Khotibun naas bi lughoti qaumihim

Menjadi makmum disalah satu masjid di Palembang, ketika mulai masuk khotbah ke-2 sampai baca doa usai sholatnya, semua menggunakan bahasa Arab. Saya serasa sedang berada di timur tengah. Padahal, jemaah yang menjadi makmum terdiri dari berbagai profesi dan latar belakang pendidikan. Belum tentu semua mengerti apa yang disampaikan dan apa yang dibaca. Padahal sudah jelas kaidahnya: Khotibun naas bi lughoti qaumihim, berbicaralah kepada manusia dengan bahasa kaumnya. Tujuannya agar orang yang diajak bicara itu paham dan mengertos, bukan sekedar mengangguk-angguk seperti orang sedang mabuk atau mengucap amin tapi tak tahu apa yang ia amini.

Saya jadi ingat ketika dulu masih sering bolak-balik Palembang-Yogya, beberapa kali ikut jemaahan subuh dan jum’at disana, khotib dan ustadznya total menggunakan bahasa Jawa. Lah, saya yang sama sekali ora ngertos boso jowo ya bingung, nih khotib sedang ngomong apaan ya? Akhirnya biar saya gak terlalu kelihatan “bodohnya” sama makmum disebelah, saya cuma goyang tubuh kanan-kiri, dalam hati dzikir sendiri, lah iya wong saya tak ngerti apapun yang dibicarain, masak saya harus manggut-manggut geleng-geleng sambil sesekali senyum? Yah, ini sekedar cerita saja dari masa lalu.

Wama Arsalna min Rosulin illa bilisani qowmihi, liyubayyina lahum | Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (Surah Ibrahim ayat 4)

Status FB, Jum’at 28/02/2014

MUI, Tempo dan sikap kita

Saya tidak ingin berpolemik dengan pemberitaan TEMPO. Jujur saya tidak percaya sepenuhnya dengan majalah ini. Tetap jaga kehormatan para ulama kita di MUI, jangan terpancing dengan berbagai pemberitaan yang belum jelas apalagi itu menyudutkan orang-orang yang insyaAllah sholeh. Benar dan salah, mari serahkan pada proses pengadilan. Mudah-mudahan Allah membukakan semua tabir yang sekarang masih menutupi. Tidak usah ikut menyebarkan berita yang belum pasti kebenarannya bagi kita. | Musuh sedang mencari-cari jalan untuk merusak hubungan umat dan ulamanya. | Ingat, ini (2014) adalah tahun politik!

cover-tempo-MUI

Jika ragu dengan kehalalan suatu makanan yang akan kita makan, cukup ikuti apa yang terdapat dalam riwayat berikut:

Sunan Abu Daud 3275: Dari Aisyah radliallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebutkan nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: BISMILLAAHI AWWALAHU WA AAKHIRAHU (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya) ‘.”

Musnad Ahmad 1244: Dari Ibnu A’bud berkata; Ali bin Abu Thalib berkata; “Wahai Ibnu A’bud! Apakah kamu tahu hak makanan?” dia bertanya; “Apakah haknya Wahai Ibnu Abu Thalib?” dia menjawab; “Kamu membaca: BISMILLAHI ALLAHUMMA BARIK LANA FIMA RAZAQTANA (Dengan nama Allah, ya Allah berilah keberkahan pada kami, kepada apa yang telah engkau karuniakan kepada kami).” Ali Radhiallah ‘anhu bertanya; “Apakah kamu tahu bagaimana cara syukur jika kamu telah selesai?” Dia berkata; “Bagaimana cara syukurnya?” Ali Radhiallah ‘anhu menjawab; “Kamu membaca: ALHAMDULILLAH ALLADZI ATH’AMANA WA SAQANA (Segala puji bagi Allah, yang telah memberi makan kami dan memberi minum kami).” 

Silahkan dishare, di repost jika dirasa bermanfaat. Tak perlu izin.

Status FB, 27 Feb 2014.

Patuhilah peraturan lalu lintas

Tadi pagi melihat seorang pengendara motor, ibu-ibu (dan sepertinya membawa anak kecil) ditabrak oleh mobil di persimpangan lampu merah charitas Palembang. Mudah-mudahan tidak terjadi hal yang parah pada mereka berdua. Jarak saya berseberangan dan jauh dari lokasi, tapi tadi Alhamdulillah saya lihat ada beberapa anggota polisi dan satu TNI yang membantu ibu tersebut. | Semoga kejadian ini dapat membuat kita semua selaku pengendara kendaraan, entah mobil ataukah motor, dapat lebih berhati-hati dan mematuhi peraturan lalu lintas secara benar. Semua demi keselamatan kita bersama. 

Kita mengejar waktu tapi kita kadang lupa bahwa waktu itu tak sebanding dengan nyawa dibadan kita dan dibadan orang lain. Bagi yang takut terlambat kekantor, ya paling anda kena marah bos anda, ujung-ujungnya dapat SP, kalaupun anda diberhentikan kerja, ya masih ada kesempatan untuk mencari pekerjaan yang lain. Tapi jika sampai anda kecelakaan… jika anda mati, anda tak punya kesempatan untuk hidup lagi. Jika anda sampai menabrak orang lain dan ia mati, anda pasti juga rugi lebih banyak lagi, anda harus bertanggung jawab secara hukum dan moral. Penjara, boleh jadi sudah pasti menanti, itu artinya, pekerjaan tetap akan diberhentikan, malah lama mendekam dalam jeruji. 

Penting lagi… dalam berlalu lintas, selalulah ingat Allah dan ingat keluarga. Ketika hendak melanggar peraturan lalu lintas, ketika hendak ngebut, coba sejenak bayangkan wajah anak-anak kita, bayangkan wajah istri kita, bayangkan wajah ibu kita. Mudah-mudahan pesan ini memberi inspirasi untuk kita semua agar lebih menjaga diri di jalan raya.

Status FB, 26/02/2014.

%d bloggers like this: