Seri TDL Kristologi: Rasa dan Periksa

Seri Tauhid dan Logika Kristologi.
“Rasa dan Periksa”
Oleh. Armansyah
Penulis Buku “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih” dan “Jejak Nabi Palsu”

Pada posting Seri Tauhid dan Logika Kristologi berjudul “Mengenal Mukjizat para Nabi dan Rasul” kita telah sempat membahas bahwa dalam memperkuat hujjah dakwah mereka ditengah umat, para Nabi dan Rasul dibekali dengan kelebihan khusus yang sifatnya menakjubkan dan sulit ditandingi oleh kaum mereka. Kelebihan tersebut berupa mukjizat yang datang dari sisi Allah.

Nah, kali ini kita akan sedikit meluaskan bahasan tersebut dengan mengkaji dari sudut logikanya melalui konsep “Rasa dan Periksa”.

Disepanjang jaman, termasuklah dijaman kita sekarang ini, banyak orang yang beragama hanya dengan bermodalkan rasa. Ada yang puas dengan beragama secara doktrinal. Apa pelajaran yang ia dapatkan sejak kecil dari lingkungannya (mulai dari orang tua, guru, masyarakat, media) dianggap sebagai kebenaran tunggal. Pelaku doktrinal ini

kadangkala membahayakan orang lain dengan cara ia beragama tersebut. Dia akan cenderung memandang orang lain yang berseberangan paham dengan ilmunya pasti salah. Dia akan memusatkan dirinya dan ilmunya sebagai sumber kebenaran tunggal. Orang-orang doktrinal ini sering menutup mata terhadap argumentasi orang lain yang menyelisihinya meskipun kadang pula pemahaman orang tersebut justru benar dan pemahaman pelaku doktrinal inilah yang mesti dikoreksi.

Misalnya kita ambil contoh mereka yang tenggelam dalam “Islam tradisi” yang sering mencampur adukkan antara kebenaran ajaran agama dengan kebudayaan lokal serta menganggap hal yang demikian sebagai sesuatu yang harus dipahami dan diterima menjadi sebuah kebenaran tanpa berani mengkritisi tradisi itu dari sudut benar-salah hingga adat yang dapat dipikir secara akal sehat (logika) atau kultur yang justru harus dirubah sesuai dengan konsep syari’at.

Beragama dengan rasa-rasa sangatlah membahayakan karena kita tidak punya standar dalam memegang kebenaran itu sendiri. Kita hanya mengandalkan rasa benar, rasa nyaman, rasa tenang, rasa bahagia dan seterusnya. Padahal kita tidak tahu apakah memang yang dirasa benar itu sesungguhnya memanglah benar atau justru sekedar rasa-rasa kita saja yang menyesatkan? Kita juga tidak tahu apakah kenyamanan yang kita rasakan itu apakah benar nyaman yang sesungguhnya atau justru kenyamanan yang terbentuk karena kita sekedar ingin melindungi kepercayaan yang mulai goyah dengan mencari pembenaran melalui perasaan nyaman yang palsu pada orang-orang yang dianggapnya juga sepaham dengan dia. Wallahua’lam. Setiap orang tentu tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya masing-masing.

Ada lagi orang yang beragama secara rasa melalui pengalaman spiritualnya tertentu. Misalnya ada seseorang atau sekelompok orang yang memberikan kesaksian-kesaksian bila ia bertemu dengan yesus, Budha, Muhammad dan seterusnya didalam mimpi ataupun misalnya dalam keadaan “trance” tertentu dan sipelakunya langsung menghujjahkan bila itu merupakan suatu kebenaran yang harus diakui.

Padahal, mohon maaf saja jika ada yang tersinggung. Apa sih yang mau didebatkan dari ilusi, mimpi atau hal-hal mistis orang-orang semacam ini ? Standarisasi benar-salahnya apa ? siapapun bisa bermimpi, siapapun bisa ber-ilusi, siapapun bisa memiliki pengalaman mistisnya masing-masing yang sangat pasti berbeda setiap orang.

Pengikut budha ya kemungkinan punya pengalaman mistis bersama budhanya, hindu ya bersama kehinduannya, sufi ya bersama murabbinya kristen bersama yesusnya, Islam bersama Muhammadnya dan lain sebagainya.

Jika semua punya pengalaman seperti itu secara berbeda-beda, maka tentu kesimpulan logisnya hanya ada 2. Yaitu salah satu diantaranya pasti benar atau semuanya justru tidak ada yang benar alias salah semua. Namanya mimpi, ilusi atau trance ya dapat saja saya katakan semua pertemuan itu cuma khayalan saja atau jika bukan khayalan maka itu pasti ulah setan yang sedang berusaha menyesatkan manusia dengan cara menyaru dirinya sebagai yesus, budha, Muhammad atau lainnya.

Saya sendiri punya pengalaman spiritual seperti pernah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad dua kali, saya juga pernah bermimpi diajak terbang ke Mekkah dan Madinah … serta banyak pengalaman non empiris yang non mimpi lainnya yang berkaitan dengan ke-Islaman. Apakah sekali lagi hal ini memberi pengaruh pada diri orang-orang kristiani, orang budha atau orang hindhu? Apakah mereka bisa mengakui pengalaman spiritual saya sebagai klaim dari kebenaran Islam dan membuat iman mereka sebagai orang non muslim lalu harus tergoncang ?

Itulah jika kita beragama secara rasa-rasa…. tak ada standar baku yang dapat dijadikan pegangan. Semua ya rasa-rasa.

Begitulah dengan para utusan Tuhan yang telah mengklaim dirinya sebagai Nabi yang diutus kepada manusia. Tuhan mengirim kepada manusia utusan yang dilengkapi dengan tanda-tanda yang cuma bisa berasal dari Tuhan. Dari tanda-tanda itulah manusia bisa tahu bahwa utusan tadi memang bisa dipercaya untuk menyampaikan hal-hal yang sebelumnya tidak mungkin diketahuinya dari sekedar mengamati alam semesta ataupun merasa-rasa saja. Karena itu perhatian yang akan kita curahkan adalah menguji, apakah tanda-tanda utusan tadi memang autentik (asli) atau tidak.

Pengujian autentitas inilah yang sangat penting sebelum kita bisa mempercayai hal-hal yang nantinya hanyalah konsekuensi logis saja. Ibarat seorang ahli listrik yang bertugas ke lapangan, tentunya ia telah menguji avometernya, dan ia telah yakin, bahwa avometer itu bekerja dengan benar pada laboratorium ujinya, sehingga bila dilapangan ia dapatkan hasil ukur yang sepintas tidak bisa dijelaskanpun, dia harus percaya alat itu. Seorang fisikawan adalah seorang manusia biasa, yang dengan matanya tak mungkin melihat atom. Tapi bila ia yakin pada instrumentasinya, maka ia harus menerima apa adanya, bila instrumen tersebut mengabarkan jumlah radiasi yang melebihi batas, sehingga misalnya reaktor nuklirnya harus segera dimatikan dulu.

Karena yakin akan autentitas peralatannya, seorang astronom percaya adanya galaksi, tanpa perlu terbang ke ruang angkasa, seorang geolog percaya adanya minyak di kedalaman 2000 meter, tanpa harus masuk sendiri ke dalam bumi, dan seorang biolog percaya adanya dinosaurus, tanpa harus pergi ke zaman purba.

Keyakinan pada autentitas inilah yang disebut “iman”. Sebenarnya tak ada bedanya, antara “iman” pada autentitas tanda-tanda utusan Tuhan, dengan “iman”-nya seorang fisikawan pada instrumennya. Semuanya bisa diuji. Karena bila di dunia fisika ada alat yang bekerjanya tidak stabil sehingga tidak bisa dipercaya, ada pula orang yang mengaku utusan Tuhan tapi tanda-tanda yang dibawanya tidak kuat, sehingga tidak pula bisa dipercaya. Semua orang khan dapat saja mengaku-aku sebagai nabi, sebagai rasul bahkan sebagai tuhan sekalipun. Tinggal kitanya saja lagi mau bagaimana…. Sekedar merasa-rasa atau juga akan melibatkan periksa?

Saya sangat memberi apresiasi pada para mualaf yang telah berhijrah dari kekafirannya kedalam Islam melalui jalan pemikiran yang sehat. Melalui studi ilmu tertentu. Ya karena mereka sudah berani melakukan periksa terhadap rasanya sendiri.

Kita mungkin sebagian besar beragama karena faktor keturunan, oleh sebab orang tua kita muslim maka kita menjadi muslim begitu juga lainnya. Tetapi apakah kita sudah melakukan rasa dan periksa untuk membuktikan kebenaran iman kita? atau kita lebih banyak mencukupkan saja dengan bermain di area rasa merasa saja?

Salam dari Palembang Darussalam.
InsyaAllah kita sambung lagi pada seri tulisan Tauhid dan Logika Kristologi selanjutnya.

Armansyah
Penulis Buku: Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih, Jejak Nabi Palsu, Ramalan Imam Mahdi, Misteri Kecerdasan Syahadat dan Israk Mikraj

Diposting pertamakali di Timeline Facebook pribadi saya, 20 Des 2014

Seri TDL Kristologi: Logika Tauhid

Seri Tauhid dan Logika Kristologi.
“Logika Tauhid”
Oleh. Armansyah
Penulis Buku “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih” dan “Jejak Nabi Palsu”

Keimanan adalah keyakinan, yang dalam Islam wajib dicapai dengan penuh kesadaran dan pengertian, karena hanya dengan inilah kesetiaan tunggal pada Islam (tauhid) bisa diharapkan. Islam tidak menawarkan keyakinan terhadapnya melalui sebungkus mie instan atau kebutuhan bahan pokok tertentu. Oleh sebab itu banyak yang menjadi mualaf adalah orang-orang yang memang mau menggunakan akalnya untuk berpikir secara sehat terhadap agama.

Berbicara tentang keyakinan didalam Islam, maka kita akan bicara tentang konsep ketuhanannya. Ajaran Islam adalah ajaran Tauhid. Tuhan tidak dapat dipersepsikan sebagai makhluk, benda mati maupun penyimbolan tertentu.

Eksistensi Tuhan adalah Mukholafatuhu lil hawadist, Dia berbeda dengan ciptaan-Nya. Dia merupakan sentralisasi semua harapan, mimpi dan doa dari makhluk-makhluk-Nya. Dialah Ash-Shomad.

Mulai dari semut hitam kecil yang berjalan didalam gelap malam diatas sebuah batu berlumut yang licin hingga keteraturan alam raya dengan semesta isinya adalah kreasi dan memiliki ketergantungan terhadap izin-Nya.

Dia terlepas dari penyifatan kemakhlukan yang memiliki anak ataupun mengambil anak. Baik dalam arti kedagingan secara biologis ataupun hanya sebagai penamsilan. Dia bersifat Qiyamuhu Binafsihi, Maha Berdiri Sendiri. Dia tak punya sekutu dalam kerajaan-Nya. Tak pernah ada konsep Tuhan lahir dalam ajaran Islam seperti yang terjadi pada diri makhluk ciptaan-Nya. Olehnya maka Tuhan tidak memiliki Bapa maupun Ibu. Dia Lam Yalid Wa-lam Yuulad.

Dialah Alpha dan Omega, Dia yang Awwal dan Akhir, Dia Dzhohir dan Bathin. Maha Suci Dia dari apa yang disekutukan oleh para manusia terhadap eksistensi-Nya.

Pada masa lalu, keterbatasan pengetahuan manusia sering membuat mereka cepat lari pada “sesembahan” tertentu. Misalnya setiap ada fenomena yang tak bisa mereka mengerti seperti petir, gerhana matahari, gunung meleduk dan sejenisnya langsung diasumsikan sebagai bentuk perwujudan dari sang penguasa yang haus akan sesembahan melalui ritual tertentu.

Dalam kondisi gawat yang mengancam eksistensinya (misalnya terhempas ombak di tengah samudra, kebakaran, sakit dan sebagainya sementara pertolongan hampir mustahil diharapkan), fitrah manusia akan menyuruh dirinya untuk mengharapkan suatu keajaiban. Ya keajaiban yang bersifat adi kodrati.

Demikian juga ketika seseorang sedang dihadapkan pada persoalan yang sulit, sementara pendapat dari manusia lainnya berbeda-beda, ia akan mengharapkan petunjuk yang jelas yang bisa dipegangnya. Bila manusia tersebut menemukan seseorang yang bisa dipercayainya, maka dalam kondisi dilematis ini ia cenderung merujuk pada tokoh idolanya itu.

Dalam kondisi seperti ini, setiap manusia cenderung mencari “sesembahan”. Mungkin pada kasus pertama, sesembahan itu berupa dewa laut atau sebuah jimat pusaka. Pada kasus kedua, “sesembahan” itu bisa berupa raja (pepunden), bisa juga berupa tokoh filsafat, pemimpin revolusi bahkan seorang dukun yang sakti.

Bila di masa lalu, orang mengembalikan setiap fenomena alam pada suatu “sesembahan” (petir pada dewa petir, matahari pada dewa matahari, gunung pada penguasa gunung, laut pada penguasa laut), maka seiring dengan kemajuan jaman serta peradabannya, sampailah manusia pada suatu pikiran, bahwa pasti ada “sesuatu” yang di belakang itu semua, “sesuatu” yang di belakang dewa petir, dewa laut, dewa matahari atau penguasa gunung.

“Sesuatu” yang di belakang semua hukum alam.

“Sesuatu” itu, bila memiliki sifat-sifat ini:

1. Maha Kuasa
2. Tidak tergantung pada yang lain
3. Tak dibatasi ruang dan waktu
4. Memiliki keinginan yang absolut

Maka dia adalah Tuhan, dan berdasarkan sifat-sifat tersebut tidak mungkin Tuhan tersebut tersebut lebih dari satu, karena dengan demikian berarti satu sifat akan tereliminasi karena bertentangan dengan sifat yang lain. Inilah logika Tauhid yang dibangun didalam Islam.

Tidaklah logis bila ada cerita Tuhan yang bergantung pada Tuhan lainnya sebab itu menandakan diantara para Tuhan itu sendiri berlaku superioritas. Ada Tuhan yang lemah dan ada Tuhan yang lebih kuat. Begitupula bila kemudian disebut ada Tuhan yang eksistensinya dibatasi oleh ruang dan waktu tertentu. Misalnya Tuhan baru wujud pada jaman anu dan jaman anu melalui proses inkarnasi tertentu atau Tuhan diceritakan pernah berada sebagai seorang bayi yang dikandung dan disusui oleh manusia. Atau ada pula mitos tentang Tuhan yang berdoa agar Dia dibebaskan dari malapetaka tertentu. Hal-hal dimana ini kemudian tentu sekali lagi akan menghilangkan sifat-sifat ketuhanan yang harusnya memang menjadi kemutlakan-Nya.

Tidak dipungkiri bila kemampuan berpikir manusia memang tidaklah mungkin untuk mencapai pemahaman sempurna tentang eksistensi diri Sang Tuhan. Manusia hanya memiliki waktu hidup yang terhingga. Jumlah materi di alam ini juga terhingga. Ada batas usianya masing-masing. Dan karena jumlah kemungkinannya juga terhingga, maka manusia hanya memiliki kemampuan berpikir yang terhingga pula. Sedangkan Tuhan pastinya adalah tak terhingga (infinity). Dia yang tak hingga itu tak akan dapat dipahami secara utuh oleh sesuatu yang sifatnya fana. Meskipun demikian, jelas adalah sebuah kebodohan berpikir bila alasan itu membuat kita membenarkan konsep-konsep konyol tentang diri Tuhan yang berbilang.

Saya tidak akan percaya bila Tuhan yang sebetulnya Tuhan akan membebani manusia yang punya kemampuan berpikir terbatas dengan pemberitaan diri-Nya secara tidak terbatas. Itu namanya Tuhan yang tak paham makhluknya. Tuhan yang tidak pantas disebut sebagai Tuhan. Sebab jika Dia memang Tuhan yang betul-betul Tuhan, maka Dia tentu akan memperkenalkan diri-Nya melalui “bahasa” yang dapat dipikir dan dicerna secara akal sehat yang terbatas itu pada diri manusia.

Oleh sebab itu didalam al-Qur’an, Allah, sering memberikan analogi-analogi yang mengasah nalar kita sebagai umat-Nya dalam memahami eksistensi diri-Nya yang Maha Esa. Semua pemberitaan yang dinisbatkan pada Dia haruslah dapat dipahami secara sederhana tanpa harus berselubung misteri. Jika Dia mengatakan Dirinya adalah Maha Esa maka itu pastilah benar-benar Maha Esa. Wahdaniyah. Tak mungkin berbilang menjadi 2-3 dan seterusnya. Kemaha Esaan-Nya itu kemudian dapat dijabarkan secara logika manusia argumentasi yang menyertainya.

Janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara. (Surah an-Nisaa ayat 171)

Munculnya berbagai penyimpangan akal sehat dalam memahami eksistensi Tuhan dari jaman kejaman, sebenarnya bukan karena Tuhan memang tidak menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh umat-Nya, namun umat-Nya itu sendirilah yang telah terjebak dengan bentuk-bentuk tuhan palsu yang direkayasanya sendiri sesuai dengan kejahilannya.

Lahirnya paham Materialisme, Atheisme, Imperialisme, Individualisme, Orientalisme, Liberalisme dan sebagainya justru karena agama yang mereka anut dianggap tidak mampu memecahkan persoalan yang mereka hadapi sehingga mereka mencari pemecahan sendiri yang sangat berlawanan dengan agamanya.

Dengan demikian dapatlah kita menilai sampai dimana kebenaran agama tersebut. Apakah itu betul-betul sebagai suatu kabar yang diturunkan oleh Tuhan yang sesungguhnya atau Tuhan jadi-jadian. Tuhan yang dipersepsikan secara salah oleh komunitas masyarakat tertentu.

Sebagai Tuhan yang menjadi sumber dari eksistensi agama, Dia tentu ditantang oleh para manusia penganutnya untuk dapat menjawab setiap pertanyaan yang timbul diberbagai kondisi dan jaman berbeda. Apabila ini kemudian tidak dapat terpenuhi maka artinya pemeluk agama itu lebih pandai dari ajaran agama itu sendiri. Tuhan tidak lebih pintar dari makhluk yang Dia ciptakan.

Itulah salah satu penyebab mengapa Karl Marx berkata :

“Religion is the sigh of the oppressed creature the heart of heartless world, just as it is the spirit of a spiritless situation. It is the opium of the people”.

Dalam hal ini … siapakah diantaranya yang salah ?
Marx atau agama (Tuhan) ?

Kiranya semua orang berpendapat bahwa agama seyogyanya harus mampu menjawab dengan benar setiap pertanyaan dan masalah manusia sampai tuntas sehingga manusia puas atas kebenarannya. Jika agama tersebut tidak kuasa menjawab dengan benar, maka mohon maaf sekali lagi berarti agama itu berasal dari Tuhan yang lebih bodoh dari manusia. Mungkinkah?

Tentu Islam menolak konsep demikian. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persangkakan. Manusia yang demikian hanya mengukur eksistensi Tuhan sesuai gambaran dirinya sendiri selaku makhluk yang terbatas.

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti hancurlah langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kebanggaan untuk mereka namun mereka berpaling dari kebanggaan tersebut.” (QS. Al-Mu’minuun ayat 71)

Olehnya maka para ulama kemudian menggagas 20 sifat mustahil bagi Tuhan. Diantaranya yaitu:

  1. ‘Adam, artinya tiada
  2. Huduts, artinya baru
  3. Fana’, artinya binasa
  4. Mumatsalatuhu Lilhawaditsi, artinya menyerupai akan makhlukNya
  5. Qiyamuhu Bighoyrihi, artinya berdiri dengan yang lain
  6. Ta’addudun, artinya berbilang – bilang
  7. ‘Ajzun, artinya lemah
  8. Karahah, artinya terpaksa
  9. Jahlun, artinya jahil
  10. Mautun, artinya mati
  11. Syomamun, artinya tuli
  12. ‘Umyun, artinya buta
  13. Bukmun, artinya bisu dan seterusnya

Sampai disini maka Islam merupakan ajaran Tauhid dan Logika. Ia sederhana dan mudah dipahami dengan segenap keterbatasan yang ada pada sisi manusia.

(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (Surah Ibrahim ayat 52).

Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. (Surah al-Anbiyaa ayat 22)

Mohon Maaf lahir batin.
InsyaAllah bersambung pada seri Tauhid dan Logika Kristologi berikutnya.
Salam dari Palembang Darussalam.

Armansyah Azmatkhan.

Diposting pertama kali di Timeline Facebook saya pribadi, 20 Des 2014
Penulis Buku “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih, Jejak Nabi Palsu, Ramalan Imam Mahdi, Misteri Kecerdasan Syahadat, Israk Mikraj.

Seri TDL Kristologi: Misi kenabian Isa al-Masih

Seri Tauhid dan Logika Kristologi.
“Misi kenabian Isa al-Masih”
Oleh. Armansyah
Penulis Buku “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih” dan “Jejak Nabi Palsu”

Dalam al-Qur’an disebutkan bila setiap jengkal wilayah bumi ini yang ditinggali oleh komunitas masyarakat, diutus bagi mereka “duta-duta syurgawi” dalam wujud manusia dari kalangan mereka sendiri selaku Nabi dan Rasul yang akan memberikan mereka petunjuk kepada jalan Tuhan dalam rangka memperbaiki hubungan mereka terhadap sesama terlebih hubungan mereka terhadap Tuhannya.

Oleh sebab itu kisah nabi-nabi yang diceritakan oleh al-Qur’an tidak selamanya hanya berkisah pada para utusan dikalangan bani Israil saja, tetapi juga mencakup sejumlah wilayah lain diluarnya. Seperti misalnya kisah Nabi Hud untuk kaum Aad, Nabi Zulkifli di Damaskus, Nabi Saleh untuk kaum Tsamud, Nabi Idris pada kaum Syits dan Nabi Syu’aib di negeri Madyan.

Pengutusan para Nabi dan Rasul kesetiap penjuru daerah ini pada hakekatnya sangatlah logis sekali, mengingat mereka juga hamba-hamba Allah yang perlu diselamatkan dan mendapatkan petunjuk agar tidak tersesat dalam menempuh hidup diatas dunia ini. Karenanya, al-Qur’an sudah menuliskan bila diluar kisah-kisah para Rasul yang disebutkan dalam kitab suci ini, masih ada banyak lagi nabi-nabi yang diutus kepada setiap kaum yang namanya tidak diperkenalkan.

Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu (Muhammad), di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu. (Surah Al-Mu’min: 78)

Apa hikmah dari penceritaan sejumlah kisah para Nabi tertentu ini didalam al-Qur’an?

Kami menceriterakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur`an ini kepadamu. (Surah Yusuf: 3)

Dan semua kisah dari rasul-rasul yang Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu. (Surah Hud: 120)

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (Surah Yusuf: 111)

Oleh sebab itu para Nabi dan Rasul itu merupakan saudara bagi satu dengan yang lainnya.

Sesungguhnya Kami telah mamberikan wahyu kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang setelahnya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman, dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. (Surah An-Nisa’: 163-165).

Nabi Isa al-Masih, yang menjadi topik khusus dalam kajian kristologi kita, juga merupakan rangkaian dari kenabian yang pernah diutus Allah kepada umat tertentu, yaitu bani Israil.

Al-Qur’an tidak pernah menyebut adanya tugas lain kepada Nabi Isa selain ia hanya diutus kepada bangsa itu saja untuk menyerukan ketauhidan Allah.

Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu”. (Surah as-Shaaf: 6)

Hal senada juga diaminkan oleh sejumlah ayat dalam kitab Perjanjian Baru, misalnya:

“Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Matius 15: 24)

Tidak ada satu ayatpun dalam al-Qur’an yang menyifatkan misi kenabian dan kerasulan Isa al-Masih untuk seluruh manusia atau bersifat universal. Semuanya selalu dalam konteks bani Israil.

Bila kemudian terdapat pernyataan bahwa misi kenabian dari Isa al-Masih juga dapat diberikan kepada bangsa lain diluar bani Israil, perlu kita pertanyakan rujukan validitasnya secara qur’aniah. Bila kemudian gerakan dakwah Nabi Isa dan sahabatnya keluar dari komunitas yerusalem menuju ke daerah lain, maka jawabnya sangatlah mungkin sekali tetapi tetap dalam cakupan bani Israil.

Kita tahu dalam sejarah bila bani Israil itu tidak hanya mendiami yerusalem saja, tetapi tersebar diberbagai penjuru daerah lainnya yang disebut sebagai kaum diaspora. Apa yang ada di dalam wilayah yerusalem dan sekitarnya pada waktu itu hanya sebagian kecil saja dari total 12 suku bani Israil. Itupun didominasi oleh yahudi. Sementara sasaran dakwah Nabi Isa tidak hanya berkutat pada orang yahudi semata namun juga ke-11 suku Israil lain diluarnya.

Oleh sebab itu bukan sesuatu yang perlu dijadikan keanehan bila terdapat cerita-cerita non biblika yang mengisahkan perjalanan Nabi Isa ke India, ke Mesir, ke Glastonbury Inggris bahkan sampai ke wilayah Jepang. Baik dimasa remaja beliau sebelum bertabligh di Yerusalem yang sering di istilahkan dengan “the lost years of jesus” maupun pasca peristiwa Golgotta yang hampir merenggut nyawa beliau. Hal ini karena ke-11 suku bani Israil ini memang ibarat domba yang tersesat, lari kesana kemari pasca pembuangan mereka pada masa lalu. Sudah menjadi tugas dari Nabi Isa (dan sahabatnya sebagai kaum Hawariyun) untuk menjangkau mereka dengan dakwah Tauhid beliau.

Wallahua’lam.
InsyaAllah bersambung pada seri Tauhid dan Logika Kristologi selanjutnya.
Mohon Maaf lahir dan batin.

Palembang Darussalam.
Armansyah

Diposting pertamakali di timeline facebook pribadi saya, 19 Desember 2014

Sumber utama penulisan :
1. al-Qur’an
2. http://alkitab.sabda.org/verse.php…
3. https://www.biblegateway.com/passage/…
4. http://codexsinaiticus.org/en/manuscript.aspx…
5. http://alkitab.sabda.org/verse.php…
6. Buku “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih”

%d bloggers like this: