Pro-Kontra amalan Nisfu Sya’ban (Tanggapan)

Ramai saya menerima BC tentang malam nisfu sya’ban bahkan ada yang bertanya pendapat saya terkait hal tersebut. Secara ringkas, jika saya tidak terlihat mengucapkan atau juga mempostingnya maka dapat dipastikan bila saya tidak mengamalkannya. Ada beberapa hadis dalam Kutubus Sittah menyinggung masalah ini namun hadis-hadis itu berderajat maudhu’ (palsu) serta dho’if (lemah), hadis dengan derajat paling kuat adalah hasan.

Hadis-hadis itu antara lain (rantai sanad saya potong untuk memperingkasnya):

Sunan Ibnu Majah 1378: Dari Ali bin Abu Thalib ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila malam nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban), maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman: “Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini…hingga terbit fajar. ” —> Maudhu’ / Dhoif Jiddan

Sunan Ibnu Majah 1379: Dari ‘Aisyah ia berkata, “Suatu malam aku kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, aku pun mencarinya, dan ternyata beliau berada di Baqi’ menengadahkan kepalanya ke langit, beliau lalu bersabda: “Wahai ‘Aisyah, apakah engkau takut Allah dan Rasul-Nya akan mengurangi (haknya) atasmu?” ia menjawab, “Aku telah mengatakan tidak, hanya saja aku khawatir engkau mendatangi salah seorang dari isterimu. ” Maka beliau pun bersabda: “Sesungguhnya pada pertengahan malam Sya’ban Allah turun ke langit dunia lalu mengampuni orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah bulu kambing. ” —> Dho’if

Sunan Ibnu Majah 1380: Dari Abu Musa Al Asy’ari dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah akan muncul di malam nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang meninggalkan jama’ah (murtad). ” Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq berkata, telah menceritakan kepada kami Abul Aswad An Nadlr bin Abdul Jabbar berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Az Zubair bin Sualim dari Adl Dlahhak bin ‘Abdurrahman dari Bapaknya ia berkata; aku mendengar Abu Musa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana dalam hadits. ” —> Hasan

Musnad Ahmad 24825: TDari Aisyah berkata; “Pada suatu malam saya pernah kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu saya keluar dan ternyata beliau sedang di Baqi’, mengangkat pandangannya ke langit seraya bersabda kepadaku: ‘Apakah engkau takut, Allah akan menzhalimimu dan Rasul-Nya? ‘ Aisyah berkata; “Saya berkata; ‘Saya mengira engkau mendatangi sebagian isteri-isterimu.” Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya Allah Azzawajalla turun di pertengahan malam ke langit dunia di bulan Sya’ban, lalu ia mengampuni untuk sejumlah bulu rambut kambing atau anjing’.”

Memang ada hadis yang menyebutkan tentang berpuasa di bulan Sya’ban, namun tidak dinyatakan tanggal tertentu. Misalnya:

Musnad Ahmad 23368: Dari Aisyah, bahwasanya ia pernah ditanya tentang puasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. maka (Aisyah) Berkata: “Beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) berpuasa Sya`ban dan sangat menjaga puasa senin dan kamis.”

Musnad Ahmad 23781: Dari Abdullah Al-Bahy dari Aisyah berkata; “Saya tidak pernah mengqodlo` puasa ramadhan kecuali di bulan sya`ban hingga Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam wafat.”

Musnad Ahmad 23797: ‘Abdullah bin Abi Musa berkata; Mudrik atau Ibnu Mudrik telah mengutusku kepada Aisyah supaya saya bertanya beberapa hal kepadanya. (‘Abdullah bin Abi Musa) Berkata; … Saya bertanya kepada (Aisyah) tentang hari yang diperselisihkan dari bulan Ramadhan, maka dia berkata; “Berpuasa satu hari dari Sya`ban lebih saya sukai dari pada saya tidak puasa satu hari dari bulan Ramadhan.”

Tentang berpuasa diluar Romadhon sendiri, Rasulullah diberitakan senantiasa melakukannya dan menganjurkan umat beliau untuk juga mengamalkannya.

Shahih Bukhari 1845: Telah menceritakan kepada kami Abu Ma’mar telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Abu At-Tayyah berkata, telah menceritakan kepada saya Abu ‘Utsman dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata: “Kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi wasiat kepadaku agar aku berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, mendirikan shalat Dhuha dua raka’at dan shalat witir sebelum aku tidur”.

Sunan Abu Daud 2094: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil, telah menceritakan kepada kami Abu Daud, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari ‘Ashim dari Zirr, dari Abdullah, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa tiga hari setiap bulan.

Puncaknya, ada pula hadis lain berderajat shahih yang justru melarang orang untuk berpuasa karena menyambut Romadhon.

Sunan Tirmidzi 669: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad dari Al ‘Ala’ bin Abdurrahman dari ayahnya dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: ” Jika telah masuk pada pertengahan bulan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa.” Abu ‘Isa berkata, hadits Abu Hurairah merupakan hadits hasan shahih, kami tidak mengetahui kecuali melalui jalur ini dengan lafadz seperti di atas. Arti dari hadits diatas menurut sebagian ulama ialah jika seseorang tidak terbiasa berpuasa kemudian ketika masuk pada pertengahan bulan Sya’ban baru ia mulai berpuasa karena (menyambut) bulan Ramadlan. Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam seperti makna yang diterangkan oleh mereka, yaitu beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Janganlah kalian berpuasa beberapa hari menjelang bulan Ramadlan kecuali jika bertepatan hari puasa yang biasa kalian lakukan.” Hadits ini menunjukan larangan bagi orang yang sengaja berpuasa menjelang datangnya puasa Ramadlan.

Demikian kiranya…. namun seperti biasa, terhadap kawan-kawan yang mengamalkan puasa di Nishfu Sya’ban, saya tak mungkin juga melarangnya. Silahkan melakukan apa yang diyakini kebenarannya. Saya menghormatinya meskipun saya tidak mengamininya. Ini adalah pendirian dan keyakinan saya.

Semoga bermanfaat dan menjelaskan.
Palembang Darussalam. 01 Juni 2015

Armansyah.

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: