Teuku Wisnu, Saya, Wahabi, Muhammadiyah dan NU

syMuhammadiyah

Munculnya kontroversi atas perkataan Teuku Wisnu baru-baru ini menarik untuk dibahas.

Beberapa malam lalu dibulan September 2015, salah seorang saudara datang kerumah dan menanyakan perihal ibunda yang sekarang ada ditanah suci guna menunaikan ibadah haji. Pada salah satu dialog, beliau bertanya tentang akankah dibuat acara pengajian khusus seperti misalnya yaasiinan setiap malam jum’at untuk ibunda sebagaimana menjadi tradisi dimasyarakat. Saya bilang bahwa saya tidak akan membuat acara seperti itu, kita berdo’a sesuai syari’atnya sajalah. Artinya mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasul saja. Dan Alhamdulillah beliau memaklumi keyakinan saya itu karena memang sebenarnya sejak awal beliau tahu bahwa saya tidak mengamalkan yaasinan atau berkirim al-fatihah seperti itu, beliau hanya ingin memastikan ulang saja.

Juga, dulu, saya ingat pernah mengimami jema’ah sholat Maghrib. Seperti biasa, seusai sholat saya biasanya langsung berdzikir secara sirr (perlahan) kemudian untuk menghormati makmum dari berbagai kalangannya maka saya lanjutkan dengan berdo’a namun tanpa menggunakan lafas ” ila hadroti “. Begitu do’a selesai dan saya hendak menyalami makmum, tiba-tiba salah satu jemaah yang persis ada dibelakang saya langsung menyambung “..ila hadroti nabi….. al-Faatihah….” terus disusul do’a tambahan. Saya kaget juga tetapi cepat memaklumi bahwa kemungkinan kebiasaan ditempat tersebut adalah seperti itu, maka ya sudahlah, saya diamkan saja untuk menghargai mereka tanpa saya sendiri ikut mengamalkannya.

Sekali lagi, poinnya adalah keragaman itu indah jika kita masing-masing dapat saling menyikapinya secara arif. Adapun pelabelan bid’ah dan sebagainya maka dalam kajian-kajian khusus akan menjadi suatu konsekwensi tersendiri, adalah hal terpenting, tetap tahu batasan tempat dan waktunya kapan kita bisa untuk berbicara hal semacam itu demi menghindari perselisihan dikalangan orang-orang yang tidak sepaham dengan kita.

Ini juga mungkin menjadi salah satu PR (pekerjaan rumah) bagi kawan-kawan yang ada di Muhammadiyah termasuk da’i-da’inya untuk lebih kuat mensosialisasikan amaliyahnya ketengah masyarakat. Kenapa saya bilang Muhammadiyah? Jawabnya karena memang Muhammadiyah setahu saya tidak mengamalkan yaasinan, tahlil atau pengiriman al-fatihah semacam itu, persis seperti yang saya maupun sejumlah kelompok lain diluar Muhammadiyah meyakininya.

Kedua, Muhammadiyah adalah ormas keagamaan resmi yang memiliki banyak badan amal usaha pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, SMA hingga Universitas diserluruh penjuru negeri. Harusnya melalui jalur pendidikannya itu, Muhammadiyah sudah lebih dari cukup untuk mensosialisasikan amalannya ketengah publik.

Hal ini menurut saya penting untuk dilakukan mengingat masyarakat kita cenderung hanya berpegang pada satu pemahaman saja yang populer. Sehingga ketika ada pemahaman lain yang berseberangan dengan apa yang telah dikenal dan mentradisi maka pemahaman itu akan diserang, dianggap berlawanan dengan ajaran para kyai. Padahal masalah yang diperselisihkan adalah masalah klasik yang bersifat ikhtilafiyah dikalangan para ulama. Sehingga tidak arif jika kemudian kita hanya berpegang pada satu pemahaman saja lalu menganggap apa yang ada diluarnya sebagai kebatilan.

Lagi bahwa saya sampaikan bila saya bukan dari kelompok Salafiyah. Tak pernah ada orang salafi yang menggunakan hisab dalam menentukan Ramadhan serta hari Iednya, tak ada pula orang salafi yang menyenangi alunan musik instrumental ataupun musik-musik religius seperti saya. Dan pastinya, tak mungkin ada orang salafi yang menghukumi anjing sebagai hewan yang boleh untuk dipelihara sekalipun dalilnya ada merujuk pula diantara pendapat para ulama salaf itu sendiri.

Tapi saya juga tidak melihat ada alasan bagi kita semua untuk menghakimi total pemahaman yang diamalkan oleh saudara-saudara kita dari salafiyah itu. Mungkin benar ada sejumlah titik persamaan pemahaman antara saya dan mereka, misalnya saya tidak yasinan, saya tidak tahlilan, saya tidak sedekah ruwahan, saya tidak pernah mengamalkan tradisi 40 harian, 100 harian dan seterusnya. Saya juga membenarkan pemakaian hijab yang panjang dan lebar meskipun saya berbeda pemahaman terkait hukum isbal bagi pria.

Sekali lagi toh, kenapa kita tidak berjalan dan beramal sesuai dengan apa yang kita yakini saja tanpa harus ada saling memaksakan pendapatnya? Jika –katakanlah– si A tidak datang diundang buat tahlilan, ya kenapa tidak dimaklumi dan dicari-cari saja prasangka positifnya, kenapa harus dimusuhi atau disesatkan? Begitupula bila –misalnya– si B mengikuti kendurian dan makan-makan dirumah ahli mayit, jika kita tidak sepaham maka tak usah datang namun tetap hormati sipengundangnya. Begitu seterusnya.

Jika kita sekarang ini “dapat mentoleransi” orang kafir memimpin umat Islam seperti kasus gubernur jakarta, atau dapat mentoleransi penggunaan pakaian yang mengumbar aurat perempuan kemana-mana, bahkan kita dapat juga mentolerir terjadinya pelacuran, homoseksual dan lesbian termasuk bencong-bencong bertebaran ditengah masyarakat…. lalu kenapa kita tidak dapat menghormati, menghargai dan mentoleransi orang-orang yang justru “ingin merasa” lebih dekat pada Tuhannya dengan cara-cara yang mungkin oleh sebagian kita menganggap caranya cukup ekstrim?

Saya enggan sebenarnya menulis ini tetapi terkadang memang harus tetap diangkat juga sebagai bentuk brainstorming bersama. Sebagai makhluk berakal dan berasa, mestinya kita cerdas menyikapi berbagai perbedaan diantara kita.

Saya misalnya tak pernah mau untuk mengidolakan tokoh manapun dalam sejarah bangsa ini, entah apakah dia mau Soekarno, Soeharto, Habibie dan seterusnya…apalagi bila sampai berlebih-lebihan….. lalu apa ini salah? saya tak ambil pusing masalah “rasa” nasionalisme semu sebagaimana sering dijargonkan oleh pihak-pihak yang senantiasa mencitrakan dirinya pengusung nasionalisme itu, karena bagi saya, nasionalisme itu tindakan nyata diri kita, bukan untuk dibatasi hanya dari sudut pengidolaan ketokohan tertentu. Cukuplah buat saya tokoh Muhammad Rasulullah, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Khadijjah, Hasan-Husain, Fatimah dan seterusnya dari kalangan para Rasul maupun sahabat mereka sebagai figur idola. Buat saya mereka sudah lebih dari cukup sebab mereka mewakili semua perilaku tokoh-tokoh bangsa yang sering dijargonkan itu bahkan melebihi mereka dari sudut akidah dan ketundukannya pada agama.

Tapi kenapa justru sikap membenci dan antipati sejumlah golongan umat Islam dinegeri ini pada sekelompok golongan Islam lain diluarnya begitu bersangatan dan diumbar-umbar terus melalui bermacam posting, tulisan, tweet hingga seringai? Tidakkah kita bisa hidup berdampingan dan saling menghargai? si A tidak tahlilan ya monggo, makanya hargai bila dia tidak datang misalnya bila diundang, si B tahlilan ya jalan sajalah karena memang itulah pemahaman dia, kita tak suka ya tidak usah datang, cukup takziah biasa saja, bersilaturrahim 3 hari lalu pulang tanpa mengikuti prosesi tradisi lainnya yang ada.

Saya rasa negeri ini akan hemat bandwidth kebencian sesama Islam bila kita dapat saling tepo seliro demikian. Bagaimanapun toh memang begitulah hidup ini, pasti selalu ada perbedaan, jadi jangan bermimpi untuk menyatukan pandangan disetiap gerak nafas, pikiran dan amalan.

Dari kasus Teuku Wisnu, mudah-mudahan akan menjadi pintu bagi banyak orang untuk mau mempelajari kaidah agama ini secara lebih intens dan menyeluruh.

Salam.
Armansyah, Palembang.

Advertisements

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: