Asal Usul Nasab Azmatkhan (Reshared)

Ditulis oleh : Iwan Mahmud Al-Fattah
Sumber asli : https://www.facebook.com/notes/1010554665640683/

Assalamu AlaikumWarahmatullahi Wabarakatuh………

Bismillahirrahmanirrahim…….

Alhamdulillah…Segala puja dan puji marilah senantiasa kita panjatkan kepada Allah SWT yang mana hingga detik ini kita masih diberikan oleh-Nya berbagai macam nikmat, baik itu nikmat Iman, nikmat Islam dan juga nikmat sehat wal afiat sehingga pada saat ini kita masih mampu beraktifitas didalam kehidupan sehari-hari. Semoga dengan adanya nikmat-nikmat ini akan selalu membuat kehidupan kita menjadi berkah, amin… Sholawat dan salam marilah senantiasa kita curahkan kepada junjungan kita, Kecintaan kita, Manusia Yang Agung, Penutup Para Nabi & Rasul, Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW beserta para keluarganya, para Sahabatnya dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman, dan semoga kita semua akan senantiasa mendapatkan syafaat dari beliau dihari kiamat nanti. Amin Ya Robbal Alamin……

Saudara-saudariku yang berbahagia yang berada dalam ruang lingkup dunia maya..

Ada yang bertanya kepada kami, kenapa akhir-akhir ini banyak orang Indonesia dan  beberapa orang di wilayah Asia Tenggara lain, khususnya yang berkecimpung dalam dunia sejarah ataupun dunia Nasab (ilmu yang mempelajari garis keturunan) di Nusantara, dibelakang nama mereka tiba-tiba ditambahi nama yang cukup “asing” dalam khazanah bangsa Indonesia dan daerah Asia Tenggara lain. Padahal setahu mereka dahulunya orang yang memakai gelar dan nama asing tersebut bukanlah siapa-siapa dan bukan juga berasal dari negara yang identik dengan nama tersebut. Yang mereka ketahui bahwa orang-orang tersebut adalah asli orang Indonesia dan tidak ada sangkut pautnya dengan nama terbaru yang mereka sandang tersebut.

Fenomena pemakaian nama yang dirasa “aneh” ini sendiri mulai populer dalam 10 tahun ini. Nama yang selalu menjadi pembicaraan hangat tersebut adalah AZMATKHAN. Ketika nama ini muncul di tahun 2003, pada perkembangannya telah menimbulkan polemik yang cukup berkepanjangan, bahkan polemik itu sampai kepada tahap saling menjatuhkan antara satu fihak dengan fihak lain. Masing-masing fihak berpegang pada pendapatnya. Polemik itu sendiri bila kami amati sering terjadi di beberapa grup yang membahas perkembangan keturunan Rasulullah SAW yang ada di Nusantara. Sampai sekarang bila kami cermati polemik itu belum berhenti, bahkan pada perkembangannya kesini, kami melihat justru semakin memperihatinkan, dikarenakan adanya beberapa fihak yang ketika membahas tentang Azmatkhan selalu berfikiran sempit dan subyektif, yang ironis banyak juga dari mereka yang ketika membahas tentang hal  in tidak disertai kajian dan referensi yang bisa dipertanggungjawabkan, baik secara ilmiah ataupun sanad.

 Nama Azmatkhan sendiri memang sangat terasa aneh bagi lidah atau sejarah  bangsa ini. Namun kalau kita menyebut nama Walisongo dan beberapa Kesultanan Islam Nusantara seperti Kesultanan Demak, Banten, Cirebon, Palembang, tentu kita akan mengenal, padahal antara nama Azmatkhan dan Walisongo serta Kesultanan-kesultanan yang kami sebut diatas ini sangat berhubungan erat, karena ternyata Azmatkhan adalah leluhur dari Walisongo dan juga beberapa KesultananTersebut. Lagipula sebenarnya kalau  kita mau rajin mencari tentang tulisan  sejarah Azmatkhan, nama-nama tersebut sudah pernah muncul pada beberapa tulisan yang dibuat oleh beberapa Sejarawan Islam Nusantara dan juga beberapa Ahli Nasab yang konsen akan perkembangan Nasab di Nusantara ini, hanya saja mungkin tidak banyak orang yang menyadari atau mengetahui akan hal ini, kebanyakan lebih banyak “menikmati” sejarah Walisongo. Tulisan-tulisan itu bahkan sudah lebih dulu ada sebelum polemik tentang Azmatkhan muncul  dalam beberapa tahun ini.

Lantas bagaimana bisa timbul kembali nama tersebut dalam beberapa tahun ini? Padahal jelas-jelas nama tersebut, nyaris kurang terdengar gaungnya dalam sejarah Islam Nusantara. Apakah tidak terasa aneh dan berlebihan  jika orang Jawa, Sunda, Sulawesi, Kalimantan tiba-tiba dibelakang nama mereka tertera gelar Azmatkhan? Apakah tidak menjadi ejekan ketika mereka disamakandengan bintang-bintang film India? Oleh karena itu demi untuk mengetahui apa itu Azmatkhan, dibawah ini kami akan uraikan tentang sejarah nama tersebut.

 

Sebelum kita membicarakan masalah tentang  Azmatkhan, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu sejarah dan asal-usul tokoh yang dinisbatkan dengan nama ini. Kami sengaja mengenalkan terlebih dahulu tokoh tersebut, agar kedepannya ketika kita mendengar nama Azmatkhan, bayangan orang langsung melekat pada nama tokoh tersebut, lagipula bila kami cermati, diantara sekian orang yang telah “berani” memakai nama Azmatkhan, ketika ditanya siapa tokoh yang pertama memakai nama tersebut, ternyata ada juga sebagian dari mereka yang tidak bisa menjelaskan secara gamblang apa itu Azmatkhan. Padahal kalau orang sudah “berani” memakai suatu Fam/Marga, sudah seharusnya ia mengetahui sejarah atau asal usul tokoh yang pertama yang memakai Fam tersebut. Alangkah janggalnya bila kita mendapati ada orang memakai nama sebuah Marga/Fam tapi dia tidak mengetahui arti secara mendalam dari Fam tersebut.

 

Seperti tradisi pada bangsa Arab dan juga dibeberapa negara lainnya termasuk Indonesia, setiap pemberian nama panggilan (Kuniyah) ataupun gelar (Laqob) selalu saja ada latar belakangnya. Kunyah sendiri adalah salah satu Karakteristik untuk memanggil seseorang melalui ayahnya, ibunya, atau anaknya seperti menggunakan nama-nama ayah atau leluhur terkait dengan nama seseorang. Sebagai contoh : Abu Qosim (Nabi Muhammad SAW), Abu Sufyan, Abu Hasan (Sayyidina Ali), Abu Abdullah (Sayyid Jakfar Shodiq), Ummu Salamah, Ummu Qolsum, Ibnu Umar,  Ibnu Mas’ud, Ibnu Taimiyah, Ibnu Ishaq, Ibnu Rusydi. Sedangkan untuk gelar (Laqob) sering berkaitan dengan sebuah keistimewaan yang terdapat pada orang tersebut baik itu yang berhubungan dengan, Karakter, Jabatan, Keilmuan, adat istiadat,  keahlian dan lain sebagainya. Sebagai contoh yang gamblang, Rasulullah SAW mempunyai gelar (LAQOB) yang sangat terkenal yaitu AL AMIN (orang yang Terpuji), Khalifah Abu Bakar mempunyai gelar ASH-SHIDDIQ (Yang Jujur dan Yang Membenarkan), Sayyidina Umar Al Faruq ( Sang Pembeda, karena bisa membedakan mana yang benar mana yang batil), Sayyidina Usman  bin Affan/Zun Nurain (Pemilik dua Cahaya, karena telah menikahi dua putri Rasulullah SAW), Sayyidina Ali/Abu Hasan. Dalam tradisi bangsa Arab memanggil seseorang dengan panggilan yang bernisbat pada anak pertama (Kuniyah) adalah sebuah kehormatan yang sangat tinggi dan mulia. Beberapa keturunan Rasulullah SAW juga mempunyai gelar (Laqob) yang tidak kalah indahnya, seperti Sayyidina Husein Ra dijuluki Abu Syuhada (Bapaknya Para Syuhada), Imam  Ali Al Ausat dijuluki dengan Imam Ali  Assajjad/ Zaenal Abidin,  karena seringnya beliau bersujud dan juga tekun dalam beribadah.

 

Pada masa-masa awal berkembangnya keturunan Ahlul Bait Rasulullah SAW khususnya keturunan Sayyidina Husein, kebanyakan nama-nama  yang muncul belum menjadi sebuah Fam/Marga. Nama-nama panggilan (Kuniyah) atau gelar (Laqob) masih terbatas pada si pemilik nama tersebut, seperti misalnya Imam Ali As-Sajjad, Imam Muhammad Al Baqir, Imam Jakfar Shodiq, Imam Musa Al Kadzim, Imam Ali AlUraidhi, Imam Muhammad Addibaj, Imam Muhammad An-Naqib, Imam Isa Arrumi, Imam Ahmad Al Muhajir, dll. Kesemua nama yang kami sebut ini nama panggilan (Kuniyah) atau gelar (laqob) mereka kabanyakan kebawahnya tidak menjadi Fam/Marga. Fam atau Marga sendiri berfungsi sebagai identitas khusus yang dimiliki oleh setiap masing-masing keturunan dalam jumlah yang cukup besar. Di beberapa Negara sebuah Fam atau marga jumlah pemakainya ribuan dan itu terdapat pada masing-masing rumpun keluarga. Untuk Imam Musa Al Kadzim sendiri, setahu kami nama beliaulah yang dikemudian hari dijadikan nama Fam/Marga, keturunan beliau banyak di Iran dan Irak dengan Fam AL MUSAWI. Sedangkan nama-nama yang lain terutama nama panggilan jarang yang menjadi Fam/Marga.

 

Adanya nama panggilan (Kuniyah) atau gelar (laqob) yang kemudian hari menjadi Fam/Marga terutama yang berhubungan dengan keturunan Imam Ahmad Al Muhajir,justru terjadi setelah era cucunya, yaitu yang bernama Al Imam Alwi Mubtakir bin Imam Ubaidhillah Shohibul Aradh. Al Imam Ahmad Al Muhajir adalah pelopor pertama dari Ahlul Bait yang hijrah dari Basrah Irak menuju Hadramaut Yaman. Beliau Hijrah dari Basrah Irak guna menghindari banyaknya fitnah yang terjadi pada masa itu, baik dari segi kekuasaan maupun akidah. Dari Basrah Irak kemudian beliau hijrah dan menetap di Hadramaut Yaman hingga akhir hayatnya. Di Hadramaut ini beliau mempunyai anak yang bernama Imam Ubaidhillah/Abdullah yang kemudian mempunyai anak yang bernama Imam Alwi Al Mubtakir. Di era Imam Alwi Mubtakir inilah terutama para para keturunannya,julukan ataupun gelar banyak yang menjadi Fam/Marga. Keturunan Imam Alwi Al Mubtakir atau Alwi Al Awwal (Alwi Yang pertama) ini dikemudian hari menjadi sebuah Keluarga Besar yang menyebar ke seantero Hadramaut Yaman dan juga seluruh dunia. Mereka disebut “BANI ALAWI” atau Keluarga Besar “Alawiyyin” (berasal dari nama Imam Alwi Al Mubtakir). Dari Bani Alawi ini kemudian pada masing-masing keluarga tertentu mempunyai nama gelar atau julukan yang kemudian hari menjadi Fam/Marga seperti Assegaf, Al Attas, Al Jufri, Al Habsyi, Al Aidrus, Al Muhdor, Al Aidit, AlHaddad, Basyaiban, Jamalullail, Bin Syekh Abu Bakar, Bin Jindan, Al Hamid, Ba’abud, Al Haddar, dan masih banyak ratusan Fam/Marga lainnya.

 

– Nah bagaimana dengan nama Azmatkhan itu sendiri?

Adapun dalam sejarah Keturunan Rasulullah SAW khususnya keluarga besar Alawiyyin yang ada di Hadramaut Yaman, nama Azmatkhan sebenarnya telah  masuk sebagai salah satu cabang keturunan dari Al Imam Alwi Al Mubtakir bin Al Imam Ubaidhillah Shohibul Aradh bin Imam Ahmad Al Muhajir Al Husaini dan itu tercatat dibeberapa kitab rujukan nasab yang digunakan oleh beberapa lembaha nasab di Nusantara ini seperti Kitab Syamsu Zahirah dan Khidmatul Asyirah.

Dibandingkan dengan nama-nama Fam atau Marga yang dipakai oleh keluarga besar Alawiyyin yang ada di Hadramaut Yaman atau mereka yang beradadi negara lain, nama Azmatkhan memamg memiliki perbedaan dan karakter yang cukup khas dan unik, ini disebabkan karena nama Fam atau  marga Azmatkhan tidak muncul di  Hadramaut Yaman pada masa itu.  Nama Azmatkhan justru muncul di negeri India.Tentu bagi mereka yang tidak mempelajari sejarah Islam di India secara mendalam, akan menyangka jika di India akar keislamannya tidak ada hubungan dengan keluarga besar Alawiyyin, padahal pada kenyataannya peran serta keluarga besar Alawiyyin dalam menyebarkan agama Islam di India sangatlah besar, termasuk keluarga besar Azmatkhan. Mengenai hal tersebut, Sayyid Alwi bin Thohir Al Haddad (2001:164) bahkan mencatat jika keluarga besar yang berkaitan dengan Azmatkhan ini yang semula berada di Hadramaut menjadi terputus dari tanah airnya, sehingga di Hadramaut Yaman tidak terdapat lagi keluarganya, termasuk juga keluarga besar Al Qodri, Bafaraj, Khaneman. Oleh karena itu sangatlah wajar jika sampai saat ini masih banyak keluarga besar Alawiyyin yang merasa asing dengan nama Azmatkhan.

 

– Adapun kenapa nama Azmatkhan ini bisa muncul di India adalah sebagai berikut:

 

Pada tahun 569 – 575  Hijriah wilayah Hadramaut Yaman pernah mengalami berbagai pergolakan politik dan kekuasaan. Pada masa itu suasana sangat mencekam, apalagi setelah ditahlukkannya Kota Tarim oleh pasukan Turansyah Al Ayyubi. Pasukan Turansyah yang dipimpin oleh Usman bin Ali Al Zanjiliat Tikriti yang haus akan darah, telah banyak membunuh para ulama dan fuqaha yang ada di kota Tarim. Salah satu tokoh yang diincar untuk dibunuh adalah Imam Alwi Ammul Faqih bin Imam Muhammad Shohib Mirbath. Siapa Imam Alwi Ammul Faqih ini? Beliau adalah satu ulama besar di Tarim pada masa itu, beliau adalah seorang yang alim, kaya dan dermawan. Imam Alwi Ammul Faqih adalah paman Al Faqih Muqoddam atau Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath. Al Faqih Muqoddam adalah salah satu Imam Besar dan Pemuka  dari Keluarga Besar Alawiyyin yang namanya banyak disebut-sebut hingga kini oleh banyak keturunannya.

 

Dalam keterangan tentang Imam Alwi Ammul Faqih ini, menurut Sayyid Bahruddin bin Sayyid Abdurrozaq Azmatkhan & Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan (2014) ayah dari Al-Imam Abdul Malik Azmatkhan adalah Al-Imam Alwi ‘Ammul Faqih bin Muhammad Shohib Marbath dan lahir di Tarim. 

 

Beliau adalah seorang ulama besar, pemimpin Kaum Arifin, Hafizhul Qur’an, selalu menjaga lidahnya dari kata-kata yang tidak bermanfaat, dermawan, cinta kepada fakir miskin dan memuliakannya, banyak senyum. Imam Alwi bin Muhammad Shohib Marbath dididik oleh ayahnya dan belajar kepada beberapa ulama, di antaranya Syaikh Salim Bafadhal, As-Sayid Salim bin Basri, Syaikh Ali bin Ibrahim al-Khatib. Beliau wafat pada hari Senin bulan Dzulqaidah tahun 613 Hijriyah di Tarim dan dimakamkan diperkuburan Zanbal Tarim Hadramaut Yaman.

 

Pada masa Imam Alwi Ammul Faqih ini, menurut Sayyid Ahmad bin Abdullah Assegaf ((1964:1) beliau mempunyai anak yang bernama:

 

1. Abdul Malik (lahir di Tarim Hadramaut Yaman)

2. Abdullah

3. Abdurrahman

4. Ahmad

 

– Al Imam Abdul Malik(Pemilik pertama gelar Azmatkhan, Azmatkhan ke I dari leluhur Walisongo)

Diantara 4 orang anak beliau ini, anak pertama beliau yang bernama Imam Abdul Malik telah melakukan hijrah ke negeri India. Imam Abdul Malik ini melakukan hijrah setelah melihat bencana dan kezaliman yang mengkhawatirkan yang dilakukan penguasa saat itu. Hadramaut Yaman terutama kota Tarim dirasa pada masa itu kurang menguntungkan untuk keluarga besar Imam Abdul Malik. Oleh karenanya demi untuk menyelamatkan aqidah dan juga keluarga besar beliau, maka beliau memutuskan hijrah ke negeri India. Hijrahnya beliau ke India ini sangat jelas mengikuti jejak dan langkah dari Imam Ahmad Al Muhajir. Sehingga sangat layak jika Imam Abdul Malik disebut Al Muhajir Tsani (Al Muhajir 2).  Dalam tulisan Fairuz Khoirul Anam (2010:132) Imam Abdul Malik dikenal dengan gelar Al Muhajir  Ilallah, karena beliau hijrah dari Hadramaut ke India  untuk berdakwah sebagaimana kakek beliau, Al Imam Ahmad bin Isa  yang juga digelari Al Muhajir karena beliau hijrah dari Irak ke Hadramaut untuk berdakwah.

 

Imam  Abdul Malik hijrah ke satu tempat yang Islamnya pada itu masih belum begitu besar, sama seperti Imam Ahmad Al Muhajir yang ketika Hijrah ke Hadramaut Yaman, kondisi umat Islamnya tidak sebaik seperti yang sekarang ini, dimana pada masa itu masih banyak penganut akidah-akidah yang menyimpang dari Islam, namun berkat pendekatan yang cerdas dari Imam Ahmad Al Muhajir, banyak dari masyarakat yang berada di Hadramaut Yaman yang tersadarkan dan akhirnya menjadi pengikut ImamAhmad Al Muhajir.

 

Menurut KH Abdullah bin Nuh (1963:158) Imam Abdul Malik lahir di Tarim. Beliau adalah seorang yang Sholeh dan banyak ibadah. Imam Abdul Malik tumbuh dalam asuhan ayahnya sehingga beliau menjadi seorang ulama besar pada zamannya. Beliau hijrah keluar dari Hadramaut ke India. Imam Abdul Malik hijrah pada awal abad ke 7 Hijriah. Pada masa itu Negeri India dikuasai oleh Muhammad bin Sam Al Ghurri dengan  Kesultanan Delhinya. Kesultanan Delhi pada masa itu sedang membangun kekuatan negara Islam yang cukup disegani.

 

Setelah Imam Abdul Malik Hijrah ke Negeri India maka kemudian langkah ini disusul oleh keluarga besar Alawiyyin lainnya. Tidak heran hingga kini dibeberapa daerah India banyak keturunan dari keluarga besar Alawiyyin ini. Pada masa awal ke 7 ini, Imam Abdul Malik mulai melakukan dakwah Islamiah. Imam Abdul Malik dalam dakwahnya telah menjalin komunikasi beberapa penguasa India pada masa itu. Sayyid Idrus Alwi Al Mahsyur (2012:150) mencatat bahwa di Ahmadabad, Imam Abdul Malik telah diangkat menjadi salah satu tokoh sufi yang menjadi rujukan Sultan dan masyarakat setempat, sehingga dengan kapasitas keilmuannya di bidang fiqih dan tassawuf yang mumpuni, beliau mempunyai hubungan yang baik dengan Sultan penguasa setempat yang bernama  Nashiruddin Syah bin Iltutmisy. Bahkan setelah mengetahui  bahwa Imam Abdul Malik seorang Syarif yang silsilah nasabnya bersambung kepada Ahlul bait, Sultan Nashiruddin Syah memberikan gelar “AMIR” kepada Imam Abdul Malik. Imam Abdullah wafat sekitar tahun 658 Hijriah di India.

 

Hijrahnya Imam Abdul Malik ke negeri India  ini telah banyak menginpirasi keluarga besar Alawiyyin lainnya, sehingga pada masa itu banyak para ulama Sufi menjadi guru yang dating dari Hadramaut Yaman untuk kemudian membentuk perkampungan-perkampungan Arab seperti keluarga besar Alaidrus dan Basyaiban. Kota-kota Islam di India yang terkenal pada masa itu yang sering disinggahi para pelajar dan ulama adalah Ahmadabad, Haydarabad, Nashrabad atau sebagian wilayah Gujarat. Sampai saat ini daerah Ahmadabad, Haydarabad dan Nashrabad masih bertahan dengan akar Keislamannya. Dan itu karena adanya kerjasama antara keluarga besar Alawiyyin dengan penguasa setempat yang saat itu memang sangat perduli dengan perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Tiga kota yang kami sebut itu pada masa Imam Abdul Malik dan juga beberapa Alawiyyin lainnya banyak terdapat madrasah-madrasah, majelis taklim, dan halaqoh-halaqoh. Terutama kota Ahmadabad, pada masa itu kota ini tidak jauh berbeda dengan Kota Tarim Hadramaut Yaman yang sekarang, dimana pusat-pusat ilmu pengetahuan Islam bertaburan dimana-mana. Dapat dikatakan bahwa Kota Ahmadabad adalah kota ilmu disamping juga Haedarabad dan Nashrabad.

 

Tentang bagaimana profil seorang Imam Abdul Malik, seorang ulama besar Hadramaut yaitu As-Sayyid Abu Bakar AlAdni bin Ali Masyhur (2011:57) telah menulis bahwa Imam Abdul Malik yang tinggal di daerah (Bruj) India, riwayat hidupnya bagus dan memiliki keturunandi India. Tentu dengan mengatakan riwayat hidup yang bagus, menandakan jika Imam Abdul Malik merupakan tokoh yang dipandang cukup terhormat dikalangan ulama Hadramaut sekalipun kelak beliau lebih banyak hidup di India dan wafat disana. Fairuz Khoirul Anam (2010:131) bahkan menambahkan jika  Keturunan Abdul Malik bin Alwi Ammul Faqih ini mempunyai pengaruh yang besar di India dan Asia Tenggara. Mereka datang dari Hadramaut ke India pada akhir abad 6 Hijriah. Imam Abdul Malik  bahkan mempunyai hubungan baik dengan kerajaan India, para pembesar, dan para ulama disana. Tak heran bila keluarga besar dapat menyebar keseluruh penjuru India, keluarga ini bahkan mempunyai nilai penting bagi masyarakat muslim India.

 

Imam Abdul Malik disamping tinggal di Ahmadabad, dalam sejarahnya beliau juga pernah lama menetap di Nashrabad. Dalam catatan HMH Al Hamid Al Husaini (2010:773) ketika beliau pergi meninggalkan Hadramaut Yaman sekitar tahun 574 Hijriah. Di India beliau bermukim Di Nashrabad. Di Nashrabad beliau mempunyai beberapa orang anak laki dan perempuan, diantaranya adalah Sayyid Abdullah yang merupakan anak kedua.

 

Nah saat menetap di Nashrabad inilah muncul nama Azmatkhan yang dinisbatkan kepada keluarga besar Imam Abdul Malik. Memang dari beberapa data yang kami pelajari telah terjadi perbedaan pandangan dalam menentukan kepada siapakah nama ini yang sebenarnya dilekatkan. Menurut Idrus Alwi Al Mahsyur (dalam Muhammad bin Ahmad As-Syatri, 2012:155) bahwa gelar atau julukan Azmatkhan muncul pada masa Imam Abdullah bin Abdul Malik, namun berdasarkan catatan Sayyid Bahruddin bin Sayyid Abdurozzaq Azmatkhan dan Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan (2014:1) bahwa nama Azmatkhan justru muncul setelah terjadinya pernikahan antara putri Sultan Nashrabad dengan Imam Abdul Malik.  Keterangan tentang menikahnya Imam Abdul Malik dengan salah satu putri bangsawan kesultanan Nashrabad juga kami dapati pada tulisan Yosef Iskandar (1997:270) dimana salah satu leluhur Fattahillah  adalah Sayyid Abdul Malik yang menikah dengan seorang bangsawan India dan kemudian Imam Abdul Malik mendapatkan gelar Azmatkhan.

 

Kalau kami lihat justru kedua pendapat ini telah saling menguatkan dan saling melengkapi, kenapa? karena menurut analisa kami, pada saat Imam Abdul Malik hijrah ke India terutama wilayah Nashrabad dan menikah dengan putri bangsawan Nashrabad, nama Azmatkhan, secara ilmu nasab nasab memang lebih tepat diberikan kepada Imam Abdul Malik, apalagi beliau adalah orang pertama Hijrah dari Hadramaut ke India. Tentu sebagai orang pertama, beliau akan mendapatkan penghargaan terlebih dahulu dibandingkan dengan anaknya. Diberikannya nama beliau dengan ditambah gelar Azmatkhan ini karena kemungkinan besar Sultan Nashrabad sudah mendengar kabar bahwa Imam Abdul Malik ini adalah seorang Ahlul Bait yang kapasitas keilmuwannya sudah terkenal di beberapa wilayah Kesultanan Delhi pada masa itu, sehingga sangat wajar jika keberadaannya pun harus dihormati termasuk dalam pemberian gelar, baik itu gelar ruhani, bangsawan ataupun gelar keturunan. Mengenai kebangsawanan Imam Abdul Malik ini juga dicatat oleh DR Madjid Hasan Bahafdullah (2010:266) dan dikenal dengan nama Azmatkhan. Bahkan dalam bukunya tersebut beliau memberikan porsi khusus mengenai keluarga besar keturunan  Imam Abdul Malik Azmatkhan.

 

Setelah Imam Abdul Malik wafat, maka pada masa Sayyid Abdullah bin Abdul Malik, gelar ataupun nama Azmatkhan itu telah dikukuhkan atau disahkan/diresmikan oleh Kesultanan Nashrabad untuk kemudian dipakai oleh keluarga besar Sayyid Abdullah tersebut. Dikukuhkannya nama Azmatkhan dalam Kesultanan Nashrabad adalah untuk membedakan dengan gelar bangsawan lainnya. Artinya jika sebuah Kesultanan sudah menetapkan bahwa nama itu milik keluarga besar tersebut, fihak lain tidak boleh memakai gelar atau julukan tersebut, apalagi jika julukan atau gelar tersebut berkaitan dengan garis keturunan. Ditetapkannya Sayyid Abdullah dengan julukan Azmatkhan bukan berarti adiknya yang bernama Sayyid Alwi tidak boleh memakai nama Azmatkhan. Oleh karena itu keturunan Sayyid Alwi Azmatkhan setahu kami tetap memakai gelar atau julukan Azmatkhan. Memang antara Sayyid Abdullah dan Sayyid Alwi berbeda latar belakangnya,jika Sayyid Abdullah lebih konsen pada masalah Tata Negara Islam dan Pemerintahan maka Sayyid Alwi lebih konsen pada masalah Hukum-Hukum Islam, sehingga kelak Sayyid Alwi kelak dibelakang namanya di tambah dengan gelar FAQIH (ALWI FAQIH AZMATKHAN).

 

Bila kita sudah mengetahui munculnya nama Azmatkhan, maka yang perlu kita ketahui apa arti dari Azmatkhan itu?.

 

Sayyid Muhammad Mais bin Hasan Azmatkhan mengungkapkan (2009) bahwa mengingat Imam Abdul Malik berasal dariketurunan Sayyidina Husein binti Sayyidah Fatimah binti Rasulullah SAW, maka para bangsawan Nashrabad memberikan nama tambahan kepada Imam Abdul Malik dengan kata “AZMAT” sebelum  “KHAN”. Dalam bahasa Urdu India, “AZMAT” sinonim dengan  “SYARIF” yaitu MULIA. Maka terbentuklah kalimat“AZMATKHAN” (AZHAMAT KHAN). Tulisan dari Sayyid Muhammad Mais juga diperkuat dengan tulisan Sayyid Idrus Alwi Al Mahsyur (dalam Muhammad bin Ahmad As-Syatri,2012:156) yang menulis, bahwa dalam bahasa Urdu, Azmatkhan adalah gelar yang menunjukkan atas kemuliaan dan kehormatan. Sedangkan KHAN artinya keluarga. Jadi Azmatkhan adalah KELUARGA MULIA DAN DIHORMATI. Gelar KHAN pertama kali digunakan oleh bangsa Turki sebagai gelar bagi seorang muslim yang menaklukan suatu wilayah. Ketika bangsa Turki mengalahkan bangsa-bangsa di Asia Selatan, maka gelar KHAN ikut digunakan oleh masyarakat di negara tersebut diantaranya Afghanistan, India, Pakistan.

Pada perjalanannya gelar KHAN diberikan kepada seseorang yang dianggap mempunyai keluarga yang dihormati. Beberapa orang ada juga yang menulis Azmatkhandengan Adhumato Khon, atau Adhimat Khon dengan alasan mengikuti penulisan huruf arabnya. Namun umumnya banyak yang menulis nama ini dengan AZMATKHAN. Adanya penulisan sebuah gelar dalam bahasa Indonesia, memang sering mengalami gaya penulisan, terutama dari tulisan Arab atau Inggris, dalam hal ini sebenarnya tidak mengapa selama itu tidak merubah makna yang sebenarnya. Dalam dialek Arab Hadramaut bahkan tulisan Q menjadi G seperti misalnya Assegaf (harusnya Assaqaf) namun karena dialek sanalah sehingga akhirnya ketika di Indonesia disesuaikan, begitu juga dengan nama Azmatkhan.

 

Begitu terhormat dan besarnya nama tokoh Imam  Abdul Malik Azmatkhan ini, Sayyid Bahruddin bin Sayyid Abdurrozaq Azmatkhan & As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan (2014) selain gelar Azmatkhan, beliau juga mempunyai nama-nama gelar dan julukan yang cukup banyak seperti :

 

1. Al-Malik Lil Muslimiin= Raja Bagi Kaum Muslimin

2. Al-Malik Min’Alawiyyiin = Raja dari Kalangan Keturunan Imam Ali bin AbiThalib

3. Al-Khalifah LilMukminiin = Khalifah bagi Kaum mukmin

4. Al-Mursyid = Mursyid bagi beberapa tarekat

5. An-Naaqib = Pakar dalam Ilmu Nasab

6. Al-Muhaddits = Menghafal Ribuan Hadits

7. Al-Musnid = Memiliki sanad keilmuan dari berbagai ulama’ dan guru

8. Al-Qutub = Wali Qutub pada masanya

9.  Al-Wali = Seorang Waliyullah

10.  Abu Al-Muluuk = Ayah dan datuk bagi para Raja

11.  Abu Al-Awliyaa’ = Ayah dan datuk bagi para WaliSongo

12.  Abu Al-Mursyidiin = Ayah dan datuk bagi para Mursyid

13.  Syaikhul Islam = Guru Besar Islam

14.  Imamul Mujaahidiin = Imam Mujtahid

15.  Al-Faqiihul Aqdam = Ahli Fiqih Yang paling utama

16.  Al-Mujahid FiiSabiilillah = Pejuang di Jalan Allah

17.  Al-Hafiizhul Qur’an = Penghafal Qur’an

18.  Shohibul Karomah = Raja dan Wali Allah yang memiliki Karomah

19.  Amirul Mukminin= Pemimpin Pemerintahan Islam

 

– Adapun nasab lengkap dari Imam Abdul Malik Azmatkhan adalah sebagai berikut:

 

1. Sayyiduna Muhammad Rasulullah SAW

2. Sayyidatuna Fatimah Az-Zahra RA

3. Sayyidina HuseinAs-Shibti Ra

4. Sayyyidina Ali Zaenal Abidin/Ali As-Sajjad Ra

5. Sayyidina Muhammad AlBaqir Ra

6. Sayyidina JakfarAs-Shodiq Ra

7. Al Imam Ali Al Uraidhi

8. Al Imam Muhammad An-Naqib

9. Al Imam Isa Arrumi

10.  Al Imam Ahmad Al Muhajir

11.  Al Imam Ubaidhillah Shohibul Aradh

12.  Al Imam Alwi Al Mubtakir/Alwi Al Awwal

13.  Al Imam Muhammad Maula Ash-Shouma’ah

14.  Al Imam Alwi Shohib Baitu Jubair/Alwi Atsani

15.  Al Imam Ali Kholi’ Qosam

16.  Al Imam Muhammad Shohib Mirbath

17.  Al Imam Alwi Ammul Faqih

18.  Al Imam Abdul Malik Azmatkhan

 

– Dalam kehidupannya Al Imam Abdul Malik Azmatkhan mempunyai beberapa karya diantaranya :

 

 

1.Tafsir Ma’rifatul Furqan Li ‘Abdul Malik Azmatkhan (تفسيرمعرفةالفرقانلعبدالملكالعظمتخان), yaitu tafsir sufistik berbahasa Arab karya Imam ‘Abdul Malik ‘Azmatkhan bin ‘Alwi ‘Ammul Faqih  bin Muhammad Shohib Marbath.

 

2. Al-AdzkaarAl-Azmatkhaniyyah Li Tholabi Mardhotillah (الأذكارالعظمتخانيةلطلبمرضاتالله), yaitu kitab kumpulan dzikir, doa, wirid, hizib yang ditulis dan diamalkan oleh  Imam ‘Abdul Malik ‘Azmatkhan bin ‘Alwi ‘Ammul Faqih  bin Muhammad Shohib Marbath.

 

3. Qur’an KaaTarjamah (قرانکاترجمہ), yaitu terjemahan al-qur’an ke bahasa Urdu yang diterjemahkan oleh  Imam ‘Abdul Malik ‘Azmatkhan bin ‘Alwi ‘Ammul Faqih  bin Muhammad Shohib Marbath.

 

– Masa Al Imam Al Amir Abdullah bin Al Imam Al Amir Abdul Malik Azmatkhan(Azmatkhan Ke II dari leluhur Walisongo) 

 

 

Sayyid Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan adalah penerus atau pengganti dari Imam Abdul Malik Azmatkhan. Seperti ayahnya didepan nama beliau menggunakan “AMIR”. Seiring dengan kondisi pemerintahan Kesultanan Delhi pada masa itu, terutama dalam perkembangan ilmu pengetahuan Islam seperti Ilmu Tassawuf, Sayyid Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan memanfaatkan situasi tersebut untuk ilmu belajar kepada ayahnya dan tokoh ulama lainnya. Pada saat itu ajaran Sufi Ibnu Arabi berhasil menemukan lahan yang subur ditengah-tengah sebagian masyarakat setempat. Oleh keluarga besar Kesultanan Nashrabad beliau diangkat menjadi pemimpin sufi, sehingga beliau mendapat gelar Al Imam Abdullah Azmatkhan.

 

Menurut Sayyid Zaenal Abidin(2000:38) Sayyid Abdullah Azmat Khan ini pernah menjabat sebagai Pejabat Diplomasi Kerajaan India, beliaupun memanfaatkan jabatan itu untuk menyebarkan Islam ke berbagai negeri. Sejarah mencatat bagaimana beliau bersaing dengan Marcopolo di daratan Cina, persaingan itu tidak lain adalah persaingan di dalam memperkenalkan sebuah budaya. Sayyid Abdullah memperkenalkan budaya Islam dan Marcopolo memperkenalkan budaya barat. Sampai saat ini, sejarah tertua yang tertera tentang penyebaran Islam di Cina adalah cerita Sayyid Abdullah ini. maka, bisa jadi beliau ini adalah penyebar Islam pertama di Cina, sebagaimana beberapa anggota Walisongo yang masih cucu-cucu beliau adalah orang pertama yang berda’wah di tanah Jawa.

 

Dalam catatan Sayyid Bahruddin bin Sayyid Abdurrozaq & Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan (2014) Imam Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan dalam hidupnya mempunyai  6 orang putra diantaranya :

 

1.Ali bin Abdullah (keturunannya ada di India, Pakistan, Banglades, Afghanistan)

2.Hisamuddin Qadir Muhsin bin Abdullah (keturunannya ada di India, Pakistan, Banglades, Iran,Yaman)

3.Alwi Quthub Khan bin Abdullah (keturunannya ada di India, Pakistan, Banglades, Sri Lanka, Yaman)

4.Abdul Malik Syaraf Khan bin Abdullah (keturunannya ada di India, Pakistan, Yaman)

5.Abdul Qadir bin Abdullah (keturunannya ada di Malaka, Malaysia, Indonesia)

6.Ahmad Syah Jalaluddin (Leluhur Walisongo, keturunannya menyebar di Indonesia, Malaysia,Thailand, Singapore, Vietnam, Laos, India, Pakistan, Banglades, Yaman). 

 

Menurut Sayyid Bahruddin bin Sayyid Abdurrozaq Azmatkhan & Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan (2014) seperti ayahnya yang mempunyai beberapa karya tulis, Al Imam Abdullah Azmatkhan juga mempunyai karya diantaranya adalah :

 

Nizhamul Hukuumah Al-Muhammadiyyah, karya tulis yang mengungkap tentang system pemerintahan Nabi Muhammad yang ditulis oleh Al Amir Abdullah bin Abdul Malik  Azmatkhan.

 

2.Rihlah  Al Amir Abdulllah Azmatkhan, karya tulis yang menceritakan tentang pengalaman keliling dunia Sayyid Amir Abdullah bin AbdulMalik Azmatkhan.

 

Al Imam Abdullah bin AlImam Abdul Malik Azmatkhan setelah sekian lama hidup di India, beliau wafat dan dimakamkan Nashrabad, Kabupaten Haidarabad yang berdekatan dengan  Kota Ahmadabad, Republik India, tahun 696 H.Dan jenazahnya disholati dan diantarkan oleh ribuan rakyat India pada masa itu.

 

– As-Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin  bin Abdullah bin Abdul MalikAzmatkhan (Azmatkhan Ke III dari leluhur Walisongo) 

 

Dalam catatan Sayyid Bahruddin bin Sayydid Abdurrozaq Azmatkhan & Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan (2014), Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin adalah seorang tokoh besar pada Pemerintahan Islam di India pada masa itu, Jabatan yang beliau sandang adalah Raja Kesultanan Naserabad India Lama. Ahmad Syah Jalaluddin bin Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan adalah anak ke-6 dari Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan, dia adalah seorang Raja Ke-3 di Kesultanan Nasarabad India Lama, naik tahta setelah wafatnya sang ayah, yaitu pada tahun 696 Hijriah.

 

Dalam catatan Idrus Alwi Al Mahsyur (Dalam Hasan Ibrahim, 2012: 156) Sayyid Ahmad bin Abdullah Azmatkhan lahir di Nashrabad India. Beliau  sangat dihormati oleh penguasa India, terutama oleh keluarga Khiljis yang berasal dari Afghanistan dengan kepala pemerintahan yang bernama Alauddin. Pada tahun 696 – 716 H. Kesultanan kemudian dirubah menjadi kekaisaran dan beliau mewajibkan kepada pengikutnya untuk menganut mazhab Hanafi. Sayyid Ahmad  Azmatkhan  menjadi utusan raja India Ke Asadabad dan raja Sind untuk saling tukar menukar informasi, yang kemudian hari beliau diangkat menjadi salah satu menteri.

 

Pada tahun 720 Hijriah kekuasaan Raja India berpindah pada keluarga Tughlags yang berasal dari Turki yang sangat terpengaruh dengan kehidupan masyarakat India dalam berbagai hal. Salah satu rajanya yang bernama Muhammad bin Tughlags berusaha keras mengadakan hubungan baik dengan semua negara Islam lainnya. Sayangnya  bencana tidak dapat dihindari, sebagian besar wilayah kekuasaan Raja Tuglags di India hilang ditangan bawahannya yang saling berebut kekuasaan, sehingga India berubah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Sebagian wilayah pemerintahannya di bagian Selatan dari dataran tinggi Deccan direbut kerajaan Hindu Fijighaz.

 

Muhammad bin Tuglhlags senang pada hal-hal yang bersifat logika dan tidak yakin dengan ajaran sufi. Disamping itu ia dikenal sebagai orang yang keras, kejam dan mempunyai kelainan dalam wataknya. Fitnah terjadi hampir di seluruh daratan India, khususnya raja pada kaum sufi. Untuk menghindari kesewenang-wenangan dan kezaliman raja India, keluarga besar Sayyid Ahmad bin Abdullah Azmatkhan memutuskan hijrah ke wilayah Pantai Timur India.

 

Keluarga Besar Sayyid Ahmad bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan seolah ingin mengikuti jejak dari para leluhurnya. Dapat dikatakan kehidupan hijrah pada keluarga besar Ahlul bait memang selalu terjadi pada setiap zaman. Kalau dulu kakeknya hijrah dari Hadramaut ke India, maka kini Keluarga Besar Sayyid Ahmad mengikuti jejak para leluhurnya  dengan berhijrah ke wilayah yang jauh dari persoalan politik dan kekuasaan. Dan lagi-lagi penyebab hijrah keluarga besar ini karena adanya penindasan yang dilakukan oleh penguasa-penguasa. Sebagai seorang yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, tentu keluarga besar Sayyid Ahmad bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan akan memilih cara yang terbaik dalam menyikapinya, dan salah satu cara yang terbaik adalah dengan cara berhijrah.

 

Sayyid Ahmad SyahJalaluddin bin Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan meninggal dan dimakamkan Haedarabad, berdekatan dengan  Kota Ahmadabad, Republik India, tahun 711H. Dan jenazahnya disholati dan diantarkan oleh ribuan rakyat India.

 

Dalam catatan Sayyid Bahruddin bin Sayyid Abdurrozaq & Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan (2014) nama anak-anak Sayyid Ahmad Syah Jalaludin bin Sayyid Abdullah bin Sayyid Abdul Malik Azmatkhan adalah sebagai berikut :

 

1. Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra (Leluhur Walisongo, keturunannya menyebar di Indonesia, Malaysia, dan AsiaTenggara, Wafat di Wajo, Sulawesi Selatan,w.760 H). 

2. Maulana Isa

3. Qamaruddin

4.  Majiduddin

5.  Tsanauddin

6.  Sultan Sulaiman Al-Baghdadi

7.  Ali Nuruddin Syah

8.   Husain Khalifatullah Syah

9.   Syaikh Muhammad Ariffin Syah

10. Muhyiddin Syah

11. Ali Syahabuddin Umar Khan

12. Abdullah Syah

13. Alwi Quthbuddin

14. Jalaluddin Abdullah

15. Hasanuddin

16.  Aliyyuddin

17.  Qadir Binaksah

18.  Syarifah Alawiyyah

19.  Qoimuddin 

 

– As-Sayyid Maulana Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra (Azmatkhanke IV, leluhur Walisongo dan Sebagian Sultan-Sultan Nusantara) 

 

Dalam catatan Sayyid Bahruddin bin Sayyid Abdurrozaq Azmatkhan & Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan (2014) Sayyid Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra adalah Raja/Sultan Ke-4 Kesultanan Islam Nasarabad India Lama, sekaligus muballigh yang bekeliling hingga ke Nusantara. Beliau dilahirkan pada tahun 1270 M di negeri Nasarabad, dan wafat di Wajo tahun 1453 M. Jadi usianya 183 tahun.

 

Beliaulah yang menjadi pelopor keluarga besar Azmatkhan yang berhijrah ke wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia. Sebagai seorang Ahlul Bait tentu beliau ini memiliki Gen “Hijrah”.  Kalau dulu buyutnya berhijrah dari HadramautYaman ke India, maka kini salah satu cicitnya Hijrah dari India (Asia Selatan) menuju Nusantara (Asia Tenggara).

 

Tentu tujuan utama dalam melakukan hijrah adalah dakwah Islamiah, kalaupun pada masa itu sering terjadi ketidak stabilan dalam dunia politik kekuasaan di wilayah India, dan hal itu hanya merupakan salah satu sekian alasan saja yang menyebabkan keluarga besar Sayyid Husein Jamaluddin berhijrah. Sedangkan secara garis besar inti hijrahnya keluarga besar Azmatkhan atau Alawiyyin itu demi melakukan dakwah Islamiah.

 

Dalam catatan Tun Suzanna & Haji Muzaffar Dato HjMuhammad (2006:115) Sayyid Husein Jamaluddin Akbar Jumadhil Kubro adalah salah seorang pelopor atau Grand Syaikh yang banyak menurunkan banyak mubaligh, wali-wali terkemuka dan juga para pendiri Kesultanan-kesultanan Ahlul Bait di Nusantara, diantaranya Walisongo, Kelantan, Champa, Patani dan kerajaan-kerajaan di Jawa. Sepanjang misi dakwahnya Sayyid Husein Jamaluddin  telah berhasil memainkan penting dalam penyebaran agama Islam di beberapa bagian wilayah Nusantara, khususnya diIndonesia dan Tanah Melayu.

 

– Adapun nama-nama gelar dan julukan beliau adalah :

 

1.Sayyid Husain Jamaluddin

2.Syekh Maulana Akbar

3.Syekh Maulana Jumadil Kubra I

4.Syekh Maulana Jumadil Kubra Wajo

5.Maulana Jamaluddin Akbar Gujarat

6.Sayyid Husain Jamaluddin Al-Akbar Jumadil Kubra

 

Dalam catatan Sayyid Bahruddin bin Sayyid Abdurrozaq Azmatkhan & Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan (2014)  Sayyid Husein Jamaluddin telah melakukan pernikahan dengan :

 

Syekh Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra, beliau tercatat memiliki isteri 9 orang (pada tahun yang berbeda-beda), yaitu :

 

1. Amira Fathimah binti Amir Husain bin Muhammad Taraghay (Pendiri Dinasti Timuriyyah, Raja Uzbekistan, Samarkand), (Menikah tahun 1295 M), melahirkan 5 anak. yaitu: Ibrahim Zainuddin Al-AkbarAs-Samarqandiy (Ibrahim Asmoro) saat berdakwah di Samarqand (yaitu antara tahun 1295 M-1308 M), Ibrahim Zainuddin Asmaraqandi lahir tahun 1297 M. kemudian lahir putra-putra yang lain yaitu: Pangeran Pebahar As-Samarqandiy (lahir di Samarkan 1300 M), Fadhal As-Samarqandiy (Sunan Lembayung) (lahir di Samarqand tahun 1302 M), Sunan Kramasari As-Samarqandiy (Sayyid Sembahan Dewa Agung) (lahir di Samarkand pada tahun 1305 M), Syekh Yusuf Shiddiq As-Samarqandiy (lahir diSamarkand pada tahun 1307 M), 

 

2. Puteri Nizamul Muluk bin Sultan Nizamul Muluk dari Delhi (India) (menikah tahun 1309 M), Pernikahan ini dilakukan saat Maulana Husain Jamaluddin kembali dari dakwahnya dari Samarkand ke India, dari isteri ini memiliki 3 anak yaitu: Maulana Muhammad Jumadil Kubra (lahir di Nasarabad India,tahun 1311 M), Maulana Muhammad ‘Ali Akbar (lahir di Nasarabad, tahun 1312 M), Maulana Muhammad Al-Baqir (Syekh Subaqir, Lahir di Nasarabad India, tahun 1314 M), Syaikh Maulana Wali Islam (lahir di Nasarabad, tahun 1317 M)

 

3. Lalla Fathimah binti Hasan bin Abdullah Al-Maghribi Al-Hasani (Morocco) (Menikah tahun 1319 M), pernikahan ini dilakukan Husain Jamaluddin saat adanya hubungan diplomatik antara Kesultanan India dengan Kerajaan Marokko, dari pernikahan ini memiliki 1 anak yaitu: Maulana Muhammad Al-Maghribi (lahir di Maghrib (Morocco), tahun 1321 M)

 

4. Fathimah binti Hasan At-Turabi bin ‘Ali bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam Al-Hadrami Al-Husaini (menikah tahun 1323 M) melahirkan seorang anak laki-laki bernama Maulana Ibrahim Al-Hadrami Azmatkhan (leluhurAzmatkhan di Yaman) lahir di Hadramaut pada tahun 1325 M.

 

5. Puteri Linang Cahaya binti Raja Sang Tawal/ SultanBaqi Syah/ Sultan Baqiuddin Syah (Malaysia)/ Raja Langka suka (menikah pada tahun 1350 M), melahirkan 1 anak, yaitu: Puteri Siti Aisyah (Putri Ratna Kusuma) (lahir pada tahun 1351 M) yang kemudian menjadi isteri Syeikh Khalid AlIdrus (Adipati Jepara)

 

6. Puteri Ramawati binti Sultan Zainal Abidin I Diraja Champa (Menikah tahun 1355 M) memiliki 1 anak laki-laki, yang diberi nama Ibrahim Zainuddin Asghar Champa yang bergelar Sultan Zainal Abidin II Diraja Champa (lahir di Champa, tahun 1357 M)

 

7. Puteri Syahirah atau Puteri Selindung Bulan (Putri Saadong II) binti Sultan Baki Shah ibni al-Marhum Sultan Mahmud, Raja of Chermin dari Kelantan Malaysia (menikah tahun 1390M), melahirkan 2 anak. yaitu Sayyid ‘Ali Nurul Alam bin Husain Jamadi al-Kubra, alias Pateh Arya Gajah Mada. Perdana Mantri of Kelantan-Majapahit II menjabat antara 1432-1467 M (lahir pada tahun 1402 M) dan Sayyid Muhammad Kebungsuan alias (Prabhu Anum/Udayaning-Rat/Bhra Wijaya) lahir pada tahun 1410 M.

 

8. Puteri Jauhar binti Raja Johor Malaysia, menikah tahun 1399 M melahirkan 2 anak. yaitu ‘Abdul Malik (lahir di Johor, 1404 M) dan Sultan Berkat Zainul Alam (lahir di Johor, tahun 1406 M).

9. Pada tahun 1411 Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra menikah dengan Putri Raja Batara Gowa Tuminanga ri Paralakkenna (Raja Gowa Sulawesi Selatan), dan melahirkan beberapa anak, yaitu : 1. Sayyid Hasan Jumadil Kubra lahir tahun1413 M (Menjadi Syekh Mufti Kesultanan Gowa, tahun 1453 M, bertepatan dengan wafatnya Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra, dan wafat tahun 1591 M,berusia 138 tahun). 2. Sayyid Husain Jumadil Kubra Al-Asghar, lahir tahun 1443M.

 

Sayyid Hasan Jumadil Kubra bin Sayyid HusainJamaluddin Jumadil Kubra, menikah dengan Sepupunya yaitu Puteri TunggalHalimah binti I Tepukaraeng Daeng Parabbung Tuni Pasulu (Raja Gowa, berkuasa1590 -1593), melahirkan:

1. Sultan Gowa Islam Pertama (I Mangari Daeng Manrabbia Sultan Alauddin Tuminanga ri Gaukanna), kemudian ia melahirkan putera bernama:

2. Sultan Gowa Islam Kedua (I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung Sultan Malikussaid Tuminanga ri Papang Batuna), kemudian ia melahirkan putera bernama:

3. Sultan Gowa Islam Ketiga (I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape Sultan Hasanuddin Tuminanga ri Balla’pangkana), bergelar SULTAN HASANUDDIN alias AYAM JANTAN DARI TIMUR, (PAHLAWAN NASIONAL).Dan keturunannya sampai sekarang terdata di Kitab Al-Mausu’ah Li Ansabi Al-ImamAl-Husaini.

 

* Adapun Sayyid Husain Jumadil Kubra Al-Asghar,lahir tahun 1443 M, Pada tahun 1473 M menikah dengan Puteri Wajo binti LaTadampare Puangrimaggalatung (Raja Wajo), pada tahun 1483 M melahirkan putera bernama Sulaiman alias Dato Sulaiman (Qadhi & Mufti Kesultanan WajoPertama). Dato Sulaiman ini keturunannya banyak di Wajo dan di Pasuruan dan Bangil, Jawa timur.

 

– Adapun anak-anak dari Sayyid Husein JamaluddinJumadhil Kubro adalah sebagai berikut:

 

Sayyid Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra Azmatkhan memiliki 19 anak dari 9 isteri, yaitu:

 

1.Ibrahim Zainuddin As-Samarqandi/Ibrahim Asmorokondi lahir tahun 1297 M (beliau ayah Sunan Ampel, Maulana Ishaq, Sayyid Fadhol Ali Murtadho, Raden Usman Haji, Sultan Pamijahan I, Sultan Pamijahan 2 (leluhur Sunan Cipancar Garut), beliau juga merupakan kakek Sunan Kudus, Sunan Bonang,Sunan Derajat.

2.Pangeran Pebahar As-Samarqandiy (lahir di Samarkan1300 M), 

3.Fadhal As-Samarqandiy (Sunan Lembayung) (lahir di Samarqand tahun 1302 M), 

4.Sunan Kramasari As-Samarqandiy (Sayyid Sembahan Dewa Agung) (lahir di Samarkand pada tahun 1305 M), menurut Kemas Andi & Hendra (2013:31) beliau adalah salah satu leluhur Tuan Faqih Jalaludin, salah satu ulama besar  Kesultanan Palembang Darussalam.

5.Syekh Yusuf Shiddiq As-Samarqandiy (lahir di Samarkand pada tahun 1307 M), Beliau adalah ayah dari Syekh Quro Karawang Jawa Barat.

6.Maulana Muhammad Jumadil Kubra (lahir di Nasarabad India, tahun 1311 M), beliau adalah leluhur Raden Bondan Kejawan atau Maulana Abdurrahman Jumadhil Kubro yang kelak menurunkan Panembahan Senopati dan raja-raja termasuk Pangeran Diponegoro.

7.Maulana Muhammad ‘Ali Akbar (lahir di Nasarabad, tahun 1312 M),  makam beliau di Gunung Santri Cilegon Banten Jawa Barat.

8. Maulana Muhammad Al-Baqir (Syekh Subaqir, Lahir di Nasarabad India, tahun 1314 M).

9. Syaikh Maulana Wali Islam (lahir di Nasarabad, tahun1317 M)

10.  Maulana MuhammadAl-Maghribi (lahir di Maghrib (Maroko), tahun 1321 M)

11.  Maulana Ibrahim Al-Hadrami Azmatkhan (leluhur Azmatkhan di Yaman) lahir di Hadramaut pada tahun 1325 M.

12.  Puteri Siti Aisyah(Putri Ratna Kusuma) (lahir pada tahun 1351 M) yang kemudian menjadi isteri Syeikh Khalid Al Idrus (Adipati Jepara).

13.  Ibrahim Zainuddin Asghar Champa yang bergelar Sultan Zainal Abidin II Diraja Champa (lahir diChampa, tahun 1357 M)

14.  Sayyid ‘Ali Nurul Alam (Maulan Malik Israil) bin Husain Jamadi al-Kubra, (bergelar Maulana ‘Abdul Malik Israil / Sultan Qanbul) alias Patih Arya Gajah Mada. Perdana Menteri of Kelantan-Majapahit II menjabat antara 1432-1467 M (lahir pada tahun 1402 M), keturunan beliau adalah Kesultanan Demak, Banten, Cirebon, Kelantan, Patani, Malaka dan beberapa Kesultanan Lokal lainnya. Maulana Malik Israil atau Sayyid Ali Nurul Alam dimakamkan di Gunung Santri Cilegon Banten.

15.  ‘Abdul Malik (lahir di Johor, 1404 M) salah satu leluhur Syekh Siti jenar  2 bin Datuk Sholeh

16.  Sultan Berkat Zainul Alam (lahir di Johor, tahun 1406 M), menurunkan Maulana Malik Ibrahim, Maulana Mahdor Ibrahim Patakan (Mufti Kesultanan Pasai), Fattahillah (Pendiri Kota Jayakarta), Syekh Magelung.

17.  Sayyid Muhammad Kebungsuan alias (Prabhu Anum/Udaya ning-Rat/Bhra Wijaya) lahir pada tahun 1410M. Menurunkan Ki Ageng Pengging (Sayyid Ali) yang merupakan ayah dari Jaka Tingkir Raja Pajang, termasuk leluhur KH Hasyim Asy’ari, Gus Dur, KH Sahal Mahfud, Syekh Ahmad Mutamakkin dan masih banyak ribuan ulama lainnya.

18.  Sayyid Hasan Jumadil Kubra lahir tahun 1413 M (Menjadi Syekh Mufti Kesultanan Gowa, tahun 1453 M, bertepatan dengan wafatnya Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra, dan wafattahun 1591 M, berusia 138 tahun). 

19.  Sayyid Husain JumadilKubra Al-Asghar, lahir tahun 1443 M.

 

Sayyid Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra Azmatkhan meninggal dunia tahun 1453 M dan dimakamkan dihadapan masjid beliau di Jalan Masjid Tua, Desa Teroja, Kacamatan Manjeuleng, Kabupaten Wajo, Propensi Sulawesi Selatan. Dalam gambaran yang mudah, susunan keturunan dari keluarga besar Azmatkhan ini telah kami buat menjadi sebuah diagram nasab yang kami miliki. Bahkan pada satu buku yang kami miliki yang disusun oleh Idrus (1995:21) sejarah keturunan Sayyid Abdul Malik telah disusun dengan tulisan bahasa arab dalam bentuk skema nasab keluarga besar Sayyid Abdul Malik Azmatkhan.

 

Mengenai keberadaan Maulana Sayyid Husein Jamaluddin Akbar Jumadhil Kubro, Muhammad Syamsu (Dalam Haji Ali Khaeruddin dkk, 1999:70) menambahkan dalam keterangannya,  bahwa jika orang pertama yang datang dari India  keNusantara adalah Maulana  Jamaluddin Al Akbar Al Husaini dan mereka  itu disebut Azmatkhan dan bahwa diantara mereka ada yang datang melalui Kamboja dan China. Keluarga Azmatkhan itu memang benar keturunan Imam Abdul Malik Azmatkhan (Amir Abdul Malik) yang wafat di India dan terkenal dalam sejarah nasab Sayyid-sayyid Baalawi.

 

– Majelis Dakwah Walisongo & Sultan –Sultan Nusantara (Penyebar Agama Islam di Pulau Jawa dan sekitarnya, tonggak bersejarah keluarga besar Azmatkhan di Nusantara)

 

Setelah dijelaskan secara panjang lebar tentang Asal mula Azmatkhan, maka kita kini beralih kepada keluarga yang cukup terkenal pada keturunan Azmatkhan yaitu Majelis Dakwah Walisongo dan juga Sultan-Sultan dibeberapa daerah di Nusantara. Dalam semua catatan nasab yang dipegang oleh seluruh keturunan Walisongo dan beberapa Sultan di Nusantara semua menunjukkan jika leluhur mereka adalah Sayyid Abdul Malik Azmatkhan Al Husaini. Sedangkan leluhur mereka yang pertama kali datang ke Nusantara kebanyakan anak-anak dari Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin, namun yang banyak dibicarakan dalam sejarah Walisongo adalah Sayyid Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro, sedangkan yang lain seperti leluhurnya Sunan Kalijaga, leluhurnya Syekh Datuk Kahfi, Leluhurnya Syekh Quro Karawang, leluhurnya beberapa ulama di Jawa Barat  datanya lebih banyak disimpan dalam kitab nasab yang disusun oleh Sayyid Bahruddin bin SayyidAbdurrozaq Azmatkhan.

 

Menurut Muhammad Syamsu (1999) dari mulai Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Kudus,  Sunan Bonang,  Sunan Derajat, Sunan Gunung Jati, Sunan Muria dan juga berdasarkan catatan Sayyid Bahruddin (2014) beberapa Kesultanan seperti Kesultanan Demak, Cirebon, Banten, Palembang, Sukapura dan sebagian lainnya adalah keturunan Sayyid Abdul Malik Azmatkhan.

 

Demikianlah tentang sejarah asal usul Azmatkhan ini, dengan kita mengetahui sejarah dan latar belakang munculnya nama Azmatkhan ini, kita tentu akan bisa lebih bijak dalam menyikapi terhadap orang-orang yang memakai nama tersebut.  Siapapun mereka yang sudah berani memakai nama Azmatkhan dibelakang nama dirinya, yang paling penting harus diperhatikan adalah :

 

1.Nasabnya bagi orang yang sudah memakai nama Azmatkhan harus pasti berdasarkan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan secara sanad, dan nasab harus dari garis laki-laki mutlak, seorang Azmatkhan tidak boleh memakai gelar  Azmatkhan bila ia ternyata dari keturunan dari fihak perempuan, karena setiap nasab berasal dari laki-laki, sehingga ini juga nanti akan berimbas pada pemakaian gelar Fam/Marga.

2.Pemakaian nama Azmatkhan bukan untuk pamer tapi untuk dijadikan suri tauladan atau untuk tabarukkan.

3.Bagi mereka yang memakai nama Azmatkhan diharapkan untuk selalu menjaga akhlak baik itu perilaku maupun lisan, apabila ada Azmatkhan yang perilakunya tidak baik, berarti dia tidak faham dengan arti nama dari Azmatkhan itu sendiri.

4.Bagi mereka yang tidak memakai nama Azmatkhan tapi keturunan Azmatkhan, itu adalah hak masing-masing setiap individu.

5. Bagi mereka yang tetap tidak mau memakai nama Azmatkhan karena pengaruh adat dan istiadat setempat atau pengaruh dari budaya Kesultanan pada masa lalu, hal itu tidaklah mengapa, yang penting silaturahim sesama keluarga besar Azmatkhan tidak terputus.

6.Bagi mereka yang memakai nama Azmatkhan jangan dicap kalau itu bertujuan untuk riya, karena kita semua tidak mungkin tahu apa isihati dari si pemakai nama tersebut.

7.Bagi yang mengatakan bahwa yang memakai nama Azmatkhan menyalahi langkah dan ajaran Walisongo yang mengedepankan pembauran, maka menurut kami harus dilihat konteksnya pada masa itu dan juga pada masa sekarang.

8.Jika  ada yang menganggap kalau Azmatkhan adalah mastur, maka kini Azmatkhan sudah saatnya memunculkan dirinya untuk berprestasi dan memberikan sumbangsih kepada ummat, kepada mereka yang ingin mastur, maka biarkanlah mereka dengan cara seperti itu yang penting semua Azmatkhan mempunyai peran kehidupan di tengah masyarakat.

9. Bagi yang sering mengatakan jika keturunan Azmatkhan sudah terputus dengan generasi sekarang, maka kami menyarankan agar mereka untuk terus menggali data-data yang ada serta melakukan tabayyun secara baik-baik dengan keluarga besar Azmatkhan yang ada sekarang ini, Insya Allah keluarga besar Azmatkhan akan secara terbuka melakukan konfirmasi tentang nasab Azmatkhan ini.

10.Bagi mereka yang sering mendekriditkan kata “Azmatkhan”,maka ketahuilah bahwa Azmatkhan itu adalah gelar kehormatan yang mengandung nilai-nilai kebaikan, sehingga tidak layak jika nama ini dijadikan olok-olok atau untuk menghina nasab orang, karena pemilik pertama nama ini adalah seorang ulama besar dan juga merupakan Waliyullah.

11.Kepada semua fihak apabila ada keluarga Azmatkhan yang perilakunya tidak baik, maka tegurlah mereka, ajari mereka agar lebih baik,jangan biarkan mereka tenggelam dengan ketidaktahuan mereka akan perbuatannya.

12.Kepada semua fihak apabila ada didapti Azmatkhan yang tidak mencerminkan dirinya sebagai keturunan Rasulullah SAW dengan perbuatan-perbuatan yang identik dengan kemaksiatan, maka janganlah itu dipukul rata sebagai perilaku umum keluarga besar Azmatkhan atau Alawiyyin pada umumnya, percayalah bahwa dalam ajaran Azmatkhan semua bersumber dari Akhlak dan budi pekertinya leluhur mereka yaitu Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW yang menjadi Rahmatan Lil Alamin bagi umat manusia….

 

Wallahu A’lam bisshowab….

Sumber :

Al Haddad, Sayyid Alwi bin Thahir (ditahkik oleh Sayyid Muhammad Dhia Syahab),  Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh,  Jakarta: Penerbit Lentera, 2001, hlm 164.

Al Husaini, HMH AlHamid, Risalah Beberapa Khilafiah-Meluruskan Persoalan- Persoalan Yang Banyak Diperselisihkan Di Kalangan Umat Islam, Bandung: Penerbit Hidayah,2010, hlm 773

Al Masyhur, Idrus Alwi,Membongkar Kebohongan Sejarah & Silsilah Keturunan Nabi SAW Di Indonesia, Jakarta: Sarah Publishing, 2012, hlm 150-156.

Al Masyhur, Abu Bakar Al Adni bin Ali, Biografi Ulama Hadramaut, Jakarta: Penerbit Ma’ruf, 2011,hlm 57

Anam, Fairuz Khoirul, AlImam  Al Muhajir Ahmad bin Isa, Leluhur Walisongo dan Habaib di Indonesia, Malang: Penerbit Darkah Media, 2010, hlm131 – 132.

As-Seggaf, Ahmad bin Abdullah, Khidmatul Asyirah, Jakarta: Penerbit Rabithah Alawiyah, 1964, hlm1

Assegaf, Aburumi & Zainal ‘Abidin, Sejarah dan Silsilah Dari Nabi Muhammad Ke Walisongo, Jakarta: Penerbit Yasrim, 2000, hlm 38.

Azmatkhan,Sayyid Bahruddin bin Abdurrozaq & Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan, Al Mausuuah Li Ansaabi Al Imam Al Husaini, Jakarta: Penerbit Madawis, Edisi II,Vol 24, 2014.

Azmatkhan, Muhammad Mais bin Hasan, Keturunan Sebagian Besar Walisongo, Malang: Penerbit Media Umat, Edisi 66/Tahun III, Mei 2009.

Bahafdullah, H.A. Madjid  Hasan, Dari Nabi Nuh Sampai Nabi Sampai Orang Hadramaut Di Indonesia, Menelusuri Asal-Usul Hadarim, Jakarta : Penerbit Bania Publishing, 2010, hlm 266.

Idrus, Kitab Asrar Walisongo, Pekalongan: Penerbit CV Bahagia, 1995, hlm 31.

Iskandar, Yosef, Sejarah Jawa Barat, Yuganing Rajakawasa, Bandung: Penerbit CV Geger Sunten, 1997, hlm 270.

Nuh, KH Abdullah bin& Dhiya Shahab, Sekitar Masuknya Islam Di Indonesia Tanggal 17 -20 Maret 1963, Bandingan Bebas, Medan : Panitia Seminar  Sejarah Masuknya Islam Ke Indonesia, 1963, hlm 62 & 158.

Othman, Hj Muzaffar Dato Muhammad  & Tun Suzana (Tun) Hj,  Ahlul Bait (Keluarga) Rasulullah SAW Dan Kesultanan Melayu,  Selangor Darul Ihsan Malaysia: Penerbit  Crescen Newt, 2006, hlm 115.

Syamsu, Muhammad, Ulama Pembawa Islam Di Indonesia dan Sekitarnya, Jakarta: Penerbit Lentera, 1999.

Syarifuddin, Kemas H.Andi  & Hendra Zaenuddin, 101 Ulama Sumsel-Riwayat Hidup & Perjuangannya, Jogyakarta : Penerbit  Arruz Media Yogyakarta, 2013, hlm 31.

hyderabad_lama

hyderabad_sekarang

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: