Catatan Aksi Damai Bela Islam 04 Nov 2016 Bag. 2

Catatan Aksi Damai Bela Islam 04 Nov 2016
Oleh Armansyah

Bagian 2
Dari Longmarch hingga Provokasi pengajian

Usai mendirikan sholat Jum’at berjemaah, saya dan saudara ipar bersiap untuk ikut para jemaah melakukan longmarch menuju Masjid Istiqlal. Tanpa dinyana, ditempat itu bertemu dengan keluarga lainnya yang merupakan salah seorang pengusaha besar di pasar Cipulir. Rupanya beliau dan sejumlah anak buahnya tergerak juga untuk ikut aksi damai para ulama melawan penistaan agama yang dilakukan oleh ahok sehingga rela sejak pagi menutup kios-kiosnya. Subhanallah.

Beberapa meter melangkah, sepanjang jalan banyak kaum muslimin yang menawarkan nasi bungkus gratis untuk makan siang dari FPI dan sumbangan salah satu rumah makan Padang yang tidak jauh dari Masjid Jami’ Ar-Rohah tadi.

Saya dan adik ipar saling pandang, jujur waktu itu perut belum lapar karena di pesawat Garuda tadi kita sudah dikasih snack dan minuman. Lagian… kita ke Jakarta bukan buat cari makan gratis kok. Cuma untuk sebuah nasi bungkus seharga 15 ribu hingga 20 ribu insyaAllah sanggup beli.

Melihat kita lewat saja, mereka bilang…

“Halal… Bang, halal… bukan nasi dari ahok…ini nasi Padang…” demikian kira-kira beberapa ucapan sahabat-sahabat kita yang menawarkan nasi-nasi bungkus untuk keperluan makan siang itu.

Halal dan bukan nasi dari ahok. Ya.. ini memang menegaskan bahwa apa yang kami terima dan akan menjadi bagian darah daging itu sesuatu yang memang secara syariah halal, bukan dari hasil merampas, mencuri, menjarah atau didapatkan dari cara-cara jahat lainnya. Begitupun lauk pauknya. Nasi padang… tentu isinya ya ciri khas Minanglah. Kenapa harus bukan dari ahok? karena haram hukumnya memakan makanan pemberian seorang penista agama.

Mereka juga mengingatkan agar sebelum melakukan aksi damai ini, sebaiknya perut juga di isi agar fisik kuat dan tidak roboh. Masuk akal. Akhirnya saya dan saudara mengambil juga nasi bungkus yang dibagikan itu. Kami makan diemperan daerah Setia Budi bersama jemaah lainnya.

Disekeliling kami banyak relawan yang terdiri dari ibu-ibu dan kaum akhwat lainnya yang siap membantu membersihkan sampah yang berserakan. Aksi Damai para ulama kali ini sudah dicanangkan untuk tidak membuat kotor dalam bentuk apapun sehingga tim kebersihan dan para relawanpun sukarela turun membantu memunguti sampah-sampah kecil maupun besar yang berserakan selama aksi damai berlangsung. MasyaAllah.

Longmarch berhenti di bundaran patung kuda. Jemaah sudah terlalu banyak memadati jalanan sehingga tidak memungkinkan lagi untuk menuju Istiqlal.

Demi Allah… sungguh bergetar hati ini melihat lautan manusia memenuhi ruas-ruas jalan seraya bertakbir. Sebuah suasana yang mungkin cuma bisa ditandingi oleh prosesi haji di Masjidil Harom.

Sebagai seorang lulusan S2 yang biasa berpikir secara rasional dan kritis… hari itu, 04 November 2016, logika saya mentok-tok melihat semuanya. Siapa orang yang sanggup membayar ratusan ribu hingga jutaan manusia dalam satu waktu bersamaan sehingga mereka rela berdatangan ke Ibu Kota Jakarta dari berbagai daerah diseluruh Indonesia meninggalkan keluarga dan pekerjaan mereka?

Sekali lagi… kerumunan lautan manusia ini cuma bisa ditandingi oleh jemaah haji yang berthowaf sekeliling Ka’bah maupun melakukan wukuf di padang Arofah. Satu-satunya yang mampu menggerakkan hati-hati manusia itu pasti cuma Allah.

Akan menjadi orang bodoh bila kemudian percaya dengan pemberitaan yang menyebutkan aksi damai para ulama ini ditunggangi oleh politikus tertentu. Bodoh sebodoh-bodohnya. Pakai you punya otak. Buka mata selebar-lebarnya. Buka kedua bijimatamu dan buka mata hatimu.

Ini tidak terkait dengan kekafiran si ahok. Tidak juga terkait dengan etnis kecinaannya. Tidak sama sekali. Kita tidak benci ahok karena dia beretnis cina, tidak pula karena ia beragama kristen. Tapi aksi ini terkait dengan penistaan si mulut sampah itu terhadap kitab suci al-Qur’an yang di imani oleh segenap umat Islam seluruh dunia.

Hal inilah yang menjadi energi penarik seluruh umat Islam untuk ikhlas berkumpul mengorbankan waktu, tenaga, harta serta jiwa mereka dibawah komando para ulama dalam aksi damai 04 November.

Di bundaran patung kuda, satu persatu tokoh dan ulama tampil menyampaikan orasi dan pandangannya. Ada Eggy Sudjana, Amien Rais, Syukron Makmun, Ust. Ali Jabir, Ust. Solmed dan lain-lain. Ada pula beberapa rombongan artis wanita seperti Camelia Malik dan sebagainya hadir meski tidak ikut menyampaikan orasinya. Kami semua (peserta aksi damai) duduk secara tertib.

Helikopter besar entah milik kepolisian atau bukan Wallahua’lam namun melintas berkali-kali diatas kami dengan jarak yang cukup dekat seolah hendak memprovokasi maupun membuat shock para peserta aksi damai bela Qur’an. Sebaliknya para peserta sama sekali tidak terpengaruh dengan sikap provokasi dari helikopter besar itu.

Sekitar pukul 14.30-an kurang lebih, massa mulai bergerak melakukan longmarch menuju Istana. Sebenarnya awalnya ingin menunggu kelompok para ulama dari Istiqlal, namun ternyata karena padat dan tumpah ruahnya umat Islam kejalan sehingga pergerakan kelompok Ustadz Bachtiar Nasir dan Habib Rizieq dari Istiqlal menjadi terhalang sehingga terpaksa umat yang ada di bundaran patung kuda harus mulai bergerak. Alhamdulillah ustadz Ali Jabir juga sudah ikut berada diposisi depan.

Saya dan adik ipar perlahan mulai berjalan mengikuti arus menuju Istana.

Sepanjang jalan kami selalu di ingatkan untuk tidak menginjak rumput maupun taman yang ada agar tidak menjadi fitnah seperti aksi sebelumnya. Beberapa orang terlihat seakan sengaja menjadi pagar pengaman untuk mencegah peserta aksi masuk kedalam taman-taman dan menginjaknya. Kita sih tertib. Taman clear gak ada yang di injak maupun dirusak.

Singkat cerita, meski susah payah kami berhasil menyelinap diantara kerumunan massa yang penuh sesak itu sehingga berada didepan sekali. Beberapa kali saya harus terjepit dan sedikit kesulitan karena pengamanan dari Laskar Mujahidin yang memberikan pengawalan ekstra ketat terhadap para tokoh dan ulama yang sudah ada dibagian depan.

Berbarengan dengan itu, dibelakang kami menyusul ustadz Solmed yang juga berusaha melewati kerumunan massa untuk menuju kedepan dibawah pengawalan Laskar Mujahidin lainnya.

Ustadz Ali Jabir mulai memberikan orasinya berupa tausiyah dan semangat kepada para peserta aksi damai didepan istana.

Dari sisi sebelah kiri kami, sepertinya berasal dari salah satu gedung tinggi, provokasi dimulai oleh pihak-pihak tertentu dengan diperdengarkannya suara lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an (saya ingat persis waktu itu surah ar-Rahman) yang diperdengarkan dengan kencang sekali sehingga sangat mengganggu konsentrasi umat dalam mendengarkan tausiyah dari Ustadz Ali Jabir.

Sejumlah peserta aksi damai mulai terpancing untuk marah karena terganggu oleh kerasnya suara pengajian yang sengaja diperdengarkan itu. Beberapa orang dari keamanan FPI terlihat mencoba mencari asal suara namun setelah menyadari hal itu bagian dari provokasi akhirnya mereka mundur dan tidak ingin terjebak dalam permainan kotor pihak lawan.

Ustadz Ali Jabir tetap memberikan tausiyahnya hingga waktu adzan Ashar tiba. Kami mulai menyusun shof dan sholat Ashar diatas jalanan beraspal didepan istana.

Bersambung.

Sumber asli : https://www.facebook.com/armansyah/posts/10154592368778444

kami4

kami3

kami2

kami

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: