Muhasabah Israk Mikraj 1436H

Sebagai manusia, kita sering diterpa oleh kegalauan. Kita merasa sedih, kita berduka atas terjadinya sesuatu yang melukai perasaan kita, sesuatu yang tidak kita kehendaki terjadi namun ia tetap terjadi. Semuanya wajar. Sewajar dari kehendak Allah yang tidak selalu memberikan setiap keinginan yang kita maui.

Terhitung sepuluh tahun sejak beliau diangkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad juga mendapatkan ujian kegalauan yang begitu bersangatan. Sebelum itu, beliau yang sejak kecil dikenal sebagai Al-Amin atau orang yang dipercayai telah dihujat oleh kaumnya karena proklamasi kenabian beliau. Orang-orang yang mengikuti dakwahnya kerap mengalami siksaan psikis maupun batin. Beliau sendiri beberapa kali harus menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan dari masyarakatnya yang menolak risalah langit yang beliau sampaikan. Setelah 3 tahun mengalami pemboikotan sengit dari kaum kafir Quraisy Mekkah kegalauan itu berada dititik puncaknya pada tahun ke-10 kenabian yang dikenal dalam sejarah sebagai ‘Aamul Huzni (tahun duka cita).

Ditahun ini, paman beliau yang selama ini senantiasa memberikan perlindungan dan kasih sayangnya, Abu Thalib, wafat. Tiga bulan selanjutnya istri terkasih beliau, Khodijah binti Khuwailid juga wafat. Dua orang yang punya arti besar dalam jiwa sang Nabi secara berturut-turut diambil dari sisi beliau. Dua orang yang bukan cuma sebatas keluarga, namun juga bertindak selaku penyokong semangat, materi serta nilai kearifan dipanggil kembali kepada-Nya justru diwaktu beliau SAW sedang begitu membutuhkannya menghadapi pemboikotan serta aksi anarkis kafir Quraisy.

Tapi begitulah cara Allah hendak memperkuat jiwa hamba-Nya yang Dia kasihi. Dia tidak ingin kecintaan sang hamba terhadap-Nya mendua oleh cinta-cinta yang lain. Hal yang serupa dulu juga pernah mewujud pada sang Khalilullah, Ibrahim dengan ujian pengorbanan putra tunggalnya waktu itu, Isma’il sebagai bukti kehambaan beliau dihadapan Allah. Bukti bila Tauhid Ibrahim bukan Tauhid yang mendua.

Pada suatu malam di pelataran Masjidil Harom, Allah yang Maha Suci memberikan hiburan-Nya dengan menugaskan sang Ruhul Qudus, Jibril ‘alayhissalam untuk menjemput sang kekasih naik keharibaan-Nya, berjalan menembus bintang gemintang berikut seluruh sistem galaksi-Nya hingga sampai disatu tempat yang bernama Sidrotul Muntaha. Tempat dimana sang Nabi mendapat anugerah kesempatan untuk melihat wujud asli sang Jibril yang penuh pesona hingga perjalanan beliau tiba dititik pemberhentian lautan cahaya. Sebuah titik akhir yang menjadi batas bagi sang Nabi untuk menerima sarana Tarbiyatul Qulub.

ilustrasibuku

Assalaamu’alaika ayyuhan-nabiyyu warohmatullaahi wa barokaatuh, as-salaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin. | Segala keselamatan tercurahkan untuk anda wahay Nabi dengan seluruh rohmat dan barokah Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang sholih.

Mari kita terus belajar untuk menjadikan As-sholatu mi’rojul mukminin, sholat selaku mi’rajnya kaum mukmin agar hati kita senantiasa terjaga dengan kesuciannya. Agar perilaku kita dapat lebih terkontrol dalam bertindak dan berpikir sebab sifat ihsan telah terpatri dijiwa. | Anta’budallah ka annaka tarooh, fa’illam takun tarooh, fa’innahu yarook | engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka sesungguhnya Dia pasti melihat engkau.

Selamat memperingati Isrok wal Mikraj 1436H.
Sholawat dan salam teriring bagi baginda Rasul Muhammad SAW beserta seluruh keluarga beliau dan sahabat serta umat beliau, dahulu, sekarang dan yang akan datang.

Palembang Darussalam, 15 Mei 2015
26 Rajab 1436H

Armansyah, M.Pd

Ilustrasi gambar diambil dari buku ke-5 saya yang terbit di Malaysia tahun 2011.
ISBN-13: 978-967-5137-91-5
Oleh Penerbit : PTS Islamika

Advertisements

My All Books

Alhamdulillah telah terbit buku ke-5 di Malaysia

 

 

 

 Israk & Mikraj: Tinjauan Saintifik di Sebalik Kontroversi

Harga: RM 16.00 / RM 18.00
ISBN-13: 978-967-5137-91-5
Tarikh Terbit: 9 May 2011
Jumlah Muka Surat : 224

Kategori: Islam, Akidah, Al-Hadis, Al-Quran, Politik & Sejarah
Penerbit: PTS Islamika Sdn Bhd

Dalam sejarah kenabian Muhammad, tidak ada mukjizat selain dari pembelahan bulan yang mendatangkan kontroversi sepanjang zaman kecuali peristiwa Israk dan Mikraj. Ada yang menganggap kisah tersebut hanyalah khayalan dan mimpi Nabi Muhammad.

Ada yang menganggap itu hanyalah cerita rekaan para penulis hadis. Persoalan ini menjadi begitu kompleks sehingga golongan yang mengingkarinya berhujah dengan fakta-fakta sumber hadis yang sahih. Manakala golongan pembela pula sebahagiannya memendamkan hujah itu dan membiarkan iman memutuskan kebenarannya. Buku Israk & Mikraj: Tinjauan Saintifik di Sebalik Kontroversi menjawab dakwaan-dakwaan yang berkaitan dengan peristiwa Israk dan Mikraj Nabi Muhammad menggunakan hujah al-Quran, hadis, fakta saintifik dan logik yang menggunakan analogi yang mudah diterima malah sering dialami di sekeliling kita.

Sumber : http://pts.com.my/index.php/buku/israk-mikraj-tinjauan-saintifik-di-sebalik-kontroversi/

PKS: 5 Kekeliruan Berpikir Bagi Penolak RUU Pornografi

PKS: 5 Kekeliruan Berpikir Bagi Penolak RUU Pornografi
Sumber : http://www.pk-sejahtera.org/v2/main.php?op=isi&id=5932

Jakarta – Meski RUU Pornografi akan segera disahkan, pro kontra terhadap RUU ini tak kunjung usai. Jika kubu penolak menilai RUU pornografi hanya akan mengekang kebebasan berekspresi dan mengancam integrasi, lain halnya bagi kubu penolak. PKS bahkan menuding para penolak telah sesat pikir.

“Yang menolak RUU Pornografi telah melakukan lima kekeliruan berpikir. Pertama, melupakan nilai-nilai agama yang diagungkan oleh pancasila yang berarti mengagungkan aturan luhur,” kata anggota FPKS Al Muzammil Yusuf pada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis ( 18/9/2008).

Menurut anggota Komisi I DPR ini, selain melupakan nilai agama, para penolak RUU Pornografi juga dinilai tidak siap berdemokrasi. Alasannya, proses panjang dan dialektika antar fraksi yang sudah berjalan lama tidak dihargai semestinya.

“Mereka menolak membuktikan, mereka belum siap berdemokrasi, karena mereka tak menghormati proses panjang wakil rakyat mendiskusikan RUU ini,” terang Muzammil.

Selain 2 alasan di atas, Muzammil menilai penolakan kelompok tertentu pada RUU Pornografi membuktikan mereka tidak siap menjadi bagian dari keluarga besar Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Mereka melupakan amanat UUD 45 pasal 31 ayat 3 bahwa pendidikan nasional bertujuan meningkatkan iman taqwa dan ahlaq mulia. Selain itu, mereka meremehkan upaya penyelamatan generasi muda dan anak,” kata Muzammil.

Muzammil juga menilai bahwa penolakan ini lebih menuruti ide kebebasan Barat. “Para penolak RUU lebih terinspirasi dan mewakili ide kebebasan Barat yang nyata-nyata gagal melindungi rakyatnya dari bahaya pornografi,”pungkasnya.

—- Mungkin anda tertarik juga untuk membaca artikel saya mengenai Hijab :
Silahkan klik link berikut : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/06/24/jilbab/

Terimakasih []

ARMANSYAH

Kritik Hadis Israk dan Mikraj Bag. 3

Oleh : Armansyah
Penulis Buku “Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih”,
Jejak Nabi “Palsu” dan Ramalan Imam Mahdi

>> Boleh Copy Paste u/. non komersil dengan tetap mencantumkan sumber <<

Inti sari hadis

Dari hadis-hadis yang sudah kita tuliskan sebelumnya, maka mari kita simpulkan dalam poin-poin terpentingnya.

Dari hadis Abu Hurairah dari Al-Musayyab, yaitu:

1. Tidak djelaskan posisi dan keberadaan Nabi saat itu (apakah sedang tidur atau sedang terjaga atau apakah beliau SAW sedang berada dimasjid Al-Haram, dirumah atau ditempat tertentu, hadis langsung bercerita mengenai pertemuan Nabi Muhammad dengan Nabi Musa)

2. Nabi Muhammad SAW diceritakan bertemu dengan Nabi Ibrahim as dan oleh beliau, Nabi SAW diberi pilihan antara susu dan arak (Khamr), Nabi memilih susu

3. Dihadis ini sama sekali tidak disinggung mengenai keadaan arwah para Nabi yang lain termasuk arwah Nabi Ibrahim, apakah sedang shalat atau tidak, tetapi yang jelas seperti sudah dijelaskan pada poin 2 diatas, Nabi Ibrahim diceritakan langsung memberi Nabi Muhammad pilihan minuman

Dari hadis Abu Hurairah dari Abu Salamah, yaitu :

1. Digambarkan arwah para Nabi sedang Shalat di Baitul Maqdis (Yerusalem)

2. Nabi Muhammad lalu jadi imam shalat dari para arwah Nabi-nabi setelah waktu Shalat masuk
3. Setelah itu Nabi dikenalkan oleh seseorang (tidak jelas siapa orang tersebut) kepada malaikat penjaga neraka yang ada disana (di Baitul Maqdis, Yerusalem diantara jemaah arwah para Nabi).

Dari hadis Anas bin Malik melalui jalur Az-Zuhri dari Abu Dzar adalah, yaitu :

1. Saat itu Nabi Muhammad SAW sedang tidur dirumahnya dimekkah

2. Atap rumahnya dibuka

3. Malaikat Jibril turun lalu membedah dada Nabi SAW dan mencucinya dengan air zam-zam

4. Nabi dan malaikat Jibril langsung pergi kelangit sampai lapisan ke-7 dimana disana beliau SAW bertemu dengan arwah Nabi Ibrahim as

5. Peristiwa diatas digambarkan langsung terjadi tanpa terlebih dahulu mampir di baitul maqdis

6. Nabi mendapat perintah shalat 50 kali dari Alalh

7. Nabi langsung mengajukan dispensasi untuk menurunkan jumlah tersebut kepada Allah (tanpa terlebih dahulu bertemu dengan arwah Nabi Musa as)

8. Allah langsung menurunkan beban dari 50 kali menjadi 1/2 nya (jadi 50 dibagi 2 adalah 25 kali shalat )

9. Nabi turun kelangit berikutnya dan baru bertemu arwah Nabi Musa

10. Arwah Musa meminta kepada Nabi Muhammad agar kembali menghadap Allah untuk meminta dispensasi kembali

11. Nabi kembali menghadap Allah dan mendapat dispensasi ulang sebesar 1/2 dari jumlah keringanan sebelumnya ( 25 dibagi 2 adalah 12.5 kali shalat )

12. Nabi turun kelangit berikutnya dan bertemu lagi dengan arwah Nabi Musa

13. Arwah Nabi Musa meminta kepada Nabi Muhammad agar kembali menghadap Allah untuk meminta dispensasi kembali

14. Nabi kembali menghadap Allah dan mendapat dispensasi ulang sehingga jadi 5 kali shalat dalam sehari semalam

Dari hadis Anas bin Malik melalui jalur Qatadah dari Ibnu Sha’sha’ah, yaitu :

1. Saat itu Nabi Muhammad SAW sedang berada di :

1.1. Samping rumah (tidak dijelaskan rumah siapa)

1.2. Samping Ka’bah (redaksional yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal)

1.3. Reruntuhan bangunan (redaksional yang juga diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal)

1.4. Diatas bongkahan batu sambil berbaring (berdasar redaksional riwayat Bukhari dan Ahmad bin Hambal juga)

2. Ada 3 orang malaikat mendatangi Nabi SAW

3. Malaikat Jibril turun lalu membedah dada Nabi SAW dan mencucinya dengan air zam-zam

4. Nabi naik Buraq kebaitul Maqdis

5. Nabi shalat dengan arwah para Nabi dan menjadi imam mereka

6. Nabi naik kelangit

7. Dilangit Nabi berkenalan dengan arwah para Nabi (padahal sebelumnya diceritakan mereka masih ada di Baitul Maqdis)

8. Sampai dilangit ke-6 Nabi bertemu arwah Nabi Musa

9. Saat bertemu dengan beliau, arwah Nabi Musa malah menangis

10. Dilangit Nabi SAW pergi kebaitul maqmur

11. Bertemu dengan arwah Nabi Ibrahim as dan Nabi SAW diberi dua pilihan air minum

12. Yaitu Arak dan susu plus madu

13. Nabi memilih susu

14. Nabi naik lagi ke Sidratul Muntaha

15. Disana ada 4 sungai, 2 sungai didalam surga dan 2 sungai lainnya adalah sungat Eufrat dan Nil

16. Nabi mendapat perintah shalat 50 kali

17. Nabi turun kelangit berikutnya dan bertemu arwah Nabi Musa

18. Arwah Musa meminta kepada Nabi Muhammad agar kembali menghadap Allah untuk meminta dispensasi kembali

19. Allah lalu menurunkan beban dari 50 kali menjadi 40 kali

20. Nabi turun lagi kelangit berikutnya dan bertemu lagi dengan arwah Nabi Musa

21. Arwah Musa meminta kepada Nabi Muhammad agar kembali menghadap Allah untuk meminta dispensasi kembali

22. Nabi kembali menghadap Allah dan mendapat dispensasi ulang sebesar 30 kali

23. Nabi turun lagi kelangit berikutnya dan bertemu lagi dengan arwah Nabi Musa

24. Arwah Musa meminta kepada Nabi Muhammad agar kembali menghadap Allah untuk meminta dispensasi kembali

25. Nabi kembali menghadap Allah dan mendapat dispensasi ulang sebesar 20 kali

26. Terus berulang sampai akhirnya diturunkan menjadi 5 kali shalat

27. Ketika Arwah Musa meminta kepada Nabi Muhammad agar kembali menghadap Allah untuk meminta dispensasi kembali …

28. Ada seseorang memanggil Nabi dan berseru bahwa dispensasi yang diberikan sudah final

Dari hadis Anas bin Malik melalui jalur Hammad bin salamah dari Tsabit Al-banani, yaitu :

1. Nabi Muhammad SAW diberi Buraq lalu kebaitul Maqdis

2. Disana Nabi SAW shalat bersama para arwah nabi yang lain dan jadi imam shalat mereka

3. Malaikat Jibril memberi Nabi dua pilihan air minum, susu dan arak

4. Nabi memilih susu

5. Nabi lalu pergi kelangit

6. Kembali bertemu dengan arwah para Nabi disetiap lapisan langit ( padahal sebelumnya diceritakan mereka masih ada di Baitul Maqdis )

7. Nabi kesidratul Muntaha

8. Allah mewajibkan 50 kali shalat

9. Nabi turun kelangit berikutnya dan bertemu dengan arwah Nabi Musa

10. Arwah Musa meminta kepada Nabi Muhammad agar kembali menghadap Allah untuk meminta dispensasi kembali

11. Nabi kembali menghadap Allah dan mendapat dispensasi, yaitu dikurangi 5 kali dari total jumlah sebelumnya ( jadi 50 – 5 = 45 kali )

12. Kejadian ini terus berulang dan dispensasi dari Allah turun per-5 kali dari jumlah-jumlah sebelumnya ( dari 45 jadi 40, dari 40 jadi 35 dst )

26. Akhirnya diturunkan menjadi 5 kali shalat

Dari hadis Anas bin Malik melalui jalur Syarik bin Abu Namr, yaitu :

1. Nabi Muhammad SAW ada di Ka’bah

2. Datang 3 orang malaikat kepada Nabi

3. Malaikat Jibril membelah dada Nabi dan dicuci dengan air zamzam

4. Nabi SAW naik Buraq menuju kebaitul maqdis

5. Disana Nabi SAW shalat bersama para arwah nabi yang lain dan jadi imam shalat mereka

6. Nabi naik kelangit

7. Kembali bertemu dengan arwah para Nabi disetiap lapisan langit

8. Diberi perintah shalat 50 kali

9. Nabi turun kelangit berikutnya dan bertemu dengan arwah Nabi Musa

10. Arwah Musa meminta kepada Nabi Muhammad agar kembali menghadap Allah untuk meminta dispensasi kembali

11. Nabi kembali menghadap Allah dan mendapat dispensasi, yaitu dikurangi 10 kali dari total jumlah sebelumnya ( jadi 50 – 10 = 40 kali )

12. Kejadian ini terus berulang dan dispensasi dari Allah turun per-10 kali dari jumlah-jumlah sebelumnya ( dari 40 jadi 30, dari 30 jadi 20 dst )

13. Akhirnya diturunkan menjadi 5 kali shalat

14. Nabi lalu turun kedunia

15. Nabi terbangun dan berada di Masjidil Haram

Dari perbandingan antar riwayat Abu Hurairah melalui sanad Abu Salamah dengan riwayat Abu Hurairah melalui sanad Said bin Al-musayyab juga dengan semua riwayat lain menimbulkan kritik sebagai berikut :

1. Mana yang benar : arwah para Nabi sedang shalat atau tidak ? Berdasar riwayat Al-Musayyab mereka tidak melakukan shalat.

2. Jika jawabannya adalah “Ya”, bagaimana dengan kasus Nabi Ibrahim memberi Nabi dua wadah minuman dalam riwayat Abu Hurairah dari Al-Musayyab ?

3. Siapa yang jadi imam manusia : Muhammadkah atau Ibrahim as ?

Bukankah Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia” (QS. Al-Baqarah (2) : 124) ? Padahal semua Nabi adalah manusia juga (lihat QS. Ibrahim (14) : 11 ) maka ketentuan surah Al-Baqarah ayat 124 diatas tentu termasuk jemaah para Nabi tersebut.

4. Apakah Nabi mampir dulu ke Bait Al-Maqdis seperti mayoritas riwayat diatas ataukah tidak seperti riwayat Abu Hurairah melalui jalur Az-Zuhri dari Abu Dzar ?

5. Dimana tepatnya posisi Nabi saat awal pemberangkatan ?

5.1. Disamping rumah (tidak dijelaskan rumah siapa) ?

5.2. Disamping Ka’bah ?

5.3. Direruntuhan bangunan ?

5.4. Diatas bongkahan batu sambil berbaring ?

5.5. Didalam rumah beliau di Mekkah ?

6. Benarkah Allah bersikap plin-plan dengan ketetapan-Nya sendiri dan seorang arwah Nabi Musa terkesan lebih mengetahui akan sesuatu yang belum terjadi daripada Allah dan Nabi Muhammad SAW yang notabene disatu sisi sebagai Al-Khaliq yang Maha mengetahui segala sesuatunya dan disisi lain adalah seorang Nabi yang harusnya lebih tahu kondisi umatnya ketimbang seorang Nabi yang sudah wafat ratusan tahun dari masanya ?

Bukankah Allah berfirman : Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya dan Dia-lah yang Maha cepat hisab-Nya. (QS. AR-Ra’d (13) : 41)

Tidaklah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan. (QS. Al-Baqarah (2) :77)

Disini kita bisa mengambil persamaan contoh kasus dalam hal kebolehan melakukan hubungan suami istri dibulan Ramadhan (lihat QS. Al-Baqarah (2) : 187), secara jelas disebutkan betapa sesungguhnya Allah itu mengetahui akan kelemahan makhluk-Nya:

Allah mengetahui bahwasannya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu … (QS. Al-Baqarah (2) : 187)

7. Berapa tepatnya jumlah pengurangan Shalat dari 50 kali itu ?

7.1. Dari 50 kali langsung menjadi 1/2 nya seperti riwayat Anas bin Malik melalui jalur Az-Zuhri dari Abu Dzar ?

7.2. Dari 50 kali bertahap menjadi 40 kali (berkurang per-10 kali) seperti riwayat Anas bin Malik melalui jalur Qatadah dari Ibnu Sha’sha’ah ?

7.3. Dari 50 kali bertahap menjadi 45 kali (berkurang per-5 kali) seperti riwayat Anas bin Malik melalui jalur Hammad bin salamah dari Tsabit Al-banani ?

8. Bagaimana proses awal pengurangan jumlah Shalat tersebut ?

8.1. Nabi langsung meminta dispensasi tanpa bertemu dulu dengan arwah Nabi Musa ?
8.2. Nabi terlebih dahulu bertemu dengan arwah Nabi Musa baru meminta dispensasi ?

9. Apakah Nabi berjalan menggunakan Buraq ataukah langsung ?

10. Siapa yang memberi Nabi pilihan air minum : Malaikat Jibril ataukah arwah Nabi Ibrahim ?

11. Disebutkan sebelumnya Nabi shalat mengimami para arwah Nabi sebelumnya dibumi (di Baitul Maqdis), lalu ketika Nabi naik kelangit disebutkan bahwa Nabi sudah bertemu dengan mereka disetiap lapisan langit. Bagaimana dan kapan proses mereka naik kelangit dan langsung siap diposisinya masing-masing (setiap lapisan langit) padahal sebelumnya mereka baru saja shalat bersama Nabi sementara Nabi Muhammad sendiri baru saja naik bersama Jibril kelangit tahap demi tahap ? Padahal jarak antar langit cukup jauh dan perjalanan para ruh dari bumi menuju langit memakan waktu yang lama ?

Bukankah Allah berfirman : Naik malaikat-malaikat dan ruh-ruh kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun (QS. Al-Maarij (70) : 4) ?

Perbedaan waktu yang disebut dalam ayat diatas dinyatakan dengan angka satu hari malaikat dan ruh berbanding 50.000 tahun waktu bumi, perbedaan ini tidak ubahnya dengan perbedaan waktu bumi dan waktu elektron, dimana satu detik bumi sama dengan 1.000 juta tahun elektron atau 1 tahun Bima Sakti sama dengan 225 juta tahun waktu sistem solar. Jadi bila malaikat berangkat jam 18:00 dan kembali pada jam 06.00 pagi waktu malaikat, maka menurut perhitungan waktu dibumi sehari malaikat sama dengan 50.000 tahun waktu bumi. Dan untuk jarak radius alam semesta hingga sampai ke Muntaha dan melewati angkasa raya yang disebut sebagai ‘Arsy Ilahi, 10 Milyar tahun cahaya diperlukan waktu kurang lebih 548 tahun waktu malaikat. Bagaimana menjelaskan poin 11 diatas ?

12. Disaat awal Nabi berangkat : apakah beliau terjaga ataukah tertidur ?

Dari dua belas pertanyaan yang kita kemukakan berdasarkan hasil perbandingan silang hadis-hadis shahih yang dirangkum oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani dalam kitab shahihnya, maka jelas dibutuhkan penjelasan yang kongkret dan memuaskan. Bahwa kemudian pertanyaan-pertanyaan ini dikembalikan lagi pada doktrin “Iman” maka ini akhirnya hanya sebuah pelarian dari ketidak berdayaan kita dalam mengkritisi dan menyikapi riwayat-riwayat yang saling berlawanan dalam dogma keyakinan kita. Fakta bahwa kita terlalu sering bersikap fanatik secara berlebihan dalam berkeyakinan sehingga mengalahkan keobyektifitasan dan analisa kita secara jujur. Bila ada yang mendebat hadis apalagi yang diperdebatkan hadis itu merupakan riwayat dari Imam Bukhari dan Imam Muslim maka mulailah kita sibuk untuk balik menyerang orang yang mengkritisi tersebut dengan sejumlah argumentasi yang pada hakekatnya malah tidak menyambung dengan apa yang dilontarkan oleh orang tersebut sebelumnya. Kita justru menerima sebuah pesan atau kritikan dari orang lain lebih banyak bukan untuk dipahami ataupun dianalisa namun justru untuk ditanggapi. Apa yang disampaikan oleh orang lain khususnya bila berhubungan dengan keyakinan kita maka kitapun cenderung mengartikannya sebagai bentuk serangan bukan menyikapinya sebagai sebuah masukan yang membangun ataupun memperbaiki diri. Kita sepakat bila firman Allah tidak mungkin salah atau saling kontradiksi, namun bagaimana dengan hadis ? bagaimana dengan hadis-hadis hasil periwayatan shahih para Imam seperti Bukhari, Muslim atau Ahmad bin Hambal ?

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. An-Nisa (4) :82)


Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH

Kritik Hadis Israk dan Mikraj Bag. 1

Kritik Hadis Israk dan Mikraj

Bagian 1
Oleh : Armansyah
Penulis Buku “Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih”,
Jejak Nabi “Palsu” dan Ramalan Imam Mahdi

>> Boleh Copy Paste u/. non komersil dengan tetap mencantumkan sumber <<

Syaikh Nashiruddin Al Al-Albani “Israk Mikraj : Kumpulan Hadits dan Takhrijnya” Terj. M. Romlie Shofwan el Farinjani, Penerbit Pustaka Azzam, 2004 telah menuliskan sejumlah tujuh belas orang perawi hadis mengenai kejadian tersebut dari berbagai sumbernya. Sebut saja mulai dari Abu Hurairah, Anas bin Malik, Ubay bin Ka’ab, Buraidah bin Hushaib Al-aslami sampai dengan riwayat Abi Ayyub Al-anshari dan Abu Dzar, lengkap dengan berbagai versi mereka masing-masing. Letak permasalahan bagi kita adalah tidak semua hadis-hadis ini ternyata memiliki isi cerita yang persis sama antara satu dengan yang lain, ada beberapa yang memiliki kemiripan dari jalan ceritanya namun tetap saja mempunyai banyak perbedaan dan bahkan tidak jarang saling memiliki kontroversi atau pertentangan.

Saya memilih untuk mengambil dan mengkritisi kumpulan hadis Israk dan Mikraj karya Syaikh Nashiruddin Al-Albani ini tidak lain karena beliau termasuk orang yang fakih dibidang hadis dan merupakan tokoh ternama dalam dunia Islam yang karya-karyanya sering menjadi rujukan banyak ulama maupun cendikiawan muslim diseluruh dunia dari berbagai lapisan dan madzhab.

Dengan demikian kiranya cukup jelas dan beralasan bagi rekan-rekan semua kenapa saya memilih karya beliau dalam studi kita kali ini.Saya pikir, saya cukup obyektif melakukannya.

Saya pribadi tidak meragukan sama sekali apabila Rasulullah benar-benar pernah diperjalankan pada suatu malam dari suatu tempat dimasjid Al-Haram menuju kemasjid Al-Aqsha, adapun kemudian yang menarik untuk dibahas salah satunya pada bab ini sekaligus membuatnya berbeda dengan karya-karya lain yang pernah ada tidak lain dari pendalaman yang dilakukan terhadap berbagai cerita Israk dan Mikraj yang bisa dijumpai didalam hadis-hadis shahih. Bagi penulis pribadi, keberadaan dan peranan hadis didalam Islam bukan menjadi sesuatu hal yang perlu diperselisihkan, hadis ataupun lebih tepatnya lagi as-Sunnah, lebih banyak merupakan contoh penerapan Al-Qur’an yang dilakukan oleh Nabi sepanjang hidupnya. Tetapi, terlalu banyak variasi dalam teks-teks sejumlah hadis yang disebut-sebut shahih dan mutawatir bahkan kadangkala isinya pun saling berseberangan membuat penulis memilih untuk bersikap lebih berhati-hati dalam memahami dan menerimanya sebagai sebuah kebenaran yang mutlak. Kalaupun sanad hadisnya shahih berdasar kriteria ilmu-ilmu hadis, maka penulis akan mengembalikan lagi pada metode penerimaan hadis dari istri Nabi yaitu ‘Aisyah binti Abu Bakar Radhiallahu ‘anha saat disampaikan kepadanya hadis Umar bin Khatab sewaktu sang Khalifah ditikam dari belakang dan mendekati kematiannya, saat itu Hafshah putrinya yang juga salah seorang dari istri Nabi menangisi kejadian tersebut, diikuti pula oleh seorang sahabat bernama Shuhaib yang merawat luka-lukanya, melihat keduanya menangisi dirinya, Umar membentak mereka seraya mengemukakan suatu hadis Nabi bahwa orang yang ditangisi kematiannya akan memperoleh siksa Allah. Tatkala berita ini disampaikan kepada ‘Aisyah, beliau malah menolak hadis yang diriwayatkan oleh Umar tersebut dengan merujuk pada surah Al-an’am ayat 164 bahwa seseorang tidak akan bisa menanggung dosa orang lain. Penolakan istri Nabi SAW tersebut disampaikan dengan menyifati Umar sebagai orang yang baik dan benar tetapi dia telah salah dengar. Penulis rasa metode yang diajarkan oleh Ummul Mu’minin ‘Aisyah binti Abu Bakar Radhiallahu ‘anha dapat kita sepakati tanpa perselisihan apapun.

Bila pada masa-masa awwalun saja sudah terdapat perbedaan dan kehati-hatian dalam penerimaan sebuah hadis, apalagi kiranya dijaman kita sekarang ini. Penulis sangat berharap kepada para pembaca untuk dapat membedakan antara menolak ataupun mempertanyakan validasi satu atau sejumlah hadis dengan menolak ucapan Rasul dan bahkan menolak validasi dari Rasul itu sendiri. Hal ini penting untuk dikemukakan dari awal sehingga tidak terjadi salah komunikasi ataupun menjadikan penyimpangan persepsi dari tulisan yang ada dibuku ini.

Adanya kisah penolakan orang-orang kafir Mekkah kepada Nabi manakala beliau menyampaikan peristiwa Israk dan Mikrajnya menjadi tidak tepat dijadikan persamaan dengan orang yang menolak pemberitaan hadis-hadis mengenainya. Bagaimana tidak, saat orang-orang itu melakukan penolakan, mereka benar-benar berhadapan dengan sosok Nabi yang menjadi orang pertama dan pelaku dari peristiwa tersebut, yang implikasinya bagi umat Islam, semua ucapan dari beliau SAW tidak mungkin dusta dan keliru. Sedang hadis yang sampai ditangan kita pada hari ini, adalah hasil penceritaan ulang dari masa kemasa yang tercatat dalam banyak perbedaan narasi sebagaimana yang akan kita buktikan pada bagian ketiga dari buku ini. Apakah benar kisah seputar Israk dan Mikraj itu berbeda-beda sebagaimana yang ada disekian banyak hadis itu ? Benarkah semua cerita yang sampai ketangan kita hari ini tentang hal tersebut benar-benar sebagaimana dahulu Rasul menceritakannya ? kalau memang benar, kenapa bisa berbeda ? atau kenapa bisa saling berkontradiksi ? apakah lalu Rasul berdusta ? apakah Rasul plin-plan dalam bercerita ?

Satu-satunya asumsi yang bisa ditarik adalah, Rasul tidak mungkin berdusta, cerita-cerita itulah yang sudah terintervensikan oleh tangan kedua dan ketiga atau pihak lainnya yang kadang masih melekatkan nama besar sejumlah sahabat atau perawi yang ternama untuk menguatkan penambahan maupun pengurangannya. Apa yang terjadi dalam sejarah ajaran Nabi ‘Isa Al-Masih seharusnya ditadabburi oleh umat Islam dengan cermat, bagaimana sebuah ajaran langit yang lurus dan bersih akhirnya bisa berbalik menjadi ajaran-ajaran yang seolah saling bertabrakan dengan nilai-nilai kebenaran dan penuh dengan ritual paganisme atau pemberhalaan.

Kenapa umat Islam tidak mau belajar dari sejarah kerancuan-kerancuan yang ada dalam kitab-kitab Perjanjian Baru untuk hadis-hadis Nabi Muhammad SAW ? kenapa kita seolah merasa segan melancarkan kritik teks terhadap hadis apabila sudah disebutkan perawinya bernama Imam Bukhari atau perawinya bernama Imam Muslim, atau juga memiliki sanad dari Abu Hurairah, dari Ibnu Mas’ud, dari Ibnu Abbas, dari ‘Ibnu Umar dan lain sebagainya ?  Bukankah kita selaku umat Islam sudah terbiasa dengan tegas menyatakan kritik terhadap otentisitas kitab Bible yang diyakini oleh umat Kristiani meskipun dikatakan perawinya dari Paulus, dari Petrus dan dari Yohannes ?

Kita sudah sering tidak jujur pada diri kita sendiri, cerita-cerita hadis seputar Israk dan Miraj hanyalah satu dari sekian banyak hadis-hadis yang sebenarnya masih sangat terbuka untuk dikritisi redaksinya, sebab kita tidak pula mungkin menerima semua cerita yang berbeda-beda itu dengan alasan iman, kita butuh hujjah yang kuat untuk bisa memilih satu diantaranya (dan memang hanya bisa satu, tidak lebih, sebab tidak mungkin semuanya benar -kecuali bila semua riwayat itu tidak ada perbedaan).

Penolakan atas keabsahan hadis-hadis tersebut tidak dapat langsung dihakimi sebagai kaum yang anti hadis atau ingkar sunnah, sebab membantah atau menolak sejumlah riwayat hadis tidak bisa dengan serta merta diasumsikan bahwa seseorang telah menolak perkataan Muhammad Rasulullah. Kita sekarang ini sebagaimana yang telah disinggung, mendapatkan hadis-hadis mengenai Israk dan Mikraj dalam puluhan versi narasi yang terkadang setiap versi yang berbeda itu diriwayatkan oleh orang yang sama, padahal tidak mungkin satu cerita punya begitu banyak perbedaan. Berbeda kasusnya dengan orang-orang dimasa lalu yang mendapatkan hadis itu langsung dari mulut Nabi SAW sendiri yang notabene pasti hanya ada satu versi dan nilai validitasnyapun pasti.

Dari Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abu Thalib, cucu Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam dan kesayangan beliau radhiallohu ‘anhuma, dia berkata: “Aku telah hafal (sabda) dari Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam: “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i) -Tirmidzi berkata: Ini adalah Hadis Hasan Shahih

Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmidzi dan lainnya dengan status Hadis adalah hasan)

Dan jangan kamu mengikuti apa yang kamu tidak tahu mengenainya. Sungguh pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Israa (17) : 36)

Bersambung …


Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH

Kritik Hadis Israk dan Mikraj Bag. 2

Kritik Hadis Israk dan Mikraj

Bagian 2
Oleh : Armansyah
Penulis Buku “Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih”,
Jejak Nabi “Palsu” dan Ramalan Imam Mahdi

>> Boleh Copy Paste u/. non komersil dengan tetap mencantumkan sumber <<

Pembaca diharapkan ikut membacanya secara perlahan dan dengan seksama sehingga pada akhir pembahasan bisa menentukan sejauh mana akurasi bahasan yang saya buat ini sehingga tidak menimbulkan fitnah kepada saya pribadi.

Tulisan kali ini memang panjang, namun bila hanya karena panjangnya hadis-hadis ini membuat anda tidak mau membacanya maka anda tidak akan bisa mengikuti bahasan selanjutnya. Bayangkan saja semua hadis dibawah ini saya ketik sendiri semalaman maka anda yang tinggal membacanya saja malas apalagi untuk meneruskan bahasannya 🙂

Let us see

Hadis Abu Hurairah dari Al-Musayyab

Dari Said bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah, ia berkata : Nabi SAW bersabda : “Pada malam dimana aku mengadakan penjalanan Israk, aku bertemu dengan Nabi Musa as -sambil menyifati (menyebutkan ciri-ciri Nabi Musa)- bahwa beliau adalah orang yang kurus dan berambut lurus, (tinggi) seperti orang yang berasal dari kaum Syanu’ah”. Rasulullah bersabda : “Kemudian aku bertemu dengan Nabi ‘Isa as –sambil menyifati (menyebutkan ciri-ciri Nabi ‘Isa)- bahwa beliau adalah orang yang berbadan tinggi, bertubuh sedang dan berkulit merah. Sepertinya beliau baru saja keluar dari kamar mandi.” Rasulullah bersabda : “Setelah itu aku berjumpa dengan Nabi Ibrahim as, sedangkan menurutku, aku adalah orang yang paling serupa dengan beliau diantara anak-anak keturunannya. Kemudian Nabi Ibrahim membawakan dua buah tempat menuman (wadah) kepadaku. Satu diantaranya berisi akir susu, dan yang satunya lagi berisi arak (Khamr). Jibril berkata kepadaku, “Ambil dan minumlah salah satu dari kedua minuman ini yang engkau sukai!”, lalu aku mengambil air susu dan meminumnya. Kemudian dia berkata, “Engkau telah mengambil apa yang menjadi fitrah. Ingat, sungguh seandainya engkau mengambil arak (Khamr), niscaya umatmu akan tersesat semua.” (HR. Bukhari dalam Shahih 3394, 3437, 4709, 5576 dan 5603, Imam Muslim dalam Shahih 272, Imam Ahmad dalam kitab Sunan Jilid 2/282 dan 512 dan Al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah 3761).

Hadis Abu Hurairah dari Abu Salamah

Dari Abu salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh aku telah diperlihatkan suatu ruangan, sedangkan orang-orang Quraisy malah menanyakan tentang hAl-hal yang tidak aku ketahui tentang Baitul Maqdis. Betapa aku tidak pernah merasakan kegelisahan hati semacam itu sebelumnya. Kemudian Allah SWT mengangkat miniaturnya kepermukaanku, sehingga aku bisa melihat kembali peristiwa tadi malam dan menjawab atas pertanyaan-pertanyaan kaum Quraisy tersebut secara detail. Disana aku juga diperlihatkan jemaah para Nabi, diantaranya adalah Nabi Musa yang sedang menunaikan Shalat. Beliau adalah seorang laki-laki yang kurus dan berambut lurus, berpostur tinggi seperti ketinggian orang-orang lelaki dari kaum Syanu’ah. Aku juga melihat Nabi ‘Isa –putera Maryam- yang sedang menjalankan Shalat pula. Menurutku, orang yang paling menyerupai beliau adalah Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi. Pada waktu itu, aku juga bertemu dengan Nabi Ibrahim yang sedang menunaikan Shalat. Adapun orang yang paling serupa dengan beliau menurutku adalah teman kalian ini (maksudnya adalah diri Rasulullah sendiri). Maka ketika waktu Shalat tiba, aku menjadi imam bagi mereka. Seusai Shalat ada seseorang yang berkata kepadaku, “Wahai Muhammad, ini adalah malaikat penjaga pintu neraka, berilah salam kepadanya”. Lalu aku menoleh kepadanya dan ia mendahuluiku dalam memberi salam” (HR. Muslim, Shahih 278)

Hadis Anas Bin Malik dari Abu Dzar

Dari Az-Zuhri, dari Anas ia berkata bahwa Abu Dzar pernah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Atap rumahku yang ada di Mekkah telah dibuka, lalu Malaikat Jibril turun dan membedah dadajy. Kemudian Jibril membasuhnya dengan air zam-zam sambil membawa wadah yang terbuat dari emas dan penuh berisi dengan nilai hikmah dan keimanan. Setelah itu, Jibril mengosongkan dadaku dan mengisinya dengan hikmah dan keimanan. Lantas Jibril menutup dadaku kembali.” Jibril lalu menggandeng tanganku dan mengajakku bermikraj –melakukan perjalanan- menuju lapisan langit pertama. Ketika kami sampai disana, Jibril berkata kepada penjaga langit itu, “Bukalah!” lalu penjaga langit tersebut bertanya, “siapa ini?” Jibril menjawab, “aku Jibril”, ia bertanya kembali, “apakah kamu bersama seseorang ?” Jibril menjawab “Ya aku bersama Muhammad”, ia bertanya kembali “Apakah kalian diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab “Ya”, maka petugas itupun langsung membukakan pintu langit shaf pertama.

Imam Muslim bercerita bahwa ketika lapisan pertama terbuka, tiba-tiba Rasulullah SAW bersama Jibril melihat seorang laki-laki yang sedang duduk. Adapun disebelah kanan lelaki itu terdapat sekelompok massa dan disebelah kirinya terdapat sekelompok massa pula. Ketika laki-laki itu melihat kearah kanan, maka ia tertawa dan ketika melihat kearah kiri, maka iapun menangis. Selanjutnya laki-laki itu berkata, “Selamat datang wahai Nabi yang saleh dan putera yang saleh.” Rasulullah SAW bertanya kepada Jibril, “Siapakah orang ini ?” Jibril menjawab, “Ini adalah Nabi Adam as, sedangkan sekelompok massa yang ada disamping kiri dan kanan adalah hembusan nafas anak keturunannya. Adapun mereka yang golongan kanan adalah ahli surga, dan golongan kiri adalah ahli neraka. Maka ketika beliau melihat kearah kanan beliau langsung tertawa dan jika melihat kearah kiri beliau langsung menangis.

Selanjutnya, kami naik kelangit lapis kedua. Jibril lalu berkata kepada penjaga langit tersebut, “Bukalah !” lantas penjaga itu bertanya seperti halnya pertanyaan penjaga langit pertama, hingga akhirnya ia mau membukakan pintu langit itu. Anas menceritakan bahwasanya Rasulullah SAW didalam Mikrajnya bertemu dengan Nabi Adam, Idris, Musa, Isa dan Nabiyullah Ibrahim as. Anas tidak menyebutkan satu-persatu tempat bertemunya mereka, kecuali Adam pada langit pertama dan Nabi Ibrahim pada langit ketujuh. Anas menceritakan bahwa ketika Jibril melakukan perjalanan bersama Nabi SAW, mereka bertemu dengan Nabi Idris. Beliau menyambut, “Selamat datang wahai Nabi yang saleh dan saudaraku yang saleh.” Nabi bertanya, “Siapakah ini ?” Jibril menjawab, “Ini adalah Nabi Idris” setelah itu aku bertemu dengan Nabi Musa as dan beliau menyambut “Selamat datang Nabi yang saleh dan saudaraku yang saleh.” Rasulullah bertanya, “Siapa ini ?” Jibril menjawab “Ini adalah Nabi Musa as.” Kemudian aku bertemu dengan Nabi Isa dan beliau menyambut dengan berkata “Selamat datang Nabi yang saleh dan saudaraku yang saleh”. Rasulullah SAW bertanya, “Siapa ini ? ” Jibril menjawab “Ini adalah Nabi Isa as.” Kemudian aku bertemu nabi Ibrahim as, beliau menyambutku, “Selamat datang Nabi yang saleh dan saudaraku yang saleh”.

Ibnu Syihab berkata, “Ibnu Hazm bercerita kepadaku bahwa sesungguhnya Ibnu Abbas dan Abu Habbah Al-Anshari berkata bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Selanjutnya, kami bermikraj lagi sampai pada suatu tempat dimana aku bisa mendengar dengan jelas goresan pena.” Ibnu Hazm dan Anas bin Malik berkata bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Maka Allah SWT mewajibkan kepada umatku 50 kali shalat”

Imam Muslim meriwayatkan, “Kemudian aku kembali”, sedangkan menurut Imam Bukhari, “Kemudian aku menghadap (konsultasi) kepada Tuhanku, selanjutnya Allah berkenan mengabulkan dispensasi (keringanan) maka dibebaskanlah separuhnya.” Imam Muslim berkata, ” Aku (Nabi SAW) lalu kembali menghadap Nabi Musa dan aku katakan padanya bahwa Allah SWT berkenan membebaskan separuh. Kemudian beliau berkata kepadaku, “Kembalilah engkau menghadap Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melaksanakannya.” Lantas aku kembali menghadap dan minta dispensasi, maka Allah membebaskan separuh lagi. Setelah itu aku kembali menghadap Nabi Musa dan beliau berkata “Kembalilah engkau kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu masih tidak mampu melaksanakannya.” Imam Muslim meriwayatkan, “Kemudian aku kembali kepada Nabi Musa as dan aku katakan bahwa “Hanya tinggal 5 waktu dari 50 waktu yang diwajibkan semula. Allah tidak akan merubah lagi firman-Nya untukku.” Imam Muslim juga meriwayatkan, “Kemudian aku kembali kepada Nabi Musa dan beliau masih meminta agar aku kembali dan minta dispensasi lagi kepada Allah. Maku aku menjawab, “Sungguh aku benar-benar merasa malu kepada Tuhanku.” Imam Muslim meriwayatkan, “Selanjutnya aku bersama Jibril beranjak meninggalkan Nabi Musa dan berhenti di Sidratul Muntaha. Ditempat itu terdapat sesuatu yang beraneka ragam dan aku tidak mengetahui nama-namanya.” Imam Muslim berkata, “Kemudian aku memasuki surga, ternyata disana ada pohon anggur Haba’il.” (HR. Bukhari dalam Shahih 349, 1636 dan 3342, Muslim dalam Shahih 263, An-Nasa’i meriwayatkan sebagian hadis tersebut akan tetapi tidak disebutkan nama Abu Dzar sebagai perawi, Ahmad dalam kitab Sunan jilid 5/143-144 tetapi dia menyebutkan riwayat ini dari Ubay bin Ka’ab).

Hadis Anas Bin Malik dari Qatadah

Dari Qatadah, Anas bin Malik bin Sha’sha’ah bercerita kepadaku bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda, “Pada waktu dibedah dadaku itu, sepertinya aku berada disamping rumah.” Menurut riwayat Imam Ahmad bin Hanbal, “Disamping Ka’bah”, adapun menurut satu riwayat –juga oleh Ahmad bin Hanbal- yang lain adalah didalam reruntuhan bangunan. Barangkali Qatadah juga menyebutkan “Diatas bongkahan batu sambil terlentang”, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari, “Yaitu antara sadar dan tidak. Lalu datang salah satu dari ketiga orang. Jibril mendatangiku dengan membawa wadah yang terbuat dari emas dan penuh berisi dengan hikmah dan keimanan. Kemudian Jibril membedah dan menumpahkan semua –kotoran- yang ada didalam perutku. Lantas dia membasuh hatiku dengan air zam-zam dan memenuhinya dengan hikmah dan keimanan. Setelah itu Jibril menjahit dan mengembalikan keadaan perutku seperti semula. Kemudian aku diajak menaiki hwan yang bukan seperti kuda dan lebih besar dari himar (keledai).” Rasulullah SAW melanjutkan ceritanya, “Setelah itu ada orang yang bertanya, “Apakah itu yang dinamakan Buraq wahai Abu Hamzah (panggilan Rasulullah) ?, ” Beliau menjawab “Betul.” Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari menceritakan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Kecepatan kendaraah –Buraq- itu adalah sekejap mata dan dengan Buraq itulah aku dibawah.”

Ibu Jarir meriwayatkan, “Setelah itu, kami bergegas menuju Baitul Maqdis. Disana kami menunaikan shalat bersama para Nabi dan Rasul, dan aku yang menjadi imam. Kemudian aku bersama Jibril bergegas menuju lapisan langit pertama. Penjaga langit itu bertanya, “Siapa ini ?” Jibril menjawab, “Saya, Jibril” Ia bertanya lagi, “Kamu bersama siapa?” Jibril menjawab “Aku bersama Muhammad” Ia bertanya lagi, “Apakah kalian diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab “Ya” Penjaga itu berkata, “Selamat datang, kalian adalah sebaik-baik orang dan kalian telah tiba.” Imam Ahmad bin Hambal menambahkan dalam riwayatnya, “Setelah itu penjaga langit pertama membukakan pintu, lalu aku mendatangi Nabi Adam,” Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Jibril berkata, “Ini adalah bapakmu, oleh karena itu ucapkanlah salam” Lalu aku mengucapkan salah kepadanya dan beliau menjawab salamku sambil berkata, “Selamat datang anakku dan nabiku.” Dalam riwayat lain, Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari menambahkan, “Selamat datang puteraku yang saleh dan Nabi yang saleh.”

Dalam riwayatnya, Imam Bukhari mengatakan, “Kemudian kamipun naik.” Sedangkan riwayat Imam Ahmad bin Hambal. “Kemudian kami naik menuju langit kedua dan minta dibukakan pintu kepada penjaga langit itu. Penjaga langit itu bertanya, “Siapa ini ? ” Jibril menjawab, “Saya Jibril.” Lalu dia bertanya, “Siapa orang yang bersamamu ?” Jibril menjawab “Muhammad” kemudian kami mendatangi Nabi Yahya dan Nabi Isa. Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari menambahkan, “Mereka berdua adalah puteranya bibi.” Lantas Jibril berkata “Inilah Nabi Yahya dan Nabi Isa, oleh karena itu berilah ucapan salam kepada mereka.” Maka akupun menyalami dan mereka langsung menjawab. Setelah itu, mereka menyambut, “Selamat datang saudaraku dan Nabiku.” Menurut riwayat Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari yang lain, “Selamat datang saudaraku yang saleh dan Nabi yang saleh”.

Imam Bukhari meriwayatkan, “Kemudian kamipun naik” Sedangkan riwayat Imam Ahmad bin Hambal, “Kemudian kami naik menuju langit ketiga. Begitu seterusnya seperti pada langit pertama dan kedua. Kemudian kami mendatangi Nabi Yusuf, lalu Jibril bertaka, “Ini adalah Nabi Yusuf, oleh karena itu ucapkanlah salam” Maka akupun menyalami dan beliau langsung membalas seraya berkata, “Selamat datang saudaraku dan nabiku”, Sedangkan menurut riwayat lain dari Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari, “Selamat datang saudaraku yang saleh dan nabi yang saleh”.

Imam Bukhari meriwayatkan, “Kemudian kamipun naik.” Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan, “Kemudian kami naik menuju langit keempat begitulah seterusnya seperti pada langit pertama, kedua dan ketiga”. Kemudian kami mendatangi Nabi Idris lalu Jibril berkata, “Ini adalah Nabi Idris, oleh karena itu ucapkanlah salam” Maka akupun menyalami dan beliau langsung membalas seraya berkata, “Selamat datang saudaraku dan nabiku” sedangkan dalam riwayat Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari yang lain, “Selamat datang saudaraku yang saleh dan nabi yang saleh”.

Imam Bukhari meriwayatkan, “Kemudian, kamipun naik.” Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan, “Kemudian kami naik menuju langit kelima, begitu seterusnya seperti pada langit pertama, kedua, ketiga dan keempat.” Kemudian kami mendatangi Nabi Harun, lalu Jibril berkata, “Inilah Nabi Harun, oleh karena itu ucapkanlah salam.” Maka akupun menyalami dan beliau langsung membalas serya mengatakan, “Selamat datang saudaraku dan nabiku”, sedangkan didalam riwayatnya Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari yang lain, “Selamat datang saudaraku yang saleh dan Nabi yang saleh”

Imam Bukhari meriwayatkan, “Kemudian kamipun naik”, sedangkan Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan, “Kemudian kami naik menuju langit keenam, begitu seterusnya seperti pada langit pertama sampai langit kelima” Kemudian kami mendatangi Nabi Musa lalu Jibril berkata, “Inilah Nabi Musa, oleh karena itu ucapkanlah salam” Maka akupun menyalami dan beliau langsung membalas serya mengatakan, “Selamat datang saudaraku dan nabiku”, sedangkan didalam riwayatnya Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari yang lain, “Selamat datang saudaraku yang saleh dan Nabi yang saleh”, akan tetapi ketika beliau mempersilahkan kami, tiba-tiba beliau langsung menangis. Lalu Jibril menegur, “Apakah gerangan yang membuat engkau menangis ? ” Nabi Musa langsung mengadu kepada Allah, “Wahai Tuhanku, anak laki-laki inikah yang Engkau utus setelahku yang mana umatnya paling mulia dan paling banyak masuk surga daripada umatku ?”, Imam Bukhari meriwayatkan, “Kemudian, kamipun naik”, sedangkan Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan, “Kemudian kami naik menuju langit ketujuh, begitu seterusnya seperti pada langit pertama sampai langit keenam”. Kemudian kami mendatangi Nabi Ibrahim. Imam Bukhari meriwayatkan, lalu Jibril berkata, “Inilah bapakmu, Nabi Ibrahim.” Sedangkan dalam riwayatnya, Imam Ahmad bin Hambal, “Inilah nabi Ibrahim”, kemudian aku menyalami beliau dan beliaupun langsung menjawab salamku, seraya berkata, “Selamat datang puteraku dan Nabiku.” Adapun didalam riwayat yang lain, Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari mengatakan, “Selamat datang puteraku yang saleh dan Nabi yang saleh”.

Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari juga meriwayatkan, bahwa Qatadah pernah berkata, “Hasan pernah bercerita kepadanya dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Kemudian aku diangkat menuju Al-Bait Al-Makmur. Ketika sampai disana, aku bertanya kepada Malaikat Jibril, “Tempat apa ini namanya ? “. Jibril menjawab “Ini adalah Baitul Makmur, ditempat inilah sebanyak 70.000 malaikat setiap hari menunaikan shalat. Jika mereka sudah keluar maka tidak satupun diantara mereka yang kembali ketempat itu lagi.” Kemudian aku disodori beberapa wadah, satu diantaranya berisi arak (Khamr) sedangkan yang lainnya berisi madu dan susu. Lantas aku mengambil dan meminum dari wadah yang berisikan susu.” Lalu Nabi Ibrahim berkata, “Ini adalah fitrah yang diberikan kepada engkau dan umatmu”. Masih dalam riwayat Imam Ahmad bin Hambal, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setelah itu aku diangkat menuju Sidratul Muntaha. Tempat itu tampak seperti batang pohon anggur yang menjulang dari muka bumi dan mempunyai daun yang menyerupai telinga gajah. Selanjutnya Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari menambahkan bahwa, “Inilah Sidratul Muntaha. Adapun didasar tempat tersebut terdapat empat sungai. Dua diantaranya ada didalam, sedangkan dua yang lain ada diluar.” Lantas aku bertanya kepada Jibril, “Apa maskud dari semua ini, wahai Jibril ?”, Jibril menjawab, “Adapun dua yang didalam itu tempatnya adalah disurga, sedangkan dua yang diluar itu adalah sungai Eufrat dan sungai Nil.”

Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari meriwayatkan, “Rasulullah SAW bersabda, “Kemudian aku diwajibkan menunaikan 50 kali shalat setiap hari, setelah itu aku kembali. Pada saat itu aku bertemu dengan Nabi Musa dan beliau bertanya, “Apa yang engkau peroleh ?” Aku menjawab, “Telah diwajibkan kepadaku 50 kali shalat setiap hari.” Nabi Musa berkata, “(dalam riwayat Imam Bukhari beliau bersumpah –Demi Allah-) aku lebih banyak tahu daripada kamu.” Didalam riwayat Imam Bukhari yang lain, “Sungguh aku telah menelusuri –kemampuan- manusia-manusia sebelum engkau, dan sungguh aku telah mendoktrin Bani Israel dengan sangat ketat. Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu menunaikan hal itu. Oleh karenanya maka kembalilah engkau menghadap Tuhanmu dan mintalah dispensasi!” Rasulullah SAW bersabda, “Selanjutnya aku kembali menghadap Tuhanku yang Maha Agung, lalu aku meminta dispensasi. Maka Allah memperingankan kewajiban tersebut menjadi 40. Setelah itu aku kembali dan menemui Nabi Musa. Beliau bertanya lagi, “Apa yang engkau peroleh ?” Aku menjawab, “Allah memperingan menjadi 40.” Lantas Nabi Musa berkata kepadaku seperti semula. Aku kembali menghadap Tuhanku Yang Maha Agung, maka Allah mengurangi lagi menjadi 30. Kemudian aku kembali dan bertemu dengan Nabi Musa seraya memberitahukan dispensasi yang aku terima, dan beliau masih mengatakan kepadaku hal yang sama dengan semula. Lalu aku kembali menghadap Allah dan Dia menguranginya lagi menjadi 20, kemudian 10 dan terakhir kalinya hanya tinggal 5. Selanjutnya aku menemui Nabi Musa, lalu memberitahukan tentang –begitu banyaknya- dispensasi yang sudah aku terima. Akan tetapi beliau masih mengatakan kepadaku hal yang sama seperti semula. Pada kesempatan itu, aku mengatakan, “Sungguh aku benar-benar malu kepada Tuhanku Yang Maha Agung, sudah berapa kali aku bolak-balik ?” Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari menambahkan, “Akan tetapi Allah selalu merestui dan mengabulkan permohonanku.” Didalam hadis yang lain, Imam Ahmad bin Hambal dan dan Imam Bukhari menerangkan, “Ketika percakapan antara Rasulullah SAW dengan Nabi Musa berlangsung, tiba-tiba ada seseorang memanggil Rasulullah SAW agar beliau mencukupkan sampai disitu, karena Rasulullah SAW telah meminta dispensasi yang begitu banyak untuk umatnya. Segala bentuk kebaikan akan dibalas 10 kali lipat. (HR. Ahmad dalam sunan Jilid 4/207-210 melalui jalur Hisyam ad-Dustiwa’, Imam Bukhari dalam Shahih 3207, 3393 dan 3887, Imam Muslim dalam shahih 264 dan 265 dan Ibnu Jarir dalam 15/3)

Hadis Anas Bin Malik dari Tsabit Al-Banani

Riwayat Tsabit, ia menceritakan dari Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Aku telah dibawakan kendaraan Buraq. Kendaraan ini adalah sejenis hewan berwarna putih, yang mana tingginya antara himar dan kuda. Sedangkan kecepatannya adalah sama dengan kejapan mata. Ketika itu, aku dibawa menuju Baitul Maqdis dan disana aku bergabung dengan majelisnya para Nabi. Sesampainya disana aku masuk masjid dan menunaikan shalat dua reka’at. Setelah itu aku keluar dan Jibril langsung menghampiriku dengan membawa satu wadah yang berisi arak (Khamr) dan satu wadah lagi yang berisi susu. Kemudian aku memilih wadah susu, lalu Jibril berkata, “Engkau telah memilih”. Selanjutnya kami bermikraj menuju langit pertama. Lalu Jibril meminta agar penjaga langit itu mau membukakan pintu. Sebelumnya penjaga langit itu bertanya, “Siapa kalian ?”, Jibril menjawab, “Saya Jibril”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapa orang yang bersamamu itu ?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Lantas dia bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab, “Benar!” Maka penjaga itupun langsung membukakan pintu langit pertama. Dilangit itu, kami bertemu dengan Nabi Adam, lalu beliau menerima dan menyambut kami dengan sangat baik. Kemudian kami bermikraj menuju langit kedua, lalu Jibril meminta agar penjaga langit itu mau membukakan pintu. Penjaga langit itu bertanya, “Siapa kalian ?”, Jibril menjawab, “Saya Jibril”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapa orang yang bersamamu itu ?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Lantas dia bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab, “Benar!” Maka penjaga itupun langsung membukakan pintu langit itu. Ketika sampai disana, kami bertemu dengan dua anak laki-lakinya bibi, yaitu Nabi Yahya dan Nabi Isa. Mereka langsung menerima dan menyambut kami dengan sangat baik. Selanjutnya kami bermikraj menuju langit ketiga. Sesampainya disana, Jibril minta agar penjaga langit itu mau membukakan pintu. Penjaga itu bertanya, “Siapa kamu ?”, Jibril menjawab, “Saya Jibril”. Dia bertanya lagi, “Siapakah orang yang bersamamu ?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Lantas dia bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap kepada-Nya ?”, Jibril menjawab, “Ya!” Maka penjaga pintu itupun membukakan untuk kami. Ketika sampai disana, kami bertemu Nabi Yusuf. Beliau adalah Nabi yang diberikan Allah separuh dari ketampananku. Lantas beliau menerima dan menyambut kami dengan baik sekali. Kemudian kami bermikraj menuju langit keempat. Sesampainya disana, Jibril meminta agar penjaga langit itu mau membukakan pintu. Penjaga langit itu bertanya, “Siapa kalian ?”, Jibril menjawab, “Saya Jibril”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapa orang yang bersamamu itu ?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Lantas dia bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab, “Benar!” Maka penjaga itupun langsung membukakan pintu langit itu. Disana kami bertemu dengan Nabi Idris. Beliau langsung menerima dan menyambut kami dengan baik sekali seraya membacakan firman-Nya, “Dan Kami telah mengangkatnya kemartabat yang tinggi (QS. . Maryam (19): 57).

Setelah itu, kami bermikraj menuju langit kelima. Sesampainya disana Jibril meminta agar penjaga langit itu mau membukakan pintu. Penjaga langit itu bertanya, “Siapa kalian ?”, Jibril menjawab, “Saya Jibril”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapa orang yang bersamamu itu ?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Lantas dia bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab, “Benar!” Maka penjaga itupun langsung membukakan pintu. Disana kami bertemu dengan Nabi Harun. Beliau juga menerima dan menyambut kami dengan baik sekali. Kemudian, kami bermikraj menuju langit keenam. Sesampainya disana Jibril meminta agar penjaga langit itu mau membukakan pintu. Penjaga langit itu bertanya, “Siapa kalian ?”, Jibril menjawab, “Saya Jibril”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapa orang yang bersamamu itu ?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Lantas dia bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab, “Ya, kami telah diutus-Nya” setelah itu penjaga langit tersebut mau membukakan pintu. Disana aku bertemu dengan Nabi Musa. Beliau telah menerima dan menyambut kami dengan amat baik. Selanjutnya kami bermikraj menuju langit ketujuh. Sesampainya disana, Jibril meminta agar penjaga langit itu mau membukakan pintu. Penjaga langit itu bertanya, “Siapa kalian ?”, Jibril menjawab, “Saya Jibril”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapa orang yang bersamamu itu ?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Lantas dia bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab, “Ya, kami telah diutus-Nya”, Maka penjaga langit itupun langsung membukakan pintu kepada kami. Disana kami bertemu dengan Nabi Ibrahim as. Ketika itu beliau sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Makmur. Beliau juga masuk ketempat itu setiap hari bersama 70.000 para malaikat yang datang silih berganti. Setelah itu kami pergi menuju Sidratul Muntaha. Tempat itu memiliki daun yang menyerupai telinga gajah dan tampak seperti batang pohon anggur yang menjulang dari muka bumi. Jika perintah Allah menghendaki perubahan tempat itu, maka tak satupun diantara makhluk Allah yang mampu untuk mengubahnya dan mengungkapkan keindahannya. Rasulullah SAW bersabda, “Maka Allah menurukan wahyu kepadaku dan mewajibkanku 50 kali shalat dalam sehari-semalam.” Setelah itu aku turun dan bertemu dengan Nabi Musa. Beliau bertanya, “Apa yang diwajibkan Tuhan kepada umatmu ?”, Aku menjawab, “50 kali shalat dalam sehari-semalam.” Lalu Nabi Musa berkata, “Kembalilah engkau kepada Tuhanmu dan mintalah dispensasi, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu menunaikannya. Sungguh aku telah mencoba untuk mempraktekkan hal ini kepada Bani Israel.” Rasulullah bersabda, “Kemudian aku kembali –menemui- Tuhanku yang Maha Agung. Aku memohon, “Wahai Tuhanku, berilah dispensasi kepada umatky.” Maka Allah menurunkan 5. Kemudian aku kembali menemui Nabi Musa, beliau bertanya, “Apa yang kamu peroleh ?” Aku menjawab, “Aku telah diberi dispensasi lima”. Beliau berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukan hal itu. Oleh karena itu kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah dispensasi untuk umatmu.” Rasulullah SAW bersabda, “Ketika itu aku selalu bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa as dan Allah selalu memberikan dispensasi lima-lima”. Pada akhirnya Tuhanku berfirman, “Wahai Muhammad, cukuplah 5 kali shalat dalam sehari-semalam, dengan tiap-tiap shalatnya bernilai 10. Dengan demikian, esensinya sama dengan 50 kali shalat. Barangsiapa yang mengerjakannya, maka baginya adalah satu pahala. Karena jika kebajikan itu dikerjakan, ia akan mendapatkan 10 pahala. Barangsiapa yang berniat untuk satu kejahatan, akan tetapi ia belum sempat mengerjakannya, maka baginya tidak mendapat apa-apa. Karena jika kejahatan itu dikerjakan, ia hanya mendapat dosa satu.” Rasulullah SAW bersabda, “Setelah itu aku turun dan menemui Nabi Musa, lalu aku memberitahukan apa yang aku peroleh.” Beliau berkata, “Kembalilah engkau pada Tuhanmu dan mintalah dispensasi lagi, karena pada dasarnya umatmu masih belum mampu mengerjakan hal itu.” Rasulullah SAW bersabda, “Aku mengatakan kepada Nabi Musa, “Sungguh aku sudah berkali-kali menghadap Tuhanku sampai aku merasa malu sendiri terhadap-Nya.” (HR. Ahmad dalam sunan jilid 3/148 dengan teks dari beliau, Imam Muslim dalam shahih 259 melalui jalur Hammad bin Salamah).

Hadis Anas Bin Malik dari Syarik bin Abi Namr

Ia menceritakan bahwasanya ia mendengar Anas bin Malik berkata –dalam riwayat lain, “Bercerita kepadaku …” –tentang kepergian malam Israknya Rasulullah SAW dari masjidil Ka’bah dan bahwasanya Rasulullah SAW didatangi tiga orang yang tidak dikenal sebelum beliau mendapat wahyu –panggilan- untuk menghadap-Nya. Ketika itu beliau sedang didalam Masjidil Haram. Salah seorang dari ketiga orang tersebut berkata, “Siapa diantara mereka yang merupakan orang yang dimaksud ?”, Lalu orang kedua berkata, “Dialah orang yang paling baik diantara yang lainnya.” Orang terakhir berkata, “Pilih saja orang yang terbaik.” Pada malam itu hanya berlalu begitu saja, dimana Rasulullah SAW belum pernah memimpikan hal serupa melalui bisikan hati, karena pada hakekatnya Rasulullah SAW itu hanya matanya saja yang terpejam namun hati beliau tidak pernah tidur. Begitu juga para Nabi yang lain, mereka juga hanya memejamkan mata sedangkan hatinya tidak pernah tidur. Dalam mimpi Rasulullah SAW yang berikutnya, ketiga orang tersebut tidak ada yang berkata sepatah katapun dan mereka langsung membawa Rasulullah dan meletakkannya didekat sumur zam-zam. Lantas malaikat Jibrillah yang bertanggung jawab atas beliau.

Kemudian, malaikat Jibril membedah dada Rasulullah SAW menembus jantung sampai kebagian perut yang paling dalam. Setelah itu, Jibril membasuh dan membersihkannya dengan air zam-zam. Selanjutnya malaikat Jibril membawa wadah yang terbuat dari emas, didalamnya terdapat “Taur” yang terbuat dari emas pula dan penuh berisi dengan keimanan dan hikmah lalu dimasukkan kedalam dada hingga Al-Ghadid –yaitu urat leher- Rasulullah SAW dan menutupnya kembali. Setelah itu, Rasulullah SAW naik Buraq dan ber-Israk menuju Baitul Maqdis. Disana Rasulullah SAW kemudian menunaikan shalat bersama para Nabi dan Rasul, sementara beliau bertindak sebagai Imam.

Kemudian Rasulullah SAW bermikraj dengan malaikat Jibril menuju langit-langit dunia. Jibril mengetuk pintu, lalu para penghuni langit tersebut menghampirinya sambil bertanya, “Siapa ini ?” Jibril menjawab, “Saya Jibril”, Mereka bertanya lagi, “Siapa orang yang menyertaimu ? ” Jibril menjawab, “Aku bersama Muhammad”, Mereka bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?”, Jibril menjawab, “Ya”, Mereka lalu menyambut “Selamat datang ditempat kami.” Maka seluruh penghuni langit merasa begitu gembira dengan kedatangan Muhammad. Ternyata para penghuni langit itu tidak mengetahui apa kehendak Allah dengan mengutus Muhammad kemuka bumi ini sebelum mereka semua diberitahu. Pada saat Rasulullah SAW dan malaikat Jibril berada dilangit-langit dunia, mereka bertemu dengan Nabi Adam. Jibril berkata kepada Rasulullah, “Ini adalah bapakmu, maka ucapkanlah salam untuknya.” Kemudian Rasulullah SAW menyalami Nabi Adam dan beliaupun langsung menjawab sambil berkata, “Selamat datang wahai anakku, sebaik-baik anakku adalah engkau”. Dilangit-langit dunia yersebut mereka menjumpai sungai yang mengalir jernih. Lalu Rasulullah SAW bertanya, “Sungai apa ini namanya wahai Jibril ?” Jibril menjawab, “Ini adalah sungat Nil dan sungai Eufrat.” Selanjutnya langit tadi dilewati begitu saja oleh Rasulullah SAW. Tiba-tiba beliau menyaksikan sungai yang lain. Didalam sungai itu terdapat endapan-endapan mutiara dan jamrud. Ketika Rasulullah SAW menyentuh sungai itu, aromanya seperti minyak misik yang amat wangi. Lantas Rasulullah SAW bertanya, “Sungai apa ini, wahai Jibril ?” Jibril menjawab, “Ini adalah sungai (telaga) Kautsar yang telah disiapkan untukmu.”

Setelah itu Rasulullah SAW bermikraj menuju langit kedua. Maka para malaikat penjaga langit itupun bertanya seperti pertanyaan malaikat yang menjaga dilangit pertama, yaitu “Siapa ini ?” Jibril menjawab, “Saya Jibril”, Mereka bertanya lagi, “Siapa orang yang menyertaimu ? ” Jibril menjawab, “Aku bersama Muhammad”, Mereka bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?”, Jibril menjawab, “Ya”, Mereka lalu menyambut “Selamat datang ditempat kami.” Kemudian Rasulullah SAW bermikraj menuju langit ketiga, dan para malaikat penjaga langit itupun mengatakan hal yang sama dengan pertanyaan-pertanyaan malaikat yang ada dilangit pertama dan kedua. Kemudian Rasulullah SAW bermikraj menuju langit keempat. Mereka juga mengatakan hal yang sama. Begitupula halnya ketika Rasulullah SAW sampai dilangit kelima, keenam dan ketujuh. Dari tiap langit itu semua, Rasulullah SAW selalu berjumpa dengan para Nabi. Diantara nama-nama mereka yang aku (Rasulullah) kenali adalah : Nabi Idris dilangit kedua, Nabi Harun dilangit keempat. Disamping itu masih banyak nama-nama para Nabi lainnya, yang aku jumpai dilangit kelima. Lalu Nabi Ibrahim as dilangit keenam, serta Nabi Musa as dilangit ketujuh yang menyebut keagungan kalam Allah SWT. Nabi Musa berkata, “Wahai Tuhanku! Aku tidak menyangka sama sekali jika ada seseorang yang akan Engkau angkat dan bertemu denganku (disini).” Setelah itu, Rasulullah SAW terus naik yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Allah SWT. Akhirnya Rasulullah SAW sampai kesidratil Muntaha dan disitulah Allah turun menemui beliau dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Kemudian Allah menurunkan wahyu agar umat Rasulullah menunaikan 50 kali shalat dalam sehari-semalam. Rasulullah SAW kemudian turun dan berjumpa dengan Nabi Musa. Sengaja Nabi Musa mencegat beliau untuk menanyakan, “Wahai Muhammad, apa yang telah dibaiatkan Tuhan kepadamu ?”, Rasulullah menjawab,”Tuhan membaiat aku untuk menunaikan 50 kali shalat dalam setiap siang dan malam hari.” Nabi Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu menunaikan hal itu. Oleh karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan (dispensasi) buat engkau dan umatmu.” Lalu Rasulullah SAW menoleh kepada Jibril seakan-akan beliau hendak memberi isyarat mengenai pernyataan Nabi Musa tersebut. Lantas malaikat Jibrilpun mengisyaratkan bahwa jika hal itu yang terbaik menurut Rasulullah SAW, maka Jibril hanya bisa menurut.

Kemudian Rasulullah SAW naik dan menemui Allah SWT, seraya memohon, “Wahai Tuhanku, berilah kami keringanan, karena sesungguhnya umatku tidak mampu menunaikan-perintah ini-“. Lalu Allah SWT menurunkan 10 shalat. Setelah itu Rasulullah SAW kembali dan Nabi Musa pun sudah mencegatnya. Pada waktu itu, Rasulullah SAW bolak-balik antara Allah dan Nabi Musa. Sampai akhirnya Allah SWT mewajibkan 5 kali shalat. Akan tetapi Nabi Musa masih mencegat Rasulullah SAW ketika perintah shalat hanya tinggal 5 waktu. Nabi Musa berkata, “Wahai Muhammad, sungguh aku telah berusaha mempraktekkan hal itu kepada Bani Israel kaumku. Bahkan yang lebih ringan dari inipun mereka masih tidak mampu dan malah meninggalkannya. Padahal, umatmu itu lebih lemah jasad, hati, fisik, penglihatan maupun pendengarannya. Oleh karena itu kembalilah engkau kepada Tuhanmu dan mintalah dispensasi kembali.” Setiap kali Rasulullah SAW mendengarkan pendapat Nabi Musa, beliau selalu menolah dan memberi isyarat kepada Jibril. Namun Jibril selalu tidak meragukan alasan-alasan Nabi Musa. Kemudian Rasulullah menghadap Allah lagi, disaat perintah shalat hanya tinggal 5 waktu. Beliau memohon, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya umatku itu lemah jasad, hati, fisik, penglihatan maupun pendengarannya. Maka berilah kami dispensasi.” Kemudian Allah SWT berfirman, “Wahai Muhammad, aku sudah mengabulkan permintaanmu semoga engkau bahagia.” Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT sudah tidak akan merubah ketetapan-Nya lagi padaku, sebagaimana Allah telah mewajibkan kepada kalian didalam Al-Kitab.” Rasulullah SAW bersabda lagi, “Setiap satu amal kebajikan akan dibalas 10 kali lipat. Kalian hanya diwajibkan 5 kali, namun kalian akan mendapat 50 didalam ummul kitab.”

Setelah itu, Rasulullah SAW kembali menemui Nabi Musa dan ia berkata, “Apa yang telah engkau perbuat ?” Rasulullah menjawab, “Aku memohon kepada Tuhanku agar memberikan kami dispensai, lalu Allah memberikan setiap satu kebajikan dengan balasan 10 kali lipat.” Nabi Musa berkata, “Sungguh aku telah mencoba melaksanakan perintah yang lebih ringan dari hal itu kepada Bani Israel, kemudian mereka beramai-ramai meninggalkannya. Oleh karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah dispensasi kembali.” Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Nabi Musa! Sungguh aku benar-benar merasa malu, dan takut berbuat salah kepada Tuhanku.” Lantas Nabi Musa berkata, “Kalau begitu sekarang turun dengan menyebut asma Allah SWT.” Rasulullah SAW bersabda, “Setelah itu aku terbangun dan aku sudah kembali berada di Masjid Al-Haram” (HR. Bukhari dalam shahih 3570 dan 7517, Imam Muslim dalam shahih 262).

Bersambung.

%d bloggers like this: