Mimpi saya sebelum ajal menjemput

Ada satu mimpi besar yang mudah-mudahan Allah izinkan terwujud suatu hari kelak. Saya punya mimpi untuk membangun sebuah pesantren yang akan menghasilkan santri-santriwati berdedikasi, terbuka dalam hal wawasan dan keilmuan, mengerti ilmu fiqh, pandai dalam teknologi serta memiliki landasan keimanan Tauhid yang kokoh. Saya ingin berbuat lebih banyak untuk umat ini sebelum jasad diapit oleh tanah merah.

Saya tak tahu berapa banyaknya lagi jumlah angka dari sisa umur ini… entah akankah dalam bilangan tahun, bulan, minggu, hari, jam atau malah detik. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga sama-sama selamat dunia dan akhirat.

Bumi Palembang Darussalam,

Romadhon 1435H
Mgs. Armansyah Sutan Sampono Azmatkhan ibn Umar abd Hamid

—–

Advertisements

Hukum memakai batu perhiasan

Saya pernah ditanya melalui timeline Facebook berkaitan dengan hukum pemakaian batu perhiasan untuk kaum Adam. Jawaban dari saya  :

Ada riwayat dari Imam Nasa’i sebagai berikut:

Sunan Nasa’i 5122: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ma’mar ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Ahsim dari Al Mughirah bin Ziyad ia berkata; telah menceritakan kepada kami Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memakai cincin emas selama tiga hari, ketika para sahabatnya melihat, tersebarlah (orang memakai) cincin emas. Maka Rasulullah pun membuangnya, dan aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh beliau. Kemudian beliau memerintahkan untuk membuat cincin dari perak dan memerintahkan untuk memberi ukiran ‘Muhammad Rasulullah’. Cincin itu ada di tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga beliau wafat, kemudian beralih di tangan Abu Bakar hingga wafat, kemudian di tangan Umar hingga wafat, kemudian di tangan Utsman selama enam tahun masa pemerintahannya. Ketika banyak buku yang harus ia beri stempel, ia pun memberikan cincin itu kepada salah seorang sahabat Anshar untuk menstempel. Saat sahabat Anshar itu keluar ke sumur milik Utsman, cincin itu jatuh. Cincin itu kemudian dicari namun tidak ditemukan. Utsman kemudian memerintahkan untuk membuat cincin baru yang semisal dan memberi ukiran ‘Muhammad Rasulullah’.”

Jadi, hukum memakai cincin adalah boleh, selama bukan emas. Itu yang pertama.
Kedua, berkaitan dengan mata cincin.

Ada hadist riwayat Muslim yang menyebutkan cincin Rasulullah itu memang memiliki mata.

Shahih Muslim 3898: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah meminta dibuatkan cincin dari emas. Apabila beliau memakainya, beliau selalu meletakkan mata cincin tersebut pada bagian dalam telapak tangan. 

Ada juga kisah dilain waktu, Rasul diberi hadiah cincin oleh raja Najasyi:

Sunan Ibnu Majah 3634:Dari Aisyah Ummul Mukminin, dia berkata, “Raja Najasyi menghadiahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam perhiasan yang di antaranya ada cincin emas yang batu cincinnya dari Habasyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mengambilnya dengan sebatang kayu dan beliau berpaling darinya -atau mengambilnya dengan jari-jari tangannya-, kemudian beliau memanggil cucu perempuannya, Umamah binti Al ‘Ash, sambil bersabda: “Berhiaslah kamu dengan ini wahai puteriku.”

Adapun dalam riwayat Muslim, disebutkan mata cincin Rasulullah adalah batu Habsyi.

Shahih Muslim 3908: Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memakai cincin perak bermata batu Habsyi di tangan kanannya. Beliau meletakkan mata cincinnya di sebelah dalam telapak tangannya. 

Olehnya, maka jika batu-batu ini dijadikan mata cincin, kiranya tidak mengapa. Sebab Rasul juga pernah melakukannya, begitupula sahabatnya. Namun jika dibuatkan kalung atau gelang lalu dipakai oleh laki-laki, saya kira ini sudah menyerupai perempuan. Dan hukum menyerupai perempuan adalah terlarang didalam Islam.

Diarsipkan dari timeline FB saya tanggal 20 Jan 2014

Berita tidak selamanya objektif

Oleh : Armansyah

Tanggal 27 Oktober 2013 sampai dengan 01 November 2013 lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Pustekkom (Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan) di Ciputat-Jakarta. 

ilustrasi

Di tempat ini, saya banyak belajar tentang proses studio. Mulai dari pengambilan gambar untuk penyiaran televisi, rekaman audio untuk disiarkan secara live dan streaming via radio maupun internet sampai kepada proses pembuatan siaran langsung serta perfileman. Saya juga mendapat kesempatan untuk belajar menjadi sutradara dari sebuah acara yang disiarkan secara live.

Continue reading

Koleksi Nazwar Syamsu

Beberapa contoh koleksi Buku Nazwar Syamsu yang saya miliki

Beberapa contoh koleksi Buku Nazwar Syamsu yang saya miliki

 

Di informasikan pada rekan-rekan yang berminat pada buku-buku Nazwar Syamsu seri Tauhid dan Logika, bahwa dengan menyesal saya katakan bila mulai sekarang saya tidak bisa membantu lagi dalam hal mendapatkan foto copynya. Hal ini dikarenakan, koleksi Nazwar Syamsu saya ini sudah terlalu rapuh dan aus untuk terus mengalami foto copyan.

Buku-buku ini sudah lebih dari 100x di foto copy sejak 2008. Untuk itu saya mohonkan pengertiannya bagi para peminat tulisan Nazwar Syamsu yang masih sangat tinggi. Sebagai alternatif, silahkan bergabung di komunitas pesantren virtual buku-buku ns dihttp://www.facebook.com/groups/nazwarsyamsu/?ref=ts dan menghubungi salah satu sahabat saya yang menjadi admin disana, Handi Yawan.

Semoga bermanfaat.,

Bagi rekan-rekan yang belum pernah mendengar tentang Nazwar Syamsu, berikut saya sajikan sedikit profilenya.

Continue reading

With Ustadz Yusuf Mansyur

 

Kenangan di Irma

Bongkar pustaka pribadi, ketemu arsip lamas ketika masih aktif di Irma Masjid Agung Palembang, puluhan tahun lalu. Ternyata masih ada, saya share ya …. 

Continue reading

My Birthday with students

Memories play very confusing role, make you laugh when you remember the time you cried together
But make you cry when you remember the time you laughed together

Bersyukur bahwa eksistensiku ditengah mereka, para muridku, mendapat tempat tersendiri dihati mereka.
Thankyou my Students, Thankyou my Komodowan and Komodowati.
You are still the best
– I’m gonna miss this moment –

Loving-kindness and compassion are the basis for wise, powerful, sometimes gentle, and sometimes fierce actions that can really make a difference — in our own lives and those of others.

%d bloggers like this: