Penyalahgunaan nama FAKTA

“FAKTA” DIBOBOL TERORIS

Forum Anti Gerakan Pemurtadan (FAKTA) merupakan forum Dakwah Amar Makruf Nahi Munkar yang memfokuskan diri pada pembinaan aqidah Islamiah dan pencegahan pemurtadan senantiasa menempuh jalan kedamaian dan kesejukan. Sehingga keindahan Islam bisa dirasakan tidak hanya oleh umat Islam, tetapi juga oleh umat lainnya.

Terbongkarnya jaringan teroris yang menempel di FAKTA Palembang mengejutkan dan membuat kemarahan anggota FAKTA. Ternyata citra baik yang selama ini dibangun dengan susah payah dapat dihancurkan oleh teroris hanya dalam waktu sekejap.

Kami merasa sangat sakit atas penyusupan teroris di tubuh FAKTA Palembang, dan ini merupakan kecelakaan besar bagi FAKTA karena tidak mampu membentengi diri dari ilfiltrasi teroris.

Bagaimanapun juga cara kerja FAKTA tidak akan pernah sejalan dengan cara teroris yang membahayakan umat Islam sendiri. Apabila kita berbicara tentang bangsa Indonesia, berarti kita berbicara umat Islam. Sebab mayoritas penduduk negeri ini adalah muslim. Seandainya terjadi peledakan bom dan kasus terorisme mencuat lagi, maka wajah Islam Indonesia akan tercoreng hitam, sekaligus mengakibatkan ekonomi bangsa yang penduduknya mayoritas muslim ini lebih terpuruk, dan dakwah Islam akan terhambat lagi seperti masa
lalu setelah kasus Komando Jihad (Komji) terkuak pada tahun 1970 – 1980.

Oleh karena itu kami menghimbau kepada seluruh yang terkait dengan jaringan teroris, janganlah melakukan hal-hal yang merusak di negeri kami.

Dewan Pembina FAKTA

Masyhud SM
masyhud_sm@yahoo.com

Diantara langkah-langkah yang telah ditempuh oleh FAKTA selama ini, antara lain:

1. Pada tahun 1993 FAKTA mengkordinasi ketua-ketua Remaja Masjid se-Kabupaten Sidoarjo – Jawa Timur untuk memprotes SCTV melalui harian Jawa Pos. Karena SCTV yang waktu itu bermarkas di Surabaya menayangkan film Hostage yang melukiskan bahwa orang Islam itu suka kekerasan, haus darah dan terorisme. Direktur SCTV dan RCTI waktu itu, Dr. Edward Depari, meminta maaf kepada umat Islam.

Berita protes Remas Sidoarjo dan permohonan maaf directur SCTV dan RCTI di muat di Jawa Pos tiga hari berturut-turut. Alhamdulillah kemarahan umat Islam teredam.

2. Pada tahun 1995 pembina FAKTA, Masyhud SM, mengajak dialog terbuka dengan Pdt. Herman OTM Simanjuntak (Abdul Masih) yang menghembuskan berita bohong bahwa K.H. Abdullah Wasi’an (Pembina FAKTA) kalah berpolemik dengannya. Herman keberatan dialog terbuka dan tidak mau dialognya direkam. Dialog dilaksanakan secara tertutup pada hari Jum’at, 20 Oktober 1995 di kantor Nehemia Christian Center, jl. Proklamasi 47 Jakarta. Dialog hanya berlangsung selama 15 menit, karena Pdt. Herman OTM Simanjuntak
tidak bisa menjawab seluruh pertanyaan Masyhud SM.

Nehemia Christian Center didirikan dan dipimpin oleh Pdt. dr. Suradi yang pernah kalah berdebat dengan KH. Abdullah Wasi’an. Harapan FAKTA ingin berdialog terbuka dengan pihak Nehemia lagi bubar, karena FUI (Forum Ulama Islam) Jawa Barat memvonis hukuman mati terhadap Suradi yang pekerjaannya memutar balik penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an.

Sendainya dialog terbuka terlaksana, insya Allah FAKTA bisa membuktikan dan mempermalukan di depan public bahwa Pdt. Dr. Suradi dan rekan-rekannya hanyalah penipu ulung yang selalu mengelabui umat Kristen tentang Islam.

3. Pada tahun 1999 Berkordinasi dengan pejabat berwenang di Kabupaten Tebo Jambi untuk membatalkan pentahbisan beberapa Pastur di pemukiman Tranmigran yang dikordinasi oleh Paroki Palembang. Agar penghuni pemukiman tersebut yang 99% beragama Islam tidak marah, pihak berwenang menyarankan agar acara tersebut dibatalkan.

Kemudian FAKTA mendatangi Pastur paroki Palembang yang berasal dari Wonogiri Jawa Tengah. FAKTA meminta, sebelum menyebarkan Kristen di tengah umat Islam, pastur menjawab pertanyaan seputar kepalsuan ayat Trinitas yang terdapat pada I Yohanes 5:6-8. Sang pastur dari Jawa Tengah ini tidak mampu
menjawabnya, dan keberatan untuk menerima kunjungan FAKTA berikutnya, karena malu tidak bisa menjawab pertanyaan.

4. Mempelopori dialog masalah terorisme yang diselenggarakan oleh Lembaga Studi Lintas Agama Forum Mahasiswa Bandung, yang dilaksanakan di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Apostolos Jakarta.

Yang memberi sambutan dan yang membuka acara tersebut adalah Pdt. Prof. Dr. Yusuf Roni, pendiri dan ketua STT tersebut.

STT ini menyiapkan pemimpin Kristen dan teolog independent yang mampu berkomunikasi dengan “dunia Islam”. Untuk mencapai target itu, STT Apostolos memberi mata kuliah keahlian khusus (MKK) Studi Islamika 36 SKS. Dosen pengajar studi Islam ini adalah dosen IAIN (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jauh sebelumnya, FAKTA sudah mengetahui bahwa Yusuf Roni adalah pendeta pembohong asal Palembang. Ia lahir dari hasil hubungan haram ibunya dengan komandan tentara Jepang yang menguasai bandara Palembang. Di masa kecil, Yusuf menjadi anak angkat H. Abdul Ghoni Roni yang biasa dipanggil Haji Totong, seorang kontraktor di Stenfek (sekarang Pertamina) Palembang.

Sekitar tahun 1966 dia mengikuti ibunya pindah ke Bandung. Di kota ini dia menemui tokoh-tokoh pemuda Islam terutama yang tergabung dalam KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) untuk mengaku sebagai muallaf (baru memeluk Islam) dari agama Kristen. Dia pun diajak oleh Aminuddin Shaleh untuk menyampaikan proses perpindahan agamanya dari Kristen ke Islam di depan jamaah di beberapa masjid.

Kemudian dia lama tidak muncul, dan ternyata dia meringkuk di penjara karena kasus tindak pidana. Setelah lepas dari penjara dia menjadi pengkhotbah di beberapa Gereja dengan mengaku sebagai mantan mubaligh besar di bandung dan juri MTQ internasional. Padahal dia tidak bisa membaca Al-Qur’an.

Kedatangan FAKTA bersama para mahasiswa Islam dari Bandung ke STT Apostolos adalah langkah agar Pdt. Yusuf Roni mengingat kembali bahwa awal kebohongannya di Bandung dulu adalah penyakit yang menjangkitinya hingga sekarang yang membuatnya selalu menderita untuk menutupi kebohongan yang satu dengan kebohongan berikutnya. Penyakit itu baru sembuh jika dia mau bertobat kepada Allah SWT. Dan masuk Islam.

5. Berkordinasi dengan pejabat berwenang Bekasi menggrebeg Pdt. Edi Sapto yang telah menyekap sekitar 70 pemuda Islam Gorontalo di komplek STT Dian Kaki Mas Bekasi.

6. Ikut berperan menjaga kesejukan dan kedamaian kota Malang dan sekitarnya, ketika terbongkar kasus pelecehan terhadap Al-Qur’an yang dilakukan oleh sekitar 43 pendeta Pembina LPMI (Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia) pada 17-21 Desember di Batu Malang.

Nidom Hidayatullah, sekretaris MUI dan ketua FAKTA Malang dijuluki sebagai Man of Peace oleh salah satu harian berbahasa Inggris yang terbit di Jakarta, karena peranannya yang bisa menjaga kedamain di kota sejuk Malang.

7. Di awal tahun 2007, FAKTA meminta kepada wartawan majalah Tabligh PP Muhammadiyah untuk menemui Ruyandi Hutasoit guna meminta pertanggungjawaban Partai Damai Sejahtera (PDS) yang situsnya menghujat Islam lebih dari 1500 halaman. Dua wartawan Tabligh ditemui oleh Deny Tewu, wakil ketua umum DPP PDS di kantor partai jl. Tirtayasa Raya no. 20 Kebayoran Baru Jakarta. Deny menyampaikan permohonan maaf kepada umat Islam, atas kekhilafan partainya. Disamping itu dia menyampaikan bahwa misi PDS antara lain perjuangan mencabut SKB menteri Agama dan menteri Dalam negeri perihal kerukunan antar umat beragama dan pendirian rumah ibadah.

Wartawan Tabligh memberi pandangan, seandainya SKB dicabut niscaya terjadi chaos di Indonesia. Sebab dalam pandangan Islam. Mempertuhankan Yesus merupakan kemunkaran yang amat besar (Al-Qur’an surat Maryam 88-91). Keyakinan umat Islam, mencegah dan memberantas kemunkaran adalah kewajiban bagi setiap muslim. Apakah umat Kristen rela gerejanya dibakar karena dianggap rumah kemunkaran?

Wartawan itu melanjutkan, “umat Islam menghormati umat Kristen yang meyakini mendapatkan Amanat Agung dari Yesus untuk membaptis manusia sedunia menjadi murid Yesus (Injil karangan Matius 28:19 dan Markus 16:15). Tetapi umat Kristen juga harus menghormati keyakinan umat Islam bahwa mempertuhankan
Yesus adalah kemunkaran yang harus dimusnakan!” Deny menimpali, “wah ini yang belum saya ketahui. Informasi anda ini akan saya sampaikan pada teman-teman. Terimakasih.”

8. Membina mantan pendeta Markus Margianto yang saat menjadi pendeta mengaku Habib (keturunan Nabi Muhammad) bermarga At-Tamimi dengan nama Pdt. Habib Paulus Ali Mahrus at-Tamimi, mengaku pendiri Lasykar Jihad bersama Ust. H. Ja’far Umar Thalib, dan mantan ketua FPI Jawa Timur.

VCD rekaman kesaksian (testimony) bohong pendeta Markus di Gereja Jawi Wetan (GKJW) disebar luaskan oleh gereja ke seluruh Indonesia. Padahal gereja mengetahui bahwa Markus Margianto adalah anak pendeta Yusuf, yang sejak kecil beragama Kristen, kemudian kuliah kependetaan di Medan.

Umat Islam, terutama pihak Laskar Jihad dan FPI marah. Ketika Pdt. Markus Margianto menghubungi FAKTA, barulah terungkap bahwa sebenarnya dia ingin betul-betul memeluk Islam, tetapi bapaknya yang pendeta itu memaksa dia tetap di Kristen. Agar tidak berani masuk Islam, dia dipaksa memberi kesaksian bohong di Gereja sebagai habib.

Akhirnya FAKTA bersedia membinanya untuk menjadi muslim yang baik, meskipun dari pihak Kristen terus menerus menakuti (meneror) dia, bahwa pihak umat Islam ingin membunuhnya.


Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH
https://arsiparmansyah.wordpress.com
http://armansyah.swaramuslim.com

Advertisements
%d bloggers like this: