Sejadah bergambar Ka’bah (Sebuah kritik)

Kita sering marah bila mendapati seseorang berkesan melecehkan ajaran Islam atau juga simbol-simbol yang umumnya dihormati oleh umat Islam. Tapi pernahkah kawan-kawan berpikir bila kebanyakan dari kita, saya ulangi ya –artinya dipertegas loh, kebanyakan dari kita justru seringnya menjadi pelaku dari pelecehan itu sendiri.

Bukti?

Coba lihat sejadah yang kita pakai dirumah, dikantor, atau lihat sejadah yang terbentang diumumnya masjid. Apakah ada gambar Ka’bah atau masjidnya? Jawab dengan jujur, pernahkah kita –entah sengaja atau tidak sengaja– menginjak gambar itu dengan kaki kita?

sejadah-bergambar

Apa yang hati dan iman anda katakan saat menginjak simbol-simbol tersebut? biasa saja? bingung lalu mencari-cari alasan pembenaran? merasa berdosa?

Itu saja sebagai introspeksi untuk masing-masing kita, cukup jawab dengan hati sajalah, karena Rasulullah bersabda “Istafti qolbak, mintalah fatwa kepada hatimu “…. kelihatannya sepele namun ternyata dapat jadi “uswatun hasanah” bagi pelaku pelecehan lainnya.

Ditilik dari sisi perbuatan atau amaliyah maka sejadah bergambar masjid apalagi Ka’bah adalah perbuatan bid’ah atau mengada-ada, dijaman Rasulullah dan para Khalifah beliau dahulu tidak ada alas sholat yang digambar seperti ini. Mereka jikapun menggunakan alas buat sholat maka akan menggunakan kain pakaian mereka atau juga tikar.

Musnad Ahmad 2264: Dari Abdullah bin Abbas, ia berkata; “Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada saat turun hujan, beliau menghindari tanah ketika sujud. Beliau menggunakan pakaian sebagai alas untuk menghalangi kedua tangannya menyentuh tanah jika beliau sujud.”

Shahih Bukhari 368: Dari ‘Abdullah bin Syaddad dari Maimunah ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di atas tikar kecil.”

Sunan Darimi 1303: Dari Bakr bin Abdullah dari Anas ia berkata, “Kami pernah melakukan shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada waktu yang sangat panas, apabila salah seorang di antara kami tidak mampu menempelkan keningnya di tanah maka ia menghamparkan kain dan melakukan shalat di atasnya.”

Shahih Bukhari 360: Dari ‘Urwah dari ‘Aisyah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di atas kain yang bergambar. Lalu beliau melihat kepada gambar tersebut. Selesai shalat beliau berkata: “Pergilah dengan membawa kain ini kepada Abu Jahm dan gantilah dengan pakaian polos dari Abu Jahm. Sungguh kain ini tadi telah mengganggu shalatku.” Hisyam bin ‘Urwah berkata dari Bapaknya dari ‘Aisyah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat pada gambarnya dan aku khawatir gambar itu menggangguku.”

Mungkin sudah umum hari ini dimana-mana ada sejadah bergambar dan terkadang kita tidak dapat menghindari dari kepemilikannya, entah itu sengaja membelinya atau juga hadiah dari seseorang. Khusus tentang gambar yang merupakan visualisasi Ka’bah yang terletak pada sulaman sejadah, sebisa mungkinlah untuk menghormatinya dengan jalan tidak menginjak gambar tersebut, sebab itu adalah simbol dari Baitullah.

Jika kita marah terhadap para penista simbol-simbol Islam yang diletakkan sembarangan atau bahkan menginjak-injaknya, maka seharusnya juga kitapun memperhatikan adab terhadap simbol Ka’bah yang terdapat pada sejadah kita (jika ada). Jangan menginjak bagian gambar tersebut dan setelah selesai sholat, mari lipat atau sampirkan disebuah tempat yang tidak akan terinjak oleh kaki ketika melangkah (kecuali mungkin di masjid…. apa boleh buatlah frown emoticon ).

Demikian.

Salam dari Palembang Darussalam.
Armansyah, 09 Juni 2015.

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: