Mengenal enkripsi (panduan untuk mca)

Didalam dunia pemrograman, ada istilah enkripsi yang secara bebas dapat diterjemahkan sebagai metode pengacakan. Apa yang diacak? Jelas teks, entah berupa kata atau kalimat. Baik dia ditulis dengan format alphabet maupun alphanumeric (gabungan alphabet dengan angka dan symbols).

Bila anda menulis “Tiada Tuhan Kecuali Allah” nah dengan metode enkripsi, kata-kata tersebut dapat saja berubah menjadi ” !ibmmB!jmbvdfL!obivU!bebjU ”

Dapatkah anda membaca teks ” !ibmmB!jmbvdfL!obivU!bebjU ” ? tentu tidak… sekeras apapun anda berupaya memutar balikkan teks itu dengan teori probabilitas tetap tak akan dapat memecahkan kodenya.

Nah untuk bisa membacanya maka anda perlu melakukan proses dekripsi atau restorisasi pengacakan dengan algorithma yang sama juga sehingga teks ” !ibmmB!jmbvdfL!obivU!bebjU ” akan dikembalikan kestruktur asalnya menjadi “Tiada Tuhan Kecuali Allah”

Formulanya harus sama.

Inilah yang sebenarnya terjadi pada proses percakapan di WhatsApp dan sebagian besar aplikasi chat lainnya. Hanya saja tingkatan enkripsi ini luas dan berjenjang. Apa yang tadi saya contohkan hanya bentuk sederhananya saja.

Secara klasik cara-cara begini digunakan pada sandi morse dan sandi pramuka. Hayo, yang SD-nya dulu ikut pramuka pasti ingat khan?

Metode enkripsi ini tentu akan efektif bila ditulis sebagai posting di media sosial. Tak sembarang orang dapat membacanya. Bahkan tidak pula mesin yang bernilai 2T. Tulisan yang sudah di enkripsi menjadi tak ubahnya seperti coretan yang tak berguna, ketikan asal dari anak kecil yang tak sengaja memainkan gadget ayahnya atau rapalan mantera-mantera dalam komik-komik.

Cuma ya itu tadi, si penerima informasi harus punya formula dekripsinya agar teks yang acak tadi dapat dikembalikan menjadi informasi. Repot. Apalagi bila sifatnya publik tertentu. Setiap orang harus copy paste ke mesin atau perangkat lunak dekripsinya masing-masing untuk dapat membaca informasi yang diteruskan oleh membernya.

Contoh program enkripsi dan dekripsi

Olehnya anak-anak IT sering bergurau dan membuat formula asal sehingga kesannya teks telah di enkripsi guna menyulitkan orang membacanya (dan dalam hal ini dianggap mampu mengelabui mesin 2T maupun fitur algorithma media sosial). Misalnya kata-kata FPI dirubah jadi eFP3i, Islam menjadi i5L4m.

Sebagai seorang programmer, saya tidak melihat ini efektif. No at all. Mereka bisa mempelajarinya dan kemudian memasukkan pola ini kedalam database filter yang mereka punya sehingga next time kata-kata seperti ini muncul akan langsung dapat dikenali. Piece of cake. Too easy. Bukan solusi. Cuma bikin mules. Xoxoxo

Sudah InsyaAllah ntar kita lanjut lagi ya… pelan-pelan. Take a breath.

Armansyah
Bumi Palembang Darussalam, 08 Jan 2018

Advertisements

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: