Fail and Success

Life is a series of trial and failure
If we try once and fail
We shall learn from the failure and try again
Untill we finally achieve a success

Life is series of trial of success
If we try and succed
We should not be arrogant
Try to achieve more
Untill we reach the pinnacle of success

Sometimes,
A success cause people to be fail
And sometimes,
A failure causes people to be successfull


“Sesungguhnya lidah adalah bagian dari tubuh dan dikendalikan oleh otak. Jika otak tidak bergolak dan aktif, lidah juga tidak akan menghasilkan apapun. Namun, jika otak terbuka lidah juga akan terbuka”. (Imam Ali bin Abi Thalib)

Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH
https://arsiparmansyah.wordpress.com
http://armansyah.swaramuslim.com
http://dunia-it-armansyah.blogspot.com/

Keindahan Al-Qur’an

Keindahan Al-Qur’an
Sumber : http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&task=view&id=30&Itemid=30

Nilai seni dan keindahan merupakan salah satu daya tarik Al-Quran. Keindahan tersebut dapat disaksikan pada kefasihan bahasa, diskripsi, penggunaan kata kiasan, dan penyampaian alur cerita. Dengan kata lain, keindahan Al-Quran terlihat pada pesona ayat, keserasian dan irama setiap susunan kalimat, keluwesan setiap kalimat dan kejelasan pesan yang disampaikannya.

Pesona Al-Quran sudah ada semenjak awal penurunannya. Hal itu membuat orang kafir pun tidak tahan ketika mendengar bacaan Al-Quran. Sebagian dari musyrikin menutup telinga mereka supaya tidak terpengaruh bacaan Al-Quran. Meskipun demikian, pesan Al-Quran tersebar luas dalam waktu singkat. Saat ini pun, pesona Al-Quran menarik setiap hati pendengarnya, seperti diawal penurunannya.

Al-Quran adalah Kitab abadi Allah SWT yang diturunkan dari Lauh Mahfuz ke hati Rasulullah saw. Al-Quran kemudian disusun dalam bentuk susunan kalimat dan ayat serta di bukukan menjadi sebuah kitab. Ajaran-ajaran kitab samawi ini sangat dalam dan universal. Berbagai rumusan penting seperti cara hidup yang ideal, keselarasan hubungan sosial, politik dan prinsip yang benar soal kepemimpinan diilhami dari Al-Quran. Kitab ini juga banyak mengungkap undang-undang dan rumus serta teori yang menakjubkan soal penciptaan dunia. Kitab samawi ini adalah mukjizat yang abadi dan memuat sistem serta program yang sistematis untuk kebahagiaan umat manusia.

Pada tanggal 10 sampai 15 Agustus 2007 lalu, Iran menjadi tuan rumah Perlombaan Internasional Al-Quran ke 24 yang diikuti 53 peserta qari’ dan hafiz dari berbagai negara, diantaranya dari Mesir, Malaysia, Sudan, Jerman, Bosnia Herzegovina, Inggris, Albania dan Irak. Acara tersebut bertepatan dengan peringatan diutusnya Muhammad saw sebagai Nabi dan berlangsung dalam suasana penuh maknawi. Di acara pembukaan, lantunan bacaan Al-Quran oleh ustad Abd Tawab Basatini dari Mesir yang dilanjutkan pembacaan nasyid memberikan warna tersendiri acara ini.

Presiden Iran, Dr. Ahmadinejad dalam sambutannya mengatakan, “Al-Quran adalah khazanah ilmu Allah SWT, sumber hukum Tuhan, memuat nasib umat terdahulu, sekarang dan akan datang, memuat rahasia kematian dan kiamat serta terdiri dari ayat muhkam (jelas) dan mutsyabih (perlu penafsiran). Quran adalah neraca keadilan dan mempunyai dua tujuan ketika diturunkan. Tujuan pertama, upaya penyadaran dan pendidikan serta pensucian manusia dan akhirnya menunjukkan mereka jalan kesempurnaan. Tujuan kedua, membentuk masyarakat adil dalam upaya menggapai kehidupan yang bahagia. Dua tujuan ini adalah tujuan tertinggi Al-Quran atau lebih tepatnya shirat al mustaqim.”

Seraya mengisyaratkan bahwa saat ini pelaku semua kekacauan, kezaliman dan sumber penderitaan adalah orang-orang jauh yang dari Tuhan, Al-Quran dan kebenaran serta terjebak oleh perangkap syaitan, Ahmadinejad mengatakan, “Lihatlah para rezim di dunia, apakah nampak pada mereka kelembutan, kasih sayang, keadilan dan hormat pada hak-hak manusia? Sebaliknya, yang terlihat adalah aksi penghancurkan hak-hak manusia, penyelewengan, agresi dan tipu daya.” Menurut penilaiannya, penawar dari derita manusia adalah membaca, merenungkan dan mengamalkan Al-Quran. Ditambahkannya pula, pesan Al-Quran adalan universal dan obat serta petunjuk bagi semua kalangan.

Penyelenggaraan Kompetisi Internasional Al-Quran dalam skala luas dan meriah menggembirakan para undangan. Ali Syarif Hasan, peserta dari Kenya sangat bangga atas aktivitas Al-Quran di Iran. Dia berkata, “Membaca dan menghafal Al-Quran memberikan ketenangan tersendiri bagi manusia, seakan-akan dia merasa bahwa Al-Quran adalah penolong dan temannya.” Muhamad Rumrawi, seorang pengajar Al-Quran asal Indonesia menilai, penyelenggaraan perlombaan Al-Quran diberbagai negara merupakan simbol persatuan Islam. Dia berharap agar negara-negara Islam berusaha menyelenggarakan perlombaan Al-Quran, dan membangun pusat-pusat pendidikan Al-Quran khususnya di negara-negara miskin dan negara berpenduduk minoritas muslim, dalam rangka mewujudkan persatuan Islam.

Keistimewaan perlombaan kali ini pada penekanan persatuan Islam yang berporoskan Al-Quran. Lebih dari 60 makalah dari dalam dan luar negeri yang membahas seputar metode persatuan Islam diterima panitia penyelenggara acara kali ini. Abd Qadir Alizadeh, qari asal Australia dalam wawancaranya dia menilai, mengingat kondisi genting dunia Islam dan krisis yang dialami muslimin, saat ini dunia Islam tidak memiliki jalan kecuali persatuan. Para pemimpin dan pemikir Islam harus menjadi pelopor persatuan untuk mengembalikan masa gemilang Islam.

Muhamad Rahman, qari’ dan imam salat jemaah asal Banglades dan peserta di cabang Qiraat menilai hubungan dan kerjasama pemerintah Iran dan warganya dalam perlombaan kali ini sangat baik. Dia menambahkan, “Di negara lain sulit ditemukan semangat yang ditunjukkan oleh warga Iran.” Menurutnya, problematika yang dihadapi dunia Islam disebabkan kelalaian muslimin akan fasilitas yang dimilikinya seperti kekayaan, ilmu dan sumber daya manusia yang ada khususnya para pemuda. Ditambahkannya pula, dengan bersatu kita dapat mengatasi problem yang sedang kita hadapi serta membuat musuh-musuh Islam menjadi putus asa.

Imam Musa Diybati, anggota Dewan Nasional Islam dari negara Pantai Gading, salah satu tamu undangan di acara ini dalam makalahnya mengharapkan diselenggarakannya sebuah Konferensi Pendekatan antar mazhab khususnya antara Suni dan Syiah. Menurutnya, muslimin harus mencontoh musuh-musuhnya yang bersatu dan mengesampingkan segala perbedaan diantara mereka dalam usahanya untuk memerangi Islam. Surat Baqarah ayat 285 menyebut mukmin hakiki adalah yang beriman kepada Al-Quran dan kitab samawi lainnya serta nabi-nabi terdahulu. Ditambahkannya, berdasarkan ayat 125 surat An Nahl, Allah SWT memerintahkan manusia untuk berdialog dengan cara yang paling baik dan tidak boleh menghina dan merendahkan orang lain. Menurutnya, menjauhi pengkafiran antar sesama adalah dasar dialog Islami. Oleh karenanya, muslimin dalam berdialog harus memilih kata-kata dan kalimat yang tidak menimbulkan permusuhan”. Sebenarnya, titik penting dalam persatuan Islam adalah adanya hubungan harmonis, menghidupkan ajaran Rasulullah saww, dan merealisasikan pesan-pesan Al-Quran.

Ketua Dewan Majlis Islam Iran, Dr. Haddat Adel, dalam sambutannya di acara penutupan perlombaan Al-Quran mengatakan, “Al-Quran adalah penerus wujud Rasulullah saw. Sepanjang sejarah kita saksikan posisi Al-Quran di kalangan masyarakat Islam seperti posisi Nabi saww itu sendiri, dan kecintaan muslimin kepada Al-Quran sama seperti kecintaan mereka terhadap Nabi saww. Sebagaimana Nabi saww sebagai simbol persatuan di tengah-tengah muslimin, Al-Quran juga sebagai simbol dan sumber persatuan, khususnya dewasa ini, dimana musuh-musuh Islam membidik persatuan Islam karena khawatir akan kebangkitan Islam”. Menurutnya, Al-Quran adalah tali Allah dan bukti nyata dari ayat berpegang teguhlah dengan tali Allah dan janganlah bercerai berai , oleh karenanya kita harus berpegang teguh dengan Al-Quran.

Selanjutnya dia menambahkan, “Al-Quran adalah ibarat sebuah cermin yang memungkinkan kita melihat potret Islam sebenarnya. Al-Quran juga sebuah neraca untuk menghindari ekstrimisme. Asas mayarakat Islami yang ideal harus dicari di Al-Quran. Semua ide sebagimana pun adilnya, jika tidak berasaskan Al-Quran akan terjadi penyelewengan. Dan akhirnya, Al-Quran adalah pedoman hidup”.

Dalam perlombaan kali ini, Husain Fardi dari Iran merebut juara pertama di cabang qira’at , sedangkan cabang hafalan Al-Quran direbut Mustafa Jum’eh Muthawi’ dari Libiya,

“Sesungguhnya lidah adalah bagian dari tubuh dan dikendalikan oleh otak. Jika otak tidak bergolak dan aktif, lidah juga tidak akan menghasilkan apapun. Namun, jika otak terbuka lidah juga akan terbuka”. (Imam Ali bin Abi Thalib)

Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH
https://arsiparmansyah.wordpress.com
http://armansyah.swaramuslim.com
http://dunia-it-armansyah.blogspot.com/

Blog buku Ramalan Imam Mahdi

Kunjungi Blog Buku Ramalan Imam Mahdi di : http://ramalanimammahdi.wordpress.com/

Ramalan Imam Mahdi

Blog Buku ke-3 Armansyah : Ramalan Imam Mahdi

Buku Ramalan Imam Mahdi menggegerkan ?

Belum satu bulan buku ketiga saya “Ramalan Imam Mahdi : Akankah ia datang pada 2015, sebuah jawaban untuk Jaber Bolushi” terbit. Ternyata sudah dimasukkan dalam 3 buku yang menggegerkan tahun ini.

Hal tersebut disampaikan oleh pengelola situs http://tegakluruskelangit.blogspot.com/2008/08/buku2-yang-bikin-geger.html seperti gambar dibawah ini :

Fenomenal ?
Buku Ramalan Imam Mahdi : Fenomenal ?

Entah benar atau tidak, namun jika ini memang kenyataannya maka menjadi kabar baik sebab upaya saya untuk membendung klaim-klaim dari Jaber Bolushi akhirnya berhasil. Semuanya adalah kehendak Allah.

Alhamdulillah

Koleksi Segera 3 Karya fenomenalnya

Koleksi Segera 3 Karya fenomenalnya

Silaturahmi dengan Ulil Abshar

———- Forwarded message ———-
From: Armansyah
Date: 2008/8/22
Subject: Re: [Milis_Iqra] Fwd: [Forum Pembaca KOMPAS] Menjadi Muslim dengan perspektif liberal
To: ulil99@yahoo.com
Cc: “Milis_Iqra@googlegroups.com” <milis_iqra@googlegroups.com>

Bung Ulil Abshar.

Terimakasih atas tanggapan anda kali ini, adalah satu kehormatan buat saya setelah lebih dari 6 artikel komunitas Islam Liberal saya jawab dan cc khan pada setiap penulisnya termasuk anda sendiri.

Bung Ulil, saya memahami bila anda jarang atau mungkin sama sekali justru belum pernah membaca tanggapan-tanggapan saya tersebut karena memang ada banyak hal yang mesti anda klarifikasi dari apa yang saya tanggapi disana. Seperti biasa juga, saya tidak akan memaksa seseorang untuk menjawab apa-apa yang saya jawab kembali.

Satu tahun terakhir ini saya agak absen dari kunjungan kesitus anda sehingga tidak banyak artikel yang bisa saya tanggapi seperti 2 tahun sebelumnya sehingga maaf saja kalau anda ada pernah menjawab melalui artikel lain atas apa yang saya tanyakan.

Jadi sejauh ini diantara kita bisa disebut seimbang.


Bung Ulil.

Saya pribadi meskipun bukan bagian dari komunitas Jaringan Islam Liberal, adalah orang yang berusaha menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan terobosan-terobosan baru dalam hal keagamaan. Secara umum,  kemerdekaan berarti bebas dari segala penindasan, sebaliknya bebas hidup, beragama, memiliki kekayaan, berpikir serta mengemukakan pandangan. Islam memperjuangkan kemerdekaan itu tetapi ia bukanlah kebebasan liar yang tanpa batas, sebaliknya Islam sarat dengan ikatan hukum dan etika mulia. Inilah makna kemerdekaan dalam Islam yang berbeda dari agama atau bentuk-bentuk isme lainnya. Semua orang yang memiliki kemampuan untuk berpikir sehat tentu akan mengerti bahwa hidup ini harus memiliki aturan main tertentu agar terjadi keseimbangan dan kemaslahatan dalam menjalaninya, baik itu menyangkut kehidupan antar bangsa sampai antar anak bangsa.

Tetapi masyarakat modern dewasa ini dengan alasan kebebasan hak asasi dan seni menolak adanya peraturan yang akan diberlakukan sebuah negara yang dasarnya untuk menjaga moralitas masyarakat dinegara itu sendiri.

Harapan saya semoga silaturahmi perdana ini bisa terus berlanjut dimasa yang akan datang, saya sangat tertarik untuk berdialog dengan anda berlandaskan pada Qawlan Sadidan (pembicaraan yang benar, jujur dan tidak berbelit-belit), Qawlan balighan (pembicaraan yang jelas), Qawlan maysuran (pembicaraan yang pantas), Qawlan layyinan (pembicaraan yang lemah lembut), Qawlan kariman (pembicaraan yang mulia, terhormat) dan Qawlan Ma’rufan (perkataan yang baik). InsyaAllah.

Anda boleh berkunjung keblog saya kapan saja untuk mengenal karakter saya lebih jauh, saya juga mengundang anda untuk bergabung di milis_iqra@googlegroups.com jika anda berkenan.

———- Forwarded message ———-
From: Ulil Abshar-Abdalla (email : ulil99@yahoo.com)
Date: 2008/8/22
Subject: Re: [Milis_Iqra] Fwd: [Forum Pembaca KOMPAS] Menjadi Muslim dengan perspektif liberal
To: Armansyah <armansyah.skom@gmail.com>

Bung Arman,
Terus terang, saya jarang membaca tanggapan anda atas pemikiran teman-teman JIL atau pemikiran saya sendiri. Pertama, terlalu banyak tanggapan yang masuk ke saya. Kala tanggapan yang masuk layak saya jawab, biasanya saya tanggapi. Kalau saya anggap tak butuh tanggapan, saya lewatkan saja.

Kedua, biasanya saya memberikan jawaban secara umum. Tulisan-tulisa saya secara tak langsung menjawab pertanyaan dan tanggapan yang diajukan kepada saya. Memang, saya tak menanggapi secara langsung dan spesifik.

Ketiga, saya tak berpretensi bisa menjawab semua hal. Kalau saya tak memberikan tanggapan balik, boleh jadi saya memang tak bisa memberikan jawaban.

Semoga keterangan ini menjawab pertanyaan anda.

Ulil


— On Fri, 8/22/08, Armansyah <armansyah.skom@gmail.com> wrote:
From: Armansyah <armansyah.skom@gmail.com>
Subject: Re: [Milis_Iqra] Fwd: [Forum Pembaca KOMPAS] Menjadi Muslim dengan perspektif liberal
To: Milis_Iqra@googlegroups.com
Cc: ulil99@yahoo.com
Date: Friday, August 22, 2008, 8:17 AM

Sampaikan saja salam saya untuk Ulil Abshar (email ini saya cc khan pada ybs juga).
Pertanyaan saya satu : kenapa semua jawaban saya untuk JIL termasuk satu diantaranya untuk Ulil, tidak pernah mendapatkan tanggapan.

Ditunggu konfirmasi yang lalu …

2008/8/22 najla abu <najla.abu@gmail.com>
catatan baru dari Ulil Abshar abdalla,

ada yang mau comment atau silaturahmi..? he..he…he…
ada alamat emainya di bawah ini….

———- Forwarded message ———-
From: Ulil Abshar-Abdalla <ulil99@yahoo.com>
Date: 2008/8/22
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Menjadi Muslim dengan perspektif liberal
To: Forum Pembaca Kompas <forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com>

Koleksi Segera !

Koleksi Segera 3 Karya Fenomenal Armansyah

Koleksi Segera 3 Karya Fenomenal Armansyah

Klarifikasi PKS u/. Pencalonan SOHE

Sejak saya mempublikasikan diri sebagai salah satu caleg yang diberi amanah oleh PKS mewakili kodya Palembang, ada sejumlah kritik maupun pertanyaan yang masuk kesaya. Baik melalui blog arsiparmansyah.wordpress.com maupun di milis_iqra@googlegroups.com atau diemail pribadi. Tanggapan itu sendiri memang sifatnya variasi, banyak yang antusias, banyak pula yang mendukung serta tidak sedikit yang memberi rambu-rambu kuning kepada saya.

Secara detil, mengenai konsep berpartai bagi umat Islam saya sudah gulirkan dalam beberapa artikel baru yang khusus saya tulis mengenainya. Seperti “Hukum Mempromosikan Diri”, “Islam Kaffah : An Unlimited System” serta yang terakhir adalah “Islam Kaffah : The Soulmate”. Jauh sebelum ini, saya juga telah banyak menyinggung tentang konsep penyatuan agama dengan kehidupan dunia. Baik ditulisan-tulisan saya tahun 90-an sewaktu masih bergabung di Islamic Network, MyQuran, Eramuslim maupun posting-posting saya diblog Swaramuslim dan arsiparmansyah. Tidak ketinggalan pula diketiga buku saya yang sudah terbit dipasaran (Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih, Jejak Nabi Palsu dan Ramalan Imam Mahdi).

Topik yang banyak mendapat sorotan adalah pertanyaan seputar pendukungan PKS terhadap Cagub Sumsel Syahrial Oesman dipilkada Gubernur 2008. Semua sudah saya jawab secara tuntas berdasar apa yang saya ketahui baik melalui aspek penganalisaan maupun aspek keagamaan. Jawaban-jawaban itu sudah pula saya posting baik di milis_iqra maupun diblog arsiparmansyah. Kali ini, saya akan menurunkan tulisan sejenis yang saya ambil dari Harian Sriwijaya Post Kamis tanggal 21 Agustus 2008 hal. 1 dan 2 mengenai tanggapan Presiden PKS Bapak Tifatul Sembiring dan juga Sekretaris DPW PKS Sumsel sekaitan dukungan PKS terhadap Syahrial Oesman.

Semoga konfirmasi tambahan ini dapat bermanfaat bagi para simpatisan, kader maupun masyarakat luas terhadap sikap PKS.

Berikut adalah kutipan tersebut :

Sikap religius SO merupakan salah satu pertimbangan penting yang diambil Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk menjadi salah satu partai pengusungnya. Parpol yang hingga kini terkenal menerapkan konsep amar ma’ruf nahi munkar secara kaffah ini juga sangat peduli terhadap sikap dan moral tokoh yang didukungnya. Akhir-akhir ini banyak isu negatip yang dilontarkan lawan politik terhadap SO.

“Kami mendengar banyak fitnah yang dilontarkan terhadap Pak Syahrial. Saudara-saudara, PKS sudah turun melakukan penyelidikan terhadap tuduhan-tuduhan itu. Hasilnya semua tidak terbukti, semua fitnah. Mohon saudara-saudara tidak terpengaruh fitnah-fitnah itu.” Kata Presiden PKS Tifatul Sembiring saat berkampanye untuk SOHE dilapangan Parkir Bumi Sriwijaya, Selasa (19/8).

Senada dengan Tifatul, Sekretaris DPW PKS Sumsel Erza Saladin mengungkapkan bahwa PKS tetap mendukung pasangan SOHE karena keputusan ini sudah dikaji tingkat kemaslahatan dan kemudharatannya secara cermat. Hasil kajian dan dialog PKS, foto yang dipermasalahkan tersebut diambil tahun 2003 lalu saat SO berwisata ke Genting Highland. Itu jauh sebelum PKS memutuskan mendukung SOHE pada September 2007 lalu. “Sebelum dukung kita sudah analisa, melakukan dialog dan komitmen kekinian”, ujar Erza.

Dikolom lain disebutkan pula bahwa kepemimpinan Syahrial Oesman selama 5 tahun terakhir (2003-2008) dinilai telah membawa pencerahan dibidang keagamaan. Hal ini dinilai berkat sikap religius SO dan perhatiannya terhadap pembangunan mental spiritual yang seimbang dengan bidang fisik material. Pesan ini disampaikan oleh KH. Cek Ujang bin H. Hasan Syukur (Pembina Yayasan Ahlussunnah Wal Jamaah).

Hubungan Pemprov Sumsel dibawah SO dengan istitusi keagamaan terutama Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga dinilai sangat baik. Hal ini sangat berguna untuk meminimalkan kemaksiatan. Antara lain, kata Cek Ujang, kerjasama antara Pemrov Sumsel dengan MUI untuk mencekal artis yang potensial menyebarkan pornoaksi dan pornografi. SO dinilai sangat memperhatikan pembangunan mental. Antara lain memberangkatkan warga miskin, para kyiai, ustadz dan ustadzah ketanah suci Mekkah, setiap tahun. Bukan hanya mendekati pilkada untuk menarik simpati. Beliau sudah membantu umat yang ingin mencukupkan rukun Islam kelima ini sejak menjabat sebagai Gubernur Sumsel.

Seorang staf di Pemprov Sumsel ikut menyampaikan kesaksiannya pada suatu ketika peristiwa diruang rapat ketika SO masih menjabat Gubernur. “Terdengar adzan Ashar. Pak Syahrial menghentikan pembicaraan selama adzan berkumandang. Beliau juga mulai melepas cincin dan arloji. Usai adzan, beliau meminta izin keluar. Sekitar sepuluh menit kemudian Pak Syahrial masuk ruangan. Kami melihat sisa wudhu dirambut dan wajahnya.” Kata Staf ini.

Itu merupakan salah satu cara SO mencontohkan lewat perbuatan. Dia juga mengajak semua stafnya yang muslim untuk tidak menunda-nunda sholat sekalipun dalam perjalanan. Dalam banyak kunjunganm SO mampir kemasjid untuk menunaikan sholat. Tidak jarang dia mengambil prakarsa sebagai imam.

Itulah klarifikasi resmi dari PKS khususnya yang banyak mendapat sorotan sekaitan kasus Syahrial Oesman di Malaysia pada tahun 2003 (bukan tahun 2007 seperti yang dikatakan oleh Roy Suryo). Tahun 2006-2007, saya pribadi memang ikut mengamati perkembangan religius dari SO. Terutama sejak beliau dengan sumringahnya menaruh perhatian dengan kegiatan ESQ. Bahkan beliau sampai bekerjasama dengan ESQ untuk training staf-staf pemerintahannya. Desember 2007, mertua saya, satu Inspektorat di Banyuasin dan satunya lagi bekerja di Dinas Perkebunan Sumsel bertemu dengan SO ditanah suci ketika menunaikan ibadah haji.

Semua orang pasti pernah berbuat salah, tidak SO, tidak saya dan tidak juga anda yang sedang membaca tulisan ini.

Setiap orang pula, selama dia masih punya kesempatan waktu, berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua dimana dia bisa memperbaiki kesalahannya dimasa lalu. Tahun 2003 ke 2007 sangatlah panjang rentang waktunya. Segala hal sudah banyak terjadi, begitu pula dengan kondisi pengetahuan keagamaan serta wawasan seseorang. Jadi tidak bijak menghakimi seseorang atas kesalahan masa lalunya manakala beliau sudah mulai banyak berubah.


%d bloggers like this: