Menentang Penguasa

Menentang Penguasa

Oleh : Armansyah

Ada banyak hadis yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad Saw tentang terlarangnya menentang penguasa sekalipun orang-orang yang menjadi penguasa ini menzalimi hak-hak makmumnya atau istilah lainnya adalah rakyatnya.

Benarkah demikian ?

Ada banyak hadis yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad Saw tentang terlarangnya menentang penguasa sekalipun orang-orang yang menjadi penguasa ini menzalimi hak-hak makmumnya atau istilah lainnya adalah rakyatnya.

Benarkah demikian ?

Saya sepakat kita memang ditekankan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah untuk mengedepankan adab yang baik dan positip. Tidak boleh berprasangka buruk kepada orang lain. Tidak boleh mengintai-intai untuk mencari kesalahan pihak lain.

Tetapi saat kezaliman itu merata terjadi dan berimbas pada orang lain diluar sipelaku, maka Rasulullah juga memberikan tuntunan kepada kita untuk menyikapi semua itu. Bila kita melihat suatu kezaliman/kejahatan maka kita diwajibkan untuk melakukan perubahan dengan tangan, dengan mulut dan dengan hati. Jadi action tetap harus ada. Dan action tertinggi adalah dengan perbuatan. Lebih khusus lagi maksudnya adalah bertindak nyata (bukan sekedar teori atau sidang sana sidang sini, musyawarah sana musyawarah sini).

Bagi orang kecil, perbuatan yang bisa mereka lakukan dan berani mereka tempuh hanyalah berdemonstrasi. Mereka bukan wakil rakyat yang duduk diparlemen dan bisa melakukan banyak aksi melalui meja perundingan atau pengguliran mosi tidak percaya serta berbagai hal “terhormat” lainnya. Mereka bertabrakan dengan pemenuhan hidup sehari-hari yang harus mereka perjuangkan. Tidak seperti para anggota dewan atau pejabat pemerintah yang serba punya fasilitas dan tidak pusing dengan dampak kenaikan BBM terhadap perekonomian global.

Saya memang menyayangkan sikap-sikap anarkis para demonstran, termasuk mahasiswa kita yang terkesan sangat kurang santun dan beradab. Mereka malah menciptakan ketakutan-ketakutan baru dimasyarakat melalui aksi-aksinya itu.

Dahulu Imam Ali pernah mendiamkan aksi kelompok muawiyah yang tidak puas dengan sikapnya terhadap pembunuhan Usman. Tapi ketika Muawiyah sudah dianggap keterlaluan dan memberi efek yang tidak baik dimasyarakat, Ali kemudian mencoba melakukan pendekatan persuasif. Setelah beberapa kali dicoba gagal, dia lalu mengangkat senjata untuk memerangi fitnah muawiyah tersebut. Begitupula terhadap kelompok Khawarij dan kelompok Aisyah. Ini juga yang pernah dilakukan oleh Husain terhadap pemerintahan yazid sehingga cucu Nabi tercinta itu harus wafat dengan kepala terpenggal sebagai konsekwensinya.

Inilah menurut saya yang harusnya kita ketahui dari hadis Rasul berikut :

Dari Ibnu Umar ra. berkata : Rasulullah SAW bersabda :

Wajib atas seorang muslim (untuk) mendengar dan taat (kepada pemimpin) pada apa yang ia sukai ataupun yang ia benci, kecuali kalau ia diperintah (untuk) berbuat maksiat, maka tidak ada mendengar dan taat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak ada ketaatan untuk pemerintah dalam perbuatan Maksiat, sekarang maksiat itu apa saja ? apakah hanya sebatas menyembah patung ? durhaka kepada kedua orang tua kandung ? berzinah ? membunuh saja kah ? Apakah sikap mengamini bila pemerintah mengambil kebijakan yang menyensarakan kehidupan masyarakat banyak tidak bisa dikelompokkan sebagai perbuatan menyetujui kemaksiatan ?

Maksiat adalah perbuatan melanggar perintah Allah dan melakukan apa yg dilarang-Nya. Hasil dari perbuatan maksiat tsb bisa menimbulkan suatu kezhaliman, baik kezhaliman bagi diri sendiri maupun kezhaliman bagi orang lain. Jika aku simpulkan, maksiat itu adalah salah satu perbuatan zhalim seperti halnya kufur, fasik, musyrik, mungkar, dll. Dengan kata lain apabila pemerintah sudah berlaku zhalim, maka sangat mungkin dia sudah melakukan semua perbuatan2 tersebut diatas termasuk maksiat.

Kita tetap punya hak untuk mempertanyakan semua yang kita beri pada pemerintah dari seluruh pajak serta abondemen lainnya. Sebab itu adalah uang kita juga. Kita ikut punya andil memberikan sumbangan kepada negara dari hasil upah kita, dari rumah yang kita diami, dari kendaraan yang kita kendarai, dari telpon yang kita gunakan dan seterusnya.

Pemerintah harus punya penyeimbang, harus punya oposisi dan alat kontrol independens yang melakukan kritik terhadap kebijakan yang mereka keluarkan. Masalah suara kita yang lemah ini didengarkan atau tidak, that’s not big problem I think. Kita hanya perlu untuk memberi mereka kejutan-kejutan jiwa. At least, Allah tidak tuli maupun buta. Setiap rintihan orang yang tertindas pasti akan didengar-Nya.

Bertutur kata yang santun lebih lagi saya sepakat.

Tapi ada orang-orang, kaum-kaum, pejabat-pejabat yang tidak bisa dinasehati secara baik-baik. Semakin baik cara kita, semakin out of control dan semena-mena tindakan mereka. Tentu ini bukan satu-satunya cara yang ditawarkan oleh Islam untuk membuat sebuah perubahan dalam satu tatanan masyarakat.

Mari kita lihat dan ambil pembelajarannya dari firman Allah berikut :

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim diantara mereka. (QS. Al-Ankabut [29] :46)

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (Qs. Al-Baqarah [2] :193)

Untuk berubah, kita perlu action atau tindakan nyata.
Itulah yang dimaksud oleh Nabi dengan kalimat yang kurang lebih : “Siapa saja yang menyaksikan kemungkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya.”

Islam tidak memperbolehkan kita untuk berdiam diri saat dizalimi, ada banyak solusi yang menjadi pilihan buat kita dalam menyikapi keadaan yang stagmatis seperti itu. Keadaan suatu kaum tidak akan berubah bila kaum itu sendiri yang tidak merubahnya. Demikian isi dari salah satu ayat dalam al-Qur’an.

Jadi sekecil apapun action kita, didengar atau tidak oleh pemerintah, yang jelas kita sudah mengoptimalisasikan upaya yang bisa kita lakukan. Sesuai perintah al-Qur’an. Paling tidak dimata Allah, kita bukan orang yang hanya berpangku tangan menghadapi kondisi yang sangat pahit tersebut. Kita adalah bagian dari perubahan.

Saya tidak berprasangka buruk, tapi ini semua adalah kenyataan yang harus diungkap kehadapan publik untuk bisa menjadi nasehat kedepannya agar tidak lagi terulang. Apabila masih terulang, ya itu sudah bukan salah kita lagi tentunya. Setiap orang punya pilihan dan konsekwensi masing-masing atas pilihannya itu. Kita harus bisa membedakan antara prasangka dengan bukti nyata.

Jika sebuah perbuatan buruk tersebut pengaruhnya tidak terbatas pada si individu pelakunya semata, dalam artian ia telah mempengaruhi publik, misalnya seperti dalam bentuk institusi, negara, organisasi, kelompok atau komunitas tertentu, maka keburukan seperti ini justru menurut hemat saya sangatlah wajib dibongkar dan diungkapkan kepada orang banyak agar mereka mengetahui bahayanya untuk dijauhi dan ditinggalkan supaya mereka terhindar dari bahaya tersebut.

Asas praduga tidak bersalah adalah asas berprasangka baik pada orang lain. Tapi meski begitu, asas ini tidak menutup kemungkinan untuk dibuktikan kebenarannya. Sebab bila tidak seperti itu, maka pelaku kejahatan yang berkerah putih akan terus ongkang-ongkang kaki dinegeri ini. Mereka akan selalu menebar kezaliman demi kezaliman atas dasar prasangka tidak bersalah tersebut. Inilah makanya kita harus bisa menempatkan kapan asas praduga tidak bersalah ini dilakukan. Apa bedanya dengan membuka aib orang lain, apa bedanya dengan membuktikan kesalahan orang lain yang berakibat meluas pada satu kaum.

Advertisements

Kontroversi Hisab dan Rukyat [1] : Kapan Ramadhan dan Lebaran 2008 ?

Kontroversi Hisab dan Rukyat

Kapan Ramadhan dan Lebaran 2008 ?
Bagian 1

Oleh : Armansyah

http://armansyah.swaramuslim.com

https://arsiparmansyah.wordpress.com

Penulis buku :

Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih

Jejak Nabi “Palsu”

Ramalan Imam Mahdi

>> Copy paste tidak dilarang selama u/. non komersial dan menyertakan sumber aslinya <<

A. Akar Masalah

Dari masa kemasa, umat Islam selalu berselisih mengenai  penentuan awal bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal guna menetapkan kapan mereka harus mulai berpuasa dan kapan pula saatnya mereka harus mulai berbuka atau berhari raya. Perselisihan ini tidak lain diakibatkan oleh adanya perbedaan pola pandang antara satu atau lebih kelompok muslim dengan sekelompok muslim yang lainnya terhadap dalil atau nash yang menjadi acuannya (dalam hal ini adalah al-Qur’an dan sunnah Nabawiyah). Sebagian pihak tetap mendasarkan keyakinannya pada konsepsi rukyatul hilal atau melihat fisik bulan sabit secara langsung dengan mata telanjang atau bisa juga dengan bantuan teleskop modern sebagai sarana bantunya, sementara sebagian lagi lebih memilih kaidah perhitungan matematis dalam proses penentuan kalendarisasinya.

Nabi Muhammad Saw, dipercaya telah bersabda dalam sejumlah hadisnya sebagai berikut :

Sesungguhnya kami ini segolongan umat yang ummi, kami tidak pandai menulis dan tidak bisa menghitung, sebulan itu ada yang begini dan begini, yaitu kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari (HR. Muslim dari Ibnu Umar)

Janganlah kamu berpuasa sebelum kamu melihat awal bulan dan janganlah kamu berbuka sebelum kamu melihat awal bulan. Tetapi apabila awal bulan itu tidak bisa kelihatan, maka cukupkanlah bilangannya (30). (HR. Muslim dari Ibnu Umar dengan matn yang mirip dari Abu Hurairah).

Berawal dari sunnah atau tradisi yang diwariskan dari jaman kenabian tersebut diatas, maka  sebagian dari umat Islam dijaman modern sekarang ini masih memahami perlunya memelihara tradisi rukyatul hilal ini dalam rangka penentuan awal dan akhir suatu bulan khususnya bulan Ramadhan. Akibatnya maka seperti yang lazim kita temui disetiap tahunnya menjelang Ramadhan atau ‘Iedul Fitri, mulailah orang-orang sibuk mendaki tempat-tempat tinggi seperti pegunungan, perbukitan maupun gedung-gedung perkantoran pencakar langit untuk membuktikan penampakan bulan secara fisik. Tidak kurang pula sejumlah pos-pos pengamatan didirikan  disejumlah titik diseantaro negeri dan melibatkan juga teknologi-teknologi modern seperti teleskop untuk mencapai penglihatan mereka tersebut. Dari semua hasil pengamatan ini, pemerintah biasanya mengumpulkan data-data tersebut untuk selanjutnya dibawa kesidang It’sbat yang dihadiri oleh perwakilan-perwakilan organisasi massa Islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persis dan lain sebagainya. Tidak jarang hasil yang diputuskan menuai kontroversi dari sesama peserta sidang it’sbat itu sendiri, umumnya lagi kontroversi yang terjadi justru karena pada dasarnya sejumlah laporan dari pos-pos pengamatan hilal tertentu menyatakan telah melihat penampakan bulan sementara disebagian lainnya lagi masih menyatakan tidak melihatnya atau juga telah melihat namun masih kurang jelas karena ketinggian atau juga derajat bulan yang masih berada dibawah ufuk yang selanjutnya ditentukan dengan nilai dibawah 2 derajat. Menyikapi perbedaan seperti ini, pemerintah biasanya akan mengambil keputusan menggenapkan hari Ramadhan menjadi 30 hari yang secara tidak langsung telah membatalkan adanya laporan atau kesaksian orang-orang yang melihat tampaknya bulan secara fisik. Inilah yang kemudian menjadi pemicu dari timbulnya perbedaan awal ‘Iedul fitri atau 1 syawal antara pemerintah disatu sisi dengan sekelompok organisasi massa tertentu disisi yang lainnya.

Bukankah sudah jelas sebenarnya sabda Nabi Saw berikut ini :

Puasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika
awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. Jika dua orang saksi mempersaksikan (rukyatul hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya. (HR. An-Nasa’I 4/132, Ahmad 4/321, Ad-Daruquthni, 2/167, dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab dari sahabat-sahabat Rasulullah, dengan status sanad Hasan/Baik)

Namun umumnya bagi pemerintah Republik Indonesia, khususnya pihak Departemen Agama, keputusan mereka ini dianggap sebagai keputusan yang mutlak dan berlaku atau juga mengikat bagi semua lapisan masyarakat Muslim yang ada dibawah negara kesatuan Republik Indonesia. Akan tetapi bagi orang-orang maupun organisasi massa yang berseberangan dengan pemerintah, tidak kalah vokalnya menyatakan bahwa keputusan pemerintah yang dianggap tidak sesuai dengan mereka (atau dengan nash yang mereka pahami) tidak bisa dengan sendirinya membuat keterikatan bagi setiap Muslim dalam menjalankan keyakinannya terhadap apa yang mereka anggap lebih benar dari keputusan tersebut. Pro dan kontra semacam ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Muslim di Indonesia setiap tahun, sehingga tidak jarang membuat jarak antara seorang Muslim dengan Muslim yang lainnya. Bagi orang awam, perbedaan tersebut sangat membingungkan mereka, orang yang hatinya lebih banyak untuk malas berpuasa biasanya akan condong pula mengikuti pemahaman mereka yang lebih dahulu berhari raya sementara sebagian lagi diantara mereka yang fanatik akan mencondongkan diri mereka kepihak yang berpaham 30 hari. Kedua tipikal manusia seperti ini adalah contoh dari manusia-manusia muslim yang lalai dari ketentuan nash agamanya sendiri yang mewajibkan mereka berilmu pengetahuan dibidang akidah.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS AL-Israa (17) :36)

B. Defenisi Rukyat

Perkataan Rukyat berasal dari bahasa Arab “ra’a-yara-rukyat” yang memiliki arti “melihat“. Kata-kata ini beberapa kali digunakan oleh kitab suci al-Qur’an yang bisa dipahami bila perbuatan melihat yang dimaksudkan adalah secara sadar dengan inderawi jasmani dan bukan didalam mimpi. Misalnya firman Allah kepada Nabi Muhammad Saw :

Dan tidak Kami jadikan penglihatan (Ar-ru’yaa) yang Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia. (QS AL-Isra [17] :60)

Ayat tersebut berkaitan dengan peristiwa Israk dan Mikraj. Apabila ada anggapan bahwa pengertian Ru’yaa disitu sebagai mimpi maupun khayalan, maka bagaimanakah hal ini bisa menjadi ujian bagi manusia sebagaimana yang firman Allah yang ada pada bagian akhir ayat 60 surah al-Isra diatas ? Sedangkan makna ujian bagi manusia ini ialah adanya sebagian mereka yang membenarkan dan adapula yang mendustakan. Kalau hal itu berupa penglihatan dalam mimpi, maka orang tidak perlu lagi memperbincangkan untuk membenarkan atau mendustakannya. Adakah pembaca pernah menjumpai orang yang membantah terhadap mimpi seseorang karena didalam mimpinya itu ia melihat atau melakukan perbuatan begini dan begitu ? rasanya secara rasional terlalu berlebihan untuk bersikap demikian, tidak mungkin ada orang yang akan membantah mimpi itu yang notabene orang-orang kafir pada saat Rasul menceritakan peristiwa Israk dan Mikrajnya pun harusnya tidak akan membantahnya bila memang peristiwa ini terjadi dalam mimpi Nabi bahkan orang-orang Islam awalpun tidak perlu goncang imannya sebagaimana riwayat dari Imam Baihaqi dari ‘Aisyah binti Abu Bakar Radhiallahu ‘anha dan riwayat Ibnu Ishaq dari al-Hasan yang mengatakan adanya orang-orang Islam yang kembali menjadi murtad setelah Nabi menceritakan pengalaman Israk dan Mikrajnya itu. Penegasan bila peristiwa Israk dan Mikraj yang bukan dilihat oleh Nabi Muhammad dalam mimpi ataupun khayalnya melainkan dalam wujud sesungguhnya bisa dijumpai pada ayat al-Qur’an berikut :

Hatinya tidak mendustakan apa yang sudah dilihatnya, maka apakah kamu hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya ? (QS AN-Najm (53) :11-12)

Jadi dari adanya penampakan fisik yang terlihat dengan mata kepala Rasulullah beralih pada pembenaran secara hati oleh beliau Saw. Sebagaimana inipun merupakan rangkaian peristiwa yang terjadi secara simultan sesuai gambaran dari ayat pertama surah An-Najm hingga ayat kedelapan belas.

Dilain ayat diceritakan pula pada saat Nabi Ibrahim a.s. memandang takjub atas bintang-bintang, bulan dan matahari dilangit dalam kisah pencarian jati diri Tuhannya, kitapun mendapati penggunaan kata-kata Ru’ya yang sama. Dimana Nabi Ibrahim a.s. dikisahkan melihat dalam keadaan sadar atau melihat dengan mata kepalanya secara fisik.

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS AL-An’am [6] : 76-79)

Beranjak dari defenisi rukyat ini maka dalam kaitannya dengan proses penentuan awal bulan baru pada penanggalan Islam (Hijriah) berartikan sebagai melihat dengan mata kepala lahiriah akan status visibilitas hilal atau penampakan bulan sabit dilangit secara langsung[1]. Kelemahan utama dari sistem rukyat ini ada pada keterbatasan mata inderawi kita terhadap halangan-halangan yang bisa timbul dilangit saat pengamatan, seperti cuaca mendung hingga penglihatan tertutup awan hitam, ketinggian tempat pengamatan, waktu, dan lain sebagainya. Permasalahan klasik tersebut sudah disadari juga oleh Rasulullah Saw, sehingga kemudian beliau bersabda:

Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal/bulan sabit) dan berbukalah karena melihatnya. Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya’ban tiga puluh hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis diatas dan hadis-hadis lain yang sejenis (seperti dari Ibnu Abbas dan Abi Hatim) menjadi dasar argumentasi orang-orang yang mempertahankan metode rukyat sebagai satu-satunya cara dalam penentuan awal dari masuknya bulan baru.

Beberapa ulama yang bisa disebut mewakili kemutlakan penggunaan rukyat ini misalnya Ibnu Taimiyyah (seperti yang ditulis dalam kitab Majmu’ Fatawa, 25/207) yang bisa kita anggap mewakili ulama terdahulu dan Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (seperti yang tercantum dalam kitab Al-Fatawa Juz Tsani) sebagai wakil dari ulama salaf diabad modern. Baik Ibnu Taimiyyah maupun Abdul Aziz (atau kadang kala lebih dikenal dengan nama bin Baz saja) sama-sama beranggapan bila metode hisab haram untuk diterapkan, khususnya berkaitan dengan penentuan bulan Ramadhan dan Syawal maupun untuk penentuan bulan Dzulhijjah yang masing-masingnya berisikan ibadah-ibadah penting untuk umat Islam. Argumentasi yang mereka berikan tidak lain adalah hadis-hadis yang menyebutkan tentang adanya perintah Rasulullah Saw untuk menggunakan penampakan lahiriah dalam proses tersebut. Berikut kita akan melihat juga hadis-hadis lainnya diluar yang sudah kita tuliskan sebelum ini.

“Janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari kecuali seseorang diantara kalian yang biasa berpuasa padanya. Dan janganlah kalian berbuka sampai melihatnya (hilal Syawal). Jika ia (hilal) terhalang awan, maka sempurnakanlah bilangan tiga puluh hari kemudian berbukalah (Iedul Fithri) dan satu bulan itu 29 hari.” (HR. Abu Dawud dengan nomor hadis 2327, An-Nasa’I 1/302, At-Tirmidzi 1/133, Al-Hakim 1/425, dan sanadnya dishahihkan oleh Al-Hakim dan Adz-Dzahabi bersumber pada Ibnu Abbas)

“Apabila datang bulan Ramadhan, maka berpuasalah 30 hari kecuali sebelum itu kalian melihat hilal.” (HR. At-Thahawi dalam Musykilul Atsar 105, Ahmad 4/377, Ath-Thabrani dalam Ak-Kabir 17/171 dan lain-lain bersumber pada Adi bin Hatim)

“Berpuasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. Jika dua orang saksi mempersaksikan (penampakan hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya.” (HR. An-Nasa’I pada 4/132, Ahmad 4/321, Ad-Daruquthni, 2/167, dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab dari sahabat-sahabat Rasulullah, sanadnya Hasan. Demikian keterangan Syaikh Salim Al-Hilali serta Syaikh Ali Hasan. Lihat Shifatus Shaum Nabi, hal. 29)

“Sesungguhnya kami ini umat yang ummi, tidak pandai menulis dan tidak pandai menghitung perjalanan bulan, bulan itu ada yang begini, begini dan begini, dikurangi beliau dengan ibu jari pada kali yang ketiga (29) dan bulan itu ada yang begini, begini dan begini (30)”. (HR Muslim dari Ibnu Umar)

Ibnu Taimiyyah berkata, “Dan orang yang berpijak pada hisab dalam (menentukan) hilal, sebagaimana ia sesat dalam syariat, iapun telah berbuat bid’ah dalam agama, dia telah salah dalam hal akal dan ilmu hisab.” (Majmu’ Fatawa, 25/207)

Bagi penulis pribadi (baca: Armansyah), terkait dengan kelompok yang hanya mendasarkan diri pada metode rukyat berikut fatwa Ibnu Taimiyyah atas orang-orang yang melakukan hisab. Selama fatwa itu masih dinyatakan oleh seorang manusia (dalam hal ini adalah ulama dibidang agama) yang ditarik atas dasar pemahamannya terhadap nash syar’i, maka sifatnya tidak mengikat orang diluarnya untuk mengikuti apa yang dia fatwakan -sekali lagi- berdasarkan apa yang bisa beliau pahami terhadap nash syar’i, semua orang yang berilmu dan berakal bisa memiliki pemahaman yang berbeda satu dengan lainnya atas nash tersebut. Tidak bisa dihindari bahwa pemahaman seseorang terhadap nash tertentu ditentukan oleh banyak faktor, mulai dari kondisi umat yang berlaku dimasa ia hidup, sejauhmana penguasaan beliau akan ilmu-ilmu lain dan sebagainya dan seterusnya. Bagaimanapun faktanya, Islam tidak mengenal sistem kependetaan dimana semua fatwa ulama harus dan wajib untuk di-ikuti. Agama Islam dibangun atas fondasi wahyu yang kokoh yang harus dikaji dan dipelajari secara utuh dan cerdas hingga sampai kepada ayat-ayat Muhkamat dan Mutasyabihatnya, begitupula as-Sunnah sebagai tradisi yang diwariskan oleh Nabi Saw. Jika kita kembalikan kepada konteks al-Qur’an sebagai otoritas tertinggi dalam hukum Islam, apa yang menjadi perselisihan menyangkut ru’yat dan hisab dalam penentuan bulan barunya, kita akan menemukan banyak perintah buat kita agar mau belajar dan terus berpikir agar tercapai kemaslahatan ditengah manusia dan umat dalam kerangka ibadah kepada Allah. Artinya al-Qur’an tidak menganjurkan umatnya agar bersifat statis dan dogmatis tetapi dinamis dan kreatif, Allah ingin agar kita cerdas dalam segala hal sesuai batas-batas kemampuan yang bisa kita lakukan. Olehnya sekali lagi setiap orang berhak untuk memilih jalan yang berbeda dengan yang lain dalam berpendapat atau bersikap. Kita harus menghindarkan diri dari perbuatan syiqaq atau perbedaan yang timbul karena fanatisme madzhab tanpa melihat kebenaran lain yang boleh jadi ada diluar madzhabnya.

Dinegeri Indonesia yang tercinta ini, ada kecenderungan banyak pihak untuk menyetujui kombinasi hisab dan rukyat dengan catatan-catatan khususnya. masih menurut hemat penulis (baca: Armansyah), metode ini justru tidak efektif dan cenderung hanya mengakomodir pihak-pihak yang hendak menggunakan hisab ditengah arus mainstream yang masih berpahamkan wajibnya rukyat. Sebab kriteria derajat bulan yang umumnya diwakili dengan angka dua derajat tersebut apabila kita kembalikan pada konteks nash yang mengatur mengenai masuknya awal bulan baru justru sama sekali tidak ditemukan.

Malah perbuatan itu sudah menyalahi nash-nash yang bercerita tentang pembenaran Rasulullah Saw pada kasus-kasus kesaksian sejumlah orang berkaitan penampakan bulan sabit sesudah hari kedua puluh sembilan, sehingga oleh karena itu beliau menetapkan berbuka dan berpuasa tanpa harus mempermasalahkan setinggi apa posisi bulan yang terlihat oleh orang-orang tersebut.

“Manusia sedang melihat-lihat (munculnya) hilal. Aku beritahukan kepada Nabi Saw bahwa aku melihatnya. Maka beliau berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa.” (HR. Abu Dawud nomor 2342, Ad-Darimi 2/4, Ibnu Hibban 871, Al-Hakim 1/423 dan Al-Baihaqi, sanadnya Shahih sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Hajar dalam At-Talkhisul Kabir 2/187).

“Berpuasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. Jika dua orang saksi mempersaksikan (rukyatul hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya. (HR. An-Nasa’I 4/132, Ahmad 4/321, Ad-Daruquthni, 2/167, dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab dari sahabat-sahabat Rasulullah, dengan status sanad Hasan/Baik)

Adanya kombinasi hisab dan rukyat masih menurut pemikiran saya pribadi merupakan cara berpikir yang pincang serta cenderung tidak berpendirian. Hal ini tidak lain karena sikap tersebut jelas sekali menunjukkan keragu-raguan antara berpihak pada hisab yang mengandalkan kalkulasi serta teknologi canggih sesuai jaman yang berlaku ataukah mengikuti cara-cara tradisional menggunakan rukyat dengan dasar alasan perbuatan itu adalah sunnah Rasul pada jamannya meskipun tingkat akurasinya masih bisa dipermasalahkan. Penulis lebih cenderung untuk condong pada kelompok yang terakhir, yaitu menolak secara penuh pemakaian rukyat dan menggantinya dengan hisab. Dalam pandangan Islam yang saya pahami, iman adalah pembenaran yang pasti yang sesuai dengan kenyataannya disertai dengan dalil-dalil atau argumen yang pasti kebenarannya. Jadi suatu pembenaran yang tidak pasti, tidak bisa disebut iman. Pembenaran yang pasti tersebut tidak mungkin tercapai kalau masih dilandasi argumen yang masih meragukan. Baik alasannya disandarkan pada pemikiran (dalil aqli) maupun pemberitaan (dalil naqli). Apalagi al-Qur’an berkata bahwa yang kesimpulannya, kebenaran yang kita peroleh dari berita (dalil naqli) harus terlebih dahulu dibuktikan secara akal. Artinya, sumber yang memberitakannya harus kita yakini kebenarannya secara akal. Dalam perkara keimanan, Islam melarang seorang muslim bertaklid atau hanya ikut-ikutan. Pembenaran yang pasti dari seorang muslim tidak mungkin dicapai hanya dengan ikut-ikutan, tanpa memahami permasalahan yang sebenarnya. Kaum muslimin dilarang mengikuti keyakinan-keyakinan pendahulu mereka yang bertentangan dengan Islam, lebih-lebih al-Qur’an dan pemikiran.

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, `Ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah’, mereka menjawab: `(Tidak), tetapi kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami’. Apakah mereka akan mengikuti juga walaupun nenek  moyang mereka tidak mengikuti suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah (2) :170)


[1] Termasuk menggunakan teleskop bintang maupun teropong biasa

Kontroversi Hisab dan Rukyat [2]: Kapan Ramadhan dan Lebaran 2008 ?

Kontroversi Hisab dan Rukyat

Kapan Ramadhan dan Lebaran 2008 ?
Bagian 2

Oleh : Armansyah

http://armansyah.swaramuslim.com

https://arsiparmansyah.wordpress.com

Penulis buku :

Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih

Jejak Nabi “Palsu”

Ramalan Imam Mahdi

>> Copy paste tidak dilarang selama u/. non komersial dan menyertakan sumber aslinya <<

C. Defenisi Hisab

Secara bahasa, istilah Hisab berasal dari bahasa Arab “hasaba” yang memiliki arti menghitung, memperkirakan atau juga membilang. Istilah hisab tersebut erat kaitannya dengan teknis kerja secara teoritis dan praktis yang ditunjang oleh adanya pembuktian tertentu sehingga mendapatkan hasil akhir yang tepat. Dalam konteks perbincangan hisab kedalam ilmu Astronomi atau perbintangan modern[1] maka proses kerja hisab dimasa kita sekarang ini sering dan tidak dapat dihindarkan untuk berkorelasi dengan teknologi canggih, seperti keterlibatan satelit ruang angkasa dengan berbagai pencitraannya maupun visualisasi dalam bentuk aplikasi komputer yang sudah diprogram sedemikian rupa berdasar kondisi dan pengamatan langsung oleh satelit tadi.

Dimasa lalu, hisab bisa jadi hanya berkisar hitung-hitungan diatas kertas semata sebab memang sarana untuk menjangkau penentuan posisi bulan, matahari dan benda langit lainnya dengan tingkat ketelitian atau akurasi hasil perhitungan yang dihasilkan belum memadai. Kemajuan peradaban dimasa hidup kita sekarang seyogyanya sudah mengantarkan pada satu kaidah mutlak, dimana apa-apa yang bisa dimanfaatkan guna mencapai tujuan pewahyuan al-Qur’an ditengah masyarakat menyangkut kemaslahatan tidak dapat lagi ditolak dengan dasar argumentasi klasik bila perbuatan itu belum pernah dilakukan oleh Nabi Saw. Proses hisab cenderung tidak akan terhalang oleh adanya perubahan cuaca yang fluktuatif yang dapat membatasi pandangan mata saat pengamatan. Fakta dilapangan menunjukkan bila metode hisab ini digunakan banyak orang dalam kegiatan sehari-harinya sehubungan penentuan waktu shalat maupun waktu sahur dan berbuka puasa.

Kelompok ini umumnya menolak penggunaan rukyat dan hanya mendasarkan diri pada teknis hisab semata-mata. Mereka umumnya mendasarkan diri pada kata-kata “syahida” yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 185.

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (haq dan batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu (faman syahida minkumu (al)sysyahra), dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah (2) :185)

Mereka berpendapat bahwa kata “syahida” erat kaitannya dengan pembuktian secara luas dan tidak hanya terbatas seperti penggunaan istilah “yubshiru” yang berelevansikan pembuktian penglihatan secara fisik. Istilah syahida adalah pembuktian yang bisa terjadi secara fisik ke fisik (yaitu melalui pandangan mata lahiriah) dan bisa juga dengan perhitungan akal dan logika. Contoh sederhana seperti saat kita mengucapkan dua kalimat Syahadah (“Asyhadu”). Kita tidak melihat fisik Allah, dan kita juga tidak melihat fisik Rasulullah, tetapi istilah yang digunakan didalamnya adalah kata “syahida” bukan “bashiru” atau “yubshiru”.

Istilah bulan dalam dalam bahasa Arab disebut dengan asy-Syahr atau juga Qomar. Perbedaan keduanya seringkali didefenisikan oleh banyak orang dalam hal pengertiannya, dimana asy-Syahr dimaksudkan sebagai bulan dalam perhitungan kalendar sementara Qomar adalah bulan dalam bentuk fisik diangkasa. Secara etimologi, istilah Syahr memiliki bentuk lain yaitu “asy-harat” yang artinya adalah wanita hamil yang perutnya bundar (besar dan lebar). Penyerupaan ini cocok dengan keadaan atau perwujudan dari bulan yang sesungguhnya. Intinya adalah bahwa syahr memiliki sifat yang jelas dan umum. Dengan demikian, maka Qomar dan Syahr sama-sama merujuk pada benda yang sama akan tetapi penyifatan berbeda. Selain menggunakan istilah syahr, al-Qur’an juga memperkenalkan istilah Hilal. Yaitu merupakan penunjuk pada keadaan bulan yang baru lahir (sabit).

“Dan telah Kami tetapkan bagi bulan garis edarnya, sehingga (setelah dia sampai ketitik edar tertentu) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua”. (QS Yaasin (36) :39)

Penentuan awal bulan (bulan baru) ditandai dengan terlihatnya wujud  bulan seperti sabit untuk pertama kali setelah proses konjungsi atau ijtimak. Ijtimak sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti berkumpul. Dalam hal ini yang dimaksud Ijtimak adalah peristiwa dimana Bumi, Bulan dan Matahari berada sejajar dalam garis meridian yang sama. Ijtimak terjadi setiap 29,531 hari sekali, atau disebut pula satu bulan sinodis. Setiap siklus 30 tahun pada sistem penanggalan Hijriyah, maka 11 tahun dijadikan tahun kabisat (dimana pada tahun kabisat ini bulan Dzulhijjah dijadikan 30 hari) sehingga jumlah hari dalam satu tahunnya berjumlah 355 hari. Sistem penanggalan ini juga memiliki 11 hari yang lebih cepat dari kalender Masehi, hal ini karena sistem tersebut menggunakan siklus sinodis bulan. Satu kali putaran sinodis dari bulan adalah 29.530588 hari atau tepatnya lagi adalah selama 29 hari 12 jam 44 menit 03 detik.

Pada saat terjadinya ijtimak, bulan tidak dapat terlihat dari bumi, karena permukaan bulan yang nampak dari bumi tidak mendapatkan sinar matahari. Dengan terbenamnya bulan sesaat sesudah terbenamnya matahari dalam penglihatan dibumi dikenallah istilah Bulan Baru. Sebagai konsekwensi maka keesokan harinya sudah harus dinyatakan sebagai awal tanggal pertama bulan Hijriyah berikutnya.

Berdasar kriteria inipula sejumlah organisasi massa Islam di Indonesia dan juga dunia menetapkan sistem penanggalan Hijriyah. Konsepsi ini dikenal pula dengan istilah Wujudul Hilal (ijtimak qoblal qurub). Melalui pembelajaran yang mendalam tentang perjalanan bulan ini maka  kita sebenarnya sudah dapat menyusun kalender Hijriyah termasuk penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha untuk tahun-tahun yang akan datang. Hal ini menjadi praktis tanpa harus melakukan proses rukyat atau melihat fisik bulan secara langsung dengan mata lahiriah manusia.

Jika kita kembalikan kepada konteks al-Qur’an sebagai otoritas tertinggi dalam hukum Islam, apa yang menjadi perselisihan menyangkut ru’yat dan hisab dalam penentuan bulan barunya, kita akan menemukan banyak perintah buat kita agar mau belajar dan terus berpikir agar tercapai kemaslahatan ditengah manusia dan umat dalam kerangka ibadah kepada Allah. Artinya al-Qur’an tidak menganjurkan umatnya agar bersifat statis dan dogmatis tetapi dinamis dan kreatif, Allah ingin agar kita cerdas dalam segala hal sesuai batas-batas kemampuan yang bisa kita lakukan. Tidak dapat dipungkiri bila dalam proses penghisaban hilal, ada banyak metode yang digunakan. Diantaranya, Hisab Urfi, Hisab Taqribi, Hisab Haqiqi, Hisab Haqiqi Tahqiqi dan Hisab Kontemporer. Perbedaan diantara semua metode hisab ini terletak pada akurasi hasil akhirnya akibat perbedaan penggunaan rumus-rumus perhitungan dalam hal ketinggian hilal dari batas ufuk. Metode hisab kontemporer atau disebut juga hisab modern sudah menggunakan alat bantu komputer melalui bahasa-bahasa pemrograman terkini yang diintegrasikan dengan algoritma terperinci berdasar keadaan yang sebenarnya yang diperoleh melalui hasil pencitraan satelit.

Beberapa contoh aplikasi komputer yang sudah dibuat untuk hal ini dengan tingkat ketelitian hasil yang tinggi dan cenderung akurat (High Accuracy Algorithm) adalah Virtual Moon Atlas, Jean Meeus, VSOP87, ELP2000 Chapront-Touse, Almanac Nautica, Accurate Times, Mooncalc, Starrynight Pro, Winhisab, Mawaqit, Hallo Northern Sky, Lunar Calendar & Eclipse Finder,  Lunar Atlas, LunarPhase, dan seterusnya. Dari beberapa aplikasi tersebut diatas, maka penulis lebih merekomendasikan pemakaian aplikasi Virtual Moon Atlas buatan Christian Legrand dan Patrick Chevalley untuk proses hisab bulan. Aplikasi tersebut dapat didownload secara bebas dari situsnya di Internet (file masih dalam format ISO) dengan alamat http://www.astrosurf.com/avl, versi terakhir saat tulisan ini dibuat adalah 3.5 dengan besar kapasitas file 500 MB sebelum proses instalasi.

Sekaitan dengan ini, melalui bantuan aplikasi komputer Virtual Moon Atlas (http://www.astrosurf.com/avl) kita akan mencoba melihat simulasi kedudukan bulan pada Iedul Fitri 1429 H. Pada penanggalan kalendar yang berlaku resmi di Indonesia untuk tahun 2008, 1 Syawal 1429 H ditulis jatuh pada hari Rabu tanggal 01 Oktober 2008. Artinya proses konjungsi telah terjadi pada tanggal sebelumnya, yaitu 30 September 2008. Disini kita akan menampilkan visualisasi mulai tanggal 29 September 2008 pada pukul 18:00 kemudian visualisasi pada tanggal 29 September 2008 pukul 23:59 sampai dengan visualisasi pada tanggal 30 September 2008 pukul 07:00 pagi dan tanggal 30 September 2008 pukul 18:00 sore hari. Semua waktu dihitung berdasar zona Indonesia Barat (WIB) yang dapat diatur pada menu Configuration-General-Date/Time-Use computer Date and Time Zone.

Dari visualisasi simulasi yang dihasilkan oleh aplikasi komputer Virtual Moon Atlas, tampak jelas bagi kita bahwa pada tanggal 29 September 2008 pukul 18:00 Wib telah terjadi proses ijtimak. Hal ini diperkuat dengan perhitungan kita pada pukul 23:59 Wib untuk tanggal yang sama visualisasi simulasi yang dihadirkan menunjukkan posisi bulan sudah memasuki bulan baru. Pada tanggal 30 September 2008 pukul 07:00 pagi Wib, posisi bulan baru sudah terlihat dengan jelas dan posisi azimut (ketinggiannya) sendiri telah mencapai angka 4 derajat. Dengan demikian maka pada tanggal 30 September 2008, seharusnya umat Islam sudah memulai tanggal 01 Syawal 1429 Hijriyah. Bukan sebagaimana tercantum dalam kalendar nasional yang menetapkan 1 Syawal pada tanggal 1 Oktober 2008. Perhitungan yang sama juga berlaku untuk tanggal 01 Muharram 1430 Hijriyah. Pada kalendar nasional Indonesia telah ditetapkan jatuh pada tanggal 29 Desember 2008, sementara dalam simulasi  visualisasi bulan yang dihasilkan oleh aplikasi komputer Virtual Moon Atlas untuk bulan baru telah terjadi pada tanggal 27 Desember 2008 sehingga tanggal 01 Muharram 1430 Hijriyah mestinya jatuh pada tanggal 28 Desember 2008 dan bukan tanggal 29 Desember.

Menariknya disini, perhitungan dan simulasi yang dihasilkan oleh aplikasi komputer Virtual Moon Atlas tersebut memiliki padanan yang nyaris sama dengan penanggalan bulan yang disusun oleh National Aeronautics and Space Administration yang biasa disingkat NASA, yaitu Badan Ruang Angkasa milik pemerintahan Amerika Serikat. Dalam situsnya di Internet[2], NASA menyajikan penanggalan bulan yang dibuat berdasar fase perjalanan bulan selama satu abad. Perhitungan tersebut didasarkan pada standar waktu Universal (GMT).


Dengan tidak mengurangi penghormatan kita terhadap orang-orang yang memegang teguh pandangan diatas, maka sebenarnya apa yang dimaksud dengan melihat bulan sabit setelah ijtimak terjadi sehingga menghasilkan kepastian dan kejelasan mengenainya memiliki maksud untuk membuktikan sudah masuknya bulan baru atau syahida asy-syahr. Secara keilmuan, khususnya Astronomi modern yang sudah sampai pada taraf sedemikian majunya seperti jaman kita sekarang ini hal tersebut jelas-jelas bisa dilakukan tanpa kita harus melakukan rukyat secara lahiriah. Dengan kata lain maka kita bisa merukyat bil’ilmi atau bil’aqli. Tindakan ini tidak harus disikapi secara frontal sedemikian rupa sehingga seolah-olah kita maupun orang-orang lain yang melakukannya telah keluar dari garis ketentuan agama, hanya karena perbuatan ini tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw.

Sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkaitan dengan penentuan bulan baru pada masanya yang merujuk pada visualisasi secara lahiriah bila kita lihat secara jujur dan pikiran terbuka (open minded) sama sekali tidak bertentangan dengan penetapan untuk hal yang sama dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan hasil kemajuan teknologi modern.

Bagaimana bisa kita berpendapat seperti itu, maka inilah argumentasi kita :

Nabi Muhammad Saw bersabda, “Sesungguhnya kami ini segolongan umat yang ummi, kami tidak pandai menulis dan tidak bisa menghitung, sebulan itu ada yang begini dan begini, yaitu kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari”. (HR. Bukhari, Muslim dan lain-lain)

Hadis diatas bisa kita lihat sebagai sebuah pengakuan yang jujur dari pribadi Nabi Muhammad Saw mengenai status peradaban umatnya saat itu. Dimana mereka disebutkan tidak pandai dalam hal ilmu pengetahuan (termasuk baca, tulis dan menghitung). Jadi, jika ternyata umat beliau sekarang ini sudah lebih pandai dalam hal tersebut ketimbang umat dimasa lalu, maka seyogyanyalah kepandaian ini dipergunakan dalam kerangka menetapkan apa-apa yang sebelumnya sering menjadi keraguan akibat keterbatasan yang ada. Hadis tersebut menjadi parameter lain untuk kita bila Nabi Muhammad Saw secara tidak langsung mengakui adanya metode lain diluar dari apa yang biasa beliau dan umatnya gunakan untuk penentuan bulan baru. Memang tidak menutup kemungkinan bahwa dimasa Nabi Saw hidup, ada orang-orang tertentu yang bisa melakukan proses penghitungan bulan atau merukyat bil’ilmi, akan tetapi karena cara dan bentuk kepastian dari metode ini belum bisa disebut akurat akibat keterbatasan kondisi peradaban dimasa itu maka Nabi Saw belum menggunakan metode seperti ini.

Masalah ini erat kaitannya dengan situasi dan kondisi masyarakat pada waktu itu, yakni mereka pada umumnya tidak dapat menulis dan menghitung. Ini berarti jika kondisi yang disebutkan dalam hadits tersebut tidak ditemukan lagi, maka tidak ada keharusan melakukan rukyat dan sebagai alternatifnya adalah kebolehan melakukan hisab. Jadi, ke-ummi-an umat merupakan ‘illat dari perintah ditetapkannya rukyat. Dengan demikian, yang menjadi al-ashl adalah rukyat  yang secara jelas telah ditetapkan oleh nash hadis. Kemudian obyek yang akan ditentukan hukumnya adalah status hisab, karena penetapan hisab secara eksplisit memang tidak ditegaskan oleh nash hadis tersebut. Oleh karena itu, hisab berposisi sebagai al-far’u dalam kasus ini. Sedangkan yang menjadi hukm al-ashl adalah keharusan melakukan rukyat dalam menentukan bulan baru. Lebih jauh mungkin perlu dipertegas juga bahwa ‘illat (sebab) selalu berjalan bersama ma’lul (musabab) dalam keberadaannya maupun ketiadaannya. Hal ini berarti untuk kasus kita diatas, apabila umat Islam telah keluar dari kondisinya yang ummi dan telah mampu menulis dan berhitung, maka dangan sendirinya hisab dapat diberlakukan. Disini saya juga akan mengutip dari bukunya Buya Hamka “Pandangan Hidup Muslim” terbitan Bulan Bintang Djakarta 1966 halaman 142 :

“Kalau misalnya hiduplah Nabi kita Muhammad Saw dijaman kita ini, agaknya akan beliau suruhkanlah Bilal bin Rabah melakukan azan dengan memakai loadspeaker dan mikrofon. Akan beliau suruhkan agaknya Mu’az bin Djabal menyebarkan Islam kenegeri Yaman, bahkan keseluruh dunia dengan memakai radio”.

Penulis sependapat dengan almarhum Buya Hamka tersebut, bahkan mungkin Nabi Saw pun akan melakukan dakwah beliau dengan memanfaatkan email, milis, handphone, chat, telekonfrens, buku, brosur dan sebagainya sesuai bentuk-bentuk penyampaian informasi yang sudah kita kuasai dijaman sekarang. Hal ini selaras pula dengan apa yang disampaikan oleh Bapak M. Hasbi Ash Shiddieqy dalam bukunya “Pedoman Puasa”, terbitan Bulan Bintang Djakarta 1960 halaman 53 :

“Perintah berpuasa sesudah melihat bulan dengan mata kepala adalah : Lil Irsyad bukan Lil Idjab yaitu melihat bulan dengan mata kepala hanyalah salah satu jalan memulai puasa tetapi bukan satu-satunya jalan. Ini hanya jalan yang ditempuh oleh umat yang belum pandai berhisab. Karenanya sangat menggelikan hati kalau orang berpuasa yang fanatik kepada lahir perintah, terus menetapkan bahwa dialah (rukyat bil fi’li) satu-satunya jalan buat memulai puasa”.

Didalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim serta Imam Ahmad yang bersumber kepada Ibnu Umar disebutkan bila Nabi Saw bersabda, “Sebenarnya bulan itu dua puluh sembilan hari, maka janganlah kamu berpuasa sampai kamu melihat bulan dan janganlah kamu berbuka sampai kamu melihatnya. Jika mendung, “kadarkanlah” olehmu atasnya (Fa in ghumma ‘alaykum faqdurulah)”.

Imam Nawawi (1983, juz 7, hal. 190) mengatakan bila umumnya hadis-hadis tersebut diatas membagi pemahaman tentang perlunya melihat hilal (bulan sabit) bagi orang yang akan berpuasa maupun mengakhirinya (yaitu berhari raya). Adapun menyangkut bilangan bulan yang disebut didalam hadis, yakni 29 hari, ini menurutnya berlaku dalam kondisi cuaca yang baik. Sementara dalam kondisi yang tidak baik karena tidak memungkinkan melihat hilal, maka tetap saja puasanya harus disempurnakan menjadi tiga puluh hari.  M. Hasbi Ash Shiddieqy masih dalam buku yang sama (hal. 49) menyatakan bahwa ulama berbeda pendapat dalam mengartikan perkataan faqdiru atau “perkirakanlah”. Jumhur ulama dari madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i berpendapat bahwa artinya sempurnakan menjadi 30 hari sebagaimana riwayat dalam hadis lain dari Muslim yang berbunyi “Faqduru lahu tsalatsina” atau “kadarkanlah untuknya 30 hari”, sementara yang lainnya berpendapat pergunakanlah hisab. Menurut Ibn Suraij, Muthrab Ibn Abdillah, Ibnu Qutaibah dan lain-lain sebagainya, maksud dari kata tersebut adalah mereka mengukurnya dengan suatu hitungan yang berdasar manzilah-manzilah (lintasan orbitnya). Istilah faqdiru sendiri bisa diartikan sebagai ukuran sesuatu. Kata ini memiliki makna yang sama dengan kata taqdir, yang merupakan derivasi dari kata kerja qaddara yang artinya menetapkan batas atau kadar tertentu. Arti seperti ini dapat dijumpai dalam al-Qur’an surat al-Mursalat ayat 23, dalam konteks penciptaan manusia, yaitu: “Lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan”

Selaras dengan ini, penulis pada kesempatan ini ingin merujuk pada salah satu firman Allah : “Wahai masyarakat Jin dan Manusia, jika kalian sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, silahkan lintasi, tapi kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan sulthon“. (QS AR-Rahman (55) :33)

Istilah “sulthon” bisa diterjemahkan sebagai kekuatan, dan dalam hal ini merujuk pada kekuatan akal, yaitu bagaimana memaksimalkan kemampuan akal yang ada untuk mampu menciptakan peradaban yang cerdas, berilmu pengetahuan tinggi sehingga memungkinkan untuk mengeksplorasi seluruh alam semesta ini untuk kemaslahatan hidup selaku Khalifah Tuhan dibumi. Kita maklum bila ilmu hisab atau ilmu Astronomi, merupakan salah satu masterpiece manusia yang tentu saja bisa digunakan untuk berbagai tujuan termasuk menentukan perhitungan waktu atau penanggalan sebagaimana di-isyaratkan oleh ayat-ayat yang sudah banyak kita kutipkan dibagian atas sebelum ini. Karena itulah kita akan kembali kepada konsep Iqra, konsep membaca, baca dan bacalah terus. Analisa dan teruslah menganalisa, temukanlah, manfaatkanlah semua potensi yang ada dalam diri ini. Tidak heran bila ayat ini justru yang turun pertama kepada Rasulullah Saw.

Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan,  Dia ciptakan manusia dari segumpal darah.  Bacalah karena Tuhanmu itu sangat mulia Yang mengajar dengan Qalam.  Dia mengajar manusia apa yang mereka tidak tahu
(QS AL-Alaq (96) : 1 s/d 5)

Perintah berpikir adalah perintah Allah dalam al-Qur’an, salah satunya silahkan lihat kembali akhir surah Yuunus ayat 5 : “Liqowmi ya’lamun” yang artinya, “Dia menjelaskan ayat-ayatNya bagi kaum yang mau mengetahui”. Ayat tersebut berlaku secara menyeluruh tanpa terkecuali, entah itu dalam aspek kehidupan beragama maupun bermasyarakat. Akal diberikan oleh Allah untuk berpikir, membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Tanpa akal, manusia tidak lebih dari sekedar hewan yang tidak pernah memikirkan benar salah tindakannya bahkan mungkin jauh lebih sesat daripada itu. Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul kedunia untuk memberikan petunjuk kepada manusia agar memilih jalan kebenaran, dan petunjuk Allah itu hanya bisa diterima oleh orang-orang yang mau untuk berpikir tentang hakikat kebenaran sejati. Dan berpikir yang benar didalam penerimaan tersebut adalah berpikir yang tidak hanya merenung atau asal-asalan, namun berusaha untuk mengerti, mempelajari, menyelidiki, memahami serta mengamalkan dan alat untuk itu semua adalah akal. Menisbikan peranan akal pikiran untuk menggapai keimanan sama sekali tidak layak kita terapkan, sebab hal ini akan menyamakan kedudukan kita dengan para penyembah berhala yang tidak pernah mau tahu tentang benar salahnya keimanan mereka, yang jelas mereka harus menerima dan yakin. Jika sudah begini untuk apa wahyu diturunkan ? Untuk apa para Nabi dan Rasul diutus ? Untuk apa Tuhan menciptakan manusia ? Untuk apa Tuhan melimpahkan akal ? serta untuk apa Tuhan menjadikan kebenaran dan kebatilan ?

Ditetapkannya suatu keputusan kepada keimanan berdasarkan kepuasan (kemantapan) akal. Artinya, keimanan tidak berarti mematikan akal, bahkan Islam menyuruh akal untuk beramal pada bidangnya sehingga mendukung kekuatan iman. Ibnu Taimiyah bahkan pernah mengatakan, “Sesuatu yang diketahui dengan jelas oleh akal, sulit dibayangkan akan bartentangan dengan syariat sama sekali. Bahkan dalil naqli yang shahih tidak akan bertentangan dengan akal yang lurus, sama sekali. Kita tahu bahwa para Rasul tidak memberikan kabar dengan sesuatu yang mustahil menurut akal” (Dar’u Ta’arrudhil ‘Aql wan Naql, 1/155, 138)


[1] Masyarakat ada juga yang masih menggunakan istilah ilmu falak

[2] Phases of the Moon: 2001 to 2100, http://sunearth.gsfc.nasa.gov/eclipse/phase/phases2001.html

%d bloggers like this: