Catatan Ibnu Sina 2014

Terbangun hamba dalam dekapan mesra Sang Penjaga Malam

Dari peraduan Bunda sholihah sejagad raya terlayarkan untaian Dzikir pada Sang Penggenggam Jiwa 

Mungkin sayap ini memang sudah terlalu lelah terkembang

Dan langkah ini sudah waktunya untuk berhenti mengayun sejenak

Kupejamkan mata ini lalu berbisik lirih, Allah, aku ikhlas dan aku ridho.

Aku akan bersabar menanti fajar di Darussalam. 

Subuh hari, Ibnu Sina 28 Jan 2014

*Ibnu Sina adalah nama salah satu paviliun di rumah sakit Islam Siti Khadijjah, tempat dimana saya pernah dirawat karena terserang typhus dan dbd

Kala diserang Typhus dan DBD

sakit

 

Sakit mengajarkan kita tentang nikmatnya sehat. Hidup mengajarkan rasa syukur atas waktu yang tersisa untuk banyak beribadah pada Allah.

Jika kita masih bisa mendengar, bersyukurlah. Jika kita masih bisa melihat, bersyukurlah. Jika kita masih bisa bernafas maka syukurilah. Kelak satu demi satu nikmat itu akan dicabut dan tinggallah kita seonggok jasad beku yang tiada arti. Fabiayyi aalaa irobbikuma tukadzziban.

Selama 38 tahun hidup diatas dunia ini, jujur baru beberapa hari yang lalu itu saya mengalami panas tinggi yang begitu kuatnya mencengkram tubuh. Benar-benar rasa terbakar mulai dari muka sampai menyelimuti seluruh badan ini. Subhanallah. Itu terjadi selama 3 hari 2 malam. Setiap kali saya meminum obat penurun panas (mulai dari yang herbal sampai yang kimia), bukan malah turun tapi menjadi-jadi panasnya. Alhasil akhirnya benar-benar drop keadaan tubuh. Innalillahi, ternyata begitu di periksa darah, saya dinyatakan positip terserang typhus dan dbd. Obat oral masih kalah kuat berperang tanding dengan kedua penyakit itu sehingga dokter mengambil langkah menggunakan parasetamol dalam bentuk cairan infus (Farmadol) yang langsung masuk kedalam darah. Alhamdulillah, hanya perlu waktu sekitar kurang dari 1 jam, panas tubuh yang selama 3 harian berkutat di angka 38 dan 39 turun ke angka 36 sampai hari ini. Ya Allah, terimakasih atas rahmat-Mu.

Saat ini, infus sudah dibuka dan saya sudah kembali berada di rumah. Tetap butuh waktu untuk proses pemulihannya, belum sepenuhnya stabil saat berdiri.

sakit2

Terimakasih pada sahabat, handai taulan, keluarga, tetangga, para siswa dan semuanyalah yang tak mungkin bisa saya mentioned satu persatu namanya atas doa dan perhatian yang telah di berikan pada saya di waktu sakit kemarin. Tak mungkin saya dapat membalasnya, namun saya berdoa kepada Allah agar memberikan kebaikan dunia dan akhirat sebagai gantinya. Aamiin.

Catatan Typhus dan DBD, 27 Jan-29 Jan 2014

Hukum perempuan keluar rumah tanpa mahromnya

Saya pernah juga ditanya tentang hukum wanita bepergian tanpa mahromnya untuk suatu urusan. Ada yang berkata tidak boleh, namun ada yang berkata boleh. Si penanya ingin kepastian berdasar dalil.; Jawab saya, secara dalil, wanita diperbolehkan untuk keluar rumah meski tanpa didampingi oleh mahromnya selama itu untuk urusan yang memang bisa di benarkan secara syariat dan bukan untuk maksiat.

Dalilnya: 

Musnad Ahmad 23155: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair Telah menceritakan kepada kami Hisyam dari ayahnya dari Aisyah berkata; “Pada suatu ketika Saudah keluar pada malam hari untuk hajatnya sesudah diwajibkannya hijab atas para wanita.” Aisyah berkata; “Saudah adalah seorang wanita yang tinggi besar dan kebetulan Umar melihatnya. Kemudian dia memanggilnya; Wahai Saudah! Sungguh saya bisa mengenalimu, jika kamu keluar maka lihatlah bagaimana kamu keluar atau bagaimana yang kamu perbuat?” Akhirnya Saudah berbalik pulang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam yang ketika itu beliau sedang makan malam. Lalu Saudah memberitahukan kepada nabi perihal ucapan Umar kepadanya sedang sepotong roti masih tetap berada di tangannya. Lalu beliau memperoleh wahyu yang kemudian selesai, sementara sepotong daging masih terdapat di tangan beliau. Kemudian beliau bersabda: “Telah diperbolehkan bagi kalian untuk keluar dalam rangka memenuhi hajat kalian.”

Shahih Bukhari 4421: Telah menceritakan kepadaku Zakaria bin Yahya Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Hisyam dari Bapaknya dari Aisyah radliallahu ‘anha dia berkata; “Pada suatu ketika Saudah keluar untuk hajatnya sesudah diwajibkannya hijab atas para wanita.” Ia berkata; “Saudah adalah seorang wanita yang tinggi besar sehingga mudah sekali orang mengenalnya.” Kemudian Umar melihatnya, dia pun memanggilnya; Wahai Saudah! Sungguh saya bisa mengenalimu, jika kamu keluar maka lihatlah bagaimana kamu keluar.” Akhirnya Saudah berbalik pulang kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam yang ketika itu beliau sedang makan malam di rumahku, ditangan beliau ada sepotong daging. Saudah pun masuk seraya berkata; Ya Rasulullah, Aku keluar untuk keperluanku, lalu Umar berkata begini dan begitu kepadaku. Aisyah berkata; Lalu Allah mewahyukan kepada beliau dan ketika wahyu telah tersampaikan padanya sepotong daging tersebut masih terdapat di tangan beliau tanpa beliau letakkan. Kemudian beliau bersabda: “Telah diperbolehkan bagi kalian untuk keluar dalam rangka memenuhi hajat kalian.”

Shahih Muslim 1021: Dan telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Yunus bahwa Ibnu Syihab mengabarkan kepadanya, dia berkata; telah menceritakan kepadaku ‘Urwah biun Zubair, bahwa ‘Aisyah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata; “Dahulu para wanita mukminat menghadiri shalat fajar (subuh) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengerudungi kepala dengan kain, kemudian mereka kembali ke rumah masing-masing, mereka tidak dikenal karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendirikan shalat subuh ketika keadaan masih pagi buta.”

semoga bermanfaat.,
Palembang, 22 Jan 2014

http://armansyah.net/

Antara HTI, JT dan Salafi

Saya pernah ditanya tentang HTI, Jemaah Tabligh dan juga Salafi. Saya katakan bahwa semuanya bagus. Tapi saya pribadi tidak memiliki kecenderungan pada salah satu darinya. Masing-masing pemahaman punya cara pandang yang berbeda terhadap suatu perkara. Saling hormati sajalah. Jika untuk dijadikan bahan kajian dan proses pembelajaran, ya tidak salah. Terpenting adalah sikap kritis, ilmiah dan santun dalam menyikapinya. Ada diantara mereka yang memang berlebihan dalam berpaham. 

Lalu saya ditanya lebih jauh, apa yang berbeda dari cara pandang saya dari ketiganya? ya jika HTI, misalnya saja cara saya memandang khilafah (ini pernah saya bahas beberapa waktu lalu). Jika JT ya tentang metode dakwahnya yang umumnya door to door seperti evangelist. Jika Salafi, ya misalnya tentang hisab. 

Lihat kembali arsip tulisan lawas saya tentang hal-hal ini pada website pribadi saya di:

http://armansyah.net/2010/07/hisabitumutlak/

http://armansyah.net/2013/10/sikap-saya-tentang-khilafah-dan-penerapan-syariat-islam/

#copasdarikonsultasi_sahabat_pd_saya

Di arsipkan dari status FB saya 22 Jan 2014, silahkan membaca komentar yang masuk pada link: 

https://www.facebook.com/armansyah/posts/10152114020963444?stream_ref=10

Status hukum tidak berdasar like or dislike

Status hukum suatu perkara tidak bisa didasarkan pada like or dislikenya kita atas perkara itu sendiri. Jika Allah sudah menghukumi itu halal maka sebenci apapun kita pada perkara itu atau setidak sukaan kita padanya tidak boleh merubah status hukumnya itu sendiri. Kita tidak suka poligami, silahkan tapi jangan mengharamkan. Kita tidak suka perang atau tidak menyukai qishash silahkan tapi jangan mengharamkan. Kita tidak suka hisab, silahkan tapi jangan mengharamkan. Dan seterusnya. Harus bisa dibedakan antara suka dan tidak suka dengan halal serta haram. Status hukum sebuah perbuatan tidak berdasarkan kita menyukainya atau menolaknya, namun berdasar putusan Allah. Contohnya juga Nabi, beliau tidak suka makan bawang dan daging biawak namun beliau tidak mengharamkannya untuk dimakan umatnya. Bawang dan biawak tetap halal hukumnya meskipun Rasul tidak menyukainya.

Jaman sekarang ini, segala hal kadang disikapi berlebihan. Kita tidak suka pada sesuatu lalu keluar fatwa haram dari lisan kita. Ada perempuan tidak bercadar, haram hukumnya. Ada laki-laki tidak isbal, haram hukumnya. Ada orang yang berhisab dan tidak berukyat, haram hukumnya. Innalillahi wa-inna ilayhi rooji’un.

Arsip status FB, 22 Jan 2014

Syetan berbanding lurus dengan tingkat iman

Dulu almarhum guru saya pernah bilang, bahwa setiap kenaikan tingkat iman seseorang akan juga membuat pergantian jenis syetan yang akan menjadi penggodanya. Jika tadinya yang goda cuma syetan berpangkat tamtama, maka bila derajat iman kita naik dan tak mampu lagi dihadapi oleh kelasnya si tamtama, digantilah oleh syetan dari kelas Bintara. Terus naik keatas disesuaikan dengan level iman kita tadi. Gagal level bintara, diganti dengan bintara tinggi, perwira utama, perwira menengah terus puncaknya adalah syetan dari level jendral. Pastinya, iman itu akan mengalami goncangan demi goncangan untuk membersihkan dan meneguhkan tauhid kita. Gagal cara ini, ditempuhlah cara yang lain oleh syetannya. Itulah sunnatullah yang pasti terjadi sebagai ketetapan dari Allah yang maha kuasa.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (al-Qur’an surah al-Ankabut ayat 2)

Jadi saat kita berhasil, tidak ada salahnya kita berucap: alhamdulillahilladzi hadana lihadza, wama kunna linahtadiya lauwla an hadanallah | Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.

Status FB, 20 Jan 2014.

Pentingnya fokus dakwah pada remaja

Memberi tausiyah pada remaja, beda dengan memberi tausiyah dihadapan para santri dan orang-orang tua yang ada di masjid. Para santri dan orang tua, ilmu dan ketakwaan mereka sangat boleh jadi lebih tinggi dari kita yang memberi tausiyah. Mereka jelas orang yang cenderung pada kebaikan, lah, mereka sudah mau datang ke masjid. Tapi tausiyah pada remaja. Jika tak tepat metodenya, jika tak luas wawasannya dan bahasanya pun terlalu fiqh, alamat ditinggalkan dan tak ditoleh mereka. Padahal merekalah sasaran dakwah itu harusnya di prioritaskan dijaman sekarang. Mereka generasi muda Islam yang akan memainkan peranannya di dunia ini kedepan. Mau jadi apa Islam di Indonesia ini, kelak bola itu ada ditangan mereka. Mereka masih labil, mereka jika tidak benar penggarapannya, akan terjebak pada seks bebas, rokok, narkoba, judi dan sebagainya.

%d bloggers like this: