Beragama secara plagiator

Dulu banyak orang yang beragama dengan model ikut-ikutan, entah cara beragama yang ia anut itu salah ataukah benar, sama sekali mereka tidak peduli. Terpenting apa yang ia dapati nenek moyangnya atau orang tuanya atau gurunya atau juga masyarakatnya menganut model dan amaliyah tertentu maka ia akan latah mengekornya. Padahal Nabi-nabi Allah sudah datang dan mengajak mereka untuk melakukan hal-hal yang benar secara syari’at. Sekarang pun sama. Masih juga terulang dijaman modern kita ini.

Orang banyak melakukan penyimpangan dari petunjuk yang telah diajarkan oleh Rasulullah, padahal agama ini sudah sempurna dengan status Muhammad sebagai Khotamannabi. Sedangkan perbuatan penyimpangan tersebut tidaklah dapat dikategorikan sebagai hal yang terbuka untuk ikhtilafiyah. Kok bisa? Jawabnya ya karena begitulah sunnatullahnya. Akan selalu terjadi pengulangan sejarah meskipun tidak harus persis sama wujudnya.

Islam ini adalah ajaran ilmu. Berbeda dengan agama lain diluarnya yang lebih kepada dogmatis-statis, menolak campur tangan akal hingga referensi yang jadi rujukan amaliyahnya. Sebagai agama ilmu, maka Islam sejak awal ia diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril membuka dirinya untuk menjadi pusat kajian secara ilmiah. Silahkan Iqro. Jangan cuma sibuk berkontemplasi saja, merenung dan bermuhasabah diri tapi melepaskan kewajiban fi’liyah beramar ma’ruf nahi mungkar. Wahay Ayyuhuhal Mudzammil, orang-orang yang berselimut, bangunlah. Jangan terus menerus terjebak dalam goa pemikiran yang sempit, gelap dan sedikit mendapat cahaya.

Jika kita menulis karya ilmiah seperti skripsi, tesis atau disertasi saja mesti jelas dan dapat dipertanggungjawabkan isinya dihadapan para penguji diruang sidang. Ada standar yang mesti dipenuhi agar tulisan tersebut bisa lulus uji sehingga kita dinyatakan layak menyandang gelar keilmuan tertentu. Nah begitupula dengan agama.

Al-Qur’an mengajarkan kita untuk mau berpikir kritis terhadap berbagai fenomena yang ia sampaikan bahkan juga termasuk untuk melakukan uji komparatif terhadap literatur sejenis diluarnya, seperti Injil dan Taurat. Beranjak dari hal-hal ini, selanjutnya para ulama mengembangkan ilmu musthalah hadits untuk mengevaluasi akurasinya dengan menggunakan kritik sanad dan matn.

Timbullah apa yang kita kenal istilah Mutawatir, Shahih, Hasan, Dho’if dan Ma’udhu. Tapi sayangnya, masih banyak orang yang bersikap membebek sebagaimana halnya kaum terdahulu. Bukan beramaliyah secara kritis penuh keilmuan tetapi berdasarkan tradisiyah. Mereka tidak dapat memisahkan mana hal yang boleh untuk diperselisihkan serta mana juga hal yang menuntut sikap sami’na wa-atho’na. Andai dulu sewaktu merampungkan tesis S2 juga dapat melakukan hal yang sama, just copy paste tanpa peduli akan kejahilan plagiatisme… sayangnya dosen-dosen saya terlalu idealis dan penuh dedikasi sehingga sayapun jadi tidak melakukannya. Entahlah mereka yang memperoleh ijasah sarjana dengan penuh kecurangan.

Satu hal yang menjadi pemikiran saya sekaligus penutup status ini: Jika urusan tesis yang notabene urusan duniawiyah saja mesti begitu akuratnya maka bagaimana mungkin untuk urusan akhirat dan ketuhanan kita malah bersikap masa bodoh dan mencukupkan diri sebagai plagiator.

Palembang Darussalam, 10 Sya’ban 1436H.

Armansyah, S.Kom, M.Pd
Original posted: FB.

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: