Tasrif di 2 Samuel dan 1 Tawarikh

Seringnya dalam banyak kasus dialog lintas agama, khususnya dalam perdebatan tentang anak yang dikorbankan oleh Nabi Ibrahim, orang-orang Kristiani menyatakan bahwa anak itu tidak lain adalah Ishak bukan Ismail seperti keyakinan yang ada dalam Islam.

Alasannya menurut mereka, didalam kitabnya, yaitu bibel, anak itu ditulis jelas bernama Ishak.

img-20180421-wa0016716018637.jpg

Selanjutnya ia berfirman, ”Ambillah kiranya putramu, putra satu-satunya yang sangat kau kasihi, Ishak, pergilah ke tanah Moria dan di sana persembahkan dia sebagai persembahan bakaran di atas salah satu gunung yang akan kutunjukkan kepadamu.”

Dari sisi kritik teks, ayat dalam kitab kejadian 22:2 ini sebetulnya dapat kita kritisi. Antara lain :

Sarai, istri Abram, tidak melahirkan anak baginya; tetapi dia mempunyai seorang hamba perempuan Mesir yang bernama Hagar. Karena itu Sarai mengatakan kepada Abram, ”Tolonglah! Yehuwa menahan aku untuk melahirkan anak. Lakukanlah hubungan dengan hamba perempuanku. Mungkin aku bisa mendapatkan anak darinya.” Maka Abram mendengarkan perkataan Sarai. Lalu Sarai, istri Abram, membawa Hagar, hamba perempuannya, orang Mesir itu, setelah sepuluh tahun Abram tinggal di tanah Kanaan, lalu memberikan dia kepada Abram, suaminya, sebagai istri. (Sumber: https://www.jw.org/id/publikasi/alkitab/bi12/buku-buku/kejadian/16/)

Jadi menurut ayat ini, Sarai atau Sarah dalam perspektif Islam, tidak dapat melahirkan anak untuk Ibrahim sehingga ia meminta Ibrahim untuk menikahi Hagar, puteri raja Mesir (Lihat tulisan saya : Hagar adalah puteri Fir’aun).

Dari Hajar (Hagar) ini lahirlah putra pertama Ibrahim yang bernama Ismail disaat usia Ibrahim kala itu 86 tahun.

Kemudian Hagar melahirkan bagi Abram seorang anak laki-laki dan Abram menamai anak yang dilahirkan Hagar itu Ismael. Abram berumur delapan puluh enam tahun pada waktu Hagar melahirkan Ismael bagi Abram. (Sumber : https://www.jw.org/id/publikasi/alkitab/bi12/buku-buku/kejadian/16/#v1016015)

Kisah ini bersesuaian dengan al-Qur’an pada surah 37 ayat 101, dan Kitab Kejadian pada pasal 21 ayat 5 menceritakan bahwa Ibrahim juga akhirnya mendapatkan keturunan dari Sarah, yaitu Ishak, dimana pada kala itu usia Ibrahim sudah mencapai 100 tahun.

Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya. (Kejadian 21:5)

Jadi beda antara usia Ismail dan Ishak adalah 14 tahun. Suatu perbedaan usia yang cukup jauh. Artinya, selama kurang lebih 12 sampai 13 tahun Ismail merupakan satu-satunya anak Ibrahim alias anak tunggal.

Dalam usia-usia itu, tepat bila kemudian dinyatakan oleh al-Qur’an :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعۡىَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim. (Surah Ash Shaffat (37) ayat 102)

http://www.alquran-indonesia.com/index.php?surah=37&a=102

Kenapa? Karena dalam pelaksanaan pengorbanan anaknya ini, Nabi Ibrahim menurut al-Qur’an mengajak puteranya itu bertukar pikiran perihal wahyu yang datang pada beliau untuk menyembelih puteranya itu.

 قَالَ يٰبُنَىَّ اِنِّىۡۤ اَرٰى فِى الۡمَنَامِ اَنِّىۡۤ اَذۡبَحُكَفَانْظُرۡ مَاذَا تَرٰى‌ؕ

قَالَ يٰۤاَبَتِ افۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ‌

سَتَجِدُنِىۡۤ اِنۡ شَآءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيۡنَ

Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

(Surah Ash Shaffat (37) ayat 102)

http://www.alquran-indonesia.com/index.php?surah=37&a=102

Tidak mungkin seorang anak balita atau dibawah umur dapat diajak komunikasi tukar pikiran. Pastilah logikanya anak tersebut telah cukup mampu untuk berpikir. Dan usia itu hanya memungkinkan bila ia berada dalam rentang 8, 10 hingga 14 tahunan. Persis usia Ismail yang digambarkan oleh bibel diatas sebelum kelahiran Ishak.

Olehnya sekali lagi, logis bila disana Ismaillah yang harusnya disebut sebagai anak tunggal, bukan Ishak.

Akan halnya keberadaan teks “Ishak” pada kitab kejadian 22 ayat 2, sangat boleh jadi merupakan tasrif atau suntingan Bani Israel yang tidak menghendaki nama Ismail muncul dalam kitab mereka sebab mereka sangat benci terhadap Hagar dan puteranya tersebut. Jika nama Ismail yang muncul maka jelas akan membuat nama tersebut mulia, sementara mereka mengagungkan garis keturunan Daud alias David yang merupakan generasi kesekian dari Ishak.

Apa ada buktinya bila ayat itu telah di tasrif?

Mari kita lihat kasus yang mirip dalam kitab 2 Samuel 17 ayat 25

img-20180415-wa0018558533560.jpg

Didalam kitab 2 Samuel 17 ayat 25 ditulis :

Amasa adalah orang yang ditunjuk Absalom sebagai pengganti Yoab untuk mengepalai tentara; Amasa adalah putra seorang pria yang bernama Itra, orang Israel, yang melakukan hubungan dengan Abigail putri Nahas, saudara perempuan Zeruya, ibu Yoab.

Lihat versi online di:

https://www.jw.org/id/publikasi/alkitab/bi12/buku-buku/2-samuel/17/#v10017025

Perhatikan yang saya tebalkan dan beri warna merah diatas. Yaitu pada teks, Amasa putera dari Itra, seorang Israel.

Lalu mari kita bandingkan dengan apa yang terdapat dalam kitab 1 Tawarikh 2 ayat 17:

img-20180415-wa00172137509312.jpg

Mengenai Abigail, dia melahirkan Amasa; dan bapak Amasa ialah Yeter, keturunan Ismael.

Lihat versi online di:

https://www.jw.org/id/publikasi/alkitab/bi12/buku-buku/1-tawarikh/2/#v13002017

Pada kitab 1 Tawarikh 2 ayat 17 diatas, Amasa putera dari Itra (Yeter) orang IsmailManakah lalu yang benar?

Apakah Itra merupakan orang Israel atau orang Ismail?

Bagaimana mungkin satu orang yang sama ditulis secara berbeda garis keturunannya? Setelah melihat fakta ini, lalu masihkah kita beranggapan bahwa kitab kejadian pasal 22 ayat 2 yang menulis anak tunggal Ibrahim sebagai Ishak adalah sebuah kebenaran?

 

 

Advertisements
%d bloggers like this: