[Jokowi]: Kini baru kau rasa…

Sekarang jumlah orang yang mengkritisi jokowi semakin bertambah jumlahnya. Sayangnya mereka ini orang-orang yang secara duniawi justru terlihat pintar. Kemaren-kemaren ente pada kemana? Hibernasi? Kenapa saat ini saya justru jarang membuat tulisan tentang jokowi? Karena saya sudah sering melakukan itu dulu, jauh sebelum orang-orang ini bangun dari hipnotis pencitraannya. Sejak awal dia mencalonkan diri sebagai gubernur DKI saya sudah mengkritisinya sampai jelang pilpres 2014. Tapi ya itulah, jangankan seorang Armansyah, lah suara ulama yang nyaring mengingatkan umat waktu itu saja sudah tidak mau didengar dan dituruti. Maka terjadilah apa yang memang harus terjadi sebagai konsekuensinya.

Jika sekarang orang bertambah ramai menyudutkannya dengan ragam kejadian yang baru terjadi dan menyulut emosi, maka saya lebih memilih untuk duduk manis sembari membaca berbagai komentar dan ulasan si A si B, si C dan sebagainya terhadap sosok yang dulu digadang-gadang bak messias ini. Pastinya Alhamdulillah saya bersyukur bahwa dulu bersama keluarga besar tidak memilihnya. Minimal secara moral saya tidak merasa ikut terbebani.

Sikap politik saya terkait ini sama sekali tidak berubah, saya bukan pendukung rezim ini dan tidak meridhoinya walau secara sistem kenegaraan saya terpaksa menghormati konsensus yang membuat sang tokoh menjadi orang nomor satu. Tetapi hanya saya tidak ingin larut jauh dengan caci maki atau penghujatan. Ibarat lirik lawasnya lagu Dewi yull: Kini baru kau rasa….

Semoga Allah memaafkan kesalahan kita yang mengabaikan nasehat dan rekomendasi para ulama dan mengembalikan kesejahteraan masyarakat serta kesatuan bangsa ini dimasa depan. InsyaAllah.

Salam dari Palembang.
Armansyah.

Advertisements

Jangan takut menghadapi cinta

Sembahlah Allah dengan khusyuk, ingatlah pada-Nya ketika kita sedang senang dan diwaktu kita susah. Dialah yang akan membimbing tanganmu. Dialah yang akan menunjukkan haluan hidup kepadamu. Dialah yang akan menerangi jalan yang gelap.

Bicara tentang cinta. Jangan takut menghadapi cinta. Allah yang menjadikan matahari dan memberinya cahaya. Allah yang menjadikan bunga dan memberinya bau wangi. Allah yang menjadikan mata dan memberinya penglihatan. Maka Allah pulalah yang menjadikan hati dan memberinya cinta. Jika hatimu diberi-Nya nikmat dengan cinta seperti hatiku, marilah kita pelihara nikmat itu sebaik-baiknya, kita jaga dan kita pupuk, kita pelihara supaya nikmat-Nya itu tidak dicabut-Nya kembali….

 

bersama_istriku

Salam penuh cinta untuk semuanya,
Bumi Palembang Darussalam.
Sabtu, 11 April 2015.

Armansyah Azmatkhan M.Pd

Menikah itu mudah…

Menikah itu mudah, asal ada mahar dan ada calon yang siap dilamar maka akad dapat terwujud. Tetapi membina pernikahan tidaklah semudah diawal kita memutuskan untuk menikah itu sendiri. Sesuai istilahnya, pernikahan disebut juga sebagai hidup berumah tangga. Kenapa tangga? Jawabnya karena hidup bersama dalam satu rumah dengan orang yang berbeda sifat, kebiasaan, hobi, watak, emosi hingga kecerdasan dan latar belakang pendidikan, ekonomi, kondisi keagamaan…. Ibarat kita menapaki anak tangga. Ada kalanya kita turun kebawah namun ada kalanya naik keatas. Ya, seperti lirik lagunya Tommy Page, yang berjudul a shoulder to cry on bahwa life is full of lots of up and down. Kehidupan itu bersifat bolak-balik, naik-turun. Jika Tsunzu mengatakan perang itu punya seni, maka pernikahan pun punya seninya sendiri. Menikah itu layaknya menorehkan kuas pada bidang gambar, meliuk-liuk dan berganti-ganti warna.

Pernikahan bukan hanya soal hidup bersama dan menghabiskan waktu untuk bercinta, tidak juga cuma bersama merawat anak dan membesarkan mereka, tidak semata-mata demikian tetapi pernikahan itu terkait dengan memahami, menghargai dan menjaga perasaan masing-masing. Kita tidak mungkin menyatukan dua orang yang berbeda dalam banyak hal. Jika pernikahan hanya dimaknai menyatukan perbedaan maka itu pernikahan yang niatnya keliru. Pernikahan adalah saling melengkapi kekurangan setiap pasangan dengan memberikan kelebihan masing-masing. Ibarat sepasang sepatu yang saling berbeda bentuk antara kiri dan kanan. Tidak mungkin khan kita memakai sepatu kiri semua atau kanan semua? Coba lihat kanan-kiri sepatu kita, pasti berbeda lekukannya. Begitulah pernikahan. Justru dengan menggandengkan perbedaan itu (bukan menyatukan loh ya) maka sepatu itu bisa kita pakai dan tampak indah, gagah serta cantik.

Semoga bermanfaat.

Salam dari Palembang Darussalam.
Armansyah, M.Pd
10 April 2015

OP: FB, 10/04/2015.

Hukum memakai parfum beralkohol

Ada sebagian orang yang menghukumi parfum beralkohol sebagai hal yang haram untuk digunakan oleh muslim. Alasannya ya karena ada alkohol itu maka ia menjadi haram.

Beberapa atsar mereka dalam berargumen adalah :

Sunan Ibnu Majah 3383: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap yang memabukkan adalah haram, dan sesuatu yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram, “

Sunan Abu Daud 3194: Dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap sesuatu yang memabukkan adalah khamer, dan setiap yang memabukkan adalah haram.”

Lalu bagaimana dengan parfum beralkohol yang notabene tidak diminum?

Dalam fatwanya Nomor : 11 Tahun 2009 tentang HUKUM ALKOHOL, Majelis Ulama Indonesia menyatakan:

Penggunaan alkohol/etanol hasil industri khamr untuk produk makanan, minuman, kosmetika, dan obat-obatan, hukumnya haram. | Penggunaan alkohol/etanol hasil industri non khamr (baik merupakan hasil sintesis kimiawi [dari petrokimia] ataupun hasil industri fermentasi non khamr) untuk proses produksi produk makanan, minuman, kosmetika, dan obat-obatan, hukumnya: mubah, apabila secara medis tidak membahayakan. | Penggunaan alkohol/etanol hasil industri non khamr (baik merupakan hasil sintesis kimiawi [dari petrokimia] ataupun hasil industri fermentasi non khamr) untuk proses produksi produk makanan, minuman, kosmetika dan obat-obatan, hukumnya: haram, apabila secara medis membahayakan.

(Sumber: http://mui.or.id/…/fatwa-komisi-fatwa-mui/hukum-alkohol.html)

Alkohol sendiri merupakan istilah yang umum untuk senyawa organik. Rumus umum senyawa alkohol secara kimiawi adalah R-OH atau Ar-OH. R merupakan gugus alkil dan Ar ialah gugus aril. Sementara Alkohol yang biasa digunakan dalam minuman keras adalah etanol (C2H5OH).

Masih menurut Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) alkohol atau etanol yang digunakan untuk parfum tidak sama dengan khamar jenis minuman keras yang memabukan.

Etanol bisa dihasilkan dari fermentasi khamar, tapi juga bisa dari bahan alamiah, seperti bunga atau buah-buahan. Penggunaan alkohol yang bersumber dari fermentasi non khamar selama tidak digunakan untuk pangan (dimakan –Red), misalkan sebagai antiseptik guna membunuh bakteri. Sifat ethanol cepat menguap, mudah terbakar, dan tidak berwarna. Contoh ethanol adalah alkohol yang kita pakai untuk membersihkan luka. Ethanol ini dianggap tidak haram, masih diperbolehkan. Konsentrasi alkohol dalam kosmetik lebih kecil daripada penggunaan untuk antiseptik. Pada kosmetik konsentrasinya di bawah 5% sampai 10%. Dalam antiseptik konsentrasinya biasanya 70%, bahkan untuk kasus tertentu digunakan alkohol 90%.

Kita harus dapat membedakan antara khamer dengan alkohol. Alkohol tidaklah sama dengan khamer. Khamer atau minuman keras adalah suatu istilah untuk jenis minuman yang memabukkan. Di dalam khamer itu memang mengandung alkohol sebagai salah satu komponen yang menyebabkan mabuk. Sedangkan alkohol atau etanol merupakan salah satu senyawa kimia yang bisa berasal dari berbagai bahan.

Jika alkohol dikatakan identik dengan khomr, maka ini akibarnya sangat fatal. Jika dikatakan bahwa setiap senyawa yang mengandung gugus –OH adalah khomr, maka ini pemahaman yang sangat merusak. Karena sebagaimana pernah kami sebutkan bahwa madu sendiri mengandung senyawa yang mengandung gugus –OH. Apakah dari sini lantas madu diharamkan?

Begitu pula jika seseorang mengatakan bahwa etanol sama dengan khomr juga fatal. Etanol itu bertingkat-tingkat. Ada etanol yang berada di miras dan bisa dikonsumsi, namun etanol pada asalnya bukanlah zat yang bisa dikonsumsi.

Dengan demikian maka kesimpulannya alkohol adalah senyawa kimia, sedangkan Khamer adalah karakter suatu bahan makanan, minuman atau benda yang dikonsumsi. Definisi khamar tidak terletak pada susunab kimianya, tapi definisinyaterletak pada efek yang dihasilkannya, yaitu al-iskar (memabukkan). Maka benda apa pun yang kalau dimakan atau diminum akan memberikan efek mabuk, dikategorikan sebagai khamer. Maka definisi khamer yang benar menurut para ulama adalah’segala yang memberikan efek iskar (memabukkan)’. Dan definisinya bukanlah ‘semua makanan yang mengandung Alkohol’.

Sebab menurut para ahli, secara alami beberapa makanan kita seperti besar, singkong, duren dan buah lainnya malah mengandung Alkohol. Namun kita tidak pernah menyebut bahwa buah-buah itu haram karena mengandung Alkohol.

Dan karena definisinya segala benda yang memberikan efek iskar, maka ganja, opium, drug, mariyuana dan sejenisnya, tetap bisa dimasukkan sebagai khamar. Padahal benda itu malah tidak mengandung Alkohol. Daun ganja kering yang dilinting seperti rokok, rasanya tidak mengandung Alkohol, tapi dia tetap dikatakan sebagai khamer. Karena daun itu memabukkan kalau dihisap asapnya. Senyawa Alkohol sendiri kalau kita minum, bukan efek al-iskar (mabuk) yang dihasilkan, melainkan efek al-mautu alias menimbulkan kematian.

Inti dari bahasan ini parfum yang mengandung alkohol insyaAllah hukumnya halal untuk digunakan sesuai dengan hasil penelitian para ahli kesehatan serta obat-obatan dan mendapat legitimasi dari para ulama plus ahli fiqh.

Tulisan pada posting ini dirangkum dari berbagai sumber, diantaranya:

1. http://www.rumahfiqih.com/x.php…

2. http://www.distributorfmparfum.com/…/143-hukum-alkohol-naji…

3. http://www.dakwatuna.com/…/bolehkah-menggunakan-kosmetik-y…/

4. http://www.halalguide.info/…/…/parfum-bukan-sekedar-alkohol/

5. http://www.jadipintar.com/…/memakai-wewangian-ber-alkohol-h…

6. http://rumaysho.com/…/salah-kaprah-dengan-alkohol-dan-khomr…

Semoga bermanfaat.
Tulisan ini saya tutup dengan beberapa hadis dari Rasulullah SAW dengan status shahih.

Sunan Nasa’i 1880: Telah mengabarkan kepada kami ‘Ali bin Al Husain Ad Dirhami dia berkata; telah menceritakan kepada kami Umayyah bin Khalid dari Al Mustamir bin Ar Rayyan dari Abu Nadlrah dari Abu Sa’id dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Diantara parfum kalian yang paling wangi adalah misik.”

Sunan Nasa’i 1366: Telah mengabarkan kepadaku Harun bin ‘Abdullah dia berkata; telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Sawwar dia berkata; telah menceritakan kepada kami Al Laits dia berkata; telah menceritakan kepada kami Khalid dari Sa’id dari Abu Bakr bin Al Munkadir bahwasanya ‘Amru bin Sulaim mengabarkan kepadanya dari ‘Abdurrahman bin Abu Sa’id dari bapaknya dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda: “Mandi pada hari Jum’at wajib atas setiap orang yang baligh, juga siwak serta memakai parfum sesuai yang dimilikinya.”

Sunan Nasa’i 5029: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ali bin Maimun Ar Raqqi ia berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf Al Firyani ia berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al Jurairi dari Abu An Nadlrah dari Ath Thafawi dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Parfum laki-laki itu baunya nampak sementara warnanya tidak, dan parfum wanita itu warnanya nampak sementara baunya tidak.”

Wallahua’lam.

Salam dari Palembang Darussalam.
09 April 2015.

Armansyah.

Hukum memakan makanan yang tidak umum dan menjijikkan bagi kita

Rasul juga adalah manusia biasa seperti kita. Beliau juga sebagai manusia biasa, dapat merasa like or dislike terhadap sesuatu, misalnya saja seperti yang kita singgung pada dua status terdahulu adalah dalam hal makanan. Bedanya beliau sama kita, beliau SAW tidak dengan serta merta berlaku subyektif dalam menyikapi hal yang tidak disukainya. Mentang-mentang gak suka bawang misalnya lalu dihukumlah bawang itu haram. Faktanya tidak demikian. Bukan seperti kita ini, jika sudah tidak menyukai sesuatu maka dari A sampai Z dari sesuatu itu salah semua. Boro-boro ngasih solusi seperti Rasul.

Nah, kali ini saya akan hadirkan kembali sebagai pengetahuan bersama jenis makanan yang tidak disukai oleh Rasulullah namun beliau tidak menghukuminya sebagai haram.

Shahih Muslim 3603: Dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah pernah hadir disatu jamuan hidangan makan, lantas dia mendapati daging biawak yang telah di bakar, kiriman dari Hufaidah binti Al Harits dari Najd, lantas daging Biawak tersebut disuguhkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sangat jarang beliau disuguhi makanan hingga beliau diberitahu nama makanan yang disuguhkan, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak mengambil daging biawak tersebut, seorang wanita dari beberapa wanita yang ikut hadir berkata, “Beritahukanlah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai daging yang kalian suguhkan!” Kami lalu mengatakan, “Itu adalah daging biawak, wahai Rasulullah!” Seketika itu juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangannya, Khalid bin Walid pun berkata, “Wahai Rasulullah, apakah daging biawak itu haram?” Beliau menjawab: “Tidak, namun di negeri kaumku tidak pernah aku jumpai daging tersebut, maka aku enggan (memakannya).” Khalid berkata, “Lantas aku mendekatkan daging tersebut dan memakannya, sementara Rasulullah melihatku dan tidak melarangnya.”

Sunan Ibnu Majah 3230: Dari Jabir bin Abdullah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengharamkan daging biawak, hanya beliau merasa jijik. Biawak biasa dijadikan makanan oleh para penggembala pada umumnya, dan sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla memberi manfaat dengannya bukan hanya pada satu orang saja, sekiranya daging tersebut ada di sisiku, niscaya saya akan memakannya.”

Shahih Muslim 3598: Ibnu Umar berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya mengenai daging biawak, beliau menjawab: “Saya tidak memakannya dan juga tidak mengharamkannya.”

Jadi jika kita kemudian pada satu ketika bertemu dengan sebuah menu makanan yang kita tidak biasa menyantapnya atau tidak umum didaerah kita tinggal maupun misalnya makanan itu terlihat jijik dan kotor, hukumnya boleh saja kita tolak atau tidak memakannya namun meski demikian jangan langsung berfatwa bahwa makanan itu haram. 

Salam dari Palembang Darussalam.
09 April 2015.

Armansyah.

Hukum memakan petai dan sejenisnya

Dalam jamuan makan siang pada hari Kamis 09 April 2015, pihak catering melalui pola prasmanan menghidangkan salah satu menu yang tidak saya sukai, yaitu petai atau peuteuy. Bicara soal petai, memang tidaklah dapat dihindari kenyataan adanya manfaat yang terdapat didalamnya dari sudut pandang ilmu kesehatan. Lalu kenapa saya tidak menyukainya? Jawabnya hanya satu. Saya tidak suka baunya.

Petai itu ketika dimakan dan masuk mulut akan mengeluarkan bau yang kurang sedap dan mengganggu komunikasi dengan orang lain. Begitupula jika sipemakannya buang air kecil, aroma petai yang ia makan, memenuhi seisi ruang kecil tempat menyalurkan hadast tersebut dan dapat membuat orang lain yang akan menggunakan toilet itu merasa mual serta hal negatif lainnya. Jadi gara-gara baunya, kita secara tidak langsung akan mengganggu hak kenyamanan orang lain.

Rasul bersabda:

Shahih Bukhari 5557: “Demi Allah, tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.” Ditanyakan kepada beliau; “Siapa yang tidak beriman wahai Rasulullah?” beliau bersabda: “Yaitu orang yang tetangganya tidak merasa aman dengan gangguannya.”

Musnad Ahmad 25909: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.” Para sahabat bertanya, “Apa itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Seseorang yang tetangganya tidak pernah merasa aman dari gangguannya?” mereka bertanya lagi, “Apa yang dimaksud dengan gangguannya?” Beliau menjawab: “Keburukannya.”

Musnad Ahmad 12103: Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda: ” Yang dinamakan mukmin adalah yang manusia merasa aman dari gangguannya, sedang yang dinamakan muslim adalah yang kaum muslimin merasa selamat dari lisan dan tangannya. Dan muhajir adalah yang berhijrah dari kejelekan. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak masuk surga seorang hamba yang tetangganya merasa tidak aman dari tingkah buruknya.”

Lalu bagaimana hukum dari memakan petai atau makanan yang mengeluarkan bau semacam itu?

Ada riwayat dari jaman kerasulan seperti ini:

Sunan Abu Daud 3327: Abu Sa’id Al Khudri menceritakan bahwa disebutkan bawang putih dan bawang merah di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dikatakan, “Wahai Rasulullah, di antara yang ada, yang paling keras baunya adalah bawang putih. Apakah anda mengharamkannya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Makanlah, siapa di antara kalian yang telah memakannya, maka janganlah ia mendekati masjid kami hingga baunya hilang.”

Shahih Bukhari 808: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memakan bawang putih atau bawang merah hendaklah dia menjauhi kami.” Atau beliau mengatakan: “Hendaklah dia menjauhi masjid kami dan hendaklah dia duduk berdiam di rumahnya.” Dan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah diberikan periuk yang di dalamnya sayuran seperti kol. Kemudian beliau mencium aroma sesuatu, beliau lalu menanyakannya dan beliau pun diberi kabar tentang beau tersebut. Maka beliau bersabda: “Sodorkanlah!” yakni kepada para sahabat yang bersamanya. Ketika beliau melihat mereka enggan memakannya, beliau pun bersabda: “Makanlah! Sesungguhnya aku berbicara dengan orang yang bukan engkau ajak bicara.”

Shahih Muslim 876: Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Barangsiapa yang makan sayur bawang putih ini, -dan pada kesempatan lain beliau bersabda, ‘Barangsiapa makan bawang merah dan putih serta bawang bakung- janganlah dia mendekati masjid kami, karena malaikat merasa tersakiti dari bau yang juga manusia merasa tersakiti (disebabkan baunya) ‘.”

Jadi, Nabi tidak mengharamkan makanan yang berbau meskipun itu mengganggu orang lain bahkan menurut beliau SAW, baunya itu juga mengganggu para malaikat. Namun beliau meminta orang yang memakannya untuk tidak berada dekat dengan beliau atau orang-orang hingga bau tidak sedap dari makanan itu hilang. Dari sini juga banyak dari para ulama menghukumi makanan sejenis ini kedalam hukum makruh.

Continue reading

Sujud sahwi

Ada pertanyaan yang masuk kepada saya terkait sujud sahwi, yaitu sujud yang dilakukan karena kita lupa jumlah reka’at yang telah dikerjakan. Sujud sahwi itu sendiri adalah tuntunan dari Rasulullah SAW secara langsung sebagaimana hadis-hadist berikut :

Shahih Bukhari 1156: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya bila seseorang dari kalian berdiri mengerjakan shalat, setan akan datang menghampirinya (untuk menggodanya) sehingga tidak menyadari berapa raka’at shalat yang sudah dia laksanakan. Oleh karena itu bila seorang dari kalian mengalami peristiwa itu hendaklah dia melakukan sujud dua kali dalam posisi duduk”.

Sunan Nasa’i 1227: Dari ‘Alqamah dari ‘Abdullah bahwa Rasulullah Shalallah ‘Alaihi Wa Sallam pernah shalat Zhuhur kemudian menghadap kepada jamaah. Lalu mereka berkata; “Apakah ada sesuatu yang terjadi dalam shalat?” Beliau menegaskan; “Apa itu?” Lalu mereka mengabarkan apa yang diperbuatnya. Beliau kemudian menekuk kakinya (untuk duduk) dan menghadap kiblat, lalu sujud dua kali. Setelah itu beliau menghadap kami, lantas bersabda: “Aku adalah manusia biasa, aku lupa sebagaimana kalian juga lupa. Jika aku lupa maka ingatkanlah aku.” Beliau bersabda lagi: “Kalau terjadi sesuatu dalam shalat maka pasti kuberitahu kalian.” Beliau melanjutkan sabdanya: “Jika salah seorang dari kalian bimbang (ragu) dalam shalatnya, maka hendaklah memilih (meyakini) yang paling mendekati kebenaran, kemudian menyempurnakan, lantas sujud sahwi dua kali.”

Sunan Tirmidzi 356: Telah menceritakan kepada kami bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri ketika shalat zhuhur yang seharusnya duduk. Maka ketika telah selesai beliau sujud dengan dua kali sujud, beliau bertakbir pada setiap sujud dan duduk sebelum salam. Orang-orang ikut sujud sahwi dua kali sujud bersama beliau sebagai pengganti duduk yang beliau terlupa.”

Kapan waktu pelaksanaannya? tergantung situasi kapan kita ingatnya. Jika kita ingat dan merasakan ragu itu ketika belum melakukan salam, maka langsung saja sujud dua kali sebelum salam. Tetapi bila ingatnya ketika kita sudah selesai salam, maka lakukan sujud dua kali itu meskipun sesudah salam disholat yang berjalan.

Shahih Bukhari 1149: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Yahya bin Sa’id dari ‘Abdurrahman Al A’raj dari ‘Abdullah Ibnu Buhainah radliallahu ‘anhu bahwa dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dari dua raka’at shalat Zhuhur dan tidak duduk diantaranya. Setelah Beliau menyelesaikan shalatnya, Beliau sujud dua kali lalu memberi salam setelah itu”.

Sunan Ibnu Majah 1209: Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar dan Utsman bin Abu Syaibah keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ayyasy dari Ubaidullah bin Ubaid dari Zuhair bin Salim Al ‘Ansi dari ‘Abdurrahman bin Jubair bin Nufair dari Tsauban ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sujud sahwi itu sujud dua kali setelah salam. “

Sunan Nasa’i 1238: Telah mengabarkan kepada kami ‘Ubdah bin ‘Abdurrahim dia berkata; telah memberitakan kepada kami Ibnu Syumail dia berkata; telah memberitakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakim dan Mughirah dari Ibrahim dari Alqamah dari ‘Abdullah dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, bahwa beliau pernah shalat zhuhur lima rakaat bersama para sahabat, maka para sahabat berkata; “Engkau telah mengerjakan shalat lima rakaat! ‘ Lalu beliau sujud dua kali setelah salam sambil duduk.

Bisa juga melakukan seperti ini:

Sunan Nasa’i 1222: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Rafi’ dia berkata; telah menceritakan kepada kami Hujain bin Al Mutsanna dia berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Abu Salamah dari Zaid bin Aslam dari ‘Atha bin Yasar dari Abu Sa’id Al Khudri dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jika salah seorang dari kalian tidak tahu, apakah ia shalat tiga atau empat rakaat, maka shalatlah satu rakaat kemudian sujud dua kali dalam keadaan duduk, kalau ia shalat lima rakaat maka (dua sujud tersebut) sebagai penggenapnya, dan jika ia shalat empat rakaat maka itu penghinaan bagi setan.”

Armansyah, M.Pd 

%d bloggers like this: