Catatan Aksi Damai Bela Islam 04 Nov 2016 Bag. 3

Catatan Aksi Damai Bela Islam 04 Nov 2016
Oleh. Armansyah

Bagian 3
Dari perbatasan istana-peserta aksi damai hingga didepan mobil komando ulama

Usai sholat Ashar berjemaah, saya dan adik ipar ( Haris Shahab ) kembali mencoba menerobos keposisi lebih depan, persis diperbatasan paling ujung antara laskar pengaman FPI dan para habaib dengan kawat berduri kepolisian di Ring 1.

Kami berdua lama standby ditempat ini bergabung dengan kawan-kawan habaib. Sungguh saya menyaksikan bila dibarisan paling depan ini justru para habaiblah yang berdiri berjejer menjadi pagar pembatas hidup antara demonstran dan pihak kepolisian dihadapan istana negara.

Dari tempat kami berdiri dapat terlihat jelas para tokoh nasional dan ulama menyampaikan orasinya secara bergantian dari atas mobil komando.

Diantara mereka yang sempat saya ingat saja adalah : KH. Syukron Makmun, Amien Rais, Ahmad Dani, Rhoma Irama, Rahmawati Soekarno Putri, Ratna Sarumpaet, Haji Lulung, Fadli Dzon, Fahri Hamzah, Ustadz Ahmad Al-Habsy, Ketua HMI, Ketua PPI (Pemuda Pelajar Islam), Ustadz Solmed, Ustadz Dzaki Mirza, Ustadz Didin Hafidhuddin, ada juga para ulama dan Habaib dari Aceh, Padang, Jawa Timur, Palembang dan lain-lainnya lagi yang saya sendiri tidak hafal persis nama-namanya (jika ditulis khawatir nanti malah keliru nulisnya).

Dari arah sebelah kiri, tepatnya bagian mahasiswa HMI beberapa kali terdengar keributan. Saya tidak dapat mengetahui secara persis apa dan bagaimana keadaan sesungguhnya disana karena posisi kami masih ada dibagian tengah depan perbatasan antara ulama, peserta aksi dan polisi.

Habieb Rizieq terpaksa berulangkali pula berupaya menenangkan dan mengingatkan mereka akan adanya provokator dalam barisan.

“Hati-hati… hati-hati… hati-hati provokasi….” demikian ucap Habib Rizieq.

Tidak itu saja, dari pihak kepolisian melalui mobil mereka yang standby didepan istana negara juga beberapa kali pula terlihat seakan melakukan provokasi dengan menyuarakan ini dan itu menggunakan speakernya sehingga Habib Rizieq juga meminta dengan hormat agar pihak kepolisian tidak memancing massa yang justru sedang duduk tenang mendengarkan orasi dan tausiyah dari tokoh nasional serta ulama.

Selama itu pula para ulama kita yang dipimpin oleh Ustadz Bachtiar Nasir melakukan mediasi dengan pihak istana negara untuk dapat bertemu dengan Presiden Jokowi. Namun sampai Ustadz Bachtiar Nasir dan sejumlah ulama lainnya mondar-mandir 2x dari forum ulama ditengah peserta aksi damai menuju istana negara ternyata jawaban dari pihak istana menyatakan kalau Presiden tidak ada ditempat dan tidak dapat menemui para peserta aksi damai di istana negara. Presiden katanya telah memberi delegasi kepada Wiranto selaku Menkopolhukam untuk menerima apa yang hendak disampaikan oleh para ulama.

Secara transparan Ustadz Bachtiar Nasir menyampaikan semua hasil mediasi beliau kepada umat peserta aksi damai terkait jawaban pihak istana itu.

Kita sontak menjawab bahwa presiden sebagai RI-1 tidak menghargai kami sebagai rakyatnya yang telah jauh-jauh datang dari berbagai pelosok Indonesia dari Sabang sampai Merauke atas biaya sendiri ingin bertemu presiden untuk menyampaikan aspirasi ketersinggungan kami terhadap penistaan agama yang telah dilakukan oleh ahok.

Berita akan digelarnya aksi damai ulama 04 November ini telah digaungkan sejak lama sehingga mustahil bila sang presiden tidak tahu sama sekali sehingga mengagendakan pekerjaan lain ketimbang bertemu rakyat dan ulamanya. Kami ingin berjumpa langsung dengan RI-1 bukan dengan ajudannya.

Akhirnya forum musyawarah ulama dan umat memutuskan untuk menerima tawaran negoisasi pihak istana agar bertemu dengan RI-2 saja, yaitu Bapak Yusuf Kalla.

Kepada Yusuf kalla, ustadz Bachtiar Nasir dan kawan-kawan meminta pemerintah agar menghukum tegas ahok yang telah menistakan agama ini. Jangan ada lagi permainan serta konspirasi sehingga berkesan ahok kebal hukum. Ahok jelas bersalah. Tangkap dan adili seadil-adilnya.

Jawaban istana via RI-2 mengecewakan, dia mengatakan bahwa kasus ahok akan diselesaikan dalam waktu 2 minggu.

Jelang Maghrib kami mulai bergerak mendekati mobil komando yang menjadi panggung orasi para ulama dan tokoh nasional itu. Saya dan adik ipar bergerak bersama rombongan para habaib tua yang mulai terlihat lelah dan dibantu oleh laskar mujahidin sebagai pembuka jalan, Alhamdulillah kami berhasil berada persis didepan mobil komando tersebut. Kamipun semua duduk dengan santun disana sembari terus mendengar orasi dari para ulama bersama para jemaah aksi damai 04 November lainnya.

Sebelum itu, Panglima TNI dan Kapolri sempat terlihat berjalan ketengah umat untuk menyambangi para ulama. Mereka bertemu dan berbincang-bincang sebentar dalam kondisi yang sangat kondusif.

Sempat pula terdengar Habib Rizieq menyatakan komitmen dari Panglima TNI bahwa TNI ada bersama rakyat. Kami semua mengucapkan Alhamdulillah. Bergetar rasanya jiwa ini mendapat kabar demikian. Seolah mendapatkan angin syurga bahwa perjuangan ini tidak akan sia-sia. TNI memang milik rakyat dan selamanya akan menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI. Bukan menjadi prajurit aseng, asong atau asing.

TNI tidak dapat dibeli dengan uang atau kekuasaan. TNI adalah kekuatan yang sudah seharusnya mengayomi rakyat negeri ini dari semua bentuk penistaan maupun penyerangan.

Tak lama setelah Ustadz Dzaki Mirza menyampaikan orasinya, Adzan Maghrib berbunyi dan kami semua diam mendengarkannya dengan khidmat dalam keadaan duduk.

Setelah adzan Maghrib selesai berkumandang, Habib Rizieq berterimakasih pada pihak kepolisian karena telah memberikan waktu lebih dari pukul 18.00 bagi peserta aksi damai ini untuk tetap berada di tempatnya.

Habib Rizieq mengumumkan bahwa Sholat Maghrib akan di Jamak Takhir. Artinya mengumpulkan dua shalat fardhu dengan cara mengundurkan shalat fardhu yang sudah masuk waktunya pada shalat fardhu di waktu berikutnya. Jadi dalam hal ini kami semua rencananya akan menjamak takhir shalat Maghrib dan Isya, maka dilakukan pada waktu Isya.

Kami kemudian hening mendengarkan pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an yang dikumandangkan oleh Ustadz Ali Jabir secara langsung. (Audionya sedang saya proses edit untuk penjernihan suara –disini memory card saya sudah mulai full akibat banyaknya foto dan video yang saya ambil selama aksi damai sehingga pada sessi pembacaan ayat suci al-Qur’an oleh Ustadz Ali Jabir dan seterusnya hanya saya rekam audionya saja), insyaAllah akan saya shared ke publik begitu audionya selesai di editing.

Lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an oleh Ustadz Ali Jabir yang syahdu dan penuh tartil membuat kami begitu hanyut dan airmatapun tak kuasa untuk dibendung jatuh. Ya Allah….

Suasana langit telah berganti gelap…. namun kami semua tetap tenang duduk mendengarkannya sampai selesai.

Begitu ustadz Ali Jabir usai, giliran Opick mengajak kami bersyukur dan bershalawat diteruskan oleh dzikir bersama Ustadz Arifin Ilham yang menjadi puncak muhasabah semua peserta aksi damai 04 November malam itu. Hampir semua mata dari kami basah oleh air mata. Ustadz Arifin ilham selain berdzikir dan bermuhasabah juga berdoa untuk keselamatan bangsa dan negara serta kesatuan umat Islam. (Ini juga audionya masih dalam proses, insyaAllah akan disebar bersamaan dengan pengajian ustadz Ali Jabir).

Bersambung.

Sumber asli : https://www.facebook.com/armansyah/posts/10154592799983444

dpnkomando4

depanmblkomando

dekatmobilkomando

darijauh2

drjauh

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: