Fenomena mengumpat di Medsos

Mungkin ini adalah fenomena media sosial. Saya sering melihat orang nyaris tidak dapat lagi membedakan antara kritik dan hinaan.

Banyak saya membaca status-status yang isinya –mohon maaf– penuh hujatan dan caci maki kepada orang-orang tertentu. Baik dalam kapasitas “rival privasinya” maupun terhadap “public enemy”. Tak dapat saya pungkiri, terkadang ada juga rasa jengkel dan eneg melihat tingkah maupun kebijakan the common enemy ini, ya you know who-lah ya, gak usah dimentioned namanya…. cuma saya berusaha untuk mengontrol kata maupun tulisan saya tersebut.

Hal itu bukan perkara UU ITE atau hal-hal lainnya, itu mah sepele, urusan dunia. Tak perlu ditakuti. Makhluk kok ditakuti? UU ITE itu khan juga buatan makhluk. Yang pantas untuk ditakuti itu cuma Allah Azza Wajalla, bukan makhluk-Nya.

Saya semata melakukannya karena tidak ingin pahala dari amal baik yang saya lakukan satu demi satu dialihkan pada orang tersebut. Bayangin tuh, tiap buka beranda FB atau TW, pasti banyak saja yang nulis atau share berita berisi caci maki pada orang yang sama. Wah, enak bener orang itu. Sudah buat dosa, zalim eh dapat transferan pahala lagi. Ujung-ujungnya dia yang bikin dosa eh dia yang masuk syurga. Lah, kita… sudah terzalimi eh nyemplung di neraka gara-gara ngata-ngatain ame ngehujat dia melulu.

Kalo saya sih, tak rela amal sholeh saya didonasikan sama orang-orang ntuh. Jikapun ingin menulis sesuatu sebagai ekspresi kebencian kita pada sifatnya, usahakan untuk menempatkan kata-kata sindiran atau kritik yang memperlihatkan bahwa kita seorang muslim terpelajar. Kritik tidaklah mencaci maki, kita mesti dapat membedakan, mana kalimat kritikan dan mana kalimat cacian.

Shahih Muslim 4678: Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada para sahabat: “Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab; ‘Menurut kami, orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.’

Sunan Tirmidzi 2342: Dari Abu Hurairah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bertanya: “Tahukah kalian siapa orang yang rugi itu?” mereka menjawab: Orang rugi di antara kami wahai Rasulullah adalah orang yang tidak memiliki dirham dan barang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Orang rugi dari ummatku adalah orang yang membawa shalat, puasa dan zakat pada hari kiamat, ia datang sementara ia dulu pernah mencela si anu, menuduh berzina si anu, memakan harta si anu, menumpahkan darah si anu dan memukul si anu. Ia duduk lalu kebaikan-kebaikan si ini diqisas dari kebaikan-kebaikannya, bila kebaikan-kebaikannya habis sebelum sepadan dengan kesalahan-kesalahannya, kesalahan-kesalahan mereka diambil lalu dibuang kepadanya, setelah itu dia dilempar ke neraka.” Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih.

Semoga bermanfaat.
Armansyah, Palembang Darussalam.
31 Mei 2015

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: