Jawaban untuk status FB Hariadi Saptadji (kasus Ahok)

Dalam status facebook seorang netizen bernama Hariadi Saptadji yang ternyata juga cuma sekedar copas tulisan orang lain, yaitu tulisan seorang netizen lainnya berinisial Kang Hasan di blognya yang berjudul : Awliya, dan Ironi Kepemimpinan Islam disebutkan bila terkait istilah Wali atau awliya dalam surah al-Maaidah 51 itu bukan untuk kaitannya dengan pilkada modern seperti sekarang ini, masih tulisnya, bagaimana mungkin ada ayat yang mengatur tentang pemilihan pemimpin, padahal pemilihan semacam itu tidak pernah terjadi dimasa lalu?

Jadi, apa yang dimaksud? Apa makna wali atau awliya? menurut si Kang Hasan ini, Wali artinya pelindung, atau sekutu. Ketika Nabi ditekan di Mekah, beliau menyuruh kaum muslimin hijrah ke Habasyah (Ethopia). Rajanya seorang Nasrani, menerima orang-orang yang hijrah itu, melindungi mereka dari kejaran Quraisy Mekah. Inilah yang disebut wali, orang yang melindungi. Kejadian ini direkam dalam surat Al-Maidah juga, ayat 81. Adapun ayat 51 yang melarang orang menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pelindung itu adalah soal persekutuan dalam perang. Tidak ada sama sekali kaitannya dengan pemilihan pemimpin. Ini sudah pernah saya bahas, dan dibahas banyak orang. Demikian tulis Kang Hasan di Blognya.

Benarkah ucapan dari Kang Hasan itu diatas?

Baiklah, sekarang saya ajak kang Hasan dan siapapun orang yang merasa sehaluan dengan dirinya untuk menyaksikan tayangan video Quraish Shihab berikut :

Inti dari uraian Professor Quraish Shihab pada video diatas adalah (silahkan dicek sendiri kebenarannya) :

Awliya, jamaknya adalah Wali artinya orang yang dekat, yaitu orang yang seharusnya terdekat dengan kita. Dari sini muncul derivasinya sebagai penolong atau pemimpin. Dimana seorang pemimpin yang cepat memberikan pertolongan kepada masyarakat karena hubungannya yang sangat dekat atau akrab dengan orang yang ia pimpin.

Secara lebih jauh, Quraish Shihab menyebutkan konteksnya ini merupakan hubungan sesama manusia yang tidak ada lagi rahasia saking rapatnya kedekatan mereka.

Nah menurut Quraish Shihab ini, umat Islam jangan angkat mereka, yaitu kaum Yahudi dan Nasrani seperti ayat-ayat sebelumnya dimana jika orang Yahudi dan Nasrani tersebut suka merubah-rubah kitab sucinya, enggan mengikuti tuntunan al-Qur’an (tuntunan Allah dan Rasul-Nya) dan mengikuti hukum jahiliyah. Jangan mengangkat orang Yahudi dan Nasrani sebagai orang yang begitu dekat dengan orang beriman, apalagi untuk menjadi pemimpin. Meski demikian, tidaklah terlarang untuk konteks hubungan pergaulan sehari-hari, dagang, membeli barang dari tokonya dan sebagainya.

Sebab orang-orang itu (Yahudi dan Nasrani) adalah awliya untuk masing-masing mereka. Siapa diantara orang beriman (Islam) mengangkatnya sebagai awliya maka dia akan dianggap bagian dari mereka.

Kesimpulan dari ini adalah istilah awliya dalam ayat 51 surah al-Maaidah menurut Professor Quraish Shihab memang memiliki makna pemimpin, teman dekat, sekutu atau bisa juga aliansi. Jadi tidak sekedar sebagai pelindung dalam urusan persekutuan peperangan saja seperti tafsir si Kang Hasan. 🙂

Ayo… Suruh Kang Hasan belajar lagi sama Profesor Quraish Shihab yang merupakan pakar tafsir al-Qur’an Indonesia terkait tafsir dan pemahaman istilah Awliya pada Surah Al-Maaidah ayat 51.

Saya memilih pendapat Professor Quraish Shihab dalam hal ini sebab beliau sering dijadikan rujukan oleh orang-orang yang cenderung memperbolehkan memilih orang kafir selaku pemimpin. Saya tidak puas jika hanya mengutip tulisan-tulisan saja, apalagi tulisan yang ditulis ulang oleh orang-orang dalam blog dan situs mereka. Hehehe…. tulisan bisa dimanipulasi, bisa direduksi.

Saya sengaja mencari video asli yang utuh dari ucapan beliau terkait pemahaman istilah Awliya dalam Al-Maaidah ayat 51. Sehingga tidak ada pemelintiran, manipulasi maupun reduksi kata-kata.

Masih menurut Professor Quraish Shihab kita itu dalam video tersebut diatas, umat Islam jangan mengangkat mereka, yaitu kaum Yahudi dan Nasrani selama mereka ini masih suka merubah-rubah kitab sucinya, enggan mengikuti tuntunan al-Qur’an (tuntunan Allah dan Rasul-Nya) dan mengikuti hukum jahiliyah.

Sekarang apakah sebagai contohnya disini adalah ahok termasuk orang yang enggan mengikuti tuntunan al-Qur’an? jelas iya, sebab dia sampai hari ini faktanya masih kafir. Ahok belum bersyahadat, ahok masih mengikuti hukum jahiliyahnya. Olehnya maka menurut Professor Quraish Shihab, orang semacam ini dilarang dijadikan Awliya, baik itu dalam tafsiran teman dekat, sekutu, aliansi apalagi pemimpin.

Okey ya Kang Hasan…. keliru khan paham anda itu.

Lanjut.

Istilah Awliya ( أَوْلِيَآءَ) dalam al-Qur’an surah Al-Maaidah ayat 51 ini merupakan bentuk jamak dari mufrad Wali. Sekarang mari kita lihat contoh ayat yang menggunakan istilah wali.

Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka  ( وَلِيُّهُمُ ) di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih. ﴾ An Nahl:63 ﴿

Selain itu, ayat-ayat yang bercerita tentang terlarangnya menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin tidak cuma surah Al-Maaidah ayat 51 saja tetapi ada lebih banyak lagi, misalnya :

﴾ Ali Imran:28 ﴿
Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (أَوْلِيَآءَ) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).

﴾ An Nisaa:144 ﴿
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?

﴾ Al Maidah:57 ﴿
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.

﴾ At Taubah:23 ﴿
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

﴾ Ali Imran:149 ﴿
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.

Menurut si Kang Hasan masih dalam blognya, Ketika Nabi ditekan di Mekah, beliau menyuruh kaum muslimin hijrah ke Habasyah (Ethopia). Rajanya seorang Nasrani, menerima orang-orang yang hijrah itu, melindungi mereka dari kejaran Quraisy Mekah. Inilah yang disebut wali, orang yang melindungi. Kejadian ini direkam dalam surat Al-Maidah juga, ayat 81.

Sekarang mari kita tanya pada Kang Hasan… kira-kira duluan mana nih ayat yang turun? Apakah duluan ayat 81-82 surah Al-Maaidah atau duluan surah al-Maaidah ayat 51?

Hehehe…. Kang Hasan yang baik, ayat ke-81 yang menurut Kang Hasan sebagai pembenaran sikap akang itu, meskipun tidak ditemukan Asbabun Nuzul dari ayat 81 dan 82, namun jika kedua ayat ini menurut Kang Hasan sebagai dasar Nabi menyuruh kaum Muslimin hijrah kebawah pemerintahan raja kristen, maka bisa dipastikan ayat-ayat tersebut diturunkan sebelum Hijrah ke Madinah. Sementara ayat 51 dari al-Maaidah diturunkan di Madinah.

Jadi, ayat 81-82 tidak membatalkan ayat 51. Sebaliknya jika ingin mengikuti kaidah berpikir Kang Hasan, maka ayat 51 yang turun belakangan justru dapat menasakh ayat-ayat tersebut yang turun sebelumnya.

Lagipula Kang Hasan, saya kasih tahu ya… Ayat-ayat al-Qur’an terkait dengan keharaman memilih pemimpin kafir semuanya ditujukan pada muslim yang secara aktif dan sadar melakukan pemilihan. Jika kasusnya kita tidak punya kuasa atau tidak terlibat dalam proses pemilihannya maka kita tidak terkena hukum al-Qur’an tersebut. Begitupula kasusnya jika keadaan tengah dalam posisi kondisionil atau darurat maka memakan babipun halal hukumnya apalagi hijrah kebumi Allah yang lain sekalipun daerah itu dipimpin oleh orang kafir sebagaimana kasus hijrahnya 80 orang sahabat Rasul ke Ethiopia (di antara mereka ada Abdullah bin Mas’ud, Ja’far, Abdullah bin Urfuthah, Utsman bin Mazh’un dan Abu Musa sesuai hadist pada Musnad Ahmad no 4168).

Jadi mari luruskan dulu logika berpikir kang Hasan sebelum memulai perdebatan masalah ini ya….

Satu lagi Kang Hasan…. jangan lupa baca juga peristiwa yang terjadi pada jaman Umar dimana beliau Rodiyallahuanhu kemudian menjadikan surah Al-Maaidah ayat 51 sebagai pijakan keputusannya untuk memutuskan hubungan Abu Musa Al-Asy’ari dengan sekretarisnya yang kristen. Silahkan disini baca lengkapnya ya Kang : 

https://arsiparmansyah.wordpress.com/2016/10/12/takhrij-atsar-umar-tentang-juru-tulis-nashrani/

Hampir lupa… khusus tentang pemilihan pemimpin yang katanya jaman dulu tidak ada seperti pilkada sekarang sehingga tidak mungkin al-Qur’an berbicara diluar konteks maka perlu di ingatkan bila al-Qur’an merupakan mukjizat Rasulullah yang berlaku sampai kapan saja. Banyak ayat-ayat al-Qur’an menceritakan fenomena-fenomena yang hakekatnya justru baru kita ketahui dijaman sekarang ini. Bukankah hukum-hukumnya mencakup seluruh peradaban? bukankah al-Qur’an bersumber dari Tuhan yang Maha Mengetahui apa yang terjadi dimasa lalu dan apa yang akan terjadi dimasa depan?

Jadi, apa masalahnya Kang Hasan? 

Bukankah Allah telah berfirman :

﴾ Al Furqaan:6 ﴿
Katakanlah: “Al Quran itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

﴾ Asy Syu’ara:192 ﴿
Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam.

﴾ Al Baqarah:255 ﴿
Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.

﴾ Al Hijr:24 ﴿
Sungguh ! Kami sudah mengetahui orang-orang yang hidup sebelum kamu dan sungguh, Kami juga sudah mengetahui orang-orang yang akan hidup dimasa depan

﴾ Al Fushilat:42 ﴿
Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.

﴾ Al Baqarah:66 ﴿
Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

﴾ Al Maidah:48 ﴿
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran.

﴾ Al A’raf:2 ﴿
Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman.

Adapun keberadaan pemimpin-pemimpin seagama yang kadang bertindak kejam, tangan besi dan juga otoriter terhadap rakyatnya yang notabene seagama dengannya bukanlah hal baru. Bisa terjadi dimana saja dan umat apapun. Hal demikian sama sekali tidak mewakili agama yang ia anut ataupun membatilkan konsep kepemimpinan dalam agama itu sendiri. Bukan konsep kepemimpinan yang diatur oleh agamanya yang salah tetapi oknum atau pelakunyalah yang menyimpang.

Akhirnya itu saja sementara ini Kang Hasan… salam kenal teriring do’a buat anda agar dapat sadar dan kembali kejalan yang benar, sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya terkait pemahaman surah Al-Maaidah ayat 51 ini.

Palembang, 12 Oktober 2016

Armansyah, M.Pd

Lampiran Tambahan :

﴾ Al Baqarah:173 ﴿
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

﴾ An Nisaa:100 ﴿
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

﴾ Ali Imran:195 ﴿
Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik”.

﴾ An Nisaa:89 ﴿
Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong,

﴾ An Nisaa:90 ﴿
kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.

Musnad Ahmad 4168: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa ia berkata; Aku mendengar Hudaij saudara Zuhair bin Mu’awiyah dari Abu Ishaq dari Abdullah bin Utbah dari Ibnu Mas’ud ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus kami kepada Najasyi, saat itu kami berjumlah sekitar delapan puluh orang, di antara mereka ada Abdullah bin Mas’ud, Ja’far, Abdullah bin Urfuthah, Utsman bin Mazh’un dan Abu Musa, mereka mendatangi Najasyi. Sementara orang-orang Quraisy mengutus Amru bin ‘Ash dan Umarah bin Walid dengan membawa hadiah. Tatkala keduanya menghadap Najasyi, keduanya lalu sujud di hadapannya kemudian berdiri di samping kanan dan kirinya. Setelah itu keduanya kepada Najasyi, “Sesungguhnya beberapa orang dari bani paman kami telah datang di negerimu dan mereka membenci kami dan agama kami.” Najasyi bertanya, “Dimanakah mereka?” Keduanya menjawab, “Mereka semuanya ada di negerimu, suruhlah mereka menghadap.” Najasyi lantas pun memanggil mereka. Ja’far berkata, “Saya yang akan menjadi juru bicara kalian hari ini.” Para sahabat lalu mengikutinya, kemudian mereka masuk dan memberi salam tanpa melakukan sujud (seperti yang dilakukan oleh utusan Quraisy). Orang-orang pun bertanya kepadanya, “Kenapa engkau tidak sujud kepada raja?” Ja’far menjawab, “Kami tidak sujud kecuali hanya kepada Allah Azza Wa Jalla.” Najasyi bertanya, “Jelaskan kenapa demikian!” Ja’far berkata, “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla mengutus kepada kami Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wasallam dan memerintahkan kepada kami untuk tidak bersujud kecuali hanya kepada Allah, menyuruh kami untuk shalat dan menunaikan zakat.” Amru bin ‘Ash berkata, “Sesungguhnya mereka menyelisihi engkau mengenai Isa bin Maryam!” Najasyi bertanya, “Apa pendapat kalian mengenai Isa bin Maryam dan Ibunya?” Para sahabat menjawab, “Kami katakan sebagaimana firman Allah Ta’ala, dia adalah kalimat Allah dan ruh-Nya, Dia masukkan ke dalam rahim wanita perawan dan rajin beribadah (Maryam) yang tidak pernah disentuh oleh laki-laki, dan belum pernah memiliki anak.” Ibnu Mas’ud melanjutkan, “Lalu Najasyi mengambil sepotong kayu dari tanah dan berkata, “Wahai sekalian penduduk Habasyah dan para pendeta! Demi Allah, mereka tidak menambahkan sedikitpun dari apa yang kita katakan (yakini tentang Isa). Selamat datang untuk kalian dan untuk orang-orang yang datang bersama kalian, aku bersaksi bahwa dia adalah Rasulullah, dialah orang yang kami dapatkan ciri-cirinya dalam Injil dan dialah rasul yang diberitakan oleh Isa bin Maryam. Tinggallah kalian sesuka hati kalian, demi Allah jika bukan karena urusan kerajaan niscaya aku akan mendatanginya hingga aku yang akan membawa kedua sandalnya dan memberinya air wudlu’. Najasyi kemudian memerintahkan untuk mengembalikan hadiah dari Quraisy.” Setelah itu Abdullah bin Mas’ud segera kembali ke Madinah hingga dia dapat ikut serta dalam perang Badar.”

Shahih Bukhari 3591: Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami bapakku dari Shalih dari Ibnu Syihab berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdurrahman dan Ibnu Al Musayyab bahwa Abu Hurairah radliallahu ‘anhu mengabarkan keduanya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumumkan meninggalnya an Najasyi raja Habasyah pada hari meninggalnya dan bersabda: “Mohonkanlah ampunan untuk saudara kalian ini”.

Blognya Kang Hasan : http://abdurakhman.com/awliya-dan-ironi-kepemimpinan-islam/

Reposting untuk status FB Hariadi Saptadji disini https://web.facebook.com/hsaptadji/posts/10211334167614840

Jangan musuhi seluruh orang kristen gegara ahok!

Perbuatan penistaan al-Qur’an atas surah Al-Maaidah 51 dan pelecehan ulama yang dilakukan ahok tidak mewakili keseluruhan sikap umat Kristen secara umum.

Jikapun katakanlah ada orang-orang kristen lain yang mengamini perbuatan jahatnya Ahok maka ahok dan orang-orang tersebut hanya oknum dari contoh buruk dari kaum kristiani saja.

Kebencian kita selaku umat Islam tidak boleh menyasar pada umat kristen lain yang tidak tersangkut paut dengan kasus ini. Apalagi menyasar pada etnis china lain secara umum.

Islam adalah agama yang mengajarkan nilai-nilai keadilan dan pemberi rahmat. Bukan ajaran rasisme. Diluar ahok dan segelintir pendukungnya itu banyak juga orang china dan umat kristen lain yang tidak menyukai ahok ini.

Oknum dimana-mana selalu ada, samalah seperti kasus si Nusron yang tengik itu. Toh meskipun menurut ketentuan al-Maaidah 51 orang muslim yang mengangkat dan menjadikan orang kafir selaku Awliyanya sudah serupa dengan orang kafir itu sendiri tetapi secara ktp si nusron tetap tertulis beragama Islam. Tapi apakah sikap nusron tegil ini mewakili semua umat Islam? Tentu jauh panggang dari api.

Saat ini saya melihat ada upaya yang coba diretas oleh pihak ketiga untuk mengadu domba antara umat Islam dengan umat kristen secara umum. Seperti beberapa hari lalu di salah satu masjid di Jakarta terjadi pencoretan dinding masjid tersebut dengan gambar salib.

Bodoh sekali orang kristen jika mereka memang berani melakukan hal tersebut. Itu namanya menantang umat Islam secara terbuka. Rasanya tidaklah mungkin arahnya kesana. Jadi hati-hati dengan adanya penyusup yang ingin memecah kesatuan antar anak bangsa dengan memanfaatkan momentum kedurjanaan ahok maupun nusron.

Catat juga bila sikap kurang ajar nusronpun tidak mewakili ormas NU sekalipun si Said agil ada dibelakang pendapatnya. Banyak warga NU lain termasuk para kyai dan ulamanya yang memiliki pendapat berseberangan dengan mereka ini. Contohnya seperti terlihat di ILC baru-baru ini.

Jadi jika ada issue kontra pada NU gak usah ditanggepin. Semua bisa saja direncanakan sebagai pengalihan isyu atau munculnya penyusup dari pihak ke-3.

Ahok dan nusron adalah musuh bersama orang yang waras akal pikirannya secara umum serta musuh umat Islam secara khusus.

Tetap istiqomah melanjutkan kasus ahok keranah hukum dan terus berpegang teguh juga pada isi surah al-Maaidah ayat 51 tentang keharaman bagi umat Islam untuk memilih orang kafir selaku pemimpin.

Palembang, 12 Okt 2016
Armansyah

Takhrij Atsar Umar tentang Juru Tulis Nashrani

Sedang ramai pembicaraan tentang surah Al-Maidah ayat 51 yang berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian menjadikan Yahudi dan Nashrani sebagai wali. Mereka itu saling menjadi wali satu sama lain. Siapa yang berwala kepada mereka di antara kalian berarti dia masuk golongan mereka. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Kata wali memiliki makna yang luas. Tapi semua bisa dirangkum bahwa segala yang dijadikan untuk mengurus urusan kita itulah yang disebut wali. Maka ada istilah wali nikah, wali murid dan lain-lain. Wali nikah berarti mengurus dan berwenang mengurus pernikahan, wali murid berarti bertanggung jawab pada keadaan murid. Sehingga kata wali ini mencakup semua yang mengurus urusan dan bertanggung jawab pada urusan itu.

Salah satu dari tafsiran wali yang dipahami oleh para sahabat dan khalifah adalah orang yang mengurusi tugas-tugas politik dan pemerintahan meski hanya sebatas pembantu.

Itulah yang bisa diambil dari kisah Umar bin Khatthab dengan gubernurnya Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu anhuma. Abu Musa mengangkat seorang juru tulis (sekretaris) seorang Nashrani karena kemampuannya yang memang mumpuni untuk hal itu. Tapi ketika itu diketahui oleh Umar yang menjadi khalifah kala itu maka dia memarahi Abu Musa dengan menggunakan landasan surah Al-Maidah ayat 51 di atas.

Berikut riwayatnya, kita ambilkan dari tafsir Ibnu Abi Hatim:

حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ شِهَابٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ سَابِقٍ، ثنا عَمْرُو بْنُ أَبِي قَيْسٍ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ عَنْ عِيَاضٍ أَنَّ عُمَرَ أَمَرَ أَبَا مُوسَى الأَشْعَرِيَّ أَنْ يَرْفَعَ إِلَيْهِ مَا أَخَذَ وَمَا أَعْطَى فِي أَدِيمٍ وَاحِدٍ وَكَانَ لَهُ كَاتِبٌ نَصْرَانِيٌّ فَرَفَعَ إِلَيْهِ ذَلِكَ فَعَجِبَ عُمَرُ وَقَالَ: إِنَّ هَذَا الَحَفِيظٌ هَلْ أَنْتَ قَارِئٌ لَنَا كِتَابًا فِي الْمَسْجِدِ جاء الشَّامِ فَقَالَ: إِنَّهُ لَا يَسْتَطِيعُ قَالَ: عُمَرُ: أَجُنُبٌ هُوَ قَالَ: لَا، بَلْ نَصْرَانِيٌّ قَالَ: فَانْتَهَرَنِي وَضَرَبَ فَخِذِي قَالَ: أَخْرِجُوهُ، ثُمَّ قَرَأَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

“Katsir bin Syihab menceritakan kepada kami, Muhammad bin Sa’id bin Sabiq menceritakan kepada kami, Amr bin Abi Qais menceritakan kepada kami, dari Simak bin Harb, dari Iyadh bahwa Umar memerintahkan Abu Musa Al-Asy’ari untuk melaporkan apa yang dia ambil dan dia beri dalam satu kertas kulit. Abu Musa punya sekretaris seorang Nashrani dan laporan itu pun disampaikan kepada Umar. Umar kagum dengan tulisan laporan itu dan mengatakan, “Ini sungguh orang ini sangat pandai menjaga, maukah kau membacakan sebuah buku di masjid yang baru datang dari Syam kepada kami?”
Maka berkatalah Abu Musa, “Dia tidak bisa.”
Umar bertanya, “Kenapa, apakah dia junub?”
Abu Musa menjawab, “Tidak, tapi dia Nashrani.”
Abu Musa melanjutkan ceritanya, “Maka Umarpun membentakku serta memukul pahaku sambil berkata, “Keluarkan dia!” Lalu dia membacakan ayat:

Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian menjadikan Yahudi dan Nashrani sebagai wali. Mereka itu saling menjadi wali satu sama lain. Siapa yang berwala kepada mereka di antara kalian berarti dia masuk golongan mereka.
(Tafsir Ibnu Abi Hatim jilid 4, hal. 1156).

Tinjauan sanad Ibnu Abi Hatim:

Katsir bin Syihab, Al-Qazuwaini, Ibnu Abi Hatim mengatakan, “aku biasa menulis hadits darinya dan dia shaduq.” (Al-Jarh wa At-Ta’dil 7/153).
Muhammad bin Sa’id bin Sabiq, dikatakan oleh Al-Hafizh dalam At-Taqrib (2/53, no. 6635), “tsiqah”.

Amr bin Abi Qais, Al-Hafizh dalam At-Taqrib (1/496, no. 5736) menyimpulkannya, “shaduq punya beberapa keraguan”. Predikat seperti ini haditsnya masuk kategori hasan apalagi dia tidak sendirian meriwayatkan ini dari Simak bin Harb.

Simak bin Harb, Al-Hafizh menyimpulkannya, shaduq, hanya riwayatnya dari Ikrimah saja yang mudhtharib (kacau). Di sini dia tidak meriwayatkan dari Ikrimah sehingga haditsnya teranggap hasan, apalagi dia tidak sendirian meriwayatkan atsar ini dari Iyadh tapi dikuatkan oleh Yazid bin Abi Ziyad sebagaimana dalam riwayat Ibnu Qutaibah nanti akan dipaparkan.

Iyadh di sini adalah Iyadh bin Amr Al-Asy’ari yang diperselisihkan apakah sahabat atau hanya tabi’i. Dia memang biasa meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari. Al-Hafizh mengatakannya sebagai sahabat dan punya satu hadits langsung dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Andaipun dia hanya tabi’i maka dia tetap tsiqah, apalagi Muslim menggunakan riwayatnya dalam kitab Ash-Shahih.

Takhrij:

Juga dikeluarkan oleh Al-Khallal dalam Ahkam Ahli Al-Milal wa Ar-Riddah, dari Ahmad bin Hanbal yang mengatakan,

328 – أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ، عَنْ عِيَاضٍ الأَشْعَرِيِّ، عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ: قُلْتُ لِعُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنَّ لِي كَاتِبًا نَصْرَانِيًّا.
قَالَ: مَا لَكَ؟ قَاتَلَكَ اللَّهُ! أَمَا سَمِعْتَ اللَّهَ، تَبَارَكَ وَتَعَالَى، يَقُولُ: {يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ} [المائدة: 51] ؟ أَلا اتَّخَذْتَ حَنِيفًا؟ قَالَ: قُلْتُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، لِي كِتَابَتُهُ وَلَهُ دِينُهُ.
قَالَ: لا أُكْرِمُهُمْ إِذْ أَهَانَهُمُ اللَّهُ، وَلا أُعِزُّهُمْ إِذْ أَذَلَّهُمْ، وَلا أُدْنِيهِمْ إِذْ أَقْصَاهُمُ اللَّهُ.

“Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata, ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata, Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata, Isra`il menceritakan kepada kami, dari Simak bin Harb, dari Iyadh Al-Asy’ari, dari Abu Musa yang berkata, “Aku berkata kepada Umar RA, bahwa aku punya seorang sekretaris Nashrani.”
Maka dia berkata kepadaku, “Ada apa kamu ini?! Semoga Allah membunuhmu! Tidakkah kau dengar firman Allah Tabaraka wa Ta’ala,

{يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ} [المائدة: 51]

“Hai orang-orang yang beriman janganlah menjadikan Yahudi dan Nashrani sebagai wali, sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain.”

Mengapa engkau tidak mengangkat seorang muslim yang hanif.”

Aku menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, bagiku tulisannya dan baginya agamanya.”
Dia menjawab, “Aku tidak akan memuliakan mereka ketika Allah telah menghinakan mereka dan aku tidak akan membuat mereka kuat setelah Allah melemahkan mereka serta tidak akan mendekatkan mereka sementara Allah telah menjauhkan mereka.”
(Ahkam Al-Milal oleh Al-Khallal terbitan Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah tahun 1994 hal. 117).

Sementara Al-Baihaqi mengeluarkan atsar Umar ini dalam As-Sunan Al-Kubra dengan sanad dari Syu’bah dari Simak, dan dari Asbath dari Simak. Redaksi Syu’bah lebih ringkas sementara redaksi Asbath mirip sekali dengan redaksi Amr bin Abi Qais yang ada dalam riwayat Ibnu Abi Hatim.

Berikut redaksi Asbath:

وَأَخْبَرَنَا أَبُو الْقَاسِمِ زَيْدُ بْنُ أَبِي هَاشِمٍ الْعَلَوِيُّ , وَأَبُو الْقَاسِمِ عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ النَّجَّارِ الْمُقْرِئُ بِالْكُوفَةِ قَالَا: أنبأ أَبُو جَعْفَرِ بنُ دُحَيْمٍ , ثنا أَحْمَدُ بْنُ حَازِمٍ , ثنا عَمْرُو بْنُ حَمَّادٍ , عَنْ أَسْبَاطٍ , عَنْ سِمَاكٍ , عَنْ عِيَاضٍ الْأَشْعَرِيِّ , عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَمَرَهُ أَنْ يَرْفَعَ إِلَيْهِ مَا أَخَذَ وَمَا أَعْطَى فِي أَدِيمٍ وَاحِدٍ , وَكَانَ لِأَبِي مُوسَى كَاتِبٌ نَصْرَانِيٌّ , يَرْفَعُ إِلَيْهِ ذَلِكَ , فَعَجِبَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ , وَقَالَ: ” إِنَّ هَذَا لَحَافِظٌ ” وَقَالَ: ” إِنَّ لَنَا كِتَابًا فِي الْمَسْجِدِ , وَكَانَ جَاءَ مِنَ الشَّامِ فَادْعُهُ فَلْيَقْرَأْ ” , قَالَ: أَبُو مُوسَى: إِنَّهُ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ , فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: ” أَجُنُبٌ هُوَ؟ ” , قَالَ: لَا , بَلْ نَصْرَانِيٌّ قَالَ: فَانْتَهَرَنِي , وَضَرَبَ فَخِذِي , وَقَالَ: ” أَخْرِجْهُ ” , وَقَرَأَ {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ} [المائدة: 51] ” قَالَ أَبُو مُوسَى: وَاللهِ مَا تَوَلِّيتُهُ , إِنَّمَا كَانَ يَكْتُبُ قَالَ: أَمَا وَجَدْتَ فِي أَهْلِ الْإِسْلَامِ مَنْ يَكْتُبُ لَكَ؟ لَا تُدْنِهِمْ إِذْ أَقْصَاهُمُ اللهُ , وَلَا تَأْمَنْهُمْ إِذْ خَوَّنَهُمُ اللهُ , وَلَا تُعِزَّهُمْ بَعْدَ إِذْ أَذَلَّهُمُ اللهُ , فَأَخْرِجْهُ “
(Lihat As-Sunan Al-Kubra oleh Al-Baihaqi 10/216).

Selain itu, bukan hanya Simak yang meriwayatkannya dari Iyadh Al-Asy’ari tapi juga ada Yazid bin Abi Ziyad sebagaimana dikeluarkan oleh Ibnu Qutaibah dalam kitab ‘Uyun Al-Akhbar (1/102):

حدّثنا إسحاق بن راهويه قال: أخبرنا جرير عن يزيد بن أبي زياد عن عياض بن أبي موسى أنّ عمر بن الخطّاب قال لأبي موسى: ادع لي كاتبك ليقرأ لنا صحفا جاءت من الشام. فقال أبو موسى: إنه لا يدخل المسجد: قال عمر: أبه جنابة؟ قال: لا، ولكنّه نصراني. قال: فرفع يده، فضرب فخذه حتى كاد يكسرها ثم قال: ما لك! قاتلك الله! أما سمعت قول الله عز وجل:
))يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصارى أَوْلِياء(( ألا اتخذت رجلا حنيفيا؟ فقال أبو موسى: له دينه ولي كتابته. فقال عمر: «لا أكرمهم إذ أهانهم الله ولا أعزّهم إذ أذلّهم ولا أدنيهم إذ أقصاهم الله» .

“Ishaq bin Rahawaih menceritakan kepada kami, Jarir mengabarkan kepada kami, dari Yazid bin Abi Ziyad, dari Iyadh bin Abi Musa (demikian yang tertulis sepertinya salah cetak –penerj) dari Abu Musa, bahwa Umar bin Khaththab pernah berkata kepada Abu Musa, “Panggilkan aku sekretarismu untuk membacakan kepada kami sebuah surat yang datang dari Syam.”

Abu Musa berkata, “Dia tidak bisa masuk masjid.”

Umar bertanya, “Memangnya kenapa? Dia junub?”

Abu Musa, “Bukan, tapi dia Nashrani.”

Maka Umar pun memukul paha Abu Musa sampai hamper mematahkannya sambil berkata, “Apa-apaan kamu ini! Semoga Allah membunuhmu! Apa kau tidak dengar firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman janganlah menjadikan Yahudi dan Nashrani sebagai wali……” Mengapa kau tidak mengangkat seorang hanif (muslim)?!”
Abu Musa menjawab, “Baginya agamanya dan bagiku tulisannya.”

Umar menjawab, “Aku tidak akan memuliakan mereka sementara Allah menghinakan mereka, tidak akan menguatkan mereka sementara Allah melemahkan mereka, dan tidak akan mendekatkan mereka sementara Allah telah menjauhkan mereka.”

Para perawinya tsiqah kecuali Yazid bin Abi Ziyad dia seorang pemuka syiah generasi awal. Dianggap dhaif oleh para ulama hadits tapi tingkat kedhaifannya ringan sebagaimana kata Abu Zur’ah, “Haditsnya boleh ditulis tapi tak dijadikan hujjah.”

Sementara Abu Daud mengatakan, “Aku tak mengetahui ada yang meninggalkan haditsnya.” Bahkan Al-Ijli mengatakannya Ja`izul hadits (haditsnya boleh dipakai sebagai penguat).

(Lihat Tahdzib Al-Kamal oleh Al-Mizzi jilid 32 hal. 135-140).

Dengan begitu, dia bisa dipakai untuk menguatkan Simak bin Harb, sehingga atsar di atas menjadi shahih li ghairih. Wallahu a’lam.

Pelajaran dari Atsar ini

Sikap Umar yang menolak sekretaris Nashrani dengan berlandaskan pada surah Al-Maidah ayat 51 menunjukkan penafsirannya terhadap ayat tersebut bahwa orang Yahudi dan Nashrani dilarang menduduki jabatan strategis mengurusi kaum muslimin.

Kalau sekretaris saja dilarang apalagi camat, bupati, gubernur bahkan Presiden. Sehingga benarlah pendalilan para ulama yang menggunakan ayat tersebut untuk melarang memilih gubernur kafir.

Dengan tegas Umar mengatakan tidak akan menjadikan mereka kuat sementara Allah melemahkan mereka. Menjadikannya pejabat apalagi pemimpin daerah kaum muslimin bukan lagi menjadikan mereka kuat malah menjadikan mereka penguasa dan pengatur kekuatan yang jelas bertentangan dengan semangat ayat 51 surah Al-Maidah itu.

Mungkin kalau Ahok ada waktu itu dia akan mengatakan kepada Abu Musa jangan mau dibodohin oleh Umar. Binasalah mulut kafir dan hinalah dia di sisi Allah.

Ustadz Anshari Taslim

11 Oktober 2016.

Angciu haram, pempek lemak Palembang halal!

Angciu… adalah arak merah yang umum digunakan oleh rumah makan besar sampai tukang nasi goreng kaki lima bahkan juga produk makanan rumahan untuk menyedapkan makanannya.

Hukum Angciu dalam agama Islam adalah haram!

Bukan rahasia lagi jika banyak pula diantara para pembuat pempek ikut mencampurkan angciu ini kedalam cuko mereka sehingga orang yang menyantapnya terasa sangat enak. Apalagi tidak semua pembuat dan pedagang pempek asli orang Muslim yang paham kaidah agama halal dan haram. Banyak pengusaha pempek terutamanya di Palembang, menggunakan nama-nama pribumi sebagai brand pempeknya dan mempekerjakan orang muslim sebagai penjualnya tetapi yang buat pempek itu justru orang non muslim.

Pempek Lemak Palembang insyaAllah tidak menggunakan angciu ini sebagai campuran cuko. Kita 100% halal dan thoyyib sesuai syarat agama.

Bagi yang ingin pesan pempek, mulai dari pempek campur kecil, pempek telor besar, pempek lenjer hingga pempek panggang silahkan kontak via WhatsApp di 0816-355-539 

Pempek bisa dikirim keluar kota setelah terlebih dahulu kita vakum.

angciu

banyaknian di-kulkas kapalselambesak lemaknyo paketan3 paketanpempek2 pempekkecikcampur pempekkecikcampur2 pp pp3

Orang non Muslim boleh sebut saya Kafir !

Saya tidak akan pernah marah disebut sebagai orang kafir oleh pengikut kristiani, hindhu, budha atau lainnya sebab faktanya saya memang kafir terhadap ajaran agama tersebut. Sama sekali tidak terbersit dalam diri saya rasa tersinggung sedikitpun.

Begitu juga bila mereka atas dasar agama dan keyakinan mereka masing-masing untuk menolak memilih saya –bila misalnya– hendak menjadi seorang gubernur, walikota atau presiden.

Kenapa mesti marah? kenapa harus sewot? lah jika memang itu ajaran mereka…. ya kita harus hormati. Itulah makna dari laa ikroha fiddin, tidak ada paksaan dalam agama.

Justru aneh bila saya lalu sewot, marah-marah dan memaksa orang-orang kristiani, hindhu, budha dan lainnya itu untuk mengakui saya sebagai orang yang seiman dengan mereka sehingga wajib dipilih sebagai calon dalam pemilihan umum. Padahal faktanya saya tidak pernah satu iman dengan mereka-mereka ini.

Jalani saja semua secara professional dan bijak. Hormati apa yang ada dalam agama orang lain. Tak usah memaksa apalagi menghina.

Bahkan dalam sebuah diskusi ilmiah sekalipun kita tidak boleh menghina agama atau keyakinan orang lain. Kita boleh mengkritik dalam sebuah forum khusus tukar pikiran atau adu argumen, cuma ingat, kritik itu beda dengan menghina.

Armansyah.

Ahok : Apa dan siapa yang dimaksudnya?

Saya sudah nonton video utuh pernyataan Ahok di kepulauan seribu. Tapi tetap tidak menemukan korelasi maupun jawaban atas pernyataan kurang ajarnya terhadap firman Allah dalam surah al-Maaidah ayat 51.

Secara legal formal dengan menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah dalam hukum negara yang berlaku di Indonesia, maka Ahok perlu menjelaskan apa maksud kalimatnya yang ini… ” Kalau Bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin dengan surat Al Maidah 51, macem macem itu.” dan “Kalo bapak ibu merasa ga milih neh “karena saya takut neraka”, dibodohin gitu ya gapapa”.

Pertanyaan :

A). Siapa yang dianggap Ahok telah membohongin dengan surat Al-Maaidah 51?

B). Siapa yang dimaksud telah membodohi dengan ancaman neraka karena Al-Maaidah 51?

Ini perlu klarifikasi yang jelas dari ahok sendiri, bukan dari orang lain sebab kata-kata itu keluar dari mulutnya bukan melalui tulisan media manapun atau individu siapapun diluarnya.

Jika yang dimaksud oleh Ahok yang telah membodohi dan membohongi itu adalah Allah karena telah menurunkan surah Al-Maaidah 51 maka Ahok telah jatuh dalam pasal-pasal penistaan agama. Proses hukum harus berlanjut.

Jika yang dimaksud oleh Ahok bahwa yang telah membodohi dan membohongi orang Islam agar tidak memilih pemimpin kafir berdasar Al-Maaidah 51 adalah orang atau lembaga tertentu maka dia harus bisa menunjuk dengan jelas siapa orang, institusi atau lembaga dimaksud agar tidak timbul fitnah.

Buktikan jika memang tafsir maupun fatwa dari mereka memang telah salah dan membodohi maupun membohongi sebagaimana tuduhannya itu. Jika tidak bisa maka Ahok berarti membuat tuduhan palsu dan pasal-pasal hukum yang menjeratnya menjadi berlapis.

Polisi dan penegak hukum lainnya harus memproses kasusnya dan dia harus di non aktifkan sebagai gubernur sekaligus mencabut haknya untuk ikut dalam pilkada dki jakarta.

Sudah cukup. Jangan menambah polemik berkepanjangan. Kasus ini harus diusut tuntas dan transparan agar publik khususnya umat Islam Indonesia maupun seluruh dunia tidak resah dan menjadi marah. Mari kita beri kepercayaan pada aparat penegak hukum kita dalam menyelesaikan kasus ini dengan baik serta kita kawal bersama prosesnya.

Armansyah
Palembang, Jum’at 07 Oktober 2016

NB : 

Saya jadi ingat ayat dalam Bible :

“Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” (Perjanjian Baru, Matius 12 ayat 34-37)

Fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah : Kepemimpinan

Majelis Tarjih Muhammadiyah dalam sidangnya pada hari Jum’at, 12 Zulkaidah 1430 H / 30 Oktober 2009 seputar Memilih Partai Politik dan Calon Legislatif butir 3 menyebutkan :

Perkembangan politik di Indonesia memang berjalan sangat dinamis. Saat ini, masyarakat tidak lagi memilih wakil rakyat dengan memilih partainya, melainkan langsung memilih orang yang mengajukan diri menjadi Calon Legislatif melalui partai-partai politik. Calon legislatif atau calon wakil rakyat adalah salah satu bagian dari kepemimpinan.

Dalam memilih calon pemimpin, tentu umat Islam harus mempertimbangkannya masak-masak, tidak boleh gegabah. Apalagi hanya memandang status, pekerjaan dan aktifitasnya selama ini. Syarat utama seorang pemimpin yang layak dipilih adalah Muslim. Allah swt berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” [QS. al-Maidah (5): 51]

Adapun syarat-syarat lain di antaranya adalah amanah, memiliki kapabilitas dan kompetensi, memahami dan membela aspirasi umat Islam, serta khusus bagi warga Muhammadiyah, hendaknya memilih calon pemimpin yang mendukung atau sejalan dengan dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid yang dikembangkan oleh Muhammadiyah

Sumber : http://www.fatwatarjih.com/2011/09/memilih-partai-politik.html

Jadi bila omongan Ahok dalam kasus penistaan agama yang ia lakukan ketika hendak mencalonkan diri sebagai gubernur DKI 2017 saat di kepulauan seribu tidak dimaksudkan sebagai tudingan terhadap al-Qur’an maka apakah kemudian ahok memaksudkannya telah menuduh Organisasi Muhammadiyah yang berbohong karena memanipulasi surah Al-Maidah ayat 51 yang menyebutkan haramnya bagi umat Islam memilih pemimpin kafir sebagaimana putusan Tarjih diatas?

Siap-siap mendukung Muhammadiyah dalam melakukan gugatan atas tuduhan kafir satu itu.

%d bloggers like this: