Media oh media…

Sayang sekali, pernikahan putri Aa’ Gym yang berlangsung Islami dan melalui prosesi yang juga luar biasa –yaitu sang calon suami merupakan orang yang hafidz Qur’an– tidaklah segegap gempita ketika seorang artis yang jauh dari nilai-nilai Islamnya melangsungkan pernikahan mereka. Mulai dari akad hingga bulan madu di ekspos tiada henti diberbagai tayangan pemberitaan dan entertainment. Bahkan sampai-sampai ada stasiun televisi yang menyiarkan acaranya secara live sepanjang hari. Tetapi mana pemberitaan heboh tentang sebuah pernikahan putri seorang ulama kondang dengan seorang hafidz Qur’an?

Nyaris tidak terdengar ada media sekuler yang memberitakan mereka kecuali hanya sebatas informasi singkat seakan tak berarti sama sekali. Jelas sekali ketidaksenangan dan sentimen tercium disini. Untuk pesta yang bersifat foya-foya, mengumbar harta secara berlebihan, dipenuhi oleh pakaian yang membuka aurat maka media kufar dan sekuler berlomba-lomba menyebarluaskannya. Seakan itu adalah gaya hidup yang jamak dan harus diterima oleh siapapun penduduk negeri ini. Meskipun mereka terdiri dari orang-orang miskin.

Sebaliknya hal yang sama tapi dilakukan secara sederhana dan penuh nuansa agama tidak dianggap penting untuk dipublikasikan ditengah kondisi bangsa yang rapuh dan kurang tuntunan moral ini. Mereka ingin generasi ini bertambah rusak dan hancur sehingga semakin mudah untuk dimurtadkan, semakin mudah untuk dilemahkan sampai akhirnya merekalah yang kelak mengambil alih kekuasaan atas negara yang konon penduduknya mayoritas Islam ini. Mereka lebih suka menyanjung dan memberitakan seorang gubernur kafir yang bahkan dari mulutnya keluar kata-kata kasar maupun sikap-sikap tidak berpendidikan sebagai seorang superhero yang terzalimi. Na’udzubillah, itulah makar mereka.

Saatnya untuk berpikir dan bertindak semakin cerdas ya ayyuhal muslimun.

Salam dari Palembang Darussalam.
10 Maret 2015, Armansyah Azmatkhan.

1st Posted : https://www.facebook.com/armansyah/posts/10153070557653444

Advertisements

Cinta, pernikahan dan Syurga bersama

Pernikahan itu salah satu terapan nyata untuk belajar saling menerima kesamaan dan kekurangan orang lain. Keharmonisan sebuah hubungan percintaan dua insan bukanlah semata tentang rasa cinta itu sendiri, tapi kedewasaan untuk ikhlas mengerti, memahami dan menerima kenyataan bila kita “tidak sedang menikahi diri kita sendiri”. Pernikahan adalah langkah awal bagi batin untuk memulai bertanggung jawab dan siap menghadapi kehidupan. Oleh sebab itu, banyak orang mengatakan bila menikah sama dengan menyempurnakan agama pada diri kita.

bersama_zawjaha

Tentu sudah menjadi sunnatullah, hidup bersama ditengah perbedaan dan persamaan pasti akan menuai konflik. Olehnya banyak pula orang mengkiaskan hidup berumah tangga sebagai perjalanan diatas sebuah kapal laut dengan ombak yang bergelombang. Terkadang ketika angin sedang bertiup kencang maka layar sesekali akan oleng dan jalannya kapalpun akan naik turun dihantam oleh gelombang. Ini sekali lagi merupakan hukum alam. Bahkan rumah tangga Rasulullah saja tidak luput dari perselisihan paham, meskipun dalam prakteknya tidak seperti kita yang lebih cenderung centang prenang memperturutkan emosi diri.

Oleh sebab itulah, megahnya resepsi pernikahan, banyaknya tamu undangan atau sucinya tempat berlangsungnya akad tidak akan berarti apa-apa jika kita gagal dalam menerjemahkan makna sakinah mawaddah berumah tangga. Puncak asmara dua insan yang menyatu di salah satu sunnah nabawiah tersebut hanya terwujud manakala rohmah atau keridhoan ilahi diperoleh. Dan itu hanya mungkin digapai bila masing-masing pasangan mau tunduk dibawah perintah agama. Masing-masing dari suami dan istri sepakat bila pada akhirnya syurga tujuan bersama.

Quu anfusakum wa ahlikum naro.

Salam dari Palembang Darussalam.
18 Pebruari 2015

Mgs. Armansyah Sutan Sampono Azmatkhan, S.Kom, M.Pd

%d bloggers like this: