Jawaban untuk status FB Hariadi Saptadji (kasus Ahok)

Dalam status facebook seorang netizen bernama Hariadi Saptadji yang ternyata juga cuma sekedar copas tulisan orang lain, yaitu tulisan seorang netizen lainnya berinisial Kang Hasan di blognya yang berjudul : Awliya, dan Ironi Kepemimpinan Islam disebutkan bila terkait istilah Wali atau awliya dalam surah al-Maaidah 51 itu bukan untuk kaitannya dengan pilkada modern seperti sekarang ini, masih tulisnya, bagaimana mungkin ada ayat yang mengatur tentang pemilihan pemimpin, padahal pemilihan semacam itu tidak pernah terjadi dimasa lalu?

Jadi, apa yang dimaksud? Apa makna wali atau awliya? menurut si Kang Hasan ini, Wali artinya pelindung, atau sekutu. Ketika Nabi ditekan di Mekah, beliau menyuruh kaum muslimin hijrah ke Habasyah (Ethopia). Rajanya seorang Nasrani, menerima orang-orang yang hijrah itu, melindungi mereka dari kejaran Quraisy Mekah. Inilah yang disebut wali, orang yang melindungi. Kejadian ini direkam dalam surat Al-Maidah juga, ayat 81. Adapun ayat 51 yang melarang orang menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pelindung itu adalah soal persekutuan dalam perang. Tidak ada sama sekali kaitannya dengan pemilihan pemimpin. Ini sudah pernah saya bahas, dan dibahas banyak orang. Demikian tulis Kang Hasan di Blognya.

Benarkah ucapan dari Kang Hasan itu diatas?

Baiklah, sekarang saya ajak kang Hasan dan siapapun orang yang merasa sehaluan dengan dirinya untuk menyaksikan tayangan video Quraish Shihab berikut :

Inti dari uraian Professor Quraish Shihab pada video diatas adalah (silahkan dicek sendiri kebenarannya) :

Awliya, jamaknya adalah Wali artinya orang yang dekat, yaitu orang yang seharusnya terdekat dengan kita. Dari sini muncul derivasinya sebagai penolong atau pemimpin. Dimana seorang pemimpin yang cepat memberikan pertolongan kepada masyarakat karena hubungannya yang sangat dekat atau akrab dengan orang yang ia pimpin.

Secara lebih jauh, Quraish Shihab menyebutkan konteksnya ini merupakan hubungan sesama manusia yang tidak ada lagi rahasia saking rapatnya kedekatan mereka.

Nah menurut Quraish Shihab ini, umat Islam jangan angkat mereka, yaitu kaum Yahudi dan Nasrani seperti ayat-ayat sebelumnya dimana jika orang Yahudi dan Nasrani tersebut suka merubah-rubah kitab sucinya, enggan mengikuti tuntunan al-Qur’an (tuntunan Allah dan Rasul-Nya) dan mengikuti hukum jahiliyah. Jangan mengangkat orang Yahudi dan Nasrani sebagai orang yang begitu dekat dengan orang beriman, apalagi untuk menjadi pemimpin. Meski demikian, tidaklah terlarang untuk konteks hubungan pergaulan sehari-hari, dagang, membeli barang dari tokonya dan sebagainya.

Sebab orang-orang itu (Yahudi dan Nasrani) adalah awliya untuk masing-masing mereka. Siapa diantara orang beriman (Islam) mengangkatnya sebagai awliya maka dia akan dianggap bagian dari mereka.

Kesimpulan dari ini adalah istilah awliya dalam ayat 51 surah al-Maaidah menurut Professor Quraish Shihab memang memiliki makna pemimpin, teman dekat, sekutu atau bisa juga aliansi. Jadi tidak sekedar sebagai pelindung dalam urusan persekutuan peperangan saja seperti tafsir si Kang Hasan. 🙂

Ayo… Suruh Kang Hasan belajar lagi sama Profesor Quraish Shihab yang merupakan pakar tafsir al-Qur’an Indonesia terkait tafsir dan pemahaman istilah Awliya pada Surah Al-Maaidah ayat 51.

Saya memilih pendapat Professor Quraish Shihab dalam hal ini sebab beliau sering dijadikan rujukan oleh orang-orang yang cenderung memperbolehkan memilih orang kafir selaku pemimpin. Saya tidak puas jika hanya mengutip tulisan-tulisan saja, apalagi tulisan yang ditulis ulang oleh orang-orang dalam blog dan situs mereka. Hehehe…. tulisan bisa dimanipulasi, bisa direduksi.

Saya sengaja mencari video asli yang utuh dari ucapan beliau terkait pemahaman istilah Awliya dalam Al-Maaidah ayat 51. Sehingga tidak ada pemelintiran, manipulasi maupun reduksi kata-kata.

Masih menurut Professor Quraish Shihab kita itu dalam video tersebut diatas, umat Islam jangan mengangkat mereka, yaitu kaum Yahudi dan Nasrani selama mereka ini masih suka merubah-rubah kitab sucinya, enggan mengikuti tuntunan al-Qur’an (tuntunan Allah dan Rasul-Nya) dan mengikuti hukum jahiliyah.

Sekarang apakah sebagai contohnya disini adalah ahok termasuk orang yang enggan mengikuti tuntunan al-Qur’an? jelas iya, sebab dia sampai hari ini faktanya masih kafir. Ahok belum bersyahadat, ahok masih mengikuti hukum jahiliyahnya. Olehnya maka menurut Professor Quraish Shihab, orang semacam ini dilarang dijadikan Awliya, baik itu dalam tafsiran teman dekat, sekutu, aliansi apalagi pemimpin.

Okey ya Kang Hasan…. keliru khan paham anda itu.

Lanjut.

Istilah Awliya ( أَوْلِيَآءَ) dalam al-Qur’an surah Al-Maaidah ayat 51 ini merupakan bentuk jamak dari mufrad Wali. Sekarang mari kita lihat contoh ayat yang menggunakan istilah wali.

Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka  ( وَلِيُّهُمُ ) di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih. ﴾ An Nahl:63 ﴿

Selain itu, ayat-ayat yang bercerita tentang terlarangnya menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin tidak cuma surah Al-Maaidah ayat 51 saja tetapi ada lebih banyak lagi, misalnya :

﴾ Ali Imran:28 ﴿
Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (أَوْلِيَآءَ) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).

﴾ An Nisaa:144 ﴿
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?

﴾ Al Maidah:57 ﴿
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.

﴾ At Taubah:23 ﴿
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

﴾ Ali Imran:149 ﴿
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.

Menurut si Kang Hasan masih dalam blognya, Ketika Nabi ditekan di Mekah, beliau menyuruh kaum muslimin hijrah ke Habasyah (Ethopia). Rajanya seorang Nasrani, menerima orang-orang yang hijrah itu, melindungi mereka dari kejaran Quraisy Mekah. Inilah yang disebut wali, orang yang melindungi. Kejadian ini direkam dalam surat Al-Maidah juga, ayat 81.

Sekarang mari kita tanya pada Kang Hasan… kira-kira duluan mana nih ayat yang turun? Apakah duluan ayat 81-82 surah Al-Maaidah atau duluan surah al-Maaidah ayat 51?

Hehehe…. Kang Hasan yang baik, ayat ke-81 yang menurut Kang Hasan sebagai pembenaran sikap akang itu, meskipun tidak ditemukan Asbabun Nuzul dari ayat 81 dan 82, namun jika kedua ayat ini menurut Kang Hasan sebagai dasar Nabi menyuruh kaum Muslimin hijrah kebawah pemerintahan raja kristen, maka bisa dipastikan ayat-ayat tersebut diturunkan sebelum Hijrah ke Madinah. Sementara ayat 51 dari al-Maaidah diturunkan di Madinah.

Jadi, ayat 81-82 tidak membatalkan ayat 51. Sebaliknya jika ingin mengikuti kaidah berpikir Kang Hasan, maka ayat 51 yang turun belakangan justru dapat menasakh ayat-ayat tersebut yang turun sebelumnya.

Lagipula Kang Hasan, saya kasih tahu ya… Ayat-ayat al-Qur’an terkait dengan keharaman memilih pemimpin kafir semuanya ditujukan pada muslim yang secara aktif dan sadar melakukan pemilihan. Jika kasusnya kita tidak punya kuasa atau tidak terlibat dalam proses pemilihannya maka kita tidak terkena hukum al-Qur’an tersebut. Begitupula kasusnya jika keadaan tengah dalam posisi kondisionil atau darurat maka memakan babipun halal hukumnya apalagi hijrah kebumi Allah yang lain sekalipun daerah itu dipimpin oleh orang kafir sebagaimana kasus hijrahnya 80 orang sahabat Rasul ke Ethiopia (di antara mereka ada Abdullah bin Mas’ud, Ja’far, Abdullah bin Urfuthah, Utsman bin Mazh’un dan Abu Musa sesuai hadist pada Musnad Ahmad no 4168).

Jadi mari luruskan dulu logika berpikir kang Hasan sebelum memulai perdebatan masalah ini ya….

Satu lagi Kang Hasan…. jangan lupa baca juga peristiwa yang terjadi pada jaman Umar dimana beliau Rodiyallahuanhu kemudian menjadikan surah Al-Maaidah ayat 51 sebagai pijakan keputusannya untuk memutuskan hubungan Abu Musa Al-Asy’ari dengan sekretarisnya yang kristen. Silahkan disini baca lengkapnya ya Kang : 

https://arsiparmansyah.wordpress.com/2016/10/12/takhrij-atsar-umar-tentang-juru-tulis-nashrani/

Hampir lupa… khusus tentang pemilihan pemimpin yang katanya jaman dulu tidak ada seperti pilkada sekarang sehingga tidak mungkin al-Qur’an berbicara diluar konteks maka perlu di ingatkan bila al-Qur’an merupakan mukjizat Rasulullah yang berlaku sampai kapan saja. Banyak ayat-ayat al-Qur’an menceritakan fenomena-fenomena yang hakekatnya justru baru kita ketahui dijaman sekarang ini. Bukankah hukum-hukumnya mencakup seluruh peradaban? bukankah al-Qur’an bersumber dari Tuhan yang Maha Mengetahui apa yang terjadi dimasa lalu dan apa yang akan terjadi dimasa depan?

Jadi, apa masalahnya Kang Hasan? 

Bukankah Allah telah berfirman :

﴾ Al Furqaan:6 ﴿
Katakanlah: “Al Quran itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

﴾ Asy Syu’ara:192 ﴿
Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam.

﴾ Al Baqarah:255 ﴿
Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.

﴾ Al Hijr:24 ﴿
Sungguh ! Kami sudah mengetahui orang-orang yang hidup sebelum kamu dan sungguh, Kami juga sudah mengetahui orang-orang yang akan hidup dimasa depan

﴾ Al Fushilat:42 ﴿
Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.

﴾ Al Baqarah:66 ﴿
Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

﴾ Al Maidah:48 ﴿
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran.

﴾ Al A’raf:2 ﴿
Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman.

Adapun keberadaan pemimpin-pemimpin seagama yang kadang bertindak kejam, tangan besi dan juga otoriter terhadap rakyatnya yang notabene seagama dengannya bukanlah hal baru. Bisa terjadi dimana saja dan umat apapun. Hal demikian sama sekali tidak mewakili agama yang ia anut ataupun membatilkan konsep kepemimpinan dalam agama itu sendiri. Bukan konsep kepemimpinan yang diatur oleh agamanya yang salah tetapi oknum atau pelakunyalah yang menyimpang.

Akhirnya itu saja sementara ini Kang Hasan… salam kenal teriring do’a buat anda agar dapat sadar dan kembali kejalan yang benar, sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya terkait pemahaman surah Al-Maaidah ayat 51 ini.

Palembang, 12 Oktober 2016

Armansyah, M.Pd

Lampiran Tambahan :

﴾ Al Baqarah:173 ﴿
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

﴾ An Nisaa:100 ﴿
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

﴾ Ali Imran:195 ﴿
Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik”.

﴾ An Nisaa:89 ﴿
Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong,

﴾ An Nisaa:90 ﴿
kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.

Musnad Ahmad 4168: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa ia berkata; Aku mendengar Hudaij saudara Zuhair bin Mu’awiyah dari Abu Ishaq dari Abdullah bin Utbah dari Ibnu Mas’ud ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus kami kepada Najasyi, saat itu kami berjumlah sekitar delapan puluh orang, di antara mereka ada Abdullah bin Mas’ud, Ja’far, Abdullah bin Urfuthah, Utsman bin Mazh’un dan Abu Musa, mereka mendatangi Najasyi. Sementara orang-orang Quraisy mengutus Amru bin ‘Ash dan Umarah bin Walid dengan membawa hadiah. Tatkala keduanya menghadap Najasyi, keduanya lalu sujud di hadapannya kemudian berdiri di samping kanan dan kirinya. Setelah itu keduanya kepada Najasyi, “Sesungguhnya beberapa orang dari bani paman kami telah datang di negerimu dan mereka membenci kami dan agama kami.” Najasyi bertanya, “Dimanakah mereka?” Keduanya menjawab, “Mereka semuanya ada di negerimu, suruhlah mereka menghadap.” Najasyi lantas pun memanggil mereka. Ja’far berkata, “Saya yang akan menjadi juru bicara kalian hari ini.” Para sahabat lalu mengikutinya, kemudian mereka masuk dan memberi salam tanpa melakukan sujud (seperti yang dilakukan oleh utusan Quraisy). Orang-orang pun bertanya kepadanya, “Kenapa engkau tidak sujud kepada raja?” Ja’far menjawab, “Kami tidak sujud kecuali hanya kepada Allah Azza Wa Jalla.” Najasyi bertanya, “Jelaskan kenapa demikian!” Ja’far berkata, “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla mengutus kepada kami Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wasallam dan memerintahkan kepada kami untuk tidak bersujud kecuali hanya kepada Allah, menyuruh kami untuk shalat dan menunaikan zakat.” Amru bin ‘Ash berkata, “Sesungguhnya mereka menyelisihi engkau mengenai Isa bin Maryam!” Najasyi bertanya, “Apa pendapat kalian mengenai Isa bin Maryam dan Ibunya?” Para sahabat menjawab, “Kami katakan sebagaimana firman Allah Ta’ala, dia adalah kalimat Allah dan ruh-Nya, Dia masukkan ke dalam rahim wanita perawan dan rajin beribadah (Maryam) yang tidak pernah disentuh oleh laki-laki, dan belum pernah memiliki anak.” Ibnu Mas’ud melanjutkan, “Lalu Najasyi mengambil sepotong kayu dari tanah dan berkata, “Wahai sekalian penduduk Habasyah dan para pendeta! Demi Allah, mereka tidak menambahkan sedikitpun dari apa yang kita katakan (yakini tentang Isa). Selamat datang untuk kalian dan untuk orang-orang yang datang bersama kalian, aku bersaksi bahwa dia adalah Rasulullah, dialah orang yang kami dapatkan ciri-cirinya dalam Injil dan dialah rasul yang diberitakan oleh Isa bin Maryam. Tinggallah kalian sesuka hati kalian, demi Allah jika bukan karena urusan kerajaan niscaya aku akan mendatanginya hingga aku yang akan membawa kedua sandalnya dan memberinya air wudlu’. Najasyi kemudian memerintahkan untuk mengembalikan hadiah dari Quraisy.” Setelah itu Abdullah bin Mas’ud segera kembali ke Madinah hingga dia dapat ikut serta dalam perang Badar.”

Shahih Bukhari 3591: Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami bapakku dari Shalih dari Ibnu Syihab berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdurrahman dan Ibnu Al Musayyab bahwa Abu Hurairah radliallahu ‘anhu mengabarkan keduanya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumumkan meninggalnya an Najasyi raja Habasyah pada hari meninggalnya dan bersabda: “Mohonkanlah ampunan untuk saudara kalian ini”.

Blognya Kang Hasan : http://abdurakhman.com/awliya-dan-ironi-kepemimpinan-islam/

Reposting untuk status FB Hariadi Saptadji disini https://web.facebook.com/hsaptadji/posts/10211334167614840

Advertisements

Jangan musuhi seluruh orang kristen gegara ahok!

Perbuatan penistaan al-Qur’an atas surah Al-Maaidah 51 dan pelecehan ulama yang dilakukan ahok tidak mewakili keseluruhan sikap umat Kristen secara umum.

Jikapun katakanlah ada orang-orang kristen lain yang mengamini perbuatan jahatnya Ahok maka ahok dan orang-orang tersebut hanya oknum dari contoh buruk dari kaum kristiani saja.

Kebencian kita selaku umat Islam tidak boleh menyasar pada umat kristen lain yang tidak tersangkut paut dengan kasus ini. Apalagi menyasar pada etnis china lain secara umum.

Islam adalah agama yang mengajarkan nilai-nilai keadilan dan pemberi rahmat. Bukan ajaran rasisme. Diluar ahok dan segelintir pendukungnya itu banyak juga orang china dan umat kristen lain yang tidak menyukai ahok ini.

Oknum dimana-mana selalu ada, samalah seperti kasus si Nusron yang tengik itu. Toh meskipun menurut ketentuan al-Maaidah 51 orang muslim yang mengangkat dan menjadikan orang kafir selaku Awliyanya sudah serupa dengan orang kafir itu sendiri tetapi secara ktp si nusron tetap tertulis beragama Islam. Tapi apakah sikap nusron tegil ini mewakili semua umat Islam? Tentu jauh panggang dari api.

Saat ini saya melihat ada upaya yang coba diretas oleh pihak ketiga untuk mengadu domba antara umat Islam dengan umat kristen secara umum. Seperti beberapa hari lalu di salah satu masjid di Jakarta terjadi pencoretan dinding masjid tersebut dengan gambar salib.

Bodoh sekali orang kristen jika mereka memang berani melakukan hal tersebut. Itu namanya menantang umat Islam secara terbuka. Rasanya tidaklah mungkin arahnya kesana. Jadi hati-hati dengan adanya penyusup yang ingin memecah kesatuan antar anak bangsa dengan memanfaatkan momentum kedurjanaan ahok maupun nusron.

Catat juga bila sikap kurang ajar nusronpun tidak mewakili ormas NU sekalipun si Said agil ada dibelakang pendapatnya. Banyak warga NU lain termasuk para kyai dan ulamanya yang memiliki pendapat berseberangan dengan mereka ini. Contohnya seperti terlihat di ILC baru-baru ini.

Jadi jika ada issue kontra pada NU gak usah ditanggepin. Semua bisa saja direncanakan sebagai pengalihan isyu atau munculnya penyusup dari pihak ke-3.

Ahok dan nusron adalah musuh bersama orang yang waras akal pikirannya secara umum serta musuh umat Islam secara khusus.

Tetap istiqomah melanjutkan kasus ahok keranah hukum dan terus berpegang teguh juga pada isi surah al-Maaidah ayat 51 tentang keharaman bagi umat Islam untuk memilih orang kafir selaku pemimpin.

Palembang, 12 Okt 2016
Armansyah

Memahami hikmah eksistensi Hajarul Aswad

Proses Tawaf harus dimulai dari tempat dimana Hajarul Aswad berada.

ilustrasi_hajarul_Aswad

Hajarul Aswad dipercaya oleh sebagain umat Islam merupakan batu yang berasal dari syurga yang dibawa turun oleh malaikat Jibril kepada Nabi Ibrahim. Menurut sejumlah kalangan lainnya lagi –dan ini menjadi pemahaman saya pribadi juga– Hajarul Aswad adalah batu meteor yang diturunkan oleh Allah kebumi yang menjadi petunjuk arah kepada Nabi Ibrahim ketika pertama kali beliau hendak meninggalkan istri dan anak tertuanya, Siti Hajar dan Isma’il ‘alayhissalam.

Kembali kepada proses tawaf tadi, dari tempat Hajarul Aswad inilah kita memasuki sistem alam semesta. Kita harus mengikuti pergerakan orang-orang lain yang sudah ada lebih dahulu dari kita disana dan berasimilasi bersama-sama mereka. Inilah jalan keselamatan dan cara untuk menemukan orbit kita.

Jika kita tidak menyertai orang-orang lain maka kita tidak akan sanggup untuk bergerak didalam orbit kita ataupun menghampiri Allah ta’ala. Itulah sebabnya saya sering mengulang-ulang dalam banyak status di media sosial, dibuku maupun diberbagai kesempatan tabligh bahwa untuk dapat sukses, kita mesti membantu orang lain juga untuk sukses. Kita membuka jalan buat orang lain bersama-sama menuju kepada kebahagiaan, menggapai ridho ilahi.

Dari titik batu hitam Hajarul Aswad inilah kita memiliki kesempatan untuk memilih. Kita harus memilih jalan, tujuan dan masa depan kita. Kita harus menentukan orbit dimana kita akan bergerak dalam lautan manusia yang bertawaf mengelilingi Ka’bah sebagai baitullah.

Hajarul Aswad menjadi tonggak patokan dimana kita memulai ikrar kita kepada Allah untuk tidak menyekutukan DIA dengan apapun. Kita tidak menjadi hamba makhluk manapun kecuali menjadi hambanya Allah. Kita tidak menjadikan manusia manapun sebagai tuhan-tuhan tandingan disisi Allah, tidak ada makhluk yang dapat dan boleh dinisbatkan sebagai tuhan anak, tuhan ibu, tuhan bapak ataupun jelmaan dari Tuhan itu sendiri, karena semua makhluk tetaplah dalam posisinya sebagai makhluk. Tidak pula hajarul aswad maupun Ka’bah. Hajar Aswad hanya sebagai simbol dari titik awal perjalanan menuju kepada Allah dan Ka’bah merupakan media pemersatunya.

Bertawaf mengajarkan kita pada hidup yang aktif dan dinamis. Tawaf mengajarkan nilai-nilai sosial kepada kita. Tidak bergerak sendirian tetapi bergerak bersama orang-orang lain. Kita bergerak bukan karena alasan politik, bisnis, kekerabatan atau lainnya namun kita bergerak bersama-sama atas dasar cinta. Kita berjemaah karena cinta. Ya. benar, aktifitas kita secara jama’i itu didorong hanya karena cinta kita kepada Allah. Robbul ‘aalamin.

Melalui cinta kita kepada Allah, maka Allah menghubungkan cinta-Nya juga kepada orang-orang lain yang bergerak dengan satu tujuan yang sama kepada-Nya. Dengan cara yang sedemikian dalam, halus, indah serta penuh nilai-nilai pengetahuan kosmik, Allah merajut silaturrahim kita dengan orang-orang dari berbagai negara diseluruh dunia melalui daya tarik cinta-Nya.

Tak ada sekatan kedaerah dalam menuju keridhoan Allah, tak ada pula halangan bahasa, warna kulit, perbedaan pandangan, beda ormas, beda partai politik, tidak pula ada beda status sosial antara si kaya dan si miskin.

Dalam bertawaf itu, Allah membuat kita lupa kepada diri kita sendiri. Apa yang kita rasakan hanyalah cinta dan daya tarik haru biru kepada-Nya. Kita larut dalam nuansa cinta bersama orang-orang lain yang ikut bertawaf, kita terpesona dengan totalitas penghambaan kepada Allah. Merasa terhormat dan tersanjung karena Allah telah mengundang kita secara pribadi untuk melakukan kunjungan kerumah-Nya. Dia telah mengundang kita secara pribadi untuk menziarahi Rasul yang Dia sayangi, Habiballah Muhammad ibn Abdillah al-Mustofa. Penutup para Nabi.

Mari kita sama-sama hijrah niat, sama-sama memantapkan niat untuk menjadi para tamu Allah di tanah suci.

Bagi para sahabatku dimanapun anda berada, saya mengajak anda semua untuk bergabung bersama saya dan keluarga insyaAllah tahun depan kita memohon kepada Allah dimudahkan jalannya untuk berumroh.

DP Umroh : Rp. 3,5 Juta dan selebihnya bisa anda cicil sesuai kemampuan anda. Alangkah naifnya kita jika untuk mencicil kendaraan, mencicil gadget, mencicil rumah saja kita bisa lalu untuk proses ke baitullah kita tidak mau.

Silahkan lihat jadwalnya disini : http://armitravel.com/paket-umroh-haji-plus

peluangusaha

Jika anda mampu mengajak orang lain untuk bergabung bersama-sama dalam lautan cinta-Nya sebanyak 10 orang, insyaAllah ada bonus menanti anda.

tabelkomisiarmitravel

Salam cinta Baitullah,
Salam sukses dunia dan akhirat.

Armansyah, Palembang Darussalam.

Hukum memaafkan tapi tak mau bertemu muka lagi

Memaafkan itu perkara yang mulia. Tetapi bolehkah kita memaafkan seseorang yang telah berbuat salah dengan kita namun kita sendiri enggan untuk berjumpa lagi dengannya?

Mungkin banyak dari kita akan mengatakan “… itu tidak benar… ” ; “… jangan memutus silaturrahim… berdosa …” atau “… jika demikian halnya berarti kita belum ikhlas memaafkan orang itu…. ” …” wah itu namanya kita dendam….” dan kata-kata lain yang sejenis. Iya khan?

Kata maaf, meminta maaf atau memberi maaf memang mudah dilisankan. Toh lidah tak bertulang khan? Namun sekali lagi, maaf dilisan kadang tetap membekas juga dihati. Tahukah anda, bahwa ada hal-hal tertentu yang kadang tidak mudah bagi kita untuk melupakan peristiwa yang membuat hati kita sakit, terluka dan malah jika teringatnya justru akan membuat diri kita sendiri terjebak akan dosa?

Ini perkara hati yang terluka, perkara psikologis kejiwaan.

Ada sebuah cerita….
Seorang anak diminta oleh ayahnya untuk memasang paku sebanyak mungkin disebuah papan. Setelah selesai, ayahnya justru kembali meminta sang anak mencabut paku-paku yang sudah ia tancapkan dipapan itu.

Meskipun heran, si anak akhirnya melakukannya juga. Lalu si ayah mengatakan, bahwa begitulah sebenarnya hidup ini bila kita sudah menyinggung orang lain nak. Memasang paku dipapan itu mudah dan melepasnya lagipun itu tidak begitu sulit….. tetapi apakah papan itu akan tetap sama mulusnya seperti dulu?

Hem. Lalu kembali lagi kepermasalahan awal kita…. salahkah, berdosakah bila kita memaafkan seseorang tetapi kita tidak mau melihat wajahnya lagi? Salahkah bila kita memaafkan seseorang namun kita ingin menjauh dari diri orang itu?

Yuk kita lihat apa yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW terhadap Wahsyi.

Anda tahu siapa Wahsyi? Dialah orang yang membunuh paman Rasul yang bernama Hamzah pada waktu perang Uhud atas permintaan Zubair bin Muth’im dengan jaminan pembebasan dirinya dari statusnya sebagai budak.

Riwayat berikut ini aslinya sangat panjang matnnya tetapi saya ringkas saja seperlunya, ia merupakan penuturan dari Wahsyi sendiri kepada sahabat Rasul yang bernama Ja’far bin ‘Amr Ad-Dlamry dan ‘Ubaidullah bin ‘Ady bin Hiyar.

Sumber : Shahih Bukhari No. 3764 Bab Perang:

Wahsyi berkata, “Aku tinggal di Makkah sampai Islam tersebar di sana, aku lalu keluar menuju Thaif, ketika penduduk Tha’if mengutus beberapa utusan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka salah seorang utusan berkata kepadaku, “Beliau tidak akan menyakiti utusan.” Wahsyi melanajutkan, “Aku pun pergi bersama mereka sampai aku menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika beliau melihatku, beliau bertanya: “Apakah engkau wahsyi?” aku menjawab, “Benar.” Beliau bersabda: “Apakah kamu yang telah membunuh Hamzah?” Wahsyi menjawab, “Perkara itu sebagaimana yang telah sampai kepada anda.” Beliau bersabda: “Dapatkah kamu menjauhkan wajahmu dariku?”

Wahsyi berkata, “Lalu aku kembali pulang. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal, muncullah Musailamah Al Kadzab, aku berkata, “Aku akan berusaha mencari Musailamah, semoga aku dapat membunuhnya dan menebus kesalahanku karena membunuh Hamzah, “

Musnad Ahmad 15497: Wahsy berkata; dan itulah apa yang akan menjadi janjiku. Ketika orang-orang balik pulang, sayapun bersama mereka. (Wahsy) berkata; saya tinggal di Makkah sampai Islam tersebar di sana. Saya keluar ke Thaif. lalu Rasulllah Shallallahu’alaihiwasallam mengirimkan suatu utusan kepadaku, dan mengajakku bicara, sang utusan mengatakan bahwa beliau tidak marah terhadapnya. Aku pun pergi bersama mereka sampai aku temui Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam. Ketika beliau melihatku, beliau bertanya, “Apakah engkau wahsy?” saya menjawab, “Benar”. Beliau bersabda: “Kamu yang telah membunuh Hamzah?” (Wahsy) berkata; urusan tentang pembunuhan itu telah sampai kepada anda, Wahai Rasulullah”, dan beliau bersabda: “Dapatkah kamu menjauhkan wajahmu dariku?” (Wahsy) berkata; lalu saya kembali pulang, ketika Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam meninggal dan muncul nabi palsu Musailamah Al Kadzab, saya bertekad, “Sayan akan menjumpai Musailamah, semoga saya dapat membunuhnya dan menebus kesalahan karena membunuh Hamzah”,

Adakah salah seorang dari kita akan berani menyebut Rasulullah SAW seorang pendendam hanya karena beliau menolak melihat wajah Wahsyi didekatnya atas kesalahan dia membunuh Hamzah? Saya rasa, riwayat seperti ini harus dibaca dengan pertimbangan ilmu psikologi juga sehingga kita tidak kemudian salah menjatuhkan fitnah terhadap sikap Rasulullah.

Intinya, sah dan boleh-boleh saja bila pada satu kesempatan ada orang yang berbuat salah pada kita dan hal itu kita anggap sangat melukai hati kita, susah buat kita untuk tidak terjebak pada dosa atau khilaf bila melihat orang tersebut didepan kita maka maafkanlah ia namun berilah jarak antara kita dan mereka, jarak bukan dalam artian hendak memutus silaturrahim, tetapi jarak untuk saling menjaga perasaan saja, jarak yang membuat pihak yang telah bersalah untuk belajar dan melakukan perbaikan dirinya secara sungguh-sungguh.

Salam dari Palembang Darussalam.

Mgs Armansyah Azmatkhan, M.Pd

Redaksi Asli :

صحيح البخاري ٣٧٦٤: حَدَّثَنِي أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا حُجَيْنُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْفَضْلِ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ عَمْرِو بْنِ أُمَيَّةَ الضَّمْرِيِّ قَالَ
خَرَجْتُ مَعَ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَدِيِّ بْنِ الْخِيَارِ فَلَمَّا قَدِمْنَا حِمْصَ قَالَ لِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَدِيٍّ هَلْ لَكَ فِي وَحْشِيٍّ نَسْأَلُهُ عَنْ قَتْلِ حَمْزَةَ قُلْتُ نَعَمْ وَكَانَ وَحْشِيٌّ يَسْكُنُ حِمْصَ فَسَأَلْنَا عَنْهُ فَقِيلَ لَنَا هُوَ ذَاكَ فِي ظِلِّ قَصْرِهِ كَأَنَّهُ حَمِيتٌ قَالَ فَجِئْنَا حَتَّى وَقَفْنَا عَلَيْهِ بِيَسِيرٍ فَسَلَّمْنَا فَرَدَّ السَّلَامَ قَالَ وَعُبَيْدُ اللَّهِ مُعْتَجِرٌ بِعِمَامَتِهِ مَا يَرَى وَحْشِيٌّ إِلَّا عَيْنَيْهِ وَرِجْلَيْهِ فَقَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ يَا وَحْشِيُّ أَتَعْرِفُنِي قَالَ فَنَظَرَ إِلَيْهِ ثُمَّ قَالَ لَا وَاللَّهِ إِلَّا أَنِّي أَعْلَمُ أَنَّ عَدِيَّ بْنَ الْخِيَارِ تَزَوَّجَ امْرَأَةً يُقَالُ لَهَا أُمُّ قِتَالٍ بِنْتُ أَبِي الْعِيصِ فَوَلَدَتْ لَهُ غُلَامًا بِمَكَّةَ فَكُنْتُ أَسْتَرْضِعُ لَهُ فَحَمَلْتُ ذَلِكَ الْغُلَامَ مَعَ أُمِّهِ فَنَاوَلْتُهَا إِيَّاهُ فَلَكَأَنِّي نَظَرْتُ إِلَى قَدَمَيْكَ قَالَ فَكَشَفَ عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ وَجْهِهِ ثُمَّ قَالَ أَلَا تُخْبِرُنَا بِقَتْلِ حَمْزَةَ قَالَ نَعَمْ إِنَّ حَمْزَةَ قَتَلَ طُعَيْمَةَ بْنَ عَدِيِّ بْنِ الْخِيَارِ بِبَدْرٍ فَقَالَ لِي مَوْلَايَ جُبَيْرُ بْنُ مُطْعِمٍ إِنْ قَتَلْتَ حَمْزَةَ بِعَمِّي فَأَنْتَ حُرٌّ قَالَ فَلَمَّا أَنْ خَرَجَ النَّاسُ عَامَ عَيْنَيْنِ وَعَيْنَيْنِ جَبَلٌ بِحِيَالِ أُحُدٍ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ وَادٍ خَرَجْتُ مَعَ النَّاسِ إِلَى الْقِتَالِ فَلَمَّا أَنْ اصْطَفُّوا لِلْقِتَالِ خَرَجَ سِبَاعٌ فَقَالَ هَلْ مِنْ مُبَارِزٍ قَالَ فَخَرَجَ إِلَيْهِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ يَا سِبَاعُ يَا ابْنَ أُمِّ أَنْمَارٍ مُقَطِّعَةِ الْبُظُورِ أَتُحَادُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثُمَّ شَدَّ عَلَيْهِ فَكَانَ كَأَمْسِ الذَّاهِبِ قَالَ وَكَمَنْتُ لِحَمْزَةَ تَحْتَ صَخْرَةٍ فَلَمَّا دَنَا مِنِّي رَمَيْتُهُ بِحَرْبَتِي فَأَضَعُهَا فِي ثُنَّتِهِ حَتَّى خَرَجَتْ مِنْ بَيْنِ وَرِكَيْهِ قَالَ فَكَانَ ذَاكَ الْعَهْدَ بِهِ فَلَمَّا رَجَعَ النَّاسُ رَجَعْتُ مَعَهُمْ فَأَقَمْتُ بِمَكَّةَ حَتَّى فَشَا فِيهَا الْإِسْلَامُ ثُمَّ خَرَجْتُ إِلَى الطَّائِفِ فَأَرْسَلُوا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولًا فَقِيلَ لِي إِنَّهُ لَا يَهِيجُ الرُّسُلَ قَالَ فَخَرَجْتُ مَعَهُمْ حَتَّى قَدِمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَآنِي قَالَ آنْتَ وَحْشِيٌّ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ أَنْتَ قَتَلْتَ حَمْزَةَ قُلْتُ قَدْ كَانَ مِنْ الْأَمْرِ مَا بَلَغَكَ قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تُغَيِّبَ وَجْهَكَ عَنِّي قَالَ فَخَرَجْتُ فَلَمَّا قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجَ مُسَيْلِمَةُ الْكَذَّابُ قُلْتُ لَأَخْرُجَنَّ إِلَى مُسَيْلِمَةَ لَعَلِّي أَقْتُلُهُ فَأُكَافِئَ بِهِ حَمْزَةَ قَالَ فَخَرَجْتُ مَعَ النَّاسِ فَكَانَ مِنْ أَمْرِهِ مَا كَانَ قَالَ فَإِذَا رَجُلٌ قَائِمٌ فِي ثَلْمَةِ جِدَارٍ كَأَنَّهُ جَمَلٌ أَوْرَقُ ثَائِرُ الرَّأْسِ قَالَ فَرَمَيْتُهُ بِحَرْبَتِي فَأَضَعُهَا بَيْنَ ثَدْيَيْهِ حَتَّى خَرَجَتْ مِنْ بَيْنِ كَتِفَيْهِ قَالَ وَوَثَبَ إِلَيْهِ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَضَرَبَهُ بِالسَّيْفِ عَلَى هَامَتِهِ
قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْفَضْلِ فَأَخْبَرَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ يَسَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ فَقَالَتْ جَارِيَةٌ عَلَى ظَهْرِ بَيْتٍ وَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ قَتَلَهُ الْعَبْدُ الْأَسْوَدُ

Shahih Bukhari 3764: Telah menceritakan kepadaku Abu Ja’far Muhammad bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Hujain bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah bin Abu Salamah dari Abdullah bin Al Fadl dari Sulaiman bin Yasar dari Ja’far bin ‘Amru bin Umayyah Adl Dlamri dia berkata, “Aku keluar bersama ‘Ubaidullah bin ‘Ady bin Hiyar ke Syam. Ketika kami sampai ke Himsh, ‘Ubaidullah bin ‘Adi berkata kepadaku, “Bagaimana kalau kita menemui Wahsyi dan bertanya tentang (peristiwa) terbunuhnya Hamzah?” aku menjawab, “Baiklah.”

Continue reading

Promo Buku Saya ke-6: Hukum Anjing Menurut Islam

PROMO JULI 2015:

Proses pencetakan buku saya ke-6 telah dimulai. Judulnya kali ini : “Hukum Anjing Menurut Islam“. Dicetak limited dan distribusi buku yang juga terbatas. Buku ini tidak saya jual di toko buku bebas tetapi insyaAllah bagi sahabat yang berdomisili di Palembang khususnya bisa mendapatkan buku ini juga nantinya di pets shop yang telah menjalin kerjasama dengan saya serta forum-forum pencinta hewan yang tersebar diseluruh Indonesia, Malaysia serta Brunei Darussalam.

Bagi sahabat yang bermaksud untuk menjadi reseller diluar kota Palembang, silahkan mengajukan proposalnya via inbox, bbm, wa atau email saya. Nanti saya proses dulu aplikasinya, bagi reseller yang saya approve akan dihubungi secepatnya.

Untuk sahabat yang ingin P.O silahkan inbox dengan format:

Nama/Alamat/no telpon/email aktif.

Contoh:
Armansyah/Jl. Sosial no. 166 Km. 5 Palembang/0816355539/armansyah.skom.mpd@live.com

Harga buku: Rp. 50.000,- (bebas ongkos kirim keseluruh Indonesia)
Khusus 50 pemesan buku pertama saya kasih bonus : DVD murrotal al-Qur’an+Terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebesar 1.6Gb, aplikasi al-Qur’an berbasis windows freeware/open source serta ebook saya berjudul: “Menjawab Islam Liberal”: Arsip pemikiran Armansyah (EBook terbaru saya dalam format EPub)

Buku insyaAllah akan siap sekitar 15-20 hari kedepan terhitung dari 27 Juli 2015.

Silahkan kirim proposal ke:

SMS/WA: 0816355539

BBM : 5756345f

IG : armansyah_sutan_sampono

Line : arman_syah

FB: armansyah

Email : armansyah.skom.mpd@live.com

cover-hukum-anjing_final copy

Ancaman BPJS dalam tanggapan

Munculnya pemberitaan tentang wacana akan diwajibkannya seluruh masyarakat menjadi peserta BPJS menurut saya harus disikapi secara serius oleh semua pihak, terlebih mereka yang saat ini berada dilingkaran kekuasaan dan penentu keputusan.

Jika BPJS diwajibkan terhadap perusahaan swasta, BUMN dan Instansi Pemerintah, maka tentu ini masih dapat kita terima secara logika dan akal sehat. Tetapi mewajibkan kepesertaan BPJS terhadap semua lapisan masyarakat dengan mengancam untuk tidak mendapatkan pelayanan publik seperti tidak bisa mengurus surat ijin mengemudi (SIM), STNK, tidak dapat melakukan pernikahan, naik haji dan seterusnya maka hal ini sudah menjadikan pemerintah layaknya kumpulan gerombolan si berat dalam komik Donald Bebeknya Walt Disney.

Tidak hanya zalim dan otoriter tetapi juga pemerintah sudah melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia untuk melakukan sesuatu hal yang membebani kehidupan perekonomian sehari-hari mereka. Sebuah wacana yang jauh dari akal sehat dan nilai-nilai kemanusiaan serta demokrasi yang konon diusung oleh negara Indonesia dalam banyak kampanyenya. Pemerintah sudah merampas –bahkan mungkin dapat disebut juga bertransformasi menjadi perampok– keuangan rakyatnya dari seluruh lapisan strata sosial.

Pelayanan BPJS sendiri mestinya diperbaiki terlebih dahulu diberbagai bidang, sudah banyak kasus yang terjadi pada masyarakat terkait penggunaan BPJS ini yang terekspose ke media maupun tidak, mulai dari Rumah Sakit yang membuang pasiennya di Lampung dan lain sebagainya.

Isyu yang muncul dipublik sejak jaman pemerintahan SBY melalui Nafsiah Mboi pada Agustus 2014 ketika masih menjabat Menteri Kesehatan tentang ancaman kepailitan BPJS kiranya penting untuk dikaji ulang.

Apalagi faktanya juga ada ancaman Likudasi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan pada Tahun 2014 itu justru terjadi akibat kecurangan Pemerintah yang hanya membayar Iuran peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) hanya sebesar Rp. 230.700 per orang per tahun dari total Rp. 1.055.000 per orang pertahun rata-rata. Satu pernyataan jujur dari Direktur Keuangan PBJS Kesehatan sendiri pada awal April 2015 mengatakan setelah diaudit, lembaganya itu mengalami defisit Rp3,3 triliun pada 2014.

Jangan lantas karena masalah internal BPJS ini, lalu seluruh lapisan masyarakat dibebankan kewajiban untuk menanggungnya. Hal demikian sungguh menepati pepatah “lempar batu sembunyi tangan”. Dia yang berbuat tapi orang lain yang kena getahnya. Maka mari pertanyakan lagi makna revolusi mental serta keberpihakan pada wong cilik yang selama ini menjadi jargon pemerintah serta partai yang berkuasa dinegeri tercinta kita hari ini.

Hukum Asuransi sendiri didunia Islam masih bersifat ikhtilafiyah alias masih terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama. Diantaranya ada yang memperbolehkan hukumnya namun ada pula yang sebaliknya. Sehingga tidak pada tempatnya apabila pemerintah mengeluarkan paksaan bagi semua warga negaranya untuk ikut dalam program asuransi tertentu, termasuk BPJS.

Jika pemerintah dengan lantang –ketika jelang bulan Ramadhan 1436H– mengatakan bahwa orang yang berpuasa harus menghormati orang yang tidak puasa maka disini kiapun dapat mengatakan hal yang serupa, orang yang setuju dengan asuransi tolong hormati juga haknya orang yang tidak setuju terhadap asuransi apapun itu.

Lembaga tinggi negara seperti MPR dan DPR harusnya menjadi corong penyuara rakyat yang tegas dalam menolak kebijakan pemerintah yang dapat menimbulkan kesengsaraan ditengah rakyat. Kaum politikus lain juga jangan hanya berani bersuara dimedia saja dengan kritikan dan ulasan ilmiahnya.

Misalnya saja Pak Prabowo, Tommy Soeharto serta para politikus partai atau independen lain yang selama ini terlihat seakan garang dalam berkomentar. Jika memang pemerintah kita sekarang ini sudah sedemikian parahnya dalam berlaku otoriter kepada masyarakat –terkait masalah ekonomi, penjualan aset bangsa dan lain sebagainya– maka pemakzulan mereka menjadi sebuah opsi penting untuk diambil kedalam langkah nyata.

Negara ini dengan idzin Allah tidak akan chaos bila pemerintahan dimakzulkan. Kita pernah mengalami kejadian sejenis pada pemerintahan Soekarno, Soeharto dan Gusdur, toh negara Indonesia tetap berdiri tegak tanpa masalah. Kami telah memilih wakil-wakil rakyat kami untuk duduk diparlemen, bukan justru untuk membuat kalian sebagai pengaminan perampokan harta dan hak kami sebagai rakyat, tapi kami meminta anda untuk menjadi wakil kami dalam menegakkan keadilan serta kesejahteraan hidup kami.

Ingatlah, jika semua orang waras selalu mengalah didunia ini maka orang gila sajalah yang akan menjadi penguasa atas orang waras.

Armansyah, Palembang.

Original posted:
https://www.facebook.com/armansyah/posts/10153366556268444.

Bergurulah Pada Allah

Boleh jadi kita bertahun-tahun belajar secara seksama dibawah bimbingan guru-guru hebat dipondok pesantren, ma’had atau universitas yang terkenal dan terbaik. Boleh jadi pula, beratus-ratus buku sudah kita baca dan kita pelajari mulai dari yang klasik hingga modern. Bahkan sangat boleh jadi pula waktu-waktu kita didedikasikan untuk menghadiri berbagai forum kajian ilmu, seminar, ta’lim dan sejenisnya. Hal-hal tadi disadari atau tidak, pastinya akan memberikan efek bagi cara pandang kita dalam memahami kehidupan terlebih yang berkaitan dengan kaidah agama.

Bisa saja, tempat-tempat tadi, buku-buku serta forum yang telah kita lalui itu mendidik kita menjadi pribadi yang ekstrim, liberal atau bahkan arif. Tergantung lagi kepada jenis dan cara ilmu itu masuk serta diolah dalam kepala kita masing-masing. Semuanya bersifat fluktuatif dan relatif.

Akan tetapi mencukupkan diri kepada apa yang sudah ada saja serta tidak melanjutkan lagi pembelajaran pada dekade selanjutnya dan masuk pada tahapan level yang lebih tinggi justru akan menjadikan kita pribadi yang arogan dan kerdil. Kita merasa sudah berpijak diatas langit tertinggi padahal diatas langit selalu ada langit lain yang lebih tinggi karena alam semesta ini bersifat luas dan mengembang dengan puluhan sistem galaksi serta ribuan bintang-bintangnya yang tersebar.

Kedewasaan umur seharusnya mengajarkan kita melihat kedalaman batin dan intelektual diri. Mengarahkan kita untuk mengembalikan seluruh hakekat keilmuan, kearifan serta cara pandang kita kepada Allah ta’ala. Melepaskan ketergantungan diri pada makhluk-Nya lalu berserah diri kepada-Nya, membiarkan Allah untuk langsung menyentuh kita dengan ilmu-Nya, tunduk serta patuh total dalam kehambaan yang nisbi dihadapan al-Kholiq guna menaikkan maqom ketaqwaan disisi-Nya.

Menjadikan Allah selaku guru dan Maha Guru yang akan mengajari kita melalui qolam-Nya, melalui hidayah-Nya sehingga kita dapat melihat lepas mana ajaran dan amaliyah yang selama ini kita dapatkan dari para guru kita, dari kitab-kitab bacaan kita, dari forum dan majelis keilmuan yang kita hadiri betul-betul benar menurut-Nya bukan hanya merasa betul menurut diri kita.

Disinilah tahapan paling sulit dalam berguru kepada Allah. Seringnya kita merasa bahwa para guru kita selama ini tidak mungkin salah dalam mendidik kita, pesantren, ma’had atau juga universitas tempat kita menimba ilmu pengetahuan menjadi sakral untuk dicanggah bahkan meskipun ia berlambangkan berhala tertentu kita justru tetap kukuh membelanya. Kita mencukupkan ilmu kita pada ajaran dan didikan makhluk-Nya serta berkilah bahwa merekalah wasilah kita untuk sampai kepada-Nya. Padahal setiap makhluk pasti punya keterbatasan, pasti punya kekurangan dan pasti punya kekhilafan.

Kita tidak asing dengan kalam-Nya yang berbunyi wa’asa an takrohu shay-‘an wahuwa khoyrullakum wa’asa ‘an tuhibbu shay-‘an wa-huwa sharrullakum. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.

Sekarang mari implementasikan lebih jauh ayat tersebut dalam proses kita berguru kepada Allah, bahwa apa yang benar menurut kita belumlah tentu benar menurut Allah, apa yang salah dalam pandangan kita belumlah tentu salah secara total dalam pandangan Allah. Pada puncaknya, kita kembali kepada-Nya dan memohon untuk tetap ada dalam bimbingan-Nya sehingga tidak picik dalam berpikir, bertindak, berperilaku serta beramal.

Salah satu ciri orang yang berhasil berguru kepada Allah kiranya ia tidak mudah dalam menjustifikasi suatu perbuatan dan amaliyah kecuali ia telah benar-benar melihat serta mengkajinya dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Dia lapang dada atas seluruh perbedaan dalam lingkup manusia sebab dia sadar betapa beragamnya Allah menciptakan tingkat kecerdasan dan emosional setiap manusia. Silahkan beramal menurut amalan yang diyakini benarnya namun jangan berhenti untuk terus belajar dan berdakwah, sebab setiap tarikan nafas pasti akan diminta pertanggungjawabannya.

Armansyah, 23 Romadhon 1436H
Salam dari bumi Palembang Darussalam.

%d bloggers like this: