[Jokowi]: Kini baru kau rasa…

Sekarang jumlah orang yang mengkritisi jokowi semakin bertambah jumlahnya. Sayangnya mereka ini orang-orang yang secara duniawi justru terlihat pintar. Kemaren-kemaren ente pada kemana? Hibernasi? Kenapa saat ini saya justru jarang membuat tulisan tentang jokowi? Karena saya sudah sering melakukan itu dulu, jauh sebelum orang-orang ini bangun dari hipnotis pencitraannya. Sejak awal dia mencalonkan diri sebagai gubernur DKI saya sudah mengkritisinya sampai jelang pilpres 2014. Tapi ya itulah, jangankan seorang Armansyah, lah suara ulama yang nyaring mengingatkan umat waktu itu saja sudah tidak mau didengar dan dituruti. Maka terjadilah apa yang memang harus terjadi sebagai konsekuensinya.

Jika sekarang orang bertambah ramai menyudutkannya dengan ragam kejadian yang baru terjadi dan menyulut emosi, maka saya lebih memilih untuk duduk manis sembari membaca berbagai komentar dan ulasan si A si B, si C dan sebagainya terhadap sosok yang dulu digadang-gadang bak messias ini. Pastinya Alhamdulillah saya bersyukur bahwa dulu bersama keluarga besar tidak memilihnya. Minimal secara moral saya tidak merasa ikut terbebani.

Sikap politik saya terkait ini sama sekali tidak berubah, saya bukan pendukung rezim ini dan tidak meridhoinya walau secara sistem kenegaraan saya terpaksa menghormati konsensus yang membuat sang tokoh menjadi orang nomor satu. Tetapi hanya saya tidak ingin larut jauh dengan caci maki atau penghujatan. Ibarat lirik lawasnya lagu Dewi yull: Kini baru kau rasa….

Semoga Allah memaafkan kesalahan kita yang mengabaikan nasehat dan rekomendasi para ulama dan mengembalikan kesejahteraan masyarakat serta kesatuan bangsa ini dimasa depan. InsyaAllah.

Salam dari Palembang.
Armansyah.

Jangan takut menghadapi cinta

Sembahlah Allah dengan khusyuk, ingatlah pada-Nya ketika kita sedang senang dan diwaktu kita susah. Dialah yang akan membimbing tanganmu. Dialah yang akan menunjukkan haluan hidup kepadamu. Dialah yang akan menerangi jalan yang gelap.

Bicara tentang cinta. Jangan takut menghadapi cinta. Allah yang menjadikan matahari dan memberinya cahaya. Allah yang menjadikan bunga dan memberinya bau wangi. Allah yang menjadikan mata dan memberinya penglihatan. Maka Allah pulalah yang menjadikan hati dan memberinya cinta. Jika hatimu diberi-Nya nikmat dengan cinta seperti hatiku, marilah kita pelihara nikmat itu sebaik-baiknya, kita jaga dan kita pupuk, kita pelihara supaya nikmat-Nya itu tidak dicabut-Nya kembali….

 

bersama_istriku

Salam penuh cinta untuk semuanya,
Bumi Palembang Darussalam.
Sabtu, 11 April 2015.

Armansyah Azmatkhan M.Pd

Menikah itu mudah…

Menikah itu mudah, asal ada mahar dan ada calon yang siap dilamar maka akad dapat terwujud. Tetapi membina pernikahan tidaklah semudah diawal kita memutuskan untuk menikah itu sendiri. Sesuai istilahnya, pernikahan disebut juga sebagai hidup berumah tangga. Kenapa tangga? Jawabnya karena hidup bersama dalam satu rumah dengan orang yang berbeda sifat, kebiasaan, hobi, watak, emosi hingga kecerdasan dan latar belakang pendidikan, ekonomi, kondisi keagamaan…. Ibarat kita menapaki anak tangga. Ada kalanya kita turun kebawah namun ada kalanya naik keatas. Ya, seperti lirik lagunya Tommy Page, yang berjudul a shoulder to cry on bahwa life is full of lots of up and down. Kehidupan itu bersifat bolak-balik, naik-turun. Jika Tsunzu mengatakan perang itu punya seni, maka pernikahan pun punya seninya sendiri. Menikah itu layaknya menorehkan kuas pada bidang gambar, meliuk-liuk dan berganti-ganti warna.

Pernikahan bukan hanya soal hidup bersama dan menghabiskan waktu untuk bercinta, tidak juga cuma bersama merawat anak dan membesarkan mereka, tidak semata-mata demikian tetapi pernikahan itu terkait dengan memahami, menghargai dan menjaga perasaan masing-masing. Kita tidak mungkin menyatukan dua orang yang berbeda dalam banyak hal. Jika pernikahan hanya dimaknai menyatukan perbedaan maka itu pernikahan yang niatnya keliru. Pernikahan adalah saling melengkapi kekurangan setiap pasangan dengan memberikan kelebihan masing-masing. Ibarat sepasang sepatu yang saling berbeda bentuk antara kiri dan kanan. Tidak mungkin khan kita memakai sepatu kiri semua atau kanan semua? Coba lihat kanan-kiri sepatu kita, pasti berbeda lekukannya. Begitulah pernikahan. Justru dengan menggandengkan perbedaan itu (bukan menyatukan loh ya) maka sepatu itu bisa kita pakai dan tampak indah, gagah serta cantik.

Semoga bermanfaat.

Salam dari Palembang Darussalam.
Armansyah, M.Pd
10 April 2015

OP: FB, 10/04/2015.

%d bloggers like this: