Tausiah Habib Rizieq : Hakekat Bid’ah menurut berbagai Madzhab

Advertisements

Tausiah Habib Rizieq : Hukum Mengkafirkan sesama Muslim

Seri Khutbah Jum’at : Cerdas Beragama

Seri Khutbah Jum’at : Sholat dan Terorisme Jiwa

A Perspective it self!

Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia amat buruk bagimu. (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

Inilah faktanya kita dalam memandang persoalan hidup. Terkadang kita melihat permasalahan hanya dari sudut pandang tertentu dan menafikan sudut pandang lainnya.

Pattern yang kita bentuk dalam pikiran adalah sesuai apa yang kita lihat meskipun seringnya kita mengabaikan proses validasi atau muhasabah diri atau juga tabayyun.

perspective

Sebagai seorang dosen yang mengajar mata kuliah Metodologi Penelitian, saya selalu menekankan pada mahasiswa saya agar dalam menulis dan berpikir tetap mengacu pada kerangka ilmiah. Begitupun dalam hidup ini secara luas. Ketika kita melihat suatu persoalan, maka ambillah dulu jarak dengan asumsi yang terbentuk, apalagi asumsi publik.

Selidiki dulu kebenarannya secara deduktif maupun induktif atau bahasa agamanya tabayyun, analisalah, bandingkan dengan hal-hal lain sejenis (Studi komparatif) dan baru mengerucut pada kesimpulan.

Ibarat parodi yang sering kita baca, ada sekelompok orang buta memegang gajah lalu masing-masing membuat kesimpulan berdasar pengalaman yang mereka alami dan mengatakan bahwa gajah itu kecil dan panjang sebab dia memegang ekornya, ada yang mengatakan gajah itu bercula sebab dia memegang gadingnya, ada yang mengatakan gajah itu hanyalah daging besar karena dia memegang badannya dan seterusnya dan sebagainya.

Mgs. Armansyah, 04 Romadhon 1439H
Palembang Darussalam.

Politik dalam perspektif sejarah 2 Khalifah

Pada akhir era kekhalifahan Usman Bin Affan, banyak tersiar kabar yang sifatnya memojokkan posisi dan sekaligus memfitnahnya telah melenceng dari amanah semula selaku pimpinan umat.

Provokasi fitnah tersebut mulai dihembuskan melalui isyu bahwa sang Khalifah telah melakukan praktek nepotisme dalam pemerintahannya dengan cara mengangkat sejumlah keluarga beliau sebagai pejabat.

Selanjutnya fitnah ini semakin meluas dan melebar yang berujung pada pembunuhan Khalifah Usman oleh sekelompok orang dengan alasan bahwa Usman telah keluar dari garis ketetapan yang sudah diatur oleh syari’at. Rumah beliau dikepung dan diserbu tanpa diberi kesempatan untuk memberikan pembelaan apapun.

Secara kejam sang Khalifah yang juga berstatus sebagai menantu Rasulullah ini dipenggal. Darahnya sampai hari ini masih membekas di mushaf yang beliau baca pada hari terakhir kehidupannya.

Selanjutnya setelah Ali menjadi Khalifah, beliaupun digoncang dengan isyu politik yang kurang lebih mirip-mirip. Yaitu, Khalifah Ali dianggap melindungi pembunuh Usman dari jeratan hukum. Atas provokasi tersebut maka –secara singkat– pecahlah perang Jamal dan juga perang Shiffin yang keduanya pada hakekatnya berhasil dimenangkan oleh pasukan Khalifah.

Fitnah politik tidak berhenti sampai disitu, sekelompok orang membelot dan menyatakan diri keluar dari pemerintahan yang sah dan mulai melakukan makar atas nama agama. Tujuan akhir dari gerakan tersebut adalah menggulingkan Sayyidina Ali dari tampuk pemerintahan kekhalifahannya sekaligus menyingkirkan Mu’awiyah bin Abu Sofyan yang ketika itu menjadi penguasa di Syam.

Sayyidina Ali gugur sebagai syuhada disuatu subuh ditikam secara pengecut sebagaimana dahulu juga kejadian yang sama dialami oleh Khalifah Umar.

Inilah fakta politik degil manusia yang tak pernah suka melihat kebenaran tegak. Tak perduli kalaupun itu harus memfitnah seorang ulama sekelas Usman bin Affan atau Ali bin Abu Thalib yang merupakan dua kerabat terdekat Rasul, jika memang dirasa dapat menghalangi ambisi mereka maka pasti akan dilakukan. Jika cara itu dianggap tak mampu menggoyahkan kedudukan mereka dihadapan umat maka jalan premanpun dimainkan. Kedua orang alim yang dijamin masuk syurga ini di eksekusi mati secara brutal.

Itulah realita… demi ambisinya, orang tak segan menyebarkan kabar bohong, fitnah dan merusak citra seseorang dihadapan publik. Tidak perduli sekalipun dia adalah orang yang sholeh dan masyarakat pun paham bahwa hal-hal kotor semacam ini tak mungkin diperbuat oleh mereka. Untungnya waktu itu tak ada isyu skandal mesum yang difitnahkan kepada Usman dan Ali sebagaimana hari ini digelontorkan terhadap Habib Rizieq.

Sebuah kata bijak mengatakan, When you are being judged by someone that has no idea who you are, always remember this: Dogs always bark at strangers and usually there is always some wacko neighbor that wants to try out their new gun on an intruder.

Jalan fitnah tak mempan maka ditempuhlah jalan kekerasan. Usman dan Ali dipersekusi. Darah kedua sahabat terbaik Rasulullah itupun tumpah. Masyarakat diprovokasi bahwa tindakan tersebut merupakan suatu kebenaran yang harus dilakukan dengan alasan-alasan penuh rekayasa politik. Tapi jantannya, mereka tak mengaku diri sebagai orang-orang gila seperti kelakuan para preman jaman now.

Ini sejarah dan kita harus bisa belajar darinya. Jadilah umat yang cerdas, tidak mudah terprovokasi oleh berita-berita yang keliru dan dusta alias hoax khususnya menyangkut pribadi-pribadi sholeh seperti para ulama kita. Ambillah jarak dari paradigma yang terbentuk ditengah publik. Ujilah paradigma tersebut, tabayyunlah, cek dan ricek dengan semua perangkat yang memungkinkan. Bila merasa tak mampu untuk memihak, maka jangan pula terjebak dengan menghakimi ulama dalam posisi yang tersudutkan. Kenapa tidak mengikut cara-cara yang ditempuh oleh Abdullah bin Umar, Saad bin Abi Waqqash dan lainnya yang bersikap silent aka menjauhkan diri dari konflik kedua kubu (dalam peristiwa peperangan Ali versus Mu’awiyah).

Just because you don’t say much doesn’t mean you’re not listening or you don’t care.

Eyes are useless
when the mind is blind

Politik dalam perspektif Bubat

Ada cerita yang populer dimasyarakat namun oleh sebagian kalangan sejarawan validasi faktanya justru dipertanyakan. Kisah tersebut mengenai tragedi perang bubat.

Seperti diketahui bersama bahwa ketika Gajah Mada dilantik sebagai patih, dia bersumpah untuk menyatukan berbagai kerajaan dibawah panji-panji Majapahit.

Dalam kidung sundayana ceritanya penuh dengan motif politik kekuasaan dimana calon pengantin raja Majapahit yaitu Puteri Prabu Lingga Buana dari Galuh yang bernama Dyah Pitaloka dijadikan sebagai simbol ketertundukan kerajaan tersebut kepada Majapahit. Hal yang kemudian menyulut penolakan dari pihak kerajaan Galuh yang lalu mengakibatkan pecah perang bubat atau lebih tepatnya pembantaian yang mengakibatkan banjir darah di bubat karena tidak seimbangnya pasukan kerajaan Galuh dengan pasukan Majapahit pimpinan Gajah Mada.

Dalam versi berbeda, sebagian kalangan sejarawan menganggap bahwa motif terjadinya perang bubat adalah kecemburuan politik sejumlah pejabat Majapahit terhadap karir Gajah Mada yang lalu menemukan alasan untuk memfitnahnya melalui gerakan pembantaian orang-orang Galuh dilapangan bubat dengan mengatasnamakan Gajah Mada yang tak bisa move on dari sumpahnya terdahulu untuk membuat seluruh kerajaan dinusantara ada dibawah otoritas Majapahit.

Sejumlah sejarawan lainnya menolak adanya kisah banjir darah di bubat itu berdasar kitab Kakawin Negarakertagama, karya Mpu Prapanca yang sama sekali tidak menyinggung apapun terhadap peristiwa tersebut padahal ia ditulis pada era dimana pembantaian bubat konon terjadi.

Entah versi mana yang betul namun jelas bahwa masalah kronik Bubat adalah sebuah komoditi politik sekelompok orang untuk mempengaruhi orang lain dengan maksud dan tujuan tertentu.

Inilah realitas politik sejak dahulu kala, menghalalkan berbagai cara demi terwujudnya sebuah keinginan. Tak perduli meskipun itu harus mengorbankan banyak orang yang tak berdosa ataupun melakukan penipuan publik dengan menyetir pemberitaan agar seolah-olah hal itulah yang terjadi meskipun sebetulnya hanyalah suatu rekayasa.

%d bloggers like this: