Oposisi tak pernah dikenal dalam Fiqh dan Politik Islam

Didalam fiqh dan politik Islam tidak dikenal istilah oposisi. Satu-satunya sikap oposisi yang ada hanyalah beroposisi terhadap kebatilan. Tapi dalam konteks operasional pemerintahan Islam, posisi dan maksud dari istilah oposisi itu sendiri perlu dipertanyakan, karena sikap oposisi artinya sikap berseberangan atau dalam bahasa lain sikap menjaga jarak. Bahkan kadang, oposisi tidak ubahnya seperti mengambil sikap permusuhan. Ini sebenarnya kurang dapat diterima oleh fiqh dan politik Islam. Sekali lagi kita tidak membahasnya dalam konteks demokrasi, sebab disana oposisi adalah sesuatu yang dibenarkan.

Kita boleh tetap kritis namun tidak mesti segala sesuatu dikritisi dan ditentang. Apa yang benar dari sudut pandang syari’at harus didukung. Begitulah salah satu konsep pemerintahan yang pernah terjadi dijaman Khulafaur Rasyidin.

koalisi

Oleh sebab itu maka saat kita menyatakan diri mendukung suatu partai tertentu dalam pemerintahan, maka dukungan kita itu tidak harus dimaknai sebagai kartu mati yang membuat kita wajib membela benar-salah sang partai tersebut. Politik Islam sangat berbeda dengan politik sekuler. Koalisi bukan berarti dukungan membabi buta, benar-salah mesti se-iya sekata. Politik Islam itu setia pada kebenaran. Jadi koalisi itu koalisi dalam kebenaran, bukan koalisi dalam kebatilan.

Palembang, Mgs. Armansyah Sutan Sampono Azmatkhan.

Politik dimata saya (Memahami dilema PKS dan Koalisi Parpol Islam)

Oleh : Armansyah

Siang ini ada sahabat Palembang yang bertanya pada saya, intinya, jika andaikata PKB dan PKS merapat ke Jokowi, apa saya masih tetap bergeming dengan pendirian saya untuk tidak berijtihad yang sama?

Jawab saya, saat ini sebenarnya saya tidak suka berandai-andai demikian dan lebih menyukai wacana perwujudan koalisi antar parpol Islam dan parpol berbasis massa Islam. Saya berusaha untuk tidak terjebak pada ‘ashobiyah dalam hidup ini. Mari kita hindari dulu tafarruk (perpecahan) serta ta’ashub (fanatik golongan). Tapi jikapun misalnya disebutkan seperti pertanyaan itu memang terjadi, maka saya tegaskan bahwa saya bukan orang yang suka ikut-ikutan. Memilih PKS pada pileg kemarin adalah suatu ijtihad politik saya dengan banyak pertimbangan rasional. Dan ijtihad waktu itu sangat boleh jadi ikut berubah (inqilab) ketika apa yang semula saya yakini itu ternyata menyimpang.

Jujur saja, pada waktu pilgub Sumatera Selatan, saya tidak memilih pasangan koalisi yang terbentuk antara PKS dan PDIP, saya justru menjatuhkan pilihan pada Golkar (yaitu pasangan Alex Noerdin-Ishak Mekki). Itu ijtihad politik saya dengan sekali lagi– melalui semua pertimbangan rasionalitas dan keagamaannya. Sehingga, adalah suatu keniscayaan tersendiri bila nanti saya akan berbeda jalan dengan PKS dalam pilpres jika partai ini saya anggap tidak dapat mewakili aspirasi politik saya.

Tapi tetap harapan saya dan mimpi saya adalah per-2014 ini terwujudnya koalisi diantara parpol Islam itu sendiri menjadi suatu keniscayaan dan keharusan.

koalisiparpol-islam

Politik dimata saya adalah bagian dari dakwah Robbaniyah, bukan dakwah ‘alaiyah (kepadaku) maupun dakwah ‘alaina (kepada golongan kami). Berpolitik adalah salah satu cara untuk mencapai Izzatul Islam wal Muslimin.

Palembang, 15 April 2014.
Mgs. Armansyah Sutan Sampono Azmatkhan.

Kenangan menjadi Caleg PKS 2009

Iklan daftar Caleg dari PKS di Harian Palembang Pos
Kamis, 11 Desember 2008, hal. 2
Saya mewakili Caleg Dapil I (Sukarami, Albar, IT1 dan Kemuning)
Caleg no 5 Kota Palembang

Pengumuman Daftar Calon Sementara Anggota DPRD Kota Palembang
Saya mewakili Caleg Dapil I (Sukarami, Albar, IT1 dan Kemuning)
Caleg no 5 Kota Palembang
Diambil dari Harian Sriwijaya Post, Kamis 9 Oktober 2008 hal. 6

Tanda bukti kepesertaan Test Kompetensi BCAD PKS
Semua berlangsung secara transparan
No KKN, No Money Politic
Demi Allah !

bukti-lulus-tes-pks2008

amplop-pks-lulustes2008

8 Amanat Pemenangan Pemilu 2009

Armansyah dan Istri

Armansyah dan Istri

8 Amanat Pemenangan Pemilu 2009
Diambil dari materi pendalaman caleg PKS Sumatera Selatan, 21 September 2009 di Asrama Haji Palembang

Pembicara : K.H. Buchori Yusuf, M.A

1. Meningkatkan Taqarrub kepada Allah dan niat ikhlas kepada Allah atas semua amal dalam pemenangan Pemilu 2009 sebagai jihad politik

2. Meningkatkan ukhuwah dan solidaritas sesama kader dakwah sebagai sumber kekuatan dan syarat kemenangan

3. Memekarkan struktur partai sampai keseluruh pelosok negeri agar dakwah dapat menjangkau semua daerah yang diamanahkan Allah sebagai medan dakwah tanpa terkecuali

4. Memperbanyak silaturrahim dengan seluruh tokoh dan kelompok masyarakat tanpa membedakan aliran, ideologi, agama, suku, ormas bahkan parpol. Sebab perjuangan PKS adalah untuk kepentingan semuanya

5. Menebarkan senyum, sapa dan salam cinta kepada seluruh warga masyarakat, kapan dan dimanapun bertemu sebagai salah satu sedekah yang murah dan mulia sekaligus mendekatkan hubungan batin terhadap rakyat

6. Meningkatkan mutu/performa diri kepada seluruh warga masyarakat baik mutu maupun kuantitasnya

7. Mengunjungi seluruh rumah warga untuk menyikapi dan menyerap aspirasi mereka terhadap perubahan kedepan

8. Meningkatkan hubungan dengan insan media dan menjadikan mereka sebagai mitra strategis

PKS : Bersih, Peduli dan Professional
Bergabung dan pilihlah PKS untuk masa depan bangsa Indonesia, adil dan sejahtera !
Pilih nomor 8 !

Kader PKS, termasuk yang sudah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, sampai hari ini belum pernah terlibat skandal seksual maupun korupsi berjemaah !

Kami amanah memegang kepercayaan rakyat !
Kami bersumpah kepada Allah untuk memperjuangkan kebenaran !
Kami istiqomah dalam berjihad secara struktural maupun kultural !

Selamat ‘Iedul Fitri 1 Syawal 1429 H,
Mohon Maaf lahir dan Batin


Armansyah, S.Kom
Caleg PKS Dapil 1 Kota Palembang
Nomor Urut : 5
Wilayah : Sukarami, Ilir Timur-1, Kemuning dan Alang-alang lebar

——————

PKS ‘Hidup’ dalam Caci Maki
Sumber : http://www.pk-sejahtera.org/v2/index.php?op=isi&id=6038

PK-Sejahtera Online: “Kalau sudah punya cabang di mana-mana, di 5 benua, di dasar samudera, di ruang angkasa, emangnya kenapa? Sombong luh PKS, awas lho entar kuwalat-lat-lat-lat!,” ada yang sebegitu pedas mungkin cercaannya.

“Punya ratusan kader bergelar doktor dan ribuan sarjana saja sudah sok hebat, berlagak angkuh dan merendahkan pihak lain,“ ujar sejumlah kalangan menohok partai si bulan dan si padi.

“Tidak ada jaminan gelar pendidikan setinggi itu bisa menuntaskan permasalahan bangsa; yang penting kerja bung, bukan gelar“, tambah mereka yang semakin kesal dengan ulah PKS.

Sesungguhnya dunia cerca-mencerca, caci-memaki dan hina-menghina bukanlah barang baru dalam sejarah manusia. Itu sudah ada sejak dulu, setua sejarah kemanusiaan itu sendiri. Jadi arena caci-maki pun sesungguhnya warisan masa lalu, bedanya sekarang hujatan itu dihiasi bunga-bunga berbau PKS.

Sejarah membuktikan, semakin dewasa dan arif seseorang, maka semakin jauhlah ia dari perbuatan mencaci orang lain. Kedewasaan ini membuatnya mengedepankan ungkapan santun penuh kesejukan.

Sebaliknya begitu, semakin bijak dan dewasa seorang anak Adam, semakin sabar dan berwibawalah ia dalam menghadapi caci maki yang dialamatkan kepadanya, tanpa terpancing membalas cemoohan itu. Karena ia sadar, di balik hujan caci-maki, pasti ada hikmah kebaikan dari Tuhan. Jadi PKS patut bersyukur dengan semprotan lisan itu.

Di antara kebaikan dicerca adalah semakin terkokohkannya sifat atau akhlak mulia dalam diri seseorang. Sebut saja sifat mau dikoreksi dan membenahi diri. Sebab bisa jadi cercaan itu mengandung kebenaran, dan ini sangat bagus buat perbaikan PKS.

Selain itu, melalui penghinaan, PKS barangkali sedang dilatih untuk memaafkan. Karena bisa jadi yang mencaci-maki itu suatu saat insaf dan akan menjadi sahabat paling setia dan paling tulus dengan cara dimaafkan.

Penelitian ilmiah menyebutkan, memaafkan dapat menjadikan seseorang tidak mengulangi lagi perbuatan tidak baik yang pernah dilakukannya kepada seseorang. Di samping itu, kata para ilmuwan, memaafkan itu mendatangkan kesehatan jiwa dan raga.

Ilmuwan psikologi asal AS, Harry M Wallace dkk telah menerbitkan karyanya di jurnal ilmiah Journal of Experimental Social Psychology, volume 44, Maret 2008. Dalam bahasa Indonesia hasil judul temuan ilmiah itu berbunyi “Dampak memaafkan terhadap hubungan antar-pribadi: Apakah memaafkan akan menghalangi atau mendorong terulangnya perbuatan tercela terhadap orang lain?”

Hasilnya sungguh menakjubkan. Pernyataan maaf dari orang yang teraniaya kepada si pelaku perbuatan zalim itu ternyata membuat si pelaku pada umumnya tidak mau melakukan perbuatan buruk itu lagi. Tidak heran jika di negara maju, ‘memaafkan’ kini menjadi salah satu solusi bagi penanganan konflik antar pribadi, maupun antar kelompok masyarakat.

Memaafkan ternyata memiliki dampak positif terhadap kesehatan jiwa raga. Bahkan penggunaan ‘obat memaafkan sudah diujicobakan dalam penanganan pasien, dan berhasil baik. Ini diuraikan panjang lebar oleh Worthington Jr., pakar psikologi di Virginia Commonwealth University, AS, dkk dalam karya ilmiahnya, Forgiveness in Health Research and Medical Practice (Memaafkan dalam Penelitian Kesehatan dan Praktik Kedokteran), di jurnal Explore, Mei 2005.

Jangan Mengedepankan Pornografi atas nama seni

FPKS: Jangan Mengedepankan Pornografi Atas Nama Seni
Sumber : http://fpks-dpr.or.id/main.php?op=isi&id=5928

Fraksi-PKS Online: Ramadhian Fadillah – detikNews.
Jakarta – Sejumlah artis dan seniman memprotes RUU pornografi. Namun FPKS yakin UU pornografi ini tidak akan menghambat kreativitas seniman karena seni dan pornografi adalah dua hal yang berbeda.

“Seni dan pornografi bukanlah sesuatu yang sama, jangan mengedepankan pornografi atas nama seni,” ujar anggota Panitia Khusus (Pansus) RUU Pornografi dari FPKS Hilman Rosyad Syihab dalam keterangan pers yang dikirim ke redaksi detikcom, Rabu (17/9/2008).

Hilman yang juga menjabat Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI menilai, pornografi tidak terkait agama maupun budaya tertentu. Pornografi sangat bertentangan dengan moral dan berbahaya dan akan menyebabkan sakit mental.

“Kita tahu banyak perkosaan terhadap anak di bawah umur, banyak remaja yang sudah kecanduan nonton film porno serta banyak wanita yang menjadi subjek pornografi akibat jeratan ekonomi. Semua terjadi karena materi pornografi banyak beredar tanpa kendali hukum yang memadai,” paparnya.

Hilman juga yakin tidak akan ada disintegrasi bangsa karena RUU pornografi ini. “Tidak ada suku dan agama mana pun di negeri ini yang mendukung pornografi, jadi di mana letak disintegrasi-nya?” ungkap Hilman.

Hilman mengimbau kepada semua pihak untuk secara obyektif menerima RUU Pornografi demi kepentingan dan martabat bangsa. Bila RUU dipahami dengan baik, maka tidak ada substansi yang perlu dikhawatirkan.

“Tidak ada yang perlu ditakuti dari RUU ini,” pungkasnya.


Inna min khiyarikum ahsanakum akhlâqan
Sesungguhnya orang pilihan di antara kalian adalah orang yang berakhlak baik

Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH
https://arsiparmansyah.wordpress.com
http://armansyah.swaramuslim.com
http://dunia-it-armansyah.blogspot.com/

PKS: 5 Kekeliruan Berpikir Bagi Penolak RUU Pornografi

PKS: 5 Kekeliruan Berpikir Bagi Penolak RUU Pornografi
Sumber : http://www.pk-sejahtera.org/v2/main.php?op=isi&id=5932

Jakarta – Meski RUU Pornografi akan segera disahkan, pro kontra terhadap RUU ini tak kunjung usai. Jika kubu penolak menilai RUU pornografi hanya akan mengekang kebebasan berekspresi dan mengancam integrasi, lain halnya bagi kubu penolak. PKS bahkan menuding para penolak telah sesat pikir.

“Yang menolak RUU Pornografi telah melakukan lima kekeliruan berpikir. Pertama, melupakan nilai-nilai agama yang diagungkan oleh pancasila yang berarti mengagungkan aturan luhur,” kata anggota FPKS Al Muzammil Yusuf pada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis ( 18/9/2008).

Menurut anggota Komisi I DPR ini, selain melupakan nilai agama, para penolak RUU Pornografi juga dinilai tidak siap berdemokrasi. Alasannya, proses panjang dan dialektika antar fraksi yang sudah berjalan lama tidak dihargai semestinya.

“Mereka menolak membuktikan, mereka belum siap berdemokrasi, karena mereka tak menghormati proses panjang wakil rakyat mendiskusikan RUU ini,” terang Muzammil.

Selain 2 alasan di atas, Muzammil menilai penolakan kelompok tertentu pada RUU Pornografi membuktikan mereka tidak siap menjadi bagian dari keluarga besar Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Mereka melupakan amanat UUD 45 pasal 31 ayat 3 bahwa pendidikan nasional bertujuan meningkatkan iman taqwa dan ahlaq mulia. Selain itu, mereka meremehkan upaya penyelamatan generasi muda dan anak,” kata Muzammil.

Muzammil juga menilai bahwa penolakan ini lebih menuruti ide kebebasan Barat. “Para penolak RUU lebih terinspirasi dan mewakili ide kebebasan Barat yang nyata-nyata gagal melindungi rakyatnya dari bahaya pornografi,”pungkasnya.

—- Mungkin anda tertarik juga untuk membaca artikel saya mengenai Hijab :
Silahkan klik link berikut : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/06/24/jilbab/

Terimakasih []

ARMANSYAH

Pesan Hidayat Nurwahid

Pesan Hidayat Nurwahid
Sumber : http://www.pk-sejahtera.org/v2/index.php?op=isi&id=5884

INILAH.COM, Jakarta – Ketua MPR Hidayat Nurwahid berharap pihak yang kalah dalam Pemilihan Gubernur Sumatera Selatan bisa menerima dengan ksatria. Pilgub Sumsel jangan sampai meniru konflik berkepanjangan yang terjadi dalam Pilgub Maluku Utara.

“Saya harap kejadian di Maluku Utara tidak terjadi di Sumsel, karena di Sumsel terjadi pelanggaran hukum dan adanya tindakan anarkhis saya khawatir jadi mestinya sudah mempersipakan pemilu dengan cara-cara yang lebih baik lagi,” kata Hidayat di Jakarta, Minggu (14/9).

Hidayat menambahkan, siapapun yang menang jangan sampai memprovokasi yang bisa menyebabkan permusuhan antar warga. “Dan untuk yang kalah saya harap kalau kekalahan tersebut didapatkan secara ksatria maka diterima saja dengan baik-baik karena ini implikasinya mendekati pemilu 2009,” ujarnya.

Pemilihan kepala daerah, lanjut mantan Presiden PKS ini, digelar bukan untuk menimbulkan konflik antar warga. Pilkada diharapkan bisa menghadirkan gubernur atau pemimpin yang lebih baik. “Karenanya saya harap seluruh pihak-pihak agar jangan main-main dengan hukum. Karena dasarnya hukum yang jelas dari kejujuran. Yang kalah dan yang menang seyogyanya bisa menerima hasil tersebut dengan kelogowoan,” imbuhnya.

Terkait gugatan yang dilayangkan pasangan Syahrial Oesman dan Helmy Yahya atas kemenangan Alex Noerdin – Eddy Yusuf, Hidayat mengatakan hal itu harus diserahkan pada proses hukum yang ada.

“Saya harap proses hukumnya jangan sampai di halang-halangi disini, kembali lagi proses ataupun kejadian di Maluku utara terulang lagi di Sumsel. Kita serahkan saja pada mekanisme yang ada dan saya sendiri tidak menekan. Kalaupun ada potensi putaran kedua itu melihat perkembangan nanti,” pungkasnya.[L6]

%d bloggers like this: