Tanggapan untuk kasus bacaan al-Qur’an dengan langgam Jawa

Al-Qur’an itu sejak awal ia diturunkan bertujuan sebagai hudallinnas atau menjadi petunjuk bagi manusia. Bukan untuk diperlombakan bacaannya dan bukan juga ia untuk menjadi ritual seremonial sebuah acara. Al-Qur’an diturunkan sesuai dengan logat suku Quraisy, karena memang dari suku inilah Muhammad saw yang menerima wahyu tersebut berasal.

Dimasa kekhalifahan Usman ibn Affan, karena luasnya wilayah kekuasaan Islam dimasa itu, umat mulai terpecah dalam membaca al-Qur’an sesuai dengan logat daerah mereka masing-masing. Hal tersebut membuat kekhawatiran pada diri sejumlah sahabat senior sehingga dibuatlah standarisasi yang sama untuk seluruh wilayah agar membaca al-Qur’an sesuai dengan kondisi ia diturunkan, yaitu menggunakan logat Quraisy. Pembakuan keseragaman bacaan al-Qur’an itu mendapatkan persetujuan dari banyak sahabat senior Rasulullah saw yang masih hidup, diantaranya adalah Ali ibn Abi Thalib, ‘Aisyah binti Abu Bakar, Zaid ibn Tsabit, Abdullah ibn Zubair dan sebagainya.

Jika sekarang ditemukan lagi kasus pembacaan al-Qur’an yang bermasalah, maka itu artinya kita kembali mundur kebelakang. Andai saja Umar ibn Khattab masih hidup, niscaya beliau akan murka melihatnya sebagaimana dulu beliau juga pernah memarahi Ibnu Mas’ ud karena mengajarkan bacaan al-Qur’an dengan logat Hudhail kepada penduduk Iraq.

Ya sudahlah ya, gak usah neko-neko baca al-Qur’an itu. Baca dengan bacaan yang wajar dengan logat yang wajar sesuai perintah dan sunnahnya sajalah. Kitab suci tersebut turun di Arab dengan dialog suku di Arab dengan berbahasa Arab pula. Setiap panjang-pendek rangkaian huruf hijaiyah yang terdapat didalamnya memiliki arti tersendiri. Tidak dapat disamakan dengan membaca teks dalam bahasa lain. Begitupula dari sisi keindahan irama yang terbentuk, memiliki “kandungan magis” tertentu yang membelai jiwa. Tak akan pernah bisa ditandingi oleh syair dan irama manapun disepanjang jaman.

Okelah ya jika beberapa terjemahan ayatnya dijadikan syair lagu seperti misalnya oleh Opick dalam judul Pewaris Syurga yang merupakan nukilan dari surah al-Mu’minun ayat 1 s/d 11, tapi toh itu bukan tekstual Arabnya, cuma terjemahannya saja. Tidak ada pengaruh panjang-pendek bacaan mushaf yang beliau langgar. Begitupun jika mengacu pada konsep Walisongo, setahu saya para wali jaman dulu hanya mengadaptasi sholawat saja kedalam lagu, bukan ayat al-Qur’an. Jadi tidak cukup beralasanlah untuk membaca al-Qur’an dalam logat dan langgam nusantara atau lainnya diluar itu.

Saya bukan berasal dari kelompok Islam ekstrim yang mengharamkan syair dan musik. Jika ingin menyanyi religi ya silahkan menyanyi saja seperti halnya Opick, Maher Zein, Uje, Haddad Alwi atau lain-lainnya itu tapi jangan lantas mengaji ayat-ayat al-Qur’an menggunakan langgam nyanyian. Saya ikut menyesalkan kejadian tersebut, apalagi konon itu idenya Mentri Agama. Ya Innalillahi wa inna ilayhirooji’un. Mencintai Indonesia dan melestarikan budaya nusantara tidak harus seperti itu juga caranya. Ayah saya seorang veteran perang kemerdekaan, saya cinta pada bangsa yang telah diperjuangkan dengan penuh keringat, air mata serta tetesan darah ayah saya ini, tapi jangan pula keliru mengaplikasikan kecintaan serta kebanggaan nasional tersebut.

Mari kita berlomba-lomba mempelajari, memahami serta mengamalkan al-Qur’an, bukan berlomba untuk paling bagus mendengungkan al-Qur’an atau menjadikannya semacam mantra pembuka acara.

Palembang Darussalam.
17 Mei 2015

Armansyah Azmatkhan, M.Pd

Advertisements

Pengungsi Rohingya, Mursyi dan Hizbullah

Sikap dan tanggapan saya terhadap kasus imigran Rohingya, umat Islam khususnya harus mengulurkan tangan memberikan bantuan kemanusiaannya sebagai sesama saudara dalam akidah. Entah dalam bentuk donasi uang, pakaian, makanan, penampungan dan sebagainya, termasuk juga do’a. Saya memberi apresiasi yang sangat positif terhadap sikap Gubernur Aceh, Bpk. Zaini Abdullah yang telah berkenan dan berbesar jiwa menerima mereka. Allahu Akbar. Begitulah sikap seorang saudara terhadap saudaranya yang lain. Jika memang sikap resmi Myanmar adalah memusuhi umat Islam maka mendoakan kehancuran mereka sebagai adzab atas genosidanya terhadap saudara-saudara kita disana menjadi sebuah keniscayaan. Qunut menjadi pilihan disetiap subuh kita.

Untuk kasus Mursyi yang sekarang terancam hukuman mati, meskipun saya bukan anggota Ikhwanul Muslimin, namun saya juga tidak anti terhadap pergerakan tersebut. Saya berdo’a untuk kebaikan beliau didunia dan akhirat. Innal batila kana zahuqo, percayalah bahwa kemungkaran pasti akan lenyap.

Terkait pernyataan Faiz Syakir, salah seorang juru bicara Hizbullah dalam kutipan Islampos yang menyebutkan akan menghancurkan dua tanah suci, Mekkah dan Madinah beserta isinya jika rezim Sa’ad di Suriah ditumbangkan maka apabila kata-kata itu benar adanya diucapkan oleh mereka maka saya nyatakan bila seluruh umat Islam dimanapun dipenjuru bumi ini wajib hukumnya untuk menjaga al-Haramain, menjaga Baitullah, Masjidil Harom serta Masjid Nabawi dari semua usaha makar terhadapnya dari siapapun dengan seluruh jiwa raga serta harta bendanya. Siapapun yang mendukung atau menyetujui rencana makar itu praktis menjadi musuh bersama umat Islam dari kelompok, madzhab atau ormas manapun. Rezim Arab Saudi boleh saja ditumbangkan oleh sebab-sebab politik tertentu, tapi tidak ada negoisasi untuk merusak dan menghancurkan dua kota suci. Al-Haramain adalah kehormatan umat Islam.

اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Allahumma arinal-haqqo haqqon warzuqnat-tiba’ah, wa arinal-batila batilan warzuqnaj-tinabah, bi rohmatika ya arhamar-rohimiin. | Ya Allah Tunjukilah kami kebenaran dan berikan kami jalan untuk mengikutinya, dan tunjukanlah kami kebatilan dan berikan kami jalan untuk menjauhinya.

Palembang Darussalam.
28 Rajab 1436H/ 17 Mei 2015

Armansyah Azmatkhan.

Suami dan istri adalah pakaian masing-masing

In this life, sometimes we don’t see things as they are, but we see things as we are. Padahal baju ukuran L saja tidak sama untuk setiap produsen. Ada ukuran L yang besar ada pula L yang kecil. Jadi, bagaimana mungkin kita kemudian menyamaratakan segala sesuatunya sesuai cara pandang kita? Nikmati saja semua perbedaan itu dan mari saling menghargai tanpa mencari-cari jalan untuk menghalangi kebahagiaan atau keperluan hidup orang lain.

Begitupun dengan cinta. Tidaklah mungkin dapat saling memaksa. Tak perlu berkeras untuk merubah pasangan kita menjadi seperti apa yang kita inginkan jika memang itu bukanlah watak atau kepribadiannya. Menikah itu saling melengkapi dua perbedaan yang ada, bukan saling mematahkannya, bukan pula untuk menyatukan perbedaan tersebut agar menjadi satu.

ilustrasi_berdua2

Suami adalah tempat istri bermanja-manja, begitupula istri merupakan tempatnya suami memadu kemesraan dahaga cintanya. Mengapa begitu mudahnya orang menikah lalu bercerai dalam waktu yang singkat, sebab mawaddah warohmah tak pernah ada disela-sela tarbiyah, sholat berjemaah hingga berjimaknya kedua pasangan tersebut. Ego yang menyembul dari sisi fujuroha seakan saling berkompetisi untuk menguasai hati masing-masing.

Hunna libasul lakum wa antum libasul lahunna (dia adalah pakaian bagimu, dan engkau adalah pakaian baginya).

Selamat berakhir pekan bersama orang yang anda cintai, semoga Allah Azza Wajalla melimpahkan keridhoan-Nya bagi cinta-cinta yang disemai dibawah kasih-Nya.

Salam dari Palembang Darussalam.
16 Mei 2015

Armansyah Azmatkhan, M.Pd

Takdir itu kita yang melakukannya!

Allah tidak menzalimi siapapun diantara kita tapi kitalah yang zalim terhadap diri kita sendiri. Sesungguhnya apa yang telah direncanakan-Nya dalam Lauhul Mahfudz pasti akan terjadi. Rangkaian takdir yang saling bertautan dengan berbagi percabangannya itu mewujud tanpa pemaksaan. Kita yang tanpa sadar menjadikan seluruh nubuat agama menjadi kenyataan.

Sama seperti kasus Adam yang sejak awal eksistensinya diperuntukkan sebagai khalifah-Nya dibumi, proses perjalanan waktu mengantarkan Adam berbuat pelanggaran atas inisiatif dirinya sendiri sehingga menjadi alasan kausalita terkabulnya tujuan utama penciptaannya.

foto_sdg_ceramah

Begitupun kita. Sejak lebih dari 1400 tahun silam diberitakan oleh baginda Rasul bahwa kelak umat diakhir jaman akan banyak bertindak centang prenang, tak lagi mengindahkan halal-haram berdasar syari’at, para perempuan berbaju tapi telanjang, prostitusi bukan lagi hal yang tabu bahkan dilegalisasi serta dianggap wajar, pembunuhan dimana-mana, nyawa begitu murah harganya semurah aurat wanita yang dijajakan dijalan-jalan dengan dalih kebebasan hak asasi. Para pemimpin juga bukan terdiri dari orang yang jujur serta berkompeten dibidangnya dalam menangani urusan masyarakat. Melakukan perintah agama justru dianggap asing, seasing dulu ia pertama kali diproklamirkan. Para banci dengan seluruh aktivitas liwatnya berhomo maupun berlesbi ria tertawa menuntut persamaan hak dimata hukum tanpa ada malu jika mereka orang-orang yang menyimpang serta terancam terjun bebas keneraka jahanam atas pengulangan tindakan kaumnya Luth.

Apakah semua ini terjadi atas paksaan Allah? Apakah berbagai fenomena akhir jaman yang banyak diberitakan oleh Rasulullah dulu itu terwujud melalui konspirasi jaman yang penuh paksaan?

Jawabnya adalah tidak.

Kitalah yang dengan penuh kesadaran “secara tak sadar” merealisasikan semua sabda-sabda agung kekasih Allah tersebut. Kita sendiri yang memberikan bukti terhadap kebenaran firman-firman langit itu dalam kehidupan jaman kita. Maka wajar bila kelak semua panca indra diri akan ditagih pertanggungjawaban masing-masing.

Shodaqallahul’adziem.
Selamat memperingati Isrok Mikroj 1436H.
Semoga banyak perenungan yang mencerahkan diperoleh.

Salam dari Palembang Darussalam.
16 Mei 2015

Armansyah.

Muhasabah Israk Mikraj 1436H

Sebagai manusia, kita sering diterpa oleh kegalauan. Kita merasa sedih, kita berduka atas terjadinya sesuatu yang melukai perasaan kita, sesuatu yang tidak kita kehendaki terjadi namun ia tetap terjadi. Semuanya wajar. Sewajar dari kehendak Allah yang tidak selalu memberikan setiap keinginan yang kita maui.

Terhitung sepuluh tahun sejak beliau diangkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad juga mendapatkan ujian kegalauan yang begitu bersangatan. Sebelum itu, beliau yang sejak kecil dikenal sebagai Al-Amin atau orang yang dipercayai telah dihujat oleh kaumnya karena proklamasi kenabian beliau. Orang-orang yang mengikuti dakwahnya kerap mengalami siksaan psikis maupun batin. Beliau sendiri beberapa kali harus menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan dari masyarakatnya yang menolak risalah langit yang beliau sampaikan. Setelah 3 tahun mengalami pemboikotan sengit dari kaum kafir Quraisy Mekkah kegalauan itu berada dititik puncaknya pada tahun ke-10 kenabian yang dikenal dalam sejarah sebagai ‘Aamul Huzni (tahun duka cita).

Ditahun ini, paman beliau yang selama ini senantiasa memberikan perlindungan dan kasih sayangnya, Abu Thalib, wafat. Tiga bulan selanjutnya istri terkasih beliau, Khodijah binti Khuwailid juga wafat. Dua orang yang punya arti besar dalam jiwa sang Nabi secara berturut-turut diambil dari sisi beliau. Dua orang yang bukan cuma sebatas keluarga, namun juga bertindak selaku penyokong semangat, materi serta nilai kearifan dipanggil kembali kepada-Nya justru diwaktu beliau SAW sedang begitu membutuhkannya menghadapi pemboikotan serta aksi anarkis kafir Quraisy.

Tapi begitulah cara Allah hendak memperkuat jiwa hamba-Nya yang Dia kasihi. Dia tidak ingin kecintaan sang hamba terhadap-Nya mendua oleh cinta-cinta yang lain. Hal yang serupa dulu juga pernah mewujud pada sang Khalilullah, Ibrahim dengan ujian pengorbanan putra tunggalnya waktu itu, Isma’il sebagai bukti kehambaan beliau dihadapan Allah. Bukti bila Tauhid Ibrahim bukan Tauhid yang mendua.

Pada suatu malam di pelataran Masjidil Harom, Allah yang Maha Suci memberikan hiburan-Nya dengan menugaskan sang Ruhul Qudus, Jibril ‘alayhissalam untuk menjemput sang kekasih naik keharibaan-Nya, berjalan menembus bintang gemintang berikut seluruh sistem galaksi-Nya hingga sampai disatu tempat yang bernama Sidrotul Muntaha. Tempat dimana sang Nabi mendapat anugerah kesempatan untuk melihat wujud asli sang Jibril yang penuh pesona hingga perjalanan beliau tiba dititik pemberhentian lautan cahaya. Sebuah titik akhir yang menjadi batas bagi sang Nabi untuk menerima sarana Tarbiyatul Qulub.

ilustrasibuku

Assalaamu’alaika ayyuhan-nabiyyu warohmatullaahi wa barokaatuh, as-salaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin. | Segala keselamatan tercurahkan untuk anda wahay Nabi dengan seluruh rohmat dan barokah Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang sholih.

Mari kita terus belajar untuk menjadikan As-sholatu mi’rojul mukminin, sholat selaku mi’rajnya kaum mukmin agar hati kita senantiasa terjaga dengan kesuciannya. Agar perilaku kita dapat lebih terkontrol dalam bertindak dan berpikir sebab sifat ihsan telah terpatri dijiwa. | Anta’budallah ka annaka tarooh, fa’illam takun tarooh, fa’innahu yarook | engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka sesungguhnya Dia pasti melihat engkau.

Selamat memperingati Isrok wal Mikraj 1436H.
Sholawat dan salam teriring bagi baginda Rasul Muhammad SAW beserta seluruh keluarga beliau dan sahabat serta umat beliau, dahulu, sekarang dan yang akan datang.

Palembang Darussalam, 15 Mei 2015
26 Rajab 1436H

Armansyah, M.Pd

Ilustrasi gambar diambil dari buku ke-5 saya yang terbit di Malaysia tahun 2011.
ISBN-13: 978-967-5137-91-5
Oleh Penerbit : PTS Islamika

Kebahagiaan itu diperjuangkan!

Bahagia itu diperjuangkan, bukan semata bersikap pasrah menunggu. Sama halnya dengan segala hal di hidup kita ini, semua membutuhkan perjuangan. Bahkan terhadap keangkaramurkaan maupun nafsu gelap diri kita lainnya kita mesti berlaga agar kebaikan, kearifan dan kebenaran tampil sebagai pemenang, bersinar membuat pencerahan bagi alam semesta.

Cinta merupakan anugerah terindah dari Allah Azza Wajalla, dengan rasa cinta itu kita saling menebar kasih sayang antar insan, berbagi kepedulian terhadap sesama makhluk. Bersyukurlah jika dihati-hati kita masih punya banyak cinta serta kesetiaan.

ilustrasi_berdua

Salam untuk orang-orang yang anda cintai,
Selamat berlibur panjang.
Semoga berkah dan rahmat Allah senantiasa melingkupi kita bersama.

Ba’da Ashar di Palembang Darussalam.
14 Mei 2015

Masagus Armansyah Sutan Sampono Azmatkhan, S.Kom, M.Pd

Bagaimana cara kita mendekati-Nya

Jika kita naik pesawat, makin tinggi ia menuju keangkasa maka semakin kecil juga apa-apa yang terlihat ada dibumi. Seperti itu pula masalah yang kita hadapi, semakin tinggi hubungan kita kepada Allah, maka semakin kecil pula masalah itu bagi kita untuk dilalui.

ilustrasi_pesawat

Mari kita terus berusaha untuk merapat dan bermi’roj, meningkatkan level kedekatan kita pada-Nya dengan berbagai cara yang mungkin untuk dilakukan.

Palembang Darussalam.
14 Mei 2015

Armansyah
Original Posted: Facebook.

%d bloggers like this: