Bilangan sholat terawih (Edukasi untuk ananda)

Catatan tarawih malam ke-4 Romadhon 1436H. Masih sebagai makmum, kali ini saya mengajak ananda yang sulung untuk menjalankan ibadah sholat Isya dan Tarawih berjemaah di salah satu masjid yang dikelola oleh “rekan-rekan Salafi” yang “kebetulan” ada tidak jauh dari lingkungan perumahan tempat tinggal kami. Sebagaimana diketahui bahwa ditempat ini tidak dijumpai ritual bacaan sebagaimana yang umum dilantunkan pada masjid-masjid lain kebanyakan ditengah prosesi Tarawihnya.

Jadi ba’da Isya berjemaah, ada kultum sebentar kemudian langsung berdiri sholat sunnah sebanyak 8 reka’at dengan masing-masing 2-2 roka’at kemudian lanjut witr 3 roka’at. Tanpa diselingi oleh lantunan bacaan serta niat ini dan itu. Persis seperti yang saya lakukan jika menjadi imam, hanya bedanya saya tidak melakukan 2-2-2-2-3 roka’at namun 4-4-3.

Shahih Bukhari 1874: Telah menceritakan kepada kami Isma’il berkata, telah menceritakan kepada saya Malik dari Sa’id Al Maqbariy dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwasanya dia bertanya kepada ‘Aisyah radliallahu ‘anha tentang cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Ramadhan. Maka ‘Aisyah radliallahu ‘anha menjawab: “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (melaksanakan shalat malam) di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka’at, Beliau shalat empat raka’at, maka jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat empat raka’at lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian Beliau shalat tiga raka’at. Lalu aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir?” Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur”.

Begitu selesai saya ajak si sulung ngobrol lagi, nanyain komentarnya sebagaimana malam pertama saat saya mengajaknya kemasjid umum (lihat posting status saya sebelumnya). Si Kakak –demikian biasa dipanggil– mengatakan bahwa secara umum dia lebih menyukainya karena tidak ada bilal yang mengeraskan suara dalam berdo’a atau membaca sholawat ditengah prosesi sholat tarawih. Hanya saja bacaan ayatnya panjang-panjang. Imam ketika tarawih memang membaca beberapa surah panjang di juz Amma seerti Al-Qiyamah, Al-Insan, Al-Mursalat, An-Naba dan seterusnya secara tartil. Sehingga waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan sholatnyapun sedikit lebih lama.

Sebuah kritik juga yang mungkin perlu disampaikan insyaAllah bahwa alangkah lebih baik bila dalam berjemaah yang komunitas lingkungannya heterogen seperti itu, imam sebaiknya membaca surah-surah yang lebih pendek saja, karena diantara jemaah yang berimaman dengannya ada anak kecil, kaum wanita, orang tua dan bahkan boleh jadi orang yang memiliki penyakit tertentu yang tidak memungkinkannya untuk berdiri lama-lama.

Shahih Bukhari 6626:Dari Abu Mas’ud Al Anshari mengatakan, seorang laki-laki menemui Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam dan berujar; “Hai Rasulullah, Demi Allah, sungguh saya memperlambat-lambatkan diri dari shalat subuh karena si fulan yang menjadi imam, ia selalu memanjangkan bacaan shalatnya jika shalat bersama kami.” Abu mas’ud Kata; belum pernah kulihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedemikian marahnya seperti ketika beliau menasehatinya. Lantas Nabi menegur; “Hai manusia, diantara kalian ada yang menjadikan orang lain menjauhkan diri dari (masjid dan ibadah), siapa diantara kalian mengimami orang-orang, lakukanlah secara ringkas (sederhana), sebab disana ada orang-orang tua, orang lemah dan orang yang mempunyai keperluan.”

Shahih Bukhari 666: Dari ‘Abdullah bin Abu Qatadah dari bapaknya Abu Qatadah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Aku pernah ingin memanjangkan shalat, namun aku mendengar tangisan bayi. Maka aku pendekkan shalatku karena khawatir akan memberatkan ibunya.” Hadits ini dikuatkan oleh Bisyr bin Bakar dan Ibnu Al Mubarak dan Baqiyyah dari Al Auza’i.

Shahih Muslim 4873: Dari ‘Ashim dari Abu ‘Utsman dari Abu Musa dia berkata;.. Rasulullah berkata: ‘Saudara-saudara sekalian, rendahkanlah suara kalian! Sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada Dzat yang tuli dan jauh. Tetapi kalian berdoa kepada Tuhan Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat. Dia selalu beserta kalian.’ –Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dan Ishaq bin Ibrahim dan Abu Sa’id Al Asyaj semuanya dari Hafsh bin Ghiyats dari ‘Ashim melalui sanad ini dengan Hadits yang serupa.

Pembelajaran kepada ananda terkait ibadah Tarawih ini insyaAllah akan dilanjutkan dengan mengunjungi masjid ataupun musholla yang dikelola oleh rekan-rekan dari Muhammadiyah. Meskipun mungkin juga tidak berbeda terlalu jauh dengan yang terakhir ini namun pembelajaran harus tetap diberikan untuk mendewasakan pemikiran serta kepribadiannya terhadap majemuknya tata cara saudara-saudaranya seiman dalam memahami nash-nash agama (khususnya sehubungan dengan pelaksanaan sholat tarawih).

Tahun ini, ananda insyaAllah sudah mulai menginjak tahun pertamanya di SMP dan itu artinya sudah mulai memasuki gerbang awal proses pencarian jati diri dan pendewasaan terhadap kecerdasan IQ, EQ serta SQ-nya. Semakin banyak yang dilihat, semakin banyak berada ditengah komunitas orang yang berbeda maka insyaAllah akan semakin memberikan manfaat terhadap perkembangan iman dan ilmunya kedepan.InsyaAllah.

Palembang, 04 Romadhon 1436H
Armansyah, M.Pd

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: