Politik dalam perspektif sejarah 2 Khalifah

Pada akhir era kekhalifahan Usman Bin Affan, banyak tersiar kabar yang sifatnya memojokkan posisi dan sekaligus memfitnahnya telah melenceng dari amanah semula selaku pimpinan umat.

Provokasi fitnah tersebut mulai dihembuskan melalui isyu bahwa sang Khalifah telah melakukan praktek nepotisme dalam pemerintahannya dengan cara mengangkat sejumlah keluarga beliau sebagai pejabat.

Selanjutnya fitnah ini semakin meluas dan melebar yang berujung pada pembunuhan Khalifah Usman oleh sekelompok orang dengan alasan bahwa Usman telah keluar dari garis ketetapan yang sudah diatur oleh syari’at. Rumah beliau dikepung dan diserbu tanpa diberi kesempatan untuk memberikan pembelaan apapun.

Secara kejam sang Khalifah yang juga berstatus sebagai menantu Rasulullah ini dipenggal. Darahnya sampai hari ini masih membekas di mushaf yang beliau baca pada hari terakhir kehidupannya.

Selanjutnya setelah Ali menjadi Khalifah, beliaupun digoncang dengan isyu politik yang kurang lebih mirip-mirip. Yaitu, Khalifah Ali dianggap melindungi pembunuh Usman dari jeratan hukum. Atas provokasi tersebut maka –secara singkat– pecahlah perang Jamal dan juga perang Shiffin yang keduanya pada hakekatnya berhasil dimenangkan oleh pasukan Khalifah.

Fitnah politik tidak berhenti sampai disitu, sekelompok orang membelot dan menyatakan diri keluar dari pemerintahan yang sah dan mulai melakukan makar atas nama agama. Tujuan akhir dari gerakan tersebut adalah menggulingkan Sayyidina Ali dari tampuk pemerintahan kekhalifahannya sekaligus menyingkirkan Mu’awiyah bin Abu Sofyan yang ketika itu menjadi penguasa di Syam.

Sayyidina Ali gugur sebagai syuhada disuatu subuh ditikam secara pengecut sebagaimana dahulu juga kejadian yang sama dialami oleh Khalifah Umar.

Inilah fakta politik degil manusia yang tak pernah suka melihat kebenaran tegak. Tak perduli kalaupun itu harus memfitnah seorang ulama sekelas Usman bin Affan atau Ali bin Abu Thalib yang merupakan dua kerabat terdekat Rasul, jika memang dirasa dapat menghalangi ambisi mereka maka pasti akan dilakukan. Jika cara itu dianggap tak mampu menggoyahkan kedudukan mereka dihadapan umat maka jalan premanpun dimainkan. Kedua orang alim yang dijamin masuk syurga ini di eksekusi mati secara brutal.

Itulah realita… demi ambisinya, orang tak segan menyebarkan kabar bohong, fitnah dan merusak citra seseorang dihadapan publik. Tidak perduli sekalipun dia adalah orang yang sholeh dan masyarakat pun paham bahwa hal-hal kotor semacam ini tak mungkin diperbuat oleh mereka. Untungnya waktu itu tak ada isyu skandal mesum yang difitnahkan kepada Usman dan Ali sebagaimana hari ini digelontorkan terhadap Habib Rizieq.

Sebuah kata bijak mengatakan, When you are being judged by someone that has no idea who you are, always remember this: Dogs always bark at strangers and usually there is always some wacko neighbor that wants to try out their new gun on an intruder.

Jalan fitnah tak mempan maka ditempuhlah jalan kekerasan. Usman dan Ali dipersekusi. Darah kedua sahabat terbaik Rasulullah itupun tumpah. Masyarakat diprovokasi bahwa tindakan tersebut merupakan suatu kebenaran yang harus dilakukan dengan alasan-alasan penuh rekayasa politik. Tapi jantannya, mereka tak mengaku diri sebagai orang-orang gila seperti kelakuan para preman jaman now.

Ini sejarah dan kita harus bisa belajar darinya. Jadilah umat yang cerdas, tidak mudah terprovokasi oleh berita-berita yang keliru dan dusta alias hoax khususnya menyangkut pribadi-pribadi sholeh seperti para ulama kita. Ambillah jarak dari paradigma yang terbentuk ditengah publik. Ujilah paradigma tersebut, tabayyunlah, cek dan ricek dengan semua perangkat yang memungkinkan. Bila merasa tak mampu untuk memihak, maka jangan pula terjebak dengan menghakimi ulama dalam posisi yang tersudutkan. Kenapa tidak mengikut cara-cara yang ditempuh oleh Abdullah bin Umar, Saad bin Abi Waqqash dan lainnya yang bersikap silent aka menjauhkan diri dari konflik kedua kubu (dalam peristiwa peperangan Ali versus Mu’awiyah).

Just because you don’t say much doesn’t mean you’re not listening or you don’t care.

Eyes are useless
when the mind is blind

Advertisements
%d bloggers like this: