Gus Nuril: Antara kritik dan apresiasi

Saya bukan pengagum apalagi pengikut pemahaman kelompok salafiyyah atau wahabi, banyak hal dari ijtihad serta penafsiran mereka terhadap nash agama tidak dapat saya sepakati. Begitupula sayapun bukan warga NU. Pemikiran saya dibidang keagamaan mungkin lebih condong pada pemahaman ormas Muhammadiyah dilihat dari kacamata “sekte ormasiyah” khususnya di negeri ini, walaupun saya sendiri faktanya bukan pula warga resmi organisasi yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan tersebut. Pandangan politik saya sampai hari ini masih pada PKS. Meski demikian, saya berusaha tetap menghormati dan mengapresiasi setiap amal serta pemahaman kawan-kawan dari Salafi, NU atau pandangan politik partai-partai lainnya. Toh, menghormati tidaklah sama dengan mengamini. Setiap kita silahkan saja berjalan diatas manhajnya masing-masing sesuai yang diyakini kebenarannya.

Terkait isyu kontroversial tentang sosok Gus Nuril yang juga cukup sering di forward oleh rekan-rekan melalui media sosial, entahlah. Saya cukup sering menonton kajian beliau melalui televisi Aswaja. Sejauh ini, saya pribadi melihat apa yang beliau sampaikan disejumlah pengajiannya itu masih bisa diterima. Jika pun ada hal-hal yang berkesan menyerang pemahaman kelompok lain seperti Salafi, Muhammadiyah hingga PKS, tetap dapat diterima sebagai bentuk ijtihadiyah yang dibenarkan sebagaimana hal sejenis juga ada dan terjadi dalam urusan fiqh para Imam Madzhab dan pengikutnya. Mungkin yang perlu di kritisi adalah adab atau cara beliau menggunakan kata-katanya saja.

Saya termasuk orang yang anti terhadap kelompok Islam liberal namun pemikiran Gus Nuril yang saya ketahui tidak seliberal Ulil, Abdul Moqsith atau Guntur Ramli.

Kedewasaan kita dalam memandang perbedaan masih harus ditingkatkan. Terlebih untuk urusan agama. Merasa benar itu bagus, namun menutup mata terhadap semua nilai kebenaran yang ada pada kelompok lain diluar komunitasnya bukan perbuatan arif. Ilmu Allah itu tersebar diberbagai sudut ciptaan-Nya. Jika kita dapat belajar dan menerima kebenaran dari binatang seperti burung, anjing, semut atau lebah yang notabene bukan makhluk berakal maka bagaimana mungkin kita menolak kebenaran yang ada pada diri seorang manusia? Islam itu bukan ajaran egoisme yang penuh kebencian. Islam adalah ajaran cinta, ajaran dakwah, ajaran logika, ajaran yang penuh keilmuan serta mengapresiasi perbedaan.

Anda tak sepaham ya amalkan saja apa yang anda yakini, untuk hal-hal yang disepakati, mari sama berkolaborasi. Jika anda menyatakan tak ada musik Islami, toh saya bisa saja memahami hal yang sebaliknya, buat saya musik Islami itu ada, dakwah melalui seni bukan hal yang terlarang. Anda menggunakan ru’yatul hilal, saya justru memilih hisab wujudul hilal, anda mengamalkan yasinan atau makan-makan ditempat orang kematian, saya juga bisa saja menyelisihi amalan tersebut sesuai dengan tingkat ilmu dan pemahaman nash agama yang masing-masing kita pahami.

Akhirnya berbeda itu sebuah keniscayaan selama masih berdiri diatas nash naqli maupun aqli. As I said, I’m not gusdurian. Jadi, status saya ini tidak sedang membela seorang Gus Nuril tetapi hanya berusaha menyebarkan pikiran obyektif sebagai bagian dari perintah al-Qur’an untuk berbuat adil. Jangan mudah menghakimi seseorang menyimpang sampai benar-benar kita mengetahuinya dengan bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Semoga bermanfaat.
Palembang Darussalam, 10 Mei 2015

Armansyah Azmatkhan M.Pd

Original Posted: Facebook.

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: