Rasionalitas Israk dan Mikraj (2)

Rasionalitas Israk dan Mikraj
Oleh : Armansyah
Bag. 2

>> Boleh copy-paste u/. non komersil asal menyebutkan sumbernya <<

Kaum alim ulama memang banyak berbeda pendapat mengenai masalah kejadian yang dialami oleh Nabi yang agung ini, bahwa apakah peristiwa itu terjadi secara rohani ataukah secara jasmani alias dengan tubuh kasarnya ?

Sejak abad permulaan, masalah ini senantiasa menjadi masalah ikhtilafiah atau masalah yang membangkitkan beda pendapat antara alim ulama dan mufassirin. Kita seharusnya bisa bersikap lapang dada dengan kontroversi ini, bukankah tingkat pemahaman setiap orang dapat berbeda-beda sesuai dengan cara berpikir dan penguasaan ilmu pengetahuan serta perkembangan peradaban tekhnologi pada masanya ? Mari kita mencoba untuk melakukan sebuah analisa singkat atas kontroversi tersebut dengan tetap berpegang teguh pada kaidah Al-Qur’an.

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. (QS. An-Nahl [16] :125)


Sebagian orang yang menganggap bahwa peristiwa perjalanan malam Nabi ini hanya terjadi dalam mimpi, padahal faktanya mimpi itu tidak perlu dibantah. Bagaimanapun mimpi adalah tinggal sebatas mimpi. Misalnya sebut saja Bapak Daffa yang saat ini berada dikota Palembang, lalu Bapak Daffa mengatakan bahwa tadi malam telah bermimpi pergi kekota Mekkah untuk berhaji, maka wajarnya tidak akan ada seorangpun yang bisa membantah pengalaman mimpi Bapak Daffa tersebut, karena kejadian itu sekali lagi hanyalah mimpi yang semua orang bisa memimpikan hal yang serupa atau lebih dari itu. Jarak tempuh dari kota Jakarta selaku ibu kota Republik Indonesia dengan kota Mekkah sendiri sekitar 7.908,43 Km atau dari kota Mekkah ke Palembang (tempat penulis berdomisili) sekitar 7.571 Km yang memakan waktu sekitar 9 jam perjalanan dengan pesawat udara.

Adapun orang yang berpendapat bahwa peristiwa itu terjadi dalam mimpi mencoba mengemukakan dalil Al-Qur’an :

Dan tidak Kami jadikan penglihatan (Ar-ru’yaa) yang Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia. (QS. Al-Isra [17] :60)

Menurut mereka, lafal Ru’ya adalah berarti penglihatan dalam mimpi, bukan penglihatan dalam sadar. Sebab penglihatan dalam keadaan sadar mempergunakan bentuk masdar Ru’ya(h). Terhadap alasan ini, kita kemukakan jawaban bahwa apabila penglihatan yang dimaksud dalam ayat ini adalah mimpi, maka bagaimanakah hal ini bisa menjadi ujian bagi manusia sebagaimana yang firman Allah yang ada pada lanjutan ayat 60 surah Al-Isra diatas ?

Sedangkan makna ujian bagi manusia ini ialah adanya sebagian mereka yang membenarkan dan adapula yang mendustakan. Kalau toh hal itu berupa penglihatan dalam mimpi, maka orang tidak perlu lagi memperbincangkan untuk membenarkan atau mendustakannya. Adakah pembaca pernah menjumpai orang yang membantah terhadap mimpi seseorang karena didalam mimpinya itu ia melihat atau melakukan perbuatan begini dan begitu ? rasanya secara rasional terlalu berlebihan untuk bersikap demikian, tidak mungkin ada orang yang akan membantah mimpi itu yang nota bene orang-orang kafir pada saat Rasul menceritakan peristiwa Isra dan Mirajnya pun harusnya tidak akan membantahnya bila memang peristiwa ini terjadi dalam mimpi Nabi bahkan orang-orang Islam awalpun tidak perlu goncang imannya sebagaimana riwayat dari Imam Baihaqi dari ‘Aisyah binti Abu Bakar Radhiallahu ‘anha dan riwayat Ibnu Ishaq dari Al-Hasan yang mengatakan adanya orang-orang Islam yang kembali menjadi murtad setelah Nabi menceritakan pengalaman Israk dan Mikrajnya.

Pada saat Nabi Ibrahim a.s. memandang takjub atas bintang-bintang, bulan dan matahari dilangit dalam kisah pencarian jati diri Tuhannya, kitapun mendapati penggunaan kata-kata Ru’ya. Dimana Nabi Ibrahim a.s. dikisahkan melihat dalam keadaan sadar atau melihat dengan mata kepalanya secara fisik.

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” (QS. Al-An’am [6] : 76)

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” (QS. Al-An’am [6] : 77)

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (QS. Al-An’am [6] : 78)

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS. Al-An’am [6] : 79)

Sehingga kemudian kita bisa menarik satu kesimpulan bila penglihatan yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW itu benar-benar terjadi didalam sadarnya dan diikuti oleh panca indera fisiknya. Itulah makanya penglihatan tersebut disebut berupa ujian bagi manusia lainnya, dimana timbul reaksi-reaksi dari mereka, yaitu ada yang membenarkan dan ada yang mendustakan.

Adakah mimpi itu bisa dijadikan ujian bagi orang lain ?

Dan bilapun kata-kata “Ru’yaa” disini masih tetap ingin diartikan dengan mimpi, maka tentunya mimpi disini haruslah berubah menjadi kenyataan, dan dari kenyataan inilah lantas timbul Ujian. Sehingga dengan demikian maka dapat diambil pengertian bahwa peristiwa Mikraj itu boleh jadi mula-mula dialami Rasulullah SAW dalam mimpi, kemudian mimpi itu benar-benar terwujud dalam sebuah peristiwa yang nyata.  Hal ini bisa kita tarik juga dari kesamaan pada peristiwa yang lain terhadap diri Rasulullah SAW. seperti yang difirmankan oleh Allah :

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesunguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram. (QS. Al-Fath [48] :27)

Dimana peristiwa memasuki Masjidil Haram ini mula-mula berupa impian beliau dimasa peperangan Hudaibiyah, kemudian menjadi kenyataan satu tahun berikutnya dimasa penaklukkan Mekkah. Dan tidak ada yang menghalangi Allah untuk memperlihatkan kepada Muhammad SAW mengenai peristiwa Mikraj ini dalam mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa Rasulullah bisa saja memang mengalami Mikraj dalam mimpinya, tetapi kemudian dialaminya dalam alam kenyataan dengan jasad konkretnya.

Allamah Az-Zamakhsyari melalui kitabnya yang berjudul tafsir Al-Kasysyaaf dalam rangka membela pendapat yang menyebutkan peristiwa Israk dan Mikraj terjadi tidak dalam bentuk fisik, menuliskan sebuah riwayat dari ‘Aisyah binti Abu Bakar Radhiallahu ‘anha, istri  Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam yang mengatakan bahwa jasad Rasulullah malam Mikraj itu tidak meninggalkan tempat tidurnya sehingga kejadian ini terjadi dengan rohnya5. Dari sudut ilmu sejarah, dalil yang dipergunakan disini tidak dapat dipertanggung jawabkan karena ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha pada waktu itu belum menjadi istri Nabi sehingga beliau tidak tahu apapun tentang kejadian tersebut, ditambah lagi dengan hasil penelitian dari Al-Qadhi ‘Iyad sebagaimana bisa dijumpai didalam kitab beliau Al-Syifa bahwa hadis tersebut secara matan maupun sanad adalah dhaif, lebih jauh bahkan Al-Hafiz Ibnu Dahyah menyebut hadis ini palsu. Sehingga batallah apa yang disandarkan pada hadis tersebut.

Advertisements

Rasionalitas Israk dan Mikraj (1)

Rasionalitas Israk dan Mikraj
Oleh : Armansyah
Bag. 1

>> Boleh copy-paste u/. non komersil asal menyebutkan sumbernya <<

Dalam sejarah kenabian Muhammad SAW, mungkin selain cerita mukjizat pembelahan bulan tidak ada lagi cerita yang membangkitkan kontroversi sepanjang jaman kecuali cerita Israk dan Mikraj. Ada yang memandang kisah tersebut dengan kacamata skeptis dan menganggapnya hanya sebagai khayalan dan bualan dari Nabi belaka, ada pula yang menganggap cerita tersebut sebatas rekayasa para penulis hadis dan sebagian lagi menyebutnya sebagai mimpi.

Memang untuk ukuran waktu lima belas abad yang lalu, cerita Israk dan Mikraj merupakan peristiwa yang mustahil terjadi, sejak isu keberangkatan Nabi dari Mekkah menuju ke Yerusalem yang harusnya ditempuh lima belas hari berkuda bahkan sampai terbang keluar angkasa menembus langit. Sebuah peristiwa yang perwujudannya baru sebatas imajinasi dan dongeng sebagaimana kisah-kisah mengenai Aladdin dengan karpet terbangnya atau kisah gatot kaca dengan kotang antakusumahnya. Berbeda halnya bila kita tinjau kejadian ini dari kacamata dunia modern, dimana kisah perjalanan Nabi Muhammad itu mungkin tidak akan terlalu asing, orang-orang masa kini sudah terbiasa melakukan perjalanan berbeda kota yang memiliki jarak tempuh perjalanan darat selama berhari-hari tetapi dapat dijalani pulang dan pergi pada hari yang sama dengan mengendari pesawat udara. Sehingga menjadi wajar apabila diwaktu Nabi Muhammad Saw menceritakan kejadian yang beliau alami, hal tersebut membuat heboh masyarakatnya saat itu, baik mereka yang mendukung dakwahnya apalagi mereka yang memang sejak awal memusuhinya. Pesawat terbang sendiri baru dibuat pada abad kesembilan belas Masehi yaitu dibulan Desember 1903 oleh Wright bersaudara (Wilbur Wright dan Orville Wright) dengan percobaan pertama mereka diatas padang pasir Kitty Hawk, Carolina Utara, Amerika Serikat1. Akan tetapi sangat mengherankan apabila dijaman modern sekarang ini yang masyarakatnya bahkan bukan hanya terbiasa hidup dengan pesawat udara semata tetapi juga sampai kepada pesawat ulang-alik, pengiriman ekspedisi Voyager keplanet Mars dan Saturnus, stasiun luar angkasa dan lain sebagainya yang bersifat eksplorasi jagad raya dengan mempergunakan teknologi canggih dan komputerisasi malah ikut meragukan kejadian tersebut.

Kita sangat setuju bila para ulama salaf dari berbagai tingkat dan jamannya dimasa lalu masih berselisih paham akan kejadian ini, terutama mengenai status atau metode perjalanan yang ditempuh oleh Rasul, apakah lengkap dengan jasad atau hanya dengan Nafs-nya saja atau malah hanya melalui mimpi, namun kita tidak bisa terus larut dalam kontroversi tersebut sebab kita sudah sewajarnya mempergunakan akal yang sesuai dengan tingkat peradaban jaman dimana kita hidup. Islam adalah peradaban akal karena kitab suci Al-Qur’an dibanyak ayatnya menekankan optimasi akal untuk berpikir tentang maha karya Allah dialam semesta, oleh sebab itu maka setiap muslim penerus misi Nabi Muhammad mempunyai tanggung jawab untuk mempertahankan bahkan mengembangkan misi tersebut sehingga Islam benar-benar menjadi pusat ilmu pengetahuan manusia atau menjadikannya Rahmatan lil’alamin. Sudah cukup sikap kita selama ini yang sekedar menjadi kaum pengagum akan kesempurnaan kitab suci Al-Qur’an yang kita miliki tetap bukan bertindak sebagai pelaksana apalagi selaku pembukti dari kebenaran isi dari kitab suci tersebut. Dengan modal kejujuran, kita bisa membaca sikap kita selama ini adalah selalu meminta dan menuntut agar Allah membuktikan kebenaran firman-Nya!  Padahal itu bukan menjadi kewajibannya Allah tetapi kewajiban kitalah sebagai pengemban amanah, bagaimanapun firman-firman Allah itu akan tetap benar dengan sendirinya.

Selama berabad-abad pasca runtuhnya kejayaan emas Islam di Madinah, Kufah dan Andalusia, kita hanya sibuk memperdebatkan masalah halal dan haram, bid’ah atau syubhat dan lain sebagainya. Kita telah melelahkan diri dengan urusan saling hujat dan mengkafirkan kelompok yang tidak sepaham dengan kita. Tidak ada lagi sebagian dari kita yang terkonsentasi dengan pengembangan ilmu pengetahuan berbasis Islam yang mengangkat derajat kemanusiaan melalui optimasi akalnya. Kita sudah begitu hebat saat menunjuk kesalahan orang lain tapi kita sendiri tidak pernah mengoreksi sejauh mana kejujuran dari pemahaman diri kita sendiri, apakah hanya karena pemahaman kita sama dengan orang lain atau sama seperti pahamnya ulama-ulama terkenal maka secara otomatis menjadi parameter kebenaran paham kita ? apakah hanya karena kita seorang Ahlussunnah atau seorang Syi’ahIngkar sunnah atau seorang Muktazilah atau seorang anggota apapun bentuk dan jenis jemaah Islamnya maka bisa dijadikan standar kebenaran yang obyektif ? atau justru malah menjadi kebenaran yang subyektif atau sepihak ? atau seorang

Sejak awal keberadaan kita didunia ini, Allah telah menetapkan tujuan utama kita selaku Khalifah-Nya. Beban eksistensi kita tersebut membuahkan tuntutan yang tidak dapat dihindarkan yaitu agar dapat memberikan kemaslahatan kepada apa-apa yang sudah diamanahkan kepada kita. Supaya kita dapat bernilai guna pada lingkungan disekitar kita maka diperlukanlah proses-proses pembelajaran yang sungguh-sungguh. Pernah ada satu iklan ditelevisi yang isinya kurang lebih berbunyi, “Menjadi tua itu pasti namun menjadi dewasa itu adalah sebuah pilihan”. Iklan ini menarik sekaligus memberikan kita kesadaran bahwa tanpa harus kita usahakan masa tua akan tiba, tetapi untuk menjadi dewasa kita harus menciptakannya. Bagimana cara kita menciptakannya tidak lain hanyalah melalui proses belajar dengan basis kehidupan menjadi dewasa. Artinya kehidupan ini harus dijadikan materi untuk belajar dari titik keterbatasan tertentu menuju titik kemampuan berikutnya.  Belajar bagi orang dewasa adalah mencari untuk menemukan sesuatu tentang hidup  tidak sebagaimana anak-anak yang hanya menerima dan terkadang masih jauh dari isu-isu kehidupan riilnya. Proses belajar adalah proses menanyakan sesuatu yang berasal dari pengalaman ketidaktahuan tentang apa yang akan dilakukan karena jawaban yang ditemukan saat itu tidak lagi benar untuk mengatasi situasi yang sedang terjadi. Dengan kata lain, “Learning is  experiencing by exploration and discovery”.  Pendidikan formal dibangku sekolah atau universitas belum sepenuhnya menjadi media yang mampu menterjemahkan makna belajar.  Hal ini karena makna belajar yang sesungguhnya adalah melakukan sesuatu, kemudian membebaskan diri dari situasi atau tekanan yang diakibatkan ketidaktahuan. Salah satu ciri kedewasaan yang telah terwujud dari hasil pembelajaran adalah pemahaman kita yang baik terhadap dunia konkrit. Dengan memahami bagaimana sesuatu bekerja menurut hukum alamnya, maka akan membuat kita semua menjadi bijak menjalani hidup beragama.

Kata “Iqra” merupakan jendela untuk melihat kehidupan alam semesta yang luar biasa luasnya. Ayat ini menyiratkan makna, betapa Al-Qur’an membuka cakrawala dunia ilmu pengetahuan yang dapat digali melalui kata ‘baca’. Dengan bersyariat secara benar, Islam mengalami kemajuan dibidang ilmu pengetahuan secara pesat. Dengan meningkatnya pengetahuan, kita mengenal sifat dan perilaku alam, gejala-gejala alamiah yang komplek atau musykil dapat kita terangkan dan uraikan menjadi gejala-gejala yang lebih sederhana yang mudah kita ketahui. Membiarkan diri terus berlarut-larut dalam urusan-urusan klasik yang sebenarnya sudah bisa kita pecahkan melalui jangkauan ilmu pengetahuan justru menjadikan diri kita berjalan ditempat. Kemajuan peradaban selalu menawarkan ruang dialog untuk mencegah terjadinya konflik yang ditimbulkan oleh perbedaan konsep atau persepsi. Ruang dialog itu dimaksudkan sebagai upaya menjembatani kompromi (kesepakatan sinergis) dari gap atau perbedaan yang telah terjadi. Kemajuan peradaban bukan harus dimusuhi akan tetapi diakrabi sebab kemajuan itu sendiri merupakan bagian dari bentuk “wahyu-wahyu baru ilahi” kepada hamba-hambaNya yang mau belajar.

Firman Allah : “Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. . Al-‘Alaq [96] :5)

Penyadaran diri sebagai makhluk yang serba lemah dan terbatas harusnya membuat kita menerima dengan ikhlas tahapan-tahapan wahyu baru yang diturunkan oleh Allah dalam bentuk pelajaran-pelajaran atau hikmah. Konsepsi kenabian dan kerasulan dalam hal syariat berupa tuntunan cara berinteraksi serta berkomunikasi antara makhluk dengan Al-Khaliq memang sudah berakhir pada masa kenabian Muhammad, akan tetapi konsepsi kewahyuan yang berkaitan dengan sentuhan-sentuhan ilmu Tuhan bagi peradaban masih terus berjalan seiring dengan waktu.

Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. (QS. .  Nuh [71] :14)

Kami pergilirkan hari-hari itu diantara manusia untuk menjadi pembelajaran (QS. . Ali Imron [3] :140)


Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (QS. . Al-Insyiqaaq (84) :19)


Surah pertama dalam Al-Qur’an adalah Al-Fatihah, surah ini juga dikenal sebagai surah pembuka, ummul Qur’an, surah dengan 7 ayat berulang dan sebagainya. Inilah inti dari Al-Qur’an, tanpa surah ini maka sebuah kitab tidak bisa disebut Al-Qur’an, tanpa membaca surah ini pula maka tidak sah sholat seorang muslim bahkan tanpa membaca surah ini pula menurut perhitungan matematis Dr. Rasyad Khalifah[1] berarti seorang muslim sudah menghilangkan kata sandi senilai 608 buah, karena setiap huruf dalam Al-Fatihah memiliki nilai tersendiri.

Setiap manusia, siapapun itu didalam sejarah hidupnya pasti melalui surah Al-Fatihah, artinya kita-kita ini pasti pernah memulai dari awal, dari dasar. Apa awal dari manusia? nutfahkah? mungkin jawaban ini benar, tetapi nutfah adalah pembentuk awal kemanusiaan dan bukan awal dari manusia itu sendiri. Awal kehidupan manusia dimulai sejak ia dilahirkan ibunya kedunia ini. Detik pertama dia menghirup udara maka detik itupulalah sejarah manusia tersebut dimulai. Bahkan seorang Nabi Isa Al-Masih yang proses kejadiannya tampak begitu istimewa, tidak terkecuali untuk memulai hidupnya dari seorang bayi merah. Sama seperti yang lain. (lihat rujukan QS. . Ali Imran 3 ayat 59). Dari surah Al-Fatihah ini kita diajari banyak hal, bahwa semua ayat baik yang panjang maupun yang pendek didalam Al-Qur’an akhirnya akan kembali pada surah Al-Fatihah, karena dalam surah inilah semua pujian dan doa serta pentauhidan Tuhan terintegrasi menjadi satu. Begitupula manusia, dia hakekatnya adalah bayi, semua kedudukan sosial serta harta benda yang ia miliki akan kembali pada kekerdilan dirinya dimata sang Khaliq yang serba Maha.

Sosok manusia tidak ubahnya bagaikan bulatan kecil bumi ditengah samudra galaksi yang Maha Luas dan tak hingga. Kenapa manusia masih banyak yang berlaku sombong atas semua yang dia miliki ? Dilihat secara esensinya, manusia itu telanjang, tanpa pakaian, tanpa kedudukan, tanpa apa-apa. Begitulah kira-kira cara Tuhan memandang kita (lihat rujukan Surah Al-A’raaf 7 ayat 26). Jikapun kita berkuasa, apakah iya kita berkuasa atas nafas kita ? atas udara yang kita hisap ? apa iya kita berkuasa atas setan yang ada didiri kita ? – rasanya tidak. Bahkan satu contoh yang paling ringan bahwa kita tidak berkuasa untuk menahan rasa kebelet untuk buang air. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang akan kita dustakan ? (lihat rujukan Surah an-Najm 53 ayat 55). Artinya, semua anggota tubuh kita ini bukanlah milik kita, apalagi harta dan kedudukan. Kita ini bayi, kita ini berkonsep Al-Fatihah, seharusnya kita menjadi ayat yang berfungsi sebagai pujian terhadap Allah, sebagai alat pengabdian, penyebar petunjuk bagi orang lain kepada jalan yang lurus sekaligus penolak pada nilai-nilai kebatilan, keterpurukan dan kesesatan.

Surah kedua pada mushaf adalah Al-Baqarah, yang secara harfiah berarti Sapi Betina. Seorang bayi yang baru lahir, dia memerlukan asupan susu, entah itu berupa ASI atau susu olahan yang disebut susu formula. Jika sebagai penyambung Al-Fatihah tertulis Al-Baqarah, ini tidak serta merta satu petunjuk bahwa seorang bayi harus minum susu sapi. Penyebutan sapi betina merujuk pada satu kebutuhan yang ada pada seorang bayi, dia perlu kehangatan, dia perlu nutrisi awal, nutrisi satu-satunya yang bisa ia cerna, karena tidak mungkin dia bisa mengkonsumsi produk Coca-Cola atau Fanta atau Mizone. Dia perlu susu, perlu hal yang putih, bersih dan sehat. Inilah gambaran kita, membutuhkan nilai-nilai yang lurus, yang bisa memenuhi gizi kejiwaan sebagai satu-satunya sumber asupan yang bisa kita terima agar bisa tumbuh menjadi kepribadian yang dewasa dan tangguh. Kita perlu nilai-nilai yang sehat dan benar untuk sampai pada satu pemahaman tertentu, hati dan niat ini harus bersih dan akal kita harus bisa berpikir realistis obyektif. Inilah makna ayat Al-Qur’an : hendaklah engkau berlaku adil, jangan karena kebencianmu pada sesuatu hal membuatmu gelap mata, membuatmu menjadi subyektif. (Lihat rujukan Surah Al-Maidah 5 ayat 8).

Surah Al-Baqarah merupakan satu-satunya surah terpanjang didalam mushaf Al-Qur’an. Hal ini merefleksikan bahwa manusia itu akan terus memerlukan nilai-nilai yang bersih dan sehat tadi sepanjang masa, tidak ada batasan, karenanya Nabi bersabda : menuntut ilmu itu wajib bagi seorang muslim sampai ia mendatangi kuburnya sendiri. Selanjutnya surah Al-Baqarah disambung dengan surah Ali Imran dan surah An-Nisaa’, masing-masing mewakili kedua orang tua kita, yang satu laki-laki dan yang lainnya wanita. Bahwa didalam hidup, kita tidak hanya membutuhkan nilai tetapi juga memerlukan bantuan lingkungan disekitar kita, butuh keberadaan sosok bapak dan ibu yang membuat kita menjadi aman, tentram dan damai. Secara lebih luas, kita perlu melakukan interaksi dengan semua komponen masyarakat (pria dan wanita pada surah Ali Imron dan surah An-Nisaa’ menggambarkan adanya keragaman).


Kita tidak bisa hidup sendiri, kita adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi antar sesama kita (lihat rujukan Surah Al-Hujuraat 49 ayat 13). Orang yang hanya mau bergaul dengan sekelompok kaum tertentu saja, bertaklid pada satu jemaah tertentu dan meninggalkan kaum atau jemaah yang lainnya sama seperti seorang anak yang hanya memerlukan ibunya saja atau bapaknya saja, dan jelas ini satu kepincangan. Bersikaplah yang wajar, bergaullah dengan semua komponen masyarakat tanpa membedakan apakah mereka sama jemaahnya dengan kita, sama jalan pemikirannya dengan kita atau sebaliknya. Apalagi jika ini menyangkut hubungan sesama muslim, malah Al-Qur’an berkata, satukan hubungan yang retak antar sesama saudaramu seiman, jauhi prasangka yang jahat kepadanya (lihat rujukan Surah Al-Hujuraarat 49 ayat 12). Surah kelima adalah surah Al-Maaidah yang berarti hidangan. Kata Hidangan disini adalah suatu sajian makanan.

Seorang bayi dia memerlukan asupan susu dan belaian kasih sayang kedua orang tuanya, seorang manusia perlu belajar nilai-nilai kebenaran yang obyektif dan melakukan silaturahhim terhadap sesamanya, dan dia perlu berbagi. Saat sudah menjelang dewasa usia, kita tidak lagi menjadi bayi, kebutuhan gizi kita sudah lebih besar dari susu putih didalam botol. Kita menuntut menu lain, kita mulai belajar memakan makanan yang lebih keras, lebih kejal dan lebih berasa. Semakin kita banyak belajar dan berinteraksi maka kepribadian kita seharusnya semakin meningkat, semakin menuntut lebih banyak dari sebelumnya, semakin kita belajar semakin kita merasa ilmu ini teramat sedikit, semua kekayaan pemikiran, khasanah pengetahuan harus bertambah demikian juga dengan ketakwaan maupun kesederhanaan jiwa. Inilah inti dari sabda Nabi : Sesungguhnya siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dia orang yang beruntung, tetapi orang yang hari ini lebih buruk dari sebelumnya maka dia termasuk orang yang merugi (lihat rujukan Surah Al-Ashar 103 ayat 1 s/d 3).

Telah ratusan buku yang ditulis oleh para ulama Islam menyangkut peristiwa Israk dan Mikraj Nabi Muhammad. Mulai dari yang menyorotinya secara metafisika, logika ilmiah sampai kepada yang mencukupkannya pada kajian tekstual belaka dan tidak mencapai substansi atau analisanya lebih jauh. Meski demikian, dari semua karya tulis umat Islam itu pada umumnya bisa dibagi atas dua kategori pemahaman, yaitu yang memahami peristiwa Israk dan Mikraj terjadi dengan tubuh kasarnya dan yang lain berpendapat peristiwa itu hanya terjadi dialam ruh. Dari dua pemahaman ini bermunculanlah cabang-cabang penafsiran yang terwujud sampai kepada masa kita sekarang ini.

Tulisan saya ini akan mencoba menyoroti secara kritis hadis-hadis shahih yang menceritakan kisah Israk dan Mikraj Nabi Muhammad SAW tersebut dari sisi tekstual matnnya dengan mengambil hasil pentahqiqan atau penelaahan serta hasil takhrij Syaikh Nashiruddin Al-Albani disertai sebuah usaha rekonstruksi sejarah Israk dan Mikraj itu sendiri dengan dasar-dasar argumentasi yang berbeda dengan apa yang mungkin pernah anda temui dalam buku-buku sejenis lainnya.

Akan diposting secara berkala sesuai waktu dan kesempatan yang ada …



[1] http://www.submission.org/salat19.html


Kontroversi Hisab dan Rukyat [3] : Kapan Ramadhan dan Lebaran 2008 ?

Kontroversi Hisab dan Rukyat [3] : Kapan Ramadhan dan Lebaran 2008 ?

Antara Keputusan Pemerintah dengan Ijtihad
Oleh : Armansyah
Penulis Buku “Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih”
Jejak Nabi “Palsu” dan “Ramalan Imam Mahdi”

>> Copy paste tidak dilarang selama u/. non komersial dan menyertakan sumber aslinya <<

Tulisan ini merupakan lanjutan dari 2 tulisan sebelumnya “Kontroversi Hisab dan Rukyat : Kapan Ramadhan dan Lebaran 2008 ?” (link : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/07/28/kontroversi-hisab-dan-rukyat-1-kapan-ramadhan-dan-lebaran-2008/ atau http://armansyah.swaramuslim.com/more.php?id=93_0_1_0_M dan https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/07/28/kontroversi-hisab-dan-rukyat-kapan-ramadhan-dan-lebaran-2008/ atau http://armansyah.swaramuslim.com/more.php?id=90_0_1_0_M )

Bagi yang belum membaca kedua tulisan sebelumnya, disarankan untuk membacanya terlebih dahulu sebelum membaca tulisan ini.

Dalam beberapa dekade belakangan ini, dimana terjadi silang pendapat antara pemerintah selaku pihak yang berkuasa disuatu negara (dalam hal ini khususnya dinegara kesatuan Republik Indonesia) dengan sejumlah organisasi massa serta partai Islam maupun individu-individu tertentu mengenai penentuan berbulan baru yang mencakup hari pertama Ramadhan, hari pertama Idul Fitri serta hari pertama Idul Adha telah menumbuhkan cukup banyak kebingungan ditengah masyarakat berbangsa dan bernegara. Dalam hal ini, pemerintah sebagai pejabat yang berwenang tentu saja menginginkan seluruh masyarakat yang ada dibawah otoritasnya agar mengikuti ketetapan mereka menyangkut hal-hal tersebut. Sementara kelompok yang berseberangan dengan pemerintahpun merasa bahwa mereka sebagai warga negara yang hak-haknya harus dilindungi, memiliki hak untuk menentukan sikapnya sendiri.

Sebagian ulama lokal maupun yang berasal dari Timur Tengah mencoba mengajukan dalil-dalil yang dalam pandangan mereka rojih serta shahih agar umat Islam secara keseluruhan menyepakati apa-apa yang menjadi ketetapan maupun keputusan pemerintah dimana mereka berdomisili. Salah satu diantara mereka adalah Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz yang bahkan berpendapat sekalipun pemerintah dimana umat Islam tersebut berada, menetapkan berpuasa sampai 31 hari lamanya[1]. Sejumlah dasar yang diajukan mereka diantaranya :

Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata: “Seseorang (hendaknya) berpuasa bersama penguasa dan jamaah umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.” Beliau juga berkata: “Tangan Allah Swt bersama Al-Jama’ah.” (Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juz 25, hal. 117)

“Akan ada sepeninggalku nanti para penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti caraku. Dan akan ada diantara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan
namun berbadan manusia.” Hudzaifah berkata: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Rasulullah Saw bersabda: “Hendaknya engkau mendengar dan mentaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengarkanlah dan taatilah.” (HR. Muslim dari Hudzaifah bin Al-Yaman).

“Puasa itu pada hari (ketika) kalian semua berpuasa, Idul fitri pada hari ketika kalian semua ber Idul Fitri dan Idul Adha ketika kalian semua beridul Adha” (HR. Tirmidzi)[2]

“Seburuk-buruk penguasa kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian mencaci mereka dan mereka pun mencaci kalian.” Lalu dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang (memberontak)?” Beliau bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat mereka mengerjakan perbuatan yang
tidak kalian sukai, maka bencilah perbuatannya dan jangan meninggalkan ketaatan.” (HR. Muslim dari `Auf bin Malik)

Ibnu Umar berkata: Dari Nabi Saw, beliau bersabda: “Kewajiban seorang muslim adalah mendengar dan taat dalam melakukan perintah yang disukai ataupun yang tidak disukai, kecuali bila diperintahkan melakukan maksiat. Bila dia diperintah melakukan maksiat, maka tidak ada kewajiban untuk mendengar serta taat” (HR. Muslim)

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul serta ulil amri di antara kamu. (QS. An-Nisa (4) :59)

Dalam hal ini, penulis memiliki pendapat yang agak berbeda yang juga memiliki dasar pemikiran dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Bahwa perbedaan yang dimaksudkan oleh Rasul pada hadis-hadis beliau tersebut dalam perspektif penulis bukanlah perbedaan yang menyangkut hukum-hukum keagamaan yang sudah jelas dasar serta patokannya. Tidak ada siapapun yang berhak untuk mengubah kaidah yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam urusan keagamaan. Sementara kita tahu masalah berlebaran atau beridul Adha memiliki persinggungan dengan nash-nash hukum yang sudah jelas.

Sabda Nabi Muhammad Saw :

Dari Anas, bahwa Nabi Saw melarang puasa lima hari dalam setahun, yaitu : hari raya fithri, hari raya adha dan tiga hari tasryiq. (HR. Daraquthni)

Dari Abu said dari Rasulullah Saw, bahwa ia melarang puasa dua hari, yaitu pada hari raya fithri dan hari raya adha. (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Dalam satu lafal bagi Ahmad dan Bukhari dikatakan : Tidak boleh puasa pada dua hari. Sementara bagi Imam Muslim dikatakan : Tidak sah puasa pada dua hari.[3]

Dari hadis-hadis diatas maka bisa kita pahami bahwa bila sudah masuk hari idul fithri maupun adha kita sudah dilarang untuk melakukan ibadah puasa, artinya kita harus segera menyegerakan diri untuk berlebaran. Manakala misalnya kita mengikuti suatu ketetapan yang mengharuskan berlebaran esok hari padahal kita sudah tahu hari ini harusnya kita sudah berhari raya maka kita telah melanggar ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

Firman Allah :

Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. AL-Ahzaab (33) :36)

Wahai orang-orang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan jangan engkau berpaling darinya padahal kamu mengetahuinya. (QS AL-Anfaal (8) : 20)

Maka apabila aku perintahkan kamu dengan sesuatu, hendaklah kamu mengerjakan darinya sesanggup kamu. Dan apabila aku mencegah kamu dari sesuatu maka kamu jauhilah dia. (HR. Muslim dan Nasa’I dari Abu Hurairah)

Tentu kita maklum bahwa waktu berhari raya atau berpuasa hanyalah akibat dari suatu sebab yang ada sebelumnya. Adapun penyebab perbedaan yang terjadi sehingga menimbulkan kecenderungan untuk terjadinya pelanggaran atas nash-nash yang terkait seputar hari raya akan kembali lagi pada metode penentuan berbulan baru.

Dia-lah yang menjadikan matahari terang dan bulan bercahaya dan Dia menentukan manzilahnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. (QS Yuunus (10) : 5)

Sekarang kita akan coba mempersempit masalah dengan mengabaikan perdebatan tentang hisab dan rukyat (bil fi’li) dan kita membahas tentang adanya kesaksian sejumlah orang yang melakukan pengamatan terhadap hilal secara langsung pada tempat-tempat tertentu. Pada praktek dilapangan, seringkali kesaksian-kesaksian individu tersebut ditolak oleh pihak yang berkuasa hanya karena dalam kalendar yang berlaku dan sudah terlanjur beredar dimasyarakat tertulis hari raya baru jatuh pada hari lusa dan bukan esok hari. Kita tidak akan membahas mengenai pengaruh adanya perubahan kebijakan pemerintah terhadap kondisi politik serta perekonomian negara, karena memang ketetapan agama harusnya dinomor satukan dari semua kepentingan yang ada.

Kitab hadis “Nailul Authar” yang berisi kumpulan hadis-hadis hukum dari Nabi Saw hasil jerih payah Asy-Syaukani dari kitab Al-muntaqa Ibnu Taimiyah memuat secara khusus masalah kesaksian atas hilal ini[4]. Kita bisa melakukan introspeksi diri kita sendiri dari hadis-hadis tersebut, apakah tindakan yang dilakukan oleh pemerintah sudah melanggar ataukah memang sudah benar dalam mengikuti ketetapan Nabi Muhammad Saw mengenai hal ini. Dari sini kita bisa pula mengoreksi tentang sikap kita yang mengaminkan atau juga melakukan pembangkangan pada keputusan pemerintah (serta ulama-ulama yang menyarankan untuk mengikutinya).

Dari Umar, ia berkata : Orang-orang pada melihat bulan, lalu aku memberitahu Rasulullah Saw bahwa akupun melihatnya. Lalu ia berpuasa dan menyuruh orang-orang supaya berpuasa. (HR. Abu Daud dan Daraquthni. Tetapi Daraquthni berkata : Marwan bin Muhammad menyendiri dengan hadis ini dari Abu Wahab, sedang dia adalah kepercayaan).

Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata : Ada seorang Badui datang ketempat Nabi Saw, lalu ia mengatakan : Sungguh aku melihat bulan. Kemudian Nabi bertanya : “Apakah engkau percaya bahwa Tiada Tuhan selain Allah ?” Ia menjawab : “Ya”. Lalu Nabi bertanya lagi : “Apakah engkau juga percaya, bahwa sesungguhnya Muhammad utusan Allah ?” Ia menjawab : “Ya”. Lalu Nabi menyuruh Bilal : “Hai Bilal, beritahukanlah kepada manusia, supaya mereka besok berpuasa”. (HR. Imam yang lima, kecuali Ahmad).

Dan Abu Daud meriwayatkan juga dari hadis Hammad bin Salamah dari Simaak dari Ikrimah secara mursal (tanpa menyebut nama sahabat), semakna dengan itu, dan ia berkata : Lalu Nabi menyuruh Bilal, kemudian Bilal menyeru pada manusia : “Hendaklah mereka sholat tarawih dan berpuasa”

Dari Rib’I bin Hirasy, dari seorang laki-laki dari sahabat Nabi, ia berkata : Orang-orang berselisih tentang akhir Ramadhan, lalu datanglah dua orang Badui kemudian mereka bersumpah dihadapan Nabi Saw bahwa bulan Syawal telah nampak kemarin sore, lalu Rasulullah Saw menyuruh orang-orang agar berhari raya fithri. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Dari Abdurrahman bin Zaid bin Khattab, sesungguhnya dia berkhutbah pada hari yang ia ragu-ragu padanya sebagai berikut : Ketahuilah, bahwa aku adalah berkawan dengan sahabat-sahabat Rasulullah Saw dan pernah bertanya kepada mereka, lalu merekapun menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda sebagai berikut : “Berpuasalah kalian karena melihat bulan dan berhari rayalah kalian karena melihat bulan, dan beribadahlah kalian karena melihat bulan. Kemudian jika bulan itu terdinding awan maka genapkanlah tiga puluh hari. Tetapi jika ada dua saksi muslim yang melihatnya maka berpuasalah kalian dan berhari rayalah”. (HR. Ahmad dan Nasa’i, tetapi Nasa’I tidak menyebutkan kata-kata “muslim” pada teks “dua saksi”).

Dari Amir Mekkah, Al-Harits bin Hathib, ia berkata : Rasulullah Saw memerintahkan kita supaya beribadah karena melihat bulan. Tetapi jika kita tidak melihatnya sedang ada dua orang saksi adil yang menyaksikan bulan tersebut, maka kita pun beribadah lantaran kesaksian dua saksi tersebut. (HR. Abu Daud dan Daraquthni, Daraquthni berkata sanadnya bersambung dan shahih).

Syarah dari kitab Nailul Authar menjelaskan bahwa dua hadis yang menyebutkan “manusia melihat bulan” menunjukkan kesaksian seseorang atas datangnya hilal Ramadhan bisa diterima. Inilah pendapatnya Ibnu Mubarak, Ahmad bin Hambal serta Imam Syafe’I dalam salah satu dari dua pendapatnya. Imam Nawawi sendiri berkata : “Itulah pendapat yang lebih benar.” Akan halnya pendapat dari Imam Malik serta sejumlah Imam sunan lainnya bahwa kesaksian seseorang tidak dapat diterima kecuali dua orang adalah mengandung pengertian tidak diterimanya seorang saksi karena semata-mata paham dari apa yang tersirat, sedang yang tersurat dalam hadis tersebut adalah diterimanya seorang saksi.

Sekali lagi bila kita mengabaikan perselisihan tentang jumlah satu atau dua orang saksi yang melihat hilal dimalam dua puluh sembilan, maka adanya kesaksian untuk itu secara nash keagamaan sudah memenuhi syarat untuk menentukan awal bulan yang baru. Bila kemudian pemerintah mengabaikan kesaksian tersebut dan bersikukuh dengan pendapatnya bahwa umat baru boleh berhari raya pada lusa harinya, berarti pemerintah sudah berseberangan dengan nash-nash hukum keagamaan. Sebagai seorang muslim, maka kita juga sudah memiliki tuntunan dari Rasul yang sebelumnya dijadikan hujjah dari kelompok pertama, “Kewajiban seorang muslim adalah mendengar dan taat dalam melakukan perintah yang disukai ataupun yang tidak disukai, kecuali bila diperintahkan melakukan maksiat. Bila dia diperintah melakukan maksiat, maka tidak ada kewajiban untuk mendengar serta taat” (HR. Muslim)

Maksiat yang kita coba kaitkan disini adalah mengajak kepada jalan selain jalan Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana hal ini disampaikan oleh Imam Ali bin Abi Thalib, “Tidak ada ketaatan kepada seorang makhluk yang dapat dibenarkan jika hal itu berupa perbuatan maksiat terhadap al-Khaliq”[5]. Persatuan umat bukan menjadi alasan untuk mengabaikan nash-nash agama yang telah pasti kecuali bila memang untuk melakukannya dibatasi oleh situasi dan kondisi (misalnya seperti dalam masa Orde Baru). Adapun makna dari Ulil Amri pada surah an-Nisa ayat 59, memang oleh mayoritas ulama dinyatakan sebagai pemerintah yang berkuasa. Ahli Mufassir terkemuka bernama Imam Fakhruddin Razi yang menulis kitab “Mafatihul Gaib” (w. 1228 M) mengartikan Ulil Amri sebagai Ahli Ijmak (orang-orang yang kesepakatannya menjadi hukum yang harus ditaati). Imam Naisaburi serta Muhammad Abduh memahaminya sebagai Ahli Halli wal’aqdi (orang-orang yang mempunyai hak kekuasaan untuk membuka dan mengikat yang setiap keputusannya mengikat seluruh negara dan wajib ditaati oleh seluruh umat)[6].

Apapun defenisi yang diberikan untuk istilah Ulil Amri tersebut, penulis disini ingin menekankan bila cara kerja Ulil Amri yang terdapat dalam surah An-Nisa ayat 59 harusnya juga mengacu pada lanjutan ayat tersebut, “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama dan lebih baik akibatnya”. Sabda Nabi Saw pula, “Hendaklah kamu mengikuti dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk dimasa setelah aku”. (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Jadi kita tetap punya parameter yang tegas bahwa kepatuhan pada penguasa adalah selama mereka juga mengembalikan pengaturan hak rakyatnya yang muslim kepada tuntunan Allah dan Rasul. Al-Qur’an disisi lain memberikan petunjuk bila jumlah orang tidaklah menentukan nilai kebenaran yang mereka serukan (suara mayoritas tidak selalu berarti suara kebenaran) :

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al-An’am (6) :116)

Adapun makna Al-Jama’ah dimana menurut Imam Ahmad bin Hanbal dengan perkataannya “Tangan Allah Swt bersama Al-Jama’ah“, secara lughat berarti kumpulan, himpunan atau persatuan. Salah seorang sahabat Nabi bernama Ibnu Mas’ud diriwayatkan pernah berkata kepada Amr bin Maimun : “Al-Jama’ah adalah apa-apa yang bersesuaian dengan kebenaran walaupun engkau sendirian”. Dikesempatan lain, beliau juga berkata, “Jama’ah itu adalah apa-apa yang bersesuaian dengan ketaatan pada Allah Azza Wajalla”[7]. Imam Alipun diriwayatkan berkata, “Jama’ah itu, demi Allah, adalah kumpulan orang-orang ahli kebenaran walaupun mereka itu sedikit”[8].

Jadi al-Jama’ah itu bisa dimaknai sebagai kebersatuan dengan nilai-nilai kebenaran. Dalam hal ini adalah kumpulan satu atau lebih orang yang taat pada Allah. Sesuai firman Allah :

Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkanmu pada satu hal, yaitu supaya kamu menghadap Allah berdua-dua atau sendiri-sendiri”. (QS. Saba (34) :46)

Nabi Muhammad Saw disinyalir telah bersabda dalam satu hadis dengan status dhaif (lemah), “Sesungguhnya umatku tidak berkumpul diatas kesesatan. Maka dari itu bila kamu melihat perselisihan maka hendaklah kamu Sawadul-A’zham”. (HR. Ibnu Majah dari Anas bin Malik, kedhaifan hadis ini disebabkan salah satu perawinya bernama Hazim bin ‘Atha yang dianggap lemah oleh sebagian ahli hadis, sebagaimana kata Imam Al-Iraqy). Istilah Sawadul-A’zham pada hadis diatas sering dinisbatkan pada al-Jama’ah, sebagaimana ini dilakukan oleh ahli hadis dan fiqih terkenal bernama Imam Sofyan ats-Tsauri (w. 161 H) serta Imam Ishaq bin Rahawaih. Penafsiran tersebut tidak menyalahi lahiriah hadis tersebut yang intinya adalah untuk selalu memegang pihak yang benar, walaupun jumlahnya sedikit.

Secara psikologis manusia dengan naluriahnya akan menyederhanakan lingkungan visualnya untuk memudahkan pemahaman. Dalam setiap komposisi bentuk, kita cenderung mengurangi subyek utama dalam daerah pandangan kita ke bentuk-bentuk yang paling sederhana dan teratur. Semakin sederhana dan teraturnya suatu wujud, semakin mudah untuk diterima dan dimengerti. Penggunaan ilmu-ilmu hisab secara total dalam penentuan awal dan akhir suatu bulan pada sistem penanggalan Hijriyah terbukti merupakan metode paling akurat berkaitan dengan keteraturan dan kemudahan hasilnya. Sejumlah kekacauan yang bisa timbul dari ketidak akuratan teknik rukyat bil fi’li misalnya menyangkut ketidakjelasan penyusunan agenda atau jadwal kerja. Dimana bila kita hari ini tanggal 25 dan kita mau menentukan 8 hari kedepannya tanggal berapa persisnya haruslah menunggu sampai bulan yang sedang dijalani berakhir baru bisa menentukan tanggal berapa 8 hari dari sekarang itu. Masyarakat modern sekarang ini telah menuntut penjadwalan yang tepat dan rinci berkaitan dengan sidang-sidang maupun rapat-rapat yang akan dihadirinya berkaitan dalam aktivitasnya sehari-hari. Semua membutuhkan akurasi penyusunan agenda yang bisa diprediksi dan dikalkulasikan secara baik sehingga kerjasama dengan client dapat tercapai, kekecewaan akibat melesetnya perkiraan waktu dapat diminimalisir, perpecahan ditengah umat menyangkut kapan berpuasa dan harus berlebaran bisa dhindari serta hal-hal positip lainnya. Semua itu susah dilakukan dengan konsepsi rukyat bil fi’li.

Penulis tidak menyarankan penggabungan rukyat bil fi’li dengan rukyat bil ‘ilmi, karena sekali lagi kita sampaikan metode ini hanya akan menghasilkan kerancuan dan perpecahan. Kita sebaiknya beralih secara total pada rukyat bil’ilmi. Memang ada berbagai macam cara di berbagai negara dewasa ini untuk menentukan bulan baru melalui metode hisab atau rukyat bil ‘ilmu. Mulai dari penghitungan umur, ketinggian, atau perbedaan matahari terbenam dan bulan terbenam, hasil kalkulasi, dan seterusnya[9]. Akan tetapi semua perbedaan yang ada tersebut pada dasarnya bisa diselesaikan dengan mengembalikan konsep awal dari ijtimak atau konjungsi bulan itu sendiri dan bukan berdasar kriteria insaniah kita yang serba terbatas. Artinya perbedaan ini harusnya tunduk pada kaidah ilmu-ilmu Astronomi sebab anatara ia dan Islam harusnya memang tidak ada pemisahan. Islam sekali lagi bukan penghambat ilmu pengetahuan (termasuk Astronomi) dan Islam bukan pula bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Sehingga tidak lagi jadi persoalan apakah usia hilal baru beberapa menit, ketinggian bulan yang harus mencapai dua derajat kapan terjadinya konjungsi dan seterusnya. Bagaimanapun, ketika terjadi pergeseran antara kedudukan matahari dan bulan sehingga terbentuk hilal (sabit) tidak mungkin bisa mundur kembali yang membuat kita harus menunggu sekian jam demi memastikannya. Apabila bulan sudah masuk pada Ijtimak atau konjungsi pada nol derajat maka artinya setelah hal tersebut terjadi merupakan awal dari Bulan baru, itulah fakta kebenarannya. Pada fase sesudah konjungsi sudah pasti hilal atau sabit bulan terbentuk dan sabit bulan tersebut tidak harus dapat dilihat dengan mata telanjang, karena kemampuan mata pastilah sangat terbatas. Kita bisa melihat sabit bulan tersebut melalui ilmu pengetahuan, melalui proses hisab komputer, melalui proses pencitraan satelit dan sejenisnya. Ketinggian minimal untuk bisa melihat hilal dengan mata telanjang (tanpa alat bantu) adalah 4 derajat diatas ufuk (dengan catatan bila beda azimut bulan dan matahari saat itu sudah lebih dari 45 derajat tapi bila beda azimutnya 0 derajat maka perlu ketinggian minimal 10,5 derajat). Disinilah kita memulai memainkan rasionalitas terhadap paradigma berpikir kita yang selama ini cenderung kaku dan membatu.

Terjadinya siang dan malam telah menyebabkan adanya perbedaan waktu di permukaan Bumi kita ini. Dengan adanya pergerakan bumi dari utara keselatan dalam garis ekliptiknya maka terjadi juga pergantian siang dan malam sehingga matahari terlihat seolah terbit ditimur dan terbenam dibarat, padahal matahari tidak pernah terbit maupun terbenam. Manusia membuat persepsi yang demikian disesuaikan dengan cara pandang yang mereka hadapi dan bukan berdasar kenyataan yang sebenarnya. Oleh karena itu pula dibeberapa tempat dalam al-Qur’an, ayat-ayatnya juga ditulis atau diwahyukan oleh Allah dengan mengikuti persepsi dan pandangan mata manusia. Misalnya disebutkan bila bumi ini bagai hamparan (Surah An-Naazi’aat ayat 30, Al-Ghasyiyah ayat 20) atau kemudian dalam kisah Dzulkarnain pada Surah Al-Kahfi ayat 86 dinyatakan matahari terbenam diair yang hitam).

 



[1] Sering Terjadi Perselisihan Awal Ramadhan, Hari Raya Iedul Fithri Dan Iedul
Adha, Bagaimana Cara Menyatukan Hari Raya Kaum Muslimin ?, Oleh: Lajnah Da’imah Lil Buhuts Ilmiah Wal Ifta, sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/1652/slash/0

[2] Setelah membawakan hadits di atas, Imam Tirmidzi berkata : “Sebagian ulama mentafsirkan hadits ini dengan mengatakan, makna hadis ini bahwasanya puasa dan Idul Fitri dilaksanakan bersama al-Jama’ah dan mayoritas umat Islam”.

[3] Hadis-hadis ini dikutip dari buku : Terjemahan Nailul Authar : Himpunan hadits-hadits hukum, Jilid 3, Penerbit PT. Bina Ilmu, Terj. Mu’ammal Hamidy, Drs. Imron AM, Umar Fanany B.A, Bab : Larangan Puasa pada dua hari raya dan hari-hari Tasryiq hal. 1336-1337

[4] Disini Penulis menggunakan Terjemahan Nailul Authar : Himpunan Hadits-Hadits Hukum, Penerbit PT. Bina Ilmu

[5] Mutiara Nahjul Balaghah, Muhammad Al-Baqir, Penerbit Mizan, 1999, Hal. 130

[6] Z.A. Ahmad, Konsepsi Tatanegara Islam, Penerbit Pustaka Ilmu, 1949, hal. 51-52

[7] H. Moenawar Chalil, Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, Penerbit Bulan Bintang, 1969 hal. 395

[8] Idem hal. 396

[9] http://www.moonsighting.com/methods.html


%d bloggers like this: