Metadata

Kali ini kita akan bicara tentang metadata. Apasih sebetulnya metadata file itu?

Saya pribadi hampir mengartikannya sebagai DNA dari sebuah file. DNA sendiri kependekan dari Deoxyribo Nucleic Acid. Ini sejenis asam yang pasti ada didalam diri manusia. Asam tersebut menyimpan seluruh informasi biologis tentang genetika dari manusia itu sendiri. Dari DNA ini juga seseorang misalnya bisa diketahui siapa orangtuanya dan lain-lain terkait.

Nah metadata file artinya informasi tentang file atau an electronic “fingerprint”-lah kira-kira.

Disini file apapunlah itu pasti ada metadatanya. Hanya saja ada metadata yang utuh dan ada yang tidak utuh lagi. Metadata file yang utuh akan menampilkan informasi terkait tanggal pengambilan foto/pembuatan dokumen berikut info jam, merk kamera yang digunakan bila file tersebut memiliki format foto/image dan lain-lain.

Istilah metadata sendiri sebetulnya pada awalnya sering digunakan dalam literature tentang database management systems (DBMS) untuk menggambarkan informasi yang diperlukan untuk mencatat karakteristik informasi yang terdapat pada pusat data. “Kebetulan” mata kuliah Database ini yang saya asuh dalam sebagian besar perkuliahan saya. Sehingga kiranya bila sekarang saya berbicara tentang metadata atau istilah lainnya adalah Exif (Exchangeable image file format) dari sebuah file atau dokumen tidaklah berlebihan. Apalagi tesis S2 sayapun khusus terkait Database itu sendiri.

Sekarang bila kita kembalikan pembicaraan kita pada kasus yang diduga melibatkan Habib Rizieq dan Firza sebagaimana telah diopinikan sedemikian rupa oleh para media sekuler anti Islam demi menjatuhkan wibawa dan citra ulama dimata umat, komentar saya kali ini dalam kaitan metadata file screenshot yang diduga percakapan keduanya tersebut sama seperti komentar saya yang lalu ketika mengomentari prematurnya dakwaan kejahatan terhadap mereka dengan cuma bermodalkan sebuah screenshot yang pada dasarnya dapat dibuat dengan mudah menggunakan aplikasi fake di playstore.

What does it mean?
Metadata is useless for screenshot images. And even if you can prove that the screenshot accurately shows what was on the screen at the time, what’s to say that the application displaying what you took a screenshot of is legitimate? We could easily make an application that displays an image, and take a screenshot of that as I told you before. Isn’t it?

Sebuah file hasil screenshot tidak mengandung informasi detil terkait seperti file hasil tangkapan kamera secara langsung. Status sebuah file screenshot sama seperti file gambar yang telah di edit atau direkayasa dengan menggunakan aplikasi tertentu seperti photoshop dan sejenisnya.

Ditambah, metadata file sendiri sekarang sudah dapat dirubah-rubah dengan mudah menggunakan aplikasi dari playstore. Persis sama mudahnya dengan membuat percakapan palsu yang dikesankan dilakukan via whatsapp lalu dinisbatkan terhadap seseorang.

Tak perlu latar belakang pendidikan tinggi untuk melakukannya. Temanya tetap sama : Awam boleh, goblok jangan.

Berikut pada status ini saya lampirkan beberapa contoh aplikasi perubah metadata yang dapat diunduh bebas dari playstore yang ada di Android, serta beberapa alamat situs yang dapat digunakan untuk memeriksa metadata sebuah file.

Buktikan sendiri dan jangan hanya membeo apa yang dikatakan orang lain… apalagi sampai ikut-ikutan memfitnah ulama.

Saya menggunakan sebuah foto dimana Metadata asli saya lampirkan lalu foto yang sama saya rubah metadatanya dengan menggunakan aplikasi “Photo Exif Editor Pro” yang versi litenya dapat di unduh bebas dari Playstore.

Piece of cake.

Kemudian untuk mengecek sebuah metadata secara online (terlepas apakah metadata itu betul-betul masih asli ataukah sudah direvisi dengan maksud dan tujuan tertentu) anda bisa menggunakan alamat berikut : https://29a.ch/photo-forensics/#exif-meta-data dan http://exif.regex.info/exif.cgi (diluar kedua alamat situs ini masih banyak lagi penyedia online lain yang memungkinkan kita mengecek metadata dari sebuah file).

18620344_10155230535593444_183651995091044627_n

Dengan demikian maka saat ini faktanya untuk menjadikan sebuah foto apalagi itu screenshot sebagai bukti dari kasus kejahatan yang diduga telah dilakukan oleh Habib Rizieq sangat prematur bahkan lemah. Jangan sampai kita ditertawakan oleh negara lain hanya karena masalah ini. Lebih-lebih pula dari sisi lainnya sumber dari screenshot yang diopinikan tersebut justru berasal dari anonymous atau tidak diketahui.

Maaf seribukali maaf, dalam jurnal ilmiah, kajian-kajian ilmiah atau seminar ilmiah… bila anda menggunakan sumber anonymous maka anda akan ditertawakan… syukur-syukur tidak ditendang keluar ruangan. Jangankan sumber anonymous … lah menggunakan Wikipedia selaku rujukan dalam skripsi atau thesis pun posisinya sama dengan menggunakan blog dan status facebook selaku referensi : terlarang atau sangat tidak disarankan.

Kenapa terlarang? karena blog dan media sosial tidak dapat divalidasi akurasi serta pertanggungan jawab contentnya. Wikipedia bisa ditulis oleh siapa saja, tidak ada filter atau persyaratan tertentu terhadap orang-orang yang akan membuat rintisan tulisan tentang sesuatu hal disana.

Sudahlah jangan terus mempermalukan hukum dinegara ini, kasus chat yang didakwakan pada Habib Rizieq sudah sewajarnya dihentikan prosesnya sebab memang secara ilmiah ditinjau dari sudut keilmuan IT maka ia ibarat mendirikan benang basah. Tak punya sandaran kekuatan yang dapat dijadikan argumen kebenaran yang dihujjahkan.

Stop kriminalisasi ulama.

#kamibersamaHRS
#fitnahakhirjaman
#saveulama

Palembang, 24 Mei 2017
Jelang Romadhon 1438H

Mgs. Armansyah, S.Kom, M.Pd

NB. Untuk yang mau reshared demi pencerahan dan edukasi publik silahkan selama tidak merubah, mengganti ataupun merevisi kata-kata dalam status asli sehingga terjadi penyimpangan makna dan pengertian dimasyarakat.

Di published di Facebook pertama kali 24 Mei 2017
https://web.facebook.com/armansyah/posts/10155230193663444

Analisa file audio yang diklaim suara FH

File itu aslinya diberi nama Cipika Cipiki… durasi 3 menit 39 detik dibuat oleh seseorang dengan inisial nn16 pada 28 Januari 2017. Pukul 22:50:00 dengan extension file MOV (nama filenya sendiri Yahud.mov).

Padahal audio asli dari WA adalah Opus bukan MOV yang merupakan format dari Apple QuickTime. Dan namanya audio ya tidak ada image atau berbentuk video.

Jadi jelas file tersebut sudah mengalami proses rekayasa konversi dari aslinya (entah betul dari format OPUS atau dari format audio lainnya seperti MP3, AU dan sebagainya) yang ditambahkan lagi obyek gambar serta teks.

Noted analisa sederhana saya ini.
14 Juni 2017 00:10 WIB | Revisi penambahan foto bukti analisa pukul 07.35 WIB 14 Juni 2017

Dishared pertama kali via Timeline Facebook dengan link https://web.facebook.com/armansyah/posts/10155293095858444

Armansyah, S.Kom, M.Pd
Dosen & Praktisi IT

Jawaban untuk status FB Hariadi Saptadji (kasus Ahok)

Dalam status facebook seorang netizen bernama Hariadi Saptadji yang ternyata juga cuma sekedar copas tulisan orang lain, yaitu tulisan seorang netizen lainnya berinisial Kang Hasan di blognya yang berjudul : Awliya, dan Ironi Kepemimpinan Islam disebutkan bila terkait istilah Wali atau awliya dalam surah al-Maaidah 51 itu bukan untuk kaitannya dengan pilkada modern seperti sekarang ini, masih tulisnya, bagaimana mungkin ada ayat yang mengatur tentang pemilihan pemimpin, padahal pemilihan semacam itu tidak pernah terjadi dimasa lalu?

Jadi, apa yang dimaksud? Apa makna wali atau awliya? menurut si Kang Hasan ini, Wali artinya pelindung, atau sekutu. Ketika Nabi ditekan di Mekah, beliau menyuruh kaum muslimin hijrah ke Habasyah (Ethopia). Rajanya seorang Nasrani, menerima orang-orang yang hijrah itu, melindungi mereka dari kejaran Quraisy Mekah. Inilah yang disebut wali, orang yang melindungi. Kejadian ini direkam dalam surat Al-Maidah juga, ayat 81. Adapun ayat 51 yang melarang orang menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pelindung itu adalah soal persekutuan dalam perang. Tidak ada sama sekali kaitannya dengan pemilihan pemimpin. Ini sudah pernah saya bahas, dan dibahas banyak orang. Demikian tulis Kang Hasan di Blognya.

Benarkah ucapan dari Kang Hasan itu diatas?

Baiklah, sekarang saya ajak kang Hasan dan siapapun orang yang merasa sehaluan dengan dirinya untuk menyaksikan tayangan video Quraish Shihab berikut :

Inti dari uraian Professor Quraish Shihab pada video diatas adalah (silahkan dicek sendiri kebenarannya) :

Awliya, jamaknya adalah Wali artinya orang yang dekat, yaitu orang yang seharusnya terdekat dengan kita. Dari sini muncul derivasinya sebagai penolong atau pemimpin. Dimana seorang pemimpin yang cepat memberikan pertolongan kepada masyarakat karena hubungannya yang sangat dekat atau akrab dengan orang yang ia pimpin.

Secara lebih jauh, Quraish Shihab menyebutkan konteksnya ini merupakan hubungan sesama manusia yang tidak ada lagi rahasia saking rapatnya kedekatan mereka.

Nah menurut Quraish Shihab ini, umat Islam jangan angkat mereka, yaitu kaum Yahudi dan Nasrani seperti ayat-ayat sebelumnya dimana jika orang Yahudi dan Nasrani tersebut suka merubah-rubah kitab sucinya, enggan mengikuti tuntunan al-Qur’an (tuntunan Allah dan Rasul-Nya) dan mengikuti hukum jahiliyah. Jangan mengangkat orang Yahudi dan Nasrani sebagai orang yang begitu dekat dengan orang beriman, apalagi untuk menjadi pemimpin. Meski demikian, tidaklah terlarang untuk konteks hubungan pergaulan sehari-hari, dagang, membeli barang dari tokonya dan sebagainya.

Sebab orang-orang itu (Yahudi dan Nasrani) adalah awliya untuk masing-masing mereka. Siapa diantara orang beriman (Islam) mengangkatnya sebagai awliya maka dia akan dianggap bagian dari mereka.

Kesimpulan dari ini adalah istilah awliya dalam ayat 51 surah al-Maaidah menurut Professor Quraish Shihab memang memiliki makna pemimpin, teman dekat, sekutu atau bisa juga aliansi. Jadi tidak sekedar sebagai pelindung dalam urusan persekutuan peperangan saja seperti tafsir si Kang Hasan. 🙂

Ayo… Suruh Kang Hasan belajar lagi sama Profesor Quraish Shihab yang merupakan pakar tafsir al-Qur’an Indonesia terkait tafsir dan pemahaman istilah Awliya pada Surah Al-Maaidah ayat 51.

Saya memilih pendapat Professor Quraish Shihab dalam hal ini sebab beliau sering dijadikan rujukan oleh orang-orang yang cenderung memperbolehkan memilih orang kafir selaku pemimpin. Saya tidak puas jika hanya mengutip tulisan-tulisan saja, apalagi tulisan yang ditulis ulang oleh orang-orang dalam blog dan situs mereka. Hehehe…. tulisan bisa dimanipulasi, bisa direduksi.

Saya sengaja mencari video asli yang utuh dari ucapan beliau terkait pemahaman istilah Awliya dalam Al-Maaidah ayat 51. Sehingga tidak ada pemelintiran, manipulasi maupun reduksi kata-kata.

Masih menurut Professor Quraish Shihab kita itu dalam video tersebut diatas, umat Islam jangan mengangkat mereka, yaitu kaum Yahudi dan Nasrani selama mereka ini masih suka merubah-rubah kitab sucinya, enggan mengikuti tuntunan al-Qur’an (tuntunan Allah dan Rasul-Nya) dan mengikuti hukum jahiliyah.

Sekarang apakah sebagai contohnya disini adalah ahok termasuk orang yang enggan mengikuti tuntunan al-Qur’an? jelas iya, sebab dia sampai hari ini faktanya masih kafir. Ahok belum bersyahadat, ahok masih mengikuti hukum jahiliyahnya. Olehnya maka menurut Professor Quraish Shihab, orang semacam ini dilarang dijadikan Awliya, baik itu dalam tafsiran teman dekat, sekutu, aliansi apalagi pemimpin.

Okey ya Kang Hasan…. keliru khan paham anda itu.

Lanjut.

Istilah Awliya ( أَوْلِيَآءَ) dalam al-Qur’an surah Al-Maaidah ayat 51 ini merupakan bentuk jamak dari mufrad Wali. Sekarang mari kita lihat contoh ayat yang menggunakan istilah wali.

Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka  ( وَلِيُّهُمُ ) di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih. ﴾ An Nahl:63 ﴿

Selain itu, ayat-ayat yang bercerita tentang terlarangnya menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin tidak cuma surah Al-Maaidah ayat 51 saja tetapi ada lebih banyak lagi, misalnya :

﴾ Ali Imran:28 ﴿
Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (أَوْلِيَآءَ) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).

﴾ An Nisaa:144 ﴿
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?

﴾ Al Maidah:57 ﴿
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.

﴾ At Taubah:23 ﴿
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

﴾ Ali Imran:149 ﴿
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.

Menurut si Kang Hasan masih dalam blognya, Ketika Nabi ditekan di Mekah, beliau menyuruh kaum muslimin hijrah ke Habasyah (Ethopia). Rajanya seorang Nasrani, menerima orang-orang yang hijrah itu, melindungi mereka dari kejaran Quraisy Mekah. Inilah yang disebut wali, orang yang melindungi. Kejadian ini direkam dalam surat Al-Maidah juga, ayat 81.

Sekarang mari kita tanya pada Kang Hasan… kira-kira duluan mana nih ayat yang turun? Apakah duluan ayat 81-82 surah Al-Maaidah atau duluan surah al-Maaidah ayat 51?

Hehehe…. Kang Hasan yang baik, ayat ke-81 yang menurut Kang Hasan sebagai pembenaran sikap akang itu, meskipun tidak ditemukan Asbabun Nuzul dari ayat 81 dan 82, namun jika kedua ayat ini menurut Kang Hasan sebagai dasar Nabi menyuruh kaum Muslimin hijrah kebawah pemerintahan raja kristen, maka bisa dipastikan ayat-ayat tersebut diturunkan sebelum Hijrah ke Madinah. Sementara ayat 51 dari al-Maaidah diturunkan di Madinah.

Jadi, ayat 81-82 tidak membatalkan ayat 51. Sebaliknya jika ingin mengikuti kaidah berpikir Kang Hasan, maka ayat 51 yang turun belakangan justru dapat menasakh ayat-ayat tersebut yang turun sebelumnya.

Lagipula Kang Hasan, saya kasih tahu ya… Ayat-ayat al-Qur’an terkait dengan keharaman memilih pemimpin kafir semuanya ditujukan pada muslim yang secara aktif dan sadar melakukan pemilihan. Jika kasusnya kita tidak punya kuasa atau tidak terlibat dalam proses pemilihannya maka kita tidak terkena hukum al-Qur’an tersebut. Begitupula kasusnya jika keadaan tengah dalam posisi kondisionil atau darurat maka memakan babipun halal hukumnya apalagi hijrah kebumi Allah yang lain sekalipun daerah itu dipimpin oleh orang kafir sebagaimana kasus hijrahnya 80 orang sahabat Rasul ke Ethiopia (di antara mereka ada Abdullah bin Mas’ud, Ja’far, Abdullah bin Urfuthah, Utsman bin Mazh’un dan Abu Musa sesuai hadist pada Musnad Ahmad no 4168).

Jadi mari luruskan dulu logika berpikir kang Hasan sebelum memulai perdebatan masalah ini ya….

Satu lagi Kang Hasan…. jangan lupa baca juga peristiwa yang terjadi pada jaman Umar dimana beliau Rodiyallahuanhu kemudian menjadikan surah Al-Maaidah ayat 51 sebagai pijakan keputusannya untuk memutuskan hubungan Abu Musa Al-Asy’ari dengan sekretarisnya yang kristen. Silahkan disini baca lengkapnya ya Kang : 

https://arsiparmansyah.wordpress.com/2016/10/12/takhrij-atsar-umar-tentang-juru-tulis-nashrani/

Hampir lupa… khusus tentang pemilihan pemimpin yang katanya jaman dulu tidak ada seperti pilkada sekarang sehingga tidak mungkin al-Qur’an berbicara diluar konteks maka perlu di ingatkan bila al-Qur’an merupakan mukjizat Rasulullah yang berlaku sampai kapan saja. Banyak ayat-ayat al-Qur’an menceritakan fenomena-fenomena yang hakekatnya justru baru kita ketahui dijaman sekarang ini. Bukankah hukum-hukumnya mencakup seluruh peradaban? bukankah al-Qur’an bersumber dari Tuhan yang Maha Mengetahui apa yang terjadi dimasa lalu dan apa yang akan terjadi dimasa depan?

Jadi, apa masalahnya Kang Hasan? 

Bukankah Allah telah berfirman :

﴾ Al Furqaan:6 ﴿
Katakanlah: “Al Quran itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

﴾ Asy Syu’ara:192 ﴿
Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam.

﴾ Al Baqarah:255 ﴿
Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.

﴾ Al Hijr:24 ﴿
Sungguh ! Kami sudah mengetahui orang-orang yang hidup sebelum kamu dan sungguh, Kami juga sudah mengetahui orang-orang yang akan hidup dimasa depan

﴾ Al Fushilat:42 ﴿
Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.

﴾ Al Baqarah:66 ﴿
Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

﴾ Al Maidah:48 ﴿
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran.

﴾ Al A’raf:2 ﴿
Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman.

Adapun keberadaan pemimpin-pemimpin seagama yang kadang bertindak kejam, tangan besi dan juga otoriter terhadap rakyatnya yang notabene seagama dengannya bukanlah hal baru. Bisa terjadi dimana saja dan umat apapun. Hal demikian sama sekali tidak mewakili agama yang ia anut ataupun membatilkan konsep kepemimpinan dalam agama itu sendiri. Bukan konsep kepemimpinan yang diatur oleh agamanya yang salah tetapi oknum atau pelakunyalah yang menyimpang.

Akhirnya itu saja sementara ini Kang Hasan… salam kenal teriring do’a buat anda agar dapat sadar dan kembali kejalan yang benar, sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya terkait pemahaman surah Al-Maaidah ayat 51 ini.

Palembang, 12 Oktober 2016

Armansyah, M.Pd

Lampiran Tambahan :

﴾ Al Baqarah:173 ﴿
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

﴾ An Nisaa:100 ﴿
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

﴾ Ali Imran:195 ﴿
Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik”.

﴾ An Nisaa:89 ﴿
Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong,

﴾ An Nisaa:90 ﴿
kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.

Musnad Ahmad 4168: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa ia berkata; Aku mendengar Hudaij saudara Zuhair bin Mu’awiyah dari Abu Ishaq dari Abdullah bin Utbah dari Ibnu Mas’ud ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus kami kepada Najasyi, saat itu kami berjumlah sekitar delapan puluh orang, di antara mereka ada Abdullah bin Mas’ud, Ja’far, Abdullah bin Urfuthah, Utsman bin Mazh’un dan Abu Musa, mereka mendatangi Najasyi. Sementara orang-orang Quraisy mengutus Amru bin ‘Ash dan Umarah bin Walid dengan membawa hadiah. Tatkala keduanya menghadap Najasyi, keduanya lalu sujud di hadapannya kemudian berdiri di samping kanan dan kirinya. Setelah itu keduanya kepada Najasyi, “Sesungguhnya beberapa orang dari bani paman kami telah datang di negerimu dan mereka membenci kami dan agama kami.” Najasyi bertanya, “Dimanakah mereka?” Keduanya menjawab, “Mereka semuanya ada di negerimu, suruhlah mereka menghadap.” Najasyi lantas pun memanggil mereka. Ja’far berkata, “Saya yang akan menjadi juru bicara kalian hari ini.” Para sahabat lalu mengikutinya, kemudian mereka masuk dan memberi salam tanpa melakukan sujud (seperti yang dilakukan oleh utusan Quraisy). Orang-orang pun bertanya kepadanya, “Kenapa engkau tidak sujud kepada raja?” Ja’far menjawab, “Kami tidak sujud kecuali hanya kepada Allah Azza Wa Jalla.” Najasyi bertanya, “Jelaskan kenapa demikian!” Ja’far berkata, “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla mengutus kepada kami Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wasallam dan memerintahkan kepada kami untuk tidak bersujud kecuali hanya kepada Allah, menyuruh kami untuk shalat dan menunaikan zakat.” Amru bin ‘Ash berkata, “Sesungguhnya mereka menyelisihi engkau mengenai Isa bin Maryam!” Najasyi bertanya, “Apa pendapat kalian mengenai Isa bin Maryam dan Ibunya?” Para sahabat menjawab, “Kami katakan sebagaimana firman Allah Ta’ala, dia adalah kalimat Allah dan ruh-Nya, Dia masukkan ke dalam rahim wanita perawan dan rajin beribadah (Maryam) yang tidak pernah disentuh oleh laki-laki, dan belum pernah memiliki anak.” Ibnu Mas’ud melanjutkan, “Lalu Najasyi mengambil sepotong kayu dari tanah dan berkata, “Wahai sekalian penduduk Habasyah dan para pendeta! Demi Allah, mereka tidak menambahkan sedikitpun dari apa yang kita katakan (yakini tentang Isa). Selamat datang untuk kalian dan untuk orang-orang yang datang bersama kalian, aku bersaksi bahwa dia adalah Rasulullah, dialah orang yang kami dapatkan ciri-cirinya dalam Injil dan dialah rasul yang diberitakan oleh Isa bin Maryam. Tinggallah kalian sesuka hati kalian, demi Allah jika bukan karena urusan kerajaan niscaya aku akan mendatanginya hingga aku yang akan membawa kedua sandalnya dan memberinya air wudlu’. Najasyi kemudian memerintahkan untuk mengembalikan hadiah dari Quraisy.” Setelah itu Abdullah bin Mas’ud segera kembali ke Madinah hingga dia dapat ikut serta dalam perang Badar.”

Shahih Bukhari 3591: Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami bapakku dari Shalih dari Ibnu Syihab berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdurrahman dan Ibnu Al Musayyab bahwa Abu Hurairah radliallahu ‘anhu mengabarkan keduanya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumumkan meninggalnya an Najasyi raja Habasyah pada hari meninggalnya dan bersabda: “Mohonkanlah ampunan untuk saudara kalian ini”.

Blognya Kang Hasan : http://abdurakhman.com/awliya-dan-ironi-kepemimpinan-islam/

Reposting untuk status FB Hariadi Saptadji disini https://web.facebook.com/hsaptadji/posts/10211334167614840

Ahok : Apa dan siapa yang dimaksudnya?

Saya sudah nonton video utuh pernyataan Ahok di kepulauan seribu. Tapi tetap tidak menemukan korelasi maupun jawaban atas pernyataan kurang ajarnya terhadap firman Allah dalam surah al-Maaidah ayat 51.

Secara legal formal dengan menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah dalam hukum negara yang berlaku di Indonesia, maka Ahok perlu menjelaskan apa maksud kalimatnya yang ini… ” Kalau Bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin dengan surat Al Maidah 51, macem macem itu.” dan “Kalo bapak ibu merasa ga milih neh “karena saya takut neraka”, dibodohin gitu ya gapapa”.

Pertanyaan :

A). Siapa yang dianggap Ahok telah membohongin dengan surat Al-Maaidah 51?

B). Siapa yang dimaksud telah membodohi dengan ancaman neraka karena Al-Maaidah 51?

Ini perlu klarifikasi yang jelas dari ahok sendiri, bukan dari orang lain sebab kata-kata itu keluar dari mulutnya bukan melalui tulisan media manapun atau individu siapapun diluarnya.

Jika yang dimaksud oleh Ahok yang telah membodohi dan membohongi itu adalah Allah karena telah menurunkan surah Al-Maaidah 51 maka Ahok telah jatuh dalam pasal-pasal penistaan agama. Proses hukum harus berlanjut.

Jika yang dimaksud oleh Ahok bahwa yang telah membodohi dan membohongi orang Islam agar tidak memilih pemimpin kafir berdasar Al-Maaidah 51 adalah orang atau lembaga tertentu maka dia harus bisa menunjuk dengan jelas siapa orang, institusi atau lembaga dimaksud agar tidak timbul fitnah.

Buktikan jika memang tafsir maupun fatwa dari mereka memang telah salah dan membodohi maupun membohongi sebagaimana tuduhannya itu. Jika tidak bisa maka Ahok berarti membuat tuduhan palsu dan pasal-pasal hukum yang menjeratnya menjadi berlapis.

Polisi dan penegak hukum lainnya harus memproses kasusnya dan dia harus di non aktifkan sebagai gubernur sekaligus mencabut haknya untuk ikut dalam pilkada dki jakarta.

Sudah cukup. Jangan menambah polemik berkepanjangan. Kasus ini harus diusut tuntas dan transparan agar publik khususnya umat Islam Indonesia maupun seluruh dunia tidak resah dan menjadi marah. Mari kita beri kepercayaan pada aparat penegak hukum kita dalam menyelesaikan kasus ini dengan baik serta kita kawal bersama prosesnya.

Armansyah
Palembang, Jum’at 07 Oktober 2016

NB : 

Saya jadi ingat ayat dalam Bible :

“Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” (Perjanjian Baru, Matius 12 ayat 34-37)

Fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah : Kepemimpinan

Majelis Tarjih Muhammadiyah dalam sidangnya pada hari Jum’at, 12 Zulkaidah 1430 H / 30 Oktober 2009 seputar Memilih Partai Politik dan Calon Legislatif butir 3 menyebutkan :

Perkembangan politik di Indonesia memang berjalan sangat dinamis. Saat ini, masyarakat tidak lagi memilih wakil rakyat dengan memilih partainya, melainkan langsung memilih orang yang mengajukan diri menjadi Calon Legislatif melalui partai-partai politik. Calon legislatif atau calon wakil rakyat adalah salah satu bagian dari kepemimpinan.

Dalam memilih calon pemimpin, tentu umat Islam harus mempertimbangkannya masak-masak, tidak boleh gegabah. Apalagi hanya memandang status, pekerjaan dan aktifitasnya selama ini. Syarat utama seorang pemimpin yang layak dipilih adalah Muslim. Allah swt berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” [QS. al-Maidah (5): 51]

Adapun syarat-syarat lain di antaranya adalah amanah, memiliki kapabilitas dan kompetensi, memahami dan membela aspirasi umat Islam, serta khusus bagi warga Muhammadiyah, hendaknya memilih calon pemimpin yang mendukung atau sejalan dengan dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid yang dikembangkan oleh Muhammadiyah

Sumber : http://www.fatwatarjih.com/2011/09/memilih-partai-politik.html

Jadi bila omongan Ahok dalam kasus penistaan agama yang ia lakukan ketika hendak mencalonkan diri sebagai gubernur DKI 2017 saat di kepulauan seribu tidak dimaksudkan sebagai tudingan terhadap al-Qur’an maka apakah kemudian ahok memaksudkannya telah menuduh Organisasi Muhammadiyah yang berbohong karena memanipulasi surah Al-Maidah ayat 51 yang menyebutkan haramnya bagi umat Islam memilih pemimpin kafir sebagaimana putusan Tarjih diatas?

Siap-siap mendukung Muhammadiyah dalam melakukan gugatan atas tuduhan kafir satu itu.

Fenomena Dimas Kanjeng Taat Pribadi (Dimas KTP)

Oleh. Armansyah

Masih menyoal fenomena Dimas Kanjeng. Sebetulnya saya sudah malas bahasnya. Tetapi terdorong rasa ingin berbagi pengetahuan maka sayapun menulisnya  disini.

Aslinya tulisan ini  dalam bentuk posting berseri di facebook saya

https://web.facebook.com/armansyah/posts/10154487248268444.

Semoga bermanfaat.

Jadi begini. Soal dia bisa menggandakan uang itu sebagaimana video serta cerita-cerita yang jamak beredar dipublik maka saya jawab kemungkinan itu tetap ada. Memang sebagai manusia biasa Dimas pasti punya keterbatasan. Namun toh jika dia bersekutu dengan Jin dalam prakteknya maka hal itu tentu melampaui keterbatasan kemampuan dari kemanusiaan sang Dimasnya sendiri.

Mungkinkah manusia berserikat dengan Jin sehingga bisa melakukan suatu perbuatan adikodrati?

Jawab: Sangat mungkin sekali.
Dalil, Ingat salah satu firman Allah:

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara Jin, maka Jin-jin itu justru hanya menambahi mereka dosa dan kesalahan. (QS.Al Jin:6)

Jadi yang melakukan itu sebetulnya bukan orang yang bernama Dimas KTP melainkan Jin yang telah mengikat perjanjian tertentu terhadapnya.

Biasanya sebagai bentuk timbal baliknya maka Dimas KTP harus melakukan semacam ritual tertentu sebagaimana disyaratkan dalam awal perjanjian kerjasamanya dengan bangsa Jin tersebut.

Mempersamakan kasus penggandaan uang secara ghaib yang dilakukan oleh Dimas KTP dengan kasus dimana Rasulullah SAW melalui mukjizatnya yang mampu menggandakan makanan kepada para sahabatnya atau memancarkan air dari jarinya sangat tidaklah tepat, kebablasan jika tidak ingin disebut tolol dalam berpikir.

Pertama, apa yang dilakukan Rasul adalah mukjizat yang datang dari Allah. Sementara Dimas KTP berasal dari Jin yang bersekutu dengannya.

Apa yang datang dari Allah selain untuk menjadi hujjah kebenaran Rasul dihadapan umat juga memiliki landasan yang rasional kemanfaatan secara instan pada umat diwaktu mukjizat itu terjadi.

Contoh. Kasus penggandaan makanan. Ini dilakukan oleh Nabi SAW manakala beliau diundang dalam satu jamuan pribadi dan beliau SAW mengajak serta jemaah yang ada bersama beliau kala itu sehingga tuan rumah kaget sebab makanan yang tersedia hanya cukup untuk menjamu Rasulullah.

Karena tidak ingin mengecewakan banyak orang dan membuat malu si tuan rumah yang telah mengundangnya maka Rasulullah melakukan mukjizat beliau. Makanan yang disajikan dapat menampung semua jemaah hingga tak ada satupun diantara mereka yang tidak kebagian. ).

Kemudian juga saat air memancar dari jari Rasul.
Kasusnya saat itu Rasulullah SAW sedang dalam perjalanan sementara waktu sholat sudah masuk dan para sahabat kehausan, sementara persediaan air tidak mencukupi. Maka Rasulullahpun atas idzin Allah mengeluarkan mukjizat beliau SAW. (Hadist yang ini juga silahkan lihat dibagian komentar).

Intinya apa?
Karomah Rasulullah, mukjizatnya Rasulullah digunakan bukan untuk memperkaya dirinya sendiri atau melakukan sesuatu demi kebutuhannya terpenuhi dengan memanfaatkan orang lain sehingga orang tersebut menjadi mudharat. Sebaliknya semua itu dilakukan oleh Rasul untuk kepentingan orang banyak dan berlaku langsung pada waktu itu juga, tidak ditunda-tunda dengan beragam alasan.

Lalu karomah Rasul seperti diatas mau disamakan dengan kleniknya Dimas KTP? Demi Allah bedanya bak langit dan bumi.

Satu dari sisi Allah sementara lainnya dari sisi setan datangnya.

Berapa banyak Dimas KTP meminta uang dari orang-orang? apa tujuannya? cek rasionalitas tujuannya, masuk akal gak? apakah tindakan si DImas KTP memberi kemaslahatan atau justru kemudhoratan pada orang-orang yang ia mintai uang-uang itu?

Jawab dengan akal sehat saja, gak usah panjang lebar pake argumen ini atau itu… kita sudah dikaruniai Allah akal agar berpikir secara benar, bukan akal itu diletakkan di dengkul kaki. Orang yang tidakdapat menggunakan akal artinya dia gila, anak kecil atau orang pingsan.

Contoh hadist memperganda makanan oleh Rasulullah SAW:


Shahih Muslim 3801: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dia berkata; Aku mebaca Hadits Malik bin Anas dari Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Thalhah; Bahwasanya dia mendengar Anas bin Malik berkata; Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim; “Aku mendengar suara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat lemah, yang aku tahu bahwa beliau sangat lapar. Apakah kamu mempunyai sesuatu?” Dia menjawab; ‘Ya.’ Kemudian dia mengeluarkan beberapa roti pipih dari gandum, lalu meraih kerudungnya. Kemudian dia menyusupkan ke bawah tanganku, dan menyelendangkan kerudungnya (yang berisi roti). Dia mengutusku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Anas berkata; ‘Aku membawanya menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku mendapati beliau sedang duduk di masjid bersama para sahabat. Aku berdiri di hadapan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: ‘Apakah Abu Thalhah yang menyuruhmu? ‘ Anas menjawab; ‘Ya’, Beliau bertanya: ‘Untuk membawakan makanan? ‘ Aku menjawab; ‘Ya, ‘ maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada orang-orang yang sedang bersamanya; ‘Berdirilah! ‘ Anas berkata; ‘Beliau berangkat dan aku berada di bagian depan mereka, hingga aku menemui Abu Thalhah dan mengabarkan hal itu.’ Abu Thalhah berkata; ‘Wahai Ummu Sulaim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang bersama orang-orang, sedangkan kita tidak memiliki makanan yang cukup untuk menjamu mereka? ‘ Ummu Sulaim menjawab; ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Anas berkata; ‘Abu Thalhah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau tiba dan Abu Thalhah menghampiri beliau hingga memasuki rumahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Kemarilah, Wahai Ummu Sulaim, apa yang kau miliki? ‘ Dia datang dengan membawa roti itu, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar roti tersebut dilumatkan. Roti pun dilumatkan dan Ummu Sulaim menuangkan minyak samin pada wadah tersebut. Sehingga menjadi lauk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan beberapa kalimat lalu bersabda: ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk.’ Abu Thalhah mempersilahkan mereka. Mereka menyantapnya hingga kenyang kemudian keluar. Beliau bersabda: ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk.’ Abu Thalhah mempersilahkan mereka, dan mereka menyantapnya hingga kenyang kemudian keluar. Kemudian beliau bersabda: ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk.’ Hingga mereka mereka bisa makan dan kenyang. Jumlah mereka ada tujuh puluh orang atau delapan puluh orang.”

Shahih Bukhari 4962: Telah menceritakan kepada kami Isma’il ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Malik dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah bahwa ia mendengar Anas bin Malik berkata; Abu Thalah berkata kepada Ummu Sulaim, “Aku mendengar suara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melemah, dan aku tahu bahwa beliau sedang lapar. Apakah kamu mempunyai sesuatu?” Maka Ummu Sulaim pun mengeluarkan beberapa bulatan gandum, dan mengeluarkan tudungnya lalu menutup roti itu dan meletakkannya di balik pakaianku. Ia juga memberikan sebagiannya padaku lalu mengutusku untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku pun membawa dan aku dapati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berada di dalam masjid yang sedang bersama orang-orang. Aku berdiri di tengah-tengah mereka, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya padaku: “Apakah kamu diutus oleh Abu Thalhah?” Aku menjawab, “Ya.” Beliau bertanya lagi: “Dengan membawa makanan?” Aku berkata, “Ya.” Akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada orang-orang yang saat itu sedang bersamanya: “Beranjaklah.” Maka mereka pun segera beranjak pergi (ke tempat Abu Thalhah) dan aku segera bergegas ke hadapan mereka, hingga aku sampai di tempat Abu Thalhah. Maka Abu Thalhah pun berkata, “Wahai Ummu Sulaim. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah datang bersama orang-orang sementara kita tidak memiliki persediaan makanan untuk menjamu mereka.” Ummu Sulaim berkata, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Akhirnya Abu Thalhah pergi hingga bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Abu Thalhah menyambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga keduanya masuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Ummu Sulaim, keluarkanlah makanan yang kamu punyai.” Maka Ummu Sulaim pun mengeluarkan roti itu. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh untuk diremukkan sementara Ummu Sulaim meremas-remas samin untuk lauk roti. Kemudian Rasulullah Shallallah membacakan sesutu padanya sekehendak Allah. Sesudah itu beliau bersabda: “Izinkanlah untuk sepuluh orang.” Lalu ia pun mengizinkan mereka dan mereka pun makan hingga kenyang dan keluar. Beliau bersabda lagi: “Izinkan untuk sepuluh orang lagi.” Ia pun mengizinkan mereka hingga mereka makan sampai kenyang dan keluar. Beliau bersabda lagi: “Izinkan untuk sepuluh orang lagi.” Ia pun mengizinkan mereka hingga mereka semua makan sampai kenyang lalu keluar. Setelah itu, beliau mengizinkan lagi untuk sepuluh orang. Akhirnya mereka semua makan dan kenyang. Padahal jumlah mereka adalah delapan puluh orang.

Contoh Hadist-hadist keluarnya air dari jari beliau SAW :

Sunan Darimi 30: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami Abu Al Jawwab dari ‘Amar bin Ruzaiq dari Al A’masy dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah ia berkata; telah terjadi gempa pada masa Abdullah dan kejadian tersebut diberitahukan kepada Abdullah lalu beliau berkata: Kami para sahabat menganggap tanda-tanda (kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala) sebagai suatu keberkahan, sementara kalian menganggapnya sebagai hal yang menakutkan. Pernah ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan, tiba-tiba waktu shalat tiba, sementara kami tidak membawa air kecuali sedikit. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta air di bejana yang besar, dan beliau meletakkan telapak tangannya padanya. Secara mengejutkan air memancar diantara jari-jemarinya kemudian beliau menyeru: “Hai, Kemarilah untuk mengambil air wudhu dan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Maka semuanya orang-orang mengambil wudhu sementara saya tidak mempunyai keinginan apa-apa kecuali saya hanya ingin meminumnya dan memasukkan air tersebut ke dalam perut saya karena beliau bersabda: keberkahan dari Allah. Aku ceritakan peristiwa itu kepada Salim bin Abu Al Ja’d, maka ia berkata; mereka (waktu itu) berjumlah lima belas orang.

Musnad Ahmad 12040: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Hammad yaitu Ibnu Zaid dari Tsabit dari Anas bin Malik sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam berdo’a di air yang diletakkan dalam bejana. Rasulullah meletakkan jari-jarinya dalam bejana tersebut, dan air mulai memancar, maka orang-orang mulai berwudlu dengan air dan ternyata air memancar dari sela-sela jarinya. Kata Anas bin Malik, “Orang-orang bergegas berwudlu.” Dia berkata lagi, “Lalu saya mengira jumlah kaum (yang berwudlu), jumlahnya antara tujuh puluh sampai delapan puluh (orang).”

Sunan Darimi 27: Telah mengabarkan kepada kami Abu Al Walid Al Thayalitsi dan Sa’id bin Ar Rabi’ keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Amr bin Murrah dan Hushain keduanya mendengar Salim bin Abu Ja’d berkata; saya mendengar Jabir bin Abdullah Radliyallahu’anhu berkata; kami merasa sangat kehausan dan kami berjalan dengan cepat sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau memasukkan tangannya ke bejana kemudian air memancar dari jari-jemari beliau seperti mata air, dan beliau berkata: sebutlah nama Allah Subhanahu wa Ta’ala (maka kamipun menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan kami minum sampai kami kenyang dan cukup, Dalam hadits Amru bin Murrah, kami bertanya kepada Jabir Radliyallahu’anhu; berapa jumlah kalian (waktu itu)? ia menjawab; kami berjumlah seribu lima ratus orang, kalaupun sekiranya kami (waktu itu) seratus ribu orang niscaya air itu cukup bagi kami.

Armansyah, M.Pd

%d bloggers like this: