Indahnya nikmat Allah …

Ketika sakit baru terasa sekali nikmatnya sehat, ketika lemah baru terasa nikmatnya kuat… ah, manusia memang makhluk yang penuh ketidaksempurnaan dan sungguh makhluk yang juga penuh keluh kesah. Ternyata memang orang-orang pilihan Allah itu luar biasa, — sembari membayangkan perjuangan Nabi Ayyub.

Ibnu Umar pernah berkata :

Bila kamu berada di sore hari, maka janganlah kamu menunggu datangnya waktu pagi, dan bila kamu berada di pagi hari, maka janganlah menunggu waktu sore, pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu. (Sumber: Shahih Bukhari 5937)

Semoga kita menjadi hamba-hamba yang senantiasa bersyukur.

Advertisements

Orang yang sudah wafat wajib dijaga aibnya

Mengapresiasi dan mengenang kembali kisah seorang tokoh yang pernah hidup dalam bentuk tayangan infotainment, film atau dokumenter tidak dapat dikatakan terlarang dari sudut agama. Tapi tentunya pihak-pihak terkait harus jeli dan cerdas dalam memilih dan memilah hal-hal yang boleh untuk ditampilkan dan mana hal yang justru harus di edit ulang atau tidak ditayangkan.

Dulu saya pernah mengkritik penayangan film biografi alm. Uje yang menurut saya ada sejumlah adegannya yang tidak pantas untuk ditampilkan ketengah publik meskipun pemeran sang tokoh dakwah itu sendiri adalah orang lain. (Lihat: http://goo.gl/40DkX5).

Sekarang hal inipun berlaku untuk kasus almarhum Olga. Sebagai seorang entertainer khususnya dibidang komedi dan juga artis film, pasti ada beberapa adegan atau banyolan yang ia perankan semasa hidupnya berlawanan dengan syari’at agama Islam yang ia yakini. Misalnya saja jika ada adegan-adegan film dirinya bersama penayangan pengumbaran aurat perempuan. Ini harus di cut atau bahkan tidak usah ditayangkan sama sekali sebab hanya akan membuatnya semakin menderita atas dosa-dosa jariyah masa lalunya yang harusnya dikubur dan ditutupi tapi malah dipublikasikan ulang.

Hal yang sama juga hendaknya terhadap artis-artis masa lalu lainnya yang sekarang sudah sadar dan menghijabi dirinya selaku seorang muslimah. Sebut saja misalnya nama Inneke Koesherawati. Film-film lawasnya itu mestinya tidak lagi diputar dalam bentuk apapun.

Itu jaman dia masih jahiliyah terhadap agamanya. Sekarang dia sudah berubah dan salah satu bentuk kewajiban seorang muslim terhadap muslim lainnya adalah untuk menutupi aibnya. Apa lagi jika orang yang bersangkutan justru sudah tiada. Kita semua cinta Uje, kita semua cinta olga tapi kita harus paham bila cinta juga punya batasan. Cintailah sesuatu itu sesuai aturan Allah. InsyaAllah kita selamat dan orang-orang yang kita cintai dan idolakan itupun selamat.

Semoga bermanfaat.
Maaf lahir dan batin.
28 Maret 2015

Armansyah Azmatkhan, M.Pd

Politik belah bambu untuk parpol KMP

Melihat politik belah bambu terhadap parpol koalisi merah putih akhir-akhir ini, kita memang mau tidak mau harus memberi apresiasi kepada para musuhnya yang sukses menjalankan permainan ala de vide et impera kolonial Belanda. Satu demi satu parpol pendukung capres Prabowo Subianto itu luruh akibat friksi yang muncul atau dimunculkan dari internal partainya masing-masing. Sebut saja PPP, PAN dan terakhir adalah Golkar.

Kekuatan penyeimbang di parlemenpun akan semakin berkurang dan membuat kekuatan pro status quo yang sedang berkuasa akan semakin bebas dalam membuat kebijakan dan keputusan yang kontra rakyat. Akhirnya penolakan yang disampaikan atas kebijakan tidak populis dari pemerintah menjadi suara sumbang yang tidak berarti apa-apa. Satu-satunya harapan hanya tinggal menunggu kekuatan rakyat yang direpresentasikan oleh para mahasiswa.

Sekarang semakin jelas fakta terkait kelompok yang memang idealis dalam berjuang dan kelompok mana yang cuma mencari keuntungan pribadi serta mana pula yang ambigu. Saya memberikan apresiasi positif terhadap PKS secara khusus yang meskipun dihantam oleh banyak kejadian dan fitnah bahkan juga utak-atik gathuk namun tetap bertahan tanpa terpecah belah. Semua kadernya insyaAllah tetap diberi keistiqomahan dalam berjuang untuk dan atas nama Allah bagi kemaslahatan umat serta bangsa.

Antara Yani, Olga dan Ridwan: Innalillahi…

Satu minggu terakhir ini minimal kita dikejutkan oleh kabar kematian dua orang artis terkenal ibu kota, Yani libels dan Olga syahputra. Ini hanya sedikit berita kematian saja dari banyaknya berita kematian yang terjadi dalam setiap harinya diberbagai belahan dunia yang kita ketahui dan terekspos oleh media. Nun jauh di Gaza, Suriah, Iraq dan sebagainya kematian menjadi berita yang biasa terdengar. Tidak banyak yang perduli mungkin atau memang karena media tidak mengeksposnya secara dramatisir putra wakil Amir Mujahiddin Abu Muhammad Jibril Abdurrahman yang bernama Muhammad Ridwan Abdul Hayyi gugur di Suriah.

Yah. Pada hakekatnya kita semua pasti akan menemui kematian. Termasuk anda dan saya. Suatu hari, tubuh ini akan rusak binasa. Menjadi santapan para cacing tanah di pekuburan. Suara inipun tidak lagi bisa didengar. Juga, tangan ini tak mungkin lagi bisa menulis apapun. Jasad yang semula hangat berangsur menjadi kaku dan dingin.

Sudah milyaran manusia meninggal dunia sejak zaman Nabi Adam as hingga saat ini. Di antara merka ada Raja, Presiden, Jenderal, Kyai, Ustadz, para sholihin bahkan para Nabi, termasuk Nabi Muhammad Saw. Mereka semuanya tidak kuasa menolak datangnya kematian, karena memang kematian adalah suatu keniscayaan, dan tidak ada seorangpun di sekitarnya yang mampu menahannya. Seandainya ada seseorang yang dapat selamat dari maut, niscaya manusia yang paling mulia dan dekat dengan Tuhan saja yang akan selamat. Namun maut merupakan Sunnah-Nya pada seluruh makhlukNya. Allah SWT berfirman: “Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan kematian” (Ali-Imran: 185)

Ada sebuah ucapan bijak dari Fudhail bin Iyadh :

“Wa Kafaa Bil Mauti Wa Idzho, Cukuplah kematian sebagai pemberi nasehat”.

Sekaya apapun kita, sesukses apa-pun karir kita, sepandai apapun kecerdasan kita, secantik apapun wajah kita, sekuat apapun badan kita, sekeras apapun kerja kita untuk mengumpulkan harta yang banyak, ingatlah, seperti itu lho nanti kita semua, terbujur kaku dan tidak berdaya. Hendaklah kita mengambil nasehat dan pelajaran dari kematian itu. Sebab manakala kita tidak bisa mengambil pelaaran dari kematian, niscaya nasehat apapun tidak akan berguna bagi kita.

Oleh karena itu, ketika kita dinasehati saat itu akan datang menjelang maka kita meninggalkan orang yang kita kasihi, kita akan meninggalkan rumah mewah dan nyaman lalu pindah ke rumah terakhir di dalam himpitan tanah merah maka kita harus bersiap-siap untuk menyambutnya, mengevaluasi diri kita sebelum diri kita dievaluasi (dihisab) oleh Allah. Kita dulu lahir telanjang dan tidak membawa apa-apa, dan sekarang kembali pada Allah juga telanjang dan tidak membawa apa-apa, selain amal saleh kita.

Kematian Yani libels, Olga dan Ridwan dalam contoh kecil yang kabarnya sampai pada kita, mereka semua juga sama seperti kita, mereka mengira bahwa mereka akan hidup sampai esok hari. Faktanya mereka hari ini sudah dalam tanah, terkubur beserta seluruh amal baik dan amal buruknya.

Dari Musnad Ahmad No. 11768: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian merasa kagum dengan seseorang hingga kalian dapat melihat akhir dari amalnya, sesungguhnya ada seseorang selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal kebaikan, yang sekiranya ia meninggal pada saat itu, ia akan masuk ke dalam surga, namun ia berubah dan beramal dengan amal keburukan. Dan sungguh, ada seorang hamba selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal keburukan, yang sekiranya ia meninggal pada saat itu, ia akan masuk neraka, namun ia berubah dan beramal dengan amal kebaikan. Jika Allah menginginkan kebaikan atas seorang hamba maka Ia akan membuatnya beramal sebelum kematiannya, ” para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, bagaimana Allah membuatnya beramal?” beliau bersabda: “Memberinya taufik untuk beramal kebaikan, setelah itu Ia mewafatkannya”.

Alhamdulillah saya pribadi masih di berikan kesempatan untuk dapat melanjutkan hidup meskipun beberapa hari ini diberikan ujian sakit oleh Allah ta’ala. Semoga menjadi penggugur dosa-dosa yang ada.

sks

Kepada saudara-saudara kita yang telah berpulang kerahmatullah, semoga Allah menerima seluruh amal ibadahnya dan mengampuni segala kesalahan mereka.

Innalillahi wa inna ilayhirooji’un.

‪#‎ripridwan‬ ‪#‎ripyani‬ ‪#‎ripolgasyahputra‬ ‪#‎ripmusliminawalmuslimah‬

Original Poested :
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10153113493278444&set=a.10150222596188444.336520.727558443&type=1

Salam dari Palembang Darussalam

Armansyah S.Kom, M.Pd

3 Macam doa Iftitah

Berikut 3 do’a Iftitah bersama rantai sanadnya, manakah yang paling sering anda baca dalam sholat?

PERTAMA

Sunan Abu Daud 663 – Shahih menurut Al-Bani: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abu Syu’aib telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari ‘Umarah. Dan telah di riwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid dari ‘Umarah sedangkan ma’na haditsnya dari Abu Zur’ah dari Abu Hurairah dia berkata; “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan takbir dalam shalat, maka beliau akan diam sejenak antara takbir dan qira’ah (membaca surat Al Fatihah), maka kataku kepadanya; “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, beritahukanlah kepadaku, apa yang anda baca sewaktu anda diam antara takbir dan membaca Al Fatihah?” beiau menjawab:

“ALLAHUMMA BAA’ID BAINI WA BAINA KHATHAAYAYA KAMAA BAA’ATTA BAINAL MASYRIQI WAL MAGHRIB, ALLAHUMMA ANQINII MIN KHATHAAYAAYA KATSSAUBIL ABYADLI MINAD DANAS, ALLAHUMMAGH SILNII BIS TSALJI WAL MAA`I WAL BARAD

(Ya Allah, jauhkanlah antara aku dengan dosa-dosaku, sebagaimana Engkau jauhkan jarak antara timur dan barat, ya Allah bersihkanlah kesalahan-kesalahanku sebagaimana bersihnya kain putih dari kotoran, ya Allah cucilah diriku dengan salju, air dan embun)”.

Lafadz Arabnya :  

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ أَنْقِنِي مِنْ خَطَايَايَ كَالثَّوْبِ الْأَبْيَضِ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ

 

KEDUA

Sunan Tirmidzi 3516 – Shahih menurut Al-Bani: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim Ad Dauraqi telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj bin Abu Utsman dari Abu Az Zubair dari ‘Aun bin Abdullah dari Ibnu Umar radliallahu ‘anhuma dia berkata; “Ketika kami sedang shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari suatu kaum mengucapkan;

“ALLAHU AKBAR KABIRAN WAL HAMDULILLAHI KATSIRAN WASUBHAANALLAHI BUKRATAN WA`ASHIILAA”

Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Siapa yang mengatakan begini dan begini? lelaki tersebut menjawab; “Saya ya Rasulullah.” Maka Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku sangat heran, karena dengannya pintu-pintu langit telah di buka.” Ibu Umar berkata; “Oleh karena itu, aku tidak pernah meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Abu Isa berkata; “Hadits ini derajatnya hasan gharib melalui jalur ini, Dan Hajjaj bin Abu Utsman adalah Hajjaj bin Maisarah Ash Shawwaf yang di juluki dengan Abu Shalt menurut ahli hadits, ia adalah seorang yang tsiqah (dapat dipercaya).”

Lafadz Arabnya : 

 اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا 

KETIGA

Shahih Muslim 1290 – Shahih menurut Al-Bani: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bukair Al Muqaddami telah menceritakan kepada kami Yusuf Al Majisyun telah menceritakan kepadaku bapakku dari Abdurrahman Al A’raj dari Ubaidullah bin Abu Rafi’ dari Ali bin Abu Thalib dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; Biasanya apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat, beliau membaca (do’a iftitah) sebagai berikut:

“WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATHARAS SAMAAWAATI WAL ARDLA HANIIFAN WAMAA ANAA MINAL MUSYRIKIIN, INNA SHALAATII WA NUSUKII WA MAHYAAYA WA MAMAATII LILLAHI RABBIL ‘AALAMIIN LAA SYARIIKA LAHU WA BIDZAALIKA UMIRTU WA ANAA MINAL MUSLIMIIN ALLAHUMMA ANTAL MALIKU LAA ILAAHA ILLAA ANTA, ANTA RABBII WA ANAA ‘ABDUKA ZHALAMTU NAFSII WA’TARAFTU BI DZANBII FAGHFIL LII DZUNUUBII JAMII’AN INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUB ILLAA ANTA WAH DINII LIAHSANAIL AKHLAAQ LAA YAHDII LIAHSANIHAA ILLAA ANTA WASHRIF ‘ANNII SAYYI`AHAA LAA YASHRIFU ‘ANNII SAYYI`AHAA ILLAA ANTA LABBAIKA WA SA’DAIKA WAL KHAIRU KULLUHU FII YADAIK WASY SYARRU LAISA ILAIKA ANAA BIKA WA ILAIKA TABAARAKTA WA TA’AALAITA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA

(Aku hadapkan wajahku kepada Allah, Maha pencipta langit dan bumi dengan keadaan ikhlas dan tidak mempersekutukanNya. Sesungguhnya shalatku, segala ibadahku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya, dan karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan berserah diri kepadaNya. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hambaMu. Aku telah menzhalimi diriku dan aku mengakui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang berwenang untuk mengampuni segala dosa melainkan Engkau. Dan tunjukilah kepadaku akhlak yang paling bagus. Sesungguhnya tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau. Dan jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau. Labbaik wa sa’daik (Aku patuhi segala perintahMu, dan aku tolong agamaMu). Segala kebaikan berada di tanganMu. Sedangkan kejahatan tidak datang daripadaMu. Aku berpegang teguh denganMu dan kepadaMu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Kumohon ampun dariMu dan aku bertobat kepadaMu).”

Lafadz Arabnya :

 وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنْ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ 

Semoga bermanfaat.

Armansyah, M.Pd

Kisah pencari matahari

Ada seorang anak muda yang tinggal didasar sebuah lembah. Setiap pagi dan siang ia selalu mendongakkan kepalanya keatas. Dia begitu menyukai matahari. Setelah menahan diri begitu lama, akhirnya ia merasa cukup kuat untuk mendaki keatas puncak gunung. Pagi itu dari dasar lembah tadi, sianak mudapun naik perlahan hingga akhirnya berhasil juga sampai dipuncak. Sayangnya perjalanan dari dasar lembah naik keatas gunung itu memakan waktu seharian. Begitu ia berada diatas dataran yang tertinggi dari gunung itu, hari sudah malam. Matahari yang ia idamkan sejak dari lembah ternyata tidak berhasil ia temui.

Pemuda ini terkulai lemas, ia merasa perjuangannya yang susah payah berakhir sia-sia. Seorang tua yang bijak datang menghampirinya dan bertanya:

“Kenapa kau begitu terlihat rapuh dan lemah, anak muda? “
“Aku sudah lama ingin naik ke atas sini guna bertemu dengan matahari. Aku sudah berjuang untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Tapi begitu aku sudah ada diatas sini, aku tidak menjumpai matahari itu. Aku cuma menemukan kepekatan gelap malam.” Tukas sianak muda lirih.

Sambil tersenyum, orang tua bijak itu berkata lagi:

“Anak muda! Kau terlalu sibuk dengan satu tujuanmu saja. Dari dasar lembah itu kau cuma dapat melihat matahari saja diketinggian. Kau mengaguminya dan ingin mendapatkannya lebih dekat. Sekarang kau sudah disini, diatas puncak gunung tertinggi dan kau tidak lagi menemukan sang mentari itu. Sekarang, buka matamu lebar-lebar anak muda. Pandanglah kelangit luas itu…. kau memang gagal mendapatkan matahari, namun fokuslah, kau mendapatkan bintang-bintang yang jumlahnya sangat banyak dan indah. Tidakkah engkau melihat semua itu?” Kata siorang tua tadi sembari menunjuk kebintang-bintang yang bertaburan dilangit”.

Anak muda itu tercekat, ternyata ia memang terlalu sibuk dengan mimpi tunggalnya sehingga ketika mimpi itu gagal terwujud, dia merasa kosong, hampa dan sia-sia. Manakala ia sadar, ternyata ia memang diliputi oleh kegelapan malam, ia memang sudah kehilangan sang mataharinya tapi ia sudah mendapatkan lebih dari satu benda langit yang bercahaya. Ia ternyata sekarang justru sedang dikelilingi oleh ratusan bintang gemintang yang indah bergemerlapan. Dia pada hakekatnya telah mendapatkan lebih dari apa yang ia inginkan namun karena kegalauannya untuk sesaat ia tidak mampu melihat semua keindahan tersebut.

ilustrasinya

Semoga cerita ini dapat diambil hikmahnya dalam menjalani serta menyikapi fenomena kehidupan yang dinamis ini.

Salam dari Palembang Darussalam.
24 Maret 2015

Armansyah Azmatkhan, S.Kom, M.Pd

Original posted : Facebook

Sholat dan Terorisme jiwa: Khutbah saya jum’at 20 Maret 2015

Berikut arsip materi Khutbah saya, Jum’at tanggal 20 Maret 2015

Rekaman Suara : 
https://soundcloud.com/armansyah-abi-daffa/khutbahjumat20032015

 

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ َسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ،:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Ma’asyirol muslimin rohimakumullah

Marilah kita bersama-sama tidak henti-hentinya untuk selalu bersyukur kehadirat Allah Subhanahu wata’ala. Karena atas nikmat-Nya yang tak berkesudahan, pada hari ini kita semua masih dapat berkumpul bersama-sama dimasjid Solahuddin al-Ayyubi yang kita cinta ini guna menunaikan salah satu kewajiban kita selakuseorang muslim, menunaikan ibadah sholat Jum’at berjema’ah.

Allah telah menganugerahkan kepada kita banyak sekali nikmat yang niscaya tidak akan pernah dapat untuk kita hitung. Sejak dari kita bangun tidur dipagi hari hingga kita kembali tertidur dimalam harinya. Bahkan indahnya rasa kantuk dimalam hari itu sendiri merupakan salah satu bentuk nikmat yang juga mesti kita syukuri. Rasa syukur yang tidak cuma habis sebatas kata-kata dimulut kita semata tetapi dipraktekkan secara nyata dlm kehidupan sehari-hari.

Oleh sebab itu pula khotib mengingatkan kepada kita semuanya untuk tidak mengobrol, atau sibuk dengan handphonenya apalagi sampai ada yang tertidur sehingga apa yang nantinya disampaikan diatas mimbar ini justru tidak mendapat perhatian sama sekali dan menjadi sia-sialah keberadaannya di majelis jum’at yang penuh berkah Allah ini.

Tidak jemu-jemunya saya mengajak jemaah Jumu’ah sekalian untuk mengingat kondisi saudara-saudara muslim kita di Gaza, Palestina, Afghanistan, Irak dan sejumlah negara lainnya yang sekarang tengah bergejolak dikecamuk oleh peperangan. Banyak dari mereka melakukan sholat Jum’atnya tidak didalam masjid beralaskan permadani disertai angin sepoi-sepoi maupun hembusan pendingin udara tapi mereka melakukannya dibawah reruntuhan masjid yang telah porak poranda ditengah ancaman kematian yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Mari khotib mengajak kepada jemaah sekalian termasuk diri khotib sendiri untuk senantiasa meningkatkan taqwa kepada Allah dan senantiasa bersyukur atas nikmat-nikmatNya. Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW beserta para keluarganya. Keselamatan semoga juga tercurah atas para sahabat dan umat beliau yang terpimpin, dahulu, sekarang dan yang akan datang. Sudah menjadi suatu kewajiban bagi kita sebagai umat Islam, ketika nama Rasulullah disebut maka kita menyambutnya dengan bersholawat atas diri beliau.

Ada banyak bacaan sholawat yang bisa kita ucapkan sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab hadist yang muktabar, dua diantaranya yang pendek misalnya adalah صلی اللہ علیہ وسلم   (Salallahu ‘alaihi wassalam) atau  ( اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ )  Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa’ala aali Muhammad. 

Jangan biarkan lidah-lidah kita kelu untuk membaca sholawat terhadap Rasulullah, padahal Islam yang kita imani pada hari ini justru ada berkat perjuangan beliau SAW.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Innallaha-wamalaa ikatahu yusholli na’alannabi … Yaa ayyuhalladzi na-aamanu shollu ‘alayhi wasallimu taslima. Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (Al-Qur’an surah al-Ahzab ayat 56). 

Semoga kecintaan kita yang besar kepada baginda Rasul, dapat mendatangkan kecintaan yang besar juga dari sisi Allah sehingga kita berhak untuk mendapatkan syafaa’at beliau kelak di Yaumil Mahsyar. Aamin ya Robbal ‘aalamin.

Tema jum’at kita pada hari ini adalah Sholat dan terorisme jiwa.

Jemaah jum’at yang dirahmati oleh Allah.,

Dari berbagai media massa cetak dan elektronik, kita kerapkali dihadirkan berita tentang maraknya aksi terorisme diberbagai tempat. Aksi-aksi tersebut terkadang sampai membuat kita bergidik dan merasa ngeri jika hal yang demikian terjadi pada diri kita dan keluarga kita. Dengan segala cara dan upaya kita akhirnya mengambil langkah-langkah pencegahan agar kelompok radikal yang diberitakan oleh media ini tidak masuk kewilayah kita. Tetapi sayangnya banyak dari kita yang tidak menyadari bila kita ternyata sudah sering menerima tamu bernama radikalisme tersebut. Kita tidak sadar bahwa kita justru sering bertindak sebagai terorisme terhadap diri kita sendiri. Kita kerap menteror jiwa kita dengan kejahatan.

Indonesia adalah negeri yang sering disebut sebagai negara berpenduduk muslim mayoritas didunia ternyata banyak juga terjadi aksi kemungkaran dalam berbagai bentuknya. Dimana-mana kita membaca dan mendengar berita tentang pembegalan, penodongan, perampokan, pemerkosaan, pemakaian narkoba, penyimpangan seksual, pelacuran hingga pembunuhan dan korupsi dalam jumlah angka yang fantastis.

Kita muslim yang mayoritas tetapi dimana-mana kita melihat banyak wanita yang mengaku muslimah berjalan bebas tanpa mengenakan hijabnya. Mereka tidak Cuma menanggalkan kerudung yang harusnya menutupi rambut-rambut mereka selaku mahkota namun lebih parahnya lagi mereka mengumbar aurat yang seharusnya hanya boleh diperlihatkan dihadapan suami mereka.

Dimana-mana ketika awal bulan Romadhon tiba masjid menjadi penuh, sewaktu pelaksanaan sholat ‘Ied atau sholat hari raya dilapangan jumlah jemaahnya juga membludak. Tetapi lihatlah juga setiap hari kita membaca berita tentang kejahatan yang terus terjadi. Media sosial seperti facebook, Instagram, Twitter, Path dan sebagainya penuh dengan foto-foto insan-insan muslim yang berpose dengan tubuh yang nyaris tak berbusana, berpose mesra dengan pasangan yang belum halal menjamah tubuh mereka.

Masjid penuh penjara juga penuh. Kesolehan dipertontonkan dan kemaksiatan juga dibanggakan.

نعوذ بالله من ذلك

Inilah bentuk teror kita terhadap jiwa kita sendiri. Setiap hari kita sholat 5 waktu tapi setiap hari pula kita sering berlaku munafik. Setiap hari kita mengucap syahadat tapi banyak pula dari kita yang berbuat kemusryikan.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا

وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

(Demi jiwa beserta penciptaannya, maka telah diilhamkan kepada jiwa itu jalan untuk menuju kejahatan dan jalan untuk bertakwa; sungguh beruntung siapa yang mensucikan jiwanya, dan sangat merugi siapa yang mengotori jiwanya).

Continue reading

%d bloggers like this: