Rasionalitas Israk dan Mikraj (3)

Rasionalitas Israk dan Mikraj [3]

Oleh : Armansyah

CERITA BAHWA shalat baru diperoleh Nabi Muhammad SAW setelah beliau melakukan perjalanan Mikraj kelangit yang umumnya dipercaya telah terjadi pada saat beliau ditinggal wafat oleh istri tercintanya, Siti Khadijjah, dan paman yang dikasihinya, Abu Thalib memang merupakan kisah paling populer dimasyarakat. Menariknya, Muhammad Husien Haikal secara tegas menulis didalam bukunya bahwa Nabi justru sudah melakukan ritual shalat pada masa-­masa awal kenabian beliau SAW dan dimakmumi oleh Siti Khadijjah dan disaksikan oleh sepupunya, Ali bin Abu Thalib Radhiallahu ‘anhu(Lihat : Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, edisi besar, Penerbit Litera antarNusa, 1998, hal. 87-88) .


Senada dengan Haikal, Imam Nawawi menulis tentang adanya riwayat atau pendapat yang menyebutkan kejadian tersebut terjadi pada tahun kelima bi’tsah (pengutusan) atau tahun keenam dari kenabian, dan ada juga riwayat yang mengatakan terjadinya tahun kesepuluh sesudah Muhammad menjadi Rasul (berdasar riwayat Abdullah bin Umar). Ada pula ulama lain yang menyebutkan peristiwa tersebut terjadi enam bulan sebelum Nabi hijrah ke Tha’if (berdasar riwayat Baihaqi), ada juga yang malah mengatakan sesudah setahun lebih enam bulan dari hijrahnya Nabi dari Tha’if. Sampai hari ini belum ada satu kata yang benar-benar sepakat diantara ulama dan kaum cendikiawan muslim sekaitan kapan kiranya tahun yang lebih tepat dari perjalanan Nabi Muhammad SAW yang sangat fenomenal dan bersejarah tersebut.


Hadis-hadis yang bercerita tentang baru adanya pembebanan shalat kepada Nabi Muhammad SAW didalam peristiwa Mikrajnya dengan asumsi bahwa kisah Israk dan Mikraj itu sendiri terjadinya pada masa akhir periode Makkiyah dimana istri beliau (Khadijjah Radhiallahu ‘anha) telah wafat, jelas masih sangat perlu dianalisa lebih jauh kebenarannya. Bagaimanapun pemahaman akan riwayat shalatnya Khadijjah bersama-sama Nabi Muhammad SAW diperiode awal kenabian lebih bisa diterima dari kacamata ilmiah. Sejumlah ayat Al-Qur’an yang diturunkan di Mekkah pada tahun-tahun pertama kenabian sudah bercerita mengenai perintah Shalat kepada Rasulullah SAW dan umatnya seperti yang terdapat dalam surah Al-Muzammil (surah ke-73), surah Saba’ (surah ke-34) dan surah Thaaha (surah ke-20).


Wahai orang yang berselimut (yaitu Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. (QS. Al-Muzammil [73]: 1-4)


Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. (QS. Al-Muzammil [73]: 20)


Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah berdua-dua atau sendiri-sendiri” (QS. Saba [34] :46)


Perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya (QS. Thaahaa [20] : 132)


Bahkan surah an-Najm (yaitu surah ke-53) yang bercerita tentang perjalanan Nabi ke Sidratil Muntaha telah diwahyukan lebih kurang pada tahun kelima dari kenabian mendahului surah Al-Isra (surah ke-17) yang juga berbicara tentang Israk dan Mikraj diayat pertamanya yang dipercayai oleh jumhur ulama diturunkan pada tahun kesebelas kenabian atau satu tahun sebelum Hijrah. Pengukuhan lainnya ada pada surah Al-Isra itu sendiri diayat ke-110 yang berbunyi :


“Jangan kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. (QS. Al-Israa [17] :110)


Menurut riwayat Imam Bukhari dari Ibnu Abbas dan ‘Aisyah serta riwayat Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas ayat tersebut turun pada waktu Rasulullah SAW masih menyebarkan dakwah Islamnya di Mekkah secara diam-diam. Pada waktu itu apabila Rasul shalat bersama sahabat-sahabatnya, beliau menyaringkan suaranya dengan bacaan Al-Qur’an sehingga ketika terdengar oleh kaum Musryikin maka mereka mencaci-maki Al-Qur’an, Allah dan Nabi. Ayat ini turun untuk melarang Rasul yang pada waktu itu menyaringkan suaranya dalam shalat (lihat : Asbabun Nuzul, Latar belakang historis turunnya ayat-ayat Al-Qur’an,K.H. Qamaruddin Shaleh dkk, Penerbit Diponegoro, 1975, hal. 302).


Kita tahu dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi di Mekkah merupakan fase paling awal dari penyebaran Islam oleh Rasulullah ditahun-tahun pertama kenabiannya, karenanya tidak tepat bila ayat ini dirujukkan kepada tahun kesebelas kenabian dimana pada masa itu Islam sudah didakwahkan secara terbuka kepada penduduk Mekkah yang berakibat pada aksi pemboikotan, pembunuhan para sahabatnya bahkan berujung pada kejadian hijrah kesejumlah tempat sebelum akhirnya diterima di Madinah.


Selain bukti-bukti diatas, dua hadis berikut inipun memberikan kesaksian dari apa yang telah kita sampaikan dalam hal peristiwa Israk dan Mikraj serta kaitannya dengan shalat ini.


“Aku didatangi Jibril pada awAl-awal turunnya wahyu kepadaku. Dia mengajarkanku wudhu dan shalat” – Riwayat Hakim, Baihaqi dan Ahmad (Lihat : Imam Hakim, Vol. III:217, Al-Baihaqi Vol. I:162 dan Ahmad vol. V:203 seperti yang dikutip dalam buku “Terpesona di Sidratil Muntaha”, Agus Mustofa, Penerbit Padma Press, 2005, hal. 139)


Dari Abu Mas’ud Radhiallahu ‘anhu katanya : Rasulullah SAW bersabda : “Turun Jibril, lalu dia menjadi imam bagiku dan aku shalat bersamanya, kemudian aku shalat bersamanya, lalu aku shalat bersamanya dan aku shalat bersamanya dan aku shalat bersamanya. Nabi menghitung dengan lima anak jarinya” – Riwayat Muslim (Lihat : Fachruddin HS, Terjemah Hadits Shahih Muslim III, Bagian ke-26, Waktu Sembahyang Fardu dan Kiblat, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1979, hal. 170)


Seperti yang kita ketahui, kitab suci Al-Quran memang tidak pernah menjelaskan secara detil sejak kapan dan bagaimana teknis pelaksanaan shalat yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad SAW, namun meski demikian Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa shalat itu sendiri sudah dilakukan oleh umat­-umat para Rasul sebelumnya, seperti perintah shalat kepada Nabi Ibrahim dan anak cucunya (Lihat surah 21 Al-anbiya ayat 73 dan surah 19 Maryam ayat 55), kepada Nabi Syu’aib (Lihat surah 11 Huud ayat 87), kepada Nabi Musa (Lihat surah 20 Thaahaa ayat 14) dan kepada Nabi ‘Isa Al-Masih (Lihat surah 19 Maryam ayat 31). Dengan demikian maka shalat jelas terindikasikan bukan baru ada setelah peristiwa Mikraj Nabi ataupun baru timbul dimasa kenabian Muhammad semata, akan tetapi shalat sudah merupakan suatu tradisi yang diwariskan oleh para Nabi dan Rasul terdahulu. Adapun argumentasi dari sebagian ulama yang mengatakan bahwa shalatnya Nabi Muhammad berbeda dengan shalat generasi kenabian terdahulu tidak memiliki rujukan ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan, Al-Qur’an sendiri dalam hal ini justru menegaskan bahwa tata cara shalat disepanjang jaman adalah sama, yaitu dengan ruku dan sujud.


Bilapun mungkin berbeda dibeberapa sisi, hal itu tetap tidak merubah substansi shalatnya. Misalnya adanya perbedaan dalam hal bahasa shalat, ayat-ayat yang dibaca atau juga salawat dan tasyahud. Tentunya apa yang kita kemukakan terakhir ini merujuk pada jaman kenabian masing-masing yang berlaku, untuk syahadat bisa jadi umat sebelum kita juga bersyahadat namun bukan dengan berucap “Aku bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya” melainkan “Aku bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah dan Ibrahim adalah Rasul-Nya” atau “Aku bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah dan Musa adalah Rasul-Nya” demikian seterusnya. Bahkan tidak tertutup kemungkinan pula seandaianya syahadat mereka justru sama dengan kita. Artinya merekapun (yaitu umat para Nabi terdahulu) mengucapkan ikrar kesaksian “Aku bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya”, argumentasi kita ini beranjak dari adanya kesaksian dari para Nabi itu sendiri didalam Al-Qur’an tentang kedatangan Muhammad yang akan membenarkan semua wahyu-wahyu sebelumnya dan sitiran dari Al-Qur’an juga bila orang-orang ahli kitab sebenarnya telah mengetahui melalui kitab-kitab suci mereka tentang kebenaran kenabian Muhammad SAW sebagaimana mereka disebutkan mengenal anak-anak mereka sendiri.


Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2] : 146)

Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenal dia (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. (QS. Al-An’am [6] : 20)


Dan ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman : “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu ?” ; Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. (QS. Ali Imran [3] : 81)


Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH

Advertisements

Rasionalitas Israk dan Mikraj (2)

Rasionalitas Israk dan Mikraj
Oleh : Armansyah
Bag. 2

>> Boleh copy-paste u/. non komersil asal menyebutkan sumbernya <<

Kaum alim ulama memang banyak berbeda pendapat mengenai masalah kejadian yang dialami oleh Nabi yang agung ini, bahwa apakah peristiwa itu terjadi secara rohani ataukah secara jasmani alias dengan tubuh kasarnya ?

Sejak abad permulaan, masalah ini senantiasa menjadi masalah ikhtilafiah atau masalah yang membangkitkan beda pendapat antara alim ulama dan mufassirin. Kita seharusnya bisa bersikap lapang dada dengan kontroversi ini, bukankah tingkat pemahaman setiap orang dapat berbeda-beda sesuai dengan cara berpikir dan penguasaan ilmu pengetahuan serta perkembangan peradaban tekhnologi pada masanya ? Mari kita mencoba untuk melakukan sebuah analisa singkat atas kontroversi tersebut dengan tetap berpegang teguh pada kaidah Al-Qur’an.

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. (QS. An-Nahl [16] :125)


Sebagian orang yang menganggap bahwa peristiwa perjalanan malam Nabi ini hanya terjadi dalam mimpi, padahal faktanya mimpi itu tidak perlu dibantah. Bagaimanapun mimpi adalah tinggal sebatas mimpi. Misalnya sebut saja Bapak Daffa yang saat ini berada dikota Palembang, lalu Bapak Daffa mengatakan bahwa tadi malam telah bermimpi pergi kekota Mekkah untuk berhaji, maka wajarnya tidak akan ada seorangpun yang bisa membantah pengalaman mimpi Bapak Daffa tersebut, karena kejadian itu sekali lagi hanyalah mimpi yang semua orang bisa memimpikan hal yang serupa atau lebih dari itu. Jarak tempuh dari kota Jakarta selaku ibu kota Republik Indonesia dengan kota Mekkah sendiri sekitar 7.908,43 Km atau dari kota Mekkah ke Palembang (tempat penulis berdomisili) sekitar 7.571 Km yang memakan waktu sekitar 9 jam perjalanan dengan pesawat udara.

Adapun orang yang berpendapat bahwa peristiwa itu terjadi dalam mimpi mencoba mengemukakan dalil Al-Qur’an :

Dan tidak Kami jadikan penglihatan (Ar-ru’yaa) yang Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia. (QS. Al-Isra [17] :60)

Menurut mereka, lafal Ru’ya adalah berarti penglihatan dalam mimpi, bukan penglihatan dalam sadar. Sebab penglihatan dalam keadaan sadar mempergunakan bentuk masdar Ru’ya(h). Terhadap alasan ini, kita kemukakan jawaban bahwa apabila penglihatan yang dimaksud dalam ayat ini adalah mimpi, maka bagaimanakah hal ini bisa menjadi ujian bagi manusia sebagaimana yang firman Allah yang ada pada lanjutan ayat 60 surah Al-Isra diatas ?

Sedangkan makna ujian bagi manusia ini ialah adanya sebagian mereka yang membenarkan dan adapula yang mendustakan. Kalau toh hal itu berupa penglihatan dalam mimpi, maka orang tidak perlu lagi memperbincangkan untuk membenarkan atau mendustakannya. Adakah pembaca pernah menjumpai orang yang membantah terhadap mimpi seseorang karena didalam mimpinya itu ia melihat atau melakukan perbuatan begini dan begitu ? rasanya secara rasional terlalu berlebihan untuk bersikap demikian, tidak mungkin ada orang yang akan membantah mimpi itu yang nota bene orang-orang kafir pada saat Rasul menceritakan peristiwa Isra dan Mirajnya pun harusnya tidak akan membantahnya bila memang peristiwa ini terjadi dalam mimpi Nabi bahkan orang-orang Islam awalpun tidak perlu goncang imannya sebagaimana riwayat dari Imam Baihaqi dari ‘Aisyah binti Abu Bakar Radhiallahu ‘anha dan riwayat Ibnu Ishaq dari Al-Hasan yang mengatakan adanya orang-orang Islam yang kembali menjadi murtad setelah Nabi menceritakan pengalaman Israk dan Mikrajnya.

Pada saat Nabi Ibrahim a.s. memandang takjub atas bintang-bintang, bulan dan matahari dilangit dalam kisah pencarian jati diri Tuhannya, kitapun mendapati penggunaan kata-kata Ru’ya. Dimana Nabi Ibrahim a.s. dikisahkan melihat dalam keadaan sadar atau melihat dengan mata kepalanya secara fisik.

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” (QS. Al-An’am [6] : 76)

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” (QS. Al-An’am [6] : 77)

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (QS. Al-An’am [6] : 78)

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS. Al-An’am [6] : 79)

Sehingga kemudian kita bisa menarik satu kesimpulan bila penglihatan yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW itu benar-benar terjadi didalam sadarnya dan diikuti oleh panca indera fisiknya. Itulah makanya penglihatan tersebut disebut berupa ujian bagi manusia lainnya, dimana timbul reaksi-reaksi dari mereka, yaitu ada yang membenarkan dan ada yang mendustakan.

Adakah mimpi itu bisa dijadikan ujian bagi orang lain ?

Dan bilapun kata-kata “Ru’yaa” disini masih tetap ingin diartikan dengan mimpi, maka tentunya mimpi disini haruslah berubah menjadi kenyataan, dan dari kenyataan inilah lantas timbul Ujian. Sehingga dengan demikian maka dapat diambil pengertian bahwa peristiwa Mikraj itu boleh jadi mula-mula dialami Rasulullah SAW dalam mimpi, kemudian mimpi itu benar-benar terwujud dalam sebuah peristiwa yang nyata.  Hal ini bisa kita tarik juga dari kesamaan pada peristiwa yang lain terhadap diri Rasulullah SAW. seperti yang difirmankan oleh Allah :

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesunguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram. (QS. Al-Fath [48] :27)

Dimana peristiwa memasuki Masjidil Haram ini mula-mula berupa impian beliau dimasa peperangan Hudaibiyah, kemudian menjadi kenyataan satu tahun berikutnya dimasa penaklukkan Mekkah. Dan tidak ada yang menghalangi Allah untuk memperlihatkan kepada Muhammad SAW mengenai peristiwa Mikraj ini dalam mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa Rasulullah bisa saja memang mengalami Mikraj dalam mimpinya, tetapi kemudian dialaminya dalam alam kenyataan dengan jasad konkretnya.

Allamah Az-Zamakhsyari melalui kitabnya yang berjudul tafsir Al-Kasysyaaf dalam rangka membela pendapat yang menyebutkan peristiwa Israk dan Mikraj terjadi tidak dalam bentuk fisik, menuliskan sebuah riwayat dari ‘Aisyah binti Abu Bakar Radhiallahu ‘anha, istri  Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam yang mengatakan bahwa jasad Rasulullah malam Mikraj itu tidak meninggalkan tempat tidurnya sehingga kejadian ini terjadi dengan rohnya5. Dari sudut ilmu sejarah, dalil yang dipergunakan disini tidak dapat dipertanggung jawabkan karena ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha pada waktu itu belum menjadi istri Nabi sehingga beliau tidak tahu apapun tentang kejadian tersebut, ditambah lagi dengan hasil penelitian dari Al-Qadhi ‘Iyad sebagaimana bisa dijumpai didalam kitab beliau Al-Syifa bahwa hadis tersebut secara matan maupun sanad adalah dhaif, lebih jauh bahkan Al-Hafiz Ibnu Dahyah menyebut hadis ini palsu. Sehingga batallah apa yang disandarkan pada hadis tersebut.

Rasionalitas Israk dan Mikraj (1)

Rasionalitas Israk dan Mikraj
Oleh : Armansyah
Bag. 1

>> Boleh copy-paste u/. non komersil asal menyebutkan sumbernya <<

Dalam sejarah kenabian Muhammad SAW, mungkin selain cerita mukjizat pembelahan bulan tidak ada lagi cerita yang membangkitkan kontroversi sepanjang jaman kecuali cerita Israk dan Mikraj. Ada yang memandang kisah tersebut dengan kacamata skeptis dan menganggapnya hanya sebagai khayalan dan bualan dari Nabi belaka, ada pula yang menganggap cerita tersebut sebatas rekayasa para penulis hadis dan sebagian lagi menyebutnya sebagai mimpi.

Memang untuk ukuran waktu lima belas abad yang lalu, cerita Israk dan Mikraj merupakan peristiwa yang mustahil terjadi, sejak isu keberangkatan Nabi dari Mekkah menuju ke Yerusalem yang harusnya ditempuh lima belas hari berkuda bahkan sampai terbang keluar angkasa menembus langit. Sebuah peristiwa yang perwujudannya baru sebatas imajinasi dan dongeng sebagaimana kisah-kisah mengenai Aladdin dengan karpet terbangnya atau kisah gatot kaca dengan kotang antakusumahnya. Berbeda halnya bila kita tinjau kejadian ini dari kacamata dunia modern, dimana kisah perjalanan Nabi Muhammad itu mungkin tidak akan terlalu asing, orang-orang masa kini sudah terbiasa melakukan perjalanan berbeda kota yang memiliki jarak tempuh perjalanan darat selama berhari-hari tetapi dapat dijalani pulang dan pergi pada hari yang sama dengan mengendari pesawat udara. Sehingga menjadi wajar apabila diwaktu Nabi Muhammad Saw menceritakan kejadian yang beliau alami, hal tersebut membuat heboh masyarakatnya saat itu, baik mereka yang mendukung dakwahnya apalagi mereka yang memang sejak awal memusuhinya. Pesawat terbang sendiri baru dibuat pada abad kesembilan belas Masehi yaitu dibulan Desember 1903 oleh Wright bersaudara (Wilbur Wright dan Orville Wright) dengan percobaan pertama mereka diatas padang pasir Kitty Hawk, Carolina Utara, Amerika Serikat1. Akan tetapi sangat mengherankan apabila dijaman modern sekarang ini yang masyarakatnya bahkan bukan hanya terbiasa hidup dengan pesawat udara semata tetapi juga sampai kepada pesawat ulang-alik, pengiriman ekspedisi Voyager keplanet Mars dan Saturnus, stasiun luar angkasa dan lain sebagainya yang bersifat eksplorasi jagad raya dengan mempergunakan teknologi canggih dan komputerisasi malah ikut meragukan kejadian tersebut.

Kita sangat setuju bila para ulama salaf dari berbagai tingkat dan jamannya dimasa lalu masih berselisih paham akan kejadian ini, terutama mengenai status atau metode perjalanan yang ditempuh oleh Rasul, apakah lengkap dengan jasad atau hanya dengan Nafs-nya saja atau malah hanya melalui mimpi, namun kita tidak bisa terus larut dalam kontroversi tersebut sebab kita sudah sewajarnya mempergunakan akal yang sesuai dengan tingkat peradaban jaman dimana kita hidup. Islam adalah peradaban akal karena kitab suci Al-Qur’an dibanyak ayatnya menekankan optimasi akal untuk berpikir tentang maha karya Allah dialam semesta, oleh sebab itu maka setiap muslim penerus misi Nabi Muhammad mempunyai tanggung jawab untuk mempertahankan bahkan mengembangkan misi tersebut sehingga Islam benar-benar menjadi pusat ilmu pengetahuan manusia atau menjadikannya Rahmatan lil’alamin. Sudah cukup sikap kita selama ini yang sekedar menjadi kaum pengagum akan kesempurnaan kitab suci Al-Qur’an yang kita miliki tetap bukan bertindak sebagai pelaksana apalagi selaku pembukti dari kebenaran isi dari kitab suci tersebut. Dengan modal kejujuran, kita bisa membaca sikap kita selama ini adalah selalu meminta dan menuntut agar Allah membuktikan kebenaran firman-Nya!  Padahal itu bukan menjadi kewajibannya Allah tetapi kewajiban kitalah sebagai pengemban amanah, bagaimanapun firman-firman Allah itu akan tetap benar dengan sendirinya.

Selama berabad-abad pasca runtuhnya kejayaan emas Islam di Madinah, Kufah dan Andalusia, kita hanya sibuk memperdebatkan masalah halal dan haram, bid’ah atau syubhat dan lain sebagainya. Kita telah melelahkan diri dengan urusan saling hujat dan mengkafirkan kelompok yang tidak sepaham dengan kita. Tidak ada lagi sebagian dari kita yang terkonsentasi dengan pengembangan ilmu pengetahuan berbasis Islam yang mengangkat derajat kemanusiaan melalui optimasi akalnya. Kita sudah begitu hebat saat menunjuk kesalahan orang lain tapi kita sendiri tidak pernah mengoreksi sejauh mana kejujuran dari pemahaman diri kita sendiri, apakah hanya karena pemahaman kita sama dengan orang lain atau sama seperti pahamnya ulama-ulama terkenal maka secara otomatis menjadi parameter kebenaran paham kita ? apakah hanya karena kita seorang Ahlussunnah atau seorang Syi’ahIngkar sunnah atau seorang Muktazilah atau seorang anggota apapun bentuk dan jenis jemaah Islamnya maka bisa dijadikan standar kebenaran yang obyektif ? atau justru malah menjadi kebenaran yang subyektif atau sepihak ? atau seorang

Sejak awal keberadaan kita didunia ini, Allah telah menetapkan tujuan utama kita selaku Khalifah-Nya. Beban eksistensi kita tersebut membuahkan tuntutan yang tidak dapat dihindarkan yaitu agar dapat memberikan kemaslahatan kepada apa-apa yang sudah diamanahkan kepada kita. Supaya kita dapat bernilai guna pada lingkungan disekitar kita maka diperlukanlah proses-proses pembelajaran yang sungguh-sungguh. Pernah ada satu iklan ditelevisi yang isinya kurang lebih berbunyi, “Menjadi tua itu pasti namun menjadi dewasa itu adalah sebuah pilihan”. Iklan ini menarik sekaligus memberikan kita kesadaran bahwa tanpa harus kita usahakan masa tua akan tiba, tetapi untuk menjadi dewasa kita harus menciptakannya. Bagimana cara kita menciptakannya tidak lain hanyalah melalui proses belajar dengan basis kehidupan menjadi dewasa. Artinya kehidupan ini harus dijadikan materi untuk belajar dari titik keterbatasan tertentu menuju titik kemampuan berikutnya.  Belajar bagi orang dewasa adalah mencari untuk menemukan sesuatu tentang hidup  tidak sebagaimana anak-anak yang hanya menerima dan terkadang masih jauh dari isu-isu kehidupan riilnya. Proses belajar adalah proses menanyakan sesuatu yang berasal dari pengalaman ketidaktahuan tentang apa yang akan dilakukan karena jawaban yang ditemukan saat itu tidak lagi benar untuk mengatasi situasi yang sedang terjadi. Dengan kata lain, “Learning is  experiencing by exploration and discovery”.  Pendidikan formal dibangku sekolah atau universitas belum sepenuhnya menjadi media yang mampu menterjemahkan makna belajar.  Hal ini karena makna belajar yang sesungguhnya adalah melakukan sesuatu, kemudian membebaskan diri dari situasi atau tekanan yang diakibatkan ketidaktahuan. Salah satu ciri kedewasaan yang telah terwujud dari hasil pembelajaran adalah pemahaman kita yang baik terhadap dunia konkrit. Dengan memahami bagaimana sesuatu bekerja menurut hukum alamnya, maka akan membuat kita semua menjadi bijak menjalani hidup beragama.

Kata “Iqra” merupakan jendela untuk melihat kehidupan alam semesta yang luar biasa luasnya. Ayat ini menyiratkan makna, betapa Al-Qur’an membuka cakrawala dunia ilmu pengetahuan yang dapat digali melalui kata ‘baca’. Dengan bersyariat secara benar, Islam mengalami kemajuan dibidang ilmu pengetahuan secara pesat. Dengan meningkatnya pengetahuan, kita mengenal sifat dan perilaku alam, gejala-gejala alamiah yang komplek atau musykil dapat kita terangkan dan uraikan menjadi gejala-gejala yang lebih sederhana yang mudah kita ketahui. Membiarkan diri terus berlarut-larut dalam urusan-urusan klasik yang sebenarnya sudah bisa kita pecahkan melalui jangkauan ilmu pengetahuan justru menjadikan diri kita berjalan ditempat. Kemajuan peradaban selalu menawarkan ruang dialog untuk mencegah terjadinya konflik yang ditimbulkan oleh perbedaan konsep atau persepsi. Ruang dialog itu dimaksudkan sebagai upaya menjembatani kompromi (kesepakatan sinergis) dari gap atau perbedaan yang telah terjadi. Kemajuan peradaban bukan harus dimusuhi akan tetapi diakrabi sebab kemajuan itu sendiri merupakan bagian dari bentuk “wahyu-wahyu baru ilahi” kepada hamba-hambaNya yang mau belajar.

Firman Allah : “Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. . Al-‘Alaq [96] :5)

Penyadaran diri sebagai makhluk yang serba lemah dan terbatas harusnya membuat kita menerima dengan ikhlas tahapan-tahapan wahyu baru yang diturunkan oleh Allah dalam bentuk pelajaran-pelajaran atau hikmah. Konsepsi kenabian dan kerasulan dalam hal syariat berupa tuntunan cara berinteraksi serta berkomunikasi antara makhluk dengan Al-Khaliq memang sudah berakhir pada masa kenabian Muhammad, akan tetapi konsepsi kewahyuan yang berkaitan dengan sentuhan-sentuhan ilmu Tuhan bagi peradaban masih terus berjalan seiring dengan waktu.

Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. (QS. .  Nuh [71] :14)

Kami pergilirkan hari-hari itu diantara manusia untuk menjadi pembelajaran (QS. . Ali Imron [3] :140)


Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (QS. . Al-Insyiqaaq (84) :19)


Surah pertama dalam Al-Qur’an adalah Al-Fatihah, surah ini juga dikenal sebagai surah pembuka, ummul Qur’an, surah dengan 7 ayat berulang dan sebagainya. Inilah inti dari Al-Qur’an, tanpa surah ini maka sebuah kitab tidak bisa disebut Al-Qur’an, tanpa membaca surah ini pula maka tidak sah sholat seorang muslim bahkan tanpa membaca surah ini pula menurut perhitungan matematis Dr. Rasyad Khalifah[1] berarti seorang muslim sudah menghilangkan kata sandi senilai 608 buah, karena setiap huruf dalam Al-Fatihah memiliki nilai tersendiri.

Setiap manusia, siapapun itu didalam sejarah hidupnya pasti melalui surah Al-Fatihah, artinya kita-kita ini pasti pernah memulai dari awal, dari dasar. Apa awal dari manusia? nutfahkah? mungkin jawaban ini benar, tetapi nutfah adalah pembentuk awal kemanusiaan dan bukan awal dari manusia itu sendiri. Awal kehidupan manusia dimulai sejak ia dilahirkan ibunya kedunia ini. Detik pertama dia menghirup udara maka detik itupulalah sejarah manusia tersebut dimulai. Bahkan seorang Nabi Isa Al-Masih yang proses kejadiannya tampak begitu istimewa, tidak terkecuali untuk memulai hidupnya dari seorang bayi merah. Sama seperti yang lain. (lihat rujukan QS. . Ali Imran 3 ayat 59). Dari surah Al-Fatihah ini kita diajari banyak hal, bahwa semua ayat baik yang panjang maupun yang pendek didalam Al-Qur’an akhirnya akan kembali pada surah Al-Fatihah, karena dalam surah inilah semua pujian dan doa serta pentauhidan Tuhan terintegrasi menjadi satu. Begitupula manusia, dia hakekatnya adalah bayi, semua kedudukan sosial serta harta benda yang ia miliki akan kembali pada kekerdilan dirinya dimata sang Khaliq yang serba Maha.

Sosok manusia tidak ubahnya bagaikan bulatan kecil bumi ditengah samudra galaksi yang Maha Luas dan tak hingga. Kenapa manusia masih banyak yang berlaku sombong atas semua yang dia miliki ? Dilihat secara esensinya, manusia itu telanjang, tanpa pakaian, tanpa kedudukan, tanpa apa-apa. Begitulah kira-kira cara Tuhan memandang kita (lihat rujukan Surah Al-A’raaf 7 ayat 26). Jikapun kita berkuasa, apakah iya kita berkuasa atas nafas kita ? atas udara yang kita hisap ? apa iya kita berkuasa atas setan yang ada didiri kita ? – rasanya tidak. Bahkan satu contoh yang paling ringan bahwa kita tidak berkuasa untuk menahan rasa kebelet untuk buang air. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang akan kita dustakan ? (lihat rujukan Surah an-Najm 53 ayat 55). Artinya, semua anggota tubuh kita ini bukanlah milik kita, apalagi harta dan kedudukan. Kita ini bayi, kita ini berkonsep Al-Fatihah, seharusnya kita menjadi ayat yang berfungsi sebagai pujian terhadap Allah, sebagai alat pengabdian, penyebar petunjuk bagi orang lain kepada jalan yang lurus sekaligus penolak pada nilai-nilai kebatilan, keterpurukan dan kesesatan.

Surah kedua pada mushaf adalah Al-Baqarah, yang secara harfiah berarti Sapi Betina. Seorang bayi yang baru lahir, dia memerlukan asupan susu, entah itu berupa ASI atau susu olahan yang disebut susu formula. Jika sebagai penyambung Al-Fatihah tertulis Al-Baqarah, ini tidak serta merta satu petunjuk bahwa seorang bayi harus minum susu sapi. Penyebutan sapi betina merujuk pada satu kebutuhan yang ada pada seorang bayi, dia perlu kehangatan, dia perlu nutrisi awal, nutrisi satu-satunya yang bisa ia cerna, karena tidak mungkin dia bisa mengkonsumsi produk Coca-Cola atau Fanta atau Mizone. Dia perlu susu, perlu hal yang putih, bersih dan sehat. Inilah gambaran kita, membutuhkan nilai-nilai yang lurus, yang bisa memenuhi gizi kejiwaan sebagai satu-satunya sumber asupan yang bisa kita terima agar bisa tumbuh menjadi kepribadian yang dewasa dan tangguh. Kita perlu nilai-nilai yang sehat dan benar untuk sampai pada satu pemahaman tertentu, hati dan niat ini harus bersih dan akal kita harus bisa berpikir realistis obyektif. Inilah makna ayat Al-Qur’an : hendaklah engkau berlaku adil, jangan karena kebencianmu pada sesuatu hal membuatmu gelap mata, membuatmu menjadi subyektif. (Lihat rujukan Surah Al-Maidah 5 ayat 8).

Surah Al-Baqarah merupakan satu-satunya surah terpanjang didalam mushaf Al-Qur’an. Hal ini merefleksikan bahwa manusia itu akan terus memerlukan nilai-nilai yang bersih dan sehat tadi sepanjang masa, tidak ada batasan, karenanya Nabi bersabda : menuntut ilmu itu wajib bagi seorang muslim sampai ia mendatangi kuburnya sendiri. Selanjutnya surah Al-Baqarah disambung dengan surah Ali Imran dan surah An-Nisaa’, masing-masing mewakili kedua orang tua kita, yang satu laki-laki dan yang lainnya wanita. Bahwa didalam hidup, kita tidak hanya membutuhkan nilai tetapi juga memerlukan bantuan lingkungan disekitar kita, butuh keberadaan sosok bapak dan ibu yang membuat kita menjadi aman, tentram dan damai. Secara lebih luas, kita perlu melakukan interaksi dengan semua komponen masyarakat (pria dan wanita pada surah Ali Imron dan surah An-Nisaa’ menggambarkan adanya keragaman).


Kita tidak bisa hidup sendiri, kita adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi antar sesama kita (lihat rujukan Surah Al-Hujuraat 49 ayat 13). Orang yang hanya mau bergaul dengan sekelompok kaum tertentu saja, bertaklid pada satu jemaah tertentu dan meninggalkan kaum atau jemaah yang lainnya sama seperti seorang anak yang hanya memerlukan ibunya saja atau bapaknya saja, dan jelas ini satu kepincangan. Bersikaplah yang wajar, bergaullah dengan semua komponen masyarakat tanpa membedakan apakah mereka sama jemaahnya dengan kita, sama jalan pemikirannya dengan kita atau sebaliknya. Apalagi jika ini menyangkut hubungan sesama muslim, malah Al-Qur’an berkata, satukan hubungan yang retak antar sesama saudaramu seiman, jauhi prasangka yang jahat kepadanya (lihat rujukan Surah Al-Hujuraarat 49 ayat 12). Surah kelima adalah surah Al-Maaidah yang berarti hidangan. Kata Hidangan disini adalah suatu sajian makanan.

Seorang bayi dia memerlukan asupan susu dan belaian kasih sayang kedua orang tuanya, seorang manusia perlu belajar nilai-nilai kebenaran yang obyektif dan melakukan silaturahhim terhadap sesamanya, dan dia perlu berbagi. Saat sudah menjelang dewasa usia, kita tidak lagi menjadi bayi, kebutuhan gizi kita sudah lebih besar dari susu putih didalam botol. Kita menuntut menu lain, kita mulai belajar memakan makanan yang lebih keras, lebih kejal dan lebih berasa. Semakin kita banyak belajar dan berinteraksi maka kepribadian kita seharusnya semakin meningkat, semakin menuntut lebih banyak dari sebelumnya, semakin kita belajar semakin kita merasa ilmu ini teramat sedikit, semua kekayaan pemikiran, khasanah pengetahuan harus bertambah demikian juga dengan ketakwaan maupun kesederhanaan jiwa. Inilah inti dari sabda Nabi : Sesungguhnya siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dia orang yang beruntung, tetapi orang yang hari ini lebih buruk dari sebelumnya maka dia termasuk orang yang merugi (lihat rujukan Surah Al-Ashar 103 ayat 1 s/d 3).

Telah ratusan buku yang ditulis oleh para ulama Islam menyangkut peristiwa Israk dan Mikraj Nabi Muhammad. Mulai dari yang menyorotinya secara metafisika, logika ilmiah sampai kepada yang mencukupkannya pada kajian tekstual belaka dan tidak mencapai substansi atau analisanya lebih jauh. Meski demikian, dari semua karya tulis umat Islam itu pada umumnya bisa dibagi atas dua kategori pemahaman, yaitu yang memahami peristiwa Israk dan Mikraj terjadi dengan tubuh kasarnya dan yang lain berpendapat peristiwa itu hanya terjadi dialam ruh. Dari dua pemahaman ini bermunculanlah cabang-cabang penafsiran yang terwujud sampai kepada masa kita sekarang ini.

Tulisan saya ini akan mencoba menyoroti secara kritis hadis-hadis shahih yang menceritakan kisah Israk dan Mikraj Nabi Muhammad SAW tersebut dari sisi tekstual matnnya dengan mengambil hasil pentahqiqan atau penelaahan serta hasil takhrij Syaikh Nashiruddin Al-Albani disertai sebuah usaha rekonstruksi sejarah Israk dan Mikraj itu sendiri dengan dasar-dasar argumentasi yang berbeda dengan apa yang mungkin pernah anda temui dalam buku-buku sejenis lainnya.

Akan diposting secara berkala sesuai waktu dan kesempatan yang ada …



[1] http://www.submission.org/salat19.html


Kontroversi Hisab dan Rukyat [3] : Kapan Ramadhan dan Lebaran 2008 ?

Kontroversi Hisab dan Rukyat [3] : Kapan Ramadhan dan Lebaran 2008 ?

Antara Keputusan Pemerintah dengan Ijtihad
Oleh : Armansyah
Penulis Buku “Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih”
Jejak Nabi “Palsu” dan “Ramalan Imam Mahdi”

>> Copy paste tidak dilarang selama u/. non komersial dan menyertakan sumber aslinya <<

Tulisan ini merupakan lanjutan dari 2 tulisan sebelumnya “Kontroversi Hisab dan Rukyat : Kapan Ramadhan dan Lebaran 2008 ?” (link : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/07/28/kontroversi-hisab-dan-rukyat-1-kapan-ramadhan-dan-lebaran-2008/ atau http://armansyah.swaramuslim.com/more.php?id=93_0_1_0_M dan https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/07/28/kontroversi-hisab-dan-rukyat-kapan-ramadhan-dan-lebaran-2008/ atau http://armansyah.swaramuslim.com/more.php?id=90_0_1_0_M )

Bagi yang belum membaca kedua tulisan sebelumnya, disarankan untuk membacanya terlebih dahulu sebelum membaca tulisan ini.

Dalam beberapa dekade belakangan ini, dimana terjadi silang pendapat antara pemerintah selaku pihak yang berkuasa disuatu negara (dalam hal ini khususnya dinegara kesatuan Republik Indonesia) dengan sejumlah organisasi massa serta partai Islam maupun individu-individu tertentu mengenai penentuan berbulan baru yang mencakup hari pertama Ramadhan, hari pertama Idul Fitri serta hari pertama Idul Adha telah menumbuhkan cukup banyak kebingungan ditengah masyarakat berbangsa dan bernegara. Dalam hal ini, pemerintah sebagai pejabat yang berwenang tentu saja menginginkan seluruh masyarakat yang ada dibawah otoritasnya agar mengikuti ketetapan mereka menyangkut hal-hal tersebut. Sementara kelompok yang berseberangan dengan pemerintahpun merasa bahwa mereka sebagai warga negara yang hak-haknya harus dilindungi, memiliki hak untuk menentukan sikapnya sendiri.

Sebagian ulama lokal maupun yang berasal dari Timur Tengah mencoba mengajukan dalil-dalil yang dalam pandangan mereka rojih serta shahih agar umat Islam secara keseluruhan menyepakati apa-apa yang menjadi ketetapan maupun keputusan pemerintah dimana mereka berdomisili. Salah satu diantara mereka adalah Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz yang bahkan berpendapat sekalipun pemerintah dimana umat Islam tersebut berada, menetapkan berpuasa sampai 31 hari lamanya[1]. Sejumlah dasar yang diajukan mereka diantaranya :

Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata: “Seseorang (hendaknya) berpuasa bersama penguasa dan jamaah umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.” Beliau juga berkata: “Tangan Allah Swt bersama Al-Jama’ah.” (Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juz 25, hal. 117)

“Akan ada sepeninggalku nanti para penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti caraku. Dan akan ada diantara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan
namun berbadan manusia.” Hudzaifah berkata: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Rasulullah Saw bersabda: “Hendaknya engkau mendengar dan mentaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengarkanlah dan taatilah.” (HR. Muslim dari Hudzaifah bin Al-Yaman).

“Puasa itu pada hari (ketika) kalian semua berpuasa, Idul fitri pada hari ketika kalian semua ber Idul Fitri dan Idul Adha ketika kalian semua beridul Adha” (HR. Tirmidzi)[2]

“Seburuk-buruk penguasa kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian mencaci mereka dan mereka pun mencaci kalian.” Lalu dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang (memberontak)?” Beliau bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat mereka mengerjakan perbuatan yang
tidak kalian sukai, maka bencilah perbuatannya dan jangan meninggalkan ketaatan.” (HR. Muslim dari `Auf bin Malik)

Ibnu Umar berkata: Dari Nabi Saw, beliau bersabda: “Kewajiban seorang muslim adalah mendengar dan taat dalam melakukan perintah yang disukai ataupun yang tidak disukai, kecuali bila diperintahkan melakukan maksiat. Bila dia diperintah melakukan maksiat, maka tidak ada kewajiban untuk mendengar serta taat” (HR. Muslim)

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul serta ulil amri di antara kamu. (QS. An-Nisa (4) :59)

Dalam hal ini, penulis memiliki pendapat yang agak berbeda yang juga memiliki dasar pemikiran dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Bahwa perbedaan yang dimaksudkan oleh Rasul pada hadis-hadis beliau tersebut dalam perspektif penulis bukanlah perbedaan yang menyangkut hukum-hukum keagamaan yang sudah jelas dasar serta patokannya. Tidak ada siapapun yang berhak untuk mengubah kaidah yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam urusan keagamaan. Sementara kita tahu masalah berlebaran atau beridul Adha memiliki persinggungan dengan nash-nash hukum yang sudah jelas.

Sabda Nabi Muhammad Saw :

Dari Anas, bahwa Nabi Saw melarang puasa lima hari dalam setahun, yaitu : hari raya fithri, hari raya adha dan tiga hari tasryiq. (HR. Daraquthni)

Dari Abu said dari Rasulullah Saw, bahwa ia melarang puasa dua hari, yaitu pada hari raya fithri dan hari raya adha. (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Dalam satu lafal bagi Ahmad dan Bukhari dikatakan : Tidak boleh puasa pada dua hari. Sementara bagi Imam Muslim dikatakan : Tidak sah puasa pada dua hari.[3]

Dari hadis-hadis diatas maka bisa kita pahami bahwa bila sudah masuk hari idul fithri maupun adha kita sudah dilarang untuk melakukan ibadah puasa, artinya kita harus segera menyegerakan diri untuk berlebaran. Manakala misalnya kita mengikuti suatu ketetapan yang mengharuskan berlebaran esok hari padahal kita sudah tahu hari ini harusnya kita sudah berhari raya maka kita telah melanggar ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

Firman Allah :

Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. AL-Ahzaab (33) :36)

Wahai orang-orang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan jangan engkau berpaling darinya padahal kamu mengetahuinya. (QS AL-Anfaal (8) : 20)

Maka apabila aku perintahkan kamu dengan sesuatu, hendaklah kamu mengerjakan darinya sesanggup kamu. Dan apabila aku mencegah kamu dari sesuatu maka kamu jauhilah dia. (HR. Muslim dan Nasa’I dari Abu Hurairah)

Tentu kita maklum bahwa waktu berhari raya atau berpuasa hanyalah akibat dari suatu sebab yang ada sebelumnya. Adapun penyebab perbedaan yang terjadi sehingga menimbulkan kecenderungan untuk terjadinya pelanggaran atas nash-nash yang terkait seputar hari raya akan kembali lagi pada metode penentuan berbulan baru.

Dia-lah yang menjadikan matahari terang dan bulan bercahaya dan Dia menentukan manzilahnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. (QS Yuunus (10) : 5)

Sekarang kita akan coba mempersempit masalah dengan mengabaikan perdebatan tentang hisab dan rukyat (bil fi’li) dan kita membahas tentang adanya kesaksian sejumlah orang yang melakukan pengamatan terhadap hilal secara langsung pada tempat-tempat tertentu. Pada praktek dilapangan, seringkali kesaksian-kesaksian individu tersebut ditolak oleh pihak yang berkuasa hanya karena dalam kalendar yang berlaku dan sudah terlanjur beredar dimasyarakat tertulis hari raya baru jatuh pada hari lusa dan bukan esok hari. Kita tidak akan membahas mengenai pengaruh adanya perubahan kebijakan pemerintah terhadap kondisi politik serta perekonomian negara, karena memang ketetapan agama harusnya dinomor satukan dari semua kepentingan yang ada.

Kitab hadis “Nailul Authar” yang berisi kumpulan hadis-hadis hukum dari Nabi Saw hasil jerih payah Asy-Syaukani dari kitab Al-muntaqa Ibnu Taimiyah memuat secara khusus masalah kesaksian atas hilal ini[4]. Kita bisa melakukan introspeksi diri kita sendiri dari hadis-hadis tersebut, apakah tindakan yang dilakukan oleh pemerintah sudah melanggar ataukah memang sudah benar dalam mengikuti ketetapan Nabi Muhammad Saw mengenai hal ini. Dari sini kita bisa pula mengoreksi tentang sikap kita yang mengaminkan atau juga melakukan pembangkangan pada keputusan pemerintah (serta ulama-ulama yang menyarankan untuk mengikutinya).

Dari Umar, ia berkata : Orang-orang pada melihat bulan, lalu aku memberitahu Rasulullah Saw bahwa akupun melihatnya. Lalu ia berpuasa dan menyuruh orang-orang supaya berpuasa. (HR. Abu Daud dan Daraquthni. Tetapi Daraquthni berkata : Marwan bin Muhammad menyendiri dengan hadis ini dari Abu Wahab, sedang dia adalah kepercayaan).

Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata : Ada seorang Badui datang ketempat Nabi Saw, lalu ia mengatakan : Sungguh aku melihat bulan. Kemudian Nabi bertanya : “Apakah engkau percaya bahwa Tiada Tuhan selain Allah ?” Ia menjawab : “Ya”. Lalu Nabi bertanya lagi : “Apakah engkau juga percaya, bahwa sesungguhnya Muhammad utusan Allah ?” Ia menjawab : “Ya”. Lalu Nabi menyuruh Bilal : “Hai Bilal, beritahukanlah kepada manusia, supaya mereka besok berpuasa”. (HR. Imam yang lima, kecuali Ahmad).

Dan Abu Daud meriwayatkan juga dari hadis Hammad bin Salamah dari Simaak dari Ikrimah secara mursal (tanpa menyebut nama sahabat), semakna dengan itu, dan ia berkata : Lalu Nabi menyuruh Bilal, kemudian Bilal menyeru pada manusia : “Hendaklah mereka sholat tarawih dan berpuasa”

Dari Rib’I bin Hirasy, dari seorang laki-laki dari sahabat Nabi, ia berkata : Orang-orang berselisih tentang akhir Ramadhan, lalu datanglah dua orang Badui kemudian mereka bersumpah dihadapan Nabi Saw bahwa bulan Syawal telah nampak kemarin sore, lalu Rasulullah Saw menyuruh orang-orang agar berhari raya fithri. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Dari Abdurrahman bin Zaid bin Khattab, sesungguhnya dia berkhutbah pada hari yang ia ragu-ragu padanya sebagai berikut : Ketahuilah, bahwa aku adalah berkawan dengan sahabat-sahabat Rasulullah Saw dan pernah bertanya kepada mereka, lalu merekapun menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda sebagai berikut : “Berpuasalah kalian karena melihat bulan dan berhari rayalah kalian karena melihat bulan, dan beribadahlah kalian karena melihat bulan. Kemudian jika bulan itu terdinding awan maka genapkanlah tiga puluh hari. Tetapi jika ada dua saksi muslim yang melihatnya maka berpuasalah kalian dan berhari rayalah”. (HR. Ahmad dan Nasa’i, tetapi Nasa’I tidak menyebutkan kata-kata “muslim” pada teks “dua saksi”).

Dari Amir Mekkah, Al-Harits bin Hathib, ia berkata : Rasulullah Saw memerintahkan kita supaya beribadah karena melihat bulan. Tetapi jika kita tidak melihatnya sedang ada dua orang saksi adil yang menyaksikan bulan tersebut, maka kita pun beribadah lantaran kesaksian dua saksi tersebut. (HR. Abu Daud dan Daraquthni, Daraquthni berkata sanadnya bersambung dan shahih).

Syarah dari kitab Nailul Authar menjelaskan bahwa dua hadis yang menyebutkan “manusia melihat bulan” menunjukkan kesaksian seseorang atas datangnya hilal Ramadhan bisa diterima. Inilah pendapatnya Ibnu Mubarak, Ahmad bin Hambal serta Imam Syafe’I dalam salah satu dari dua pendapatnya. Imam Nawawi sendiri berkata : “Itulah pendapat yang lebih benar.” Akan halnya pendapat dari Imam Malik serta sejumlah Imam sunan lainnya bahwa kesaksian seseorang tidak dapat diterima kecuali dua orang adalah mengandung pengertian tidak diterimanya seorang saksi karena semata-mata paham dari apa yang tersirat, sedang yang tersurat dalam hadis tersebut adalah diterimanya seorang saksi.

Sekali lagi bila kita mengabaikan perselisihan tentang jumlah satu atau dua orang saksi yang melihat hilal dimalam dua puluh sembilan, maka adanya kesaksian untuk itu secara nash keagamaan sudah memenuhi syarat untuk menentukan awal bulan yang baru. Bila kemudian pemerintah mengabaikan kesaksian tersebut dan bersikukuh dengan pendapatnya bahwa umat baru boleh berhari raya pada lusa harinya, berarti pemerintah sudah berseberangan dengan nash-nash hukum keagamaan. Sebagai seorang muslim, maka kita juga sudah memiliki tuntunan dari Rasul yang sebelumnya dijadikan hujjah dari kelompok pertama, “Kewajiban seorang muslim adalah mendengar dan taat dalam melakukan perintah yang disukai ataupun yang tidak disukai, kecuali bila diperintahkan melakukan maksiat. Bila dia diperintah melakukan maksiat, maka tidak ada kewajiban untuk mendengar serta taat” (HR. Muslim)

Maksiat yang kita coba kaitkan disini adalah mengajak kepada jalan selain jalan Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana hal ini disampaikan oleh Imam Ali bin Abi Thalib, “Tidak ada ketaatan kepada seorang makhluk yang dapat dibenarkan jika hal itu berupa perbuatan maksiat terhadap al-Khaliq”[5]. Persatuan umat bukan menjadi alasan untuk mengabaikan nash-nash agama yang telah pasti kecuali bila memang untuk melakukannya dibatasi oleh situasi dan kondisi (misalnya seperti dalam masa Orde Baru). Adapun makna dari Ulil Amri pada surah an-Nisa ayat 59, memang oleh mayoritas ulama dinyatakan sebagai pemerintah yang berkuasa. Ahli Mufassir terkemuka bernama Imam Fakhruddin Razi yang menulis kitab “Mafatihul Gaib” (w. 1228 M) mengartikan Ulil Amri sebagai Ahli Ijmak (orang-orang yang kesepakatannya menjadi hukum yang harus ditaati). Imam Naisaburi serta Muhammad Abduh memahaminya sebagai Ahli Halli wal’aqdi (orang-orang yang mempunyai hak kekuasaan untuk membuka dan mengikat yang setiap keputusannya mengikat seluruh negara dan wajib ditaati oleh seluruh umat)[6].

Apapun defenisi yang diberikan untuk istilah Ulil Amri tersebut, penulis disini ingin menekankan bila cara kerja Ulil Amri yang terdapat dalam surah An-Nisa ayat 59 harusnya juga mengacu pada lanjutan ayat tersebut, “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama dan lebih baik akibatnya”. Sabda Nabi Saw pula, “Hendaklah kamu mengikuti dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk dimasa setelah aku”. (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Jadi kita tetap punya parameter yang tegas bahwa kepatuhan pada penguasa adalah selama mereka juga mengembalikan pengaturan hak rakyatnya yang muslim kepada tuntunan Allah dan Rasul. Al-Qur’an disisi lain memberikan petunjuk bila jumlah orang tidaklah menentukan nilai kebenaran yang mereka serukan (suara mayoritas tidak selalu berarti suara kebenaran) :

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al-An’am (6) :116)

Adapun makna Al-Jama’ah dimana menurut Imam Ahmad bin Hanbal dengan perkataannya “Tangan Allah Swt bersama Al-Jama’ah“, secara lughat berarti kumpulan, himpunan atau persatuan. Salah seorang sahabat Nabi bernama Ibnu Mas’ud diriwayatkan pernah berkata kepada Amr bin Maimun : “Al-Jama’ah adalah apa-apa yang bersesuaian dengan kebenaran walaupun engkau sendirian”. Dikesempatan lain, beliau juga berkata, “Jama’ah itu adalah apa-apa yang bersesuaian dengan ketaatan pada Allah Azza Wajalla”[7]. Imam Alipun diriwayatkan berkata, “Jama’ah itu, demi Allah, adalah kumpulan orang-orang ahli kebenaran walaupun mereka itu sedikit”[8].

Jadi al-Jama’ah itu bisa dimaknai sebagai kebersatuan dengan nilai-nilai kebenaran. Dalam hal ini adalah kumpulan satu atau lebih orang yang taat pada Allah. Sesuai firman Allah :

Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkanmu pada satu hal, yaitu supaya kamu menghadap Allah berdua-dua atau sendiri-sendiri”. (QS. Saba (34) :46)

Nabi Muhammad Saw disinyalir telah bersabda dalam satu hadis dengan status dhaif (lemah), “Sesungguhnya umatku tidak berkumpul diatas kesesatan. Maka dari itu bila kamu melihat perselisihan maka hendaklah kamu Sawadul-A’zham”. (HR. Ibnu Majah dari Anas bin Malik, kedhaifan hadis ini disebabkan salah satu perawinya bernama Hazim bin ‘Atha yang dianggap lemah oleh sebagian ahli hadis, sebagaimana kata Imam Al-Iraqy). Istilah Sawadul-A’zham pada hadis diatas sering dinisbatkan pada al-Jama’ah, sebagaimana ini dilakukan oleh ahli hadis dan fiqih terkenal bernama Imam Sofyan ats-Tsauri (w. 161 H) serta Imam Ishaq bin Rahawaih. Penafsiran tersebut tidak menyalahi lahiriah hadis tersebut yang intinya adalah untuk selalu memegang pihak yang benar, walaupun jumlahnya sedikit.

Secara psikologis manusia dengan naluriahnya akan menyederhanakan lingkungan visualnya untuk memudahkan pemahaman. Dalam setiap komposisi bentuk, kita cenderung mengurangi subyek utama dalam daerah pandangan kita ke bentuk-bentuk yang paling sederhana dan teratur. Semakin sederhana dan teraturnya suatu wujud, semakin mudah untuk diterima dan dimengerti. Penggunaan ilmu-ilmu hisab secara total dalam penentuan awal dan akhir suatu bulan pada sistem penanggalan Hijriyah terbukti merupakan metode paling akurat berkaitan dengan keteraturan dan kemudahan hasilnya. Sejumlah kekacauan yang bisa timbul dari ketidak akuratan teknik rukyat bil fi’li misalnya menyangkut ketidakjelasan penyusunan agenda atau jadwal kerja. Dimana bila kita hari ini tanggal 25 dan kita mau menentukan 8 hari kedepannya tanggal berapa persisnya haruslah menunggu sampai bulan yang sedang dijalani berakhir baru bisa menentukan tanggal berapa 8 hari dari sekarang itu. Masyarakat modern sekarang ini telah menuntut penjadwalan yang tepat dan rinci berkaitan dengan sidang-sidang maupun rapat-rapat yang akan dihadirinya berkaitan dalam aktivitasnya sehari-hari. Semua membutuhkan akurasi penyusunan agenda yang bisa diprediksi dan dikalkulasikan secara baik sehingga kerjasama dengan client dapat tercapai, kekecewaan akibat melesetnya perkiraan waktu dapat diminimalisir, perpecahan ditengah umat menyangkut kapan berpuasa dan harus berlebaran bisa dhindari serta hal-hal positip lainnya. Semua itu susah dilakukan dengan konsepsi rukyat bil fi’li.

Penulis tidak menyarankan penggabungan rukyat bil fi’li dengan rukyat bil ‘ilmi, karena sekali lagi kita sampaikan metode ini hanya akan menghasilkan kerancuan dan perpecahan. Kita sebaiknya beralih secara total pada rukyat bil’ilmi. Memang ada berbagai macam cara di berbagai negara dewasa ini untuk menentukan bulan baru melalui metode hisab atau rukyat bil ‘ilmu. Mulai dari penghitungan umur, ketinggian, atau perbedaan matahari terbenam dan bulan terbenam, hasil kalkulasi, dan seterusnya[9]. Akan tetapi semua perbedaan yang ada tersebut pada dasarnya bisa diselesaikan dengan mengembalikan konsep awal dari ijtimak atau konjungsi bulan itu sendiri dan bukan berdasar kriteria insaniah kita yang serba terbatas. Artinya perbedaan ini harusnya tunduk pada kaidah ilmu-ilmu Astronomi sebab anatara ia dan Islam harusnya memang tidak ada pemisahan. Islam sekali lagi bukan penghambat ilmu pengetahuan (termasuk Astronomi) dan Islam bukan pula bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Sehingga tidak lagi jadi persoalan apakah usia hilal baru beberapa menit, ketinggian bulan yang harus mencapai dua derajat kapan terjadinya konjungsi dan seterusnya. Bagaimanapun, ketika terjadi pergeseran antara kedudukan matahari dan bulan sehingga terbentuk hilal (sabit) tidak mungkin bisa mundur kembali yang membuat kita harus menunggu sekian jam demi memastikannya. Apabila bulan sudah masuk pada Ijtimak atau konjungsi pada nol derajat maka artinya setelah hal tersebut terjadi merupakan awal dari Bulan baru, itulah fakta kebenarannya. Pada fase sesudah konjungsi sudah pasti hilal atau sabit bulan terbentuk dan sabit bulan tersebut tidak harus dapat dilihat dengan mata telanjang, karena kemampuan mata pastilah sangat terbatas. Kita bisa melihat sabit bulan tersebut melalui ilmu pengetahuan, melalui proses hisab komputer, melalui proses pencitraan satelit dan sejenisnya. Ketinggian minimal untuk bisa melihat hilal dengan mata telanjang (tanpa alat bantu) adalah 4 derajat diatas ufuk (dengan catatan bila beda azimut bulan dan matahari saat itu sudah lebih dari 45 derajat tapi bila beda azimutnya 0 derajat maka perlu ketinggian minimal 10,5 derajat). Disinilah kita memulai memainkan rasionalitas terhadap paradigma berpikir kita yang selama ini cenderung kaku dan membatu.

Terjadinya siang dan malam telah menyebabkan adanya perbedaan waktu di permukaan Bumi kita ini. Dengan adanya pergerakan bumi dari utara keselatan dalam garis ekliptiknya maka terjadi juga pergantian siang dan malam sehingga matahari terlihat seolah terbit ditimur dan terbenam dibarat, padahal matahari tidak pernah terbit maupun terbenam. Manusia membuat persepsi yang demikian disesuaikan dengan cara pandang yang mereka hadapi dan bukan berdasar kenyataan yang sebenarnya. Oleh karena itu pula dibeberapa tempat dalam al-Qur’an, ayat-ayatnya juga ditulis atau diwahyukan oleh Allah dengan mengikuti persepsi dan pandangan mata manusia. Misalnya disebutkan bila bumi ini bagai hamparan (Surah An-Naazi’aat ayat 30, Al-Ghasyiyah ayat 20) atau kemudian dalam kisah Dzulkarnain pada Surah Al-Kahfi ayat 86 dinyatakan matahari terbenam diair yang hitam).

 



[1] Sering Terjadi Perselisihan Awal Ramadhan, Hari Raya Iedul Fithri Dan Iedul
Adha, Bagaimana Cara Menyatukan Hari Raya Kaum Muslimin ?, Oleh: Lajnah Da’imah Lil Buhuts Ilmiah Wal Ifta, sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/1652/slash/0

[2] Setelah membawakan hadits di atas, Imam Tirmidzi berkata : “Sebagian ulama mentafsirkan hadits ini dengan mengatakan, makna hadis ini bahwasanya puasa dan Idul Fitri dilaksanakan bersama al-Jama’ah dan mayoritas umat Islam”.

[3] Hadis-hadis ini dikutip dari buku : Terjemahan Nailul Authar : Himpunan hadits-hadits hukum, Jilid 3, Penerbit PT. Bina Ilmu, Terj. Mu’ammal Hamidy, Drs. Imron AM, Umar Fanany B.A, Bab : Larangan Puasa pada dua hari raya dan hari-hari Tasryiq hal. 1336-1337

[4] Disini Penulis menggunakan Terjemahan Nailul Authar : Himpunan Hadits-Hadits Hukum, Penerbit PT. Bina Ilmu

[5] Mutiara Nahjul Balaghah, Muhammad Al-Baqir, Penerbit Mizan, 1999, Hal. 130

[6] Z.A. Ahmad, Konsepsi Tatanegara Islam, Penerbit Pustaka Ilmu, 1949, hal. 51-52

[7] H. Moenawar Chalil, Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, Penerbit Bulan Bintang, 1969 hal. 395

[8] Idem hal. 396

[9] http://www.moonsighting.com/methods.html


Menentang Penguasa

Menentang Penguasa

Oleh : Armansyah

Ada banyak hadis yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad Saw tentang terlarangnya menentang penguasa sekalipun orang-orang yang menjadi penguasa ini menzalimi hak-hak makmumnya atau istilah lainnya adalah rakyatnya.

Benarkah demikian ?

Ada banyak hadis yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad Saw tentang terlarangnya menentang penguasa sekalipun orang-orang yang menjadi penguasa ini menzalimi hak-hak makmumnya atau istilah lainnya adalah rakyatnya.

Benarkah demikian ?

Saya sepakat kita memang ditekankan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah untuk mengedepankan adab yang baik dan positip. Tidak boleh berprasangka buruk kepada orang lain. Tidak boleh mengintai-intai untuk mencari kesalahan pihak lain.

Tetapi saat kezaliman itu merata terjadi dan berimbas pada orang lain diluar sipelaku, maka Rasulullah juga memberikan tuntunan kepada kita untuk menyikapi semua itu. Bila kita melihat suatu kezaliman/kejahatan maka kita diwajibkan untuk melakukan perubahan dengan tangan, dengan mulut dan dengan hati. Jadi action tetap harus ada. Dan action tertinggi adalah dengan perbuatan. Lebih khusus lagi maksudnya adalah bertindak nyata (bukan sekedar teori atau sidang sana sidang sini, musyawarah sana musyawarah sini).

Bagi orang kecil, perbuatan yang bisa mereka lakukan dan berani mereka tempuh hanyalah berdemonstrasi. Mereka bukan wakil rakyat yang duduk diparlemen dan bisa melakukan banyak aksi melalui meja perundingan atau pengguliran mosi tidak percaya serta berbagai hal “terhormat” lainnya. Mereka bertabrakan dengan pemenuhan hidup sehari-hari yang harus mereka perjuangkan. Tidak seperti para anggota dewan atau pejabat pemerintah yang serba punya fasilitas dan tidak pusing dengan dampak kenaikan BBM terhadap perekonomian global.

Saya memang menyayangkan sikap-sikap anarkis para demonstran, termasuk mahasiswa kita yang terkesan sangat kurang santun dan beradab. Mereka malah menciptakan ketakutan-ketakutan baru dimasyarakat melalui aksi-aksinya itu.

Dahulu Imam Ali pernah mendiamkan aksi kelompok muawiyah yang tidak puas dengan sikapnya terhadap pembunuhan Usman. Tapi ketika Muawiyah sudah dianggap keterlaluan dan memberi efek yang tidak baik dimasyarakat, Ali kemudian mencoba melakukan pendekatan persuasif. Setelah beberapa kali dicoba gagal, dia lalu mengangkat senjata untuk memerangi fitnah muawiyah tersebut. Begitupula terhadap kelompok Khawarij dan kelompok Aisyah. Ini juga yang pernah dilakukan oleh Husain terhadap pemerintahan yazid sehingga cucu Nabi tercinta itu harus wafat dengan kepala terpenggal sebagai konsekwensinya.

Inilah menurut saya yang harusnya kita ketahui dari hadis Rasul berikut :

Dari Ibnu Umar ra. berkata : Rasulullah SAW bersabda :

Wajib atas seorang muslim (untuk) mendengar dan taat (kepada pemimpin) pada apa yang ia sukai ataupun yang ia benci, kecuali kalau ia diperintah (untuk) berbuat maksiat, maka tidak ada mendengar dan taat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak ada ketaatan untuk pemerintah dalam perbuatan Maksiat, sekarang maksiat itu apa saja ? apakah hanya sebatas menyembah patung ? durhaka kepada kedua orang tua kandung ? berzinah ? membunuh saja kah ? Apakah sikap mengamini bila pemerintah mengambil kebijakan yang menyensarakan kehidupan masyarakat banyak tidak bisa dikelompokkan sebagai perbuatan menyetujui kemaksiatan ?

Maksiat adalah perbuatan melanggar perintah Allah dan melakukan apa yg dilarang-Nya. Hasil dari perbuatan maksiat tsb bisa menimbulkan suatu kezhaliman, baik kezhaliman bagi diri sendiri maupun kezhaliman bagi orang lain. Jika aku simpulkan, maksiat itu adalah salah satu perbuatan zhalim seperti halnya kufur, fasik, musyrik, mungkar, dll. Dengan kata lain apabila pemerintah sudah berlaku zhalim, maka sangat mungkin dia sudah melakukan semua perbuatan2 tersebut diatas termasuk maksiat.

Kita tetap punya hak untuk mempertanyakan semua yang kita beri pada pemerintah dari seluruh pajak serta abondemen lainnya. Sebab itu adalah uang kita juga. Kita ikut punya andil memberikan sumbangan kepada negara dari hasil upah kita, dari rumah yang kita diami, dari kendaraan yang kita kendarai, dari telpon yang kita gunakan dan seterusnya.

Pemerintah harus punya penyeimbang, harus punya oposisi dan alat kontrol independens yang melakukan kritik terhadap kebijakan yang mereka keluarkan. Masalah suara kita yang lemah ini didengarkan atau tidak, that’s not big problem I think. Kita hanya perlu untuk memberi mereka kejutan-kejutan jiwa. At least, Allah tidak tuli maupun buta. Setiap rintihan orang yang tertindas pasti akan didengar-Nya.

Bertutur kata yang santun lebih lagi saya sepakat.

Tapi ada orang-orang, kaum-kaum, pejabat-pejabat yang tidak bisa dinasehati secara baik-baik. Semakin baik cara kita, semakin out of control dan semena-mena tindakan mereka. Tentu ini bukan satu-satunya cara yang ditawarkan oleh Islam untuk membuat sebuah perubahan dalam satu tatanan masyarakat.

Mari kita lihat dan ambil pembelajarannya dari firman Allah berikut :

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim diantara mereka. (QS. Al-Ankabut [29] :46)

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (Qs. Al-Baqarah [2] :193)

Untuk berubah, kita perlu action atau tindakan nyata.
Itulah yang dimaksud oleh Nabi dengan kalimat yang kurang lebih : “Siapa saja yang menyaksikan kemungkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya.”

Islam tidak memperbolehkan kita untuk berdiam diri saat dizalimi, ada banyak solusi yang menjadi pilihan buat kita dalam menyikapi keadaan yang stagmatis seperti itu. Keadaan suatu kaum tidak akan berubah bila kaum itu sendiri yang tidak merubahnya. Demikian isi dari salah satu ayat dalam al-Qur’an.

Jadi sekecil apapun action kita, didengar atau tidak oleh pemerintah, yang jelas kita sudah mengoptimalisasikan upaya yang bisa kita lakukan. Sesuai perintah al-Qur’an. Paling tidak dimata Allah, kita bukan orang yang hanya berpangku tangan menghadapi kondisi yang sangat pahit tersebut. Kita adalah bagian dari perubahan.

Saya tidak berprasangka buruk, tapi ini semua adalah kenyataan yang harus diungkap kehadapan publik untuk bisa menjadi nasehat kedepannya agar tidak lagi terulang. Apabila masih terulang, ya itu sudah bukan salah kita lagi tentunya. Setiap orang punya pilihan dan konsekwensi masing-masing atas pilihannya itu. Kita harus bisa membedakan antara prasangka dengan bukti nyata.

Jika sebuah perbuatan buruk tersebut pengaruhnya tidak terbatas pada si individu pelakunya semata, dalam artian ia telah mempengaruhi publik, misalnya seperti dalam bentuk institusi, negara, organisasi, kelompok atau komunitas tertentu, maka keburukan seperti ini justru menurut hemat saya sangatlah wajib dibongkar dan diungkapkan kepada orang banyak agar mereka mengetahui bahayanya untuk dijauhi dan ditinggalkan supaya mereka terhindar dari bahaya tersebut.

Asas praduga tidak bersalah adalah asas berprasangka baik pada orang lain. Tapi meski begitu, asas ini tidak menutup kemungkinan untuk dibuktikan kebenarannya. Sebab bila tidak seperti itu, maka pelaku kejahatan yang berkerah putih akan terus ongkang-ongkang kaki dinegeri ini. Mereka akan selalu menebar kezaliman demi kezaliman atas dasar prasangka tidak bersalah tersebut. Inilah makanya kita harus bisa menempatkan kapan asas praduga tidak bersalah ini dilakukan. Apa bedanya dengan membuka aib orang lain, apa bedanya dengan membuktikan kesalahan orang lain yang berakibat meluas pada satu kaum.

Kontroversi Hisab dan Rukyat [1] : Kapan Ramadhan dan Lebaran 2008 ?

Kontroversi Hisab dan Rukyat

Kapan Ramadhan dan Lebaran 2008 ?
Bagian 1

Oleh : Armansyah

http://armansyah.swaramuslim.com

https://arsiparmansyah.wordpress.com

Penulis buku :

Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih

Jejak Nabi “Palsu”

Ramalan Imam Mahdi

>> Copy paste tidak dilarang selama u/. non komersial dan menyertakan sumber aslinya <<

A. Akar Masalah

Dari masa kemasa, umat Islam selalu berselisih mengenai  penentuan awal bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal guna menetapkan kapan mereka harus mulai berpuasa dan kapan pula saatnya mereka harus mulai berbuka atau berhari raya. Perselisihan ini tidak lain diakibatkan oleh adanya perbedaan pola pandang antara satu atau lebih kelompok muslim dengan sekelompok muslim yang lainnya terhadap dalil atau nash yang menjadi acuannya (dalam hal ini adalah al-Qur’an dan sunnah Nabawiyah). Sebagian pihak tetap mendasarkan keyakinannya pada konsepsi rukyatul hilal atau melihat fisik bulan sabit secara langsung dengan mata telanjang atau bisa juga dengan bantuan teleskop modern sebagai sarana bantunya, sementara sebagian lagi lebih memilih kaidah perhitungan matematis dalam proses penentuan kalendarisasinya.

Nabi Muhammad Saw, dipercaya telah bersabda dalam sejumlah hadisnya sebagai berikut :

Sesungguhnya kami ini segolongan umat yang ummi, kami tidak pandai menulis dan tidak bisa menghitung, sebulan itu ada yang begini dan begini, yaitu kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari (HR. Muslim dari Ibnu Umar)

Janganlah kamu berpuasa sebelum kamu melihat awal bulan dan janganlah kamu berbuka sebelum kamu melihat awal bulan. Tetapi apabila awal bulan itu tidak bisa kelihatan, maka cukupkanlah bilangannya (30). (HR. Muslim dari Ibnu Umar dengan matn yang mirip dari Abu Hurairah).

Berawal dari sunnah atau tradisi yang diwariskan dari jaman kenabian tersebut diatas, maka  sebagian dari umat Islam dijaman modern sekarang ini masih memahami perlunya memelihara tradisi rukyatul hilal ini dalam rangka penentuan awal dan akhir suatu bulan khususnya bulan Ramadhan. Akibatnya maka seperti yang lazim kita temui disetiap tahunnya menjelang Ramadhan atau ‘Iedul Fitri, mulailah orang-orang sibuk mendaki tempat-tempat tinggi seperti pegunungan, perbukitan maupun gedung-gedung perkantoran pencakar langit untuk membuktikan penampakan bulan secara fisik. Tidak kurang pula sejumlah pos-pos pengamatan didirikan  disejumlah titik diseantaro negeri dan melibatkan juga teknologi-teknologi modern seperti teleskop untuk mencapai penglihatan mereka tersebut. Dari semua hasil pengamatan ini, pemerintah biasanya mengumpulkan data-data tersebut untuk selanjutnya dibawa kesidang It’sbat yang dihadiri oleh perwakilan-perwakilan organisasi massa Islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persis dan lain sebagainya. Tidak jarang hasil yang diputuskan menuai kontroversi dari sesama peserta sidang it’sbat itu sendiri, umumnya lagi kontroversi yang terjadi justru karena pada dasarnya sejumlah laporan dari pos-pos pengamatan hilal tertentu menyatakan telah melihat penampakan bulan sementara disebagian lainnya lagi masih menyatakan tidak melihatnya atau juga telah melihat namun masih kurang jelas karena ketinggian atau juga derajat bulan yang masih berada dibawah ufuk yang selanjutnya ditentukan dengan nilai dibawah 2 derajat. Menyikapi perbedaan seperti ini, pemerintah biasanya akan mengambil keputusan menggenapkan hari Ramadhan menjadi 30 hari yang secara tidak langsung telah membatalkan adanya laporan atau kesaksian orang-orang yang melihat tampaknya bulan secara fisik. Inilah yang kemudian menjadi pemicu dari timbulnya perbedaan awal ‘Iedul fitri atau 1 syawal antara pemerintah disatu sisi dengan sekelompok organisasi massa tertentu disisi yang lainnya.

Bukankah sudah jelas sebenarnya sabda Nabi Saw berikut ini :

Puasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika
awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. Jika dua orang saksi mempersaksikan (rukyatul hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya. (HR. An-Nasa’I 4/132, Ahmad 4/321, Ad-Daruquthni, 2/167, dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab dari sahabat-sahabat Rasulullah, dengan status sanad Hasan/Baik)

Namun umumnya bagi pemerintah Republik Indonesia, khususnya pihak Departemen Agama, keputusan mereka ini dianggap sebagai keputusan yang mutlak dan berlaku atau juga mengikat bagi semua lapisan masyarakat Muslim yang ada dibawah negara kesatuan Republik Indonesia. Akan tetapi bagi orang-orang maupun organisasi massa yang berseberangan dengan pemerintah, tidak kalah vokalnya menyatakan bahwa keputusan pemerintah yang dianggap tidak sesuai dengan mereka (atau dengan nash yang mereka pahami) tidak bisa dengan sendirinya membuat keterikatan bagi setiap Muslim dalam menjalankan keyakinannya terhadap apa yang mereka anggap lebih benar dari keputusan tersebut. Pro dan kontra semacam ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Muslim di Indonesia setiap tahun, sehingga tidak jarang membuat jarak antara seorang Muslim dengan Muslim yang lainnya. Bagi orang awam, perbedaan tersebut sangat membingungkan mereka, orang yang hatinya lebih banyak untuk malas berpuasa biasanya akan condong pula mengikuti pemahaman mereka yang lebih dahulu berhari raya sementara sebagian lagi diantara mereka yang fanatik akan mencondongkan diri mereka kepihak yang berpaham 30 hari. Kedua tipikal manusia seperti ini adalah contoh dari manusia-manusia muslim yang lalai dari ketentuan nash agamanya sendiri yang mewajibkan mereka berilmu pengetahuan dibidang akidah.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS AL-Israa (17) :36)

B. Defenisi Rukyat

Perkataan Rukyat berasal dari bahasa Arab “ra’a-yara-rukyat” yang memiliki arti “melihat“. Kata-kata ini beberapa kali digunakan oleh kitab suci al-Qur’an yang bisa dipahami bila perbuatan melihat yang dimaksudkan adalah secara sadar dengan inderawi jasmani dan bukan didalam mimpi. Misalnya firman Allah kepada Nabi Muhammad Saw :

Dan tidak Kami jadikan penglihatan (Ar-ru’yaa) yang Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia. (QS AL-Isra [17] :60)

Ayat tersebut berkaitan dengan peristiwa Israk dan Mikraj. Apabila ada anggapan bahwa pengertian Ru’yaa disitu sebagai mimpi maupun khayalan, maka bagaimanakah hal ini bisa menjadi ujian bagi manusia sebagaimana yang firman Allah yang ada pada bagian akhir ayat 60 surah al-Isra diatas ? Sedangkan makna ujian bagi manusia ini ialah adanya sebagian mereka yang membenarkan dan adapula yang mendustakan. Kalau hal itu berupa penglihatan dalam mimpi, maka orang tidak perlu lagi memperbincangkan untuk membenarkan atau mendustakannya. Adakah pembaca pernah menjumpai orang yang membantah terhadap mimpi seseorang karena didalam mimpinya itu ia melihat atau melakukan perbuatan begini dan begitu ? rasanya secara rasional terlalu berlebihan untuk bersikap demikian, tidak mungkin ada orang yang akan membantah mimpi itu yang notabene orang-orang kafir pada saat Rasul menceritakan peristiwa Israk dan Mikrajnya pun harusnya tidak akan membantahnya bila memang peristiwa ini terjadi dalam mimpi Nabi bahkan orang-orang Islam awalpun tidak perlu goncang imannya sebagaimana riwayat dari Imam Baihaqi dari ‘Aisyah binti Abu Bakar Radhiallahu ‘anha dan riwayat Ibnu Ishaq dari al-Hasan yang mengatakan adanya orang-orang Islam yang kembali menjadi murtad setelah Nabi menceritakan pengalaman Israk dan Mikrajnya itu. Penegasan bila peristiwa Israk dan Mikraj yang bukan dilihat oleh Nabi Muhammad dalam mimpi ataupun khayalnya melainkan dalam wujud sesungguhnya bisa dijumpai pada ayat al-Qur’an berikut :

Hatinya tidak mendustakan apa yang sudah dilihatnya, maka apakah kamu hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya ? (QS AN-Najm (53) :11-12)

Jadi dari adanya penampakan fisik yang terlihat dengan mata kepala Rasulullah beralih pada pembenaran secara hati oleh beliau Saw. Sebagaimana inipun merupakan rangkaian peristiwa yang terjadi secara simultan sesuai gambaran dari ayat pertama surah An-Najm hingga ayat kedelapan belas.

Dilain ayat diceritakan pula pada saat Nabi Ibrahim a.s. memandang takjub atas bintang-bintang, bulan dan matahari dilangit dalam kisah pencarian jati diri Tuhannya, kitapun mendapati penggunaan kata-kata Ru’ya yang sama. Dimana Nabi Ibrahim a.s. dikisahkan melihat dalam keadaan sadar atau melihat dengan mata kepalanya secara fisik.

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS AL-An’am [6] : 76-79)

Beranjak dari defenisi rukyat ini maka dalam kaitannya dengan proses penentuan awal bulan baru pada penanggalan Islam (Hijriah) berartikan sebagai melihat dengan mata kepala lahiriah akan status visibilitas hilal atau penampakan bulan sabit dilangit secara langsung[1]. Kelemahan utama dari sistem rukyat ini ada pada keterbatasan mata inderawi kita terhadap halangan-halangan yang bisa timbul dilangit saat pengamatan, seperti cuaca mendung hingga penglihatan tertutup awan hitam, ketinggian tempat pengamatan, waktu, dan lain sebagainya. Permasalahan klasik tersebut sudah disadari juga oleh Rasulullah Saw, sehingga kemudian beliau bersabda:

Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal/bulan sabit) dan berbukalah karena melihatnya. Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya’ban tiga puluh hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis diatas dan hadis-hadis lain yang sejenis (seperti dari Ibnu Abbas dan Abi Hatim) menjadi dasar argumentasi orang-orang yang mempertahankan metode rukyat sebagai satu-satunya cara dalam penentuan awal dari masuknya bulan baru.

Beberapa ulama yang bisa disebut mewakili kemutlakan penggunaan rukyat ini misalnya Ibnu Taimiyyah (seperti yang ditulis dalam kitab Majmu’ Fatawa, 25/207) yang bisa kita anggap mewakili ulama terdahulu dan Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (seperti yang tercantum dalam kitab Al-Fatawa Juz Tsani) sebagai wakil dari ulama salaf diabad modern. Baik Ibnu Taimiyyah maupun Abdul Aziz (atau kadang kala lebih dikenal dengan nama bin Baz saja) sama-sama beranggapan bila metode hisab haram untuk diterapkan, khususnya berkaitan dengan penentuan bulan Ramadhan dan Syawal maupun untuk penentuan bulan Dzulhijjah yang masing-masingnya berisikan ibadah-ibadah penting untuk umat Islam. Argumentasi yang mereka berikan tidak lain adalah hadis-hadis yang menyebutkan tentang adanya perintah Rasulullah Saw untuk menggunakan penampakan lahiriah dalam proses tersebut. Berikut kita akan melihat juga hadis-hadis lainnya diluar yang sudah kita tuliskan sebelum ini.

“Janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari kecuali seseorang diantara kalian yang biasa berpuasa padanya. Dan janganlah kalian berbuka sampai melihatnya (hilal Syawal). Jika ia (hilal) terhalang awan, maka sempurnakanlah bilangan tiga puluh hari kemudian berbukalah (Iedul Fithri) dan satu bulan itu 29 hari.” (HR. Abu Dawud dengan nomor hadis 2327, An-Nasa’I 1/302, At-Tirmidzi 1/133, Al-Hakim 1/425, dan sanadnya dishahihkan oleh Al-Hakim dan Adz-Dzahabi bersumber pada Ibnu Abbas)

“Apabila datang bulan Ramadhan, maka berpuasalah 30 hari kecuali sebelum itu kalian melihat hilal.” (HR. At-Thahawi dalam Musykilul Atsar 105, Ahmad 4/377, Ath-Thabrani dalam Ak-Kabir 17/171 dan lain-lain bersumber pada Adi bin Hatim)

“Berpuasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. Jika dua orang saksi mempersaksikan (penampakan hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya.” (HR. An-Nasa’I pada 4/132, Ahmad 4/321, Ad-Daruquthni, 2/167, dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab dari sahabat-sahabat Rasulullah, sanadnya Hasan. Demikian keterangan Syaikh Salim Al-Hilali serta Syaikh Ali Hasan. Lihat Shifatus Shaum Nabi, hal. 29)

“Sesungguhnya kami ini umat yang ummi, tidak pandai menulis dan tidak pandai menghitung perjalanan bulan, bulan itu ada yang begini, begini dan begini, dikurangi beliau dengan ibu jari pada kali yang ketiga (29) dan bulan itu ada yang begini, begini dan begini (30)”. (HR Muslim dari Ibnu Umar)

Ibnu Taimiyyah berkata, “Dan orang yang berpijak pada hisab dalam (menentukan) hilal, sebagaimana ia sesat dalam syariat, iapun telah berbuat bid’ah dalam agama, dia telah salah dalam hal akal dan ilmu hisab.” (Majmu’ Fatawa, 25/207)

Bagi penulis pribadi (baca: Armansyah), terkait dengan kelompok yang hanya mendasarkan diri pada metode rukyat berikut fatwa Ibnu Taimiyyah atas orang-orang yang melakukan hisab. Selama fatwa itu masih dinyatakan oleh seorang manusia (dalam hal ini adalah ulama dibidang agama) yang ditarik atas dasar pemahamannya terhadap nash syar’i, maka sifatnya tidak mengikat orang diluarnya untuk mengikuti apa yang dia fatwakan -sekali lagi- berdasarkan apa yang bisa beliau pahami terhadap nash syar’i, semua orang yang berilmu dan berakal bisa memiliki pemahaman yang berbeda satu dengan lainnya atas nash tersebut. Tidak bisa dihindari bahwa pemahaman seseorang terhadap nash tertentu ditentukan oleh banyak faktor, mulai dari kondisi umat yang berlaku dimasa ia hidup, sejauhmana penguasaan beliau akan ilmu-ilmu lain dan sebagainya dan seterusnya. Bagaimanapun faktanya, Islam tidak mengenal sistem kependetaan dimana semua fatwa ulama harus dan wajib untuk di-ikuti. Agama Islam dibangun atas fondasi wahyu yang kokoh yang harus dikaji dan dipelajari secara utuh dan cerdas hingga sampai kepada ayat-ayat Muhkamat dan Mutasyabihatnya, begitupula as-Sunnah sebagai tradisi yang diwariskan oleh Nabi Saw. Jika kita kembalikan kepada konteks al-Qur’an sebagai otoritas tertinggi dalam hukum Islam, apa yang menjadi perselisihan menyangkut ru’yat dan hisab dalam penentuan bulan barunya, kita akan menemukan banyak perintah buat kita agar mau belajar dan terus berpikir agar tercapai kemaslahatan ditengah manusia dan umat dalam kerangka ibadah kepada Allah. Artinya al-Qur’an tidak menganjurkan umatnya agar bersifat statis dan dogmatis tetapi dinamis dan kreatif, Allah ingin agar kita cerdas dalam segala hal sesuai batas-batas kemampuan yang bisa kita lakukan. Olehnya sekali lagi setiap orang berhak untuk memilih jalan yang berbeda dengan yang lain dalam berpendapat atau bersikap. Kita harus menghindarkan diri dari perbuatan syiqaq atau perbedaan yang timbul karena fanatisme madzhab tanpa melihat kebenaran lain yang boleh jadi ada diluar madzhabnya.

Dinegeri Indonesia yang tercinta ini, ada kecenderungan banyak pihak untuk menyetujui kombinasi hisab dan rukyat dengan catatan-catatan khususnya. masih menurut hemat penulis (baca: Armansyah), metode ini justru tidak efektif dan cenderung hanya mengakomodir pihak-pihak yang hendak menggunakan hisab ditengah arus mainstream yang masih berpahamkan wajibnya rukyat. Sebab kriteria derajat bulan yang umumnya diwakili dengan angka dua derajat tersebut apabila kita kembalikan pada konteks nash yang mengatur mengenai masuknya awal bulan baru justru sama sekali tidak ditemukan.

Malah perbuatan itu sudah menyalahi nash-nash yang bercerita tentang pembenaran Rasulullah Saw pada kasus-kasus kesaksian sejumlah orang berkaitan penampakan bulan sabit sesudah hari kedua puluh sembilan, sehingga oleh karena itu beliau menetapkan berbuka dan berpuasa tanpa harus mempermasalahkan setinggi apa posisi bulan yang terlihat oleh orang-orang tersebut.

“Manusia sedang melihat-lihat (munculnya) hilal. Aku beritahukan kepada Nabi Saw bahwa aku melihatnya. Maka beliau berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa.” (HR. Abu Dawud nomor 2342, Ad-Darimi 2/4, Ibnu Hibban 871, Al-Hakim 1/423 dan Al-Baihaqi, sanadnya Shahih sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Hajar dalam At-Talkhisul Kabir 2/187).

“Berpuasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. Jika dua orang saksi mempersaksikan (rukyatul hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya. (HR. An-Nasa’I 4/132, Ahmad 4/321, Ad-Daruquthni, 2/167, dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab dari sahabat-sahabat Rasulullah, dengan status sanad Hasan/Baik)

Adanya kombinasi hisab dan rukyat masih menurut pemikiran saya pribadi merupakan cara berpikir yang pincang serta cenderung tidak berpendirian. Hal ini tidak lain karena sikap tersebut jelas sekali menunjukkan keragu-raguan antara berpihak pada hisab yang mengandalkan kalkulasi serta teknologi canggih sesuai jaman yang berlaku ataukah mengikuti cara-cara tradisional menggunakan rukyat dengan dasar alasan perbuatan itu adalah sunnah Rasul pada jamannya meskipun tingkat akurasinya masih bisa dipermasalahkan. Penulis lebih cenderung untuk condong pada kelompok yang terakhir, yaitu menolak secara penuh pemakaian rukyat dan menggantinya dengan hisab. Dalam pandangan Islam yang saya pahami, iman adalah pembenaran yang pasti yang sesuai dengan kenyataannya disertai dengan dalil-dalil atau argumen yang pasti kebenarannya. Jadi suatu pembenaran yang tidak pasti, tidak bisa disebut iman. Pembenaran yang pasti tersebut tidak mungkin tercapai kalau masih dilandasi argumen yang masih meragukan. Baik alasannya disandarkan pada pemikiran (dalil aqli) maupun pemberitaan (dalil naqli). Apalagi al-Qur’an berkata bahwa yang kesimpulannya, kebenaran yang kita peroleh dari berita (dalil naqli) harus terlebih dahulu dibuktikan secara akal. Artinya, sumber yang memberitakannya harus kita yakini kebenarannya secara akal. Dalam perkara keimanan, Islam melarang seorang muslim bertaklid atau hanya ikut-ikutan. Pembenaran yang pasti dari seorang muslim tidak mungkin dicapai hanya dengan ikut-ikutan, tanpa memahami permasalahan yang sebenarnya. Kaum muslimin dilarang mengikuti keyakinan-keyakinan pendahulu mereka yang bertentangan dengan Islam, lebih-lebih al-Qur’an dan pemikiran.

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, `Ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah’, mereka menjawab: `(Tidak), tetapi kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami’. Apakah mereka akan mengikuti juga walaupun nenek  moyang mereka tidak mengikuti suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah (2) :170)


[1] Termasuk menggunakan teleskop bintang maupun teropong biasa

Kontroversi Hisab dan Rukyat [2]: Kapan Ramadhan dan Lebaran 2008 ?

Kontroversi Hisab dan Rukyat

Kapan Ramadhan dan Lebaran 2008 ?
Bagian 2

Oleh : Armansyah

http://armansyah.swaramuslim.com

https://arsiparmansyah.wordpress.com

Penulis buku :

Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih

Jejak Nabi “Palsu”

Ramalan Imam Mahdi

>> Copy paste tidak dilarang selama u/. non komersial dan menyertakan sumber aslinya <<

C. Defenisi Hisab

Secara bahasa, istilah Hisab berasal dari bahasa Arab “hasaba” yang memiliki arti menghitung, memperkirakan atau juga membilang. Istilah hisab tersebut erat kaitannya dengan teknis kerja secara teoritis dan praktis yang ditunjang oleh adanya pembuktian tertentu sehingga mendapatkan hasil akhir yang tepat. Dalam konteks perbincangan hisab kedalam ilmu Astronomi atau perbintangan modern[1] maka proses kerja hisab dimasa kita sekarang ini sering dan tidak dapat dihindarkan untuk berkorelasi dengan teknologi canggih, seperti keterlibatan satelit ruang angkasa dengan berbagai pencitraannya maupun visualisasi dalam bentuk aplikasi komputer yang sudah diprogram sedemikian rupa berdasar kondisi dan pengamatan langsung oleh satelit tadi.

Dimasa lalu, hisab bisa jadi hanya berkisar hitung-hitungan diatas kertas semata sebab memang sarana untuk menjangkau penentuan posisi bulan, matahari dan benda langit lainnya dengan tingkat ketelitian atau akurasi hasil perhitungan yang dihasilkan belum memadai. Kemajuan peradaban dimasa hidup kita sekarang seyogyanya sudah mengantarkan pada satu kaidah mutlak, dimana apa-apa yang bisa dimanfaatkan guna mencapai tujuan pewahyuan al-Qur’an ditengah masyarakat menyangkut kemaslahatan tidak dapat lagi ditolak dengan dasar argumentasi klasik bila perbuatan itu belum pernah dilakukan oleh Nabi Saw. Proses hisab cenderung tidak akan terhalang oleh adanya perubahan cuaca yang fluktuatif yang dapat membatasi pandangan mata saat pengamatan. Fakta dilapangan menunjukkan bila metode hisab ini digunakan banyak orang dalam kegiatan sehari-harinya sehubungan penentuan waktu shalat maupun waktu sahur dan berbuka puasa.

Kelompok ini umumnya menolak penggunaan rukyat dan hanya mendasarkan diri pada teknis hisab semata-mata. Mereka umumnya mendasarkan diri pada kata-kata “syahida” yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 185.

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (haq dan batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu (faman syahida minkumu (al)sysyahra), dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah (2) :185)

Mereka berpendapat bahwa kata “syahida” erat kaitannya dengan pembuktian secara luas dan tidak hanya terbatas seperti penggunaan istilah “yubshiru” yang berelevansikan pembuktian penglihatan secara fisik. Istilah syahida adalah pembuktian yang bisa terjadi secara fisik ke fisik (yaitu melalui pandangan mata lahiriah) dan bisa juga dengan perhitungan akal dan logika. Contoh sederhana seperti saat kita mengucapkan dua kalimat Syahadah (“Asyhadu”). Kita tidak melihat fisik Allah, dan kita juga tidak melihat fisik Rasulullah, tetapi istilah yang digunakan didalamnya adalah kata “syahida” bukan “bashiru” atau “yubshiru”.

Istilah bulan dalam dalam bahasa Arab disebut dengan asy-Syahr atau juga Qomar. Perbedaan keduanya seringkali didefenisikan oleh banyak orang dalam hal pengertiannya, dimana asy-Syahr dimaksudkan sebagai bulan dalam perhitungan kalendar sementara Qomar adalah bulan dalam bentuk fisik diangkasa. Secara etimologi, istilah Syahr memiliki bentuk lain yaitu “asy-harat” yang artinya adalah wanita hamil yang perutnya bundar (besar dan lebar). Penyerupaan ini cocok dengan keadaan atau perwujudan dari bulan yang sesungguhnya. Intinya adalah bahwa syahr memiliki sifat yang jelas dan umum. Dengan demikian, maka Qomar dan Syahr sama-sama merujuk pada benda yang sama akan tetapi penyifatan berbeda. Selain menggunakan istilah syahr, al-Qur’an juga memperkenalkan istilah Hilal. Yaitu merupakan penunjuk pada keadaan bulan yang baru lahir (sabit).

“Dan telah Kami tetapkan bagi bulan garis edarnya, sehingga (setelah dia sampai ketitik edar tertentu) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua”. (QS Yaasin (36) :39)

Penentuan awal bulan (bulan baru) ditandai dengan terlihatnya wujud  bulan seperti sabit untuk pertama kali setelah proses konjungsi atau ijtimak. Ijtimak sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti berkumpul. Dalam hal ini yang dimaksud Ijtimak adalah peristiwa dimana Bumi, Bulan dan Matahari berada sejajar dalam garis meridian yang sama. Ijtimak terjadi setiap 29,531 hari sekali, atau disebut pula satu bulan sinodis. Setiap siklus 30 tahun pada sistem penanggalan Hijriyah, maka 11 tahun dijadikan tahun kabisat (dimana pada tahun kabisat ini bulan Dzulhijjah dijadikan 30 hari) sehingga jumlah hari dalam satu tahunnya berjumlah 355 hari. Sistem penanggalan ini juga memiliki 11 hari yang lebih cepat dari kalender Masehi, hal ini karena sistem tersebut menggunakan siklus sinodis bulan. Satu kali putaran sinodis dari bulan adalah 29.530588 hari atau tepatnya lagi adalah selama 29 hari 12 jam 44 menit 03 detik.

Pada saat terjadinya ijtimak, bulan tidak dapat terlihat dari bumi, karena permukaan bulan yang nampak dari bumi tidak mendapatkan sinar matahari. Dengan terbenamnya bulan sesaat sesudah terbenamnya matahari dalam penglihatan dibumi dikenallah istilah Bulan Baru. Sebagai konsekwensi maka keesokan harinya sudah harus dinyatakan sebagai awal tanggal pertama bulan Hijriyah berikutnya.

Berdasar kriteria inipula sejumlah organisasi massa Islam di Indonesia dan juga dunia menetapkan sistem penanggalan Hijriyah. Konsepsi ini dikenal pula dengan istilah Wujudul Hilal (ijtimak qoblal qurub). Melalui pembelajaran yang mendalam tentang perjalanan bulan ini maka  kita sebenarnya sudah dapat menyusun kalender Hijriyah termasuk penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha untuk tahun-tahun yang akan datang. Hal ini menjadi praktis tanpa harus melakukan proses rukyat atau melihat fisik bulan secara langsung dengan mata lahiriah manusia.

Jika kita kembalikan kepada konteks al-Qur’an sebagai otoritas tertinggi dalam hukum Islam, apa yang menjadi perselisihan menyangkut ru’yat dan hisab dalam penentuan bulan barunya, kita akan menemukan banyak perintah buat kita agar mau belajar dan terus berpikir agar tercapai kemaslahatan ditengah manusia dan umat dalam kerangka ibadah kepada Allah. Artinya al-Qur’an tidak menganjurkan umatnya agar bersifat statis dan dogmatis tetapi dinamis dan kreatif, Allah ingin agar kita cerdas dalam segala hal sesuai batas-batas kemampuan yang bisa kita lakukan. Tidak dapat dipungkiri bila dalam proses penghisaban hilal, ada banyak metode yang digunakan. Diantaranya, Hisab Urfi, Hisab Taqribi, Hisab Haqiqi, Hisab Haqiqi Tahqiqi dan Hisab Kontemporer. Perbedaan diantara semua metode hisab ini terletak pada akurasi hasil akhirnya akibat perbedaan penggunaan rumus-rumus perhitungan dalam hal ketinggian hilal dari batas ufuk. Metode hisab kontemporer atau disebut juga hisab modern sudah menggunakan alat bantu komputer melalui bahasa-bahasa pemrograman terkini yang diintegrasikan dengan algoritma terperinci berdasar keadaan yang sebenarnya yang diperoleh melalui hasil pencitraan satelit.

Beberapa contoh aplikasi komputer yang sudah dibuat untuk hal ini dengan tingkat ketelitian hasil yang tinggi dan cenderung akurat (High Accuracy Algorithm) adalah Virtual Moon Atlas, Jean Meeus, VSOP87, ELP2000 Chapront-Touse, Almanac Nautica, Accurate Times, Mooncalc, Starrynight Pro, Winhisab, Mawaqit, Hallo Northern Sky, Lunar Calendar & Eclipse Finder,  Lunar Atlas, LunarPhase, dan seterusnya. Dari beberapa aplikasi tersebut diatas, maka penulis lebih merekomendasikan pemakaian aplikasi Virtual Moon Atlas buatan Christian Legrand dan Patrick Chevalley untuk proses hisab bulan. Aplikasi tersebut dapat didownload secara bebas dari situsnya di Internet (file masih dalam format ISO) dengan alamat http://www.astrosurf.com/avl, versi terakhir saat tulisan ini dibuat adalah 3.5 dengan besar kapasitas file 500 MB sebelum proses instalasi.

Sekaitan dengan ini, melalui bantuan aplikasi komputer Virtual Moon Atlas (http://www.astrosurf.com/avl) kita akan mencoba melihat simulasi kedudukan bulan pada Iedul Fitri 1429 H. Pada penanggalan kalendar yang berlaku resmi di Indonesia untuk tahun 2008, 1 Syawal 1429 H ditulis jatuh pada hari Rabu tanggal 01 Oktober 2008. Artinya proses konjungsi telah terjadi pada tanggal sebelumnya, yaitu 30 September 2008. Disini kita akan menampilkan visualisasi mulai tanggal 29 September 2008 pada pukul 18:00 kemudian visualisasi pada tanggal 29 September 2008 pukul 23:59 sampai dengan visualisasi pada tanggal 30 September 2008 pukul 07:00 pagi dan tanggal 30 September 2008 pukul 18:00 sore hari. Semua waktu dihitung berdasar zona Indonesia Barat (WIB) yang dapat diatur pada menu Configuration-General-Date/Time-Use computer Date and Time Zone.

Dari visualisasi simulasi yang dihasilkan oleh aplikasi komputer Virtual Moon Atlas, tampak jelas bagi kita bahwa pada tanggal 29 September 2008 pukul 18:00 Wib telah terjadi proses ijtimak. Hal ini diperkuat dengan perhitungan kita pada pukul 23:59 Wib untuk tanggal yang sama visualisasi simulasi yang dihadirkan menunjukkan posisi bulan sudah memasuki bulan baru. Pada tanggal 30 September 2008 pukul 07:00 pagi Wib, posisi bulan baru sudah terlihat dengan jelas dan posisi azimut (ketinggiannya) sendiri telah mencapai angka 4 derajat. Dengan demikian maka pada tanggal 30 September 2008, seharusnya umat Islam sudah memulai tanggal 01 Syawal 1429 Hijriyah. Bukan sebagaimana tercantum dalam kalendar nasional yang menetapkan 1 Syawal pada tanggal 1 Oktober 2008. Perhitungan yang sama juga berlaku untuk tanggal 01 Muharram 1430 Hijriyah. Pada kalendar nasional Indonesia telah ditetapkan jatuh pada tanggal 29 Desember 2008, sementara dalam simulasi  visualisasi bulan yang dihasilkan oleh aplikasi komputer Virtual Moon Atlas untuk bulan baru telah terjadi pada tanggal 27 Desember 2008 sehingga tanggal 01 Muharram 1430 Hijriyah mestinya jatuh pada tanggal 28 Desember 2008 dan bukan tanggal 29 Desember.

Menariknya disini, perhitungan dan simulasi yang dihasilkan oleh aplikasi komputer Virtual Moon Atlas tersebut memiliki padanan yang nyaris sama dengan penanggalan bulan yang disusun oleh National Aeronautics and Space Administration yang biasa disingkat NASA, yaitu Badan Ruang Angkasa milik pemerintahan Amerika Serikat. Dalam situsnya di Internet[2], NASA menyajikan penanggalan bulan yang dibuat berdasar fase perjalanan bulan selama satu abad. Perhitungan tersebut didasarkan pada standar waktu Universal (GMT).


Dengan tidak mengurangi penghormatan kita terhadap orang-orang yang memegang teguh pandangan diatas, maka sebenarnya apa yang dimaksud dengan melihat bulan sabit setelah ijtimak terjadi sehingga menghasilkan kepastian dan kejelasan mengenainya memiliki maksud untuk membuktikan sudah masuknya bulan baru atau syahida asy-syahr. Secara keilmuan, khususnya Astronomi modern yang sudah sampai pada taraf sedemikian majunya seperti jaman kita sekarang ini hal tersebut jelas-jelas bisa dilakukan tanpa kita harus melakukan rukyat secara lahiriah. Dengan kata lain maka kita bisa merukyat bil’ilmi atau bil’aqli. Tindakan ini tidak harus disikapi secara frontal sedemikian rupa sehingga seolah-olah kita maupun orang-orang lain yang melakukannya telah keluar dari garis ketentuan agama, hanya karena perbuatan ini tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw.

Sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkaitan dengan penentuan bulan baru pada masanya yang merujuk pada visualisasi secara lahiriah bila kita lihat secara jujur dan pikiran terbuka (open minded) sama sekali tidak bertentangan dengan penetapan untuk hal yang sama dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan hasil kemajuan teknologi modern.

Bagaimana bisa kita berpendapat seperti itu, maka inilah argumentasi kita :

Nabi Muhammad Saw bersabda, “Sesungguhnya kami ini segolongan umat yang ummi, kami tidak pandai menulis dan tidak bisa menghitung, sebulan itu ada yang begini dan begini, yaitu kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari”. (HR. Bukhari, Muslim dan lain-lain)

Hadis diatas bisa kita lihat sebagai sebuah pengakuan yang jujur dari pribadi Nabi Muhammad Saw mengenai status peradaban umatnya saat itu. Dimana mereka disebutkan tidak pandai dalam hal ilmu pengetahuan (termasuk baca, tulis dan menghitung). Jadi, jika ternyata umat beliau sekarang ini sudah lebih pandai dalam hal tersebut ketimbang umat dimasa lalu, maka seyogyanyalah kepandaian ini dipergunakan dalam kerangka menetapkan apa-apa yang sebelumnya sering menjadi keraguan akibat keterbatasan yang ada. Hadis tersebut menjadi parameter lain untuk kita bila Nabi Muhammad Saw secara tidak langsung mengakui adanya metode lain diluar dari apa yang biasa beliau dan umatnya gunakan untuk penentuan bulan baru. Memang tidak menutup kemungkinan bahwa dimasa Nabi Saw hidup, ada orang-orang tertentu yang bisa melakukan proses penghitungan bulan atau merukyat bil’ilmi, akan tetapi karena cara dan bentuk kepastian dari metode ini belum bisa disebut akurat akibat keterbatasan kondisi peradaban dimasa itu maka Nabi Saw belum menggunakan metode seperti ini.

Masalah ini erat kaitannya dengan situasi dan kondisi masyarakat pada waktu itu, yakni mereka pada umumnya tidak dapat menulis dan menghitung. Ini berarti jika kondisi yang disebutkan dalam hadits tersebut tidak ditemukan lagi, maka tidak ada keharusan melakukan rukyat dan sebagai alternatifnya adalah kebolehan melakukan hisab. Jadi, ke-ummi-an umat merupakan ‘illat dari perintah ditetapkannya rukyat. Dengan demikian, yang menjadi al-ashl adalah rukyat  yang secara jelas telah ditetapkan oleh nash hadis. Kemudian obyek yang akan ditentukan hukumnya adalah status hisab, karena penetapan hisab secara eksplisit memang tidak ditegaskan oleh nash hadis tersebut. Oleh karena itu, hisab berposisi sebagai al-far’u dalam kasus ini. Sedangkan yang menjadi hukm al-ashl adalah keharusan melakukan rukyat dalam menentukan bulan baru. Lebih jauh mungkin perlu dipertegas juga bahwa ‘illat (sebab) selalu berjalan bersama ma’lul (musabab) dalam keberadaannya maupun ketiadaannya. Hal ini berarti untuk kasus kita diatas, apabila umat Islam telah keluar dari kondisinya yang ummi dan telah mampu menulis dan berhitung, maka dangan sendirinya hisab dapat diberlakukan. Disini saya juga akan mengutip dari bukunya Buya Hamka “Pandangan Hidup Muslim” terbitan Bulan Bintang Djakarta 1966 halaman 142 :

“Kalau misalnya hiduplah Nabi kita Muhammad Saw dijaman kita ini, agaknya akan beliau suruhkanlah Bilal bin Rabah melakukan azan dengan memakai loadspeaker dan mikrofon. Akan beliau suruhkan agaknya Mu’az bin Djabal menyebarkan Islam kenegeri Yaman, bahkan keseluruh dunia dengan memakai radio”.

Penulis sependapat dengan almarhum Buya Hamka tersebut, bahkan mungkin Nabi Saw pun akan melakukan dakwah beliau dengan memanfaatkan email, milis, handphone, chat, telekonfrens, buku, brosur dan sebagainya sesuai bentuk-bentuk penyampaian informasi yang sudah kita kuasai dijaman sekarang. Hal ini selaras pula dengan apa yang disampaikan oleh Bapak M. Hasbi Ash Shiddieqy dalam bukunya “Pedoman Puasa”, terbitan Bulan Bintang Djakarta 1960 halaman 53 :

“Perintah berpuasa sesudah melihat bulan dengan mata kepala adalah : Lil Irsyad bukan Lil Idjab yaitu melihat bulan dengan mata kepala hanyalah salah satu jalan memulai puasa tetapi bukan satu-satunya jalan. Ini hanya jalan yang ditempuh oleh umat yang belum pandai berhisab. Karenanya sangat menggelikan hati kalau orang berpuasa yang fanatik kepada lahir perintah, terus menetapkan bahwa dialah (rukyat bil fi’li) satu-satunya jalan buat memulai puasa”.

Didalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim serta Imam Ahmad yang bersumber kepada Ibnu Umar disebutkan bila Nabi Saw bersabda, “Sebenarnya bulan itu dua puluh sembilan hari, maka janganlah kamu berpuasa sampai kamu melihat bulan dan janganlah kamu berbuka sampai kamu melihatnya. Jika mendung, “kadarkanlah” olehmu atasnya (Fa in ghumma ‘alaykum faqdurulah)”.

Imam Nawawi (1983, juz 7, hal. 190) mengatakan bila umumnya hadis-hadis tersebut diatas membagi pemahaman tentang perlunya melihat hilal (bulan sabit) bagi orang yang akan berpuasa maupun mengakhirinya (yaitu berhari raya). Adapun menyangkut bilangan bulan yang disebut didalam hadis, yakni 29 hari, ini menurutnya berlaku dalam kondisi cuaca yang baik. Sementara dalam kondisi yang tidak baik karena tidak memungkinkan melihat hilal, maka tetap saja puasanya harus disempurnakan menjadi tiga puluh hari.  M. Hasbi Ash Shiddieqy masih dalam buku yang sama (hal. 49) menyatakan bahwa ulama berbeda pendapat dalam mengartikan perkataan faqdiru atau “perkirakanlah”. Jumhur ulama dari madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i berpendapat bahwa artinya sempurnakan menjadi 30 hari sebagaimana riwayat dalam hadis lain dari Muslim yang berbunyi “Faqduru lahu tsalatsina” atau “kadarkanlah untuknya 30 hari”, sementara yang lainnya berpendapat pergunakanlah hisab. Menurut Ibn Suraij, Muthrab Ibn Abdillah, Ibnu Qutaibah dan lain-lain sebagainya, maksud dari kata tersebut adalah mereka mengukurnya dengan suatu hitungan yang berdasar manzilah-manzilah (lintasan orbitnya). Istilah faqdiru sendiri bisa diartikan sebagai ukuran sesuatu. Kata ini memiliki makna yang sama dengan kata taqdir, yang merupakan derivasi dari kata kerja qaddara yang artinya menetapkan batas atau kadar tertentu. Arti seperti ini dapat dijumpai dalam al-Qur’an surat al-Mursalat ayat 23, dalam konteks penciptaan manusia, yaitu: “Lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan”

Selaras dengan ini, penulis pada kesempatan ini ingin merujuk pada salah satu firman Allah : “Wahai masyarakat Jin dan Manusia, jika kalian sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, silahkan lintasi, tapi kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan sulthon“. (QS AR-Rahman (55) :33)

Istilah “sulthon” bisa diterjemahkan sebagai kekuatan, dan dalam hal ini merujuk pada kekuatan akal, yaitu bagaimana memaksimalkan kemampuan akal yang ada untuk mampu menciptakan peradaban yang cerdas, berilmu pengetahuan tinggi sehingga memungkinkan untuk mengeksplorasi seluruh alam semesta ini untuk kemaslahatan hidup selaku Khalifah Tuhan dibumi. Kita maklum bila ilmu hisab atau ilmu Astronomi, merupakan salah satu masterpiece manusia yang tentu saja bisa digunakan untuk berbagai tujuan termasuk menentukan perhitungan waktu atau penanggalan sebagaimana di-isyaratkan oleh ayat-ayat yang sudah banyak kita kutipkan dibagian atas sebelum ini. Karena itulah kita akan kembali kepada konsep Iqra, konsep membaca, baca dan bacalah terus. Analisa dan teruslah menganalisa, temukanlah, manfaatkanlah semua potensi yang ada dalam diri ini. Tidak heran bila ayat ini justru yang turun pertama kepada Rasulullah Saw.

Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan,  Dia ciptakan manusia dari segumpal darah.  Bacalah karena Tuhanmu itu sangat mulia Yang mengajar dengan Qalam.  Dia mengajar manusia apa yang mereka tidak tahu
(QS AL-Alaq (96) : 1 s/d 5)

Perintah berpikir adalah perintah Allah dalam al-Qur’an, salah satunya silahkan lihat kembali akhir surah Yuunus ayat 5 : “Liqowmi ya’lamun” yang artinya, “Dia menjelaskan ayat-ayatNya bagi kaum yang mau mengetahui”. Ayat tersebut berlaku secara menyeluruh tanpa terkecuali, entah itu dalam aspek kehidupan beragama maupun bermasyarakat. Akal diberikan oleh Allah untuk berpikir, membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Tanpa akal, manusia tidak lebih dari sekedar hewan yang tidak pernah memikirkan benar salah tindakannya bahkan mungkin jauh lebih sesat daripada itu. Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul kedunia untuk memberikan petunjuk kepada manusia agar memilih jalan kebenaran, dan petunjuk Allah itu hanya bisa diterima oleh orang-orang yang mau untuk berpikir tentang hakikat kebenaran sejati. Dan berpikir yang benar didalam penerimaan tersebut adalah berpikir yang tidak hanya merenung atau asal-asalan, namun berusaha untuk mengerti, mempelajari, menyelidiki, memahami serta mengamalkan dan alat untuk itu semua adalah akal. Menisbikan peranan akal pikiran untuk menggapai keimanan sama sekali tidak layak kita terapkan, sebab hal ini akan menyamakan kedudukan kita dengan para penyembah berhala yang tidak pernah mau tahu tentang benar salahnya keimanan mereka, yang jelas mereka harus menerima dan yakin. Jika sudah begini untuk apa wahyu diturunkan ? Untuk apa para Nabi dan Rasul diutus ? Untuk apa Tuhan menciptakan manusia ? Untuk apa Tuhan melimpahkan akal ? serta untuk apa Tuhan menjadikan kebenaran dan kebatilan ?

Ditetapkannya suatu keputusan kepada keimanan berdasarkan kepuasan (kemantapan) akal. Artinya, keimanan tidak berarti mematikan akal, bahkan Islam menyuruh akal untuk beramal pada bidangnya sehingga mendukung kekuatan iman. Ibnu Taimiyah bahkan pernah mengatakan, “Sesuatu yang diketahui dengan jelas oleh akal, sulit dibayangkan akan bartentangan dengan syariat sama sekali. Bahkan dalil naqli yang shahih tidak akan bertentangan dengan akal yang lurus, sama sekali. Kita tahu bahwa para Rasul tidak memberikan kabar dengan sesuatu yang mustahil menurut akal” (Dar’u Ta’arrudhil ‘Aql wan Naql, 1/155, 138)


[1] Masyarakat ada juga yang masih menggunakan istilah ilmu falak

[2] Phases of the Moon: 2001 to 2100, http://sunearth.gsfc.nasa.gov/eclipse/phase/phases2001.html

%d bloggers like this: