Kritik Hadis Israk dan Mikraj Bag. 1

Kritik Hadis Israk dan Mikraj

Bagian 1
Oleh : Armansyah
Penulis Buku “Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih”,
Jejak Nabi “Palsu” dan Ramalan Imam Mahdi

>> Boleh Copy Paste u/. non komersil dengan tetap mencantumkan sumber <<

Syaikh Nashiruddin Al Al-Albani “Israk Mikraj : Kumpulan Hadits dan Takhrijnya” Terj. M. Romlie Shofwan el Farinjani, Penerbit Pustaka Azzam, 2004 telah menuliskan sejumlah tujuh belas orang perawi hadis mengenai kejadian tersebut dari berbagai sumbernya. Sebut saja mulai dari Abu Hurairah, Anas bin Malik, Ubay bin Ka’ab, Buraidah bin Hushaib Al-aslami sampai dengan riwayat Abi Ayyub Al-anshari dan Abu Dzar, lengkap dengan berbagai versi mereka masing-masing. Letak permasalahan bagi kita adalah tidak semua hadis-hadis ini ternyata memiliki isi cerita yang persis sama antara satu dengan yang lain, ada beberapa yang memiliki kemiripan dari jalan ceritanya namun tetap saja mempunyai banyak perbedaan dan bahkan tidak jarang saling memiliki kontroversi atau pertentangan.

Saya memilih untuk mengambil dan mengkritisi kumpulan hadis Israk dan Mikraj karya Syaikh Nashiruddin Al-Albani ini tidak lain karena beliau termasuk orang yang fakih dibidang hadis dan merupakan tokoh ternama dalam dunia Islam yang karya-karyanya sering menjadi rujukan banyak ulama maupun cendikiawan muslim diseluruh dunia dari berbagai lapisan dan madzhab.

Dengan demikian kiranya cukup jelas dan beralasan bagi rekan-rekan semua kenapa saya memilih karya beliau dalam studi kita kali ini.Saya pikir, saya cukup obyektif melakukannya.

Saya pribadi tidak meragukan sama sekali apabila Rasulullah benar-benar pernah diperjalankan pada suatu malam dari suatu tempat dimasjid Al-Haram menuju kemasjid Al-Aqsha, adapun kemudian yang menarik untuk dibahas salah satunya pada bab ini sekaligus membuatnya berbeda dengan karya-karya lain yang pernah ada tidak lain dari pendalaman yang dilakukan terhadap berbagai cerita Israk dan Mikraj yang bisa dijumpai didalam hadis-hadis shahih. Bagi penulis pribadi, keberadaan dan peranan hadis didalam Islam bukan menjadi sesuatu hal yang perlu diperselisihkan, hadis ataupun lebih tepatnya lagi as-Sunnah, lebih banyak merupakan contoh penerapan Al-Qur’an yang dilakukan oleh Nabi sepanjang hidupnya. Tetapi, terlalu banyak variasi dalam teks-teks sejumlah hadis yang disebut-sebut shahih dan mutawatir bahkan kadangkala isinya pun saling berseberangan membuat penulis memilih untuk bersikap lebih berhati-hati dalam memahami dan menerimanya sebagai sebuah kebenaran yang mutlak. Kalaupun sanad hadisnya shahih berdasar kriteria ilmu-ilmu hadis, maka penulis akan mengembalikan lagi pada metode penerimaan hadis dari istri Nabi yaitu ‘Aisyah binti Abu Bakar Radhiallahu ‘anha saat disampaikan kepadanya hadis Umar bin Khatab sewaktu sang Khalifah ditikam dari belakang dan mendekati kematiannya, saat itu Hafshah putrinya yang juga salah seorang dari istri Nabi menangisi kejadian tersebut, diikuti pula oleh seorang sahabat bernama Shuhaib yang merawat luka-lukanya, melihat keduanya menangisi dirinya, Umar membentak mereka seraya mengemukakan suatu hadis Nabi bahwa orang yang ditangisi kematiannya akan memperoleh siksa Allah. Tatkala berita ini disampaikan kepada ‘Aisyah, beliau malah menolak hadis yang diriwayatkan oleh Umar tersebut dengan merujuk pada surah Al-an’am ayat 164 bahwa seseorang tidak akan bisa menanggung dosa orang lain. Penolakan istri Nabi SAW tersebut disampaikan dengan menyifati Umar sebagai orang yang baik dan benar tetapi dia telah salah dengar. Penulis rasa metode yang diajarkan oleh Ummul Mu’minin ‘Aisyah binti Abu Bakar Radhiallahu ‘anha dapat kita sepakati tanpa perselisihan apapun.

Bila pada masa-masa awwalun saja sudah terdapat perbedaan dan kehati-hatian dalam penerimaan sebuah hadis, apalagi kiranya dijaman kita sekarang ini. Penulis sangat berharap kepada para pembaca untuk dapat membedakan antara menolak ataupun mempertanyakan validasi satu atau sejumlah hadis dengan menolak ucapan Rasul dan bahkan menolak validasi dari Rasul itu sendiri. Hal ini penting untuk dikemukakan dari awal sehingga tidak terjadi salah komunikasi ataupun menjadikan penyimpangan persepsi dari tulisan yang ada dibuku ini.

Adanya kisah penolakan orang-orang kafir Mekkah kepada Nabi manakala beliau menyampaikan peristiwa Israk dan Mikrajnya menjadi tidak tepat dijadikan persamaan dengan orang yang menolak pemberitaan hadis-hadis mengenainya. Bagaimana tidak, saat orang-orang itu melakukan penolakan, mereka benar-benar berhadapan dengan sosok Nabi yang menjadi orang pertama dan pelaku dari peristiwa tersebut, yang implikasinya bagi umat Islam, semua ucapan dari beliau SAW tidak mungkin dusta dan keliru. Sedang hadis yang sampai ditangan kita pada hari ini, adalah hasil penceritaan ulang dari masa kemasa yang tercatat dalam banyak perbedaan narasi sebagaimana yang akan kita buktikan pada bagian ketiga dari buku ini. Apakah benar kisah seputar Israk dan Mikraj itu berbeda-beda sebagaimana yang ada disekian banyak hadis itu ? Benarkah semua cerita yang sampai ketangan kita hari ini tentang hal tersebut benar-benar sebagaimana dahulu Rasul menceritakannya ? kalau memang benar, kenapa bisa berbeda ? atau kenapa bisa saling berkontradiksi ? apakah lalu Rasul berdusta ? apakah Rasul plin-plan dalam bercerita ?

Satu-satunya asumsi yang bisa ditarik adalah, Rasul tidak mungkin berdusta, cerita-cerita itulah yang sudah terintervensikan oleh tangan kedua dan ketiga atau pihak lainnya yang kadang masih melekatkan nama besar sejumlah sahabat atau perawi yang ternama untuk menguatkan penambahan maupun pengurangannya. Apa yang terjadi dalam sejarah ajaran Nabi ‘Isa Al-Masih seharusnya ditadabburi oleh umat Islam dengan cermat, bagaimana sebuah ajaran langit yang lurus dan bersih akhirnya bisa berbalik menjadi ajaran-ajaran yang seolah saling bertabrakan dengan nilai-nilai kebenaran dan penuh dengan ritual paganisme atau pemberhalaan.

Kenapa umat Islam tidak mau belajar dari sejarah kerancuan-kerancuan yang ada dalam kitab-kitab Perjanjian Baru untuk hadis-hadis Nabi Muhammad SAW ? kenapa kita seolah merasa segan melancarkan kritik teks terhadap hadis apabila sudah disebutkan perawinya bernama Imam Bukhari atau perawinya bernama Imam Muslim, atau juga memiliki sanad dari Abu Hurairah, dari Ibnu Mas’ud, dari Ibnu Abbas, dari ‘Ibnu Umar dan lain sebagainya ?  Bukankah kita selaku umat Islam sudah terbiasa dengan tegas menyatakan kritik terhadap otentisitas kitab Bible yang diyakini oleh umat Kristiani meskipun dikatakan perawinya dari Paulus, dari Petrus dan dari Yohannes ?

Kita sudah sering tidak jujur pada diri kita sendiri, cerita-cerita hadis seputar Israk dan Miraj hanyalah satu dari sekian banyak hadis-hadis yang sebenarnya masih sangat terbuka untuk dikritisi redaksinya, sebab kita tidak pula mungkin menerima semua cerita yang berbeda-beda itu dengan alasan iman, kita butuh hujjah yang kuat untuk bisa memilih satu diantaranya (dan memang hanya bisa satu, tidak lebih, sebab tidak mungkin semuanya benar -kecuali bila semua riwayat itu tidak ada perbedaan).

Penolakan atas keabsahan hadis-hadis tersebut tidak dapat langsung dihakimi sebagai kaum yang anti hadis atau ingkar sunnah, sebab membantah atau menolak sejumlah riwayat hadis tidak bisa dengan serta merta diasumsikan bahwa seseorang telah menolak perkataan Muhammad Rasulullah. Kita sekarang ini sebagaimana yang telah disinggung, mendapatkan hadis-hadis mengenai Israk dan Mikraj dalam puluhan versi narasi yang terkadang setiap versi yang berbeda itu diriwayatkan oleh orang yang sama, padahal tidak mungkin satu cerita punya begitu banyak perbedaan. Berbeda kasusnya dengan orang-orang dimasa lalu yang mendapatkan hadis itu langsung dari mulut Nabi SAW sendiri yang notabene pasti hanya ada satu versi dan nilai validitasnyapun pasti.

Dari Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abu Thalib, cucu Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam dan kesayangan beliau radhiallohu ‘anhuma, dia berkata: “Aku telah hafal (sabda) dari Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam: “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i) -Tirmidzi berkata: Ini adalah Hadis Hasan Shahih

Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmidzi dan lainnya dengan status Hadis adalah hasan)

Dan jangan kamu mengikuti apa yang kamu tidak tahu mengenainya. Sungguh pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Israa (17) : 36)

Bersambung …


Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH

About these ads

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: