan : Rp. 28.000,- (Dua Puluh Delapan Ribu Rupiah)
# Kalimantan Timur : Rp. 28.500,- (Dua Puluh Delapan Ribu Lima Ratus Rupiah)
# Bitung – Sulawesi Utara : Rp. 45.000,- (Empat Puluh Lima Ribu Rupiah) *
# Medan : Rp. 26.000,- (Dua Puluh Enam Ribu Rupiah)
# Sidoarjo : Rp. 20.000,- (Dua Puluh Ribu Rupiah)
* Bagi para pemesan di Indonesia Timur, sesuai dengan konfirmasi dari pihak cargo, selama masa liburan ini mungkin akan ada keterlambatan waktu sampainya, dikarenakan pesawat pengangkut lebih mendahulukan penumpang daripada barang ekspedisi
C. Ongkos kirim tidak berdasar berat barang maupun jumlah, sehingga bagi rekan-rekan yang telah memesan buku diatas 1 bh maka hitungan ongkos kirim tetap sama (dengan catatan selama saya packed dalam satu paket)
D. Untuk rekan-rekan yang berasal dari kota Palembang, silahkan datang langsung kerumah saya dengan terlebih dahulu menghubungi ponsel saya sekaitan dengan keberadaan waktu yang ada pada saya, bebas ongkos kirim (tapi tidak bebas ongkos sendiri :-).
E. Harga Buku : Rp. 67.500,- ( Enam Puluh Tujuh Ribu Lima Ratus Rupiah )
F. Uang bisa ditransfer kenorek saya langsung di : 113-0002034746 A/n : Armansyah, Bank Mandiri ( Maaf, saya hanya menyediakan satu bank ini saja dengan alasan tersendiri ).
G. Sebagai konfirmasi ulang, harap setelah mentransfer uang untuk bisa mengirim sms kesaya dan juga email ke armansyah_skom@yahoo.co.uk (hanya alamat yang satu ini saya buka khusus untuk proses konfirmasi pembayaran dan reminder agar bisa melakukan proses kroscek)
Sedikit berbagi cerita …
Usaha saya untuk menerbitkan buku ini ditengah masyarakat mengalami berbagai hambatan ditengah jalan, ada pihak-pihak tertentu yang berusaha menggagalkannya karena dengan satu dan alasan …
Terhitung sejak bulan Mei 2007 sampai kemudian baru bisa hadir diakhir Desember 2007 …
Lelah, capek, penat, pusing dan penuh dengan perjuangan … Alhamdulillah, akhirnya kalau Allah sudah berkehendak maka kehendak Allah pasti jadi walau semua manusia menghalanginya
Inilah saya persembahkan buat anda semuanya, lintas madzhab dan agama …. “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih : Sebuah Pelurusan Sejarah & Jawaban untuk Dinasti Yesus”
Semoga bermanfaat dalam memberikan pencerahan terhadap kebeneran serta menambah khasanah intelektual keagamaan.

Salamun ‘ala manittaba al Huda
ARMANSYAH

Salamun ‘ala manittaba al Huda
Keselamatan bagi mereka yang mengikuti petunjuk
Dan Kami telah menurunkan kepadamu kitab dengan penuh kebenaran, membenarkan kitab-kitab yang pernah diturunkan sebelumnya dan sebagai korektor (batu ujian/filter/muhaymin) terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. (QS AL-Ma’idah (5) : 48)
Sinopsis singkat :
Karena aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, anak manusia sudah datang. – Injil Matius pasal 10 ayat 23
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat anak manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.”- Injil Matius pasal 16 ayat 28 Kedua ayat diatas, dipercaya oleh umat Kristen sebagai sabda dari Isa al~Masih (Yesus Kristus).Tetapi, sejauh mana kebenaran sabda diatas dengan realitas dilapangan teologis Kristiani sendiri ?Benarkah Isa telah datang sebelum murid-muridnya berkeliling melakukan dakwah atau pengajaran sesuai yang beliau ajarkan disegenap bangsa Israel ? atau apakah Isa al~Masih sudah berdusta dengan tidak terbuktinya sabda tersebut diatas ?

Kenapa sampai umat Kristiani justru masih menunggu beliau datang menjelang kiamat padahal ini berlawanan dengan kedua ayat yang diucapkan langsung oleh sang Messias Israel itu ?

Bagaimana al~Qur’an menjawab dogma kedatangan Isa yang kedua ?
Benarkah al~Qur’an membenarkan pemandangan yang seperti itu ?
Mungkinkah dogma al-kitab dilawan oleh tradisi didalam gereja ?
Mungkinkah juga dogma al-Qur’an dilawan oleh tradisi didalam hadis ?

Isa al-Masih bukan putera hasil perzinahan ibunya, ia adalah bayi yang terlahir melalui proses Parthenogenesis (kelahiran perawan).

Maryam ibunya tidak pernah menikah dengan Yusuf situkang kayu ! Beliau hanya seorang pelindung dan pemelihara keduanya.

Sejak kecil, Isa sudah diangkat menjadi Nabi dan dikaruniai sejumlah mukjizat.
Meskipun dibesarkan di Nazareth/Nasharah, Iapun ternyata pernah berkelana sampai kenegri Inggris, India dan Jepang.

Ia memang difitnah oleh musuh-musuhnya dihadapan para penguasa Romawi, usaha penyelamatannya dalam sebuah konspirasi persidanganpun gagal, ia dihukum salib, tapi ia berhasil lolos dari kematian dan melakukan sejumlah perjalanan panjang keberbagai negeri terhadap komunitas Israel diperantauan.

Tidak hanya ke Damaskus, perjalanan Isa juga mengantarkan ia kepada pertemuannya dengan Raja Abgar dari Edessa, raja Shalivahan dari India diatas pegunungan Himalaya, menikahi Yumiko di sebuah kampung dipulau Aomori bernama Herai, melanjutkan misinya kepada kaum Diaspora lalu menjemput sang ibunda di Ephesus dan Maria Magdalena di Saint-Baure, menemui Petrus di Roma, kembali ketimur dan ikut serta memperbaiki kuil Sulaiman ditanah India.

Itulah rekonstruksi sejarah yang berhasil disusun secara apik didalam buku ini, bahkan anda akan mendapatkan pemahaman tentang penggunaan istilah anak Tuhan yang dilekatkan kepada diri Isa al~Masih serta lemahnya argumentasi Trinitas dari sejumlah pembuktian yang susah untuk dibantah kebenarannya.

 


NANTIKAN KEHADIRAN BUKU KE2 : JEJAK NABI PALSU : Dari Mirza Ghulam Ahmad, Lia Aminuddin hingga Ahmad Musaddiq ( Hikmah Publishing, 2007 )

 

Informasi menyusul !

TELAH TERBIT : Rekonstuksi Sejarah Isa al-Masih !

Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih


Salamun ‘ala manittaba al Huda
Keselamatan bagi mereka yang mengikuti petunjuk

Dan Kami telah menurunkan kepadamu kitab dengan penuh kebenaran, membenarkan kitab-kitab yang pernah diturunkan sebelumnya dan sebagai korektor (batu ujian/filter/muhaymin) terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. (QS AL-Ma’idah (5) : 48)

Sinopsis singkat :

Karena aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, anak manusia sudah datang. – Injil Matius pasal 10 ayat 23

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat anak manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.”- Injil Matius pasal 16 ayat 28

Kedua ayat diatas, dipercaya oleh umat Kristen sebagai sabda dari Isa al~Masih (Yesus Kristus).

Tetapi, sejauh mana kebenaran sabda diatas dengan realitas dilapangan teologis Kristiani sendiri ?

Benarkah Isa telah datang sebelum murid-muridnya berkeliling melakukan dakwah atau pengajaran sesuai yang beliau ajarkan disegenap bangsa Israel ? atau apakah Isa al~Masih sudah berdusta dengan tidak terbuktinya sabda tersebut diatas ?

Kenapa sampai umat Kristiani justru masih menunggu beliau datang menjelang kiamat padahal ini berlawanan dengan kedua ayat yang diucapkan langsung oleh sang Messias Israel itu ?

Bagaimana al~Qur’an menjawab dogma kedatangan Isa yang kedua ?
Benarkah al~Qur’an membenarkan pemandangan yang seperti itu ?
Mungkinkah dogma al-kitab dilawan oleh tradisi didalam gereja ?
Mungkinkah juga dogma al-Qur’an dilawan oleh tradisi didalam hadis ?

Isa al-Masih bukan putera hasil perzinahan ibunya, ia adalah bayi yang terlahir melalui proses Parthenogenesis (kelahiran perawan).

Maryam ibunya tidak pernah menikah dengan Yusuf situkang kayu ! Beliau hanya seorang pelindung dan pemelihara keduanya.

Sejak kecil, Isa sudah diangkat menjadi Nabi dan dikaruniai sejumlah mukjizat.
Meskipun dibesarkan di Nazareth/Nasharah, Iapun ternyata pernah berkelana sampai kenegri Inggris, India dan Jepang.

Ia memang difitnah oleh musuh-musuhnya dihadapan para penguasa Romawi, usaha penyelamatannya dalam sebuah konspirasi persidanganpun gagal, ia dihukum salib, tapi ia berhasil lolos dari kematian dan melakukan sejumlah perjalanan panjang keberbagai negeri terhadap komunitas Israel diperantauan.

Tidak hanya ke Damaskus, perjalanan Isa juga mengantarkan ia kepada pertemuannya dengan Raja Abgar dari Edessa, raja Shalivahan dari India diatas pegunungan Himalaya, menikahi Yumiko di sebuah kampung dipulau Aomori bernama Herai, melanjutkan misinya kepada kaum Diaspora lalu menjemput sang ibunda di Ephesus dan Maria Magdalena di Saint-Baure, menemui Petrus di Roma, kembali ketimur dan ikut serta memperbaiki kuil Sulaiman ditanah India.

Itulah rekonstruksi sejarah yang berhasil disusun secara apik didalam buku ini, bahkan anda akan mendapatkan pemahaman tentang penggunaan istilah anak Tuhan yang dilekatkan kepada diri Isa al~Masih serta lemahnya argumentasi Trinitas dari sejumlah pembuktian yang susah untuk dibantah kebenarannya.

Rekan-rekan yang sudah memesan buku ini sebelumnya agar dapat melihat pengumuman langsung di Milis_Iqra@googlegroups.com.

Jazakallahu Khoiron.

Bubarkan MUI ?

Bubarkan MUI ?

Disatu sisi, apa yang menjadi keprihatinan dari Adnan Buyung sekaitan aksi
anarkis dengan mengatas namakan agama, adalah juga menjadi keprihatinan saya
pribadi sebagai anak bangsa sekaligus seorang Muslim.

Disatu sisi yang berbeda, bahwa kekerasan tersebut tidak bisa dialamatkan
kepada MUI yang telah memberikan fatwa kesesatan suatu kelompok dan aliran
keagamaan yang ada dinegara ini.

Sebagai sebuah organisasi atau lembaga keagamaan yang didalamnya terdapat
orang-orang dengan kapabilitas ilmu dan pemahaman agama yang pastinya bisa
diperhitungkan, mereka tentu tidak sembarangan mengeluarkan fatwa-fatwa yang
dampaknya bisa meresahkan masyarakat.

Saya percaya untuk melakukan hal tersebut, ulama-ulama kita yang tergabung
di Majelis Ulama Indonesia, memerlukan kajian dan analisa mendalam serta
sebuah musyawarah sebelum mengeluarkan fatwa-fatwanya.

Bagaimanapun, keberadaan dari MUI dinegara yang mayoritas penduduknya Islam
ini harus tetap dipertahankan eksistensinya. Mereka -meskipun mungkin belum
optimal- adalah corong umat dalam menyuarakan nilai-nilai prinsipil dalam
akidah Islam yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak (baca: umat
Islam).

Masyarakat Indonesia ini “masih terlalu bodoh dan mudah dibodohi” oleh
hal-hal yang berbau syubhat (keraguan) serta kajian-kajian yang melibatkan
kecendikiawanan serta keilmuan secara global.

Masyarakat kita sampai hari ini terbukti masih begitu labil dalam beragama,
mudah dihasut, mudah digoyang hanya karena sebungkus mie goreng atau
penjabaran yang sok logika. Ditambah lagi untuk bisa mengetahui kandungan
unsur suatu zat didalam makanan yang beredar dipasaran menyangkut status
halal dan haramnya ?

Saya bukan orang MUI, saya juga bukan anak yang orang tuanya bekerja di MUI,
namun jelas, ucapan sembrono dari yang terhormat Bapak pengacara nan pintar
: Adnan Buyung Nasution itu sama sekali tidak bisa diterima dan harus
ditolak.

Tindakan anarkisme yang mengatas namakan agama bukan mutlak hanya dimiliki
oleh umat Islam semata, ini sesuatu yang sifatnya kondisionil dan relatif.
Artinya bisa ada dan terjadi dimana saja, pada siapa saja.

Kita lihat sejarah kelam gereja Katolik misalnya, merekapun pernah dan malah
terkadang dibeberapa belahan dunia masih terjadi, melakukan aksi-aksi yang
sama. Umpamanya dalam penanganan terhadap kelompok Protestan, kelompok
Yehovah, kelompok Yahudi, kelompok Islam dan sebagainya. Tidak usah terlalu
jauh mengambil fragmen sejarah diabad pertengahan, kita lihat saja kasus Da
Vinci Code yang hampir merenggut nyawa penulisnya karena ketidak senangan
kelompok Katolik atas Dan Brown yang dianggap menghujat Yesus dengan cerita
perkawinannya dengan Maria Magdalena (silahkan digoogling saja berita
detilnya).

Aksi-aksi semacam itu saya lihat lebih dipengaruhi oleh ketidak dewasaan
iman dan juga stabilitas ekonomi dimasyarakat.

Orang yang sehari-hari hidupnya telah dihiasi dengan susahnya antri minyak
tanah, banjir, merebaknya wabah penyakit, gaji yang tidak kunjung naik
sementara harga barang-barang kebutuhan pokok terus meroket sangat mudah
ditarik ulur tingkat emosionalnya, ditambah dengan minimnya pendidikan serta
pengetahuannya dibidang keagamaan.

Jangan menyalahkan MUI, tetapi salahkanlah terlebih dahulu elit politik yang
tidak mengayomi rakyatnya dengan baik dalam hal kebutuhan primer dan
skunder. Salahkanlah dulu kenapa dana BOS justru banyak disunat dengan
berbagai macam alasan. Salahkanlah dulu kenapa begitu banyak koruptor belum
ditangkap. Salahkanlah dulu kenapa masih banyak rakyat Indonesia ini miskin
dan tinggal ditempat-tempat kumuh.

MUI tidak salah, mereka tidak memberikan fatwa penyerangan serta bertindak
anarkis.
Mereka hanya memberikan fatwa dari sisi keilmuan agama yang memang harusnya
menjadi suatu kajian lebih jauh untuk para cendikiawan dan intelektual
muslim yang jujur dan obyektif.

Para pemuka agama yang menyerukan dan mewajibkan massanya melakukan tindak
anarkis itulah yang harusnya dimintai pertanggungan jawab secara hukum, baik
hukum negara maupun hukum-hukum syariat dengan mengacu pada al-Qur’an dan
percontohan oleh Rasulullah SAW.

On Dec 27, 2007 12:27 PM, Mas Aris Imoetz <aris.ha@gmail.com> wrote:
Adnan Buyung: Kekerasan Keagamaan Tanggung Jawab MUI

Pihak MUI dianggap harus bertanggung jawab atas maraknya tindak kekerasaan
keagamaan. Fatwa aliran sesat yang mereka keluarkan kerap berbuah aksi
penyerangan atas kelompok keyakinan tertentu.

Terkait itu, Adnan Buyung Nasution berpendapat sebaiknya lembaga MUI
sebaiknya dibubarkan. Wacana itu ia lemparkan dalam diskusi radio bertajuk
“Evaluasi toleransi beragama dalam pemerintahan SBY-JK”, Sabtu (22/12/2007),
di Kedai Tempo, Jl Utan Kayu, Jakarta.

“Saya pikir sudah saatnya MUI dibubarkan saja. Ini pendapat saya sebagai
pribadi lho,” ujar anggota Wantimpres yang juga pengacara senior ini.

Hal serupa juga dikemukakan mantan Presiden Gus Dur. Namun pendapat tokoh NU
yang kerap menyerang putusan MUI itu kini justru lebih lembut.

“Dari pada dibubarkan, sebaiknya diganti (jajaran pimpinan MUI) saja. Memang
MUI sering dipakai Depag kalau ada apa-apa,” ujarnya.

Peran tidak langsung MUI menyulut tindak kekerasan keagamaan menjadi isu
sentral pada sepanjang diskusi yang juga dihadiri wakil korban tindak
kekerasan keagamaan ini. Fakta di lapangan menunjukkan posisi fatwa MUI
kerap berada di atas konstitusi yang harusnya jadi rujukan utama aparat
pemerintahan dan penegak hukum.

Salah satu contohnya, pernyataan Jaksa Agung Hendarman Supanji yang menunggu
fatwa MUI untuk melakukan tindakan hukum terhadap kelompok keyakinan atau
aliran agama yang dianggap sesat. Ironisnya, amandemen UUD 45 justru
menguatkan jaminan setiap warga negara bebas untuk memeluk agama atau
keyakinannya.

“Saya pikir MUI tidak bisa lagi cuma mengatakan ‘fatwa kami bukan buat
menyulut kekerasaan’. Ini sebagai refleksi akhir tahun. Pimpinan MUI harus
bersuara. Jangan bersembunyi di balik keresahan masyarakat,” ujar Ketua
Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Siti Musdah Mulia.*
(lh/sss)*

http://www.detikhot.com/index.php/stuff.read/tahun/2007/bulan/12/tgl/…

**Adnan Buyung: Lawan Pemerintah Dong* *

Jakarta – Percuma saja hanya berkeluh kesah. Ahmadiyah, Al Qiyadah Al
Islamiyah dan aliran agama lain yang dianggap sesat seharusnya melawan
pemerintah dengan membela hak mereka beragama.
“Kalau cuma berkeluh kesah dan mengimbau, capek deh kita. Lawan dong ini
pemerintahan. Ada upaya hukum yang bisa ditempuh, bukan kekerasan,” ujar
anggota Wantimpres Adnan Buyung Nasution.
Hal tersebut ia sampaikan dalam diskusi bertajuk “Evaluasi toleransi
beragama dalam pemerintahan SBY-JK” di Kedai Tempo, Jl Utan Kayu, Jakarta,
Sabtu (22/12/2007) .
Adnan Buyung mengingatkan, RI adalah negara yang berlandaskan hukum. Itu
artinya semua warga negara punya kedudukan yang sama di mata hukum, termasuk
para anggota Ahmadiyah, Al Qiyadah, dan lainnya yang juga warga negara RI.
Di dalam amandemen UU 45, tutur dia, telah dikuatkan kebebasan beragama dan
memeluk keyakinan merupakan hak paling asasi setiap warga negara.
Konsekuensinya, aparat pemerintah berkewajiban melindungi dan menjamin
realisasi hak tersebut.
Ironisnya, lanjut Adnan Buyung, hal sebaliknya yang terjadi di lapangan. Di
dalam berbagai kasus tindak penyerangan dan kekerasan keagamaan belakangan
ini, justru para korban penyerangan dicap sesat dan dikenai proses hukum,
sementara penyerang malah bebas dari itu semua.
“Justru karena kita cinta negara ini, kita wajib mengingatkan pemerintah
yang sedang berkuasa untuk melaksanakan kewajibannya sesuai konstitusi. Maka
beranilah ajukan gugatan. Saya siap dampingi di mana pun berada,” kata
pengacara senior ini. * ( lh / sss ) *

http://jkt.detiknew s.com/index. php/detik. read/tahun/ 2007/bulan/
12/tgl/22/ time/120330/ idnews/869972/
idkanal/10<http://jkt.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/12/tgl…>

Pemerintah Cenderung Diam Dalam Kasus Kekerasan Terhadap Minoritas

— JAKARTA–MEDIA: Pemerintah seolah-olah diam dan cenderung melakukan
pembiaran terhadap tindak kekerasaan terhadap kebebasan memeluk agama dan
keyakinan di Indonesia. Jika pemerintah tidak berani menegakkan kebebasan
itu, dikhawatirkan akan memecahkan kesatuan NKRI dan runtuhnya sendi-sendi
kebangsaan.
Demikian disampaikan Sekretaris Eksekutif PGGI Pendeta Gomar Gultom, Ketua
Umum ICRP Musdah Mulia, Ketua Komnas HAM Ifdal Kasim, Tokoh Nasional
Abdurrahman Wahid, dan Praktisi Senior Hukum Adnan Buyung Nasution dalam
diskusi Evaluasi Toleransi Beragama dalam Pemerintahan SBY-JK di Radio KRH
68 H Utan Kayu, Jakarta Timur, Sabtu (22/12).
Menurut Pendeta Gultom, pembiaran ini terlihat dari lemahnya perlindungan
aparat hukum terhadap kelompok yang dicap aliran sesat oleh sejumlah ormas
masyarakat saat ini. Ia menambahkan aparat bahkan cenderung ikut mengamankan
dan menahan para penganut aliran minoritas itu.

Selain itu, Gultom memaparkan ketidak mampuan pemerintah melindungi
kebebasan beragama juga dialami kelompok agama besar yang diakui pemerintah.
Ia menjelaskan selama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, aparat
juga tidak mampu mencegah terjadinya proses pengrusakan rumah ibadat.
“Tercatat ada 108 gereja yang dirusak selama era SBY dari tahun 2004 ini,”
tandasnya.

Melihat kondisi itu, Musdah dalam kesempatan ini menilai pemerintah tidak
berhasil melindungi hak kebebasan beragama yang diatur dalam konstitusi
amandemen UUD 45 pasal 28 E. Ia melihat pemerintah lebih tunduk pada fatwa
organisasi informal seperti MUI daripada konstitusi.
“Misalnya, Kejaksaan Agung masih mengikuti Fatwa MUI dalam mengambil
tindakan. Ini berarti negara melakukan kesalahan besar,” ungkapnya.
Fakta senada juga disampaikan Ketua Komnas HAM Ifdal Kasim. Menurutnya,
dalam tiga tahun terakhir masih banyak terjadi kekerasan dan tekanan yang
dialami para penganut aliran minoritas. Contoh terbaru, paparnya, seperti
kasus penusukan dan pengrusakan tempat ibadah jemaat Ahamadiyah di Kuningan,
Jawa Barat, serta penangkapan dan penyerangan terhadap pengikut Alqiyadah
belum lama ini.
“Semua ini mengarahkan pertanyaan, di mana peran negara dalam melindungi
masyarakatnya, ” sesalnya.

Dalam kesempatan itu, Komnas HAM meragukan argumen tindak kekerasan
keagamaan merupakan aksi spontan warga sekitar. Menurutnya, ada kelompok
tertentu yang diduga kuat menunggangi dan menjadi motor penggerak aksi
kekerasan tersebut. “Dari kasus beruntun di Kuningan, Serang, dan
Tasikmalaya, pelakunya sama saja. Diketahui beberapa tokohnya itu-itu saja,”
ujarnya.
Sementara itu, Adnan Buyung mengajak para penganut aliran minoritas yang
mengalami kekerasaan itu untuk berani melawan negara lewat jalur koridor
hukum yang telah diatur dalam konstitusi. Menurutnya, di dalam amandemen UU
45 telah ditegaskan kebebasan beragama dan memeluk keyakinan merupakan hak
paling asasi setiap warga negara.
Konsekuensinya, tandasnya, aparat pemerintah berkewajiban melindungi dan
menjamin realisasi hak tersebut. Namun, lanjut Adnan, ironisnya di lapangan
dalam berbagai kasus tindak penyerangan dan kekerasan keagamaan belakangan
ini para korban penyerangan dicap sesat dan dikenai proses hukum.

“Padahal semua warga negara punya kedudukan yang sama di mata hukum,
termasuk para anggota Ahmadiyah, Al Qiyadah. Jadi lawan dong pemerintahan.
Ada upaya hukum yang bisa ditempuh, bukan balik melawan lewat kekerasan,”
cetusnya sambil menegaskan kesediaanya mendampingi para penganut aliran
minoritas yang menjadi korban dan ingin mengajukan gugatan hukum kepada
negara.
Terkait masalah ini, mantan Presiden Gusdur menjelaskan hingga saat ini ada
3149 Perda yang bertentangan dengan hak kebebasan menjalankan keyakinan
sesuai yang diatur dalam konstitusi amendemen UUD 1945. Kondisi ini,
lanjutnya, ditambah sikap pemerintah yang mengekor pada Fatwa Sesat MUI
menunjukkan ketakutan pemerintah terhadap tekanan ormas yang berbasis agama
tersebut.
“SBY harus kembali menunjukkan komitmennya untuk melindungi hak kebebasan
beragama yang diatur dalam konstitusi,” ujarnya. (NU/OL-03)

http://www.mediaindonesia.com/berita.asp?id=153121

Pemerintah Gagal Jamin Kebeasan Beragama

JAKARTA – Kebijakan pemerintah dalam menjamin kebebasan beragama mendapatkan
sorotan dari beberapa tokoh. Kekerasan terhadap penganut aliran agama
tertentu yang marak akhir-akhir ini dianggap karena ketidakmampuan
pemerintah melindungi warga. “Pemerintah telah gagal,” ujar Ketua Umum Dewan
Syura DPP PKB KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di sela diskusi Evaluasi
Toleransi Beragama dalam Pemerintahan SBY-JK di Jakarta kemarin (22/12).

Menurut Gus Dur, pemerintah cenderung membiarkan terjadinya berbagai
kekerasan agama, terutama terhadap kelompok-kelompok minoritas. Para pelaku
tidak pernah diproses, apalagi ditangkap. Padahal, kata dia, UUD 1945
jelas-jelas melindungi hak beragama warga negara.

“Karena itu, perombakan untuk perbaikan hanya bisa dilakukan dengan
mengganti pemerintahan,” tegas mantan ketua umum PB NU tersebut. Menurut Gus
Dur, selama sejarah, baru kali kali ini pemerintah lebih tunduk pada
kelompok tertentu, bukan pada Pancasila atau konstitusi dasar lainnya.

Gus Dur menyebut MUI (Majelis Ulama Indonesia) ikut berperan secara tidak
langsung dalam peristiwa kekerasan terhadap penganut aliran agama itu.
Misalnya, penyerangan dan perusakan masjid milik jamaah Ahmadiyah di
Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Selasa (18/12). “Mereka merusak kan berbekal
fatwa sesat dari MUI. Jadi, bubarkan saja lembaga itu,” kritik Gus Dur.

Ungkapan keprihatinan juga disampaikan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden
(Wantimpres) Adnan Buyung Nasution. “Negara hukum kita sudah kacau. UUD bisa
kalah dengan fatwa,” tegasnya.

Padahal, kata Adnan, MUI tak ubahnya lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang
dibiayai pemerintah. “Saya turut menyayangkan pemerintah yang bisa begitu
lemah di hadapan MUI,” kata pendiri YLBHI itu. Meski demikian, pakar hukum
berambut putih tersebut juga mengkritik Ahmadiyah ataupun beberapa lembaga
yang selama ini menjadi korban kekerasan. Menurut Adnan, mereka tidak boleh
hanya bisa mengeluh. Para korban itu harus bertindak, namun tidak dengan
ikut-ikutan melakukan kekerasan.

“Lawan pemerintah, gugat melalui proses hukum. Saya akan mendampingi di mana
pun berada,” tandasnya. Dia mengatakan, pemerintah daerah, kepolisian,
hingga kejaksaan pantas dituntut karena cenderung membiarkan berbagai
kekerasan terjadi.

“Saya ragu, apakah sendi-sendi kebangsaan kita bisa bertahan kalau perbedaan
agama dan kepercayaan masih jadi masalah,” tambah Sekretaris Eksekutif PGGI
Pdt Gomar Gultom, yang turut hadir dalam diskusi tersebut. (dyn/oni)

http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=318338



Salamun ‘ala manittaba al Huda
ARMANSYAH
http://armansyah.swaramuslim.net
https://arsiparmansyah.wordpress.com
http://rekonstruksisejarahisaalmasih.wordpress.com
http://jejakpararasulsetelahmuhammad.wordpress.com/

Gambar & Animasi Masjidil Haram 3 Dimensi

Assalamu’alaykum Wr. Wb.,

Mungkin ada diantara rekan-rekan yang belum tahu situs yang menyediakan image 3 Dimensi dari Ka’bah dan Masjidil Haram berikut animasinya dalam format MP4, maka silahkan berkunjung dan mengaksesnya dialamat ini : http://www.3dkabah.com/ (untuk Images) dan http://homepage.mac.com/abidshussain/FileSharing2.html (untuk animasi 3 Dimensi MP4).

Semoga bermanfaat.


Salamun ‘ala manittaba al Huda

ARMANSYAH
http://armansyah.swaramuslim.net
https://arsiparmansyah.wordpress.com
http://rekonstruksisejarahisaalmasih.wordpress.com
http://jejakpararasulsetelahmuhammad.wordpress.com/

Fatwa MUI tentang Natal

LOGO MUI

Sumber : http://media.isnet.org/antar/etc/NatalMUI1981.html
Fatwa  MUI bisa juga dibaca di website resmi MUI disini :

KEPUTUSAN KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA TENTANG PERAYAAN NATAL BERSAMA  

Memperhatikan:
1. Perayaan Natal Bersama pada akhir-akhir ini disalahartikan oleh sebagian ummat Islam dan disangka sama dengan ummat Islam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw.

2. Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam yang ikut dalam perayaan Natal dan bahkan duduk dalam kepanitiaan Natal.

3. Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan Ibadah.  

Menimbang:

1. Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang jelas tentang Perayaan Natal Bersama.

2. Ummat Islam agar tidak mencampur-adukkan Aqidah dan Ibadahnya dengan Aqidah dan Ibadah agama lain.

3. Ummat Islam harus berusaha untuk menambah Iman dan Taqwanya kepada Allah Swt.

4. Tanpa mengurangi usaha ummat Islam dalam Kerukunan Antar ummat Beragama di Indonesia.  

Meneliti kembali:

Ajaran-ajaran agama Islam, antara lain:

A. Bahwa ummat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan ummat agama-agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan, berdasarkan atas: Al Hujarat: i3; Lukman:15; Mumtahanah: 8 *).

B. Bahwa ummat Islam tidak boleh mencampur-adukkan aqidah dan peribadatan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama lain, berdasarkan Al Kafirun: 1-6; Al Baqarah: 42.*)

C. Bahwa ummat Islam harus mengakui kenabian dan kerasulan Isa Al Masih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada para Nabi yang lain, berdasarkan: Maryam: 30-32; Al Maidah:75; Al Baqarah: 285.*)

D. Bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih daripada satu, Tuhan itu mempunyai anak dan Isa Al Masih itu anaknya, maka orang itu kafir dan musyrik, berdasarkan: Al Maidah:72-73; At Taubah:30.*)

E. Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan menanyakan kepada Isa, apakah dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya, agar mereka mengakui Isa dan ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa menjawab Tidak. Hal itu berdasarkan atas Al Maidah: 116-118.*)

F. Islam mengajarkan bahwa Allah Swt itu hanya satu, berdasarkan atas: Al Ikhlas 1-4.*)

G. Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah Swt serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan, berdasarkan atas: hadits Nabi dari Numan bin Basyir (yang artinya):

Sesungguhnya apa-apa yang halal itu telah jelas dan apa-apa yang haran itu pun telah jelas, akan tetapi di antara keduanya itu banyak yang syubhat (seperti halal, seperti haram ), kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat itu. Barang siapa memelihara diri dari yang syubhat itu, maka bersihlah Agamanya dan kehormatannya, tetapi barangsiapa jatuh pada yang syubhat maka berarti ia telah jatuh kepada yang haram, misalnya semacam orang yang menggembalakan binatang di sekitar daerah larangan maka mungkin sekali binatang itu makan di daerah larangan itu. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang diharamkanNya (oleh karena itu yang haram jangan didekati).  

Majelis Ulama Indonesia MEMFATWAKAN:

1. Perayaan natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa As, akan tetapi natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas.

2. Mengikuti upacara natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.

3. Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah Swt dianjurkan untuk (dalam garis miring): tidak mengikuti kegiatan-kegiatan natal.

Jakarta, 1 Jumadil Awal 1401 H./ 7 Maret 1981

M. KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
Ketua (K.H.M. Syukri Ghozali),
Sekretaris (Drs. H. Masudi)  

——– *)
Catatan: Dalam fatwa itu, ayat-ayar Al Quraan yang disebutkan tadi ditulis lengkap dalam Bhs Arab dan terjemahannya, Bhs Indonesia.

Hukum ucapan Selamat Natal

Hukum Ucapan Selamat Natal

Oleh : Armansyah

Hal yang harusnya mendapatkan perhatian dan menjadi pemikiran bersama menurut hemat saya adalah mencoba melakukan rekonstruksi dari makna dan tujuan dari ucapan salam atau selamat natal itu sendiri kepada orang-orang Kristiani.

Pertama-tama, arti ucapan salam adalah selamat atau keselamatan.
Tentu yang dimaksud mula-mula dari kata ini tidak lain dari keselamatan yang datangnya dari Allah.

Saat kita menyebut kata “Assalamu’alaykum” maka ini artinya kurang lebih “semoga keselamatan dari Allah atas dirimu” (walaupun harfiahnya kata-kata “dari Allah” merupakan sisipan dari makna).

Dari arti ucapan salam tersebut maka akan dipahami bahwa kalimat ini adalah do’a yang ditujukan dari kita kepada lawan bicara, lagi-lagi dengan makna agar orang tersebut selamat (tentu selamat dunia dan akhirat), implikasi dari keselamatan tersebut adalah orang ini diampuni kesalahan maupun perbuatannya.

Dalam kaitannya pengucapan salam untuk orang Islam, kalimat-kalimat semacam ini tidak menemui permasalahan apapun sebab akidah ketuhanannya sama yaitu Tauhid.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (QS AL-Baqarah (2) : 286)

Lalu bagaimana bila kemudian diucapkan kepada orang non Islam atau orang yang menolak mengakui Allah sebagai Tuhannya dan memilih tenggelam didalam kesombongan dan keegoisan dirinya meskipun dia mengetahui bahwa apa yang dia lakukan adalah salah dan tidak rasional ?

Al-Qur’an memberi pelajaran kepada kita melalui kisah Nabi Musa dan Fir’aun manakala beliau menjumpainya diistana :

Maka datanglah kamu berdua (Musa dan Harun) kepadanya (Fir’aun) dan katakanlah: “Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan Kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk -. Salamun ‘ala manittaba al Huda – (QS Thaha (20) :47)

السَّلَامُ عَلَىٰ مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَىٰ

Ucapan salam dari Nabi Musa dan Harun tersebut selanjutnya diterapkan juga oleh Nabi Muhammad dalam surat-surat yang beliau kirimkan kepada berbagai penguasa pada jamannya untuk memeluk Islam (salah satunya adalah surat kepada raja Romawi).

Dari sini kita mendapatkan hikmah bahwa  bagi orang-orang sejenis Fir’aun yang menolak konsepsi Tauhid maka salam yang diberikan sepantasnya adalah do’a agar yang bersangkutan mendapatkan petunjuk dari Allah. Jelas maksud disini adalah petunjuk kepada kebenaran Islam sehingga keselamatan itu benar-benar terwujud.

Setelah kita mengetahui hal ini, maka selanjutnya hal yang kita rekonstruksi adalah hakekat dari Natal. Tentu kita tidak akan lari dari konteks pemahaman ataupun pemikiran orang yang merayakan natal itu sendiri yaitu umat Kristiani.

Natal bagi mereka adalah hari kelahiran Tuhan yaitu Tuhan yang bernama Yesus.

Dari sisi pemahaman tersebut maka jelas bertentangan dengan konsepsi Tauhid Islam sebab didalam Islam Tuhan tidak pernah dilahirkan atau melahirkan, Yesuspun dalam teologi Islam adalah Nabi Isa al-Masih seorang manusia biasa yang diangkat sebagai Rasul bagi Bani Israel. Isa alias Yesus bukan Tuhan.

Maka bila kemudian kita memberikan do’a dalam bentuk ucapan “Selamat Natal” kepada orang-orang Kristiani maka setidaknya sudah ada 2 hal yang kita langgar dari prinsip fundamental Islam.

1. Mendo’akan agar orang kafir itu selamat dunia dan akhirat, padahal keselamatan hanya bagi orang yang mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya

2. Secara tidak langsung menyetujui konsepsi bahwa Tuhan pernah dilahirkan dalam wujud makhluk yang bernama Yesus, padahal Allah Maha Suci dari semua itu dan al-Masih putera Maryam hanyalah Rasul-Nya.

Ilustrasi

Bagaimana mungkin setelah kita tahu hal ini masih berani untuk melakukannya ?
Alasan toleransi adalah alasan klasik yang sudah basi, sebab toleransi tidak harus diwujudkan dalam bentuk ucapan selamat atau do’a.

Toleransi dapat berwujud perhatian dalam bentuk sosial, saling bantu membantu dalam perbuatan yang baik dan mencegah perbuatan yang mungkar, mengajaknya kejalan Tuhan melalui diskusi yang positip dan benar serta hal-hal lainnya. Tidak perlu mencari alibi atau alasan seperti : anggap saja kita bersyukur dan mengenang hari lahirnya Nabi Isa. Jelas ini argumen yang goblog, kenapa harus tanggal 25 Desember ? Jelas makna natal ini harus dilihat dari mereka yang merayakannya bukan dari sisi kita, apakah mereka menganggap hari natal adalah hari lahirnya Nabi Isa sebagai seorang Rasul Allah dan manusia biasa ataukah selaku hari lahirnya Tuhan yang menjelma dalam bentuk daging ?


Jawaban untuk artikel MOHAMAD GUNTUR ROMLI

JAWABAN UNTUK ARTIKEL MOHAMAD GUNTUR ROMLI

“Pewahyuan Al-Quran: Antara Budaya dan Sejarah”

Oleh : ARMANSYAH

السَّلَامُ عَلَىٰ مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَىٰ

 

Ini adalah yang ke-7 kalinya saya menulis jawaban terhadap artikel-artikel yang diterbitkan oleh komunitas Jaringan Islam Liberal (JIL) melalui website mereka di http://islamlib.com ; kali ini saya akan memberikan tanggapan atas tulisan Sdr. Mohamad Guntur Romli yang dimuat dialamat

http://www.korantempo.com/korantempo/2007/05/04/Opini/krn,20070504,72.id.html dengan judul : Pewahyuan Al-Quran: Antara Budaya dan Sejarah.

Artikel Guntur Romli di Koran Tempo

Mungkin terlambat karena artikel tersebut sudah cukup lama dipublish dan mendapat beragam komentar, namun seperti kata pepatah : lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Semoga jawaban saya ini bisa ikut menambah pencerahan atas semua bentuk pemurtadan yang terselubung melalui artikel tersebut.

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.,

Sdr. Guntur Romli :

Pewahyuan adalah proses kolektif, baik sumber maupun proses kreatifnya. Ia bukanlah proses yang tunggal. Al-Quran sendiri menegaskan gagasan ini. Ketika Al-Quran berbicara tentang pewahyuan, baik dengan kata “mewahyukan” (awha) maupun “menurunkan” (anzala, nazzala) Al-Quran, digunakan kata nahnu: berarti kami–sebagai subyek–seperti dalam awhayna (kami telah mewahyukan) ataupun anzalna, nazzalna (kami telah menurunkan). Dalam Al-Mu’jam al-Mufahhras li Alfadzil Qur’an, kata awhaytu (aku mewahyukan) hanya dipakai delapan kali, sedangkan awhayna (kami mewahyukan) digunakan lebih dari 30 kali.

Kata “kami” adalah bentuk plural. Pertanyaannya, siapakah yang disebut “kami” dalam ayat-ayat itu? Para mufasir klasik yang berkeras pada doktrin ketunggalan dalam pewahyuan menolak memahami “kami” sebagai pluralitas dalam pewahyuan. Menurut mereka, meskipun “kami” bentuknya plural, konotasinya pada Dia Yang Tunggal, kata “kami” bertujuan lit ta’dzim (memuliakan) “si pembicara”.

Namun, pendapat ini, menurut hemat saya, rancu. Kata “kami”, bila digunakan sebagai pengganti “saya” atau “aku” untuk memuliakan “lawan bicara”, bukan “si pembicara”. Misalnya, seorang menteri tidak akan menggunakan kata “aku/saya telah melakukan” di depan presidennya, tapi mengatakan “kami telah melakukan”. Sebab, selain menunjukkan penghormatan terhadap lawan bicara, menandakan pengakuan, karena apa yang telah ia lakukan bukanlah hasil kerjanya sendiri, melainkan kerja kolektif.

Dalam tradisi tafsir klasik, menafsirkan istilah “kami” yang merujuk kepada Allah, Roh Kudus Jibril, dan Muhammad lazim kita temukan. Dalam pandangan ini, Al-Quran secara “maknawi” bersumber dari Tuhan, tapi secara lughawi (redaksi bahasa) disusun oleh Malaikat Jibril atau Nabi Muhammad: Al-Quran adalah “karya bersama” Allah, Jibril, dan Nabi Muhammad. Kelompok rasional Islam Muktazilah adalah pelopor pemahaman ini.

Pendapat ini berdasarkan sambungan sebaris ayat yang berbicara tentang turunnya Al-Quran: wa inna lahu lahafidzun, “dan sesungguhnya kami pula yang akan menjaganya (Al-Quran)”. Di sini proses turunnya Al-Quran, sebagaimana proses penjagaannya, melibatkan “kerja kolektif” antara Tuhan dan manusia. Proses penjagaan (autentisitas) Al-Quran oleh manusia berbentuk hafalan dan tulisan.

Pewahyuan yang plural itu bisa ditegaskan lebih lanjut dengan menggunakan kajian sejarah yang melibatkan konteks sejarah, masyarakat, tradisi, dan lingkungan. Pewahyuan dari konteks ini, menurut saya, bisa lebih menegaskan klaim Al-Quran sendiri, yang menggunakan kata “kami” yang plural, bukan “aku” yang tunggal.

Tanggapan saya :

Bahwa apa yang disampaikan oleh Sdr. Guntur Romli tidak sepenuhnya salah. Dalam tata bahasa Arab, ada kata ganti pertama singular ( misalnya ana ), dan ada kata ganti pertama plural ( misalnya nahnu ). Sama dengan tata bahasa lainnya seperti Inggris dengan kata ganti pertamanya “I” atau kata ganti pertama plural “We”. Akan tetapi, dalam bahasa Arab, kata ganti pertama plural dapat, dan sering, difungsikan sebagai singular. Dalam ilmu “nahwu-sharaf”, hal demikian ini disebut “al-Mutakallim al-Mu’adzdzim li Nafsih-i”, kata ganti pertama yang mengagungkan dirinya sendiri. Dalam kaitannya dengan penghormatan terhadap lawan bicara seperti yang dinyatakan oleh Sdr. Guntur Romli harusnya bukan merujuk pada diri sipembicara itu sendiri tetapi merujuk pada lawan bicara, seperti misalnya ketika kita menyebut kata “kamu” dengan “Antum”  dan bukan “Anta” meskipun lawan bicara kita itu hanya satu orang.

Sehingga sama sekali tidak rancu apabila dipahami penggunaan kata “Kami” atau “NAHNU” dalam kaitannya kepada diri Tuhan yang dipakai pada al-Qur’an adalah bentuk jamak yang seringkali sifatnya menunjukkan penghormatan dan keagungan-Nya dan bukan sebagai bentuk jamak dari Dzat-Nya ataupun harus selalu berkonotasikan keterlibatan makhluk diluar Dia. Memang adakalanya kata “KAMI” melibatkan unsur makhluk (kerja kolektif) dalam prosesnya. Ini bisa kita lihat misalnya dalam ayat-ayat berikut :


Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS AL-Hijr (15) :9)

 Dan al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS AL-Israa (17) :106)

 Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. (QS AD-Dukhaan (44) :3)

 Allah mengakui al-Qur’an yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi. (QS AN-Nisa’ (4) :166)

Secara tekstual ayat-ayat tersebut berbicara mengenai proses turunnya al-Qur’an pada Nabi Muhammad dan kontekstual dari ayat-ayat ini merujuk pada kejadian dimana Allah memang bekerja secara kolektif dengan melibatkan Jibril sebagai perantara diri-Nya kepada sang Nabi. Kita bisa mengambil persamaan sistem kerja kolektif Allah ini juga terhadap ayat berikut :

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. (QS AR-Ra’d (13) :11)

Sehingga apa yang menjadi argumentasi Sdr. Guntur Romli bahwa al-Qur’an itu secara maknawi bersumber dari Allah dan redaksionalnya hasil kompilasi Jibril dengan Muhammad tidak dapat dibenarkan. Malaikat dalam kasus-kasus ini adalah bertindak sebagai penyambung lidah dari Dzat Yang Maha Halus kepada hamba-Nya Muhammad.

Tidaklah mungkin al-Qur’an ini dibuat oleh selain Allah … tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam. (QS Yunus (10) :37)

Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat al-Qur’an itu”, Katakanlah:” (Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”. (QS Huud (11) :13)

Ruhul Qudus menurunkan al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar (QS AN-Nahl (16) :102)

Dan sesungguhnya al-Qur’an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah. (QS AZ-Zukhruf  43:4)

Kita tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa jika yang dimaksud sebagai originalitas wahyu itu terletak pada tulisannya, maka sejarah membuktikan bahwa penulisan al-Qur’an mengalami perubahan demi perubahan dalam menuju kesempurnaan tata bahasa yang ada pada peradaban manusia khususnya pada bahasa Arab, dimana huruf Arab mengalami perkembangan (ber-evolusi) dari sebelum ada tanda baca menjadi ada tanda bacanya, dari sebelum ada ditulis batas pemberhentian pembacaan menjadi ada batasnya dan seterusnya, misalnya, kata Ya’lamu dalam huruf Arab gundul, bisa dibaca Yu’limu, Yu’allimu, Yu’lamu maupun Yu’allamu yang membuatnya bisa berbeda arti.

Karenanya yang dimaksud sebagai wahyu yang terjaga adalah isi, pesan keilmuan dan dan cara membaca dari al-Qur’an itu sendiri. Bila kemudian Sdr. Guntur menyatakan bahwa redaksi al-Qur’an merupakan sebuah kompilasi bersama antara Allah, Jibril dan Muhammad maka disinilah letak kelirunya.

Sebab secara umum yang diyakini oleh umat Islam, redaksi al-Qur’an yang berasal dari Allah tidak mengalami perubahan dalam proses konversi kepada Jibril dan juga kepada Muhammad. Misalnya secara sederhana adalah perkataan : Yaa Ayyuhannas maka Yaa Ayyuhannas itulah yang tetap dipertahankan redaksinya dari Jibril kepada Muhammad sampai kemudian dikonversi dalam bentuk tulisan al-Qur’an sampai jaman sekarang ini, tidak malah diubah dari Yaa Ayyuhannas menjadi Yaa Ayyunal-Insan meskipun keduanya memiliki arti yang serupa, atau dari kata Minal Jinnati Wannas diubah menjadi Minannas wal Jinni meskipun sekali lagi keduanya tidak berbeda dari sisi arti atau maknawi.

Adapun penggunaan kata nahnu atau Kami dalam artian keterlibatan makhluk yang dirujuk oleh al-Qur’an bukan dalam hal peredaksiannya tetapi lebih kepada proses yang terjadi secara empiris terhadap redaksional itu sendiri. Sebagai contoh adalah ketika Allah merujuk penjagaan al-Qur’an dalam surah al-Hijr ayat 99 yang merupakan bentuk ataupun cara dari keterjagaan redaksional wahyu melalui usaha penghafalan umat Muslim dalam berbagai bentuknya termasuk disetiap pembacaan dan pengulangan ayat-ayat al-Qur’an disetiap salat, perlombaan musabaqoh tilawatil Qur’an yang menghasilkan Qori dan Qori’ah yang hafidz Qur’an dan sebagainya. Contoh lainnya bisa juga diambil dari cerita penciptaan manusia seperti dalam surah al-Hujurat ayat 13 yang merupakan mekanisme kerja Allah yang menggunakan proses dan hukum sebab-akibat dan seterusnya sebagaimana yang bisa kita pelajari di ilmu-ilmu biologi dan kedokteran.

Tetapi yang jelas bahwa bila itu dirujuk kepada bentuk jamak maupun pluralitas esensi Tuhan itu sendiri maka jelas pemahaman yang menyimpang. Lah ketika kita berpidato ditengah orang banyak saja sering kita menyebut diri kita dengan kata-kata “Kami”, ini bisa ditinjau juga sebagai salah satu bentuk kesopanan dalam bertutur kata.

Sdr. Guntur Romli :

Kisah dalam Al-Quran

Saya akan mengambil contoh kisah-kisah yang banyak dimuat Al-Quran. Dua pertiga isi Al-Quran adalah tentang kisah yang bersumber dari konteks tempat wahyu itu turun: kisah-kisah yang diperbincangkan di pasar-pasar, di sela-sela transaksi dan safari perniagaan, ataupun dongeng yang diwariskan secara turun-temurun. Dari kajian sejarah ini, Al-Quran tidak bisa melampaui konteksnya. Dalam ranah ini, pendapat Nashr Hamir Abu-Zayd bahwa al-nash muntaj tsaqafi (Al-Quran merupakan produk budaya) adalah sahih. Al-Quran adalah produk rangkaian proses kreatif-kolektif manusia yang disebut budaya. Wahyu tidak bisa lepas dari dua faktor yang membentuknya: sejarah (al-tarikh) dan konteks (al-waqi’).

Tanggapan saya :

Memang tidak juga kita pungkiri apabila wahyu tidak mungkin bisa terlepas dari faktor kesejarahan dan kontekstualnya. Banyak ayat-ayat al-Qur’an bercerita tentang sejarah masa lalu umat manusia, baik itu yang memiliki kaitan dengan cerita-cerita yang dianggap sebagai dongeng-dongeng tertentu yang tidak terlalu jelas maupun yang melibatkan pengetahuan empiris manusia dengan manuskrip pembanding yang bisa dijumpai. Tetapi apakah al-Qur’an secara otomatis bisa disebut sebagai produk budaya hanya karena al-Qur’an dianggap mengadopsi atau menyadur kedua faktor tadi maka itulah yang rasanya tidak tepat dalam penganalisaan Sdr. Guntur.

Seluruh ayat sejarah yang ada dalam al-Qur’an anggap saja merupakan adopsi atau rewrited dari sejarah-sejarah peradaban yang pernah berlaku dimasa lalu, namun dalam konteks penulisan ulang sejarah yang pernah ada itu dan mungkin sudah terlupakan atau terhilangkan atau boleh jadi juga tinggal lagi sebatas dongeng pengantar tidur malam akibat perjalanan jaman seperti kisah kaum ‘aad, Iram dan sebagainya tetap merupakan sejarah yang sesungguhnya pernah terjadi sesuai hasil-hasil penggalian arkeologis terkini. Dalam hal seperti ini maka penceritaan ulang dari al-Qur’an sama sekali pasti terlepas dari unsur versi penggalan sejarah mana yang mayoritas ataupun minoritas.

Sdr. Guntur Romli :

Kisah-kisah Al-Quran yang dipercaya sebagai mukjizat hakikatnya merupakan kisah-kisah yang sudah populer pada zaman itu. Al-Quran tidak pernah menghadirkan kisah-kisah yang benar-benar baru. Misalnya saja kita tidak menemukan kisah tentang masyarakat Cina atau India, yang waktu itu telah memiliki peradaban yang luar biasa. Hal itu terjadi karena kisah-kisah tersebut tidak pernah sampai atau kurang populer ataupun tidak memiliki dampak ideologis dan politis terhadap masyarakat Arab. Berbeda dengan kisah-kisah yang berasal dari kawasan yang disebut “Bulan Sabit Subur”. Kawasan ini menjadi “mata air” yang mengalirkan kisah-kisah yang termaktub dalam Al-Quran.

Tanggapan saya :

 

Dalam tinjauan psikologi, seseorang yang menjadi target suatu pengajaran tentu lebih mudah menerima konsepsi penyampaian dakwah tersebut bila apa yang diajarkan kepadanya tidak terlalu asing ditelinga maupun pemikirannya. Metode inilah kiranya yang juga diterapkan oleh al-Qur’an dalam banyak ayat-ayatnya untuk disampaikan oleh Muhammad kepada masyarakat pada masanya ataupun juga pada masa-masa sesudahnya. Hal ini tidak bisa dipungkiri lagi karena cerita-cerita dari daerah yang oleh Sdr. Guntur disebut sebagai “Bulan Sabit Subur” telah melintasi batas-batas daerahnya masing-masing.

Sebagai contoh ajaran Yahudi dan Kristiani pada masa Muhammad diangkat sebagai Rasul telah dikenal oleh masyarakat diluar komunitas bangsa Israel bahkan sudah masuk kebenua Asia dan Eropa. Cerita tentang Musa dan Isa dengan mukjizatnya masing-masing telah akrab ditelinga anak manusia diberbagai benua, apalagi dengan tersebarnya komunitas Israel sejak masa pembuangan mereka dan perantauan Nabi Isa al-Masih putera Maryam serta para sahabatnya untuk berdakwah tentang monotheisme Tuhan terhadap bangsa Diaspora tersebut.

 

Diluar pewahyuan redaksional al-Qur’an, telah sampai juga kepada kita riwayat dari Imam Baihaqi yang dirujukkan sebagai sabda Nabi Muhammad tentang perintah menuntut ilmu sampai kenegeri Cina untuk umat Islam. Hal ini semakin membantah pendapat Sdr. Guntur sebelumnya bahwa Islam tidak pernah kenal dengan masyarakat Cina, adanya hadis tersebut dari tinjauan sejarah membuktikan bila Nabi Muhammad ternyata sudah mengenal komunitas Cina diwaktu beliau hidup, bahkan salah seorang sahabat Nabi yang bernama Abu Kasbah, tercatat sebagai orang pertama yang mendirikan masjid di Kanton.

Ilustrasi

Pada tahun 632 M, Abu Kasbah kembali ke Madinah untuk melaporkan keadaan negri Tiongkok kepada Nabi SAW, tetapi kedatangannya ke Madinah itu ternyata terlambat sebulan dari saat wafatnya Nabi, selanjutnya Abu Kasbah kembali ke Tiongkok dan meninggal disana. Ekspedisi Islam ke Cina sendiri secara resmi dimulai pada masa pemerintahan Usman bin Affan, lebih kurang 12 tahun setelah Nabi wafat (+/- 640 M).

Setelah menaklukkan Bizantium dan Persia, pada tahun 650 M, Usman mengirim ekspedisi ke Cina, dipimpin oleh Saad bin Abi Waqqash untuk menyampaikan ajakan kepada kaisar Cina yang bernama Yong Hui agar memeluk agama Islam sekaligus merupakan langkah taktis Usman atas sikap sang kaisar yang membantu Khosru Yezdegird III (632-651M) dari imperium Parsi untuk merebut wilayah Khurasan dan ibukotanya ibukota Merv dari tangan pasukan Muslim pimpinan Panglima Ahnaf ibn Kais Al Tamimi yang berhasil memukul mundur pasukan gabungan Cina dan Persia tersebut,  Perjalanan Saad bin Abi Waqqash sendiri tercatat dalam kitab Chee Chea Sheehuzoo (Perihal Kehidupan Nabi) yang ditulis oleh Lui Tschih, penulis muslim Tionghoa pada abad ke-18.

Disisi lain, sejak masa Dinasti Tang berkuasa di Cina (618-905M), mereka sudah menyediakan tempat kediaman khusus bagi orang asing di Bandar Kwang Chow (Kanton), yaitu Chang Chow dan Chuan Chow. Bandar di Kanton itu berada di Kwantung dan dua yang lain berada di Fukien.

Orang-orang asing non Cina seperti Arab, Persia, Yahudi atau juga  Kristen non-Yahudi, diizinkan berdagang dengan orang Cina di bandar-bandar yang telah ditetapkan tersebut. Ada pula cerita bahwa pada tahun 618 M saat Nabi menyuruh sahabatnya yang dipimpin oleh Ja’far bin Abu Thalib dari Mekkah untuk berhijrah ke Ethiopia dalam rangka menyelamatkan diri dari siksaan kaum kafir Mekkah, salah seorang dari mereka yang bernama Saad bin Lubaid telah berlayar dari Teluk Aden ke wilayah lain sampai di bandar Kwang Chow (Kanton) dan menyebarkan Islam disana.

 

Begitupula halnya dengan India, kenyataan sejarah menunjukkan bahwa Nabi Muhammad sangat mengenal negeri tersebut dimasa beliau masih hidup. Hal ini terbukti dengan adanya naskah yang menceritakan tentang masuk Islamnya salah satu raja dari Malabar India yang bernama Chakrawati Farmas setelah beliau menyaksikan mukjizat Nabi membelah bulan dari istananya*. Naskah tersebut diperkuat juga oleh sebuah riwayat yang berasal dari al-Hakim dalam kitabnya Musthadrak dari Abu Said al-Khudri. Salah seorang sahabat Nabi bernama Malik bin Dinar hijrah kedaerah Mangalore dan wafat diKasaragod, dan mendirikan sebuah masjid yang masih ada sampai hari ini bernama Cheraman Malik Masjid. Dengan demikian maka argumentasi yang diberikan oleh Sdr. Guntur sama sekali tidak sesuai dengan fakta dan sejarah yang berlaku.

Sdr. Guntur Romli :

Kisah Nabi Isa

Bukti lain bahwa Al-Quran tidak bisa melampaui konteksnya adalah kisah tentang Nabi Isa (Yesus Kristus). Sekilas kita melihat bahwa kisah Nabi Isa dalam Al-Quran berbeda dengan versi Kristen. Dalam Al-Quran, Isa (Yesus) hanyalah seorang rasul, bukan anak Allah, dan akhir hayatnya tidak disalib. Sementara itu, dalam doktrin Kristen, akhir hidup Yesus itu disalib, yang diyakini untuk menebus dosa umatnya. Ternyata kisah tentang tidak disalibnya Nabi Isa juga dipengaruhi oleh keyakinan salah satu kelompok Kristen minoritas yang berkembang saat itu, yakni sekte Ebyon. Bagi kelompok Kristen mayoritas yang menyatakan Isa (Yesus) mati disalib, sekte Ebyon adalah sekte Kristen yang bidah.

Tanggapan saya :

 

Seperti yang sudah saya sampaikan sebelum ini, bahwa penceritaan ulang dari al-Qur’an sama sekali pasti terlepas dari unsur versi penggalan sejarah mana yang mayoritas ataupun minoritas dimasyarakat. Berbicara versi maka artinya kita masuk kedalam pembicaraan legenda atau sesuatu yang bisa benar dan bisa juga salah. Implikasinya akan ada versi a dan versi b sampai versi tak hingga yang masing-masing bisa jadi saling berselisihan.

 

Jika Sdr. Guntur Romli kemudian mengatakan bahwa adopsi sejarah penyaliban Isa al-Masih didalam al-Qur’an diambil dari versi sejarah sekte kristen Ebyon maka ini terlepas dari unsur-unsur kepentingan apapun, sebab ini realitas sejarah. Bila kemudian sekte Ebyon punya kesamaan versi dengan al-Qur’an, maka bisa jadi versi Ebyon itu juga adalah versi yang sebenarnya terjadi dalam pentas sejarah Isa al-Masih meskipun sekte ini dalam dunia teologi Kristen adalah sekte yang menyimpang atau bidat.

Sekte Ebyon bukan satu-satunya sekte dalam Kristen yang berpaham seperti itu, paham sekte Basilides adalah satu dari sejumlah paham yang menyetujui konsepsi Ebyon tentang tidak tersalibnya Isa. Hanya saja yang menjadi rancu, sekte Basilides tidak hanya menolak penyaliban namun juga memahami bahwa Tuhannya Isa dengan Tuhannya Perjanjian Lama (yaitu Tuhannya Musa) adalah dua Tuhan yang berbeda sehingga Basilides berusaha menolak pemahaman Isa sebagai anak Tuhan yang dijadikan korban kekejaman Tuhan Perjanjian Lama yang haus dengan pengorbanan.

Karena itu saya lebih melihat pandangan Basilides jauh dari rasional yang bisa dijadikan pegangan kebenaran. Memang menarik bahwa banyak juga manuskrip tua yang diduga berasal dari jamannya Isa al-Masih, namun, teks-teks tua di Qumran dan beberapa tradisi diluarnya ( termasuk seputar keberadaan histori Yus Asaf di India dan juga di Himalaya ) perlu untuk menjadi pembanding pemahaman antara sekte Ebyon dengan konsepsi Kristen secara umum terhadap konsepsi al-Qur’an.

Kembali pada al-Qur’an, jika kita bijak melihat redaksi ayat yang menceritakan penyaliban, justru Qur’an tidak menolak peristiwa itu pernah berlaku terhadap Isa al-Masih sebagaimana dipahami umat Kristen hanya saja apakah dalam prosesnya tersebut Isa al-Masih benar-benar berhasil disalibkan dalam arti yang sesungguhnya ataukah hanya sebatas praduga semata, inilah yang kemudian dijelaskan oleh al-Qur’an. Intinya adalah bahwa penyerupaan Nabi Isa dengan sosok lain dalam peristiwa penyaliban sebagaimana yang dipercayai secara umum oleh mayoritas umat Islam justru tidak bisa dibuktikan oleh al-Qur’an sendiri.

Saya sudah membuat artikel khusus untuk masalah ini, silahkan baca tulisan saya dengan judul “Apakah Nabi Isa disamarkan wajahnya” pada link : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2011/12/12/apakah-nabi-isa-disamarkan-wajahnya/ dan juga “Misteri Penyaliban Nabi Isa” pada link : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/06/24/misteri-penyaliban-nabi-isa/

Sdr. Guntur Romli :

Saya menjumpai adanya sekte Ebyon ini dalam buku Dinasti Yesus (2007) karya James D. Tabor. Menurut Tabor, sekte ini memiliki keyakinan yang mirip dengan keyakinan Islam dan berbeda dari Gereja Roma (lihat di bagian Konklusi di buku Tabor). Malah, menurut Tabor, sekte inilah ahli waris ajaran-ajaran kuno Yesus sebelum bercampur baur dengan ajaran Paulus. Tabor juga berasumsi bahwa Ebyon inilah yang memiliki kontak dengan Islam dan Nabi Muhammad.

Tanggapan saya :

 

Pertanyaan balik dari saya untuk Sdr. Guntur Romli dan juga James D. Tabor, apakah anda bisa membuktikan dari sisi kesejarahan bila memang Muhammad pada masanya memiliki kontak dengan Sekte Ebyon ini ? Banyak dari tulisan James D. Tabor dalam buku Dinasti Yesus hanyalah asumsi-asumsi saja yang sama sekali tidak berakar pada realitas sejarah, hal ini secara panjang lebar sudah saya bahas dalam buku Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih : Sebuah Pelurusan Sejarah & Jawaban untuk Dinasti Yesus (2007).

Sdr. Guntur Romli :

Namun dalam konklusi yang sangat pendek itu, Tabor tidak mengulas secara detail persamaan keyakinan Ebyon dan Islam, khususnya dalam peristiwa yang sangat krusial, yaitu penyaliban Yesus. Bagi para peneliti Yesus Sejarah, penyaliban Yesus adalah fakta sejarah, sedangkan bagi Ebyon–sepanjang pengetahuan saya terhadap akidah sekte ini dari beberapa literatur sejarah Arab dan Kristen–memang mirip dengan akidah Islam serta menolak cerita penyaliban Yesus.

 Tanggapan saya :

Jawaban anda diatas sebenarnya bisa menjawab sendiri argumentasi anda yang pincang tentang kaitan Muhammad dengan Sekte Ebyon. Dimana kita tidak bisa mengambil kesimpulan mengenai asumsi yang belum jelas kebenarannya karena Tabor belum mengulas secara jelas keyakinan Ebyon dengan Islam, sehingga semua ini hanya sebatas praduga saja. Dengan demikian dugaan dan argumentasi anda bahwa Islam mengambil ajaran sekte Ebyon sama sekali tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga. (QS Yunus (10) :66)

Sdr. Guntur Romli :

Sejarah dan doktrin sekte Ebyon di Arab ini bisa ditemukan dalam buku Dr Jawwad Ali al-Mufashshal fi Tarikh al-‘Arab Qablal Islam (Sejarah Bangsa Arab Sebelum Islam) dalam empat jilid dan buku Al-Nashraniyah wa Adabuha Bayna ‘Arab al-Jahiliyah (Sejarah dan Sastra Kristen di Era Arab Jahiliyah) dalam dua jilid, karya Al-Abb Luwis Syaikhu al-Yasu’i, seorang Romo Katolik Jesuit. Demikian juga dalam Al-Mawsu’ah Tarikh Aqbath Mishr (Ensiklopedi Sejarah Koptik Mesir).

Pada zaman Nabi Muhammad tidak hanya sekte Ebyon yang tersebar di Jazirah Arab. Ada dua sekte Kristen lain yang jauh lebih besar: Manofisit dan Nestorian, sebagai kelompok terbesar Gereja Timur yang berlawanan dengan Gereja Roma. Namun, kedua sekte itu (Manofisit dan Nestorian) tetap memiliki pandangan bahwa Yesus mati disalib. Hanya, keyakinan Ebyonlah yang benar-benar berbeda: Isa bukan anak Tuhan, ia hanya Rasul, dan matinya tidak disalib.

Tanggapan saya :

 

Walaupun sekte-sekte Kristen tersebar diseluruh jazirah Arabia pada masa itu, namun fakta yang tidak bisa dipungkiri bila mayoritas penduduk Mekkah pada jaman kenabian Muhammad justru tidak menganut ajaran Kristen, mereka memberhalakan Latta dan Uzza. Ajaran Islam tentang tidak matinya Isa diatas kayu salib serta paham kerasulan Isa al-Masih adalah fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri oleh siapapun juga sekalipun itu dengan membawa argumentasi dari kitab-kitab Perjanjian Baru.

Bahwa adanya konsepsi tentang Isa sebagai anak Tuhan dan Isa mati tersalib dalam teologi Kristen sudah diluar tektual dan kontekstual kitab-kitab itu sendiri. Mereka hanya menafsirkan dari ayat-ayat yang bercerita tentang jasad Isa yang tak berdaya diatas kayu salib setelah penikaman oleh tentara Romawi maupun sesudah beliau diberi minuman tertentu, akan tetapi dalam banyak ayat yang bercerita paska kejadian itu membuktikan kepada kita bila ternyata Nabi Isa justru berhasil selamat dari kematian yang ditimpakan kepadanya. Begitupun dengan doktrin keanak tuhanan dirinya, Nabi Isa al-Masih tidak pernah menyinggung hal-hal yang demikian kecuali dalam makna yang metafora sebagaimana istilah-istilah sejenis juga akrab dijumpai dalam khasanah kitab Perjanjian Lama.

Pengujian terhadap Yesus sejarah (Historical of Jesus) telah berjalan dari masa ke masa. Albert Scheweitzer merupakan pelopor sekaligus pakar sejarah Yesus. Selain dari Albert, tercatat pula John Dominic Crossan dengan bukunya “Quest Historical of Jesus” yang beberapa teori beliau telah di jelaskan dengan gamblang oleh Ioanes Rakhmat di dalam bukunya “Quest Historical of Jesus according Crossan thory”. Para pakar di Barat selama kurun waktu terakhir terus menguji beberapa dogma gereja seperti kematian Yesus, kebangkitan Yesus, serta Kenaikan Yesus kelangit. Beberapa pakar justru dengan tegas mempertanyakan tentang beberapa dogma tersebut.

Sebut saja Robert Funk dengan bukunya “The Five Gospels: What Did Really Jesus Say?”, yang menyebutkan bahwa kematian Yesus di dalam Injil bukan merupakan firman Tuhan yang benar, Burton.L.Mack dengan bukunya yang controversial “The Lost Gospel: Book of Q” yang menyatakan bahwa ajaran kematian Kristus dan Kebangkitan Kristus merupakan kepercayaan Paganisme dan Agama Purba Hellenis. Beberapa pakar diatas bukanlah omong kosong belaka, mereka berpendapat seperti itu karena telah memeriksa lebih dari 5000 naskah injil dan Perjanjian Baru dari berbagai edisi yang oleh mereka dikumpulkan menjadi suatu wadah, yaitu Jesus Seminar.

Sebuah buku controversial yang berjudul “Crucifixion of Jesus according the medical inquiry” juga mengatakan bahwa penyaliban Yesus jika ditinjau dari ilmu kesehatan maka dapat dipastikan dia masih hidup. Pernyataan seperti ini tidak hanya dari ilmu medis, menurut catatan sejarah Flavius Josephus (seorang sejarawan Yahudi yang masih hidup ketika Yahudi dihancurkan pada tahun 70 M) tidak pernah diceritakan tentang keajaiban Yesus, keilahian Yesus, bahkan Yesus sebagai Kristen.

 

Dari tulisan sesorang sekaliber Josephus sangatlah aneh bahwa tentang Ketuhanan Yesus tidak pernah disebut-sebut. Pada tahun 1980-an muncul sebuah buku berjudul “Holy Blood, Holy Grail” karangan Michael Baigent, Richard Leigh, Hendry Lincoln. Menurut buku itu Jesus tidak mati disalib, menikah dan hidup hingga usia tua, bahkan mempunyai keturunan serta cucu yang sampai saat ini masih berada di Prancis. Selain mengeluarkan buku tersebut, Michael Baigent juga menulis sebuah buku lain berjudul “The Jesus Papers” yang disalah satu sub judul buku dimulai dengan kata-kata “Surviving the Crucifixion” (selamat dari penyaliban).

Tidak puas dengan “The Jesus Papers”, Michael Baigent sebelumnya juga pada tahun 1991 mengeluarkan sebuah buku berjudul “The Dead Sea Scrolls Deception” yang mengatakan bahwa “menurut ilmu kesehatan Essena, Yesus masih dapat selamat dari penyaliban”, selain itu muncul pula beberapa karya non fiksi seperti “The Brook Kerith”, “The Da Vinci Code” serta buku karangan Nigel Cawthorne. Barbara Thiering juga tidak ketinggalan menulis sebuah buku pada tahun 1994 yang berjudul “Jesus The Man” yang dengan tegas dia mengatakan “Jesus did not die on the cross” (Yesus tidak mati disalib) serta “Jesus is a human as we are human” (Yesus manusia seperti kita manusia (pula)). Sdr. Guntur Romli juga seperti yang saya singgung sebelumnya, bisa juga membaca buku saya dengan tema serupa yang berjudul “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih” (2007).

Sdr. Guntur Romli :

Pengaruh Ebyon dan Waraqah bin Naufal

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa Al-Quran lebih memilih pandangan Ebyon yang minoritas dan keyakinannya dianggap bidah oleh mayoritas Kristen waktu itu? Saya memiliki dua asumsi. Pertama, karena pandangan Ebyon ini lebih dekat dengan akidah ketauhidan Islam. Kedua, sepupu Khadijah bernama Waraqah bin Naufal adalah seorang rahib sekte Ebyon. Kedekatan Waraqah dengan pasangan Muhammad-Khadijah diakui oleh sumber-sumber Islam, baik dari buku-buku Sirah (Biografi Nabi Muhammad), seperti Sirah Ibn Ishaq dan Ibn Hisyam, ataupun buku-buku hadis standar: Al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain.

Waraqah adalah wali Khadijah yang menikahkannya dengan Muhammad. Seorang perempuan kali itu–yang kemudian dilanjutkan oleh syariat Islam–tidak bisa menikah tanpa seorang wali laki-laki. Bisa dibayangkan kedekatan Waraqah dengan Khadijah dan Muhammad. Pun Waraqah orang pertama yang mengakui bahwa Muhammad memiliki tanda-tanda kenabian. Ia juga bernubuat, “nasib Muhammad seperti nabi-nabi sebelumnya, dia akan diusir oleh kaumnya”.

Tanggapan saya :

 

Berbicara mengenai Tauhid, harusnya Sdr. Guntur Romli lebih mendalami kajian-kajian Kristologi dengan benar. Sebab baik dalam kitab Perjanjian Lama maupun kitab-kitab di Perjanjian Baru, konsepsi Tauhid merupakan ajaran yang selalu disampaikan dan ditekankan oleh para Rasul Tuhan.

Harusnya jika Sdr. Guntur Romli benar-benar orang yang menjunjung tinggi obyektifitas dan intelektualnya sudah sepantasnya tidak lebih condong pada doktrin yang tidak memiliki pijakan argumentasi ilmiah namun mengadakan studi-studi pada sumber-sumber aslinya. Bukankah ini juga yang sering digembar-gemborkan oleh kelompok Jaringan Islam Liberal terhadap konsepsi pemahaman Islam ?

 

Ajaran Monotheisme atau Tauhid bukan ajaran yang baru dilingkungan para ahli kitab atau orang-orang yang pernah diturunkan wahyu sebelum Muhammad. Sehingga ajakan untuk mengkultuskan Allah dan menafikan ketuhanan apapun diluar-Nya bukan hanya milik satu ataupun dua kaum seperti yang dikatakan oleh Sdr. Guntur Romli. Jadi bila faktanya sekte Ebyon menganut prinsip Tauhid maka umat Yahudi yang ada sampai hari inipun memegang prinsip yang sama, demikian juga halnya dengan umat Islam.

 

Akan halnya, Waraqah bin Naufal yang disebut-sebut sebagai seorang Kristiani juga perlu mendapat sebuah klarifikasi lebih lanjut. Apakah status Kristiani dari Waraqah ini merupakan penganut konsepsi Tritunggal atau dalam artian pengikut ajaran Monotheisme yang diajarkan oleh Isa al-Masih dimasa hidupnya.

Seperti yang kita ketahui bersama, sebutan Kristen sendiri baru ada jauh sesudah al-Masih Putera Maryam tidak lagi ditengah komunitas Yahudi di Yerusalem yaitu pada masa Paulus mendirikan jemaat di Antiokhia. Sementara dimasa-masa gereja awal fakta sejarah mengemukakan kepada kita bila telah terjadi perselisihan antara kaum Unitarian yang mengesakan Allah terhadap kaum pagan yang menganggap Isa sebagai bagian dari ketuhanan seperti Iranaeus (130-200 M), Tertullian (160-220 M), Origen (185-254 M), Arius (256-336 M) dan sebagainya.

Sdr. Guntur Romli :

Al-Quran juga mengisahkan mukjizat Isa (Yesus) masa kanak-kanak, membuat burung-burung dari tanah, kemudian menghidupkannya. Kisah ini memang tidak ada dalam empat Injil (Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes), tapi bukan berarti Al-Quran adalah sumber tersendiri. Kisah mukjizat Isa (Yesus) masa kanak-kanak ini ada dalam tradisi Gnostik Kristen: Injil masa kanak-kanak Yesus menurut Tomas.

 

Tanggapan saya :

 

Seperti yang dinyatakan sendiri oleh al-Qur’an :

 

Dan Kami telah menurunkan kepadamu kitab dengan penuh kebenaran, membenarkan kitab-kitab yang pernah diturunkan sebelumnya dan sebagai korektor (batu ujian, Muhaymin) terhadap kitab-kitab yang lain itu. (QS AL-Ma’idah (5) : 48)

 Dari ayat ini maka al-Qur’an memposisikan dirinya bukanlah merupakan jiplakan atau saduran dari kitab-kitab yang pernah ada. Disisi lain, al-Qur’an juga menegaskan dirinya berfungsi sebagai korektor terhadap ajaran-ajaran yang diatasnamakan Tuhan dimasa lalu. Semua dari kita pasti menyadari bila yang disebut sebagai Taurat, bukanlah Perjanjian Lama dan yang disebut dengan Injil, bukanlah Perjanjian Baru.

Perjanjian Lama sendiri yang dikenal sekarang ini, secara historis sama sekali tidak bisa diketahui identitas penulisnya, orang hanya bisa menduga-duga saja dan menganggapnya sebagai fragmen sejarah yang direkam oleh para penulisnya berdasarkan bimbingan wahyu atau sekurang-kurangnya oleh Roh Kudus, dan sebagian dari mereka juga meyakini bahwa beberapa kitab dalam Perjanjian Lama adalah hasil penulisan dari Nabi Musa ‘alaihissalam. Yang mana pendapat terakhir ini ternyata sudah banyak di-ingkari oleh para sarjana Bible sendiri.

Adapun kitab Perjanjian Baru yang terdiri dari 4 Injil karangan Markus, Lukas, Matius dan Yohanes berikut surat-surat kiriman dan kesaksian Yohanes yang disebut sebagai kitab Wahyu bukanlah pula Injil yang telah diturunkan dan diajarkan oleh Nabi Isa ‘alaihissalam sebagaimana yang dimaksud oleh al-Qur’an.

Kitab Perjanjian Baru, khususnya 4 Injil, penulisan dan keberadaannya lebih banyak sama dari sisi historisnya seperti kitab-kitab dalam Perjanjian Lama, yaitu merupakan fragmen sejarah yang ditulis oleh para penulis yang berbeda atas apa yang mereka ketahui seputar ajaran Nabi Isa dan hal-hal yang menyangkut perjalanan misi dakwah beliau ditengah Bani Israel. Sementara Injil dari Isa ‘alaihissalam sendiri tidak dapat diketahui secara pasti keberadaannya, termasuk apakah sudah musnah dalam perjalanan sejarah ataukah ada dalam puluhan atau ratusan kitab-kitab yang disebut juga sebagai Injil-Injil Apokripa alias yang terlarang dan tidak diakui keabsahannya oleh pihak gereja.

 

Bart D. Ehrman menulis dalam bukunya Misquoting Jesus (Kesalahan penyalinan dalam kitab suci perjanjian baru : Kisah dibalik siapa yang mengubah alkitab dan apa alasannya, 2006) memberikan beberapa contoh dalam hal ini misalnya tentang kisah Yesus yang diuji oleh orang-orang Yahudi menyangkut status wanita yang telah berzina dalam Yohanes pasal 7 ayat 53 sampai pasal 8 ayat 11 dan juga dua belas ayat terakhir dari Markus ternyata sama sekali tidak ditemui dalam manuskripnya yang paling tua (bukan manuskrip asli, sebab naskah-naskah asli Perjanjian Baru sampai hari ini tidak pernah ada lagi), hal yang sama juga terjadi pada kasus 1 Yohanes pasal 5 ayat 7 sampai 8 yang menceritakan secara vulgar mengenai Tritunggal pada dasarnya tidak memiliki rujukan dari manuskrip aslinya berbahasa Vulgata Latin yang menjadi acuan penterjemahan.

 

Konsekwensi dari semua ini, apa yang kemudian ditemukan dalam kitab suci al-Qur’an dan dianggap sebagai sebuah adopsi dari kitab-kitab yang pernah ada sesungguhnya adalah sebuah pemberitaan ulang dari Tuhan kepada manusia mengenai sejarah yang telah dilupakan atau diabaikan, termasuk mengenai mukjizat-mukjizat Nabi Isa yang tidak ada didalam keempat Injil gereja masa kini.

Sdr. Guntur Romli :

Kesimpulan saya sementara–yang tentu saja bisa didebat dan dibantah–kisah Isa (Yesus) dalam Al-Quran, yang menegaskan bahwa Isa “hanyalah” seorang rasul, bukan anak Tuhan, dan tidak ada penyaliban terhadapnya adalah “saduran” dari keyakinan sebuah sekte Kristen: Ebyon. Alasan Al-Quran menggunakan kisah Yesus versi ini, seperti yang telah saya kemukakan: akidah sekte ini sesuai dengan tauhid dan misi Islam, pun sepupu mertua Muhammad: Waraqah bin Naufal, adalah seorang rahib dari sekte Ebyon yang pertama kali “meyakini” Muhammad sebagai nabi.

Tanggapan saya :

Dari sisi sejarah dan ilmiah, maka jelas argumentasi dari Sdr. Guntur Romli sangat bisa dibantah keabsahannya. Tidak saja karena argumentasinya tidak memiliki dalil yang otoritatif namun juga lebih banyak kepada asumsi-asumsi yang sangat subyektif dan tidak berdasarkan ilmu pengetahuan yang benar. Sehingga pernyataan al-Qur’an sebagai sebuah saduran dari kitab-kitab masa lalu adalah pernyataan yang bodoh dan tidak gugur demi hukum.

Sdr. Guntur Romli :

Kajian-kajian tadi, baik terhadap teks-teks Al-Quran maupun kajian sejarahnya, menyatakan bahwa pewahyuan Al-Quran berasal dari sumber dan konteks yang plural: konteks dan sejarah tempat Nabi Muhammad hidup, baik sebelum maupun setelah ia menerima wahyu. Malah “proses kreatif” itu lebih kuat sebelum Muhammad menerima wahyu, hanya periode itu adalah “tahun-tahun yang hilang” ataupun tidak menjadi pusat perhatian dalam studi Islam klasik, yang tujuannya untuk menegaskan pewahyuan yang tunggal dari Tuhan serta menafikan pengaruh konteks dan sejarah.

Al-Quran sebagai “kitab-keimanan” sah-sah saja bila diyakini memiliki sumber tunggal: ia adalah mukjizat, melalui proses yang menakjubkan, hingga di luar nalar manusia. Namun, Al-Quran dalam kajian kesejarahan tidak bisa dipandang seperti itu. Dalam ranah ini, Al-Quran tetap memiliki banyak sumber dan “proses kreatif” yang bertahan serta berlapis-lapis. Al-Quran adalah “suntingan” dari “kitab-kitab” sebelumnya, yang disesuaikan dengan “kepentingan penyuntingnya”. Al-Quran tidak bisa melintasi “konteks” dan “sejarah”, karena ia adalah “wahyu” budaya dan sejarah.

Tanggapan saya :

 

Penulisan sejarah kenabian yang umumnya dimulai dari peristiwa bertahannutsnya Muhammad beberapa waktu sebelum beliau mengumumkan kenabiannya memang merupakan fokus utama dari para sejarawan Muslim masa lalu. Hal yang sama tidak jauh berbeda dengan penulisan sejarah tentang Yesus oleh para pengarang kitab-kitab Perjanjian Baru sehingga kemudiannya dimasa sekarang ini muncul ide penggalian kembali akan tahun-tahun yang hilang dari semenjak kelahiran hingga kemunculannya ditengah komunitas Bani Israel Yerusalem.

Sebaliknya, literatur Kristen tentang hal ini tidak sejelas literatur Islam mengenai masa lalu Muhammad. Karena ternyata secara historis, masa lalu Muhammad sebelum beliau menjadi Nabi bisa ditemukan dalam riwayat-riwayat hadis seperti kisah masa kecilnya yang dipelihara oleh Abdul Mutthalib dan dilanjutkan Abu Thalib sepeninggal ibundanya yang bernama Aminah dan sebagainya.

 

Terhadap al-Qur’an, tidak juga bisa dibenarkan apabila disebut sebagai sebuah kitab yang diluar nalar manusia karena dalam ayat-ayatnya al-Qur’an justru memberikan tantangan kepada para ahli ilmu untuk membuktikan semua pemberitaan yang disodorkannya tanpa ada ketakutan atau larangan didalamnya. Bukan itu saja tetapi al-Qur’an juga sejak awal menekankan kepada orang-orang yang merasa ragu untuk melakukan studi banding terhadap kitab-kitab sebelumnya.

PERHATIAN :

Posting ini boleh diteruskan kemana saja selama itu bermanfaat bagi kemaslahatan umat Islam dan pencerahan kepada semua orang yang membutuhkannya dengan tetap menyertakan sumber pengambilannya dengan lengkap agar siapapun yang ingin secara langsung mendiskusikan ataupun melakukan sanggahan-sanggahan dapat menghubungi penulis secara langsung dan tidak membuatnya bingung yang bisa jadi menghalangi semangat pembelajarannya terhadap kebenaran yang sudah sampai.


Posting / artikel ini tidak boleh dikomersilkan dalam bentuk apapun tanpa seizin penulis !


Posting ini akan menjadi salah satu bagian

dari isi buku yang sedang disusun oleh Penulis yang InsyaAllah mengambil tema

“Menjawab Islam Liberal”.

Copyright hanya ada pada ALLAH, sumber semua kebenaran

 

Palembang,

ARMANSYAH

%d bloggers like this: