Bergurulah Pada Allah

Boleh jadi kita bertahun-tahun belajar secara seksama dibawah bimbingan guru-guru hebat dipondok pesantren, ma’had atau universitas yang terkenal dan terbaik. Boleh jadi pula, beratus-ratus buku sudah kita baca dan kita pelajari mulai dari yang klasik hingga modern. Bahkan sangat boleh jadi pula waktu-waktu kita didedikasikan untuk menghadiri berbagai forum kajian ilmu, seminar, ta’lim dan sejenisnya. Hal-hal tadi disadari atau tidak, pastinya akan memberikan efek bagi cara pandang kita dalam memahami kehidupan terlebih yang berkaitan dengan kaidah agama.

Bisa saja, tempat-tempat tadi, buku-buku serta forum yang telah kita lalui itu mendidik kita menjadi pribadi yang ekstrim, liberal atau bahkan arif. Tergantung lagi kepada jenis dan cara ilmu itu masuk serta diolah dalam kepala kita masing-masing. Semuanya bersifat fluktuatif dan relatif.

Akan tetapi mencukupkan diri kepada apa yang sudah ada saja serta tidak melanjutkan lagi pembelajaran pada dekade selanjutnya dan masuk pada tahapan level yang lebih tinggi justru akan menjadikan kita pribadi yang arogan dan kerdil. Kita merasa sudah berpijak diatas langit tertinggi padahal diatas langit selalu ada langit lain yang lebih tinggi karena alam semesta ini bersifat luas dan mengembang dengan puluhan sistem galaksi serta ribuan bintang-bintangnya yang tersebar.

Kedewasaan umur seharusnya mengajarkan kita melihat kedalaman batin dan intelektual diri. Mengarahkan kita untuk mengembalikan seluruh hakekat keilmuan, kearifan serta cara pandang kita kepada Allah ta’ala. Melepaskan ketergantungan diri pada makhluk-Nya lalu berserah diri kepada-Nya, membiarkan Allah untuk langsung menyentuh kita dengan ilmu-Nya, tunduk serta patuh total dalam kehambaan yang nisbi dihadapan al-Kholiq guna menaikkan maqom ketaqwaan disisi-Nya.

Menjadikan Allah selaku guru dan Maha Guru yang akan mengajari kita melalui qolam-Nya, melalui hidayah-Nya sehingga kita dapat melihat lepas mana ajaran dan amaliyah yang selama ini kita dapatkan dari para guru kita, dari kitab-kitab bacaan kita, dari forum dan majelis keilmuan yang kita hadiri betul-betul benar menurut-Nya bukan hanya merasa betul menurut diri kita.

Disinilah tahapan paling sulit dalam berguru kepada Allah. Seringnya kita merasa bahwa para guru kita selama ini tidak mungkin salah dalam mendidik kita, pesantren, ma’had atau juga universitas tempat kita menimba ilmu pengetahuan menjadi sakral untuk dicanggah bahkan meskipun ia berlambangkan berhala tertentu kita justru tetap kukuh membelanya. Kita mencukupkan ilmu kita pada ajaran dan didikan makhluk-Nya serta berkilah bahwa merekalah wasilah kita untuk sampai kepada-Nya. Padahal setiap makhluk pasti punya keterbatasan, pasti punya kekurangan dan pasti punya kekhilafan.

Kita tidak asing dengan kalam-Nya yang berbunyi wa’asa an takrohu shay-‘an wahuwa khoyrullakum wa’asa ‘an tuhibbu shay-‘an wa-huwa sharrullakum. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.

Sekarang mari implementasikan lebih jauh ayat tersebut dalam proses kita berguru kepada Allah, bahwa apa yang benar menurut kita belumlah tentu benar menurut Allah, apa yang salah dalam pandangan kita belumlah tentu salah secara total dalam pandangan Allah. Pada puncaknya, kita kembali kepada-Nya dan memohon untuk tetap ada dalam bimbingan-Nya sehingga tidak picik dalam berpikir, bertindak, berperilaku serta beramal.

Salah satu ciri orang yang berhasil berguru kepada Allah kiranya ia tidak mudah dalam menjustifikasi suatu perbuatan dan amaliyah kecuali ia telah benar-benar melihat serta mengkajinya dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Dia lapang dada atas seluruh perbedaan dalam lingkup manusia sebab dia sadar betapa beragamnya Allah menciptakan tingkat kecerdasan dan emosional setiap manusia. Silahkan beramal menurut amalan yang diyakini benarnya namun jangan berhenti untuk terus belajar dan berdakwah, sebab setiap tarikan nafas pasti akan diminta pertanggungjawabannya.

Armansyah, 23 Romadhon 1436H
Salam dari bumi Palembang Darussalam.

Advertisements

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: